Misa Ulang Tahun Kemerdekaan


(Foto: Corbis)
Tak lama lagi Bangsa Indonesia memperingati Ulang Tahun Kemerdekaannya. Umat Katolik Indonesia pun mensyukurinya dengan merayakan Misa khusus. Untuk apa dan bagaimana Misa khusus ini dirayakan? Saya akan coba mengupas secara singkat di bawah ini.

Dalam Penanggalan Liturgi 2015, Konferensi Waligereja Indonesia (KWI) telah mencantumkan 17 Agustus sebagai suatu "Hari Raya" atau "Solemnitas" dalam Bahasa Latinnya. Apa artinya? Artinya, pada tanggal 17 Agustus seluruh umat Katolik di Indonesia wajib mengikuti Misa Kudus yang dirayakan dengan kemeriahan yang setingkat dengan "Hari Raya" yang lain.

Di tahun 2015, 17 Agustus jatuh pada hari Senin; haruskah kita pergi ke gereja? Iya! Bukankah sebagian dari kita harus ikut upacara bendera di kantor, di sekolah/kampus atau di tempat lain? Seperti kata Yesus dalam bacaan Injil hari itu, "Berikanlah kepada Kaisar apa yang wajib kamu berikan kepada Kaisar dan kepada Allah apa yang wajib kamu berikan kepada Allah."

Tapi, pertama-tama, kenapa kita merayakan Ekaristi pada Peringatan Ulang Tahun Kemerdekaan? Jawabnya, sama seperti ketika kita merayakan Ekaristi pada hari-hari yang lain. "Ekaristi adalah kurban syukur kepada Bapa. Ia adalah pujian, yang olehnya Gereja menyatakan terima kasihnya kepada Allah untuk segala kebaikan-Nya ..." (Katekismus Gereja Katolik 1360) Jadi, merayakan Ekaristi di Hari Raya Kemerdekaan RI adalah ungkapan syukur dan pujian kita umat Katolik Indonesia kepada Bapa atas anugerah kemerdekaan bagi kita.

Berikutnya, bagaimana Misa di hari itu dirayakan? Ya sama dengan Misa di hari-hari raya yang lain. Pada suatu Misa di "Hari Raya" ada dua bacaan plus Injil; Kemuliaan diucapkan; Aku Percaya diucapkan; bisa digunakan lilin altar sebanyak 6 buah; bisa pula digunakan dupa; gedung gereja pun bisa dihiasi dengan bunga secara lebih indah dari biasanya; dan lain sebagainya, yang kesemuanya menunjukkan bahwa hari itu bukanlah suatu hari yang biasa.

Di beberapa tempat, ada yang memasukkan penghormatan bendera merah putih di dalam Misa. Pertanyaannya, untuk apa? Misa kan ungkapan syukur dan pujian kepada Bapa? Apa relevansi menghormati bendera dalam ritual syukur dan pujian kepada Bapa? Ada pula yang memasukkan pembacaan teks Pancasila dan Pembukaan UUD 1945. Hmmm. Ini kan bukan upacara bendera? Tentang hal ini, Vatikan sudah memberikan wejangan, "... perlu dihindarkan suatu Perayaan Ekaristi yang hanya dilangsungkan sebagai pertunjukan atau menurut gaya upacara-upacara lain, termasuk upacara-upacara profan: agar Ekaristi tidak akan kehilangan artinya yang otentik." (Redemptionis Sacramentum 78) Jadi, hindarkanlah merayakan Ekaristi seperti merayakan upacara bendera, agar Ekaristi tidak kehilangan artinya yang otentik, yang di antaranya adalah kurban syukur dan pujian kepada Bapa.

Bagaimana dengan lagu-lagunya? Ada beberapa lagu liturgis untuk Nusa dan Bangsa di Puji Syukur nomor 704-707. Bisa juga digunakan lagu-lagu lain bertemakan pujian dan syukur di nomor 664-681. Bolehkan kita menyanyikan lagu kebangsaan Indonesia Raya dan lagu-lagu perjuangan lainnya? Pertanyaannya, apakah itu lagu-lagu yang liturgis dan sesuai untuk ritual suci melambungkan syukur dan pujian kepada Allah? Kalau jawabnya tidak, maka tidak ada manfaatnya menyanyikan lagu-lagu tersebut dalam Misa dan malahan bisa mengaburkan makna Ekaristi. Silakan baca ulang kutipan dokumen Vatikan di paragraf di atas.

Kreativitas dalam merayakan Ekaristi pada Peringatan Ulang Tahun Kemerdekaan bukan sama sekali ditabukan. Silakan direncanakan dengan baik dan cermat, dalam koridor norma-norma yang berlaku. Perlu diingat kembali hakikat perayaan suci ini dan jangan sampai pernak-pernik atau tambahan-tambahan kreativitas di dalamnya malahan mengaburkan makna dan tujuan perayaan ini dan/atau mengalihkan perhatian kita dari Kristus, yang harusnya menjadi pusat perayaan suci ini.

Selamat memperingati Ulang Tahun Kemerdekaan RI. Jangan lupa ikut Misa. Mari kita panjatkan syukur dan pujian kepada Allah Bapa yang mahabaik, yang telah menganugerahkan kemerdekaan dan kebebasan kepada bangsa kita.

Tambahan:

Untuk Misa di Hari Raya Kemerdekaan RI digunakan bacaan-bacaan seturut penanggalan liturgi (klik di sini). Baik juga jika digunakan Prefasi Tanah Air (TPE Imam, hal 104-106) dan Doa Pembuka seperti di bawah ini (Sumber: Misale Romawi - Untuk Nusa dan Bangsa):

Doa Pembuka

Ya Allah,
Engkau mengatur alam semesta
menurut rencana yang  mengagumkan.
Dengarkanlah dengan rela
doa-doa kami untuk tanah air kami.
Semoga berkat kebijaksanaan para pemimpin
dan keluhuran pribadi para warga
kerukunan dan keadilan diteguhkan
dan terwujudlah kesejahteraan dalam damai.
Dengan pengantaraan Yesus Kristus, Putra-Mu, Tuhan kami,
yang bersama dengan Dikau dalam persatuan Roh Kudus
hidup dan berkuasa, Allah, sepanjang segala masa.

Noveritis: Tradisi Awal Tahun


Seorang Diakon menyanyikan Noveritis di Vatikan
Gereja Katolik punya tradisi indah di awal tahun: mengumumkan tanggal perayaan Paskah dan berbagai perayaan lain yang tanggalnya tidak tetap dalam tiap-tiap tahunnya. Pengumuman tanggal-tanggal ini dilakukan pada Hari Raya Penampakan Tuhan atau Epifani, yang selalu jatuh pada pada tanggal 6 Januari, atau, di negara-negara tertentu seperti Indonesia, pada hari Minggu pertama setelah tahun baru. Pengumuman ini dikenal dengan nama Noveritis, dari kata penting pertamanya dalam Bahasa Latin aslinya, yang artinya "ketahuilah".

Pertama-tama, tentang Paskah dan perayaan liturgi lain yang tidak tetap tanggalnya. Ada perayaan yang tanggalnya selalu tetap dalam tiap-tiap tahunnya. Kita tahu bahwa Natal selalu jatuh pada tanggal 25 Desember dan Hari Raya Santa Perawan Maria Bunda Allah selalu jatuh pada tanggal 1 Januari. Tidak demikian halnya dengan Paskah. Sejak Konsili Nicaea I di tahun 325, tanggal Paskah Kristiani telah dipisahkan dari kalender dan penetapan Paskah Yahudi. Sejak itu, Paskah Kristiani ditetapkan jatuh pada hari Minggu pertama setelah "bulan purnama gerejawi". Teknik penetapan tanggal ini sangatlah rumit dan bahkan punya nama sendiri, Computus. Setelah didapat tanggal Paskah suatu tahun, ditariklah mundur 46 hari untuk mendapat tanggal Rabu Abu. Kita juga bisa mendapat Kenaikan Tuhan (Hari ke-40 Masa Paskah) dan Pentakosta (Hari ke-50 Masa Paskah), serta Hari Raya Tubuh dan Darah Kristus (Kamis, atau Minggu kedua setelah Pentakosta). Hari Minggu Adven Pertama ditetapkan terpisah, dengan mengambil hari Minggu keempat sebelum 25 Desember tahun itu.

