Busana Gereja: Sebuah Prolog



Busana Gereja Katolik Ritus Romawi pada awal mulanya adalah busana biasa yang umum dipakai oleh orang-orang Romawi pada masa itu. Cikal bakal alba, misalnya, adalah busana yang biasa dikenakan oleh para pria dari jaman Yunani klasik, kira-kira abad keenam sebelum Masehi. Klerus pada jaman dahulu tidak mengenakan busana yang benar-benar berbeda dari awam; mereka mengenakan busana biasa yang sama, yang juga dikenakan sehari-hari oleh masyarakat umum. Perbedaannya, kalaupun ada, hanyalah di beberapa detil tertentu. “Dapat dimengerti lalu, bahwa ada dorongan yang alamiah di antara para klerus untuk memastikan keunggulan, keindahan dan keagungan busana mereka; dengan demikian mereka akan mempersiapkan diri dengan busana terbaik yang mereka miliki saat beribadat kepada Allah. Para imam dan pelayan dari jaman primitif mengenakan busana terindah mereka, sebagai ungkapan penghormatan yang sungguh-sungguh kepada Allah, dan juga sebagai ekspresi suka cita.” (Norris, Church Vestments: Their Origin and Development, 1949) Lebih lanjut, “Dalam perkembangannya, busana yang harus dikenakan di altar lalu menjadi ‘busana suci’, vestes sacratae, seperti yang dikatakan oleh Paus Stefanus di pertengahan abad ketiga.” (Roulin, Vestment and Vesture: A Manual of Liturgical Art, 1950)

Paus Benedictus XVI (Foto: Corbis)
Ketika busana Romawi klasik mulai digantikan oleh busana dari kultur barbar (budaya lain di luar peradaban agung Yunani, Romawi dan Kristen), konservatisme agama tetap mempertahankan busana agung model lama untuk para pemimpin ibadat dan pelayan-pelayannya, bahkan setelah masyarakat umum lama meninggalkannya. Akibatnya, selebran dalam Ekaristi masih mengenakan busana yang tidak lagi dikenakan untuk kepentingan sekuler. “Para uskup dan imam tetap mengenakannya, karena busana ini sungguh agung dan indah, dan karenanya cocok untuk ibadat Kristiani.” (Roulin, 1950) Kalau Anda melihat foto di samping ini, mungkin Anda akan setuju, bahwa busana yang dikenakan oleh Paus Benedictus XVI di tahun 2007 itu lebih indah dan agung serta lebih cocok untuk dipakai selebran dalam ibadat ilahi, daripada jas atau kemeja batik dari bahan sutra sekalipun, yang hari ini dipakai oleh para pria yang akan pergi ke suatu resepsi penting.

Dari paparan para pakar busana Gereja di atas dan juga dari Pedoman Umum Misale Romawi (bdk. PUMR 344), saya akan mengambil beberapa kata kunci: keunggulan (mutu), keindahan, keagungan, penghormatan (kepada Allah), dan ekspresi suka cita (dari pemakai busana dan juga dari seluruh umat). Itulah yang mendasari penggunaan busana khusus yang indah dan agung, busana suci, oleh para klerus dan pelayan-pelayan awamnya dalam upacara-upacara liturgi. Pertanyaannya, masihkah pemikiran-pemikiran itu ada dalam benak para peraya liturgi hari ini?

Sebagai MC Liturgi, saat menyiapkan busana, saya harus memikirkan kata-kata kunci di atas itu semuanya. Namun, di lapangan kita tahu ada banyak kendala. “Panas,” adalah kata kunci argumentatif yang paling sering saya jumpai kala berbicara tentang busana liturgi suci yang indah dan agung, sesuai yang diamanatkan Gereja. Hal “panas” ini, YM Vincentius Sutikno Wisaksono, Uskup Surabaya, ordinaris saya, pernah menggumamkan suatu otokritik pada saya yang saat itu melayani beliau di Roma, di bulan Agustus, yang panasnya bahkan bisa mencapai 40 derajat Celcius, “Yesus mati di salib, kok saya mengeluh kepanasan.” Kata-kata beliau ini sungguh menancap di hati; saya ingat-ingat betul. Realitanya, hari ini, pemakai busana liturgi, klerus dan awam, masih banyak yang memilih tidak kepanasan daripada mengutamakan keindahan dan keagungan liturgi.

Paus Franciscus (Foto: Corbis)
Kata kunci argumentatif yang kedua adalah, “kesederhanaan”, yang konon diamanatkan oleh Vatikan II. Banyak yang membaca hal kesederhanaan ini tanpa memahami konteksnya, tanpa mengerti situasi dan kondisi busana klerus dalam Gereja Katolik Ritus Romawi saat penyelenggaraan Konsili Vatikan II. Dokumen aslinya, baik Sacrosanctum Concilium dan berikutnya PUMR juga, menulis “nobili simplicitate”, yang diterjemahkan ke Bahasa Indonesia menjadi “kesederhanaan yang anggun”, yang sayangnya dibaca banyak pihak sebagai “kesederhanaan” saja. Dari bahasa Latin aslinya kita tahu bahwa yang ditekankan adalah hal nobili (noble, agung); karena itu ia didahulukan daripada simplicitate (simplicity, kesederhanaan). Singkat kata, keduanya hendaknya dipakai bersama, keagungan dalam kesederhanaan, seperti busana yang dikenakan oleh Paus Franciscus di sebelah ini, dan bukan hanya kesederhanaan saja.

Jauh sebelum Vatikan II, pakar busana Gereja Dom Eugène Augustin Roulin, OSB dari Biara Benediktin Ampleforth di Inggris sudah menyebut-nyebut "keagungan dalam kesederhanaan", nobili simplicitate atau noble simplicity, dalam bukunya Vestment and Vesture (Edisi Bahasa Prancis 1930, Terjemahan Bahasa Inggris 1950). Pandangan Roulin agar Gereja kembali pada penggunaan busana liturgi yang sederhana tetapi agung bisa jadi telah mengilhami dan diadopsi oleh para Bapa Konsili. Pemahaman terhadap konsep nobili simplicitate yang ditawarkan Roulin dalam bukunya membuat kita lebih bisa mengerti saat membaca PUMR 344 ini (kata-kata di dalam kurung adalah catatan saya): “Busana liturgis hendaknya tampak indah dan anggun bukan karena banyak dan mewahnya hiasan (a la Romawi abad ke-19 dan awal abad ke-20, yang penuh dengan ornamen seperti gambar di atas ini, dan bahkan bertaburkan batu-batu mulia dalam beberapa kasus), melainkan karena bahan (dari serat kain bermutu tinggi yang ditenun dari bahan-bahan alami, dan bukan dari bahan sintetis yang cenderung lebih murah) dan bentuk potongannya (yang lebar, indah dan agung, a la busana Yunani dan Romawi klasik, dan bukan minimalis seperti kasula Romawi di atas ini, apalagi kalau sekedar dimaksudkan untuk menghemat pemakaian kain seperti yang jamak kita temukan hari ini). ...”

Sebuah kasula yang indah dan bermutu dapat bertahan puluhan tahun. Di Katedral Surabaya hari ini masih dipakai beberapa kasula indah dari jaman tahun 1980an; itu lebih dari 30 tahun yang lalu. Uskup Surabaya hari ini masih memakai salib pektoral yang bisa jadi lebih tua dari umur beliau yang lahir di tahun 1953, lebih dari 60 tahun yang lalu; salib dada itu peninggalan almarhum YM Yohanes Klooster, CM, ordinaris Surabaya yang ketiga. Busana dan asesoris yang indah dan agung mungkin memang mahal ongkos pengadaannya, tapi biaya pemakaian per tahunnya bisa jadi jauh lebih murah daripada biaya pemakaian telepon genggam imam hari ini, yang paling sederhana sekalipun. Mari kita berhitung dan pikirkan kembali.

Sebagai penutup, saya akan kutipkan lagi yang berikut ini, kali ini dengan penekanan dari saya, untuk kita renungkan bersama, “Para imam dan pelayan dari jaman primitif mengenakan busana terindah mereka, sebagai ungkapan penghormatan yang sungguh-sungguh kepada Allah, dan juga sebagai ekspresi suka cita.” (Norris, 1949) Untuk hari ini, pertanyaannya adalah, masih perlu dan masih maukah kita memberikan yang terbaik bagi Allah?

Catatan: Artikel ini merupakan prolog dari sebuah presentasi tentang Busana Gereja, yang disampaikan pada Lokakarya Nasional Caeremoniarius yang diselenggarakan oleh Komisi Liturgi KWI, Jakarta, 2-4 Juli 2014.

Misa Imlek Yang (Lebih) Benar?


