Gregorian di Yakobus dan Sakramen Mahakudus


Musik Gregorian yang khidmat bergema di gereja-gereja Santo Yakobus di CitraRaya dan Sakramen Mahakudus (SMK) di Pagesangan, Surabaya. Ini adalah kali pertama kelompok studi dan paduan suara Schola Cantorum Surabaiensis (SCS) di bawah pimpinan Anton Tjahjoanggoro (foto atas) ini melayani misa agung di kedua gereja itu. Santo Yakobus mengundang SCS pada Hari Raya Tuhan Kita Yesus Kristus Raja Semesta Alam 23 Nov 2008 dan Sakramen Mahakudus pada Hari Minggu Adven IV 21 Des 2008.

Lagu-lagu untuk kedua misa ini diambil dari Graduale Romanum dan Graduale Simplex. Keduanya merupakan buku lagu Gregorian resmi yang digunakan Vatikan. Beberapa lagu yang umum, yaitu ordinarium termasuk Credo, PaterNoster/Bapa Kami dan aklamasi Sanctus serta lagu komuni Ubi Caritas sudah ada dalam Puji Syukur. Dalam teks misa untuk umat, lagu-lagu yang tidak ada dalam Puji Syukur disajikan dengan terjemahan Bahasa Indonesia di sampingnya, sehingga umat memahami artinya.

Seperti dituliskan dalam teks misa, partisipasi aktif yang diamanatkan oleh Konsili Vatikan II tidaklah berarti bah­wa umat harus ikut serta mengucapkan semua doa dalam misa ini dan/atau menyanyikan semua lagu dalam misa ini. Ada doa-doa yang diucapkan hanya oleh imam dan ada aklamasi-ak­lamasi yang merupakan bagian umat, termasuk aklamasi “Amin”. Ada saatnya lektor membacakan kitab suci dan umat mende­ngarkan (bukannya ikut membaca teks). Hal nyanyian, ada bagian-bagian yang dinyanyikan oleh koor dan ada pula bagian yang dinyanyikan umat. Konstitusi Liturgi Sacrosanctum Concilium mengharapkan umat bisa ikut menyanyikan ordinarium termasuk Credo, Pater Noster dan semua aklamasi, termasuk Sanctus. Di luar itu, lagu pembuka, persembahan dan komuni bisa dinyanyikan oleh koor saja. Akhirnya, diam dan khusyuk mendengarkan dan meng­hayati doa, bacaan kitab suci serta nyanyian yang dibawakan koor pun merupakan bentuk partisipasi aktif dalam misa.

Kekhidmatan misa agung ini bertambah dengan berbagai pengaturan dan penyempurnaan liturgi di bawah panduan Magister Caeremoniarum (MC) Albert Wibisono. MC dalam gereja Katolik memang menjalankan fungsi yang mirip dengan Event Organizer (EO) atau protokol dalam kehidupan sehari-hari. MC dalam gereja Katolik dituntut menguasai berbagai aturan liturgi yang rumit dan sekaligus memiliki pemahaman pastoral yang cukup. Dalam kedua misa ini, cukup banyak perubahan yang diusulkan MC dan dilaksanakan atas persetujuan pastor paroki. Mulai dari penggunaan busana misdinar, lektor dan pelayan komuni tak lazim, sampai ke peletakan kursi presiden yang lebih yang lebih sesuai dengan aturan liturgi. Bahkan cara membawa dan menggunakan wiruk serta cara berjalan dalam prosesi pun dilatih dengan seksama oleh MC. Ini semua demi tercapainya suatu upacara liturgi yang benar, indah dan bermakna.

Di Gereja Santo Yakobus, Pastor Kepala Paroki A.P Dwi Joko yang memimpin misa bersama konselebran Romo Eka Winarno menjelaskan bahwa misa agung ini diselenggarakan untuk memperkenalkan kepada umat kekayaan tradisi gereja Katolik. Di Gereja SMK, misa dipimpin oleh Romo A. Aratia Wardhana (Romo Ari-foto kiri). Pastor Kepala Paroki J.A. Sri Nugroho (Romo Nano) sendiri saat itu harus menjalankan tugas sebagai Vikep Surabaya Barat, melantik pengurus DPP Santa Maria Gresik. Meski begitu, Romo Nano sendiri lah yang memimpin rapat persiapan misa di SMK yang dihadiri oleh Romo Ari, MC Albert Wibisono dan seluruh perangkat seksi liturginya. Peran seksi liturgi paroki memang sangat vital. Di bawah pimpinan Pracoyo Sakti (Yoyok) di Yakobus dan Marbun Banjarnahor di SMK, seksi liturgi paroki sangat antusias mendukung terlaksananya misa agung ini dengan baik.

Bagaimana komentar umat? Beberapa umat Santo Yakobus menyatakan bahwa suasananya serasa di Roma, sangat khidmat, menyentuh hati dan ada pula yang berharap misa semacam diadakan secara rutin. Di Gereja SMK, F.A. Handoko Sasmito yang duduk di bangku nomor tiga dari depan terlihat sangat menghayati keikutsertaannya dalam perayaan ekaristi agung ini. Bersama putrinya, ia menyempatkan mampir ke sakristi usai misa dan menyampaikan penghargaannya kepada Romo Ari dan para pelayan misa, termasuk anggota koor.

Artikel lain yang relevan:
- Lagu Gregorian? Kuno? Bukan Jamannya?
- Download Lagu Gregorian
- Magister Caeremoniarum
- Collar Putih = Imam?

PS: Kedua foto di atas diambil oleh Samuel Pantoro; makasih ya Pak :)

Busana Imam


Anda pernah lihat busana imam di film-film barat? Jubah hitam atau kemeja hitam dengan collar warna putih? Bagus ya? Coba lihat foto para calon imam dengan paus dan Cardinal Ruini (waktu itu Vikjen Keuskupan Roma) di atas. Dulu saya sempat penasaran, kepingin tahu kenapa collar-nya bisa begitu bagus dan rapi. Belakangan saya tahu bahwa itu adalah kerah palsu yang terbuat dari plastik. Nah :)

Setelah membahas Busana Uskup di artikel yang lalu, sekarang saya ingin membahas busana sehari-hari (yang seharusnya dikenakan oleh) imam. Memang, hari gini mungkin tidak banyak lagi imam yang mau memakai jubah, kecuali imam biarawan dan beberapa yang lain. Sungguh sayang. Banyak imam bahkan tampil dengan kaos oblong saja. Nyaman memang. Mungkin umat tak tega memberitahu bahwa mereka ingin pemimpinnya tampil berwibawa, tampil sebagaimana layaknya seorang pemimpin. Saya salut benar kepada Uskup Surabaya Vincentius Sutikno Wisaksono yang menghimbau para imamnya untuk tampil dengan kemeja ber-collar putih. Setidaknya dengan demikian umat yang bertemu sang imam di jalan akan tahu beliau seorang imam, pemimpin dan junjungannya. Semoga artikel ini bisa mendorong pembaca untuk makin mengenal dan mencintai busana imam. Oh ya, kalau ada umat yang perlu menyatakan terima kasih kepada imamnya, tidak ada salahnya memberi busana imam kan? Daripada mengajak makan terus? He3 :)

Pada dasarnya, busana sehari-hari imam ya adalah jubah setakat mata kaki. Sama seperti paus, kardinal dan uskup, imam juga harusnya sehari-hari tampil berjubah. Nah, sekarang kita bicara soal warna. Putih dipakai paus, merah kardinal, ungu uskup dan imam mestinya pakai warna hitam. Ini warna jubah resmi untuk keperluan liturgi ya. Kalau untuk sehari-hari, kardinal dan uskup boleh memakai warna hitam dengan aksen merah atau bahkan hitam polos. Lengkapnya silakan baca di artikel saya Busana Uskup. Kalau di Indonesia kita melihat jubah uskup atau imam berwarna putih, itu lebih karena pertimbangan iklim. Warna hitam di iklim tropis ini mungkin dianggap terlalu panas. Maka, putih juga tidak apa-apa. Nuncio (Duta Besar Vatikan) untuk Indonesia, saat ini Uskup Agung Leopoldo Girelli, juga pakai jubah warna putih dengan aksen merah. Oh ya, saya belum pernah lihat foto Nuncio tampil tanpa jubahnya, meski saya yakin beliau juga kepanasan di sini, he3, peace :)


Nah, mari kita mulai dengan collar yang dipakai para seminaris di foto di atas tadi. Seperti yang sudah saya bilang, collar ini terbuat dari plastik. Detailnya ada di dua foto di atas. Foto pertama adalah collar dalam keadaan terkancing, dengan sisi depan (sisi yang terlihat dari depan saat dipakai) ada di bawah. Di foto kedua, sisi belakang yang ada di bawah. Silakan klik di masing-masing foto untuk memperbesar.


Dua foto di atas ini menunjukkan collar dalam keadaan terbuka (tidak terkancing). Di foto pertama, sisi dalam (sisi yang bersentuhan dengan leher pemakai, berlubang-lubang untuk ventilasi) terlihat di bagian bawah. Di foto kedua, sisi luar yang ada di bagian bawah. Perhatikan dua lubang kecil di bagian ujungnya. Itu untuk menyatukan kedua ujung collar dengan kancing.


Nah, foto di atas ini adalah kancing yang digunakan untuk menyatukan kedua ujung collar tadi, setelah dilingkarkan di leher pemakai tentunya. Kelima kancing di sebelah kiri itu sama semua modelnya. Sengaja saya foto dengan berbagai macam posisi, supaya Anda bisa bayangkan gimana cara memakainya. Dua kancing di sebelah kanan adalah model lain, yang menurut saya pribadi lebih susah memakainya. Nah, sekarang jadi tahu rahasia collar putih ya? Oh ya, collar macam di atas ini disebut Roman collar, karena asal-muasalnya dari Roma.

Collar putih ini memang terbuat dari plastik, dengan begitu mudah dibersihkan dari keringat dan kotoran. Ia juga berfungsi melindungi kerah jubah/kemeja dari kontak langsung dengan leher pemakai, supaya kerah jubah/kemeja tidak cepat kotor dan jubah/kemeja bisa dipakai beberapa kali. Pemakaian collar putih bukan monopoli imam. Sama halnya dengan pemakaian jubah yang juga bukan monopoli imam (misdinar pakai jubah juga kan?). Collar putih hanyalah pelengkap jubah. Collar putih tidak memiliki makna simbolis apapun, beda dengan stola yang menjadi identitas pelayan tertahbis (imam atau diakon) atau salib pektoral yang menjadi identitas uskup. Satu hal, misdinar, anggota koor dan pelayan lain tidak pakai jubah dan collar putih di luar kegiatan liturgi. Kalau mau, silakan baca artikel saya Collar Putih = Imam?

