Busana Para Vikaris


Beberapa artikel tentang busana Gereja sudah pernah saya tulis. Beberapa di antaranya atas permintaan Komisi Liturgi KWI, untuk dimuat di Majalah Liturgi. Tulisan ini akan melengkapi artikel tentang Busana Uskup, Busana Liturgi Uskup, Busana Imam, Busana Asisten Imam alias Pelayan Komuni Tak Lazim, Busana Misdinar, dan Busana Pelayan PSHMR yang pernah saya tulis. Semoga tulisan yang ini pun dapat menambah pengetahuan tentang kekayaan tradisi Gereja Katolik kita.

Vikaris adalah sebuah kata dalam Bahasa Indonesia yang diserap dari Bahasa Latin "Vicarius". Kamus Besar Bahasa Indonesia menulis bahwa artinya adalah "pembantu (pengganti) dalam jabatan pimpinan gereja". Dalam artikel ini, saya membatasi pembahasan khusus untuk para Vikjen (Vikaris Jenderal), Vikep (Vikaris Episkopal), Dekan/Deken (Vikaris Foraneus), dan Vikjud (Vikaris Yudisial). Keempat jabatan ini ada di berbagai keuskupan di Indonesia. Selain itu, sebenarnya masih ada juga vikaris-vikaris yang lain. Vikaris Kristus, misalnya, adalah Paus. Vikaris Apostolik, contoh yang lain, adalah jabatan yang dalam banyak kasus diemban oleh klerus dengan martabat uskup. Kedua vikaris yang terakhir ini bukan termasuk yang dibahas di sini.

Banyak umat Katolik mengenal Romo/Pastor Vikjen. "Di setiap keuskupan haruslah diangkat oleh Uskup Diosesan seorang Vikaris Jenderal, yang diberi kuasa berdasar jabatan untuk membantu Uskup memimpin seluruh keuskupan, ..." (Kan 475 §1) Ada juga Vikaris Episkopal--di Keuskupan Surabaya, misalnya. "Setiap kali kepemimpinan yang benar atas keuskupan membutuhkannya, Uskup Diosesan dapat juga mengangkat seorang atau beberapa Vikaris Episkopal yang, di bagian tertentu keuskupan atau dalam bidang tertentu atau untuk kaum beriman ritus tertentu atau kelompok orang-orang tertentu, mempunyai kuasa berdasarkan jabatan, yang menurut hukum universal dimiliki Vikaris Jenderal, ..." (Kan 476) Ada juga Vikaris Foraneus, atau Dekan/Deken--di Keuskupan Agung Jakarta, misalnya. "Vikaris Foraneus, yang juga disebut Dekan/Deken (Decanus) atau Imam Agung (Archipresbyter) atau dengan nama lain, ialah imam yang mengetuai suatu Vikariat Foraneus atau Dekanat/Dekenat." (Kan 553 §1) Yang terakhir, ada juga Vikaris Yudisial atau Vikjud. "Uskup Diosesan manapun wajib mengangkat seorang Vikaris Yudisial atau Ofisial, yang bukan Vikaris Jenderal, dengan kuasa jabatan untuk mengadili, kecuali kecilnya keuskupan atau sedikitnya jumlah perkara menganjurkan lain." (Kan 1420 §1)

Nunsius Filipazzi bersama Romo Jozsef Forro
yang mengenakan sabuk hitam (Foto: Nunsiatura)
Sebelum bicara tentang busana para Vikaris, ada baiknya saya bahas secara singkat tentang Prelatus Minor. Apa itu Prelatus Minor? Banyak umat tahu di Gereja Katolik ada Diakon, Imam, Uskup, Kardinal, dan Paus. Itu hirarkinya secara sederhana. Sebenarnya masih banyak lagi yang terselip di antara mereka. Penyandang martabat Uskup atau yang lebih tinggi biasa disebut secara kolektif sebagai "Prelatus". Prelatus Minor adalah istilah yang dipakai untuk para penyandang martabat-martabat lain di bawah Uskup dan di atas Imam biasa. Termasuk dalam golongan Prelatus Minor ini, di antaranya, adalah Kapelan Bapa Suci (Capellanus Sanctitatis Suae/Chaplain of His Holiness), Prelatus Kehormatan Bapa Suci (Praelatus Honorarius Sanctitatis Suae/Honorary Prelate of His Holiness) dan Protonotaris Apostolik (Protonotarius Apostolicus/Apostolic Protonotary). Para Prelatus Minor berhak mengenakan titel Monsignor, tetapi mereka bukanlah uskup. Di Kedubes Vatikan di Jakarta, sampai awal tahun 2015 yang lalu masih ada Msgr. José Luis Díaz-Mariblanca Sánchez, orang kedua setelah Nunsius, yang adalah seorang Kapelan Bapa Suci. Beliau menggantikan Msgr. Jozsef Forro di foto dari tahun 2013 di atas, yang saat itu adalah seorang imam biasa, karenanya mengenakan sabuk warna hitam. Lalu ada juga Almarhum Msgr. Valentinus Winardi Kartosiswoyo, yang pernah menjadi Pro-Sekretaris KWI, yang menerima martabat Prelatus Kehormatan Bapa Suci pada tahun 1987. Di luar Indonesia banyak imam-imam diosesan yang atas prakarsa uskupnya memperoleh martabat Prelatus Minor ini dari Bapa Suci. Aturan busana untuk para Prelatus Minor cukup rumit dan spesifik. Ada detil-detil kecil yang membedakan antara satu dengan yang lainnya, dan antara mereka dengan Uskup. Singkatnya, dari busananya kita dapat mengetahui martabat seseorang secara tepat.

Nah, sekarang kita kembali ke pembahasan tentang para Vikaris dan busananya. Dalam Caeremoniale Episcoporum (Tata Upacara Para Uskup) terdapat aturan busana para Uskup, Kardinal, Prelatus lain dan Kanonik (bdk. CE 1199-1210). Dokumen asli yang dikutip adalah Ut sive sollicite dan Per instructionem. Akan tetapi, di dokumen-dokumen itu tidak ada aturan tentang busana untuk para Vikaris yang dibahas di sini.

Dalam Motu Proprio Inter Multiplices Curas yang dikeluarkan Paus Pius X pada tahun 1905, diatur bahwa kepada Vikaris Jenderal dan Administrator Diosesan (dahulu disebut Vikaris Kapitular) diberikan martabat Protonotaris Apostolik Tituler selama memangku jabatan tersebut (bdk. IMC 62). Protonotaris Apostolik, seperti yang saya sebut di atas, adalah salah satu Prelatus Minor yang berhak mengenakan gelar Monsignor. Itu sebabnya dalam Annuario Pontificio, direktori yang dikeluarkan Vatikan setiap tahunnya, nama-nama para Vikjen yang berasal dari kalangan imam sekuler (projo) ditulis dengan gelar Monsignor di depannya. (Catatan: Gelar Monsignor [non-uskup] tidak pernah diberikan kepada imam religius) Jabatan Protonotaris Apostolik Tituler ini akhirnya ditiadakan oleh Paus Paulus VI dengan Motu Proprio Pontificalis Domus pada tahun 1968. Meskipun begitu, penulisan nama Vikjen non-religius dengan gelar Monsignor dalam Annuario Pontificio masih tetap dipertahankan; entah mengapa. Mungkin sekedar untuk memudahkan? Karena di banyak keuskupan rupanya banyak Vikjen yang secara individual memiliki martabat Prelatus Minor juga?

Seorang Monsignor non-Uskup
Protonotaris Apostolik memang memiliki busana yang hampir mirip Uskup, lengkap dengan sabuk warna ungunya. Meski begitu, untuk Vikjen yang dahulu adalah Protonotaris Apostolik Kehormatan selama menjabat, busana yang diberikan Paus Pius X sejak awalnya adalah jubah plus sabuk hitam, yang juga dikenakan oleh para Imam biasa (bdk. IMC 67). Itu sebabnya para Protonotaris Tituler ini dikenal sebagai "Black Protonotaries" (bdk. Nainfa, Costume of the Prelates of the Catholic Church, pp. 26-27), karena beliau-beliau ini bermartabat Protonotaris namun mengenakan jubah dan sabuk hitam, bukan ungu. (Catatan: Di daerah tropis warna jubah hitam ini boleh diganti dengan putih)

Vikjen Keuskupan Surabaya
RD Agustinus Tri Budi Utomo
Hal Vikjen mengenakan jubah plus sabuk hitam seturut Inter Multiplices Curas ini sebenarnya tidak bisa dibilang istimewa, karena pada saat itu Imam biasa pun juga mengenakannya. Sejak 1624 Paus Urbanus VIII memang memandatkan pengenaan sabuk hitam ini untuk semua Imam, sebagai penanda hidup yang dibaktikan kepada Kristus. Sebuah sabuk, betapapun indahnya, sejatinya adalah simbol pengekangan diri. Motu Proprio dari Paus Urbanus VIII ini tidak pernah dibatalkan, oleh Pontificalis Domus ataupun aturan-aturan lain pasca Konsili Vatikan II sekalipun (bdk. Noonan, The Church Visible, p. 295). Meski begitu, dalam tiga ratus tahun perkembangannya sejak 1624, pengenaan sabuk hitam ini rupanya mengerucut hanya untuk para pejabat-pejabat tertentu, meski aturan tidak pernah membatasi demikian. Pakar busana Gereja Nainfa, dalam buku klasiknya Costume of the Prelates of the Catholic Church - According to Roman Ettiquette yang diterbitkan 1925, mengisyaratkan demikian. Menurut Nainfa, sabuk atau fascia ini adalah penanda yurisdiksi bagi klerus dan martabat bagi Prelatus (pp 57-58). Lebih jauh, secara spesifik Nainfa juga menyebut bahwa Rektor Seminari, sebagai penanda otoritasnya, pun memiliki privilese mengenakan sabuk hitam (bdk. pp. 58-59).