Barongsai di halaman gereja (Foto: Corbis)
Tahun Baru Imlek akan segera tiba; Jumat, 31 Januari 2014 jatuhnya untuk tahun ini. Seperti biasanya, di beberapa paroki dan juga di internet akan mengemuka berbagai diskusi, pro dan kontra, dari yang akademik dan konstruktif sampai ke yang asal ngotot dan destruktif. Dua tahun yang lalu saya pernah menulis "Misa Imlek: Untuk Apa? Untuk Siapa?". Mohon berkenan membaca tulisan itu dulu. Kalau setelah membaca dan merenungkannya, Anda masih merasa perlu membuat Misa Imlek, tulisan yang berikut ini mungkin berguna untuk masukan. Tidak ada Misa Imlek yang paling benar, kalau itu yang Anda tanyakan. Yang ada adalah Misa Imlek yang lebih benar dan lebih sesuai dengan norma-norma liturgi.

Tahun baru, baik itu Tahun Baru Masehi 1 Januari, Tahun Baru Jawa 1 Suro ataupun Tahun Baru Imlek, selalu membawa harapan baru. Umat manusia, tidak terkecuali umat Katolik, bersyukur untuk apa yang telah diperoleh di tahun sebelumnya dan mohon berkat bagi tahun yang baru. Umat Katolik keturunan Cina yang masih merayakan Imlek pun tentu ingin menyampaikan rasa syukurnya. Kalau dulu sebelum menjadi Katolik, mereka (atau nenek moyang mereka) menyampaikan syukurnya di klenteng atau tempat ibadat lain, sekarang mereka menyampaikan syukurnya di gereja, dengan kurban Misa. Jaman dahulu, umat Israel menyampaikan syukur dengan mempersembahkan kurban bakaran kepada Allah. Dalam perjalanannya, kita tahu bahwa Allah yang maha pengasih kemudian menyediakan pengganti untuk anak domba kurban; ialah Putra-Nya sendiri, Yesus Kristus, Anak Domba Allah, yang dipersembahkan bagi-Nya sebagai kurban dalam setiap Misa Kudus.

Pertanyaan berikutnya, apakah ungkapan syukur atas Tahun Baru Imlek hanya bisa dilakukan dalam Misa Imlek? Tidak. Misa harian biasa pun bisa. Tapi, bolehkah membuat Misa (syukur atas) Imlek? Boleh saja. Kenapa tidak? Wajar kok membuat Misa khusus sebagai ungkapan syukur? Sekolah-sekolah Katolik juga biasa membuat Misa (syukur di awal) Tahun Ajaran Baru. Misa ya. Perayaan Ekaristi. Yang sesuai dengan norma-norma liturgi.

Selanjutnya, apakah paroki-paroki perlu membuat Misa Imlek? Saya akan balik tanya, "Yang perlu bersyukur berapa orang?" Kalau ada cukup banyak umat paroki yang keturunan Cina, dan (masih) merayakan Imlek, dan perlu menyampaikan syukur mereka, bisa saja dibuat Misa Imlek khusus. Ini seperti Misa kelompok kategorial. Kalau memang butuh, ya minta aja kepada Pastor Paroki.

Satu catatan, jangan mengganti Misa Hari Minggu atau Misa Hari Biasa (bagi seluruh umat) dengan Misa Imlek (bagi suatu kelompok kategorial). Tahun lalu, Imlek jatuh pada hari Minggu, 10 Februari 2013. Menurut kalender liturgi, hari itu adalah Hari Minggu Biasa Kelima, yang harus dirayakan oleh umat Katolik di seluruh dunia. Jangan lalu Misa Hari Minggu Biasa itu diganti dengan Misa (syukur atas) Imlek yang hanya dirayakan oleh sebagian umat, sekalipun dari segi jumlah mungkin cukup besar dan bahkan mungkin mayoritas di suatu paroki atau stasi tertentu. Hak umat minoritas untuk merayakan Hari Minggu Biasa Kelima pun tetap harus kita hormati.

Di tahun 2014 ini, Tahun Baru Imlek jatuh pada hari Jumat, 31 Januari 2014, yang menurut kalender liturgi adalah Peringatan Wajib Santo Yohanes Bosko. Misa (Harian) untuk Peringatan Wajib Santo Yohanes Bosko, dengan doa-doa presidensial dan bacaan-bacaannya sesuai kalender liturgi wajib diadakan (untuk seluruh umat Katolik). Warna liturginya putih. Yang ini wajib dan tidak bisa ditawar. Misa (syukur atas) Imlek bisa diselenggarakan di luar jadwal Misa harian, sebagai tambahan.

Berikutnya, untuk Misa Imlek dapat digunakan rumus "Misa untuk Tahun Baru" yang ada di bawah kelompok "Misa untuk Pelbagai Keperluan" dalam buku Missale Romanum. Di bagian akhir tulisan ini saya kutipkan terjemahannya dari KWI, yang dapat digunakan ad experimentum. Juga, saya sajikan pilihan bacaan-bacaannya, seturut Ordo Lectionum Missae keluaran Vatikan.

Yang berikut ini adalah "Bisa, Jangan, dan Pikirkan Lagi" untuk Misa Imlek:

Bisa (meski belum tentu sepenuhnya benar sesuai aturan liturgi):

- Bisa #1: Menggunakan warna liturgi merah. Memang benar, warna liturgi untuk hari raya dan pesta seturut tradisi Romawi adalah putih. Meski begitu, saya akan coba menggunakan tafsir yang agak "berani" untuk pasal ini, "... dalam Misa untuk pelbagai keperluan digunakan warna liturgi yang sesuai dengan hari atau masa liturgi yang bersangkutan ..." (PUMR 347). Misa Tahun Baru termasuk dalam golongan Misa untuk Pelbagai Keperluan (Bdk. MR pp. 1073-1124); dan warna yang sesuai untuk Tahun Baru Imlek adalah merah. Masuk kan? Kalaupun tafsir saya itu dianggap kurang tepat, berikut ini kutipan lain dari PUMR tentang penyesuaian warna liturgi, "... Konferensi Uskup dapat menentukan perubahan-perubahan yang lebih serasi dengan keperluan dan kekhasan bangsa setempat. Penyerasian-penyerasian itu hendaknya diberitahukan kepada Takhta Apostolik." (PUMR 346) Warna putih yang merupakan warna pesta dan kemeriahan dalam tradisi Romawi adalah warna berkabung dalam tradisi Cina. Sebaliknya, warna merah yang dalam tradisi Romawi identik dengan darah dan pengorbanan, adalah warna pesta dan kegembiraan dalam tradisi Cina. Memang, kalaupun kita mau menggunakan pasal 346 ini, secara de jure KWI belum pernah mengesahkan penggunaan warna merah untuk Tahun Baru Imlek, apalagi memberitahukannya ke Vatikan. Seandainya mau dibilang salah, semoga ini masih bisa dimaafkan. Akhirnya, semoga kita tidak hanya pandai menggunakan pasal-pasal tanpa memahami maksud yang tersirat di balik aturannya secara keseluruhan.

- Bisa #2: Menggunakan lagu-lagu dengan melodi khas Cina. Silakan, asal lagunya liturgis, dan bukan lagu-lagu profan atau lagu pop rohani, yang tidak dikarang/digubah untuk perayaan liturgi suci. Hindari juga penggunaan melodi lagu Cina profan (contohnya melodi lagu pop Cina) untuk menyanyikan teks-teks liturgis seperti Doa Bapa Kami, misalnya. Ini sungguh mengganggu. Masih ingat lagu Bapa Kami dengan melodi dari lagu "Bandung Selatan di Waktu Malam"?

- Bisa #3: Menggunakan alat musik Cina sebagai ganti organ. Bisa. Meski sebenarnya di atas kertas dibutuhkan pengesahan dari uskup setempat untuk penggunaannya. (Bdk. Musicam Sacram 62-63)

- Bisa #4: Meminta Lektor dan Pemazmur serta Tatib dan Kolektan mengenakan busana khas Cina. Bisa saja. Mereka-mereka yang tidak mengenakan busana liturgi khusus bisa diminta mengenakan busana khas Cina. Mohon dipertimbangkan tradisi Romawi, di mana pria selalu melepas topinya saat masuk ke gereja, tetapi wanita justru menutup kepalanya saat masuk ke gereja.

- Bisa #5: Menambahkan Pemberkatan Jeruk dalam Misa. Pemberkatan Jeruk adalah sakramentali dan bisa saja dimasukkan dalam Misa. (Bdk. Ibadat Berkat 28-30) Perlu diperhatikan jangan sampai ritusnya menjadi dominan dan menyaingi ritus-ritus penting dalam Misa. Kalau mau, ritus ini bisa ditempatkan setelah Doa Sesudah Komuni yang menjadi penutup Liturgi Ekaristi. Atau, kalau mau bisa juga dilakukan setelah Misa selesai.