Berikutnya kita bahas jubahnya. Kita mulai dengan apa yang tidak terlihat. Sebelum memakai jubah, biasanya imam mengenakan kemeja putih lengan panjang dengan kerah Cina, seperti terlihat di bawah ini.


Kerahnya memang lebih pendek dari kerah Cina pada umumnya, lebarnya hanya 2.5 cm. Kemeja lengan panjang ini biasanya pakai French cuff di ujung lengannya, disatukan dengan manset dan tampak indah waktu menyembul dari bagian lengan jubah. Jadinya nanti sama seperti ujung lengan kemeja panjang biasa, yang menyembul dari jas yang dipakai seorang awam.

Nah, kemeja putih ini bisa langsung dipasangin Roman collar seperti tampak di bawah,


atau ditambah sepotong kain hitam seperti di bawah ini.


Ini model kain hitamnya, ada bagian yang bisa dijepitkan di collar.


Nah, sesudah itu semua baru jubahnya dipakai di atas hem ber-collar tadi. Bagus ya jadinya?


Sepotong kain hitam tadi bertugas menutup celah yang mungkin timbul di antara bagian bawah collar putih dan bagian kerung leher jubah hitam, supaya kemeja putihnya tidak terlihat dari luar. Agak susah membayangkannya ya? Nggak kelihatan sih di foto. Banyak lagi detil yang lain tentang jubahnya, yang nggak akan saya jelaskan di sini. Kalau pengin tahu juga silakan kontak saya langsung lah.

Mari kita agak realistis sekarang. Seandainya toh imam belum mau pakai jubah (lagi) setiap hari, setidaknya mungkin imam mau pakai kemeja dengan collar seperti di bawah ini. Yang berikut ini contoh round collar, yang mungkin belum ada di Indonesia. Hampir mirip dengan Roman collar, tapi yang ini cuman selapis plastiknya, bukan dua seperti Roman collar.




Collar yang berikut ini paling sederhana dan paling gampang dibikin. Sudah banyak imam yang pakai ini di Indonesia. Yang ini namanya slip collar. Collar plastiknya yang berukuran lebar 3 cm tinggal diselipkan di kerah aja. Memang nggak seindah yang Roman collar atau round collar, tapi lumayan lah. Ini sangat praktis dan mudah dipakai.




Semua collar ini adalah bagian dari tradisi gereja Katolik yang sudah berabad-abad umurnya. Sayang sekali, saat ini mungkin lebih banyak pendeta Protestan yang memakainya daripada imam Katolik. Sampai-sampai ada seorang pendeta 
Protestan yang begitu gemas dan mengingatkan koleganya agar tidak memakai simbol-simbol Roma yang harusnya mereka jauhi. Kalau ada waktu, bolehlah baca artikel The Roman Catholic Priest Collar and the Uniform of Rome's Sons ini. Ada lagi artikel yang bagus sekali dari dua orang imam Katolik dari Amerika, Why a Priest Should Wear His Roman Collar. Yang terakhir ini sangat layak untuk dibaca. Jangan dilewatkan. Mari kita lestarikan tradisi ini dengan benar, sebelum dilestarikan dan diklaim oleh pihak lain. Saya agak kawatir, suatu saat nanti mungkin lagu Gregorian akan lebih banyak dinyanyikan di gereja-gereja Protestan. Saya pernah lihat poster konser Gregorian oleh Paduan Suara Protestan. Nah lu :)

Saya mempelajari ini semua dengan maksud ingin berbagi di Indonesia. Saya akan senang sekali kalau ada yang mau belajar. Di Surabaya ada dua penjahit busana gereja yang mau belajar cara membuat jubah dan lain-lain busana gereja dengan benar dan indah. Ada Bu Yulia dari Lebak Arum yang sudah melayani puluhan uskup plus ratusan imam dari seluruh penjuru Indonesia. Ada juga Bu Patricia dari CitraRaya yang sudah bisa membikin alba model Roma yang indah plus singel-nya, dengan biaya nggak lebih dari Rp 180.000. Siapa bilang benar dan indah harus mahal?

Download Lagu Gregorian

Banyak pengunjung blog ini yang diarahkan Google waktu nyari "download lagu Gregorian" atau "download partitur lagu Gregorian". Saya akan tunjukkan tempatnya di akhir artikel. Di situ, selain ada partitur dalam format jpeg, juga ada mp3-nya. Lengkap sudah, nggak usah nyari ke mana-mana lagi. Tapi, sebelum kita ke sana, rasanya lebih baik menyamakan persepsi dulu tentang apa yang dicari, supaya nggak kecewa. Buat yang sudah 100% yakin dan malas baca tulisan saya yang panjang lebar ini, he3, boleh aja langsung ke bagian bawah artikel ini.

Terus terang, saya nggak menduga bahwa ternyata banyak yang nyari lagu Gregorian. Yang ke blog ini aja sudah hampir lengkap dari seluruh Indonesia. Ini yang saya dapat dari hasil pantauan pengunjung blog lewat Sitemeter. Ada dari Medan sampai Papua (saya lupa kotanya). Terus, ada dari Pontianak, Balikpapan dan Samarinda, plus Manado dan Makassar. Memang, kebanyakan masih dari kota-kota besar di pulau Jawa, Jakarta, Surabaya dan Semarang. Semuanya pada nyari lagu Gregorian. Saya agak kawatir bahwa sebenarnya yang dicari adalah lagu dalam bahasa Latin, bukan betul-betul lagu Gregorian. Nah, buat yang belum mantap, mungkin ada baiknya Anda baca artikel saya Lagu Latin = Lagu Gregorian? Kalau Anda pimpinan paduan suara yang nyari lagu komuni empat suara dalam bahasa Latin, maaf, bukan itu yang nanti akan saya tunjukkan.

Kalau memang sudah mantap lagu Gregorian yang dicari dan bukan sekedar lagu dalam bahasa Latin, yuk kita lanjutkan. Pertanyaan berikutnya, untuk keperluan apa? Misa kudus? Sip, kalau itu yang dicari, jawabnya gampang. Ada bukunya, namanya Graduale Romanum (klik di link ini kalau mau tahu detail isinya). Ini adalah Puji Syukurnya lagu Gregorian. Ini buku pegangan anggota koor Gregorian. Kalau Puji Syukur ada edisi yang untuk koor, dengan 3 atau 4 suara, Graduale Romanum enggak ada yang begitu, karena memang lagunya monofoni alias cuman satu suara. Buat koor Gregorian yang serius dan sudah canggih, ada yang namanya Graduale Triplex. Buku ini sama persis dengan Graduale Romanum, cuman bedanya yang ini ada interpretasinya, detail cara menyanyikan lagunya. Melengkapi Graduale Romanum ini adalah buku iringan, untuk pemain organ. Kalau Graduale Romanum dan Graduale Triplex ukurannya kira-kira setengah kertas A4 dan tebalnya 3.5 cm (hard cover), buku iringannya kira-kira sebesar A4. Total ada tiga buku iringan, masing-masing 1.5 cm tebalnya. Buku iringan ini, seperti yang diharapkan, pakai not balok biasa. Para pemain organ akan bisa menggunakannya dengan tanpa kesulitan. Nah, Graduale Romanum dan Graduale Triplex, seperti sudah diduga, pakai not balok kotak-kotak dengan empat garis (bukan lima garis seperti not balok modern). Jangan patah semangat dulu. Saya nggak bisa baca not balok biasa, tapi saya bisa baca not balok Gregorian. Gampang kok belajarnya. Kalau mau, boleh baca artikel saya Belajar Baca Notasi Gregorian. Sebulan dua bulan membiasakan baca not Gregorian, saya jamin Anda akan mengerti kelebihannya daripada not angka yang biasa kita pakai. Sangat mungkin Anda nggak mau lagi baca partitur lagu Gregorian dengan not angka. Oh ya, masih ada satu buku lagi, namanya Graduale Simplex (klik di link ini kalau mau tahu detail isinya). Sesuai namanya, yang ini lagu-lagunya lebih simple, lebih mudah dipelajari dan lebih cocok untuk dinyanyikan bersama umat. Di sampulnya ditulis "in usum minorum ecclesiarum", buat dipakai di gereja-gereja yang kecil. Asumsinya, di gereja-gereja yang kecil koornya belum terlalu canggih.

Semua buku yang saya sebut di atas bisa dibeli lewat internet. Bisa dari situs CanticaNova atau GIA Music (coba klik di link yang terakhir ini, hampir semua buku standar Gregorian ada di sini lengkap dengan fotonya). Oh, mungkin ada yang pernah dengar buku lain yang namanya Liber Usualis. Itu buku yang dipakai sebelum Konsili Vatikan II. Sekarang yang dipakai ya Graduale Romanum itu.

Sekarang kita kembali ke Graduale Romanum. Dengan buku ini, kita hampir nggak perlu bingung milih lagu, karena semuanya sudah ditentukan. Mulai dari lagu pembukaan untuk Adven Minggu Pertama sampai lagu komuni untuk hari Minggu terakhir dalam tahun liturgi, yaitu Hari Raya Tuhan Kita Yesus Kristus Raja Semesta Alam, semuanya sudah ditentukan lagunya. Untuk tiap-tiap misanya, akan bisa Anda temukan lagu pembuka (introitum), mazmur tanggapan (gradualia), alleluia, lagu persembahan (offertorium) dan lagu komuni (communionem). Sebagai contohnya, untuk Hari Raya Tuhan Kita Yesus Kristus Raja Semesta Alam, lagu pembukaannya adalah Dignus et Agnus, mazmurnya Dominabitur, alleluianya Potestas eius, lagu persembahannya Postula a me dan lagu komuninya Sedebit Dominus Rex atau Amen dico vobis (khusus untuk Tahun A). Nah, gampang bukan? Nggak usah milih-milih lagu. Sudah dipilihkan dan teksnya dijamin cocok dengan bacaan-bacaan pada hari itu. Coba klik di link berikut ke situs MusicaSacra ini untuk daftar lengkapnya. Kalau Anda perhatikan teks misa mingguan yang biasa kita temukan di gereja, pasti ada antifon pembuka, persembahan dan komuni. Biasanya itu adalah terjemahan bahasa Indonesia dari teks lagu Gregorian yang dipakai hari itu. Oh ya, di Graduale Romanum, Triplex maupun Simplex Anda nggak akan menemukan lagu penutup. Dalam ritus Romawi memang tidak dikenal adanya lagu penutup. Biasanya organ pipa dimainkan saat imam dan pelayan-pelayan meninggalkan panti imam kembali ke sakristi.