Vikjud Keuskupan Surabaya
RD AP Dwi Joko, bersama umat
Dari pembahasan di atas, dan dari fakta di lapangan bahwa dewasa ini sabuk hitam sudah tidak lagi dikenakan luas oleh para klerus, seturut aturan-aturan dan sejalan dengan kebiasaan-kebiasaan yang legitim yang berlaku dalam Gereja Katolik, sepakat dengan pakar busana Gereja Nainfa, saya menyarankan pengenaan sabuk hitam bagi para klerus yang mengemban jabatan gerejawi tertentu, termasuk Vikjen, Vikep, Dekan/Deken, Vikjud, dan juga Rektor Seminari. Selain penanda yurisdiksi, sekali lagi, sabuk ini merupakan simbol pengekangan diri dan penanda hidup yang dibaktikan kepada Allah. Uskup dapat menyampaikan hal ini saat menganugerahkannya kepada para Vikaris. Dari sudut pandang umat, suka atau tidak, percaya atau tidak, asesoris kecil ini sungguh dapat membantu mereka dalam menerima wakil-wakil Uskup yang hadir dan menjalankan tugas atas nama beliau.

Di beberapa keuskupan mungkin Vikjen atau Administrator Diosesan atau vikaris-vikaris yang lain ada yang mengenakan busana yang mirip dengan busana Uskup, dengan sabuk sutera ungunya. Jangan buru-buru ditiru. Bisa jadi secara individual beliau-beliau itu memang mempunyai martabat Prelatus Minor, dan karenanya berhak atas gelar Monsignor, dan juga berhak mengenakan busana sesuai martabatnya. Msgr. Karto, misalnya, pernah menjadi Vikjen Keuskupan Bogor dan juga Vikjud Keuskupan Agung Semarang. Beliau mengenakan busana yang menjadi haknya sebagai penyandang martabat Prelatus Kehormatan Bapa Suci, yaitu jubah hitam/putih dengan jahitan, plipit dan kancing warna merah crimson (bukan ungu) yang sama dengan jubah seorang Uskup, namun tanpa tambahan mantol kecil di pundak/dadanya dan juga tanpa salib dada serta tanpa solideo atau topi kecil ungu khas Uskup. Vikjen atau Vikjud yang lain yang tidak memiliki martabat Prelatus Minor hendaknya tidak dibuatkan busana seperti Msgr. Karto.

Oh ya, tadi saya menyebut warna jahitan, plipit dan kancing untuk jubah Uskup dan Prelatus Kehormatan Bapa Suci adalah merah crimson. Memang begitulah yang seharusnya. Di Indonesia kebanyakan penjahit jubah uskup mungkin tidak tahu detil ini dan mengunakan warna ungu. Jahitan, plipit dan kancing ungu sebenarnya adalah ciri khas jubah Kapelan Bapa Suci, yang secara martabat ada di bawah Uskup dan Prelatus Kehormatan Bapa Suci.

Solideo hitam untuk imam
Yang terakhir, hal topi kecil bundar, yang sering kita lihat dipakai Uskup, Kardinal dan Paus. Di Indonesia topi ini dikenal dengan nama solideo. Nama lainnya adalah pilleolus atau zucchetto atau calotte. Topi ini sebenarnya awalnya adalah penutup kepala untuk semua klerus yang sudah menerima tonsura atau penggundulan bagian atas kepala seperti yang sering kita lihat di patung-patung St. Fransiskus Asisi atau St. Antonius Padua dan lain-lain. Dengan ditinggalkannya tradisi penggundulan kepala ini, penggunaan solideo di kalangan klerus pun memudar. Tinggal Prelatus saja yang sekarang kita lihat masih menggunakan solideo. Padahal, solideo sebenarnya dapat dikenakan oleh semua tingkatan klerus (Noonan, p. 306). Warna solideo mengikuti juga warna jubah dan sabuk: putih untuk Paus, merah untuk Kardinal, ungu untuk Uskup, dan hitam untuk Imam. Bila dikehendaki, para Vikaris dapat menggunakan solideo warna hitam, melengkapi sabuk hitam mereka. Solideo hitam ini harus dilepas di sakristi sebelum mereka memimpin atau mengikuti upacara liturgi (Noonan, p. 307). Dalam hal ini aturannya memang sedikit beda dengan Uskup, yang boleh tetap mengenakannya, dan hanya melepasnya saat ada kehadiran nyata Kristus dalam rupa Sakramen Mahakudus. Semua solideo hendaknya dilepas (sejenak) saat kedatangan atau kehadiran Prelatus yang lebih tinggi, sebagai ungkapan rasa hormat. Dalam foto di bawah ini terlihat bahwa Paus Emeritus Benedictus XVI pun melepas solideonya, sebagai ungkapan penghormatan, saat beliau dihampiri oleh Paus Franciscus; dari sini kita belajar bersikap rendah hati dan menghormati seorang Ordinaris.

Paus Emeritus Benedictus XVI melepas solideonya (dipegang)
menghormati Paus Franciscus yang menghampiri beliau

Ziarah Uskup Surabaya di Tanah Suci


Uskup V. Sutikno Wisaksono tiba di Betlehem
Di awal tahun 2015, tepatnya tanggal 22 Februari - 5 Maret, Uskup Surabaya Yang Mulia Vincentius Sutikno Wisaksono berziarah ke Tanah Suci. Uskup Sutikno yang didampingi Vikaris Yudisialnya, Romo Antonius Padua Dwi Joko, memimpin rombongan 90 peziarah yang terbagi dalam dua kelompok. Ikut pula dalam rombongan ini dua orang biarawati Putri Karmel, Sr. Petra PKarm dan Sr. Clara PKarm. Berikut adalah cerita tentang perjalanannya, yang ditulis Albert Wibisono, Magister Caeremoniarum yang melayani ziarah ini. Semoga tulisan panjang ini, berikut foto-foto dan link-link-nya, dapat membawa pembaca untuk turut berziarah batin ke Tanah Suci.

Magister Caeremoniarum? Apa itu? Magister Caeremoniarum atau MC (Liturgi) adalah Pemandu Upacara Liturgi yang melayani uskup dan imam dalam acara-acara liturgi. Pekerjaan MC Liturgi mirip dengan EO alias Event Organizer, hanya yang ini khusus mengurusi event-event liturgi. Lebih jauh tentang MC Liturgi dapat dibaca dalam artikel di link ini. Dalam tradisi Gereja Katolik, seorang uskup biasa memiliki MC Liturgi. Buku Caeremoniale Episcoporum atau Tata Upacara Para Uskup menyebutkan bahwa MC bertugas menyiapkan dan mengatur segala sesuatunya agar upacara liturgi yang dipimpin dan/atau dihadiri oleh uskup dapat berjalan dengan benar sesuai aturan-aturan liturgi, khidmat dan agung serta indah. Albert Wibisono adalah MC Liturgi independen, yang sejak 2007 telah melayani berbagai upacara liturgi yang dipimpin imam-imam dan uskup-uskup, termasuk Nunsius Apostolik atau Dubes Vatikan di Indonesia. Albert yang juga pernah melayani Uskup Sutikno berziarah ke Roma pada tahun 2007 diminta oleh tour operator untuk melayani Uskup Sutikno dan Romo Dwi Joko dalam ziarah ini.

Ziarah Uskup Surabaya kali ini diatur oleh Seven World Tours, dengan tour leader Fifi Lukito dan Cherly Lina, yang masing-masing memimpin 46 dan 44 orang dalam kelompoknya. Uskup Sutikno dan Romo DJ, demikian Romo Dwi Joko biasa dipanggil, secara bergantian bergabung dengan kelompok pertama atau kedua; dengan demikian, kedua kelompok sama-sama memperoleh kesempatan untuk bersama dengan Uskup. Umat yang bergabung dalam ziarah ini berasal dari berbagai paroki di Keuskupan Surabaya, dari Katedral sampai St. Marinus Yohanes Kenjeran. Ada juga rombongan umat dari St. Maria Gresik dan St. Maria Annuntiata Sidoarjo. Selain itu, ada juga beberapa umat dari luar Keuskupan Surabaya, termasuk sepasang suami istri dari Papua, yang ikut bersama anak-anaknya yang tinggal di Surabaya.

Rombongan berangkat dari Surabaya ke Jakarta dengan pesawat Garuda, sebelum menumpang Qatar Airways menuju ke Kairo dengan transit di Doha, Qatar. Seluruhnya ada empat negara yang dikunjungi: Mesir, Israel, Palestina, dan Yordania.

Gereja St. Simon (Foto: Nick A - flickr.com)
Mendarat di Kairo hampir tengah hari, kami makan siang di sebuah restoran Cina di tepi Sungai Nil, sebelum menuju ke Gereja St. Simon the Tanner. Gereja ini terletak di ruang terbuka yang luas di Bukit Mokattam di pinggiran kota Kairo. St. Simon adalah seorang penyamak kulit-pembuat sepatu yang sederhana dan saleh, yang hidup di akhir abad ke-10. Ialah yang diberi Tuhan kemampuan untuk membuat mukjizat, memindahkan Bukit Mokattam dan menyelamatkan umat Kristiani di Mesir dari ancaman pembantaian oleh Kalifah al-Muizz. Simon melakukannya atas permintaan Paus Orthodox Koptik Abraham, yang ditantang Kalifah al-Muizz untuk membuktikan imannya dan memindahkan gunung, sesuai Mat 17:20 yang dikutip sang kalifah, "... sekiranya kamu mempunyai iman sebesar biji sesawi saja kamu dapat berkata kepada gunung ini: Pindah dari tempat ini ke sana, --maka gunung ini akan pindah ..." Cerita tentang St. Simon Penyamak Kulit dan mukjizat ini dapat dibaca di link berikut ini. Hari pertama ditutup dengan kunjungan ke tempat pembuatan lukisan di atas papyrus, kertas dari tanaman khas Mesir yang dapat bertahan berabad-abad.