Jangan:

- Jangan #1: Menghias gereja seperti klenteng. Gereja adalah gereja, rumah Tuhan, hendaknya dihias sebagaimana selayaknya sebuah gereja. Simbol-simbol non-Kristiani hendaknya tidak digunakan untuk menghias gereja.

- Jangan #2: Menghias gereja secara berlebihan. Misa Imlek, kalaupun nanti suatu saat dimasukkan ke dalam kalender liturgi Indonesia, mungkin akan masuk ke dalam golongan Peringatan Fakultatif. Itu artinya dalam ranking hari-hari liturgi ada di nomor 12. (Bdk. Norma-Norma Universal dari Tahun dan Kalender Liturgi 59) Sebagai gambaran, nomor 1 adalah Trihari Paskah dan nomor 2, di antaranya, adalah Natal, Penampakan Tuhan, Kenaikan Tuhan dan Pentakosta. Hendaknya kemeriahan hiasan gereja untuk hari liturgi dengan ranking nomor 12 tidak mendekati atau menyamai hari-hari liturgi terpenting seperti Paskah dan Natal, yang ada di urutan nomor 1 dan 2.

- Jangan #3: Meminta imam, diakon, misdinar dan prodiakon/asisten imam/pelayan komuni tak lazim untuk mengenakan busana liturgi yang tidak lazim, apalagi yang tidak sesuai aturan Gereja. Jangan meminta imam mengenakan busana ala Judge Bao atau Kaisar Cina. Jangan pula meminta mereka mengenakan topi atau asesoris tambahan yang tidak sesuai aturan liturgi. Mohon diperhatikan, bahwa "... Hiasan pada busana liturgis yang berupa gambar atau lambang, hendaknya sesuai dengan liturgi. Yang kurang sesuai hendaknya dihindarkan." (PUMR 344)

- Jangan #4: Membawa barongsai atau naga masuk ke dalam gereja. Misa bukanlah pertunjukan. Ingat, "... pusatnya (Misa) adalah Kristus ..." (Paus Franciscus, dalam berbagai kesempatan)

- Jangan #5: Menempatkan meja sembahyang dan persembahan-persembahan kepada arwah ala Cina dalam gereja. (Bdk. Redemptionis Sacramentum 79)

Pikirkan Lagi:

- Pikirkan lagi #1: Mengganti wiruk dengan hio. Wiruk digunakan untuk membakar dupa, agar menghasilkan asap yang wangi, banyak, dan menyelimuti yang didupai, atau membubung ke atas, kepada Allah. Menggantinya dengan hio mungkin akan membuat suasana Cina lebih terasa. Akan tetapi, perlu dipikirkan bahwa wangi dan banyaknya asap mungkin tidak akan sebanding. Perlu juga dikaji lebih mendalam, apa sebenarnya kegunaan hio? Samakah dengan kegunaan wiruk dan asap dupa wangi yang dihasilkannya?

- Pikirkan Lagi #2: Menampilkan penari-penari untuk perarakan persembahan. Sekali lagi, Misa bukanlah pertunjukan. Ada baiknya kita renungkan kata-kata YU Cardinal Arinze, Prefek Emeritus Kongregasi Ibadat Ilahi dan Disiplin Sakramen, "... we do not come to Mass to enjoy, we don't come to Mass to admire people ...". Meski begitu, Cardinal Arinze menambahkan, bahwa tarian dalam liturgi bukan sama sekali ditabukan. Dalam tradisi Romawi atau budaya Barat memang tarian liturgi tidak ada dan tidak perlu. Tapi dalam beberapa budaya Timur dan di beberapa tempat di Afrika, memang ada tradisi di masyarakat di mana persembahan (kepada Yang Mahatinggi atau kepada penguasa) diantar dengan suatu gerakan-gerakan indah nan gemulai. Nah, pertanyaannya, apakah dalam tradisi masyarakat Cina persembahan biasa diantar dengan cara demikian? Atau hanya dibawa dengan berjalan maju secara biasa saja, seperti yang kita lihat di film-film silat? Kalau memang yang terakhir ini adalah tradisi yang umum berlaku di sana, lalu kenapa di gereja harus dilakukan dengan menari? Kajian mendalam seperti inilah yang perlu dilakukan dalam rangka inkulturasi liturgi yang baik.

Merancang sebuah Misa Imlek yang baik tidaklah mudah. Perlu pengetahuan yang mendalam dan kearifan untuk merencanakan inkulturasi ritual Imlek yang baik dan membawa hasil. Untuk bacaan lebih lanjut, saya akan sarankan Varietates Legitimae: Liturgi Romawi dan Inkulturasi. Artikel yang berikut ini dari Romo Dr. Boli Ujan SVD tentang Penyesuaian dan Inkulturasi Liturgi sungguh sangat bagus dan komprehensif. Artikel yang berikut ini, Menuju Inkulturasi Misa Imlek, dari Romo Agustinus Lie CDD, juga sangat bagus dan layak dibaca.

Sebagai penutup, berikut ini saya kutipkan dari Redemptionis Sacramentum: Instruksi VI tentang sejumlah hal yang perlu dilaksanakan ataupun dihindari berkaitan dengan Ekaristi Mahakudus. Ini adalah Instruksi Pelaksana VI Sacrosanctum Concilium atau Konstitusi Liturgi Suci yang merupakan produk Konsili Vatikan II. Kedua kutipan ini baik untuk kita renungkan. Bukan semata kata-katanya, tapi maksud yang tersirat di balik kata-kata itu.

"Tidak diizinkan mengaitkan perayaan Misa dengan peristiwa-peristiwa profan atau duniawi atau mengaitkannya dengan situasi-situasi yang tidak dengan sepenuhnya sesuai dengan ajaran Gereja Katolik. Juga perlu dihindarkan suatu Perayaan Ekaristi yang hanya dilangsungkan sebagai pertunjukan atau menurut gaya upacara-upacara lain, termasuk upacara-upacara profan: agar Ekaristi tidak akan kehilangan artinya yang otentik." (RS 78)

"Akhirnya, termasuk juga suatu penyelewengan jika ke dalam acara Misa Kudus dimasukkan unsur-unsur yang berlawanan dengan peraturan yang termuat dalam buku-buku liturgi dan diambil dari tata cara agama-agama lain." (RS 79)

--------------------------------------------------------------

RUMUS MISA UNTUK TAHUN BARU:
(Sumber: Missale Romanum, Vatikan; Terjemahan oleh KWI, boleh dipakai ad experimentum)

Rumus Misa ini tidak boleh dipakai pada Hari Raya Santa Maria, Bunda Allah, 1 Januari.

Antifon Pembuka (Bdk. Mzm. 65:12)

Engkau memahkotai tahun dengan kebaikan-Mu,
dan tanah-tanah padang-Mu
akan kembali penuh kelimpahan.

Atau: (Bdk. Mat. 28:20)

Tuhan bersabda:
Lihat, Aku akan senantiasa menyertai kamu,
sampai akhir zaman, Alleluya.

Doa Pembuka

Ya Allah, pangkal seluruh ciptaan,
dari kekal sampai kekal Engkau ada.
Kepada-Mu kami persembahkan awal tahun baru ini.
Bantulah agar sepanjang tahun ini
kami mendapatkan rejeki secukupnya
dan memancarkan kekudusan dalam karya-karya kami.
Dengan pengantaraan Yesus Kristus, Putra-Mu, Tuhan kami,
yang bersama dengan Dikau dalam persatuan Roh Kudus
hidup dan berkuasa, Allah, sepanjang segala masa.

Doa Persiapan Persembahan

Ya Tuhan,
sudilah menerima persembahan
yang kami unjukkan kepada-Mu.
Semoga kami semua yang dengan gembira
merayakan awal tahun baru ini,
menjalani seluruh tahun dalam kasih -Mu.
Dengan pengantaraan Kristus, Tuhan kami.

Antifon Komuni (Ibr. 13:8)

Yesus Kristus tetap sama,
baik kemarin maupun hari ini
dan sampai selama-lamanya.

Doa sesudah Komuni

Ya Tuhan,
dampingilah selalu kami, umat-Mu,
yang telah menyambut sakramen suci ini.
Semoga sepanjang tahun ini
kami yang senantiasa mengharapkan perlindungan-Mu
terhindar dari segala marabahaya.
Dengan pengantaraan Kristus, Tuhan kami,
yang hidup dan berkuasa sepanjang segala masa.