Pada jaman modern ini, kita mengetahui tanggal Paskah dan lain-lain perayaan yang tidak tetap tanggalnya dari Kalender Liturgi, yang bahkan sudah tersedia secara online. Umat awam yang tidak biasa melihat Kalender Liturgi cukup membuka kalender biasa yang mereka peroleh di awal tahun, dan dengan mudah akan menemukan tanggal merah untuk perayaan Paskah dan Kenaikan Tuhan. Dengan perkembangan teknologi, kita malahan tidak lagi perlu lagi kalender dari kertas, karena semuanya bisa kita dapatkan di smartphone, tablet, atau komputer kita. Pada jaman dahulu semua kemudahan ini tentunya tidak ada. Itu sebabnya, perlu adanya pengumuman tanggal perayaan Paskah di awal tahun. Sampai sekarang, Noveritis masih dinyanyikan setiap tahun di Vatikan. Kebutuhan praktisnya mungkin sudah terpenuhi, tapi hal formalitas dan juga hal melestarikan tradisi rupanya tidak lalu dikesampingkan.

Noveritis alias Maklumat Perayaan Paskah dapat dibacakan atau dinyanyikan dalam Misa Kudus Hari Raya Penampakan Tuhan, pada tanggal 6 Januari, atau, di Indonesia dan beberapa negara lain, pada tahun ini akan dirayakan pada hari Minggu 4 Januari yang akan datang. Seturut tradisi, Noveritis dibacakan atau dinyanyikan setelah Injil, sebelum Homili. Berikut ini adalah Noveritis dalam bahasa Indonesia untuk tahun 2015 ini. Teks aslinya dalam Bahasa Latin ada di bawah. Teks Bahasa Latin ini akan dinyanyikan di Vatikan dalam Misa bersama Paus, pada tanggal 6 Januari 2015.

Maklumat Hari Raya Paskah dan Pesta-Pesta yang Tidak Tetap Tanggalnya (2015)

Ketahuilah, Saudara-Saudara terkasih, setelah kita bersukacita atas Kelahiran Tuhan kita Yesus Kristus; atas belas kasih Allah, kami maklumkan dengan sukacita Kebangkitan Sang Penyelamat kita.

Tanggal delapan belas Februari Hari Rabu Abu, dan permulaan masa puasa Prapaskah mahakudus. Tanggal lima April Paskah Kudus Tuhan kita Yesus Kristus yang akan kita rayakan dengan sukacita. Tanggal empat belas Mei, Kenaikan Tuhan kita Yesus Kristus. Tanggal dua puluh empat Mei Hari Raya Pentakosta. Tanggal tujuh Juni Hari Raya Tubuh dan Darah Kristus.

Tanggal dua puluh sembilan November, minggu pertama masa Adven Tuhan kita Yesus Kristus, bagi-Nya hormat dan kemuliaan untuk selama-lamanya. Amin.

Annuntiatio Paschæ festorumque mobilium (MMXV)

Noveritis, fratres carissimi, quod annuente Dei misericordia, sicut de Nativitate Domini nostri Iesu Christi gavisi sumus, ita et de Resurrectione eiusdem Salvatoris nostri gaudium vobis annuntiamus.

Die decima octava februarii erit dies Cinerum, et initium ieiunii sacratissimæ Quadragesimæ. Die quinta aprilis sanctum Pascha Domini nostri Iesu Christi cum gaudio celebrabitis. Die decima quarta maii erit Ascensio Domini nostri Iesu Christi. Die vigesima quarta maii festum Pentecostes. Die septima iunii festum sanctissimi Corporis et Sanguinis Christi.

Die vigesima nona novembris dominica prima Adventus Domini nostri Iesu Christi, cui est honor et gloria, per omnia sæcula sæculorum. Amen.

Anda yang ingin mendengar Noveritis ini dinyanyikan dengan indah bisa nonton cuplikannya di video Misa Paus tahun 2014 yang lalu di sini. Untuk menonton Misanya secara lengkap, silakan klik di sini. Teksnya tentu beda dengan yang di atas, karena tanggal-tanggalnya beda dengan tahun 2015. Teks untuk Noveritis 2014 bisa Anda peroleh di sini. Anda yang tinggal di Jakarta bisa mendengarkan Noveritis dinyanyikan dalam Misa di Kapel Nunsiatura alias Kedutaan Besar Takhta Suci Vatikan di Jakarta, Jalan Medan Merdeka Timur 18, di hari Minggu 4 Januari 2015, mulai 11:00. Misa ini terbuka untuk umum. Anda yang ingin memperkenalkan dan melestarikan tradisi indah ini di paroki-paroki Anda, bisa mencobanya dengan restu Pastor Kepala Paroki. Mungkin dengan membacakan teks di atas di tahun ini? Dan menyanyikannya mulai tahun depan? Kenapa tidak?

Te Deum: Tradisi Akhir Tahun


Foto: Santa Clara University Archives

Gereja Katolik punya tradisi indah khusus buat akhir tahun, tepatnya di malam tahun baru: menyanyikan hymne atau madah syukur Te Deum. Lagu Gregorian ini ada di Puji Syukur 669 dan juga di Madah Bakti 491. Syairnya sangat indah dan melodinya sungguh syahdu dan menyayat hati. Saya pribadi sering menyanyikannya sendirian, sebagai ungkapan syukur; banyak kali sambil meneteskan air mata. Yang sudah biasa menyanyikan Ordinarium Te Deum (PS 345/MB 180) rasanya tidak akan menemui kesulitan yang berarti untuk menyanyikan madah syukur ini. Mereka yang menyanyikan madah ini secara publik di malam tahun baru akan mendapatkan indulgensi penuh. Mau coba nyanyikan di malam tahun baru kali ini?

Tak kenal maka tak sayang. Silakan dengarkan dulu lagunya. Klik di sini untuk mendengarkan versi simplex alias sederhananya, yang melodinya sedikit berbeda dari versi Romawi yang ada di Puji Syukur. Sambil mendengarkan, baca dan hayatilah syairnya di bawah ini (dari PS 669). Versi Latin aslinya ada di bawah.

Allah Tuhan Kami

Allah Tuhan kami,
Engkau kami muliakan.
Dikau Bapa yang kekal,
seluruh bumi sujud pada-Mu.
Para malaikat
serta segala isi surga bermadah,
kerubim dan seraphim
tak kunjung putus memuji Dikau.
Kudus, kudus,
kuduslah Tuhan, Allah segala kuasa.
Surga dan bumi
penuh kemuliaan-Mu.
Kau dimuliakan
kalangan para rasul,
Kau diluhurkan
rombongan para nabi,
Engkau dipuji
barisan para martir.
Engkau dipuji Gereja kudus
di seluruh dunia.
Bapa sungguh mahakuasa,
Putra Bapa yang tunggal
yang patut disembah.
Roh Kudus pula,
penghibur umat Allah.
Kristus raja nan jaya.
Engkaulah Putra Bapa yang kekal.
Untuk menebus kami,
Kau jadi manusia,
sudi dikandung Santa Perawan.
Kuasa maut Kau kalahkan,
Kau buka pintu surga
bagi umat beriman.
Kau bertakhta dengan mulia di sisi kanan Bapa,
Dikaulah Hakim yang akan datang.
Maka kami mohon,
tolonglah hamba-Mu, yang
Kautebus dengan darah-Mu sendiri.
Satukanlah kami dengan orang kudus
dalam kemuliaan-Mu.
Selamatkanlah kami, ya Tuhan,
berkatilah umat pilihan-Mu.
Rajailah kami, dan angkatlah kami
untuk selamanya.
Setiap hari kami memuji Dikau,
kami memegahkan nama-Mu
untuk sepanjang masa.
Ya Tuhan, sudilah menjaga kami,
agar hari ini luput dari dosa.
Kasihanilah kami, ya Tuhan,
Kasihanilah kami.
Limpahkanlah kasih setia-Mu kepada kami,
sebab kami berharap pada-Mu.
Kepada Tuhan kami percaya,
kami tak kecewa selamanya.