Sekarang saatnya saya tunjukkan di mana bisa download gratis partitur lagu Gregorian dan mp3-nya. Dengan begini nggak harus beli buku Graduale Romanum dulu supaya bisa nyanyi lagu Gregorian. Coba mampir ke halaman Gregoriant Chant - All Masses of the Liturgical Year di website bikinan Luis Henrique Camargo Quiroz ini. Semua lagu Gregorian yang Anda butuhkan untuk misa kudus selama satu tahun liturgi ada di sana. Lihat-lihatlah situs itu, Anda bisa temukan juga macam-macam lagu Gregorian untuk keperluan di luar misa kudus. Klik di link berikut untuk segala macam Ordinarium. Anda bisa temukan Missa I - Lux et origo (Masa Paskah, Puji Syukur 340 dst.), Missa XVII (Masa Adven dan Prapaska, Puji Syukur 339 dst.), Missa VIII - De Angelis (Hari Raya, Puji Syukur 342 dst.). Klik di link berikut untuk Lagu-Lagu Lain, yang mungkin sudah lebih akrab di telinga banyak orang, mulai dari Ave Maria (PS 625) sampai Tantum Ergo (PS 558) dan Te Deum (PS 669). Nah, baru kerasa bahwa di Puji Syukur pun ada banyak sekali lagu Gregorian, he3.

Sudah ah, saya berhenti dulu, selamat bereksplorasi. Kalau ada yang perlu ditanyakan, silakan tinggalkan komentar lewat link di bawah. Saya akan jawab secepat dan sebisa saya.

Busana Uskup


Pernahkah terlintas dalam pikiran Anda, siapa penjahit yang membuat jubah yang dipakai paus? Di Roma, di sebuah jalan kecil beberapa meter dari Gereja Santa Maria Sopra Minerva dekat Pantheon, ada sebuah toko kecil dengan papan nama bertuliskan Gammarelli, Sartoria Per Ecclesiastici. Sejak didirikan oleh Antonio Gammarelli pada tahun 1798, turun-temurun keluarga Gammarelli telah menjadi langganan para paus, dengan pengecualian Paus Pius XII (1939-1958) dan Paus Benediktus XVI. Paus Pius XII memilih menggunakan penjahit langganan keluarganya dan Paus Benediktus XVI tetap menggunakan penjahit yang sama yang telah melayaninya selama lebih dari 20 tahun.

Ada beberapa penjahit busana gereja di Roma, mulai dari EuroClero yang berlokasi di seberang Lapangan Santo Petrus, Barbiconi yang melayani order lewat internet, sampai ke Gammarelli yang terlihat sederhana namun bertabur bintang. Para penjahit ini bersuara satu saat bicara mengenai jubah klerus dan khususnya petinggi gereja. Semuanya taat pada aturan yang dikeluarkan Vatikan, termasuk Ut Sive Sollicite (Instruksi Sekretariat Negara Tentang Busana, Gelar dan Lambang Kardinal, Uskup serta Prelat Minor Lain) dan Caeremoniale Episcoporum (Ceremonial of Bishops atau Tata Upacara Para Uskup).

Gereja katolik memiliki tradisi busana yang indah dan sarat dengan makna simbolis. Sayangnya, tidak banyak orang yang tertarik mempelajari tradisi ini, yang sudah ratusan tahun umurnya. Artikel ini memang berjudul Busana Uskup, tapi apa yang akan saya sampaikan di sini dapat berguna bagi semua pihak, mulai dari uskup, imam, diakon sampai misdinar dan koster serta petugas liturgi lainnya.

Tradisi mengatur busana klerus dan petinggi gereja telah dimulai berabad-abad yang lalu. Aturan terakhir yang dikeluarkan pasca-Konsili Vatikan II menyederhanakan berbagai kemewahan yang dulunya ada. Sayangnya, dalam banyak kasus, penyederhanaan yang diamanatkan oleh para Bapa Konsili sering disalahtafsirkan. Keagungan dalam kesederhanaan (noble simplicity, nobili simplicitate) yang diamanatkan oleh Konstitusi Liturgi Sacrosanctum Concilium seringkali lalu menjadi kesederhanaan saja tanpa keagungan. Busana klerus pun menjadi sederhana dan tanpa keagungan yang harusnya nampak dari seorang pemimpin umat. Dari jubah lengkap dengan biretta menjadi hem batik dan bahkan kaos polo dengan topi baseball. Kita lupa, bahwa sungguhpun umat menghargai pemimpin yang bersahaja, umat juga rindu melihat pemimpinnya tampil sebagai pemimpin. Memang, negeri kita ini panas. Tapi jangan lupa, cuaca di kota Roma bisa jauh lebih panas dari Indonesia beberapa bulan dalam setahunnya, waktu musim panas. Kita toh tidak pernah melihat paus tampil tanpa jubah putihnya.

Mari kita masuk lebih dalam mengenai busana uskup. Aturan Vatikan yang berlaku sekarang pada dasarnya membagi membagi busana uskup menjadi 3 macam, busana liturgis, busana resmi dan busana sehari-hari.

Busana Liturgis (Choir Dress-Habitus Choralis)

Busana uskup untuk upacara liturgi gereja, di dalam dan di luar wilayah keuskupannya, adalah: jubah ungu setakat mata kaki; sabuk sutera ungu; rochet dari linen atau bahan sejenis (warna putih); mozeta (mantol kecil yang menutup pundak, dengan kancing di bagian depan) ungu; salib pektoral (salib dada) dengan tali anyaman warna hijau-emas (bukan dengan rantai); pileola (topi kecil yang juga dikenal dengan nama solideo) ungu; bireta (topi segi empat dengan pom) ungu; dan stocking/kaos kaki ungu. Foto di atas adalah Uskup Robert Vasa dari Baker, Oregon, USA, yang mengenakan busana liturgi lengkap. Yang tidak kelihatan hanya sabuk sutera dan kaos kaki ungu beliau.

Cappa magna (mantol kebesaran) ungu, tanpa bulu ermine, boleh dikenakan hanya di dalam wilayah keuskupan dan untuk perayaan-perayaan yang bersifat lebih agung. Uskup senantiasa mengenakan cincin, simbol kesetiaannya pada dan ikatan sucinya dengan Gereja, pengantinnya.

Gambar di sebelah kiri adalah detail dari jubah liturgis uskup warna ungu dengan mozeta dalam keadaan terpasang. Gambar di sebelah kanan adalah rochet, yang mirip dengan superpli namun berlengan sempit dan biasanya diberi pelapis sutera warna merah di bagian dalam lengan bawah. Rochet selalu dikenakan di atas jubah dan sabuk sutera ungu dan di bawah mozeta ungu, seperti tampak pada foto Uskup Robert Vasa di atas.

Uskup mengenakan busana di atas saat ia bepergian secara resmi ke atau dari suatu gereja, saat ia hadir pada suatu upacara liturgi (termasuk misa kudus dan berbagai pemberkatan) tapi tidak memimpinnya, dan pada saat lain yang ditentukan dalam Caeremoniale Episcoporum. Saat akan memimpin misa, Uskup yang tiba di gereja dengan busana liturgis di atas akan melepaskan cappa magna (bila dikenakan), salib pektoral, mozeta dan rochet, dan kemudian mengenakan amik, alba, singel, salib pektoral dengan tali anyaman warna hijau-emas, stola, dalmatik pontifikal (untuk misa agung) dan kasula serta pallium (khusus untuk metropolitan/uskup agung).

Busana Resmi (Untuk Acara Resmi Non-Liturgis)

Busana uskup untuk acara resmi non-liturgis adalah: jubah hitam setakat mata kaki dengan berbagai aksen merah (bukan ungu) di bagian tepi kain dan lubang kancing; paliola (mantol kecil yang menutup pundak, terbuka dan tanpa kancing di bagian depan) hitam dengan aksen merah (mantol ini opsional, boleh dikenakan boleh tidak); sabuk sutera ungu; salib pektoral dengan rantai; pileola ungu; collare ungu; stocking/kaos kaki ungu (kaos kaki ungu ini juga opsional). (lihat gambar)

Di daerah tropis, jubah dan paliola warna hitam dengan aksen merah ini sering diganti dengan putih atau krem muda dengan aksen merah. Ini praktik yang kita temui di Indonesia, di antaranya. Yang jelas, uskup dari negara tropis yang berkunjung ke Roma sebaiknya tidak mengenakan jubah warna putih, yang secara tradisi merupakan privilese paus. Catatan: menurut tradisi gereja katolik jubah warna hitam polos adalah untuk imam, ungu untuk uskup, merah untuk kardinal dan putih untuk paus.

Petasus (topi bertepi lebar) hitam, bila perlu, dapat ditambah dengan tali hijau. Ferraiolo (mantol panjang) dari sutera ungu hanya digunakan untuk acara-acara yang lebih resmi, misalnya wisuda di universitas katolik yang biasanya juga dihadiri uskup, berbagai acara kenegaraan dan lain-lain acara resmi non-liturgis. Jas/jaket panjang hitam biasa, yang dilengkapi penutup kepala sekalipun, boleh digunakan di atas busana resmi ini bila cuaca dingin mengharuskan.

Busana Sehari-hari

Busana uskup untuk keperluan sehari-hari adalah: jubah hitam polos setakat mata kaki (tanpa aksen merah); sabuk sutera ungu; salib pektoral dengan rantai; pileola ungu (opsional); collare ungu (opsional); stocking/kaos kaki hitam. Uskup yang berasal dari tarekat religius dapat mengenakan jubah institusinya. Cincin selalu dikenakan.

Mitra dan Tongkat Gembala

Mitra dan tongkat dapat dikenakan uskup pada berbagai upacara liturgi yang penting.

Pada prinsipnya mitra dikenakan uskup: saat duduk; saat menyampaikan homili; saat menyambut atau menyapa umat; saat berbicara kepada umat; saat menyampaikan ajakan untuk berdoa, kecuali bila sesaat sesudahnya ia harus melepasnya (untuk doa-doa tertentu); saat memberikan berkat meriah kepada umat; saat menerimakan sakramen; dan saat berjalan dalam prosesi.

Uskup tidak mengenakan mitra: selama ritus pembuka, doa pembuka, doa persembahan, dan doa sesudah komuni; selama doa umat, doa syukur agung, pembacaan injil, nyanyian yang dilagukan sambil berdiri, prosesi sakramen mahakudus; juga saat sakramen mahakudus ditakhtakan. Uskup tidak perlu menggunakan mitra dan tongkat saat ia berjalan dari satu tempat ke tempat lain yang dekat. Untuk mudahnya, mitra bisa dianalogikan dengan mahkota seorang raja. Raja akan mengenakan mahkotanya saat berhadapan dengan rakyat, tapi tidak saat berhadapan dengan Tuhan (saat berdoa, memimpin doa atau saat Tuhan hadir dalam rupa sakramen mahakudus).

Uskup selalu memegang tongkat dengan tangan kiri (dengan bagian yang melengkung menghadap ke umat) dan memberkati dengan tangan kanan.