BACAAN-BACAAN MISA UNTUK TAHUN BARU:
(Sumber: Ordo Lectionum Missae, Vatikan)

Bacaan dari Perjanjian Lama: Kej 1:14-18 atau Bil 6:22-27
Bacaan dari Perjanjian Baru: 1Kor 7:29-31 atau Yak 4:13-15
Mazmur Tanggapan: Mzm 8:4-5.6-7a.7b-9 (Refrain: Mzm 8:2), di antaranya
Alleluia: 1Taw 29:10b.11b atau Setiap hari kami memuji Dikau. Kami memegahkan nama-Mu untuk sepanjang masa.
Bacaan Injil: Mat 6:31-34 atau Luk 12:35-40

Busana Pelayan PSHMR


Alba model Romawi yang dapat dikenakan Pemandu PSHMR Awam (Foto: TK)
Perayaan Sabda Hari Minggu dan Hari Raya (PSHMR), yang diselenggarakan karena tiadanya Imam yang dapat memimpin Perayaan Ekaristi, dapat dipimpin oleh seorang Diakon, atau dipandu oleh awam biasa. Termasuk dalam kategori awam di sini adalah para bruder, suster, frater/seminaris dan katekis. Sebagai suatu perayaan liturgi, PSHMR mensyaratkan busana yang pantas bagi para pelayan-pelayannya, termasuk juga para pelayan awam. Artikel ini menjelaskan busana apa yang dapat dikenakan, sesuai dengan aturan dan tradisi Gereja.

Seorang Diakon yang memimpin PSHMR hendaknya “... mengenakan pakaian khusus yang cocok dengan pelayanannya, yakni alba dan stola, dan pada saat-saat tertentu ia mengenakan dalmatik ...” (Pedoman PSHMR 38). Yang dimaksud saat-saat tertentu di sini misalnya adalah hari raya, di mana penggunaan dalmatik sungguhlah bermanfaat untuk menunjang kemeriahan perayaan. “Tidak dapat disetujui bahwa para petugas merayakan Misa Kudus atau acara-acara liturgi lain tanpa busana suci atau dengan hanya stola di atas busana rahib atau biara atau di atas pakaian biasa. ...” (Redemptionis Sacramentum 126)

Bila tidak ada Diakon, umat awam biasa dapat memandu PSHMR. Pedoman Khusus PSHMR 9 menyebut bahwa awam yang melayani sebagai Pemandu/Pengantar PSHMR “mengenakan pakaian liturgis yaitu jubah panjang dan atribut khusus.” Yang dimaksud di sini adalah alba dan singel (dan amik, bila dibutuhkan). Aturan ini selaras dengan aturan umum busana liturgis yang terdapat dalam PUMR, “Busana liturgis yang lazim dikenakan oleh semua pelayan liturgi, tertahbis maupun tidak tertahbis, ialah alba, yang dikencangi dengan singel, kecuali kalau bentuk alba itu memang tidak menuntut singel. Kalau alba tidak menutup sama sekali kerah pakaian sehari-hari, maka dikenakan amik sebelum alba. ...” (PUMR 336)

Umat awam yang menjadi pelayan lain dalam PSHMR, termasuk Komentator, Lektor/Pemazmur, atau Anggota Koor,  hendaknya “mengenakan pakaian yang pantas untuk pelayanan itu, atau mengenakan pakaian yang dianjurkan oleh Uskup.” (Pedoman PSHMR 40) Dengan demikian, kecuali Ordinaris setempat mengatur lain, yang diminta hanyalah busana awam yang pantas. Tidak ada kewajiban bagi para pelayan awam dalam kelompok ini untuk mengenakan busana liturgis, utamanya karena mereka tidak duduk di panti imam.

Pedoman PSHMR tidak mengatur secara khusus tentang busana bagi Misdinar. Seturut tradisi yang legitim, Misdinar, dapat mengenakan busana yang biasa digunakan di wilayah paroki atau keuskupan yang bersangkutan, baik itu jubah dan superpli, ataupun alba dan singel.

Lebih lanjut, “Perlu diperhatikan juga bahwa umat awam tak pernah boleh bertindak atau berbusana liturgis seperti seorang Imam atau Diakon, atau memakai busana yang mirip dengan busana dimaksud.” (Redemptionis Sacramentum 153) Aturan ini mengingatkan awam untuk menghindari penggunaan kasula, dalmatik atau stola, ataupun busana dan asesoris lain yang mirip dengan busana dan asesoris liturgis yang dikhususkan bagi kaum tertahbis.

Paus Benedictus XVI mengenakan pallium (Foto: TPBF)
Meski ada dorongan untuk menambahkan asesoris untuk alba bagi awam agar tidak terkesan polos, sebaiknya kita berhati-hati untuk tidak menggunakan asesoris yang sesuai aturan dan tradisi Gereja Katolik hanya diperuntukkan bagi penyandang martabat tertentu. Misalnya, hindarilah penggunaan kerah lebar yang aslinya bernama mozeta, atau apapun yang mirip dengannya. Mozeta merupakan privilese Uskup. Selain Uskup, ada beberapa ordo mendikan yang sudah berumur ratusan tahun, di antaranya Fransiskan, Dominikan dan Karmelit, yang secara legitim mengenakan mozeta sebagai bagian dari habitus (jubah biarawan) mereka. Juga, hindarilah tambahan salib (besar) di dada, karena salib dada merupakan privilese Uskup. Hindarilah juga salib dada yang meski berkuran kecil namun digantung dengan pita lebar; yang ini, seturut tradisi yang legitim, dikenakan oleh para Kanonik, klerus yang bertugas menyelenggarakan Ibadat Harian di gereja-gereja Katedral. Juga, hindari penggunaan samir atau selempang putih seperti yang dikenakan Paus dalam foto di atas. Asesoris itu bernama palium dan hanya dikenakan oleh Uskup Agung Metropolitan. Singkat kata, hindarilah asesoris yang mirip dengan semuanya itu di atas, atau bahkan selendang kecil yang mirip dengan stola imam. “Busana liturgis hendaknya tampak indah dan anggun bukan karena banyak dan mewahnya hiasan, melainkan karena bahan dan bentuk potongannya. ...” (PUMR 344)

Artikel lain yang relevan:
Busana Uskup
Busana Liturgi Uskup
Busana Imam
Busana Asisten Imam
- Busana Misdinar

Catatan: Artikel ini dimuat dalam Majalah Liturgi yang diterbitkan oleh Komisi Liturgi KWI, Vol 24 No 3 - Jul-Sep 2013.

Membawa Jenazah Ke Gereja


Misa Arwah dengan jenazah di gereja (Foto: Corbis)
Mantan Kepala Sekolah SMA saya wafat menjelang liburan kemarin. Beliau seorang Katolik yang saleh dan dikenal luas banyak kalangan. Pada hari pemakamannya, jenazahnya dibawa dari rumah duka ke gereja untuk Misa Arwah, baru kemudian diberangkatkan ke makam. Bagaimana aturan dan tradisi Gereja Katolik tentang hal ini? Di sementara kalangan ada pemikiran bahwa hanya jenazah imam, biarawan dan biarawati, serta tokoh-tokoh Katolik lah yang boleh dibawa masuk ke gereja. Benarkah demikian?

Aturan mengenai pemakaman gerejawi ada di Kitab Hukum Kanonik (KHK), tepatnya di Kanon 1176-1185. Di situ disebutkan bahwa, "Umat beriman kristiani yang telah meninggal dunia harus diberi pemakaman gerejawi menurut norma hukum." (Kan 1176-1) Lebih lanjut, diatur juga bahwa, "Pemakaman bagi setiap orang beriman yang telah meninggal dunia harus dirayakan pada umumnya dalam gereja parokinya sendiri." (Kan 1177-1) Aturan ini selaras dengan pemikiran bahwa, saat ada anggotanya yang meninggal, Gereja, dalam hal ini kelompok umat beriman yang tergabung dalam suatu paroki, turut berduka dan mendoakan yang meninggal, dan turut serta memberikan penghiburan kepada keluarga yang ditinggalkan. Akhirnya, Kanon 1181 mengatur, "... namun hendaknya diusahakan agar dalam pemakaman jangan ada pandang bulu dan orang-orang miskin jangan sampai tidak diberi pemakaman yang semestinya."

Dari paragraf di atas jelas bahwa pemakaman gerejawi adalah untuk umat beriman Kristiani, tanpa pandang bulu. Berikutnya, apa yang dimaksud dengan "pemakaman gerejawi"? Pasca Konsili Vatikan II, atau tepatnya tanggal 15 Agustus 1969, Gereja mengeluarkan dokumen Ordo Exsequiarum atau Tata Perayaan Pemakaman. Ini adalah edisi tipikal yang dijadikan acuan oleh Gereja Katolik Ritus Romawi di seluruh dunia. Berdasarkan edisi tipikal dalam Bahasa Latin itu, KWI mengeluarkan Buku Upacara Pemakaman, yang telah diterbitkan dan terakhir direvisi pada bulan Desember 2012. Cetakan terbaru buku ini sungguh bagus dan dapat dibeli dengan harga yang terjangkau lewat situs web Toko Buku Obor milik KWI. Ini buku yang wajib dipunyai oleh semua imam, diakon dan juga para asisten imam yang sering membantu dalam berbagai ritual seputar kematian. Silakan klik di sini.