Yang berikut ini adalah versi Latin aslinya:

Te Deum

Te Deum laudámus,
te Dóminum confitémur.
Te ætérnum Patrem,
omnis terra venerátur.
Tibi omnes ángeli,
tibi cæli et univérsæ potestátes,
tibi chérubim et séraphim
incessábili voce proclámant.
Sanctus, Sanctus,
Sanctus Dóminus Deus Sábaoth.
Pleni sunt cæli et terra
maiestátis glóriæ tuæ.
Te gloriósus
apostolòrum chorus,
te prophetárum
laudábilis númerus,
te mártyrum candidátus
laudat exércitus.
Te per orbem terrárum
sancta confitétur Ecclésia,
Patrem imménsæ maiestátis,
venerándum tuum verum
et únicum Fílium.
Sanctum quoque
Paráclitum Spíritum.
Tu rex glóriæ, Christe.
Tu Patris sempitérnus es Filius.
Tu, ad liberándum susceptúrus hóminem,
non horrúisti Virginis úterum.
Tu, devícto mortis acúleo,
aperuísti credéntibus
regna cælórum.
Tu ad déxteram Dei sedes,
in glória Patris.
Iudex créderis esse ventúrus.
Te ergo quǽsumus,
tuis fámulis súbveni,
quos pretióso sánguine redemísti.
Ætérna fac cum sanctis tuis
in glória numerári.
Salvum fac pópulum tuum, Dómine,
et bénedic hereditáti tuæ.
Et rege eos, et extólle illos
usque in ætérnum.
Per síngulos dies benedícimus te,
et laudámus nomen tuum
in sǽculum, et in sǽculum sǽculi.
Dignáre, Dómine, die isto
sine peccáto nos custodíre.
Miserére nostri, Dómine,
miserére nostri.
Fiat misericórdia tua,
Dómine, super nos,
quemádmodum sperávimus in te.
In te, Dómine, sperávi,
non confúndar in ætérnum.

Nah, kalau sudah mulai tertarik, boleh lanjut dan baca yang berikut:

Te Deum adalah hymne atau madah syukur yang biasa dinyanyikan dalam Ibadat Bacaan, suatu bagian dari Ibadat Harian atau sholat 7 waktunya umat Katolik. Te Deum juga dinyanyikan sebagai ungkapan syukur kepada Allah atas berkat khusus atau karunia luar biasa yang kita peroleh, saat: terpilihnya paus baru, tahbisan uskup, kanonisasi santo-santa, profesi religius, penandatanganan perjanjian damai, penobatan raja (Katolik) yang baru, dan lain-lain. Te Deum bisa dinyanyikan pada akhir Misa atau Ibadat Harian, atau sebagai suatu ritual yang terpisah.

Teks madah ini mengikuti struktur Syahadat Para Rasul; gabungan dari visi puitis liturgi surgawi dan pernyataan iman. Dimulai dengan menyebut nama Allah, dan dilanjutkan dengan menyebut semua yang memuji dan memuliakan Allah, dari hirarki makhluk surgawi sampai umat beriman Kristiani yang sudah ada di surga dan Gereja yang masih mengembara di seluruh dunia. Madah ini kemudian kembali ke rumus pengakuan iman, menyebut Kristus dan mengingat kelahiran, penderitaan dan wafat-Nya, serta kebangkitan dan kemuliaan-Nya. Berikutnya disampaikan pula pujian, dari Gereja semesta dan dari sang penyanyi khususnya; permintaan belas kasihan atas dosa-dosa di masa yang lalu, mohon perlindungan dari dosa di masa depan, dan harapan untuk dapat bersatu dengan para kudus di surga.

Foto: Koor Kepausan Kapela Sistina
Akhirnya, kalau sudah yakin ingin menyanyikannya secara publik alias tidak sendirian, lalu gimana? Alternatifnya: bagi yang mendaraskan Brevir alias Ibadat Harian bersama komunitas, Madah Te Deum alias Allah Tuhan Kami ini dinyanyikan di bagian akhir Ibadat Bacaan (bdk. Ibadat Harian, hal 83/328-331), atau bisa juga, seperti praktik di Vatikan, dinyanyikan di bagian akhir Vesper I (untuk Hari Raya Santa Maria Bunda Allah). Silakan klik di link berikut untuk video (dari 31 Desember 2013: Te Deum-nya mulai di 1:03:15) dan untuk teksnya. Bagi Anda yang tidak mendoakan Ibadat Harian, bisa minta kepada Pastor Paroki agar paduan suara atau umat diijinkan menyanyikannya di Misa di malam tahun baru. Idealnya dinyanyikan sesudah saat hening pasca komuni, sebelum Doa Sesudah Komuni. Atau, kalau tidak nyaman membuat "perubahan" dalam Misa yang "biasa", nyanyikan saja 10 menit sebelum Misa. Alternatif terakhir ini rasanya tidak terlalu mengejutkan dan mungkin bisa "diterima" Pastor Paroki maupun umat yang hadir. Tinggal meminta koornya berlatih. Kalau itu pun dirasa berat, satu solis aja yang nyanyi dan diikuti (secara perlahan, sambil belajar?) oleh umat yang hadir. Untuk mendapat indulgensi penuh, rasanya ini bukan sesuatu yang teramat sulit dilakukan. Dan lagi, sungguh amat baiklah kalau kita mengucap syukur kepada Allah atas segala yang telah kita terima pada tahun yang akan berlalu. Bisa kan?

Partisipasi Aktif Mendengarkan


Misa di Vatikan: Umat Mendengarkan Bacaan (Foto: Corbis)

Konsili Vatikan II mengamanatkan partisipasi umat beriman yang penuh, sadar, dan aktif dalam perayaan-perayaan liturgi (bdk. Sacrosanctum Concilium 14-20). Pasca konsili dan sampai hari ini, partisipasi aktif pun dibahas dan diusahakan di banyak tempat.

Bicara partisipasi aktif dalam Misa, banyak orang langsung memikirkan partisipasi dalam hal menyanyi, menjawab aklamasi-aklamasi dan juga tata gerak: berdiri, berlutut, duduk, dan sebagainya. Mungkin belum banyak yang terpikir, bahwa ada bentuk partisipasi aktif lain yang tidak kalah pentingnya: mendengarkan. Bisa jadi mendengarkan adalah bentuk partisipasi aktif yang paling sulit dilakukan. Kadang lebih mudah bagi kita untuk bicara dan bergerak daripada diam dan mendengarkan.