Eksterior Gereja Gantung
(Foto: tourisminegypto.blogspot.com)
Interior Gereja Gantung
(Foto: tourisminegypto.blogspot.com)
Hari kedua dimulai dengan kunjungan singkat ke Perfume Institute dan Piramid Giza yang tidak jauh jaraknya dari hotel. Berikutnya, rombongan berkunjung ke Abu Serga, salah satu gereja tertua di Mesir. Gereja ini mulai dibangun pada abad ke-4, di atas sebuah gua yang diyakini merupakan tempat tinggal keluarga kudus waktu mengungsi ke Mesir. Gereja kecil yang didedikasikan bagi St. Sergius dan Bacchus ini sungguh indah. Di sampingnya kita juga dapat melihat sumur tempat keluarga kudus mengambil air. Dari Abu Serga, Uskup dan rombongan berjalan kaki menuju Gereja Gantung--disebut demikian karena ia dibangun di atas pilar-pilar bekas benteng tentara Romawi, sehingga posisinya seperti bergantung di atas tanah. Gereja Ortodoks Koptik St. Perawan Maria ini merupakan salah satu gereja terpenting Ortodoks Koptik. Di kompleks gereja ini tinggal Paus Ortodoks Koptik Tawadros II, yang tahun 2013 yang lalu mengunjungi Paus Franciscus di Vatikan.


Paus Tawadros II bersama Paus Franciscus di Vatikan, 2013. (Foto: Corbis)

Di dekat kompleks Abu Serga dan Gereja Gantung ini ada juga sebuah tempat ibadat Yahudi yang sudah tidak dipakai lagi, Sinagoga Ben Ezra namanya. Kami pun mampir ke sana. Menurut tradisi setempat, sinagoga kecil ini dibangun di atas lokasi di mana bayi Musa ditemukan oleh Putri Firaun (bdk. Kel 2:1-10).

Usai berkunjung ke tiga obyek berdekatan ini, rombongan kemudian makan siang dan meneruskan perjalanan ke Gunung Sinai, melewati beberapa obyek yang menarik. Pertama-tama, yang dilewati adalah terowongan bawah laut menembus Terusan Suez. Setelah melewati Terusan Suez, rombongan tiba di Mara. Di tempat ini, dahulu Musa pernah membuat mukjizat bagi bangsa Israel yang baru lepas dari cengkeraman Firaun, dan dengan bantuan Allah menyeberangi Laut Merah yang terbelah. Di tengah padang gurun ini ada sumur, yang air pahitnya diubah menjadi manis oleh Musa dengan bantuan Allah. Tidak lama berhenti, melihat-lihat, dan berdoa di Mara, rombongan kemudian meneruskan perjalanan mengikuti rute yang dilalui bangsa Israel, dan tiba di Elim. Di Elim, masih di tengah padang gurun ini, ada 12 mata air dan 70 pohon kurma. Bangsa Israel pernah beristirahat dan berkemah di dekat mata air ini (bdk. Kel 15:22-27).


Elim (Foto: Jordan Rodriguez - Pinterest)

Perjalanan naik bus menembus padang gurun ini sungguh lama dan melelahkan. Sayangnya, jalan pintas yang lebih singkat ditutup saat itu, dan kami pun terpaksa memutar lebih jauh. Sungguh tidak terbayangkan bagaimana orang-orang Israel dahulu pernah berjalan kaki melewati padang gurun ini untuk menuju Tanah Terjanji. Hari sudah lewat tengah malam ketika rombongan berhasil mencapai tempat makan malam di Sharm el-Sheikh, sebuah kota di ujung selatan Semenanjung Sinai, di tepi Laut Merah.

Makan tengah malam di Sharm el-Sheikh terasa sungguh nikmat, setelah perjalanan hampir 12 jam membelah gurun di malam buta. Masih ada beberapa jam lagi untuk mencapai tempat menginap di St. Catherine, di kaki Gunung Sinai. Rencana menuju St. Catherine dan menginap di sana akhirnya terpaksa dibatalkan, karena waktu yang tidak memungkinkan. Rombongan kemudian memutuskan menginap di Dahab, di sebuah resor tepi pantai yang indah.

Jarum jam sudah menunjukkan angka tiga lewat tengah malam ketika kami tiba di hotel untuk beristirahat. Sungguhpun begitu, beberapa anggota rombongan tetap ingin pergi ke puncak Gunung Sinai, tempat Musa menerima Sepuluh Perintah Allah. Mereka ini hanya sempat meletakkan tas di kamar dan kemudian harus berangkat lagi. Karena waktu yang sungguh tidak memungkinkan, mereka ini akhirnya hanya sempat mencapai pos pertama dan tetap tidak bisa sampai ke puncak.


Jebel Musa, Puncak Gunung Sinai, dan Biara St. Catherine di kakinya (Foto: Corbis)

Pagi harinya, untuk pertama kalinya dalam perjalanan ziarah ini, kami bisa menyelenggarakan Misa, meski dengan segala keterbatasan. Selama dua hari sebelumnya, situasi dan kondisi di Mesir memang tidak memungkinkan kami untuk mengadakan Misa. Mengenakan alba dan kasula ungu yang dibawa dari Surabaya, Uskup Sutikno bersama Romo DJ mempersembahkan Misa ini. Homili dari Uskup sungguh meneguhkan hati umat untuk selalu bersyukur dan menghayati perjalanan ziarah ini.

Usai Misa dan makan pagi, perjalanan naik bus dilanjutkan untuk mencapai perbatasan Mesir-Israel di Taba. Terasa benar bedanya saat kami memasuki wilayah Israel. Pemandangan yang berbeda, dan jalan serta infrastruktur yang lebih memadai kami saksikan sepanjang perjalanan, dengan bus baru dari Israel yang lebih nyaman pula. Matahari sudah terbenam ketika kami tiba di Yerusalem dan menuju hotel untuk beristirahat. Saat makan malam di hotel, kami bertemu dua rombongan peziarah lain dari Indonesia. Pembicaraan dalam Bahasa Indonesia memenuhi tempat makan berkapasitas lima ratusan orang itu.

Misa di Basilika Kelahiran Yesus
Hari pertama di Tanah Suci dimulai dengan kunjungan ke Betlehem. Rombongan tiba di Nativity Church, yang dibangun di lokasi tempat kelahiran Yesus, dan langsung memasuki Gereja St. Catherine di sebelahnya untuk Misa. Gereja ini tidak terlalu besar, mungkin hanya bisa menampung dua ratusan umat. Meski begitu, Sakristi atau ruangan tempat imam mempersiapkan Misanya besar sekali, mungkin sekitar 15 x 8 meteran ukurannya. Uskup dan Romo DJ disambut di Sakristi oleh seorang imam Fransiskan yang bertanggung jawab atas basilika ini. Dibantu MC, Uskup dan Romo DJ berganti busana liturgi dan kemudian menuju ke altar untuk memulai Ekaristi di tempat nan suci ini.


Misa di Basilika Kelahiran Yesus


Romo Dwi Joko bersama umat
Usai Misa, sementara MC membereskan berbagai busana dan perlengkapan liturgi, Uskup, Romo DJ dan rombongan menuju ke depan basilika dan berfoto-foto bersama umat dan kemudian mengunjungi Milk Grotto. Akhirnya, rombongan kembali lagi ke basilika, dan mulai mengantri untuk menuju lokasi yang dipercaya merupakan tempat Yesus dilahirkan. Lokasi ini terletak di dalam basilika utama, di sebelah Gereja St. Catherine, dan pagi itu masih ada ibadat yang dipimpin imam-imam Orthodox. Sekitar dua ratusan peziarah sudah berdesakan mengantri di luar pintu, sambil mendengarkan doa-doa yang dinyanyikan dengan syahdu oleh imam-imam Orthodox. Melihat seorang uskup datang dengan busana khasnya, rombongan peziarah dari Prancis yang berada di tempat terdepan menyingkir memberi beliau jalan dan beberapa di antaranya mencium cincin beliau dengan takzim. Uskup dengan didampingi MC-nya diberikan tempat terdepan, persis di depan pintu masuk. Setelah ibadat selesai, Uskup mendapat kesempatan masuk pertama dan mencium lantai di lokasi tempat kelahiran Yesus dan tempat palungannya diletakkan. Sungguh suatu pengalaman yang tak terlupakan, bisa berada di tempat Kristus dilahirkan lebih dari dua ribu tahun yang lalu.

Bapa Kami Bahasa Indonesia
Puas berkunjung ke Basilika Kelahiran Yesus, kami dibawa ke Padang Gembala, dan melihat kondisi yang sama di mana lebih dari dua ribu tahun yang lalu para gembala menerima kabar dari malaikat tentang kelahiran Yesus. Para gembala adalah orang-orang yang pertama yang mengunjungi bayi Yesus di palungan. Dari Padang Gembala rombongan dibawa menuju Kapel Kenaikan, yang dipercaya merupakan lokasi di mana Yesus terangkat naik ke surga. Berikutnya, rombongan mengunjungi Gereja Pater Noster atau Gereja Bapa Kami, yang dinding-dindingnya penuh bertuliskan teks Doa Bapa Kami dalam berbagai bahasa, termasuk Bahasa Indonesia.


Sebuah lorong di kompleks Gereja Pater Noster (Foto: Corbis)

Dari Gereja Pater Noster, kami dibawa dan diberi kesempatan untuk berjalan kaki melalui jalan yang sama yang dilalui Yesus waktu memasuki kota Yerusalem dan dielu-elukan sebagai raja oleh penduduk Yerusalem. Di jalan ini, setiap tahun, pada hari Minggu Palma selalu dihelat prosesi yang diikuti puluhan atau bahkan mungkin ratusan ribu umat. Melewati jalan menuruni Bukit Zaitun ini, kita dapat membayangkan bagaimana penduduk Yerusalem dahulu menghamparkan pakaian mereka di atas jalanan yang dilalui Yesus yang menunggang keledai.