Dalam Ordo Exsequiarum 1969 ditawarkan tiga model pemakaman gerejawi. Model pertama mengacu pada Ritual Romawi tradisional, di mana ritus terpenting (Misa Arwah) dilaksanakan di gereja (dengan jenazah) dan didukung dengan ritus-ritus lain di rumah serta kuburan atau krematorium. Model kedua merupakan praktik yang berlaku di beberapa bagian Eropa, di mana ritus-ritus terpenting dirayakan di kuburan dan Misa Arwah dilaksanakan kemudian di gereja (tanpa jenazah). Yang terakhir adalah model ketiga, di mana ritus-ritus terpenting dilaksanakan di rumah duka. Model terakhir ini dipakai di beberapa bagian di Afrika.

Selanjutnya, dalam tulisan ini saya akan membatasi pembahasan pada aplikasi model pertama, seturut Ritual Romawi tradisional, yang detilnya ada di dalam Buku Upacara Pemakaman dari KWI di atas. Kita mulai dari saat jenazah disemayamkan di rumah duka; bisa di rumah duka pribadi atau di rumah duka publik. Di rumah duka dapat diselenggarakan berbagai ritual, mulai dari perawatan jenazah, ibadat sabda dan/atau ofisi arwah sampai penutupan peti. Selanjutnya, pada hari pemakaman atau kremasi jenazah dibawa ke gereja untuk Misa Arwah, baru kemudian diberangkatkan ke kuburan atau krematorium. Di bawah akan saya jabarkan, bahwa sesungguhnya model ini sangat baik dan bisa diterapkan, khususnya di kota-kota besar di Indonesia.

Dari sudut pandang teologis-liturgis: "Kurban ekaristis Paskah Kristus dipersembahkan oleh Gereja bagi para arwah. Sebab semua anggota dalam Tubuh Kristus merupakan persekutuan, sehingga dengan demikian yang sudah mati pun menerima pertolongan rohani, sedangkan yang masih hidup dihibur dengan harapan." (PUMR 379) "Gereja merayakan upacara-upacara liturgi untuk orang mati, supaya hubungan antara kematian orang beriman dan misteri Paskah Kristus tampak dengan jelas. Terutama dalam Perayaan Ekaristi misteri Paskah Kristus dihadirkan di tengah-tengah umat. Maka sangat tepat untuk merayakan Misa dalam rangka pemakaman orang-orang beriman. ..." (UP 2) Lagi, "Misa arwah yang terpenting ialah yang dirayakan pada hari pemakaman. ..." (PUMR 380) Berikutnya, "Perayaan Ekaristi hendaknya dilakukan di tempat suci, kecuali dalam kasus khusus kebutuhan menuntut lain ... Kurban Ekaristi haruslah dilaksanakan di atas altar yang sudah didedikasikan atau diberkati ..." (Kan 932) Gereja memang mengajarkan agar kita menghadirkan Kristus dengan sungguh hormat, di altar yang sudah diurapi, dan bukan di sembarang meja yang diberi taplak putih, kecuali bila memang keadaan memaksa lain.

Dari sudut pandang logistik: Umumnya pemakaman atau kremasi dilakukan di pagi hari, sebelum tengah hari, atau, kalau lokasi makam di luar kota, setidaknya sebelum matahari terbenam. Membawa peti jenazah mampir ke gereja dalam perjalanan ke kuburan rasanya tidak terlalu sulit dan rasanya tidak akan ada biaya tambahan untuk mobil jenazah. Gedung gereja pun biasanya tidak dipakai pada rentang waktu 08:00-10:00, kecuali pada hari Minggu. Misa Arwah di gereja akan sangat memudahkan imam; beliau tidak harus menghabiskan waktunya yang terbatas untuk perjalanan pulang-pergi ke rumah duka yang belum tentu tanpa macet. Sekali lagi, "Misa arwah yang terpenting ialah yang dirayakan pada hari pemakaman. ..." (PUMR 380). Misa ini lebih penting dari segala doa kita bagi yang wafat, dan ini demi keselamatan jiwanya. Jadi, janganlah enggan menghabiskan satu atau dua jam tambahan saja untuk Misa ini.

Masalah ketersediaan imam: Uskup atau imam adalah gembala kawanannya. Tentu sangatlah tepat bila gembala hadir saat kawanannya berduka. Meski begitu, kita sungguh maklum bahwa banyak tempat di Indonesia saat ini masih sangat kekurangan imam. Dalam kasus ini, bila tidak ada imam atau diakon, berbagai ritual di rumah duka sebenarnya dapat dipimpin oleh awam. Awam dapat memimpin ritual merawat jenazah dan memasukkan ke dalam peti (Bdk. UP 18), memimpin ibadat sabda, termasuk tirakatan pada malam menjelang hari pemakaman (Bdk. UP 22), dan memimpin ritual pemberangkatan ke gereja untuk Misa Arwah (Bdk. UP 30). Usai Misa Arwah, awam dapat memimpin perarakan atau pemberangkatan ke kuburan atau krematorium (Bdk. UP 56), juga upacara di kuburan atau krematorium (Bdk. UP 59, 69). Awam yang memimpin berbagai ritual kematian boleh memerciki jenazah, peti, dan liang kubur dengan air suci dan mendupainya (Bdk. UP 20, 63). Pemercikan dengan air suci dan pendupaan memang bukan melulu wewenang imam atau diakon. Seluruh umat yang hadir pun bila perlu dapat dipersilakan memerciki jenazah dan liang kubur dengan air suci (Bdk. UP 65). Hal pendupaan, dalam Misa yang menggunakan dupa, umat kan didupai oleh misdinar, bukan oleh imam? Jadi, dalam situasi kekurangan imam, kita tidak perlu kawatir akan keselamatan jiwa yang wafat. Satu saja yang mutlak harus dipimpin oleh imam, Misa Arwah.

Selanjutnya, kalau sudah yakin tentang pentingnya Misa Arwah, di gereja, dengan jenazah, pada hari pemakaman, berikut ini adalah hal-hal yang perlu diperhatikan: Bacalah ketentuan-ketentuan mengenai Misa Arwah di PUMR 379-385; letakkan peti jenazah sesuai tradisi, yaitu kalau yang meninggal seorang awam, kepalanya menghadap altar (kaki dekat altar, kepala dekat umat), kalau ia seorang uskup, imam, atau diakon, kepalanya menghadap umat; di atas peti jenazah dapat ditaruh Evangeliarium, Kitab Suci, atau salib; di dekat peti dapat dipasang beberapa lilin bernyala; sebaiknya di dekat kepala jenazah ditempatkan Lilin Paskah; selama upacara ini peti boleh terbuka (Bdk UP 39); warna liturgi adalah ungu, hitam, atau putih (Bdk. UP 38); kalau ordinarium dinyanyikan, gunakan Ordinarium Misa Arwah (PS 344 dst. atau MB 579 dst.); Kemuliaan tidak diucapkan, Syahadat diucapkan (Bdk. UP 47); lagu-lagu tradisional untuk Misa Arwah dapat ditemukan di PS 708 dst. atau MB 578 dst.

Sebagai penutup, kita lahir dibawa ke gereja untuk dibaptis, mati juga hendaknya dibawa ke gereja, untuk menerima pertolongan rohani dari Ekaristi di dunia yang terakhir kalinya, sebelum boleh ikut serta dalam perjamuan abadi di surga.

Busana Misdinar


Misdinar di Les Combes, Italia siap menyambut Paus (Foto: Corbis)
Banyak yang bertanya, seperti apakah busana misdinar yang sesuai dengan aturan liturgi. Jawabnya adalah alba. Atau lebih tepatnya, amik, alba dan singel. Mungkin banyak yang kaget, tapi memang begitulah aturannya. Setidaknya pasca Konsili Vatikan II.

Soal alba sebagai busana misdinar, berikut ini pasalnya: "Busana liturgis yang lazim dikenakan oleh semua pelayan liturgi, tertahbis maupun tidak tertahbis, ialah alba, yang dikencangi dengan singel, kecuali kalau bentuk alba itu memang tidak menuntut singel. Kalau alba tidak menutup sama sekali kerah pakaian sehari-hari, maka dikenakan amik sebelum alba. ..." (PUMR 336) Untuk lengkapnya, silakan periksa PUMR Anda, halaman 127-130, tentang Busana Liturgis. Hal yang sama ditegaskan lagi dalam Tata Upacara Para Uskup (Bdk. Caeremoniale Episcoporum 65).

Pelayan komuni tak lazim mengenakan alba model Romawi (Foto: TK)
Dalam foto di atas, para pelayan komuni tak lazim (asisten imam atau pro diakon) mengenakan alba model Romawi dengan ploi/wiru/lipatan, yang diikat dengan singel dan dilengkapi dengan kerah yang dapat menutup pakaian sehari-hari, dan oleh karenanya tidak lagi membutuhkan amik. Ini adalah salah satu contoh alba yang bisa dipakai oleh pelayan liturgi, termasuk juga misdinar.