Pileola, Mitra dan Tongkat dalam Perayaan Ekaristi

Pileola (topi kecil atau solideo) ungu senantiasa dikenakan uskup dalam berbagai acara liturgis, termasuk misa. Dalam misa, pileola hanya dilepas sesaat sebelum prefasi dimulai dan dikenakan kembali saat uskup duduk setelah komuni selesai.

Dalam misa, mitra dan tongkat mulai dikenakan di sakristi, setelah selesai mengenakan kasula dan pileola. Pada akhir prosesi masuk gereja, sesampainya di panti imam, tongkat diserahkan dan mitra dilepas, kemudian uskup memberikan penghormatan kepada sakramen mahakudus (bila ada, dengan berkutut) dan/atau altar (dengan membungkuk dalam), serta mencium altar bersama-sama dengan diakon (atau imam) yang mendampinginya.

Pada prinsipnya, mitra dipasang dan dilepas oleh diakon (atau imam) yang berada di sebelah kanan uskup, sementara tongkat diserahkan dan diambil oleh diakon (atau imam) yang berada di sebelah kiri uskup. Pada umumnya pileola dipasang dan dilepas oleh diakon (atau imam atau sekretaris pribadi uskup) yang berada di sebelah kiri belakangnya. Magister caeremoniarum dapat melaksanakan semua ini, bila dikehendaki. Diakon, imam, atau magister caeremoniarum, menerima/menyerahkan pileola, mitra dan tongkat dari/kepada misdinar yang mengenakan vimpa.

Mayoritas imam atau diakon biasanya segan memasang dan melepas mitra dan pileola ini, karena menyangkut kepala uskup. Uskup pun mungkin merasa bisa melakukannya sendiri. Akan tetapi, ya beginilah seharusnya seorang pemimpin, dilayani oleh para pembantunya, setidaknya, saat upacara liturgi atau acara resmi lain di depan umum. Ini masalah kebiasaan saja sebenarnya, bukan soal tidak ingin dilayani. Uskup atau imam yang cuci tangan sebelum konsekrasi juga dilayani oleh misdinar, meski sebenarnya mereka bisa saja datang ke meja samping dan cuci tangan sendiri.

Setelah membaca ini semua, apa yang dapat dipetik oleh pembaca yang bukan uskup atau pembantu uskup? Ini sekedar contoh saja. Makin banyak pelayan komuni tak lazim yang mengenakan alba dan singel, kemudian juga mengenakan salib dada. Nah, salib dada ini menurut tradisi gereja katolik hanya dikenakan oleh uskup. Lagi, di banyak gereja kita melihat misdinar mengenakan jubah, superpli dan mantol kecil penutup pundak yang mirip paliola atau mozeta. Nah, itu juga asesori yang hanya dipakai oleh uskup. Monsignor (pejabat tinggi gereja) yang bukan uskup pun tidak mengenakan salib dada dan paliola atau mozeta. Ini semua ada di aturan detil yang dikeluarkan Vatikan. Semoga dengan membaca artikel ini, banyak pengetahuan baru yang didapat dan bisa dipakai untuk membetulkan praktik-praktik yang kurang pas selama ini.

Catatan: Artikel ini dimuat dalam Majalah Liturgi yang diterbitkan oleh Komisi Liturgi KWI, Vol 20 No 1 - Jan-Feb 2009.

Catatan: Saya punya versi lain dari tulisan ini, berjudul Panduan Praktis Busana Uskup, lengkap dengan foto tentunya. Juga, saya pernah buat Panduan Praktis Pemakaian Mitra dan Tongkat dalam Misa Kudus. Kedua panduan ini saya bikin untuk Uskup Surabaya Vincentius Sutikno Wisaksono, gembala saya. Dengan senang hati akan saya kirimkan kepada uskup lain atau siapapun yang berminat. Silakan kontak saya di tradisi.katolik[at]gmail.com.

Ziarah Uskup Surabaya di Roma


Sejak tanggal 26 Agustus 2008 yang lalu, Uskup Surabaya Msgr. Vincentius Sutikno Wisaksono berziarah ke beberapa tempat di Eropa Barat, termasuk Lourdes, Asisi dan Roma. Berikut ini adalah penggalan cerita perjalanannya, khusus mengenai ziarah di Roma.

Setahun telah lewat sejak Msgr. Vincentius Sutikno Wisaksono ditahbiskan menjadi gembala Keuskupan Surabaya. Sebagai uskup baru, Msgr. Sutikno diundang untuk mengikuti “Kursus Uskup” yang dihelat oleh Kongregasi Penyebaran Iman, atau yang lebih dikenal dengan nama lamanya, Kongregasi Propaganda Fide. Kursus ini berlangsung di Collegio San Paolo di Roma, pada tanggal 7-20 September 2008. Kesempatan berkunjung ke Roma ini sekaligus dimanfaatkan oleh Msgr. Sutikno untuk berziarah ke beberapa Basilika Kepausan dan makam para rasul yang ada di kota Roma.

Uskup Sutikno bersama Pastor YPH Jelantik dan rombongan peziarah dari Yayasan Unika Widya Mandala tiba di Roma dari Asisi pada hari Selasa malam 2 September 2008. Sengaja perjalanan ziarah ke Lourdes, Asisi dan Roma ini diakhiri di kota Roma beberapa hari sebelum kursus uskup dimulai, sehingga uskup mempunyai waktu beberapa hari untuk berziarah di Roma secara pribadi.

Tiba dengan bus dari Asisi, rombongan uskup dan peziarah dari Surabaya menginap di bagian selatan kota Roma, sekitar 30 km dari Vatikan. Esok paginya, Rabu 3 September 2008, rombongan naik bus menuju Vatikan untuk audiensi umum dengan Paus Benediktus XVI. Hari Rabu memang adalah hari yang dijadwalkan untuk audiensi umum dengan paus. Manakala tidak sedang bepergian, paus akan menemui para peziarah di Vatikan setiap hari Rabu, pukul 10:30-12:00. Tempatnya bisa di Lapangan Santo Petrus atau di dalam Aula Paulus VI di dekatnya, bila cuaca tidak memungkinkan.

Hari Rabu itu, sejak pukul 8:30 pagi ribuan peziarah sudah berkumpul di samping Lapangan Santo Petrus. Mereka mengantri untuk masuk ke dalam Aula Paulus VI tempat audiensi umum kali ini. Tiket masuk untuk audiensi ini dapat diambil sehari sebelumnya di Perfektur Rumah Tangga Kepausan di Vatikan. Tiket ini gratis dan siapapun boleh memintanya. Rombongan tour biasanya memesan tiket beberapa minggu di depan, tetapi pengambilan tetap harus dilakukan pada sore hari sebelumnya. Rombongan dari Surabaya ini cukup beruntung mendapatkan tiket “Reparto Speciale”. Dengan tiket khusus ini rombongan mendapat tempat di bagian depan, sehingga dapat melihat paus dengan lebih jelas dibandingkan bila duduk di bagian belakang. Uskup sendiri memilih untuk duduk bersama rombongan dan tidak berada di panggung, di dekat paus, bersama para uskup lainnya yang hadir dalam acara ini. Memang, Msgr. Sutikno akan bertemu paus juga nantinya, pada akhir kursus uskup yang diikutinya.


Tepat pukul 10:30 paus masuk ke dalam aula dengan disambut tepuk tangan meriah dari semua yang hadir. Bapa Suci kemudian duduk di kursinya dan memulai audiensi ini dengan mengajak semua yang hadir membuat tanda salib. Mendampingi paus di sebelah kiri dan kanannya adalah Uskup Agung James Michael Harvey, Kepala Rumah Tangga Kepausan, dan Monsignor Georg Gaenswein, Sekretaris Pribadinya. Seperti biasanya, audiensi diawali dengan bacaan kitab suci dan kemudian dilanjutkan dengan perkenalan dengan rombongan peziarah yang sudah mendaftarkan diri sebelumnya. Biasanya rombongan diperkenalkan satu persatu, sesuai bahasa ibunya, dengan dibatasi enam bahasa: Prancis, Inggris, Spanyol, Jerman, Polandia dan Italia. Pada saat diperkenalkan, biasanya anggota rombongan berdiri dari tempat duduknya. Ada yang bertepuk tangan, meneriakkan yel-yel, menyanyi dan ada juga yang bermain musik. Pada bagian ini suasananya gembira dan meriah. Mendekati pukul 12:00, audiensi diakhiri dengan doa Bapa Kami dalam bahasa Latin (Pater Noster). Paus kemudian memberkati semua yang hadir, juga dalam bahasa Latin.

Usai audiensi, rombongan dari Surabaya kemudian pergi makan siang di restoran Italia di dekat Vatikan. Bergabung juga dalam audiensi dan makan siang ini dua orang imam Keuskupan Surabaya yang sedang studi di Roma, Pastor Widya dan Pastor Pratisto. Setelah makan siang, masih bersama rombongan, uskup kemudian memasuki Basilika Santo Petrus. Tujuan pertama adalah makam para paus di grotto di bagian bawah basilika. Di sana uskup berdoa di makam beberapa paus, termasuk Paus Yohanes Paulus II. Bagian terakhir yang dikunjungi adalah makam Santo Petrus. Di sini uskup berdoa cukup lama, sebelum akhirnya bersama rombongan naik ke dalam basilika dan menikmati keindahannya. Di dalam basilika, uskup masih juga menyempatkan berdoa di beberapa tempat, termasuk di tiga altar khusus, di mana tubuh yang masih utuh dari paus-paus Beato Innocentius XI, Santo Pius X dan Beato Yohanes XXIII diperlihatkan dalam peti kaca. Selesai menikmati keindahan dan berdoa di dalam basilika, uskup kemudian memisahkan diri dari rombongan dan mulai tinggal di dekat Vatikan, di suatu tempat bekas biara bernama Residenza Madri Pie. Penginapan yang dikelola para suster ini sangat dekat dengan Lapangan Santo Petrus, hanya 5 menit berjalan kaki.

Sore harinya, uskup diantar mengunjungi Gammarelli, penjahit jubah langganan para paus dan pejabat gereja katolik lainnya. Di sana beliau diambil ukurannya untuk pembuatan jubah warna ungu untuk upacara liturgi dan jubah warna hitam untuk acara resmi non-liturgis. Juga, uskup membawa pulang beberapa asesoris untuk busana uskup sesuai dengan aturan tata busana uskup yang dikeluarkan oleh Vatikan. Maximilliano Gammarelli yang melayani Uskup Sutikno menjanjikan jubah-jubah untuknya akan selesai dalam waktu sekitar 9 bulan. Gammarelli turun-temurun memang adalah keluarga penjahit yang sudah melayani beberapa paus dan tentunya ratusan kardinal serta ribuan uskup, monsignor dan juga imam biasa. Aturan Vatikan untuk tata busana uskup yang rinci dan rumit semuanya dipatuhi oleh Gammarelli, demi melestarikan tradisi indah gereja katolik. Memang, sejak Konsili Vatikan II sudah banyak penyederhanaan untuk tata busana uskup gereja katolik ritus Latin, namun penyederhanaan ini tidak mengurangi keagungan yang tetap diamanatkan oleh konsili ini. Jubah dan asesoris yang dipesan beberapa orang umat untuk Uskup Sutikno ini nantinya diharapkan dapat menjadi contoh untuk penjahit di Indonesia, agar bikinan Indonesia pun dapat memenuhi aturan resmi Vatikan yang bersifat universal.