Jalan menuruni Bukit Zaitun yang dilalui Yesus (Foto: Judy)

Dalam sehari pertama di Yerusalem ini banyak sekali tempat-tempat yang dikunjungi, termasuk Gereja Dominus Flevit, yang dibangun di atas lokasi yang dipercaya sebagai tempat Yesus menangisi Yerusalem (bdk. Luk 19:41-44); Dormition Abbey, tempat Maria Diangkat ke Surga; Ruang Atas, tempat Yesus menyelenggarakan Perjamuan Malam Terakhir bersama para murid-Nya; Makam Raja Daud yang merupakan tempat suci orang Yahudi; dan juga Gereja Ayam Berkokok, yang didirikan di atas lokasi bekas Istana Kayafas, Imam Agung. Di bagian bawah gereja ini ada ruang-ruang bekas sel penjara, yang salah satunya diyakini sebagai tempat Yesus dipenjara dan disiksa. Banyak peziarah mengantri untuk dapat masuk ke ruangan ini dan berdoa khusyuk di dalamnya. Tidak sedikit yang keluar dengan mata yang basah. Malam harinya, peziarah masih mengikuti adorasi di Gereja Segala Bangsa di dekat Taman Getsemani.

Uskup Sutikno beristirahat di depan Gereja St. Anna
Hari kedua di Yerusalem dimulai dengan kunjungan ke Gereja St. Anna, yang diyakini merupakan tempat kelahiran Santa Perawan Maria. Gereja ini dibangun di atas lokasi rumah St. Anna dan St. Yoakim, orang tua Maria. Gereja yang berada di dekat Kolam Bethesda ini memiliki akustik yang baik sekali dan banyak peziarah, terutama kelompok paduan suara, yang menyanyi di sana saat berkunjung. Di samping gereja ini terdapat reruntuhan Kolam Bethesda, di mana Yesus pernah menyembuhkan seorang lumpuh (bdk. Yoh 5:1-9).

Uskup Sutikno memanggul salib
Dari Gereja St. Anna kami menuju ke Via Dolorosa, yaitu jalan yang dilalui Yesus saat memanggul salib-Nya ke Golgota. Sepanjang jalan ini para peziarah biasa melakukan Jalan Salib, yang nantinya berakhir di Basilika Makam Kudus, yang dibangun di atas Makam Kristus. Devosi Jalan Salib di Via Dolorosa biasa dilakukan sambil memanggul salib; biasanya bergantian antara para peziarah. Kami pun melakukannya, dan Uskup memulainya dengan memanggul salib dari Perhentian I ke II.

Mengikuti rute Jalan Salib, rombongan masuk ke Basilika Makam Kudus dari atas dan kemudian menuju tempat Misa hari ini, yaitu di Kapel Maria Magdalena, yang terletak beberapa meter dari tempat di mana jenazah Kristus pernah dibaringkan. Kapel ini berukuran kecil. Sembilan puluh orang peziarah kelompok kami memenuhi kursi-kursi yang ada dan beberapa di antara kami duduk di bangku panjang di samping.


Makam Kudus (Foto: Corbis)

Usai Misa, rombongan keluar dari kapel dan mulai mengantri untuk masuk ke Makam Kudus. Panjang sekali antriannya. Mungkin hampir dua ratusan orang dari ujung antrian sampai ke pintu masuk sempit yang dijaga klerus-klerus Orthodox. Para peziarah masuk bertiga-tiga, bergantian. Uskup Sutikno tidak perlu mengantri, tentunya. Para klerus Orthodox yang melihat beliau melintas dengan busana khas uskupnya memberi hormat seraya mempersilakan beliau untuk memotong antrian dan langsung masuk sendirian ke Makam Kudus.

Dari Makam Kudus kami dibawa ke Qumran, tempat ditemukannya Gulungan Laut Mati. Berikutnya kami menuju kota tua Yeriko dan makan siang di sana. Usai makan siang kami menuju ke Qasr al-Yahud, tempat Yesus dibaptis di Sungai Yordan. Di sana para peziarah mengucapkan pembaharuan janji baptis dan mendapat percikan air Sungai Yordan. Banyak juga peziarah lain yang dibaptis di sini, beberapa dengan metode baptis selam, dimana mereka dibenamkan seluruh tubuhnya ke dalam sungai. Hari ini ditutup dengan kunjungan ke Tembok Ratapan, tempat suci bagi umat Yahudi.


Qasr al-Yahud, di tepi Sungai Yordan: Tempat Yesus dibaptis (Foto: Corbis)

Hari terakhir dalam bulan Februari 2015 adalah hari keenam peziarahan kami. Hari ini kami berkunjung ke Gereja Visitasi, yang didirikan di atas lokasi rumah Elisabeth dan Zakaria, orang tua Yohanes Pembaptis, di Ein Karem. Ke tempat ini Maria yang sedang mengandung Yesus pernah datang dan tinggal sampai tiga bulan lamanya (bdk. Luk 1:5-60). Kami masih mampir ke beberapa tempat dalam perjalanan menuju ke Gunung Tabor, mengunjungi Basilika Transfigurasi, di mana Yesus menampakkan kemuliaan-Nya bersama Musa dan Elia. Puncak ziarah hari ini adalah Kana, sebuah kota di mana Yesus membuat mukjizat pertama-Nya dalam sebuah upacara perkawinan. Di basilika di Kana, peziarah biasa membuat pembaharuan janji perkawinan. Rombongan kami pun melakukannya. Dalam Misa yang dipimpin oleh Uskup yang didampingi Romo DJ, beberapa pasangan suami istri memperbaharui janji perkawinan mereka, dan di akhir Misa mendapat ucapan selamat dari beliau berdua dan seluruh anggota rombongan.

Hari pertama dalam bulan Maret 2015 kami awali dengan perjalanan ke arah utara. Hari ini kami berkunjung ke Gunung Hermon dengan puncak bersaljunya. Beberapa obyek yang dikunjungi sepanjang perjalanan, di antaranya: Tabgha--tempat Yesus memberi makan 5.000 orang dengan 5 roti dan 2 ikan (bdk. Mrk 6:30-46); Gereja Primat St. Petrus--tempat Yesus yang sudah bangkit menemui murid-murid-Nya dan memberikan perintah kepada Petrus untuk menggembalakan domba-domba-Nya (bdk. Yoh 21:1-17); dan juga reruntuhan sinagoga di Kapernaum--tempat Yesus pernah mengajar. Puncak kunjungan hari ini adalah Bukit 8 Sabda Bahagia. Sesuai namanya, bukit ini adalah tempat Yesus dahulu pernah menyampaikan 8 Sabda Bahagia (bdk. Mat 5:1-12). Di bukit ini--benar-benar di bukit, di alam terbuka--kami merayakan Ekaristi.


Peziarah berfoto bersama usai Misa di Bukit 8 Sabda Bahagia

Kapernaum yang kami kunjungi dalam perjalanan hari ini adalah sebuah kota kecil di daerah Galilea. Di kota ini Yesus banyak melakukan mukjizat, termasuk menyembuhkan: orang yang kerasukan roh jahat (bdk. Mrk 1:23-28); hamba seorang perwira yang lumpuh (bdk. Mat 8:5-13), orang lumpuh yang diturunkan dari atap (bdk. Mat 9:1-8), ibu mertua Petrus (bdk. Mat 8:14-15); anak kepala rumah ibadat (bdk. Mrk 5:21-43) dan wanita yang 12 tahun menderita sakit pendarahan (bdk. Mrk 5:25-34). Meski begitu, Kapernaum juga adalah salah satu dari tiga kota yang pernah dikutuk Yesus karena kurangnya iman mereka (bdk. Mat 11:23-24 dan Luk 10:14-15).

Reruntuhan Sinagoga di Kapernaum (Foto: Corbis)

Hari ini ditutup dengan naik kapal di Danau Galilea yang sungguh luas--panjangnya 21 km dan lebarnya 13 km. Kurang lebih sejam kami merasakan bagaimana murid-murid Yesus dahulu biasa berperahu mencari ikan di danau ini. Selama pelayaran di kapal diputar lagu-lagu dalam Bahasa Indonesia. Uskup pun menyanyi dan menari gembira bersama umat. Di luar keuskupan Surabaya, YM Sutikno mungkin dikenal sebagai uskup yang konservatif dalam liturgi. Bagi beliau, Misa adalah Misa. Misa bukanlah suatu pertunjukan; tidak perlu menampilkan tari-tarian di dalam Misa. Meski begitu, umat beliau tahu benar bahwa gembala mereka suka menyanyi dan menari, dan adalah pribadi yang sungguh jenaka. Audiensi dengan beliau selalu penuh dengan gelak tawa. Uskup Sutikno tidak pernah membuat jarak dengan umat; beliau sangat terbuka dan biasa bicara apa adanya.


Nelayan di Danau Galilea (Foto: Corbis)

Setelah bermalam di tepi Danau Galilea yang dikenal juga dengan nama Danau Genesaret atau Danau Tiberias, esoknya rombongan dibawa ke Nazareth. Kami berkunjung ke Nazareth Village--suatu obyek wisata yang menampilkan suasana kota Nazareth pada jaman Yesus dahulu. Hari ini kami juga berkunjung ke Basilika Kabar Sukacita, yang dibangun di tempat di mana Maria pernah menerima kabar gembira dari Malaikat Gabriel. Di basilika inilah kami merayakan Misa hari ini. Tanpa kami sadari, ada seorang bapak tua peziarah yang bergabung dalam Misa Bahasa Indonesia kami dan menerima Tubuh Kristus dari Romo DJ. Usai komuni, ia pun menghampiri Uskup, mencium cincin beliau dengan penuh hormat dan meminta berkat. Uskup Sutikno membuat tanda salib di dahi bapak tua ini seraya mengucapkan formula dalam Bahasa Latin yang lalu diamininya. Benar-benar suatu pemandangan yang menyentuh hati para peziarah anggota rombongan kami.