Lebih lanjut, kenapa harus alba? Alba (Latin: albus, artinya putih) merupakan lambang kesucian dan kemurnian hati yang dibutuhkan untuk dapat melihat Allah (Bdk. Mat 5:8). Sungguh penting menunjukkan kepada Allah niat baik kita untuk menyucikan dan memurnikan hati dengan mengenakan alba yang benar. Gunakan warna putih yang bersih dan cerah dan bukan krem atau kuning. Kenakan alba yang panjang dan bisa menutup pakaian sehari-hari sepenuhnya, termasuk celana panjang. Di bagian leher, pastikan kerah pakaian sehari-hari tidak kelihatan, atau kenakan amik untuk menutupinya. Meski terkesan polos, jangan lalu tergoda untuk menambahkan salib dada sebagai asesoris. Salib dada merupakan privilese uskup (Bdk. CE 1199-1210). Berhati-hatilah dalam berkreasi untuk memperindah alba yang terkesan polos. Di beberapa tempat saya melihat alba dikenakan dengan "samir", suatu asesoris yang mirip pallium. Silakan periksa foto Paus di bawah ini. Selempang putih yang digunakan Paus itu adalah pallium model kuno. Asesoris ini hanya dikenakan oleh uskup agung metropolitan; ia mendapatkannya langsung dari Paus (Bdk. CE 62).

Paus mengenakan pallium (Foto: TPBF)


Sungguhpun PUMR terkini mengatakan alba, sejauh yang saya amati belum banyak misdinar di Indonesia maupun di negara lain yang mengenakan alba. Kita mungkin lebih terbiasa melihat misdinar dengan jubah dan superpli. Di Vatikan pun misdinar mengenakan jubah dan superpli. Penggunaan jubah dan superpli oleh pelayan altar ini masuk dalam definisi tradisi atau kebiasaan, yang dalam bahasa hukum Gereja disebut "consuetudo", dan karenanya merupakan praktik yang legitim (Bdk. KHK 23-28). Penggunaan jubah dan superpli ini juga disarankan, di antaranya, oleh para rubrikus terkemuka Fortescue, O'Connell & Reid (Bdk. The Ceremonies of the Roman Rite Decribed, 15th ed., 2009, p. 32).

Kalau sudah bicara jubah dan superpli, pertanyaannya lalu, "Apa warna jubahnya?" Seturut tradisi ratusan tahun, akolit atau misdinar mengenakan jubah yang sama dengan jubah imam. Sama modelnya dan sama pula warnanya. Hitam. Waktu imam-imam di daerah tropis diberi kelonggaran untuk memakai jubah warna putih dan tidak lagi harus warna hitam, misdinar tidak ikut berubah memakai jubah warna putih. Memang, jubah putih dan superpli putih bukan kombinasi yang baik. Di beberapa tempat di Eropa, seturut tradisi ratusan tahun, misdinar mengenakan jubah berwarna merah. Ini juga merupakan tradisi atau kebiasaan yang legitim dan boleh diteruskan.

Misdinar di Vatikan (Foto: Spaziani)
Sampai di sini kita mengerti bahwa warna jubah misdinar yang legitim adalah hitam, atau merah bila dikehendaki. Lalu, kenapa misdinar di Vatikan mengenakan jubah warna ungu? Ungu adalah warna "episcopal livery" atau seragam keuskupan (Nainfa, 1926). Seturut tradisi, dalam rumah tangga uskup, semua pelayannya, dari MC sampai diakon dan akolit atau misdinar, mengenakan warna ungu juga. Nah, misdinar di Vatikan mengenakan warna ungu karena mereka adalah pelayan Paus, yang adalah Uskup Roma. Lalu, kenapa misdinar-misdinar dewasa saat Misa Paskah atau Misa Natal Paus mengenakan warna hitam dan bukan ungu? Jawabnya sederhana saja, karena mereka umumnya adalah para seminaris yang sedang studi di Roma, dan mereka semuanya mengenakan jubah mereka sendiri yang berwarna hitam. Jadi, sampai di sini warna jubah misdinar yang legitim adalah hitam, merah dan ungu; yang terakhir ini hanya untuk misdinar yang melayani uskup.

Perlu saya garis bawahi, bahwa tidak ada aturan maupun tradisi bahwa misdinar perlu mengenakan jubah sesuai warna liturgi. Sama dengan tidak ada aturan maupun tradisi bagi imam untuk mengenakan jubah sesuai warna liturgi. Jubah Paus, kardinal, uskup, imam, diakon dan misdinar tidak pernah mengikuti warna liturgi. Warna liturgi hanya untuk kasula, dalmatik dan stola, plus singel kalau mau. Plus juga antependium, kain yang menggantung di depan altar dan ambo (mimbar baca). Itu saja. Jadi, meski paroki punya cukup dana, tidak perlu memesan jubah misdinar warna putih, merah, hijau, ungu dan hitam. Jubah misdinar cukup satu warna saja.

Misdinar di Vatikan (Foto: Spaziani)
Sempat ada yang mempertanyakan waktu misdinar di Katedral Surabaya mengenakan jubah hitam dengan collar putih. Collar kan hanya untuk imam? Jawabnya tidak. Collar hanya asesoris jubah, bukan penanda bahwa pemakainya adalah imam. Collar bisa dipakai oleh semua yang memakai jubah, klerus maupun awam. Yang jelas, awam hanya memakai jubah bersama superpli, dalam upacara liturgi, dan bukan sebagai pakaian sehari-hari. Lihat foto misdinar di Vatikan di atas dan di sebelah ini yang mengenakan Roman collar dari plastik. Lihat juga foto bapak-bapak dan anak-anak anggota Paduan Suara Kepausan Kapela Sistina di bawah ini. Mereka bukan imam dan bukan seminaris, tetapi semuanya memakai collar, yang sekali lagi adalah asesoris jubah. Juga, sebagai pelayan uskup (Paus adalah Uskup Roma) mereka mengenakan warna ungu, warna "episcopal livery".

Paduan Suara Kepausan Kapela Sistina (Foto: CMPS)

Berikutnya, di beberapa tempat saya temukan busana misdinar dengan "kerah lebar" di atas superpli. "Kerah lebar" itu sebenarnya mengambil bentuk asesoris busana uskup yang bernama mozeta. Mozeta hanya dikenakan oleh klerus dengan martabat uskup (Ut sive sollicite, 1969). Jadi, sebaiknya misdinar kita tidak mengenakan asesoris yang dikhususkan bagi para uskup. Memang, ada beberapa ordo mendikan yang sudah berumur ratusan tahun, di antaranya Fransiskan, Dominikan dan Karmelit, yang mendapat ijin khusus dari Paus untuk mengenakan mozeta sebagai bagian dari habit (jubah biarawan) mereka.

Superpli agung nan sederhana (Roulin, 1950)
Jauh sebelum Vatikan II, Roulin (Vestment and Vesture, 1950) sudah menyebut-nyebut "kesederhanaan yang agung", noble simplicity--salah satu terminologi penting yang disebut dalam Sacrosanctum Concilium (Konstitusi Suci Liturgi - Produk Vatikan II). Pandangan-pandangan Roulin tentang pentingnya Gereja kembali pada penggunaan busana liturgis yang sederhana tetapi agung sungguh senada dengan pasal berikut ini dari PUMR: "Busana liturgis hendaknya tampak indah dan anggun bukan karena banyak dan mewahnya hiasan, melainkan karena bahan dan bentuk potongannya. ..." (PUMR 344) Saya garis bawahi, kualitas bahan yang bagus dan potongannya yang lebar, seperti foto superpli di atas ini.

Sebagai penutup, Para Bapa Konsili Vatikan II telah mengajarkan kepada kita hal "kesederhanaan yang agung", dan bukan semata "kesederhanaan". Seturut ajaran tersebut, mari bersama memperhatikan kembali keagungan busana liturgi kita. Mari kita persembahkan hanya yang agung bagi Allah, bukan karena Ia memintanya, tetapi karena Ia sungguh layak dan pantas menerimanya.

Artikel lain yang relevan:
- Busana Uskup
- Busana Liturgi Uskup
- Busana Imam
- Busana Asisten Imam

Catatan: Artikel ini, dengan dua dari tujuh foto di atas, dimuat dalam Majalah Liturgi yang diterbitkan oleh Komisi Liturgi KWI, Vol 24 No 2 - Apr-Jun 2013.