Paus Franciscus: Hening Pasca Homili
Pesta Salib Suci 2014 (Foto: Corbis)
Hal diam dan hening. Sesungguhnya, dalam Misa ada banyak waktu di mana kita diminta untuk diam dan hening. Mari kita cermati kutipan PUMR 45 ini, “Beberapa kali dalam Misa hendaknya diadakan saat hening. Saat hening juga merupakan bagian perayaan, tetapi arti dan maksudnya berbeda-beda menurut makna bagian yang bersangkutan. Sebelum pernyataan tobat umat mawas diri, dan sesudah ajakan untuk doa pembuka umat berdoa dalam hati. Sesudah bacaan dan homili umat merenungkan sebentar amanat yang telah didengar. Sesudah komuni umat memuji Tuhan dan berdoa dalam hati. Bahkan sebelum perayaan Ekaristi, dianjurkan agar keheningan dilaksanakan dalam gereja, di sakristi, dan di area sekitar gereja, sehingga seluruh umat dapat menyiapkan diri untuk melaksanakan ibadat dengan cara yang khidmat dan tepat.” Paus Franciscus secara mencolok mengaplikasikan hal ini dalam Misa yang beliau pimpin; beliau mengadakan saat-saat hening yang masing-masing cukup panjang waktunya dan benar-benar khusyuk.

Paus Benedictus XVI: Pembacaan Injil
Natal 2009 (Foto: Corbis)
Hal partisipasi aktif mendengarkan. Banyak yang mungkin tidak sadar, bahwa sikap yang paling benar saat Sabda Allah dibacakan adalah mendengarkan dan bukan membaca sendiri dari Teks Misa atau Kitab Suci. Dengan mendengarkan, kita menunjukkan penghormatan pada Sabda Allah yang dibacakan. Pernahkah Anda nonton film, Barat atau Timur, di mana ada utusan raja yang membacakan sabda sang raja kepada sekelompok orang? Bagaimana sikap mereka saat sabda sang raja dibacakan? Ada aturan atau tradisi budaya di mana orang berlutut dengan satu kaki ditekuk; ada juga yang menundukkan kepala; atau cukup dengan berdiri berdiam saja. Yang pasti, semuanya mendengarkan dengan takzim. Nah, itu baru sabda raja, belum Sabda Allah. Kalau Anda melihat foto Paus Benedictus XVI berdiri tanpa mitra atau mahkotanya, dan memegang tongkat salibnya dengan dua tangan sambil menundukkan kepala dan memejamkan mata penuh penghayatan seperti foto di atas, hampir bisa dipastikan foto itu diambil saat beliau mendengarkan pembacaan Injil. Di Indonesia, saya pernah melihat seorang imam yang dengan sengaja memiringkan duduknya, menghadap ke arah lektor di mimbar, memperhatikan dan mendengarkannya dengan penuh hormat.

Sebagai penutup, Beato Paus Yohanes Paulus II pernah mengajarkan hal ini “... partisipasi aktif tidak menghalangi kepasifan yang aktif dari kesunyian, keheningan dan mendengarkan: sebaliknya, ia justru menuntutnya. Umat tidak pasif, misalnya, saat mendengarkan bacaan atau homili, saat menyimak doa-doa imam selebran, lagu serta musik dalam liturgi. Kesemuanya itu adalah pengalaman kesunyian dan keheningan, tetapi itu semua sungguh sangatlah aktif.” (Kutipan dari Pengarahan untuk Para Uskup Amerika Serikat saat Kunjungan Ad Limina 1998)

Catatan: Artikel ini dimuat dalam Majalah Liturgi yang diterbitkan oleh Komisi Liturgi KWI, Vol 24 No 4 - Okt-Des 2013.

Manutergium: Tradisi Indah Tahbisan Imam


Paus Franciscus tahbiskan imam (Foto: Corbis)
Tahun akademik sudah berakhir. Banyak studi yang selesai; tidak terkecuali studi para imam. Sebentar lagi akan tiba waktunya tahbisan imam di berbagai keuskupan. Ada satu tradisi kecil berkaitan dengan tahbisan imam ini, yang sungguh amat indah. Baru memikirkannya saja sudah membuat saya beberapa kali meneteskan air mata. Saya akan membaginya di bawah ini.

Tahbisan imamat merupakan puncak segala persiapan seorang pria pilihan untuk menjadi imam Kristus. "Dengan kekuatan sakramen tahbisan, dalam citra Kristus, Sang Imam Agung abadi, mereka [para imam] dikonsekrasikan untuk menyebarkan Injil, menggembalakan umat, dan merayakan ibadat ilahi sebagai imam-imam Perjanjian Baru yang sejati." (Lumen Gentium 28) Dengan itu, terbayanglah sebuah upacara tahbisan imam yang agung, yang dipimpin oleh uskup dan dihadiri oleh banyak imam dan diakon lain, plus ratusan atau bahkan ribuan umat, termasuk keluarga dan orang tua imam yang ditahbiskan.

Seturut buku-buku De Ordinatione Episcopi, Presbyterorum et Diaconorum (Hal Tahbisan Para Uskup, Imam dan Diakon) dan Caeremoniale Episcoporum (Tata Upacara Para Uskup) yang dikeluarkan Vatikan, tahbisan imamat diselenggarakan dalam sebuah Misa. Kedua buku tersebut menjelaskan tentang berbagai ritual yang harus dilakukan dan kata-kata yang harus diucapkan oleh uskup, imam yang akan ditahbiskan dan lain-lain pelayan. Memang, kedua buku ini belum ada terjemahan resminya dalam Bahasa Indonesia. Meskipun begitu, terjemahan parsialnya sudah banyak dipakai di Indonesia.

Ritual Pengurapan Tangan (Foto: www.dioceseofraleigh.org)
Salah satu ritual penting dalam tahbisan imam adalah pengurapan tangan imam baru dengan minyak [krisma suci di ritus baru, atau minyak katekumen di ritus lama yang sudah digunakan sejak sebelum Vatikan II]. Kenapa tangan yang diurapi? Karena secara khusus tangan para calon imam inilah yang hendak disucikan. Dalam Misa, Kristus hadir di tangan imam dan melalui tangan imam pulalah Kristus dibagi-bagi dan diberikan kepada umat.

Ritual pengurapan tangan ini dilaksanakan setelah imam baru dibantu mengenakan stola imam dan kasula, yang terakhir ini adalah busana terluar imam untuk Misa. Setelah mengenakan kasula untuk pertama kalinya inilah, sang imam baru berlutut sambil menadahkan kedua telapak tangan di atas pangkuan uskup yang duduk di katedra atau kursi lain di depan altar. Pada saat itu uskup akan mengambil minyak dengan ibu jarinya dan mengurapi kedua tangan imam sambil berkata, "Semoga Tuhan Yesus Kristus, yang diurapi Bapa dengan kuasa Roh Kudus, menjaga engkau dalam menguduskan umat Kristiani dan mempersembahkan kurban kepada Allah." (De Ordinatione 133)

Buku pontifikal dan tata upacara baru (= Forma Ordinaria) tidak menyebut detil cara pengurapan tangan imam. Hanya dikatakan bahwa "Berikutnya uskup menerima apron (celemek) dari linen dan mengurapi dengan krisma telapak tangan masing-masing imam yang berlutut di depannya. Uskup mengatakan, 'Semoga Tuhan Yesus Kristus ...' Kemudian uskup dan imam baru mencuci tangan mereka." (CE 535) Dalam buku pontifikal lama (= Forma Extraordinaria), dijelaskan bahwa uskup mulai dengan mengurapi ujung ibu jari kanan, lalu telunjuk kiri, lalu ibu jari kiri dan terakhir telunjuk kanan, yang keseluruhannya membentuk sebuah tanda salib, baru kemudian dilanjutkan dengan pengurapan kedua telapak tangan. Kenapa perlu ujung ibu jari dan jari telunjuk secara khusus? Karena ujung kedua jari inilah yang nantinya akan memegang Tubuh Kristus dalam Misa. Rubrik lama melanjutkan bahwa setelah diurapi, kedua tangan imam ditangkupkan oleh uskup, dan imam menerima manutergium (baca: manuterjium) atau lap tangan yang lalu diikatkan di tangannya (lihat foto di bawah ini). Lap tangan ini masih dikenakan saat masing-masing imam kembali ke uskup dan menerima (atau lebih tepatnya menyentuh) piala dan patena yang berisi anggur dan air serta roti, juga sambil berlutut. (Bdk. Pontificale Romanum 1962)

Imam baru dengan manutergium di tangan (Foto: fssp.com)
Lalu, kapan manutergium alias lap tangan ini dilepaskan ikatannya dari tangan imam? Jawabnya, setelah imam baru menerima (atau menyentuh) piala dan patena yang diberikan uskup. Imam kemudian menuju ke meja samping untuk membersihkan minyak dengan roti dan jeruk dan kemudian dengan air dan sabun. Manutergium ini kemudian disimpan oleh pelayan sampai akhir upacara.