Dari Gammarelli, uskup mampir ke Gereja Santa Maria ad Martyres yang lebih dikenal dengan nama Pantheon. Awalnya, Pantheon ini adalah kuil yang dibangun oleh Marcus Agrippa, menantu Kaisar Romawi Augustus, pada tahun 27-25 SM. Pada tahun 609 Paus Bonifasius IV mengkonsekrasikan Pantheon sebagai gereja. Dalam gereja ini terdapat beberapa makam penting, di antaranya makam pelukis besar Raphael yang karyanya menghiasi banyak basilika di Italia dan juga makam Raja Italia Vittorio Emanuele II. Dari Pantheon uskup berjalan kaki ke Piazza Navona, sebuah lapangan dengan obelisk, air mancur dan patung-patung indah yang dikelilingi berbagai bangunan indah pula, yang mulai dibangun pada masa Paus Innocentius X (1644-1655). Paus Innocentius X adalah penyuka artis pematung Bernini, yang memperindah Lapangan Santo Petrus dengan collonade dan patung-patung orang kudus di atasnya. Malam ini diakhiri dengan makan malam di rumah makan kecil di dekat penginapan. Itulah cerita hari pertama uskup di Roma. Cukup melelahkan karena harus berjalan kaki beberapa kilometer jauhnya bila ditotal, apalagi dengan cuaca kota Roma yang sangat panas, di kisaran 30 derajat Celcius.

Hari Kamis, 4 September 2008, hari kedua uskup di Roma. Hari ini dimulai dengan misa pribadi di Basilika Santa Maria Maggiore, salah satu dari empat basilika kepausan utama. Sebagai gembala dan pemimpin, uskup tentu tidak menyiapkan sendiri berbagai liturgi yang dirayakannya. Dalam tradisi gereja katolik, seorang uskup memiliki pembantu yang disebut Magister Caeremoniarum atau MC. Buku Caeremoniale Episcoporum atau Tata Upacara Para Uskup menyebutkan bahwa MC bertugas menyiapkan dan mengatur segala sesuatunya agar upacara liturgi yang dipimpin dan/atau dihadiri oleh uskup dapat berjalan dengan benar sesuai aturan-aturan liturgi, khidmat dan agung serta indah. Fungsi MC di dalam gereja katolik lebih mirip dengan petugas protokol dan bukan seperti MC yang sering kita lihat memandu acara di televisi. MC dalam tradisi gereja katolik bahkan tidak pernah berbicara kepada umat selama upacara liturgi berlangsung. MC dapat berasal dari kalangan berjubah ataupun awam yang memiliki pengetahuan mendalam tentang liturgi, khususnya liturgi bagi seorang uskup. Dalam kunjungannya di Roma kali ini uskup didampingi oleh MC Albert Wibisono, yang mengatur segala sesuatunya untuk ziarah pribadi ini.

Adalah Imam Agung Basilika Santa Maria Maggiore, Bernard Kardinal Law, yang memberi kesempatan kepada Uskup Sutikno untuk merayakan ekaristi pribadinya hari Kamis itu di Altar Madonna Salus Populi Romani di Kapel Pauline. Kapel yang juga dikenal dengan nama Kapel Borghese ini dibangun oleh Paus Paulus V dari keluarga Borghese (1605-1621). Dikerjakan oleh tim di bawah pimpinan Flaminio Ponzio, kapel ini sungguh indah. Lukisan berharga Madonna Salus Populi Romani (Perawan yang menyelamatkan rakyat Roma) dipasang di atas altarnya. Di kiri dan kanannya terdapat monumen peringatan untuk Paus Clement VIII dan Paus Paulus V. Misa di kapel ini tadinya direncanakan sebagai misa pribadi, namun karena ada 30-an umat yang hadir dalam kapel, maka misa ini akhirnya dirayakan bersama mereka. Pastor Widya turut berkonselebrasi di misa dalam bahasa Latin ini.

Usai misa di kapel bersejarah ini, uskup kemudian berkeliling basilika sambil menikmati keindahannya. Museum di bawah basilika ini juga dikunjungi uskup. Dalam museum ini tersimpan berbagai peralatan misa dari abad pertengahan. Indah sekali busana-busana liturgi jaman dahulu yang dihiasi dengan ornamen dari benang emas dan juga batu-batu berharga. Pada akhir kunjungan di museum ini, uskup menerima kenang-kenangan sebuah buku yang berisi penjelasan tentang koleksi museum.

Meninggalkan kompleks Basilika Santa Maria Maggiore, uskup kemudian menghabiskan harinya dengan berbelanja buku-buku rohani di berbagai toko buku di dekat Vatikan. Sungguh menyenangkan berbelanja buku rohani di Roma, banyak buku yang tidak dapat ditemukan di Indonesia ada di sini. Yang bingung adalah bagaimana membawa semuanya pulang ke Indonesia tanpa harus kelebihan bagasi.

Sore harinya, setelah sejenak beristirahat di penginapan, uskup berkunjung ke beberapa toko busana dan perlengkapan gereja, melihat-lihat dan membeli beberapa barang yang tidak tersedia di Indonesia. Sejam berkeliling ke toko-toko ini, uskup kemudian berkunjung ke Gereja Santa Maria sopra Minerva. Di bawah altar utama gereja ini diistirahatkan tubuh utuh Santa Katharina dari Siena. Selain itu, di dalam gereja ini juga terdapat makam paus-paus dari keluarga Medici, Leo X dan kemenakannya Clement V. Dari gereja ini, uskup kemudian mampir ke Fontana di Trevi, air mancur dengan desain baroque yang terkenal keindahannya. Air mancur tujuan turis ini mulanya dibangun oleh Paus Nicholas V pada tahun 1453. Paus Urbanus VIII pernah merencanakan renovasinya di tahun 1629, tapi adalah Paus Clement XII yang membuatnya menjadi seperti sekarang ini dengan bantuan artis Nicola Salvi. Air mancur ini dibangun dalam waktu 30 tahun, antara 1732-1762. Sang artis sendiri bahkan wafat sebelum karyanya selesai dikerjakan. Murid-muridnya lah yang akhirnya menyelesaikan proyek air mancur ini.

Hari Jumat, 5 September 2008, hari ketiga uskup di Roma. Hari ini uskup berkunjung ke Museum Vatikan serta Kapel Sistina yang tersohor. Museum Vatikan sebenarnya adalah gabungan beberapa museum yang menyimpan koleksi-koleksi berharga milik gereja yang dikumpulkan oleh para paus, berawal dari koleksi patung milik Paus Yulius II (1503-1513). Museum Vatikan yang kita lihat sekarang ini adalah sebuah kompleks besar museum dan galeri kepausan yang diawali oleh Paus Clement XIV (1769-1774) dan Pius VI (1775-1799). Untuk menghormati mereka, salah satu museum di dalamnya diberi nama Museum Pio-Clementine.

Bagian pertama yang dikunjungi uskup adalah galeri lukisan yang disebut Pinacoteca. Di dalamnya tersimpan 460 lukisan, mulai dari karya abad ke-12 sampai abad ke-19. Hampir semua pelukis terbesar dalam sejarah gereja katolik terwakili di sini. Tersebutlah nama-nama pelukis besar Italia mulai dari Giotto sampai Beato Angelico, dari Perugino sampai Raphael, juga nama yang kita kenal seperti Leonardo da Vinci dan Titian, sampai ke Paolo Veronese, Caravaggio dan Crespi yang mungkin agak asing bagi telinga orang Indonesia. Sekedar ilustrasi, sebuah lukisan asli Leonardo da Vinci di sana dapat berharga lebih dari biaya untuk membangun 10 gereja katedral di Indonesia.

Berikutnya, satu persatu dari seluruh museum dan galeri di sana didatangi uskup meski hanya sebentar. Mulai dari Museum Kendaraan Paus yang berisi kereta berlapis emas yang ditarik enam ekor kuda sampai ke mobil kepausan yang anti peluru, sampai ke Galeri Peta yang dibuat pada masa Paus Gregorius XIII (1572-1585). Berikutnya adalah bagian-bagian istana kepausan, mulai dari Ruang-Ruang Raphael yang dibuat atas perintah Paus Yulius II dan Leo X (1513-1521) sampai ke Apartemen Borgia di mana Paus Alexander VI tinggal sampai wafatnya (1492-1503). Akhir dan puncak dari tur museum ini adalah Kapel Sistina, yang mengambil nama pendirinya, Paus Sixtus IV (1471-1484). Di kapel inilah para kardinal berkumpul saat konklaf untuk memilih paus baru. Sebagaimana sudah sering diceritakan, kapel ini terkenal karena lukisan Michelangelo di langit-langit dan dinding kapel.

Seluruh bagian Museum Vatikan di atas diselesaikan uskup dalam setengah hari, sebagian dengan setengah berlari dan berhenti sekali-sekali untuk menikmati beberapa koleksi utama. Maklum, semuanya ada 54 ruangan, padahal waktu Uskup Sutikno untuk menikmatinya tidaklah banyak.

Malam harinya, uskup bertemu dan makan malam dengan beberapa imam yang pernah menjadi murid beliau di Seminari Tinggi Giovanni di Malang. Pastor Francisco dan Louis dari Timor Leste, Pastor Riyadi dari Sanggau dan Pastor Pratisto dari Surabaya. Keempat imam ini baru saja tiba bulan Juni-Juli yang lalu untuk studi di Universitas Kepausan Urbaniana di Roma. Pertemuan ini penuh suasana nostalgia dan canda ria. Selesai makan malam Uskup Sutikno berkunjung ke kampus dan tempat tinggal para imam ini di Collegio Urbano yang terletak di atas bukit dekat Vatikan. Sungguh indah pemandangan Lapangan dan Basilika Santo Petrus dilihat dari atas bukit ini. Uskup juga berkesempatan bertemu empat mata dengan Rektor Universitas Urbaniana, membicarakan kemungkinan memperoleh tambahan beasiswa bagi imam-imam dari Keuskupan Surabaya. Waktu sudah menunjukkan pukul 10:00 malam lebih saat Msgr. Sutikno meninggalkan gerbang Collegio Urbano untuk kembali ke penginapannya.