Kedatangan seorang uskup dari Indonesia lengkap dengan busana kebesarannya dan disertai pula oleh seremoniarius yang mempersiapkan liturginya dengan serius rupanya menarik perhatian imam Fransiskan yang mengurus sakristi basilika ini. Ia pun memberi tahu saudaranya, seorang imam Fransiskan lain yang kebetulan berasal dari Indonesia dan sudah beberapa waktu ditugaskan di Basilika Kabar Sukacita ini. Romo Jordan nama imam Indonesia itu; ia masih muda dan rupawan; ia berasal dari Jakarta. Romo Jordan menyambut Uskup dan Romo DJ, dan mengajak beliau berdua melihat-lihat biaranya.

Usai melihat-lihat, Uskup Sutikno diminta memimpin Doa Angelus yang diselenggarakan di basilika ini pada pukul 12:00 siang. Suatu pengalaman yang luar biasa bagi rombongan kami, untuk dapat mendoakan Angelus di tempat di mana Santa Perawan Maria menerima kabar gembira dari Malaikat Gabriel. Diawali oleh seorang misdinar yang membawa pedupaan yang mengepul, prosesi berarak meninggalkan sakristi basilika, menuju sebuah kapel kecil di bawah tanah basilika. Beberapa biarawan dan imam Fransiskan ikut dalam prosesi ini, menyanyikan Stabat Mater Dolorosa. Klik di link ini untuk melihat videoklip prosesi masuk. Doa Angelus dipanjatkan dalam Bahasa Latin, dengan renungan pendek dalam Bahasa Italia, dari seorang imam Fransiskan. Pasca renungan, pada waktu saat hening, Uskup diberi kesempatan untuk mencium batu di lokasi tempat Maria menerima kabar sukacita. Pada bagian akhir, Uskup diminta memberikan berkat kepada semua yang hadir, dengan formula berkat uskup dalam Bahasa Latin.


Altar di bawah tanah Basilika Kabar Sukacita:
tempat Maria menerima kabar dari Malaikat Gabriel
(Foto: Corbis) 

Setelah makan siang di restoran Italia di dekat basilika, rombongan kami meninggalkan Nazareth dan menuju perbatasan Yordania. Malam harinya kami tiba di sebuah hotel resor yang indah dengan pantai privat yang menghadap Laut Mati. Esoknya, kami menikmati Laut Mati yang kadar garamnya hampir 10x lebih tinggi dari lautan normal. Di laut yang hampir tak berombak ini, manusia akan otomatis mengapung, karena kadar garamnya yang tinggi--bisa mencapai 34%.

Pemandangan dari pantai Laut Mati di belakang hotel sungguh indah di pagi hari tanpa awan ini. Kota tua Yerusalem di puncak bukit terlihat sungguh agung di seberang lautan yang lebarnya hanya 15 km ini; kuning keemasan ditimpa cahaya mentari pagi, berlatar belakang langit biru tanpa awan. Masih terngiang lagu The Holy City: Jerusalem, Jerusalem, Lift Up Your Gates and Sing--versi asli dari Yerusalem, Yerusalem Lihatlah Rajamu--yang berkali-kali diputar selama kami berada di Yerusalem hari-hari yang lalu. Silakan klik di sini untuk mendengarkan lagu indah ini.

Puas menikmati Laut Mati, kami diajak menuju Petra, sebuah kota yang dipahat di dinding-dinding batu di Wadi Araba, sebuah lembah bercadas di Yordania. Hari sudah malam ketika rombongan kembali ke hotel untuk beristirahat.


Papan petunjuk di puncak Gunung Nebo,
tempat Musa melihat Tanah Terjanji (Foto: Corbis)

Hari terakhir peziarahan kami diisi dengan kunjungan ke Gunung Nebo. Di tempat di mana Musa diperlihatkan tanah yang dijanjikan bagi bangsa Israel ini kami berkesempatan merayakan Ekaristi yang terakhir sebelum pulang ke Indonesia. Pemandangan dari puncak gunung ini ke Tanah Terjanji memang sangat indah. Sejenak para peziarah mencoba menyelami apa yang dilihat dan dirasakan Musa sebelum wafatnya, ketika melihat tanah yang akan diberikan bagi bangsanya, setelah empat puluh tahun mengembara di padang gurun. Pemandangan luar biasa ini menutup peziarahan kami di Tanah Suci; semoga damai senantiasa meliputinya.

Semoga cerita panjang ini, berikut foto-foto dan link-link-nya, dapat membawa pembaca untuk turut berziarah batin ke Tanah Suci.

Misa Ulang Tahun Kemerdekaan


(Foto: Corbis)
Tak lama lagi Bangsa Indonesia memperingati Ulang Tahun Kemerdekaannya. Umat Katolik Indonesia pun mensyukurinya dengan merayakan Misa khusus. Untuk apa dan bagaimana Misa khusus ini dirayakan? Saya akan coba mengupas secara singkat di bawah ini.

Dalam Penanggalan Liturgi 2015, Konferensi Waligereja Indonesia (KWI) telah mencantumkan 17 Agustus sebagai suatu "Hari Raya" atau "Solemnitas" dalam Bahasa Latinnya. Apa artinya? Artinya, pada tanggal 17 Agustus seluruh umat Katolik di Indonesia wajib mengikuti Misa Kudus yang dirayakan dengan kemeriahan yang setingkat dengan "Hari Raya" yang lain.

Di tahun 2015, 17 Agustus jatuh pada hari Senin; haruskah kita pergi ke gereja? Iya! Bukankah sebagian dari kita harus ikut upacara bendera di kantor, di sekolah/kampus atau di tempat lain? Seperti kata Yesus dalam bacaan Injil hari itu, "Berikanlah kepada Kaisar apa yang wajib kamu berikan kepada Kaisar dan kepada Allah apa yang wajib kamu berikan kepada Allah."

Tapi, pertama-tama, kenapa kita merayakan Ekaristi pada Peringatan Ulang Tahun Kemerdekaan? Jawabnya, sama seperti ketika kita merayakan Ekaristi pada hari-hari yang lain. "Ekaristi adalah kurban syukur kepada Bapa. Ia adalah pujian, yang olehnya Gereja menyatakan terima kasihnya kepada Allah untuk segala kebaikan-Nya ..." (Katekismus Gereja Katolik 1360) Jadi, merayakan Ekaristi di Hari Raya Kemerdekaan RI adalah ungkapan syukur dan pujian kita umat Katolik Indonesia kepada Bapa atas anugerah kemerdekaan bagi kita.

Berikutnya, bagaimana Misa di hari itu dirayakan? Ya sama dengan Misa di hari-hari raya yang lain. Pada suatu Misa di "Hari Raya" ada dua bacaan plus Injil; Kemuliaan diucapkan; Aku Percaya diucapkan; bisa digunakan lilin altar sebanyak 6 buah; bisa pula digunakan dupa; gedung gereja pun bisa dihiasi dengan bunga secara lebih indah dari biasanya; dan lain sebagainya, yang kesemuanya menunjukkan bahwa hari itu bukanlah suatu hari yang biasa.

Di beberapa tempat, ada yang memasukkan penghormatan bendera merah putih di dalam Misa. Pertanyaannya, untuk apa? Misa kan ungkapan syukur dan pujian kepada Bapa? Apa relevansi menghormati bendera dalam ritual syukur dan pujian kepada Bapa? Ada pula yang memasukkan pembacaan teks Pancasila dan Pembukaan UUD 1945. Hmmm. Ini kan bukan upacara bendera? Tentang hal ini, Vatikan sudah memberikan wejangan, "... perlu dihindarkan suatu Perayaan Ekaristi yang hanya dilangsungkan sebagai pertunjukan atau menurut gaya upacara-upacara lain, termasuk upacara-upacara profan: agar Ekaristi tidak akan kehilangan artinya yang otentik." (Redemptionis Sacramentum 78) Jadi, hindarkanlah merayakan Ekaristi seperti merayakan upacara bendera, agar Ekaristi tidak kehilangan artinya yang otentik, yang di antaranya adalah kurban syukur dan pujian kepada Bapa.

Bagaimana dengan lagu-lagunya? Ada beberapa lagu liturgis untuk Nusa dan Bangsa di Puji Syukur nomor 704-707. Bisa juga digunakan lagu-lagu lain bertemakan pujian dan syukur di nomor 664-681. Bolehkan kita menyanyikan lagu kebangsaan Indonesia Raya dan lagu-lagu perjuangan lainnya? Pertanyaannya, apakah itu lagu-lagu yang liturgis dan sesuai untuk ritual suci melambungkan syukur dan pujian kepada Allah? Kalau jawabnya tidak, maka tidak ada manfaatnya menyanyikan lagu-lagu tersebut dalam Misa dan malahan bisa mengaburkan makna Ekaristi. Silakan baca ulang kutipan dokumen Vatikan di paragraf di atas.

Kreativitas dalam merayakan Ekaristi pada Peringatan Ulang Tahun Kemerdekaan bukan sama sekali ditabukan. Silakan direncanakan dengan baik dan cermat, dalam koridor norma-norma yang berlaku. Perlu diingat kembali hakikat perayaan suci ini dan jangan sampai pernak-pernik atau tambahan-tambahan kreativitas di dalamnya malahan mengaburkan makna dan tujuan perayaan ini dan/atau mengalihkan perhatian kita dari Kristus, yang harusnya menjadi pusat perayaan suci ini.

Selamat memperingati Ulang Tahun Kemerdekaan RI. Jangan lupa ikut Misa. Mari kita panjatkan syukur dan pujian kepada Allah Bapa yang mahabaik, yang telah menganugerahkan kemerdekaan dan kebebasan kepada bangsa kita.