Cerita tentang tradisi yang saya sebut di atas baru dimulai di sini. Seturut tradisi, masing-masing imam baru akan memiliki dan menggunakan manutergiumnya sendiri-sendiri. Setelah digunakan dalam Misa Tahbisannya, manutergium ini kemudian dipersembahkan kepada ibu sang imam, bisa pada akhir Misa Tahbisan atau pada Misa Syukur Perdananya. Ketika sang ibu wafat dan dibaringkan dalam peti jenazah, manutergium ini dibalutkan pada tangannya. Pada hari penghakiman nanti, pada waktunya kita semua dibangkitkan, saat Kristus bertanya kepada sang ibu, "Apa yang telah engkau lakukan bagi-Ku?" Sang ibu dapat menghunjukkan manutergium itu, "Aku telah mempersembahkan putraku, ya Tuhan."


Catatan tambahan untuk Seremoniarius:

- Mengenai ukuran manutergium, rupanya tidak ada kesepakatan di antara sumber yang saya baca. Ada yang menyebut sama dengan lap tangan yang digunakan imam saat mencuci tangan dalam Misa, sekitar 45 x 30 cm, tapi ada juga yang membuatnya 125 x 11 cm, seperti pita lebar yang panjang. Meski begitu, semuanya sepakat bahwa manutergium dibuat dari kain linen atau lenan, kain yang sama yang digunakan untuk membalut Tubuh Kristus di dalam kubur. Kain yang sama pula yang (seharusnya) digunakan untuk membuat korporal dan palla, yang bersentuhan dengan Tubuh dan Darah Kristus dalam Misa. Oh ya, manutergium yang ukuran 45 x 30 cm tadi, seturut tradisi melipat lap tangan imam, dilipat menjadi empat bagian, sehingga ukuran terlipatnya menjadi 45 x 7.5 cm. Bila dikehendaki, di atas manutergium bisa dibordir nama lengkap atau inisial imam dan/atau tanggal tahbisan, atau dibiarkan polos saja dengan satu salib kecil di salah satu ujungnya (bukan di tengah seperti purifikatorium; yang ini seturut tradisi dilipat menjadi tiga bagian dan salibnya dibordir persis di bagian tengah kain).

- Penggunaan manutergium disyaratkan oleh tahbisan imam ritus lama, yang tetap dapat digunakan sampai hari ini (Bdk. Summorum Pontificum). Meski tidak disebut detilnya dalam tahbisan imam ritus baru, manutergium tetap dapat digunakan dengan berbagai kemungkinan penyesuaian. Bila tidak dikehendaki penggunaannya seturut rubrik ritus lama (dengan diikatkan ke tangan imam baru), manutergium tetap dapat digunakan secara tidak menonjol, sebagai lap tangan biasa di meja samping. Makin banyak imam baru dan juga uskup serta seremoniarius yang mengenal dan terpikat oleh tradisi indah mempersembahkan manutergium kepada ibu imam baru, dan kembali menggunakannya dalam tahbisan imam ritus baru sekalipun.

Berikut ini adalah contoh rekaman video Misa Tahbisan Imam:
Menggunakan Forma Ordinaria
Menggunakan Forma Extraordinaria

Busana Gereja: Sebuah Prolog



Busana Gereja Katolik Ritus Romawi pada awal mulanya adalah busana biasa yang umum dipakai oleh orang-orang Romawi pada masa itu. Cikal bakal alba, misalnya, adalah busana yang biasa dikenakan oleh para pria dari jaman Yunani klasik, kira-kira abad keenam sebelum Masehi. Klerus pada jaman dahulu tidak mengenakan busana yang benar-benar berbeda dari awam; mereka mengenakan busana biasa yang sama, yang juga dikenakan sehari-hari oleh masyarakat umum. Perbedaannya, kalaupun ada, hanyalah di beberapa detil tertentu. “Dapat dimengerti lalu, bahwa ada dorongan yang alamiah di antara para klerus untuk memastikan keunggulan, keindahan dan keagungan busana mereka; dengan demikian mereka akan mempersiapkan diri dengan busana terbaik yang mereka miliki saat beribadat kepada Allah. Para imam dan pelayan dari jaman primitif mengenakan busana terindah mereka, sebagai ungkapan penghormatan yang sungguh-sungguh kepada Allah, dan juga sebagai ekspresi suka cita.” (Norris, Church Vestments: Their Origin and Development, 1949) Lebih lanjut, “Dalam perkembangannya, busana yang harus dikenakan di altar lalu menjadi ‘busana suci’, vestes sacratae, seperti yang dikatakan oleh Paus Stefanus di pertengahan abad ketiga.” (Roulin, Vestment and Vesture: A Manual of Liturgical Art, 1950)

Paus Benedictus XVI (Foto: Corbis)
Ketika busana Romawi klasik mulai digantikan oleh busana dari kultur barbar (budaya lain di luar peradaban agung Yunani, Romawi dan Kristen), konservatisme agama tetap mempertahankan busana agung model lama untuk para pemimpin ibadat dan pelayan-pelayannya, bahkan setelah masyarakat umum lama meninggalkannya. Akibatnya, selebran dalam Ekaristi masih mengenakan busana yang tidak lagi dikenakan untuk kepentingan sekuler. “Para uskup dan imam tetap mengenakannya, karena busana ini sungguh agung dan indah, dan karenanya cocok untuk ibadat Kristiani.” (Roulin, 1950) Kalau Anda melihat foto di samping ini, mungkin Anda akan setuju, bahwa busana yang dikenakan oleh Paus Benedictus XVI di tahun 2007 itu lebih indah dan agung serta lebih cocok untuk dipakai selebran dalam ibadat ilahi, daripada jas atau kemeja batik dari bahan sutra sekalipun, yang hari ini dipakai oleh para pria yang akan pergi ke suatu resepsi penting.

Dari paparan para pakar busana Gereja di atas dan juga dari Pedoman Umum Misale Romawi (bdk. PUMR 344), saya akan mengambil beberapa kata kunci: keunggulan (mutu), keindahan, keagungan, penghormatan (kepada Allah), dan ekspresi suka cita (dari pemakai busana dan juga dari seluruh umat). Itulah yang mendasari penggunaan busana khusus yang indah dan agung, busana suci, oleh para klerus dan pelayan-pelayan awamnya dalam upacara-upacara liturgi. Pertanyaannya, masihkah pemikiran-pemikiran itu ada dalam benak para peraya liturgi hari ini?