Hari Sabtu, 6 September 2008, hari keempat uskup di Roma. Hari ini diawali dengan kunjungan ke situs suci, galian arkeologi di bawah Basilika Santo Petrus. Pukul 9:20 pagi Msgr. Sutikno bersama Albert Wibisono sudah berada samping basilika. Dari situ tur akan dimulai. Dipandu oleh seorang anak muda Amerika dalam bahasa Inggris, tur ini dimulai dengan penjelasan mengenai Sirkus Nero. Yang disebut sirkus di sini sebenarnya lebih mirip tempat pacuan kuda, seperti yang terlihat dalam film Ben Hur. Sirkus Nero adalah tempat penyiksaan orang-orang Kristen dan juga tempat penyaliban Santo Petrus. Wafat disalib terbalik, Santo Petrus kemudian dimakamkan di sebelah utara sirkus, di suatu makam yang sederhana. Di atas makam inilah nantinya Kaisar Romawi Konstantinus membangun suatu basilika. Adalah Konstantinus yang memperoleh visi sebuah salib besar dengan tulisan “Dengan (salib) ini, taklukanlah” saat ia berperang melawan Maxentius. Konstantinus akhirnya menang dan ia kemudian bertobat dan memeluk agama Kristen dan menandatangani Edict of Milan yang memproklamasikan toleransi beragama pada tahun 313 M. Basilika Santo Petrus yang kita lihat sekarang ini dibangun pada tahun 1506-1626 tepat di atas basilika bikinan Konstantinus yang sudah tua dan perlu perbaikan. Altar utama basilika yang sekarang juga dibangun di atas altar utama basilika yang lama, dan keduanya pun tepat berada di atas makam Santo Petrus.

Tur ke lokasi galian selama 90 menit ini sungguh mengesankan. Meski dinyatakan terbuka untuk semua orang, pada kenyataannya tidaklah mudah untuk mendapatkan kesempatan mengikuti tur ini. Pendaftaran harus dilakukan beberapa bulan sebelumnya, karena peminat yang banyak dan kesempatan yang terbatas. Satu kelompok tur hanya berisi sepuluh orang dan pada saat yang sama di lokasi galian yang sempit ini tidak mungkin ada lebih dari tiga kelompok tur. Di bawah basilika, kita melihat dari jarak sangat dekat beberapa mausoleum atau makam-makam Romawi dari periode 2000 tahun yang lalu. Kita bahkan bisa masuk ke satu atau dua di antaranya. Tur ini diakhiri di lokasi makam Santo Petrus. Sungguh mengharukan bisa berada begitu dekat dengan murid Yesus yang terutama. Satu meter saja kita berada dari tanah tempat Santo Petrus dimakamkan. Di situ juga ada sebuah kotak kecil yang berisi sebagian tulang-belulang, yang dari hasil penelitian diyakini merupakan milik Santo Petrus. Di tempat ini peserta tur yang kebanyakan adalah peziarah dari Amerika lalu berdoa Bapa Kami dalam bahasa Inggris dan memperoleh berkat dari Uskup Sutikno.

Usai mengikuti tur ke situs galian suci, uskup kemudian mengunjungi museum di dekat sakristi Basilika Santo Petrus. Di situ dipamerkan berbagai peralatan liturgi dan busana paus yang bernilai tinggi, mulai dari tiara (mahkota yang dikenakan para paus pada jaman dahulu) dan mitra sampai ke sepatu yang berhiaskan intan dan permata. Juga ada penutup makam paus yang membangun Kapel Sistina, Sixtus IV (1471-1484) yang dipesan oleh keponakannya, Giuliano della Rovere, seorang kardinal yang di kemudian hari menjadi Paus Yulius II yang membangun Basilika Santo Petrus yang sekarang ini.

Jumat sore harinya, uskup berziarah ke Basilika Santo Paulus di luar tembok kota Roma, di mana terdapat makam Santo Paulus. Mengenakan busana resminya, jubah uskup berwarna hitam dengan segala kelengkapannya, Uskup Sutikno tiba di Basilika Santo Paulus sekitar pukul 15:15. Sekelompok peziarah dari Italia menyambutnya dengan mencium cincin di tangan kanan beliau dengan takzim. Ritus mencium cincin atau tangan kanan uskup, yang biasa disebut baciamano, memang merupakan tradisi katolik yang masih terus dipraktikkan di berbagai belahan dunia. Eccellenza (ekselenza), begitu orang-orang Italia menyapa Uskup Sutikno. Artinya adalah Excellency atau Yang Mulia. Hampir semua orang non-Indonesia yang ditemui Msgr. Sutikno di Roma menyapanya begitu. Jelas sekali bahwa mereka sangat menghormati seorang uskup. Kelompok peziarah ini meminta berkat dari uskup dan setelahnya berpamitan dengan sekali lagi mencium tangan beliau.

Masuk ke dalam basilika, uskup berkunjung ke makam Santo Paulus. Beliau kemudian duduk diam di bangku umat yang menghadap ke altar utama, diam dan merenung, mungkin berdoa. Cukup lama beliau terdiam begitu, sebelum sakristi dibuka pada pukul 16:00 dan uskup dapat berganti busana untuk mulai misa pribadi. Misa kali ini dilaksanakan di Kapel San Lorenzo, sekitar 30 meter dari makam Santo Paulus. Entah mengapa, di depan kapel dipasang tali penghalang, sehingga tidak ada umat yang berani masuk. Jadi, tidak seperti misa di Basilika Santa Maria Maggiore, misa kali ini betul-betul adalah ekaristi pribadi beliau. Dengan menggunakan rumusan Misa Santo Paulus dalam bahasa Inggris, uskup mempersembahkan kurban ekaristi ini dengan dilayani MC-nya. Setelah menyampaikan terima kasih kepada imam yang mengurus sakristi, uskup kemudian berpamitan dan pulang kembali ke penginapan.

Minggu, 7 September 2008 adalah hari terakhir ziarah pribadi Uskup Sutikno di Roma. Sore harinya beliau akan sudah harus masuk ke Collegio San Paolo untuk mengikuti berbagai acara kursus uskup. Hari Minggu ini merupakan kulminasi dari ziarah uskup di Roma, karena pada hari ini, di Basilika Santo Petrus di Vatikan, Msgr. Sutikno mendapat kesempatan untuk menjadi salah satu dari dua konselebran utama dalam Misa Agung dalam bahasa Latin, pukul 10:30.

Misa Agung ini dipimpin oleh Msgr. Dario Rezza, salah seorang Kanon Basilika Santo Petrus. Selain Uskup Sutikno, konselebran utama lainnya adalah juga seorang uskup. Kedua uskup ini duduk di samping kiri dan kanan Msgr. Rezza. Imam Agung Basilika Santo Petrus, Angelo Kardinal Comastri juga hadir dalam misa agung ini namun tidak ikut berkonselebrasi. Mengenakan jubah merah, rochet, mozetta, salib pektoral dan biretta, beliau duduk di takhtanya didampingi dua uskup lainnya dengan busana yang sama berwarna ungu. Kardinal Comastri merupakan Imam Agung Basilika Santo Petrus yang ke-59 yang tercatat sejak tahun 1152. Beliau juga adalah Vikaris Jendral (Wakil) Bapa Suci untuk Kota Vatikan. Beliau lah yang memberikan ijin kepada Uskup Sutikno untuk menjadi konselebran dalam misa agung ini.

Sungguh agung dan khidmat misa Latin dengan nyanyian Gregorian ini. Tidak kurang dari enam uskup, selusin monsignor Kanon Basilika Santo Petrus dan dua puluh imam berpartisipasi di dalamnya. Seorang Magister Caeremoniarum yang mengenakan jubah dan superpli mengatur seluruh bagian perayaan ekaristi ini, termasuk menunjukkan di mana Uskup Sutikno harus duduk serta memberi tanda saat beliau sebagai salah satu konselebran utama harus mengucapkan bagian Doa Syukur Agung dalam bahasa Latin. Umat dan peziarah memenuhi bangku-bangku yang disediakan dan banyak pula yang berdiri karena tak kebagian tempat duduk.

Buklet kecil dalam tiga bahasa yang disediakan cukup membantu umat dari berbagai bangsa untuk berpartisipasi aktif dalam misa Latin ini. Sebagian besar umat ikut menyanyikan ordinarium (Kyrie, Gloria, Credo dan Agnus Dei), aklamasi Sanctus, dan juga Pater Noster (Bapa Kami). Paus Benediktus XVI memang ingin memasyarakatkan kembali bahasa Latin. Saat ini, selain hari Minggu pagi pukul 10:30, setiap sore hari pukul 17:00 di Basilika Santo Petrus diadakan misa Latin dengan nyanyian Gregorian yang indah dan khidmat.

Usai misa, masih mengenakan kasula, Msgr. Sutikno menyampaikan terima kasihnya kepada Kardinal Comastri atas kesempatan yang diberikan untuk berkonselebrasi di basilikanya. Kardinal menyambutnya dengan senyum ramah dan jabat tangan yang erat. Keduanya lalu ngobrol sejenak dan berfoto bersama untuk kenang-kenangan.

Catatan: Artikel ini dimuat di Tabloid Rohani Jubileum yang diterbitkan oleh Keuskupan Surabaya, Edisi 103 & 104 - Tahun IX - Oktober & November 2008. Cuplikan dari artikel ini, dengan judul Uskup Surabaya Berkonselebrasi di Vatikan, dimuat dalam Majalah Liturgi yang diterbitkan oleh Komisi Liturgi KWI, Vol 19 No 6 - Nov-Des 2008.

Pesta Salib Suci: Sebuah Tradisi Gereja Katolik

Kalender liturgi Gereja Katolik mengenal beberapa tingkatan prioritas hari-hari liturgi. Yang terutama dari semuanya adalah Trihari Paskah. Berikutnya menyusul Natal, Epifani (Penampakan Tuhan), Kenaikan dan Pentakosta. Urutan ini masih panjang. Penjelasan lebih lanjut dapat dibaca dalam Bina Liturgia 2: Pedoman Tahun Liturgi dan Penanggalan Liturgi, halaman 514-516. Di luar hari-hari yang secara khusus disebutkan, termasuk yang tersebut di atas, secara umum ada tiga kategori besar, berturut-turut mulai dari yang terutama, yaitu: Hari Raya (Solemnitas), Pesta (Festum) dan Peringatan (Memoria). Pesta Salib Suci, sesuai namanya, termasuk kategori yang kedua, pesta atau festum, yang wajib dirayakan oleh semua umat Katolik.

Pesta Salib Suci yang dalam kalender liturgi Gereja Katolik disebut “In Exaltatione Sanctae Crucis” dirayakan tiap tahun pada tanggal 14 September. Pesta ini, seperti juga banyak perayaan liturgi yang lain, berawal dari Yerusalem. Ditemukannya Salib Asli Kristus oleh Santa Helena (foto atas), ibu Kaisar Romawi Konstantin, lah yang mengawali tradisi pesta ini. Sejarah mencatat bahwa setelah penemuan Salib Asli Kristus, sebuah basilika didirikan oleh Santa Helena di atas Makam Kudus Kristus. Basilika itu lalu diberkati dalam suatu perayaan yang sangat meriah dan khidmat selama dua hari berturut-turut, pada tanggal 13 dan 14 September tahun 335. Pemberkatan dirayakan oleh para uskup yang baru selesai mengikuti Konsili Tirus, ditambah dengan sejumlah besar uskup yang lain.