Tambahan:

Untuk Misa di Hari Raya Kemerdekaan RI digunakan bacaan-bacaan seturut penanggalan liturgi (klik di sini). Baik juga jika digunakan Prefasi Tanah Air (TPE Imam, hal 104-106) dan Doa Pembuka seperti di bawah ini (Sumber: Misale Romawi - Untuk Nusa dan Bangsa):

Doa Pembuka

Ya Allah,
Engkau mengatur alam semesta
menurut rencana yang  mengagumkan.
Dengarkanlah dengan rela
doa-doa kami untuk tanah air kami.
Semoga berkat kebijaksanaan para pemimpin
dan keluhuran pribadi para warga
kerukunan dan keadilan diteguhkan
dan terwujudlah kesejahteraan dalam damai.
Dengan pengantaraan Yesus Kristus, Putra-Mu, Tuhan kami,
yang bersama dengan Dikau dalam persatuan Roh Kudus
hidup dan berkuasa, Allah, sepanjang segala masa.

Noveritis: Tradisi Awal Tahun


Seorang Diakon menyanyikan Noveritis di Vatikan
Gereja Katolik punya tradisi indah di awal tahun: mengumumkan tanggal perayaan Paskah dan berbagai perayaan lain yang tanggalnya tidak tetap dalam tiap-tiap tahunnya. Pengumuman tanggal-tanggal ini dilakukan pada Hari Raya Penampakan Tuhan atau Epifani, yang selalu jatuh pada pada tanggal 6 Januari, atau, di negara-negara tertentu seperti Indonesia, pada hari Minggu pertama setelah tahun baru. Pengumuman ini dikenal dengan nama Noveritis, dari kata penting pertamanya dalam Bahasa Latin aslinya, yang artinya "ketahuilah".

Pertama-tama, tentang Paskah dan perayaan liturgi lain yang tidak tetap tanggalnya. Ada perayaan yang tanggalnya selalu tetap dalam tiap-tiap tahunnya. Kita tahu bahwa Natal selalu jatuh pada tanggal 25 Desember dan Hari Raya Santa Perawan Maria Bunda Allah selalu jatuh pada tanggal 1 Januari. Tidak demikian halnya dengan Paskah. Sejak Konsili Nicaea I di tahun 325, tanggal Paskah Kristiani telah dipisahkan dari kalender dan penetapan Paskah Yahudi. Sejak itu, Paskah Kristiani ditetapkan jatuh pada hari Minggu pertama setelah "bulan purnama gerejawi". Teknik penetapan tanggal ini sangatlah rumit dan bahkan punya nama sendiri, Computus. Setelah didapat tanggal Paskah suatu tahun, ditariklah mundur 46 hari untuk mendapat tanggal Rabu Abu. Kita juga bisa mendapat Kenaikan Tuhan (Hari ke-40 Masa Paskah) dan Pentakosta (Hari ke-50 Masa Paskah), serta Hari Raya Tubuh dan Darah Kristus (Kamis, atau Minggu kedua setelah Pentakosta). Hari Minggu Adven Pertama ditetapkan terpisah, dengan mengambil hari Minggu keempat sebelum 25 Desember tahun itu.

Pada jaman modern ini, kita mengetahui tanggal Paskah dan lain-lain perayaan yang tidak tetap tanggalnya dari Kalender Liturgi, yang bahkan sudah tersedia secara online. Umat awam yang tidak biasa melihat Kalender Liturgi cukup membuka kalender biasa yang mereka peroleh di awal tahun, dan dengan mudah akan menemukan tanggal merah untuk perayaan Paskah dan Kenaikan Tuhan. Dengan perkembangan teknologi, kita malahan tidak lagi perlu lagi kalender dari kertas, karena semuanya bisa kita dapatkan di smartphone, tablet, atau komputer kita. Pada jaman dahulu semua kemudahan ini tentunya tidak ada. Itu sebabnya, perlu adanya pengumuman tanggal perayaan Paskah di awal tahun. Sampai sekarang, Noveritis masih dinyanyikan setiap tahun di Vatikan. Kebutuhan praktisnya mungkin sudah terpenuhi, tapi hal formalitas dan juga hal melestarikan tradisi rupanya tidak lalu dikesampingkan.

Noveritis alias Maklumat Perayaan Paskah dapat dibacakan atau dinyanyikan dalam Misa Kudus Hari Raya Penampakan Tuhan, pada tanggal 6 Januari, atau, di Indonesia dan beberapa negara lain, pada tahun ini akan dirayakan pada hari Minggu 4 Januari yang akan datang. Seturut tradisi, Noveritis dibacakan atau dinyanyikan setelah Injil, sebelum Homili. Berikut ini adalah Noveritis dalam bahasa Indonesia untuk tahun 2015 ini. Teks aslinya dalam Bahasa Latin ada di bawah. Teks Bahasa Latin ini akan dinyanyikan di Vatikan dalam Misa bersama Paus, pada tanggal 6 Januari 2015.

Maklumat Hari Raya Paskah dan Pesta-Pesta yang Tidak Tetap Tanggalnya (2015)

Ketahuilah, Saudara-Saudara terkasih, setelah kita bersukacita atas Kelahiran Tuhan kita Yesus Kristus; atas belas kasih Allah, kami maklumkan dengan sukacita Kebangkitan Sang Penyelamat kita.

Tanggal delapan belas Februari Hari Rabu Abu, dan permulaan masa puasa Prapaskah mahakudus. Tanggal lima April Paskah Kudus Tuhan kita Yesus Kristus yang akan kita rayakan dengan sukacita. Tanggal empat belas Mei, Kenaikan Tuhan kita Yesus Kristus. Tanggal dua puluh empat Mei Hari Raya Pentakosta. Tanggal tujuh Juni Hari Raya Tubuh dan Darah Kristus.

Tanggal dua puluh sembilan November, minggu pertama masa Adven Tuhan kita Yesus Kristus, bagi-Nya hormat dan kemuliaan untuk selama-lamanya. Amin.

Annuntiatio Paschæ festorumque mobilium (MMXV)

Noveritis, fratres carissimi, quod annuente Dei misericordia, sicut de Nativitate Domini nostri Iesu Christi gavisi sumus, ita et de Resurrectione eiusdem Salvatoris nostri gaudium vobis annuntiamus.

Die decima octava februarii erit dies Cinerum, et initium ieiunii sacratissimæ Quadragesimæ. Die quinta aprilis sanctum Pascha Domini nostri Iesu Christi cum gaudio celebrabitis. Die decima quarta maii erit Ascensio Domini nostri Iesu Christi. Die vigesima quarta maii festum Pentecostes. Die septima iunii festum sanctissimi Corporis et Sanguinis Christi.

Die vigesima nona novembris dominica prima Adventus Domini nostri Iesu Christi, cui est honor et gloria, per omnia sæcula sæculorum. Amen.

Anda yang ingin mendengar Noveritis ini dinyanyikan dengan indah bisa nonton cuplikannya di video Misa Paus tahun 2014 yang lalu di sini. Untuk menonton Misanya secara lengkap, silakan klik di sini. Teksnya tentu beda dengan yang di atas, karena tanggal-tanggalnya beda dengan tahun 2015. Teks untuk Noveritis 2014 bisa Anda peroleh di sini. Anda yang tinggal di Jakarta bisa mendengarkan Noveritis dinyanyikan dalam Misa di Kapel Nunsiatura alias Kedutaan Besar Takhta Suci Vatikan di Jakarta, Jalan Medan Merdeka Timur 18, di hari Minggu 4 Januari 2015, mulai 11:00. Misa ini terbuka untuk umum. Anda yang ingin memperkenalkan dan melestarikan tradisi indah ini di paroki-paroki Anda, bisa mencobanya dengan restu Pastor Kepala Paroki. Mungkin dengan membacakan teks di atas di tahun ini? Dan menyanyikannya mulai tahun depan? Kenapa tidak?

Te Deum: Tradisi Akhir Tahun


Foto: Santa Clara University Archives

Gereja Katolik punya tradisi indah khusus buat akhir tahun, tepatnya di malam tahun baru: menyanyikan hymne atau madah syukur Te Deum. Lagu Gregorian ini ada di Puji Syukur 669 dan juga di Madah Bakti 491. Syairnya sangat indah dan melodinya sungguh syahdu dan menyayat hati. Saya pribadi sering menyanyikannya sendirian, sebagai ungkapan syukur; banyak kali sambil meneteskan air mata. Yang sudah biasa menyanyikan Ordinarium Te Deum (PS 345/MB 180) rasanya tidak akan menemui kesulitan yang berarti untuk menyanyikan madah syukur ini. Mereka yang menyanyikan madah ini secara publik di malam tahun baru akan mendapatkan indulgensi penuh. Mau coba nyanyikan di malam tahun baru kali ini?

Tak kenal maka tak sayang. Silakan dengarkan dulu lagunya. Klik di sini untuk mendengarkan versi simplex alias sederhananya, yang melodinya sedikit berbeda dari versi Romawi yang ada di Puji Syukur. Sambil mendengarkan, baca dan hayatilah syairnya di bawah ini (dari PS 669). Versi Latin aslinya ada di bawah.