Sebagai MC Liturgi, saat menyiapkan busana, saya harus memikirkan kata-kata kunci di atas itu semuanya. Namun, di lapangan kita tahu ada banyak kendala. “Panas,” adalah kata kunci argumentatif yang paling sering saya jumpai kala berbicara tentang busana liturgi suci yang indah dan agung, sesuai yang diamanatkan Gereja. Hal “panas” ini, YM Vincentius Sutikno Wisaksono, Uskup Surabaya, ordinaris saya, pernah menggumamkan suatu otokritik pada saya yang saat itu melayani beliau di Roma, di bulan Agustus, yang panasnya bahkan bisa mencapai 40 derajat Celcius, “Yesus mati di salib, kok saya mengeluh kepanasan.” Kata-kata beliau ini sungguh menancap di hati; saya ingat-ingat betul. Realitanya, hari ini, pemakai busana liturgi, klerus dan awam, masih banyak yang memilih tidak kepanasan daripada mengutamakan keindahan dan keagungan liturgi.

Paus Franciscus (Foto: Corbis)
Kata kunci argumentatif yang kedua adalah, “kesederhanaan”, yang konon diamanatkan oleh Vatikan II. Banyak yang membaca hal kesederhanaan ini tanpa memahami konteksnya, tanpa mengerti situasi dan kondisi busana klerus dalam Gereja Katolik Ritus Romawi saat penyelenggaraan Konsili Vatikan II. Dokumen aslinya, baik Sacrosanctum Concilium dan berikutnya PUMR juga, menulis “nobili simplicitate”, yang diterjemahkan ke Bahasa Indonesia menjadi “kesederhanaan yang anggun”, yang sayangnya dibaca banyak pihak sebagai “kesederhanaan” saja. Dari bahasa Latin aslinya kita tahu bahwa yang ditekankan adalah hal nobili (noble, agung); karena itu ia didahulukan daripada simplicitate (simplicity, kesederhanaan). Singkat kata, keduanya hendaknya dipakai bersama, keagungan dalam kesederhanaan, seperti busana yang dikenakan oleh Paus Franciscus di sebelah ini, dan bukan hanya kesederhanaan saja.

Jauh sebelum Vatikan II, pakar busana Gereja Dom Eugène Augustin Roulin, OSB dari Biara Benediktin Ampleforth di Inggris sudah menyebut-nyebut "keagungan dalam kesederhanaan", nobili simplicitate atau noble simplicity, dalam bukunya Vestment and Vesture (Edisi Bahasa Prancis 1930, Terjemahan Bahasa Inggris 1950). Pandangan Roulin agar Gereja kembali pada penggunaan busana liturgi yang sederhana tetapi agung bisa jadi telah mengilhami dan diadopsi oleh para Bapa Konsili. Pemahaman terhadap konsep nobili simplicitate yang ditawarkan Roulin dalam bukunya membuat kita lebih bisa mengerti saat membaca PUMR 344 ini (kata-kata di dalam kurung adalah catatan saya): “Busana liturgis hendaknya tampak indah dan anggun bukan karena banyak dan mewahnya hiasan (a la Romawi abad ke-19 dan awal abad ke-20, yang penuh dengan ornamen seperti gambar di atas ini, dan bahkan bertaburkan batu-batu mulia dalam beberapa kasus), melainkan karena bahan (dari serat kain bermutu tinggi yang ditenun dari bahan-bahan alami, dan bukan dari bahan sintetis yang cenderung lebih murah) dan bentuk potongannya (yang lebar, indah dan agung, a la busana Yunani dan Romawi klasik, dan bukan minimalis seperti kasula Romawi di atas ini, apalagi kalau sekedar dimaksudkan untuk menghemat pemakaian kain seperti yang jamak kita temukan hari ini). ...”

Sebuah kasula yang indah dan bermutu dapat bertahan puluhan tahun. Di Katedral Surabaya hari ini masih dipakai beberapa kasula indah dari jaman tahun 1980an; itu lebih dari 30 tahun yang lalu. Uskup Surabaya hari ini masih memakai salib pektoral yang bisa jadi lebih tua dari umur beliau yang lahir di tahun 1953, lebih dari 60 tahun yang lalu; salib dada itu peninggalan almarhum YM Yohanes Klooster, CM, ordinaris Surabaya yang ketiga. Busana dan asesoris yang indah dan agung mungkin memang mahal ongkos pengadaannya, tapi biaya pemakaian per tahunnya bisa jadi jauh lebih murah daripada biaya pemakaian telepon genggam imam hari ini, yang paling sederhana sekalipun. Mari kita berhitung dan pikirkan kembali.

Sebagai penutup, saya akan kutipkan lagi yang berikut ini, kali ini dengan penekanan dari saya, untuk kita renungkan bersama, “Para imam dan pelayan dari jaman primitif mengenakan busana terindah mereka, sebagai ungkapan penghormatan yang sungguh-sungguh kepada Allah, dan juga sebagai ekspresi suka cita.” (Norris, 1949) Untuk hari ini, pertanyaannya adalah, masih perlu dan masih maukah kita memberikan yang terbaik bagi Allah?

Catatan: Artikel ini merupakan prolog dari sebuah presentasi tentang Busana Gereja, yang disampaikan pada Lokakarya Nasional Caeremoniarius yang diselenggarakan oleh Komisi Liturgi KWI, Jakarta, 2-4 Juli 2014.

Misa Imlek Yang (Lebih) Benar?


Barongsai di halaman gereja (Foto: Corbis)
Tahun Baru Imlek akan segera tiba; Jumat, 31 Januari 2014 jatuhnya untuk tahun ini. Seperti biasanya, di beberapa paroki dan juga di internet akan mengemuka berbagai diskusi, pro dan kontra, dari yang akademik dan konstruktif sampai ke yang asal ngotot dan destruktif. Dua tahun yang lalu saya pernah menulis "Misa Imlek: Untuk Apa? Untuk Siapa?". Mohon berkenan membaca tulisan itu dulu. Kalau setelah membaca dan merenungkannya, Anda masih merasa perlu membuat Misa Imlek, tulisan yang berikut ini mungkin berguna untuk masukan. Tidak ada Misa Imlek yang paling benar, kalau itu yang Anda tanyakan. Yang ada adalah Misa Imlek yang lebih benar dan lebih sesuai dengan norma-norma liturgi.

Tahun baru, baik itu Tahun Baru Masehi 1 Januari, Tahun Baru Jawa 1 Suro ataupun Tahun Baru Imlek, selalu membawa harapan baru. Umat manusia, tidak terkecuali umat Katolik, bersyukur untuk apa yang telah diperoleh di tahun sebelumnya dan mohon berkat bagi tahun yang baru. Umat Katolik keturunan Cina yang masih merayakan Imlek pun tentu ingin menyampaikan rasa syukurnya. Kalau dulu sebelum menjadi Katolik, mereka (atau nenek moyang mereka) menyampaikan syukurnya di klenteng atau tempat ibadat lain, sekarang mereka menyampaikan syukurnya di gereja, dengan kurban Misa. Jaman dahulu, umat Israel menyampaikan syukur dengan mempersembahkan kurban bakaran kepada Allah. Dalam perjalanannya, kita tahu bahwa Allah yang maha pengasih kemudian menyediakan pengganti untuk anak domba kurban; ialah Putra-Nya sendiri, Yesus Kristus, Anak Domba Allah, yang dipersembahkan bagi-Nya sebagai kurban dalam setiap Misa Kudus.

Pertanyaan berikutnya, apakah ungkapan syukur atas Tahun Baru Imlek hanya bisa dilakukan dalam Misa Imlek? Tidak. Misa harian biasa pun bisa. Tapi, bolehkah membuat Misa (syukur atas) Imlek? Boleh saja. Kenapa tidak? Wajar kok membuat Misa khusus sebagai ungkapan syukur? Sekolah-sekolah Katolik juga biasa membuat Misa (syukur di awal) Tahun Ajaran Baru. Misa ya. Perayaan Ekaristi. Yang sesuai dengan norma-norma liturgi.