Tradisi berlanjut dan setiap tahun dirayakanlah Pesta Salib Suci di Yerusalem. Kekhidmatan perayaan ini menarik sejumlah besar biarawan dari Mesopotamia, Syria, Mesir dan dari provinsi-provinsi Romawi lainnya untuk datang ke Yerusalem. Setiap tahunnya, tidak kurang dari 40 uskup menempuh perjalanan jauh dari keuskupan mereka untuk menghadiri perayaan ini. Di Yerusalem pesta ini berlangsung selama 8 hari berturut-turut dan, pada masa itu, pesta ini menjadi suatu perayaan yang hampir sama pentingnya dengan Paskah dan Epifani. Pesta ini kemudian menyebar ke luar Yerusalem, mulai dari Konstantinopel (sekarang Istanbul) sampai ke Roma pada akhir abad ketujuh, dan akhirnya masuk ke dalam kalender liturgi Gereja Katolik sebagai suatu pesta wajib.


Gambar di atas adalah pintu masuk ke Basilika Makam Kudus di Yerusalem. Area di dalam basilika ini dikapling-kapling dan digunakan oleh umat Katolik bersama-sama dengan Ortodoks Yunani, Armenia, Koptik dan Syria. Menarik sekali bahwa jalan masuk ke basilika ini sejak ratusan tahun yang lalu dipercayakan kepada dua keluarga muslim. Keluarga Joudeh memegang kuncinya dan keluarga Nusseibeh menjaga pintunya.

Link: Patung Santa Helena di dalam Basilika Santo Petrus di Vatikan
Link: Salib Asli Kristus (New Advent Catholic Encylopedia)
Link: Basilika Makam Kudus (Wikipedia)
Link: Basilika Makam Kudus (Fransiskan)

Catatan: Artikel ini ditulis atas permintaan Paroki Salib Suci, Sidoarjo, untuk menyambut Pesta Salib Suci tanggal 14 September 2008.

Katedral Paus Bukan Basilika Santo Petrus

Mungkin enggak banyak yang tahu bahwa katedral paus bukan Basilika Santo Petrus di Vatikan. Memang bukan. Apa sih definisi gereja katedral? Bukan hanya sekedar gereja yang megah dan besar, katedral adalah gereja tempat kedudukan atau istana seorang uskup diosesan. Dinamakan gereja katedral karena di dalamnya pasti ada sebuah katedra (Latin: cathedra), yaitu takhta atau tempat duduk uskup. Takhta uskup ini letaknya di panti imam dan hanya dipakai oleh uskup setempat, atau uskup tamu yang diberi ijin untuk menggunakannya oleh sang uskup tuan rumah. Imam biasa tidak duduk di kursi ini. Bandingkan dengan takhta seorang raja yang ada di istananya. Hanya sang raja yang berhak menggunakannya. Begitulah kira-kira.

Nah, kembali ke katedral paus. Sebagai seorang uskup (Catatan: Paus adalah Uskup Roma), paus juga punya katedral dan di dalamnya tentu ada katedra atau takhtanya. Katedral paus sebagai Uskup Roma, tidak seperti dibayangkan banyak orang, adalah bukan Basilika Santo Petrus (dikenal juga dengan nama Basilika Vatikan). Katedral Uskup Roma adalah Basilika Santo Yohanes Lateran (dikenal juga dengan nama Basilika Lateran) yang ada di bagian lain kota Roma. Saat ini memang paus tidak lagi tinggal di Istana Lateran, tapi paus-paus terdahulu memang pernah tinggal di sana.


Foto hitam putih di ujung kanan atas adalah Paus Yohanes XXIII yang duduk di atas takhta portabelnya. Foto berwarna di atas adalah Paus Paulus VI yang juga duduk di atas takhta, tapi bukan di dalam katedralnya. Foto ini diambil saat ia menutup Konsili Vatikan II di Basilika Santo Petrus. Di sebelah kiri (kelihatan sebagian) dan kanan paus adalah dua kardinal diakon yang mengenakan dalmatik (Catatan: Diakon mengenakan dalmatik, bukan kasula seperti imam. Bagian bawah dalmatik berbentuk persegi, tidak melengkung seperti kasula).


Foto di atas adalah altar utama Basilika Lateran. Foto ini diambil pada hari Kamis Putih tahun 2007. Pada setiap hari Kamis Putih, paus selalu merayakan ekaristi di katedralnya, di Basilika Lateran. Di sana, setiap tahun, paus mencuci (dan mencium!) kaki 12 imam yang luar biasa beruntung!


Kalau Anda kepingin tahu bagaimana model katedra atau takhta paus yang sekarang, perhatikan detail foto di atas atau klik di atas fotonya untuk memperbesar. Di foto ini Paus Benediktus XVI duduk di atas takhtanya di dalam Basilika Santo Yohanes Lateran. Duduk di sebelah kiri paus (dari arah pemirsa) adalah Monsignor William Millea, salah seorang seremoniarius paus. Hampir bisa dipastikan yang berada di sisi satunya adalah Magister Caeremoniarum-nya, Monsignor Guido Marini. Oh ya, kedua monsignor ini bukan uskup ya. Setidaknya, saat artikel ini ditulis mereka belum ditahbiskan sebagai uskup. Seperti pernah saya tulis di artikel yang lain, monsignor adalah sebutan kehormatan pejabat gereja dengan level tertentu, bukan melulu untuk uskup.

Belajar Baca Notasi Gregorian

Pak Ignaz, seorang pembaca blog ini nanya kepada saya di mana bisa dapat lagu Gregorian dengan not angka. Wah, saya juga enggak tahu, sayang sekali. Memang, notasi lagu Gregorian bukan berupa angka seperti kebanyakan partitur lagu yang kita temui di Indonesia. Ini mungkin bisa jadi hambatan memasyarakatkan lagu Gregorian di Indonesia.

Saya sendiri akhirnya mengalah dan nggak berusaha mencari lagu Gregorian dengan not angka lagi. Saya lalu belajar membaca notasi Gregorian yang kotak-kotak itu. Eh, ternyata sama sekali tidak susah. Bahkan, setelah mengerti dan makin terbiasa, saya berpendapat bahwa not kotak-kotak itu jauh lebih memudahkan kita menyanyi lagu Gregorian. Kita jadi tahu kapan nyanyinya harus naik dan kapan harus turun. Sekedar info, saya nggak bisa membaca not balok. Saya juga nggak bisa bermain musik. Nah.

Coba lihat gambar di sebelah ini. Gregorian itu cuman punya dua kunci, C dan F. Masing-masing kunci itu bisa berada di (mengapit) garis pertama, kedua, ketiga, atau keempat dari bawah. Apapun garis yang diapit oleh kunci C, not yang ada di garis itu bunyinya Do. Untuk yang kunci F ya tentunya Fa. Itu aja kok. Memang susah dijelaskan secara tertulis di sini, tapi saat tatap muka, saya cuman perlu waktu beberapa menit untuk menjelaskannya kepada anggota koor yang lain. Setelah sebulan membiasakan diri, mereka tidak pernah lagi minta partitur dengan not Gregorian diterjemahkan ke not angka. Memang, ini sekedar bisa baca yang gampang-gampang dulu. Kalau mau yang canggih mungkin perlu waktu lebih lama. Ada juga kok yang bertahun-tahun belajarnya.

Yuk kita pakai contoh yang sederhana. Di samping ini adalah lagu Pater Noster atau Bapa Kami (Puji Syukur 402). Lihat kuncinya, bandingkan dengan gambar di atas. Ini kunci C. Nah, kunci C di partitur ini mengapit garis ketiga dari bawah. Jadi, not yang ada di garis itu bunyinya Do, di atasnya Re, di bawahnya Si, dan seterusnya. Jadi, di partitur ini, not yang pertama bunyinya Sol, selanjutnya La, Si, Si .. La, Do, Si, La, Sol. Nggak susah kan menjelaskan ini kepada anggota koor?

Saya punya artikel dari Crisis Magazine edisi May 2006, judulnya "An Idiot's Guide to Square Notes". Formatnya PDF, enam halaman A4, dalam bahasa Inggris. Nggak terlalu susah dimengerti kok. Kalau mau, saya bisa kirim artikel ini lewat e-mail. Tinggalin aja e-mail address Anda di bagian comment di bawah. Sorry, saya belum tahu gimana caranya attach file di sini, he3.

Juga, saya pernah belajar dari website Canticum Novum milik Schola Cantorum Bogotensis ini. Klik di sini untuk langsung melihat halaman tentang notasi Gregorian. Selamat mencoba dan mengajarkan kepada anggota koor Anda.

Di Balik Dinding Tebal Vatikan

Saya punya beberapa DVD dan CD Video yang bagus. Beberapa saya beli di Roma, beberapa dari Indonesia (di toko buku dan juga lewat internet) dan ada juga yang dikasih teman-teman. Yang dari Roma kebanyakan bikinan Vatican Television Center, stasiun televisi resmi Vatikan. Habis nonton video-video ini mungkin lebih banyak lagi yang mengerti kenapa kita patut bangga menjadi orang katolik dan kenapa kita perlu melestarikan kekayaan tradisi gereja kita.

Memang, mengkopi video-video ini sama dengan membajak. Saya enggak sreg membajak barang bikinan gereja. Meski begitu, rasanya tidak terlalu salah kalau memutarnya dengan tidak memungut biaya untuk kalangan terbatas, misalnya untuk pertemuan kelompok di paroki dan lain sebagainya. Nah, kalau waktunya cocok dan lokasinya masih di sekitar Surabaya atau Jakarta, saya bersedia diundang untuk memutar video-video ini, sekaligus menjelaskan berbagai detail tradisi katolik yang ada di dalamnya. Hampir semua video-video ini berbahasa Inggris dan hanya beberapa yang ada teks bahasa Indonesianya. Pemirsa dengan bahasa Inggris pas-pasan pun akan tetap bisa menikmati dengan menyimak penjelasan saya.

Berikut adalah tiga yang paling saya suka:

Tu Es Petrus (60 menit):
Tu es Petrus, et super hanc petram aedificabo Ecclesiam meam (Engkau adalah Petrus dan di atas batu karang ini Aku akan mendirikan jemaat-Ku, Mat 16:18). Video ini menyajikan rekaman peristiwa-peristiwa dramatis di tahun 2005: memburuknya kesehatan Paus Yohanes Paulus II, hari-hari terakhirnya, wafat dan pemakamannya, persiapan konklaf, sampai dengan terpilihnya paus baru Benedictus XVI. Sangat menarik dan menyentuh.