Kardinal: Pangeran Gereja Katolik


Para Kardinal di Konklaf 2005 (Foto: Corbis)

Siapa sebenarnya kardinal, yang sering disebut para pangeran Gereja Katolik? Apa peran mereka dan siapa saja yang dapat diangkat menjadi kardinal? Tulisan ini mencoba menyajikan secara ringkas beberapa hal tentang kardinal yang mungkin belum banyak diketahui umat Katolik. Tulisan ini untuk pertama kalinya saya buat di tahun 2009. Sehubungan dengan pengunduran diri Paus Benedictus XVI dan Konklaf 2013 untuk memilih Paus baru, tulisan ini saya perbarui lagi dengan informasi terkini. Semoga bermanfaat.

Kebanyakan orang tahu bahwa para kardinal adalah pembantu Paus. Mereka biasanya menjadi pusat perhatian publik saat Paus wafat atau terjadi kekosongan takhta, karena mereka lah yang kemudian berkumpul dalam sebuah konklaf untuk memilih Paus yang baru. Dalam kenyataannya, peran kardinal tidak hanya untuk memilih Paus. Mereka membantu Paus dalam mengurus Gereja Katolik. Para kardinal memberikan saran-saran tentang berbagai urusan Gereja saat Bapa Suci memanggil mereka dalam suatu rapat yang disebut konsistorium.

Para kardinal memberi hormat kepada Paus
Dari informasi tanggal 2 Maret 2013, ada 207 orang kardinal dari 66 negara yang menjadi anggota Kolegium Kardinal. Di antara mereka, 117 orang dari 50 negara adalah kardinal elektor, kardinal yang berhak memilih Paus. Sisanya adalah kardinal non-elektor, yang sudah berusia lebih dari 80 tahun dan tidak lagi berhak mengikuti konklaf. Informasi terkini dapat dilihat di Daftar Kardinal di Situs Catholic Hierarchy atau GCatholic.org. Jumlah kardinal bertambah saat Paus menunjuk kardinal-kardinal baru dalam suatu konsistorium. Dalam dua konsistorium terakhirnya, tanggal 18 Februari 2012 dan 24 November 2012, Paus Benediktus XVI menunjuk masing-masing 22 dan 6 orang kardinal baru. Jumlah kardinal biasanya berkurang karena beberapa di antara mereka meninggal. Paus Yohanes Paulus II dalam Konstitusi Apostolik Universi Dominici Gregis menentukan jumlah maksimum kardinal elektor sebanyak 120.

Karena jumlahnya yang terbatas dibandingkan dengan uskup yang jumlahnya ribuan, dan juga karena hak-haknya yang istimewa, jabatan kardinal sering dipandang sebagai suatu promosi untuk uskup. Seolah-olah ada urutan begini: imam, uskup, uskup agung, kardinal dan Paus. Kenyataannya, yang benar adalah: imam, uskup dan Paus. Itu saja. Kardinal bukan atasan uskup. Yang Utama Julius Kardinal Darmaatmadja, satu-satunya kardinal dari Indonesia, juga bukan perpanjangan tangan Paus untuk mengatur para uskup di Indonesia. Kolegium Kardinal dan Sinode Para Uskup memiliki peran sendiri-sendiri dalam Gereja Katolik dan tidak bisa dibilang bahwa yang satu lebih penting daripada yang lain. Meski begitu, secara ranking, kardinal memang lebih tinggi dari uskup dan biasanya diangkat dari kalangan uskup yang senior.

Card. Bertone (Corbis)
Meski kelihatannya sama semua, di kalangan kardinal sebenarnya ada tiga tingkatan. Yang paling utama adalah kardinal uskup, kemudian kardinal imam dan kardinal diakon. Memang agak membingungkan istilah-istilah ini. Begini ceritanya. Pada mulanya, kardinal adalah klerus yang ditugaskan untuk membantu Paus di Keuskupan Roma. Istilah kardinal bermula dari kata inkardinasi, yang artinya menempatkan seorang klerus di bawah yurisdiksi seorang ordinaris (uskup, abbas atau ordinaris lain). Uskup, imam dan diakon yang diminta membantu Paus di-inkardinasi ke Keuskupan Roma, di bawah Paus yang adalah Uskup Roma. Jadilah mereka kardinal uskup, kardinal imam atau kardinal diakon di Keuskupan Roma. (Catatan: Secara kaidah bahasa Indonesia, sebenarnya memang lebih tepat dibilang uskup kardinal, imam kardinal atau diakon kardinal.) Nah, itu dulu. Sekarang ini praktiknya memang sudah lain. Yang diangkat menjadi kardinal hampir semua berasal dari kalangan uskup, bukan lagi imam atau diakon. Meski begitu tiga tingkatan kardinal ini masih tetap dipertahankan. Tarcisio Cardinal Bertone di foto di atas ini adalah salah seorang kardinal uskup. Beliau adalah Sekretaris Negara Vatikan dan juga adalah Camerlengo Gereja Romawi Kudus, yang menjalankan roda pemerintahan di Vatikan saat terjadi sede vacante.

Pengangkatan kardinal merupakan hak prerogatif Paus. Secara garis besarnya, saat ini ada tiga jalur pengangkatan kardinal. Yang pertama adalah jalur uskup diosesan, seperti Yang Utama Julius Kardinal Darmaatmadja. Kardinal dari jalur ini biasanya diangkat menjadi kardinal imam. Yang kedua adalah jalur Kuria Romawi, jalur untuk pejabat-pejabat Gereja yang membantu Paus di Vatikan. Contohnya adalah Sua Eminenza Angelo Cardinal Comastri, Imam Agung Basilika Santo Petrus. Kardinal dari jalur ini biasanya diangkat menjadi kardinal diakon. Yang ketiga adalah jalur lain-lain. Kardinal dari jalur ini biasanya diangkat menjadi kardinal diakon juga. Bapa Suci bisa mengangkat siapa saja yang dianggap pantas menerima martabat kardinal. Contoh yang paling bagus mungkin adalah His Eminence Avery Cardinal Dulles. Almarhum Cardinal Dulles adalah seorang imam Jesuit dari Amerika Serikat, guru besar teologi yang sangat dihormati baik oleh Paus Yohanes Paulus II yang mengangkatnya, maupun oleh Paus Benedictus XVI yang mengunjunginya beberapa bulan sebelum wafatnya. Sampai meninggalnya, Cardinal Dulles tidak pernah menerima tahbisan uskup.

"Habemus Papam" Paus Benedictus XVI (Corbis)
Di antara ketiga kategori kardinal di atas, dapat dibayangkan bahwa kardinal imam berjumlah paling banyak (153 dari 207 orang kardinal saat ini). Mereka adalah uskup atau uskup agung senior dari berbagai negara. Seorang yang paling senior di antara kardinal imam ditunjuk menjadi Protopresbyter, semacam pemimpin untuk berbagai kepentingan seremonial. Di antara kardinal diakon (yang saat ini berjumlah 44) juga ada seorang yang paling senior yang ditunjuk sebagai Protodiakon. Protodiakon inilah yang bertugas mengumumkan nama Paus yang baru terpilih dalam konklaf, dengan menggunakan frase yang amat terkenal, "Habemus Papam ..." Pada tanggal 19 April 2005, adalah Jorge Arturo Cardinal Medina Estévez (foto atas, di sebelah kanan Paus, berjubah merah), Protodiakon pada saat itu, yang membacakan, "Annuntio vobis gaudium magnum; habemus Papam: Eminentissimum ac Reverendissimum Dominum, Dominum Josephum Sanctae Romanae Ecclesiae Cardinalem Ratzinger qui sibi nomen imposuit Benedictum XVI." Pada saat ini Protodiakon Kolegium Kardinal adalah Jean-Louis Cardinal Tauran, Presiden Dewan Kepausan untuk Dialog Antar Umat Beragama, yang pernah berkunjung ke Indonesia.

Card. Sodano (Corbis)
Untuk mengisi posisi kardinal uskup yang hanya sedikit, Paus memilih dari antara kardinal imam. Di samping itu, Patriark Ritus Timur yang diangkat menjadi kardinal langsung masuk kategori kardinal uskup. Mudah mengenali mereka dalam upacara liturgi, dari busananya yang berbeda dari para kardinal lainnya. Para kardinal uskup memilih pemimpin dan wakilnya dari antara mereka dan diajukan ke Paus untuk mendapatkan persetujuan. Para pemimpin kardinal uskup lalu menjadi Dekan dan Wakil Dekan Kolegium Kardinal. Dekan Kolegium Kardinal saat ini adalah Angelo Cardinal Sodano dari Italia (foto atas), yang pernah menjadi Sekretaris Negara Vatikan selama tahun 1991-2006. Sebagai wakilnya adalah Roger Cardinal Etchegaray dari Prancis (foto bawah). Saat terpilih sebagai Paus, Joseph Cardinal Ratzinger adalah Dekan Kolegium Kardinal.