Selanjutnya, apakah paroki-paroki perlu membuat Misa Imlek? Saya akan balik tanya, "Yang perlu bersyukur berapa orang?" Kalau ada cukup banyak umat paroki yang keturunan Cina, dan (masih) merayakan Imlek, dan perlu menyampaikan syukur mereka, bisa saja dibuat Misa Imlek khusus. Ini seperti Misa kelompok kategorial. Kalau memang butuh, ya minta aja kepada Pastor Paroki.

Satu catatan, jangan mengganti Misa Hari Minggu atau Misa Hari Biasa (bagi seluruh umat) dengan Misa Imlek (bagi suatu kelompok kategorial). Tahun lalu, Imlek jatuh pada hari Minggu, 10 Februari 2013. Menurut kalender liturgi, hari itu adalah Hari Minggu Biasa Kelima, yang harus dirayakan oleh umat Katolik di seluruh dunia. Jangan lalu Misa Hari Minggu Biasa itu diganti dengan Misa (syukur atas) Imlek yang hanya dirayakan oleh sebagian umat, sekalipun dari segi jumlah mungkin cukup besar dan bahkan mungkin mayoritas di suatu paroki atau stasi tertentu. Hak umat minoritas untuk merayakan Hari Minggu Biasa Kelima pun tetap harus kita hormati.

Di tahun 2014 ini, Tahun Baru Imlek jatuh pada hari Jumat, 31 Januari 2014, yang menurut kalender liturgi adalah Peringatan Wajib Santo Yohanes Bosko. Misa (Harian) untuk Peringatan Wajib Santo Yohanes Bosko, dengan doa-doa presidensial dan bacaan-bacaannya sesuai kalender liturgi wajib diadakan (untuk seluruh umat Katolik). Warna liturginya putih. Yang ini wajib dan tidak bisa ditawar. Misa (syukur atas) Imlek bisa diselenggarakan di luar jadwal Misa harian, sebagai tambahan.

Berikutnya, untuk Misa Imlek dapat digunakan rumus "Misa untuk Tahun Baru" yang ada di bawah kelompok "Misa untuk Pelbagai Keperluan" dalam buku Missale Romanum. Di bagian akhir tulisan ini saya kutipkan terjemahannya dari KWI, yang dapat digunakan ad experimentum. Juga, saya sajikan pilihan bacaan-bacaannya, seturut Ordo Lectionum Missae keluaran Vatikan.

Yang berikut ini adalah "Bisa, Jangan, dan Pikirkan Lagi" untuk Misa Imlek:

Bisa (meski belum tentu sepenuhnya benar sesuai aturan liturgi):

- Bisa #1: Menggunakan warna liturgi merah. Memang benar, warna liturgi untuk hari raya dan pesta seturut tradisi Romawi adalah putih. Meski begitu, saya akan coba menggunakan tafsir yang agak "berani" untuk pasal ini, "... dalam Misa untuk pelbagai keperluan digunakan warna liturgi yang sesuai dengan hari atau masa liturgi yang bersangkutan ..." (PUMR 347). Misa Tahun Baru termasuk dalam golongan Misa untuk Pelbagai Keperluan (Bdk. MR pp. 1073-1124); dan warna yang sesuai untuk Tahun Baru Imlek adalah merah. Masuk kan? Kalaupun tafsir saya itu dianggap kurang tepat, berikut ini kutipan lain dari PUMR tentang penyesuaian warna liturgi, "... Konferensi Uskup dapat menentukan perubahan-perubahan yang lebih serasi dengan keperluan dan kekhasan bangsa setempat. Penyerasian-penyerasian itu hendaknya diberitahukan kepada Takhta Apostolik." (PUMR 346) Warna putih yang merupakan warna pesta dan kemeriahan dalam tradisi Romawi adalah warna berkabung dalam tradisi Cina. Sebaliknya, warna merah yang dalam tradisi Romawi identik dengan darah dan pengorbanan, adalah warna pesta dan kegembiraan dalam tradisi Cina. Memang, kalaupun kita mau menggunakan pasal 346 ini, secara de jure KWI belum pernah mengesahkan penggunaan warna merah untuk Tahun Baru Imlek, apalagi memberitahukannya ke Vatikan. Seandainya mau dibilang salah, semoga ini masih bisa dimaafkan. Akhirnya, semoga kita tidak hanya pandai menggunakan pasal-pasal tanpa memahami maksud yang tersirat di balik aturannya secara keseluruhan.

- Bisa #2: Menggunakan lagu-lagu dengan melodi khas Cina. Silakan, asal lagunya liturgis, dan bukan lagu-lagu profan atau lagu pop rohani, yang tidak dikarang/digubah untuk perayaan liturgi suci. Hindari juga penggunaan melodi lagu Cina profan (contohnya melodi lagu pop Cina) untuk menyanyikan teks-teks liturgis seperti Doa Bapa Kami, misalnya. Ini sungguh mengganggu. Masih ingat lagu Bapa Kami dengan melodi dari lagu "Bandung Selatan di Waktu Malam"?

- Bisa #3: Menggunakan alat musik Cina sebagai ganti organ. Bisa. Meski sebenarnya di atas kertas dibutuhkan pengesahan dari uskup setempat untuk penggunaannya. (Bdk. Musicam Sacram 62-63)

- Bisa #4: Meminta Lektor dan Pemazmur serta Tatib dan Kolektan mengenakan busana khas Cina. Bisa saja. Mereka-mereka yang tidak mengenakan busana liturgi khusus bisa diminta mengenakan busana khas Cina. Mohon dipertimbangkan tradisi Romawi, di mana pria selalu melepas topinya saat masuk ke gereja, tetapi wanita justru menutup kepalanya saat masuk ke gereja.

- Bisa #5: Menambahkan Pemberkatan Jeruk dalam Misa. Pemberkatan Jeruk adalah sakramentali dan bisa saja dimasukkan dalam Misa. (Bdk. Ibadat Berkat 28-30) Perlu diperhatikan jangan sampai ritusnya menjadi dominan dan menyaingi ritus-ritus penting dalam Misa. Kalau mau, ritus ini bisa ditempatkan setelah Doa Sesudah Komuni yang menjadi penutup Liturgi Ekaristi. Atau, kalau mau bisa juga dilakukan setelah Misa selesai.

Jangan:

- Jangan #1: Menghias gereja seperti klenteng. Gereja adalah gereja, rumah Tuhan, hendaknya dihias sebagaimana selayaknya sebuah gereja. Simbol-simbol non-Kristiani hendaknya tidak digunakan untuk menghias gereja.

- Jangan #2: Menghias gereja secara berlebihan. Misa Imlek, kalaupun nanti suatu saat dimasukkan ke dalam kalender liturgi Indonesia, mungkin akan masuk ke dalam golongan Peringatan Fakultatif. Itu artinya dalam ranking hari-hari liturgi ada di nomor 12. (Bdk. Norma-Norma Universal dari Tahun dan Kalender Liturgi 59) Sebagai gambaran, nomor 1 adalah Trihari Paskah dan nomor 2, di antaranya, adalah Natal, Penampakan Tuhan, Kenaikan Tuhan dan Pentakosta. Hendaknya kemeriahan hiasan gereja untuk hari liturgi dengan ranking nomor 12 tidak mendekati atau menyamai hari-hari liturgi terpenting seperti Paskah dan Natal, yang ada di urutan nomor 1 dan 2.