Concilium Vaticanum II (60 menit):
Video ini menyajikan cuplikan peristiwa-peristiwa seputar persiapan dan pelaksanaan Konsili Vatikan II yang diprakarsai oleh Paus Yohanes XXIII. Di sini nampak sekali keagungan gereja katolik kita dengan berbagai tradisinya yang telah berabad-abad umurnya. Sangat menarik dan agung.

Inside the Vatican (50 menit):
Video ini membuka mata kita tentang isi Vatikan yang tidak akan pernah dilihat oleh orang awam pada umumnya. Ada wawancara dan juga cerita tentang orang-orang yang bekerja di dalamnya, mulai dari Paus dan para Kardinal sampai ke pengawal dari Swiss, tukang foto dan tukang kebun paus, serta para ahli yang merawat berbagai koleksi Museum Vatikan yang tak ternilai harganya. Saya punya dua versi, bikinan National Geographic dan Discovery Channel; keduanya dilengkapi teks bahasa Indonesia. Sangat menarik dan cocok untuk semua orang dari semua golongan umur.

Selain itu, ada juga beberapa yang lain, seperti: Discovering the Vatican (4 DVD), Misa Pemakaman Paus Yohanes Paulus II dan Misa Penobatan Paus Benediktus XVI. Tiga judul DVD terakhir ini sangat detail, mungkin hanya cocok untuk penikmat seni atau pecinta liturgi dan tradisi gereja katolik.

Lagu Latin = Lagu Gregorian?

Saya gembira melihat perkembangan paduan suara di Surabaya. Belakangan ini saya banyak mendengar lagu-lagu bahasa Latin dinyanyikan dalam misa kudus. Masyarakat kota memang cepat menyerap budaya asing, khususnya bila dianggap baik, cocok, atau lebih superior dari budaya lokal.

Ada dua hal yang ingin saya bahas di sini. Yang pertama, perlu kita pahami bahwa tidak semua lagu dalam bahasa Latin bisa dibilang lagu Gregorian. Banyak yang tidak sadar akan hal ini dan mengatakan bahwa, “Koor saya sekarang menyanyi Gregorian loh.” Atau, “Kami ikut lomba paduan suara khusus lagu-lagu komuni Gregorian.” Sangat mungkin yang mereka maksud adalah lagu-lagu dalam bahasa Latin, yang belum tentu berirama Gregorian.

Nah, sebaliknya, tidak semua lagu Gregorian berbahasa Latin. Di Puji Syukur ada beberapa contoh lagu Gregorian yang sudah diterjemahkan ke dalam bahasa Indonesia, seperti: PS 501 Mari Kita Memadahkan (Pange Lingua), PS 565 Datanglah Ya Roh Pencipta (Veni Creator Spiritus). Tentu, ada juga lagu Gregorian dalam bahasa Inggris dan lain-lain.

Yang berikut ini saya kutip dari bagian Pengantar di CD “In Nomine Patris: Cantus Gregorianus”, yang dibikin teman-teman dari Schola Iacartensis*:

“Ciri khas nyanyian Gregorian adalah bahwa nyanyiannya mengungkapkan isi kata (Latin), tanpa irama tetap (ketukan), tetapi dengan berpangkal pada aksen dan arti kata. Seperti layaknya lantunan sebuah syair, gerak naik turunnya melodi mengikuti gerak aksen dalam sebuah kata dan makna kata dalam keseluruhan frase. Maka dapat dikatakan bahwa nyanyian atau melodi Gregorian ini tumbuh dari kata-kata, yang umumnya diambil dari teks Kitab Suci.”

Kalau ada waktu, nggak ada salahnya baca artikel Wikipedia ini mengenai Lagu Gregorian.

Hal kedua yang ingin saya bahas, soal pilihan teks lagu untuk misa. Banyak pemimpin paduan suara memilih lagu-lagu yang melodinya enak untuk dinyanyikan dan didengar. Kadang kita kurang memikirkan kecocokan teksnya. Apalagi kalau teksnya berbahasa Inggris, atau Latin, yang kurang dipahami. Saya berikan contoh yang gampang dimengerti. Minggu malam yang lalu saya ikut misa di suatu paroki. Koornya menyanyikan tiga buah lagu komuni, dua di antaranya dalam bahasa Latin. Teksnya lagu pertama begini bunyinya:

Gloria, gloria, gloria, gloria.
Gloria, gloria, glory Deo. …

Lagu yang kedua begini bunyinya:

Dona, dona nobis pacem.
Dona nobis pacem, pacem. …

Wah, ini pilihan teks yang kurang pas buat lagu komuni lah. Yang pertama kurang pas karena madah untuk memuliakan Tuhan sudah dinyanyikan di ritus pembuka. Memang di situ tempatnya, bukan saat komuni. Yang kedua sebetulnya nggak terlalu masalah, cuman memang itu bukan teks lagu yang paling cocok untuk mengiringi komuni. Jauh lebih cocok lagu berikut dalam bahasa Indonesia yang mereka juga nyanyikan:

Aku rindu akan Tuhan, dalam sakramen terkudus.
Aku rindu menerima, Yesus Allah manusia. ...

Memang, mudah sekali kita salah di sini. Saya juga baru sadar benar akhir-akhir ini kok. Beberapa bulan yang lalu, paduan suara wilayah yang juga saya ikuti menyanyi sebuah lagu komuni dalam bahasa Inggris yang enak sekali didengar. Di bagian penutup ada tambahan yang bunyinya:

Nearer my God to Thee, nearer to Thee.

Lho, itu teks lagu yang cocok untuk upacara kematian**, he3 :) [Catatan: Ada koreksi dari seorang pembaca blog ini, beliau benar dan saya salah, silakan baca di bagian komentar]


* Tiap bulan teman-teman dari Schola Iacartensis menyanyi dalam misa Latin yang diselenggarakan secara rutin di Kapel Paroki St. Yosef Matraman, Jakarta. Klik di sini untuk melihat Blog mereka.

** Ingat lagu yang dimainkan orkes kamar dalam film Titanic, persis sebelum kapalnya tenggelam? Lagu itu judulnya Nearer My God to Thee. Di Puji Syukur ada versi bahasa Indonesia dengan melodi yang sama dan dengan terjemahan bebas. Judulnya Tuhan Berikanlah (Istirahat). Memang, keduanya adalah lagu untuk upacara kematian.

Collar Putih = Imam?


Banyak pertanyaan timbul ketika umat melihat para anggota Schola Cantorum Surabaiensis (foto atas) tampil dengan seragam kebesarannya, jubah hitam dengan collar putih dan superpli. Kebanyakan bertanya, ”Apa mereka semua imam?” Jawabnya adalah, ”Bukan, tidak seorangpun dari mereka adalah imam.” Lalu, ”Kenapa mereka semua memakai collar putih?” Memang, di Indonesia ada anggapan bahwa collar putih merupakan identitas imam, sehingga hanya imam yang memakainya. Ini merupakan anggapan yang kurang benar. Dalam berbagai upacara liturgi—termasuk perayaan ekaristi—di Vatikan dan negara barat lainnya, collar putih itu selalu dikenakan bersama jubah oleh para pelayan, termasuk di antaranya misdinar dan anggota koor. Untuk lebih jelasnya, perhatikan beberapa foto berikut ini.


Seorang misdinar memegang Buku Misa Romawi di hadapan Paus. Perhatikan collar putih yang ia kenakan bersama dengan jubah hitam dan superpli. Ia mengenakan roman collar dari plastik yang melingkari seluruh lehernya, bukan hanya slip collar warna putih kecil yang dimasukkan ke bagian depan kerah jubah.


Perhatikan misdinar yang berprosesi bersama Bernard Kardinal Law, semuanya mengenakan jubah hitam dengan roman collar dan superpli.


Perhatikan misdinar pembawa tongkat gembala Paus yang berupa salib (paling kanan) dan seorang lagi pembawa buku Misale Romawi (nomor dua dari kanan); mereka mengenakan jubah hitam dengan roman collar dan superpli. Pembawa salib Paus juga mengenakan velum untuk memegang salib, yang secara tidak langsung berfungsi untuk menyatakan bahwa ia adalah pelayan, bukan pemilik salib itu. Dua pelayan lain dengan jubah ungu dengan roman collar dan superpli adalah para seremoniarius. Uskup Agung Piero Marini (dengan rambut putih) di foto ini adalah MC Kepausan saat foto ini diambil.


Perhatikan Uskup Agung Piero Marini dan seorang misdinar pembawa tongkat gembala Paus (tampak sebagian saja, ia mengenakan velum) dan seorang lagi misdinar pembawa buku Misale Romawi. Mereka semua mengenakan roman collar.


Perhatikan seremoniarius Mgr. Giulio Vivani dengan jubah ungu dan seorang misdinar pembawa mitra Paus (ia mengenakan velum), keduanya mengenakan roman collar. (Catatan: Monsignor adalah sebutan kehormatan pejabat gereja dengan level tertentu, bukan melulu untuk uskup.)


Perhatikan Uskup Agung Piero Marini (kanan), MC Kepausan saat itu dan Mgr. Francesco Camaldo, Dekan Korps Seremoniarius Paus, yang mengenakan jubah ungu. Mgr. Marini mengenakan salib pektoral (salib dada), tanda bahwa ia seorang uskup. Mgr. Camaldo, bukan uskup, tidak mengenakan salib pektoral. Di belakang Mgr. Marini adalah misdinar pembawa tongkat dan di belakang Mgr. Camaldo adalah misdinar pembawa mitra, keduanya mengenakan velum. Misdinar yang berjalan di paling belakang bertugas membawa buku Misale Romawi. Mereka semuanya mengenakan roman collar.


Perhatikan para misdinar ini, mereka mengenakan jubah dengan slip collar dari plastik (bukan roman collar) yang diselipkan di kerah jubah mereka.

Kedua foto berikut ini diambil di Bukit Zaitun, Israel. Mereka adalah anggota koor yang berprosesi pada hari Minggu Palma.



Lalu, bagaimana membedakan pemakai collar putih yang kardinal, uskup, imam, diakon atau pelayan biasa? Yang jelas, pelayan tak tertahbis (akolit, misdinar atau anggota koor) hanya memakai jubah dengan collar putih pada saat upacara liturgi. Mereka tidak memakai jubah dan collar putih di luar upacara liturgi atau bahkan untuk sehari-hari. Dalam upacara liturgi, antara pelayan tertahbis dan tidak biasanya dapat dibedakan dari asesoris lain yang dipakai, misalnya stola, salib pektoral, mitra dan lain sebagainya. Untuk lebih jelasnya, silakan baca tulisan-tulisan saya yang lain tentang busana liturgi.