Allah Tuhan Kami

Allah Tuhan kami,
Engkau kami muliakan.
Dikau Bapa yang kekal,
seluruh bumi sujud pada-Mu.
Para malaikat
serta segala isi surga bermadah,
kerubim dan seraphim
tak kunjung putus memuji Dikau.
Kudus, kudus,
kuduslah Tuhan, Allah segala kuasa.
Surga dan bumi
penuh kemuliaan-Mu.
Kau dimuliakan
kalangan para rasul,
Kau diluhurkan
rombongan para nabi,
Engkau dipuji
barisan para martir.
Engkau dipuji Gereja kudus
di seluruh dunia.
Bapa sungguh mahakuasa,
Putra Bapa yang tunggal
yang patut disembah.
Roh Kudus pula,
penghibur umat Allah.
Kristus raja nan jaya.
Engkaulah Putra Bapa yang kekal.
Untuk menebus kami,
Kau jadi manusia,
sudi dikandung Santa Perawan.
Kuasa maut Kau kalahkan,
Kau buka pintu surga
bagi umat beriman.
Kau bertakhta dengan mulia di sisi kanan Bapa,
Dikaulah Hakim yang akan datang.
Maka kami mohon,
tolonglah hamba-Mu, yang
Kautebus dengan darah-Mu sendiri.
Satukanlah kami dengan orang kudus
dalam kemuliaan-Mu.
Selamatkanlah kami, ya Tuhan,
berkatilah umat pilihan-Mu.
Rajailah kami, dan angkatlah kami
untuk selamanya.
Setiap hari kami memuji Dikau,
kami memegahkan nama-Mu
untuk sepanjang masa.
Ya Tuhan, sudilah menjaga kami,
agar hari ini luput dari dosa.
Kasihanilah kami, ya Tuhan,
Kasihanilah kami.
Limpahkanlah kasih setia-Mu kepada kami,
sebab kami berharap pada-Mu.
Kepada Tuhan kami percaya,
kami tak kecewa selamanya.

Yang berikut ini adalah versi Latin aslinya:

Te Deum

Te Deum laudámus,
te Dóminum confitémur.
Te ætérnum Patrem,
omnis terra venerátur.
Tibi omnes ángeli,
tibi cæli et univérsæ potestátes,
tibi chérubim et séraphim
incessábili voce proclámant.
Sanctus, Sanctus,
Sanctus Dóminus Deus Sábaoth.
Pleni sunt cæli et terra
maiestátis glóriæ tuæ.
Te gloriósus
apostolòrum chorus,
te prophetárum
laudábilis númerus,
te mártyrum candidátus
laudat exércitus.
Te per orbem terrárum
sancta confitétur Ecclésia,
Patrem imménsæ maiestátis,
venerándum tuum verum
et únicum Fílium.
Sanctum quoque
Paráclitum Spíritum.
Tu rex glóriæ, Christe.
Tu Patris sempitérnus es Filius.
Tu, ad liberándum susceptúrus hóminem,
non horrúisti Virginis úterum.
Tu, devícto mortis acúleo,
aperuísti credéntibus
regna cælórum.
Tu ad déxteram Dei sedes,
in glória Patris.
Iudex créderis esse ventúrus.
Te ergo quǽsumus,
tuis fámulis súbveni,
quos pretióso sánguine redemísti.
Ætérna fac cum sanctis tuis
in glória numerári.
Salvum fac pópulum tuum, Dómine,
et bénedic hereditáti tuæ.
Et rege eos, et extólle illos
usque in ætérnum.
Per síngulos dies benedícimus te,
et laudámus nomen tuum
in sǽculum, et in sǽculum sǽculi.
Dignáre, Dómine, die isto
sine peccáto nos custodíre.
Miserére nostri, Dómine,
miserére nostri.
Fiat misericórdia tua,
Dómine, super nos,
quemádmodum sperávimus in te.
In te, Dómine, sperávi,
non confúndar in ætérnum.

Nah, kalau sudah mulai tertarik, boleh lanjut dan baca yang berikut:

Te Deum adalah hymne atau madah syukur yang biasa dinyanyikan dalam Ibadat Bacaan, suatu bagian dari Ibadat Harian atau sholat 7 waktunya umat Katolik. Te Deum juga dinyanyikan sebagai ungkapan syukur kepada Allah atas berkat khusus atau karunia luar biasa yang kita peroleh, saat: terpilihnya paus baru, tahbisan uskup, kanonisasi santo-santa, profesi religius, penandatanganan perjanjian damai, penobatan raja (Katolik) yang baru, dan lain-lain. Te Deum bisa dinyanyikan pada akhir Misa atau Ibadat Harian, atau sebagai suatu ritual yang terpisah.

Teks madah ini mengikuti struktur Syahadat Para Rasul; gabungan dari visi puitis liturgi surgawi dan pernyataan iman. Dimulai dengan menyebut nama Allah, dan dilanjutkan dengan menyebut semua yang memuji dan memuliakan Allah, dari hirarki makhluk surgawi sampai umat beriman Kristiani yang sudah ada di surga dan Gereja yang masih mengembara di seluruh dunia. Madah ini kemudian kembali ke rumus pengakuan iman, menyebut Kristus dan mengingat kelahiran, penderitaan dan wafat-Nya, serta kebangkitan dan kemuliaan-Nya. Berikutnya disampaikan pula pujian, dari Gereja semesta dan dari sang penyanyi khususnya; permintaan belas kasihan atas dosa-dosa di masa yang lalu, mohon perlindungan dari dosa di masa depan, dan harapan untuk dapat bersatu dengan para kudus di surga.

Foto: Koor Kepausan Kapela Sistina
Akhirnya, kalau sudah yakin ingin menyanyikannya secara publik alias tidak sendirian, lalu gimana? Alternatifnya: bagi yang mendaraskan Brevir alias Ibadat Harian bersama komunitas, Madah Te Deum alias Allah Tuhan Kami ini dinyanyikan di bagian akhir Ibadat Bacaan (bdk. Ibadat Harian, hal 83/328-331), atau bisa juga, seperti praktik di Vatikan, dinyanyikan di bagian akhir Vesper I (untuk Hari Raya Santa Maria Bunda Allah). Silakan klik di link berikut untuk video (dari 31 Desember 2013: Te Deum-nya mulai di 1:03:15) dan untuk teksnya. Bagi Anda yang tidak mendoakan Ibadat Harian, bisa minta kepada Pastor Paroki agar paduan suara atau umat diijinkan menyanyikannya di Misa di malam tahun baru. Idealnya dinyanyikan sesudah saat hening pasca komuni, sebelum Doa Sesudah Komuni. Atau, kalau tidak nyaman membuat "perubahan" dalam Misa yang "biasa", nyanyikan saja 10 menit sebelum Misa. Alternatif terakhir ini rasanya tidak terlalu mengejutkan dan mungkin bisa "diterima" Pastor Paroki maupun umat yang hadir. Tinggal meminta koornya berlatih. Kalau itu pun dirasa berat, satu solis aja yang nyanyi dan diikuti (secara perlahan, sambil belajar?) oleh umat yang hadir. Untuk mendapat indulgensi penuh, rasanya ini bukan sesuatu yang teramat sulit dilakukan. Dan lagi, sungguh amat baiklah kalau kita mengucap syukur kepada Allah atas segala yang telah kita terima pada tahun yang akan berlalu. Bisa kan?

Partisipasi Aktif Mendengarkan


Misa di Vatikan: Umat Mendengarkan Bacaan (Foto: Corbis)

Konsili Vatikan II mengamanatkan partisipasi umat beriman yang penuh, sadar, dan aktif dalam perayaan-perayaan liturgi (bdk. Sacrosanctum Concilium 14-20). Pasca konsili dan sampai hari ini, partisipasi aktif pun dibahas dan diusahakan di banyak tempat.

Bicara partisipasi aktif dalam Misa, banyak orang langsung memikirkan partisipasi dalam hal menyanyi, menjawab aklamasi-aklamasi dan juga tata gerak: berdiri, berlutut, duduk, dan sebagainya. Mungkin belum banyak yang terpikir, bahwa ada bentuk partisipasi aktif lain yang tidak kalah pentingnya: mendengarkan. Bisa jadi mendengarkan adalah bentuk partisipasi aktif yang paling sulit dilakukan. Kadang lebih mudah bagi kita untuk bicara dan bergerak daripada diam dan mendengarkan.

Paus Franciscus: Hening Pasca Homili
Pesta Salib Suci 2014 (Foto: Corbis)
Hal diam dan hening. Sesungguhnya, dalam Misa ada banyak waktu di mana kita diminta untuk diam dan hening. Mari kita cermati kutipan PUMR 45 ini, “Beberapa kali dalam Misa hendaknya diadakan saat hening. Saat hening juga merupakan bagian perayaan, tetapi arti dan maksudnya berbeda-beda menurut makna bagian yang bersangkutan. Sebelum pernyataan tobat umat mawas diri, dan sesudah ajakan untuk doa pembuka umat berdoa dalam hati. Sesudah bacaan dan homili umat merenungkan sebentar amanat yang telah didengar. Sesudah komuni umat memuji Tuhan dan berdoa dalam hati. Bahkan sebelum perayaan Ekaristi, dianjurkan agar keheningan dilaksanakan dalam gereja, di sakristi, dan di area sekitar gereja, sehingga seluruh umat dapat menyiapkan diri untuk melaksanakan ibadat dengan cara yang khidmat dan tepat.” Paus Franciscus secara mencolok mengaplikasikan hal ini dalam Misa yang beliau pimpin; beliau mengadakan saat-saat hening yang masing-masing cukup panjang waktunya dan benar-benar khusyuk.

Paus Benedictus XVI: Pembacaan Injil
Natal 2009 (Foto: Corbis)
Hal partisipasi aktif mendengarkan. Banyak yang mungkin tidak sadar, bahwa sikap yang paling benar saat Sabda Allah dibacakan adalah mendengarkan dan bukan membaca sendiri dari Teks Misa atau Kitab Suci. Dengan mendengarkan, kita menunjukkan penghormatan pada Sabda Allah yang dibacakan. Pernahkah Anda nonton film, Barat atau Timur, di mana ada utusan raja yang membacakan sabda sang raja kepada sekelompok orang? Bagaimana sikap mereka saat sabda sang raja dibacakan? Ada aturan atau tradisi budaya di mana orang berlutut dengan satu kaki ditekuk; ada juga yang menundukkan kepala; atau cukup dengan berdiri berdiam saja. Yang pasti, semuanya mendengarkan dengan takzim. Nah, itu baru sabda raja, belum Sabda Allah. Kalau Anda melihat foto Paus Benedictus XVI berdiri tanpa mitra atau mahkotanya, dan memegang tongkat salibnya dengan dua tangan sambil menundukkan kepala dan memejamkan mata penuh penghayatan seperti foto di atas, hampir bisa dipastikan foto itu diambil saat beliau mendengarkan pembacaan Injil. Di Indonesia, saya pernah melihat seorang imam yang dengan sengaja memiringkan duduknya, menghadap ke arah lektor di mimbar, memperhatikan dan mendengarkannya dengan penuh hormat.