Card. Etchegaray (Corbis)
Untuk meneruskan tradisi, kepada setiap kardinal imam dan kardinal diakon diberikan sebuah Gereja (Paroki) dalam Keuskupan Roma, di mana mereka menjadi Pastor (Paroki) Kehormatan. Lambang mereka dipasang di luar Gereja tituler ini dan mereka pun wajib berkunjung dan mempersembahkan misa di Gereja tituler ini saat berkunjung ke Roma. Kepada para kardinal uskup yang berasal dari ritus Latin dianugerahkan keuskupan kuno kehormatan di sekitar kota Roma, yang sudah tidak ada lagi di jaman modern ini.

Sesuai tradisi, penulisan penulisan nama kardinal memang sedikit berbeda dari kebiasaan umum. Kata "Kardinal" diselipkan di antara nama lengkap, persis di depan nama keluarga. Jadi, yang lebih pas adalah Julius Kardinal Darmaatmadja, meski tidak salah juga kalau kita menulis Kardinal Julius Darmaatmadja. Para kardinal disapa dengan "Yang Utama", "His Eminence", atau "Sua Eminenza" dalam bahasa Italia. Di Vatikan, sehari-harinya mereka disapa "Eminenza" saja. Sapaan yang dikhususkan bagi mereka memang beda dengan uskup dan uskup agung, yang harusnya disapa dengan "Yang Mulia", "His Excellency", "Sua Eccellenza", atau "Excellency" atau "Eccellenza" saja. Di Vatikan dan pada umumnya dalam Gereja Katolik, Monsignor adalah sapaan untuk pejabat tinggi Gereja yang tingkatannya di bawah uskup.

Kardinal berbusana liturgi merah (Corbis)
Kardinal dapat dikenali dari busana liturginya yang berwarna merah. Bandingkan dengan busana uskup yang warnanya ungu. Biretta, topi segi empat kardinal, juga berwarna merah. Biretta kardinal tidak menggunakan pom seperti biretta uskup. Saat kardinal mengenakan busana resmi jubah warna hitam yang sama dengan uskup atau pejabat Gereja lain, mereka masih dapat dikenali dari sabuk sutera dan topi kecilnya yang berwarna merah. Selain itu, ferraiolo dan cappa magna kardinal pun berwarna merah.

Sebagai penutup, film fiksi Angels and Demons yang kontroversial dan kurang disukai oleh kalangan Katolik menampilkan banyak sekali kardinal. Meski banyak hal yang sensasional dan kurang pas dalam film itu, saya harus mengakui bahwa sang sutradara berhasil menunjukkan sebagian kebesaran agama Katolik kepada semua orang yang menontonnya, Katolik dan non-Katolik. Saya sendiri mendapatkan beberapa pertanyaan tentang film ini dari kawan-kawan saya yang bukan Katolik. Satu hal yang menurut saya agak mengganggu. Dalam tradisi Gereja Katolik, Camerlengo atau Chamberlain tidak dijabat oleh imam muda seperti di film itu. Selama ratusan tahun posisi ini hampir selalu dijabat oleh seorang kardinal senior, dengan hanya beberapa pengecualian. Itu pun setidaknya oleh uskup senior yang kemudian diangkat menjadi kardinal.

Link: Cardinal (Wikipedia)
Link: The Cardinals of the Holy Roman Church (Salvador Miranda)
Link: College of Cardinal (GCatholic.org)
Link: Sede Vacante (GCatholic.org)
Link: Conclave 2013 Overview (Catholic Hierarchy)

Rumus Misa untuk Pemilihan Paus


Bendera Takhta Suci Saat Kekosongan Takhta
Mulai 28 Februari 2013 pukul 20:00 waktu Vatikan (1 Maret 2013, 02:00 wib.) sampai dengan terpilihnya Paus baru, Gereja Katolik berada dalam masa sede vacante atau kekosongan takhta. Selama masa ini, jika dikehendaki, para uskup dan imam dapat mempersembahkan Misa dengan rumus khusus: Misa untuk Pemilihan Paus atau Uskup. Rumus Misa ini terdapat dalam Missale Romanum editio typica tertia 2002 terbitan Vatikan. Meskipun Misale Romawi Bahasa Indonesia belum terbit, pihak Komisi Liturgi KWI telah berbaik hati menyediakan terjemahan khusus Misa untuk Pemilihan Paus atau Uskup di bawah ini. Terjemahan ini dikutip dari Misale Romawi Bahasa Indonesia, yang sudah mendapat aprobasi dari para uskup se-Indonesia, dan saat ini sedang dalam proses untuk memperoleh rekonyisi dari Vatikan. Untuk sementara, terjemahan ini dapat dipakai ad experimentum.

Sesuai rubrik khusus untuk "Misa untuk Pelbagai Keperluan dan Kesempatan", dan dengan asumsi Paus baru telah dapat terpilih sebelum Hari Minggu Palma, rumus Misa di bawah ini dapat digunakan pada hari-hari biasa mulai 1 Maret 2013 sampai dengan terpilihnya Paus baru. Rumus Misa ini tidak boleh digunakan pada hari-hari Minggu Prapaskah dan juga pada Hari Raya Santo Yusuf tanggal 19 Maret 2013. Rubrik selengkapnya adalah sebagai berikut:

"Apabila ada suatu keperluan yang sungguh penting, suatu Misa yang sesuai dengan keperluan tersebut dapat dirayakan atas perintah Ordinaris lokal atau dengan ijinnya, pada semua hari, kecuali pada Hari-Hari Raya, pada hari-hari Minggu Masa Adven, Masa Prapaskah dan Masa Paskah, pada hari-hari biasa dalam Oktaf Paskah, pada Peringatan Arwah Semua Orang Beriman, dan pada Hari Rabu Abu serta hari-hari dalam Pekan Suci. Akan tetapi, jika suatu keperluan yang sungguh-sungguh atau manfaat pastoral menuntutnya, sesuai penilaian rektor gereja atau imam selebran sendiri, dapat digunakan Misa atau Doa Pembuka yang sesuai dengan keperluan tersebut dalam perayaan bersama umat, juga kalau hari itu bertepatan dengan Peringatan Wajib atau hari-hari biasa dalam Masa Adven sampai dengan tanggal 16 Desember, hari biasa dalam Masa Natal mulai tanggal 2 Januari atau suatu hari biasa dalam Masa Paskah sesudah Oktaf Paskah." (Missale Romanum p. 1074)

Berikut ini adalah doa-doa presidensial dan antifon-antifon yang dapat digunakan.

Misa untuk Pemilihan Paus atau Uskup
(Sumber: Komisi Liturgi KWI)

Antifon Pembuka (1Sam 2:35)

Aku akan mengangkat bagi-Ku
seorang imam yang setia,
yang akan bertindak sesuai dengan keinginan-Ku;
dan Aku akan membangun baginya
suatu umat yang setia
dan ia akan hidup di hadirat-Ku senantiasa.

Doa Pembuka

Ya Allah,
Engkaulah gembala abadi
yang senantiasa memimpin kawanan-Mu
dan melindunginya dengan kasih setia.
Berikanlah kepada Gereja-Mu seorang gembala
yang penuh bakti kepada-Mu
dan mendapat perkenanan-Mu karena kekudusannya,
serta berguna bagi kami karena perhatiannya yang besar.
Dengan pengantaraan Yesus Kristus, Putra-Mu, Tuhan kami,
yang bersama dengan Dikau dalam persatuan Roh Kudus,
hidup dan berkuasa, Allah, sepanjang segala masa.

Doa Persiapan Persembahan

Ya Tuhan,
sudilah melimpahi kami dengan kasih sayang-Mu.
Semoga berkat kurban kudus
yang dengan hormat kami persembahkan kepada-Mu,
kami bersuka cita, atas gembala yang Engkau perkenankan
untuk memimpin Gereja yang kudus.
Dengan pengantaraan Kristus, Tuhan kami.

Antifon Komuni (Yoh 15:16)

Aku telah memilih kamu dan telah menetapkan kamu,
supaya kamu menghasilkan buah,
dan supaya buahmu itu tetap, sabda Tuhan.

Doa sesudah Komuni

Ya Tuhan,
kami telah disegarkan
dengan sakramen keselamatan
Tubuh dan Darah Putra Tunggal-Mu.
Semoga oleh kasih karunia-Mu yang mengagumkan,
kami bersuka cita
karena Engkau berkenan memberikan kepada kami
seorang gembala yang mengajar umat-Mu
dengan kebajikan-kebajikannya
dan meresapi hati umat beriman dengan kebenaran Injil.
Dengan pengantaraan Kristus, Tuhan kami,
yang hidup dan berkuasa sepanjang segala masa.

Doa Syukur Agung yang cocok digunakan adalah DSA VII (Untuk Berbagai Kepentingan), dengan Prefasi 1 (Gereja Melangkah Menuju Kesatuan). Tentunya dengan menghilangkan frase "bersama Paus kami ...", karena saat ini kita tidak mempunyai Paus.

Prosit. Semoga bermanfaat.