- Jangan #3: Meminta imam, diakon, misdinar dan prodiakon/asisten imam/pelayan komuni tak lazim untuk mengenakan busana liturgi yang tidak lazim, apalagi yang tidak sesuai aturan Gereja. Jangan meminta imam mengenakan busana ala Judge Bao atau Kaisar Cina. Jangan pula meminta mereka mengenakan topi atau asesoris tambahan yang tidak sesuai aturan liturgi. Mohon diperhatikan, bahwa "... Hiasan pada busana liturgis yang berupa gambar atau lambang, hendaknya sesuai dengan liturgi. Yang kurang sesuai hendaknya dihindarkan." (PUMR 344)

- Jangan #4: Membawa barongsai atau naga masuk ke dalam gereja. Misa bukanlah pertunjukan. Ingat, "... pusatnya (Misa) adalah Kristus ..." (Paus Franciscus, dalam berbagai kesempatan)

- Jangan #5: Menempatkan meja sembahyang dan persembahan-persembahan kepada arwah ala Cina dalam gereja. (Bdk. Redemptionis Sacramentum 79)

Pikirkan Lagi:

- Pikirkan lagi #1: Mengganti wiruk dengan hio. Wiruk digunakan untuk membakar dupa, agar menghasilkan asap yang wangi, banyak, dan menyelimuti yang didupai, atau membubung ke atas, kepada Allah. Menggantinya dengan hio mungkin akan membuat suasana Cina lebih terasa. Akan tetapi, perlu dipikirkan bahwa wangi dan banyaknya asap mungkin tidak akan sebanding. Perlu juga dikaji lebih mendalam, apa sebenarnya kegunaan hio? Samakah dengan kegunaan wiruk dan asap dupa wangi yang dihasilkannya?

- Pikirkan Lagi #2: Menampilkan penari-penari untuk perarakan persembahan. Sekali lagi, Misa bukanlah pertunjukan. Ada baiknya kita renungkan kata-kata YU Cardinal Arinze, Prefek Emeritus Kongregasi Ibadat Ilahi dan Disiplin Sakramen, "... we do not come to Mass to enjoy, we don't come to Mass to admire people ...". Meski begitu, Cardinal Arinze menambahkan, bahwa tarian dalam liturgi bukan sama sekali ditabukan. Dalam tradisi Romawi atau budaya Barat memang tarian liturgi tidak ada dan tidak perlu. Tapi dalam beberapa budaya Timur dan di beberapa tempat di Afrika, memang ada tradisi di masyarakat di mana persembahan (kepada Yang Mahatinggi atau kepada penguasa) diantar dengan suatu gerakan-gerakan indah nan gemulai. Nah, pertanyaannya, apakah dalam tradisi masyarakat Cina persembahan biasa diantar dengan cara demikian? Atau hanya dibawa dengan berjalan maju secara biasa saja, seperti yang kita lihat di film-film silat? Kalau memang yang terakhir ini adalah tradisi yang umum berlaku di sana, lalu kenapa di gereja harus dilakukan dengan menari? Kajian mendalam seperti inilah yang perlu dilakukan dalam rangka inkulturasi liturgi yang baik.

Merancang sebuah Misa Imlek yang baik tidaklah mudah. Perlu pengetahuan yang mendalam dan kearifan untuk merencanakan inkulturasi ritual Imlek yang baik dan membawa hasil. Untuk bacaan lebih lanjut, saya akan sarankan Varietates Legitimae: Liturgi Romawi dan Inkulturasi. Artikel yang berikut ini dari Romo Dr. Boli Ujan SVD tentang Penyesuaian dan Inkulturasi Liturgi sungguh sangat bagus dan komprehensif. Artikel yang berikut ini, Menuju Inkulturasi Misa Imlek, dari Romo Agustinus Lie CDD, juga sangat bagus dan layak dibaca.

Sebagai penutup, berikut ini saya kutipkan dari Redemptionis Sacramentum: Instruksi VI tentang sejumlah hal yang perlu dilaksanakan ataupun dihindari berkaitan dengan Ekaristi Mahakudus. Ini adalah Instruksi Pelaksana VI Sacrosanctum Concilium atau Konstitusi Liturgi Suci yang merupakan produk Konsili Vatikan II. Kedua kutipan ini baik untuk kita renungkan. Bukan semata kata-katanya, tapi maksud yang tersirat di balik kata-kata itu.

"Tidak diizinkan mengaitkan perayaan Misa dengan peristiwa-peristiwa profan atau duniawi atau mengaitkannya dengan situasi-situasi yang tidak dengan sepenuhnya sesuai dengan ajaran Gereja Katolik. Juga perlu dihindarkan suatu Perayaan Ekaristi yang hanya dilangsungkan sebagai pertunjukan atau menurut gaya upacara-upacara lain, termasuk upacara-upacara profan: agar Ekaristi tidak akan kehilangan artinya yang otentik." (RS 78)

"Akhirnya, termasuk juga suatu penyelewengan jika ke dalam acara Misa Kudus dimasukkan unsur-unsur yang berlawanan dengan peraturan yang termuat dalam buku-buku liturgi dan diambil dari tata cara agama-agama lain." (RS 79)

--------------------------------------------------------------

RUMUS MISA UNTUK TAHUN BARU:
(Sumber: Missale Romanum, Vatikan; Terjemahan oleh KWI, boleh dipakai ad experimentum)

Rumus Misa ini tidak boleh dipakai pada Hari Raya Santa Maria, Bunda Allah, 1 Januari.

Antifon Pembuka (Bdk. Mzm. 65:12)

Engkau memahkotai tahun dengan kebaikan-Mu,
dan tanah-tanah padang-Mu
akan kembali penuh kelimpahan.

Atau: (Bdk. Mat. 28:20)

Tuhan bersabda:
Lihat, Aku akan senantiasa menyertai kamu,
sampai akhir zaman, Alleluya.

Doa Pembuka

Ya Allah, pangkal seluruh ciptaan,
dari kekal sampai kekal Engkau ada.
Kepada-Mu kami persembahkan awal tahun baru ini.
Bantulah agar sepanjang tahun ini
kami mendapatkan rejeki secukupnya
dan memancarkan kekudusan dalam karya-karya kami.
Dengan pengantaraan Yesus Kristus, Putra-Mu, Tuhan kami,
yang bersama dengan Dikau dalam persatuan Roh Kudus
hidup dan berkuasa, Allah, sepanjang segala masa.

Doa Persiapan Persembahan

Ya Tuhan,
sudilah menerima persembahan
yang kami unjukkan kepada-Mu.
Semoga kami semua yang dengan gembira
merayakan awal tahun baru ini,
menjalani seluruh tahun dalam kasih -Mu.
Dengan pengantaraan Kristus, Tuhan kami.

Antifon Komuni (Ibr. 13:8)

Yesus Kristus tetap sama,
baik kemarin maupun hari ini
dan sampai selama-lamanya.

Doa sesudah Komuni

Ya Tuhan,
dampingilah selalu kami, umat-Mu,
yang telah menyambut sakramen suci ini.
Semoga sepanjang tahun ini
kami yang senantiasa mengharapkan perlindungan-Mu
terhindar dari segala marabahaya.
Dengan pengantaraan Kristus, Tuhan kami,
yang hidup dan berkuasa sepanjang segala masa.

BACAAN-BACAAN MISA UNTUK TAHUN BARU:
(Sumber: Ordo Lectionum Missae, Vatikan)

Bacaan dari Perjanjian Lama: Kej 1:14-18 atau Bil 6:22-27
Bacaan dari Perjanjian Baru: 1Kor 7:29-31 atau Yak 4:13-15
Mazmur Tanggapan: Mzm 8:4-5.6-7a.7b-9 (Refrain: Mzm 8:2), di antaranya
Alleluia: 1Taw 29:10b.11b atau Setiap hari kami memuji Dikau. Kami memegahkan nama-Mu untuk sepanjang masa.
Bacaan Injil: Mat 6:31-34 atau Luk 12:35-40