Sebagai penutup, Beato Paus Yohanes Paulus II pernah mengajarkan hal ini “... partisipasi aktif tidak menghalangi kepasifan yang aktif dari kesunyian, keheningan dan mendengarkan: sebaliknya, ia justru menuntutnya. Umat tidak pasif, misalnya, saat mendengarkan bacaan atau homili, saat menyimak doa-doa imam selebran, lagu serta musik dalam liturgi. Kesemuanya itu adalah pengalaman kesunyian dan keheningan, tetapi itu semua sungguh sangatlah aktif.” (Kutipan dari Pengarahan untuk Para Uskup Amerika Serikat saat Kunjungan Ad Limina 1998)

Catatan: Artikel ini dimuat dalam Majalah Liturgi yang diterbitkan oleh Komisi Liturgi KWI, Vol 24 No 4 - Okt-Des 2013.

Manutergium: Tradisi Indah Tahbisan Imam


Paus Franciscus tahbiskan imam (Foto: Corbis)
Tahun akademik sudah berakhir. Banyak studi yang selesai; tidak terkecuali studi para imam. Sebentar lagi akan tiba waktunya tahbisan imam di berbagai keuskupan. Ada satu tradisi kecil berkaitan dengan tahbisan imam ini, yang sungguh amat indah. Baru memikirkannya saja sudah membuat saya beberapa kali meneteskan air mata. Saya akan membaginya di bawah ini.

Tahbisan imamat merupakan puncak segala persiapan seorang pria pilihan untuk menjadi imam Kristus. "Dengan kekuatan sakramen tahbisan, dalam citra Kristus, Sang Imam Agung abadi, mereka [para imam] dikonsekrasikan untuk menyebarkan Injil, menggembalakan umat, dan merayakan ibadat ilahi sebagai imam-imam Perjanjian Baru yang sejati." (Lumen Gentium 28) Dengan itu, terbayanglah sebuah upacara tahbisan imam yang agung, yang dipimpin oleh uskup dan dihadiri oleh banyak imam dan diakon lain, plus ratusan atau bahkan ribuan umat, termasuk keluarga dan orang tua imam yang ditahbiskan.

Seturut buku-buku De Ordinatione Episcopi, Presbyterorum et Diaconorum (Hal Tahbisan Para Uskup, Imam dan Diakon) dan Caeremoniale Episcoporum (Tata Upacara Para Uskup) yang dikeluarkan Vatikan, tahbisan imamat diselenggarakan dalam sebuah Misa. Kedua buku tersebut menjelaskan tentang berbagai ritual yang harus dilakukan dan kata-kata yang harus diucapkan oleh uskup, imam yang akan ditahbiskan dan lain-lain pelayan. Memang, kedua buku ini belum ada terjemahan resminya dalam Bahasa Indonesia. Meskipun begitu, terjemahan parsialnya sudah banyak dipakai di Indonesia.

Ritual Pengurapan Tangan (Foto: www.dioceseofraleigh.org)
Salah satu ritual penting dalam tahbisan imam adalah pengurapan tangan imam baru dengan minyak [krisma suci di ritus baru, atau minyak katekumen di ritus lama yang sudah digunakan sejak sebelum Vatikan II]. Kenapa tangan yang diurapi? Karena secara khusus tangan para calon imam inilah yang hendak disucikan. Dalam Misa, Kristus hadir di tangan imam dan melalui tangan imam pulalah Kristus dibagi-bagi dan diberikan kepada umat.

Ritual pengurapan tangan ini dilaksanakan setelah imam baru dibantu mengenakan stola imam dan kasula, yang terakhir ini adalah busana terluar imam untuk Misa. Setelah mengenakan kasula untuk pertama kalinya inilah, sang imam baru berlutut sambil menadahkan kedua telapak tangan di atas pangkuan uskup yang duduk di katedra atau kursi lain di depan altar. Pada saat itu uskup akan mengambil minyak dengan ibu jarinya dan mengurapi kedua tangan imam sambil berkata, "Semoga Tuhan Yesus Kristus, yang diurapi Bapa dengan kuasa Roh Kudus, menjaga engkau dalam menguduskan umat Kristiani dan mempersembahkan kurban kepada Allah." (De Ordinatione 133)

Buku pontifikal dan tata upacara baru (= Forma Ordinaria) tidak menyebut detil cara pengurapan tangan imam. Hanya dikatakan bahwa "Berikutnya uskup menerima apron (celemek) dari linen dan mengurapi dengan krisma telapak tangan masing-masing imam yang berlutut di depannya. Uskup mengatakan, 'Semoga Tuhan Yesus Kristus ...' Kemudian uskup dan imam baru mencuci tangan mereka." (CE 535) Dalam buku pontifikal lama (= Forma Extraordinaria), dijelaskan bahwa uskup mulai dengan mengurapi ujung ibu jari kanan, lalu telunjuk kiri, lalu ibu jari kiri dan terakhir telunjuk kanan, yang keseluruhannya membentuk sebuah tanda salib, baru kemudian dilanjutkan dengan pengurapan kedua telapak tangan. Kenapa perlu ujung ibu jari dan jari telunjuk secara khusus? Karena ujung kedua jari inilah yang nantinya akan memegang Tubuh Kristus dalam Misa. Rubrik lama melanjutkan bahwa setelah diurapi, kedua tangan imam ditangkupkan oleh uskup, dan imam menerima manutergium (baca: manuterjium) atau lap tangan yang lalu diikatkan di tangannya (lihat foto di bawah ini). Lap tangan ini masih dikenakan saat masing-masing imam kembali ke uskup dan menerima (atau lebih tepatnya menyentuh) piala dan patena yang berisi anggur dan air serta roti, juga sambil berlutut. (Bdk. Pontificale Romanum 1962)

Imam baru dengan manutergium di tangan (Foto: fssp.com)
Lalu, kapan manutergium alias lap tangan ini dilepaskan ikatannya dari tangan imam? Jawabnya, setelah imam baru menerima (atau menyentuh) piala dan patena yang diberikan uskup. Imam kemudian menuju ke meja samping untuk membersihkan minyak dengan roti dan jeruk dan kemudian dengan air dan sabun. Manutergium ini kemudian disimpan oleh pelayan sampai akhir upacara.

Cerita tentang tradisi yang saya sebut di atas baru dimulai di sini. Seturut tradisi, masing-masing imam baru akan memiliki dan menggunakan manutergiumnya sendiri-sendiri. Setelah digunakan dalam Misa Tahbisannya, manutergium ini kemudian dipersembahkan kepada ibu sang imam, bisa pada akhir Misa Tahbisan atau pada Misa Syukur Perdananya. Ketika sang ibu wafat dan dibaringkan dalam peti jenazah, manutergium ini dibalutkan pada tangannya. Pada hari penghakiman nanti, pada waktunya kita semua dibangkitkan, saat Kristus bertanya kepada sang ibu, "Apa yang telah engkau lakukan bagi-Ku?" Sang ibu dapat menghunjukkan manutergium itu, "Aku telah mempersembahkan putraku, ya Tuhan."


Catatan tambahan untuk Seremoniarius:

- Mengenai ukuran manutergium, rupanya tidak ada kesepakatan di antara sumber yang saya baca. Ada yang menyebut sama dengan lap tangan yang digunakan imam saat mencuci tangan dalam Misa, sekitar 45 x 30 cm, tapi ada juga yang membuatnya 125 x 11 cm, seperti pita lebar yang panjang. Meski begitu, semuanya sepakat bahwa manutergium dibuat dari kain linen atau lenan, kain yang sama yang digunakan untuk membalut Tubuh Kristus di dalam kubur. Kain yang sama pula yang (seharusnya) digunakan untuk membuat korporal dan palla, yang bersentuhan dengan Tubuh dan Darah Kristus dalam Misa. Oh ya, manutergium yang ukuran 45 x 30 cm tadi, seturut tradisi melipat lap tangan imam, dilipat menjadi empat bagian, sehingga ukuran terlipatnya menjadi 45 x 7.5 cm. Bila dikehendaki, di atas manutergium bisa dibordir nama lengkap atau inisial imam dan/atau tanggal tahbisan, atau dibiarkan polos saja dengan satu salib kecil di salah satu ujungnya (bukan di tengah seperti purifikatorium; yang ini seturut tradisi dilipat menjadi tiga bagian dan salibnya dibordir persis di bagian tengah kain).

- Penggunaan manutergium disyaratkan oleh tahbisan imam ritus lama, yang tetap dapat digunakan sampai hari ini (Bdk. Summorum Pontificum). Meski tidak disebut detilnya dalam tahbisan imam ritus baru, manutergium tetap dapat digunakan dengan berbagai kemungkinan penyesuaian. Bila tidak dikehendaki penggunaannya seturut rubrik ritus lama (dengan diikatkan ke tangan imam baru), manutergium tetap dapat digunakan secara tidak menonjol, sebagai lap tangan biasa di meja samping. Makin banyak imam baru dan juga uskup serta seremoniarius yang mengenal dan terpikat oleh tradisi indah mempersembahkan manutergium kepada ibu imam baru, dan kembali menggunakannya dalam tahbisan imam ritus baru sekalipun.

Berikut ini adalah contoh rekaman video Misa Tahbisan Imam:
Menggunakan Forma Ordinaria
Menggunakan Forma Extraordinaria