Misa Latin Uskup Surabaya

Bahasa Latin dan musik gregorian kembali membangkitkan suasana sakral di Katedral Hati Kudus Yesus Surabaya. Pada Hari Raya Tuhan Kita Yesus Kristus Raja Semesta Alam, Minggu, 25 November 2007, Uskup Surabaya Mgr. Vincentius Sutikno Wisaksono memimpin misa stasional (dahulu disebut misa pontifikal) dalam bahasa Latin. Misa ini menggunakan ritus Paulus VI atau Novus Ordo. Inilah ritus yang digunakan di seluruh dunia sejak Konsili Vatikan II, menggantikan ritus Tridentine yang digunakan sejak Konsili Trente.

Sekitar 1.500 umat memadati gedung dan bagian samping kiri dan kanan gereja. Suasana khidmat betul-betul terasa selama berlangsungnya misa. Paduan suara yang dipimpin Anton Tjahjoanggoro menambah agung suasana upacara liturgi ini. Mereka menyanyikan lagu-lagu gregorian dari Graduale Romanum. Dalam misa ini, Uskup didampingi oleh konselebran Pastor Edi Laksito (Vikjen Keuskupan Surabaya) dan Pastor Eko Budi Susilo (Kepala Paroki Katedral).

Persiapan untuk misa Latin ini sudah dimulai beberapa bulan sebelumnya di bawah koordinasi Magister Caeremoniarum Albert Wibisono. Salah satu yang terpenting adalah pembuatan Buku Tata Perayaan Ekaristi (TPE) untuk umat. Buku TPE umat dibuat dalam dua bahasa, Latin dan Indonesia, sebelah-menyebelah. TPE dwibahasa seperti ini sebenarnya merupakan amanat Konsili Vatikan II, yang disampaikan dalam Instruksi Pelaksana Inter Oecumenici. Di situ disebutkan, Buku TPE umat yang dibuat dalam bahasa lokal hendaknya disertai juga dengan bahasa Latin aslinya. Dengan demikian, umat yang mengikuti misa dalam bahasa lokal pasca Vatikan II pun masih dapat mengerti bahasa Latin. Saat TPE dwibahasa ini digunakan dalam misa bahasa Latin, umat yang telah terbiasa mengikuti misa dalam bahasa lokal pun akan lebih mudah untuk mempelajari dan berpartisipasi aktif dalam misa.

Semua pihak belajar dari penyelenggaraan misa ini. Tidak hanya bahasa Latin yang dipelajari (kembali), para petugas misa dan umat pun belajar menyelenggarakan dan mengikuti misa dengan benar, sesuai dengan kaidah-kaidah dalam Pedoman Umum Misale Romawi dan juga Tata Upacara Para Uskup (Caeremoniale Episcoporum). Katekese singkat mengenai beberapa kesalahan yang sering terjadi diberikan dalam teks misa yang dibagikan untuk umat dan juga dijelaskan sebelum misa mulai. Contohnya, umat yang malahan tunduk menyembah saat tubuh dan darah Kristus ditunjukkan pada waktu konsekrasi. Lima belas menit sebelum misa dimulai, umat juga dilatih menjawab/menyanyi berbagai aklamasi. Tidak terlalu sulit, karena cukup banyak yang mirip nadanya dengan bahasa Indonesia. Juga, tidak sulit bagi umat katedral untuk berpartisipasi aktif, karena mereka telah terbiasa menyanyikan ordinarium Missa VIII (De Angelis), Credo III dan Pater Noster dalam bahasa Latin.

Penyelenggaraan misa Latin kali pertama ini memang belum sempurna. Umat masih belum mantap menjawab aklamasi dan beberapa pelayan pun masih berbuat kesalahan. Akankah ada kesempatan yang berikut? Uskup yang diminta komentarnya menyatakan, ”Banyak orang belajar bahasa asing, termasuk bahasa Inggris, bahasa pemersatu bangsa-bangsa di dunia. Alangkah indahnya kalau kita juga mau belajar bahasa Latin, bahasa yang mempersatukan umat katolik sedunia.”

Catatan: Artikel ini dimuat dalam Majalah Liturgi yang diterbitkan oleh Komisi Liturgi KWI, Vol 19 No 1 - Jan-Feb 2008.

10 comments:

Medi said...

Numpang tanya, apakah pak Cahyo Anggoro adalah alumni Psikologi UGM sekarang mengajar di Univ Tujuh Belas Agustus? Kalau benar, saya ingin alamat kontaknya. Ia adalah salah satu teman angkatan 79 di UGM. Salam
Sumedi Nugraha (snugraha@gmail.com)

Albert Wibisono said...

Maaf agak lama meresponnya, saya baru balik dari Bandung. Benar yang Anda tanyakan, Mas Tjahjoanggoro adalah alumnus Psikologi UGM angkatan 79. Saat ini dia mengajar di Universitas Surabaya. Ini nomor HP-nya, silakan kontak langsung aja, sudah saya beritahukan kepadanya tentang Anda.

diskusi said...

saya sangat setuju bila umat diajari lagi bahasa latin, kalau perlu sekolah katolik menyediakan pelajaran bahasa latin

diskusi said...

saya sangat setuju bila umat diajari lagi bahasa latin, kalau perlu sekolah katolik menyediakan pelajaran bahasa latin

Albert Wibisono said...

pak diskusi:

sungguh usul yang baik. saya setuju dengan pendapat bapak. teman saya di amerika serikat, anaknya masih di tingkat high school (smp-sma) tapi sudah belajar bahasa latin. termasuk pelajaran wajib. dan itu bukan di sekolah katolik. semata karena latin adalah akar banyak bahasa barat. sastra latin juga sangat diminati di sana.

salam,
albert

Lia said...

"Alangkah indahnya kalau kita juga mau belajar bahasa Latin, bahasa yang mempersatukan umat Katolik sedunia."

Membaca ini saya jadi teringat sebuah contoh di buku diktat saya sewaktu kuliah. Ada dua biarawan yg berasal dari negara yang berbeda sedang mengikuti konferensi di Roma. Setelah mencari-cari persamaan bahasa, akhirnya mereka mendapati bahwa bahasa yang membuat mereka bisa berkomunikasi adalah bahasa Latin.

Tampaknya ide yang sangat bagus sekali jika setidaknya umat Katolik belajar lagi bahasa Latin. :D

Anonymous said...

Misa bahasa Latin? Apakah itu semangat Konsili Vatikan II? Tuhan Yesus turun dari surga, ke bumi sampai ke pelosok2, berbicara ke umat yang paling sederhana, dengan bahasa2 yang mereka pahami. Jawa, Bali, Papua, Tagalog, Urdu dll. Bukan bahasa Latin yang prestisius! Bahkan Dante Alleghieri pun tidak mau menggunakannya, sebab lebih suka bahasa Italia sederhana untuk menuliskan Devina Comedia tentang Inverno, Purgatorio & Paradiso.

Albert Wibisono said...

Bapa/Ibu Anonymous:

Terima kasih sudah mampir ke Blog TK dan memberikan masukan di sini. Saya menghormati pandangan Bapa/Ibu.

Saya sendiri baru mempelajari sedikit saja dokumen Konsili Vatikan II. Baru terbatas pada produk pertama Konsili Vatikan II: Konsitusi Suci Liturgi (Sacrosanctum Concilium) dan beberapa Instruksi Pelaksananya, mulai dari Inter Oecumenici (IO) sampai Liturgiam Authenticam (LA).

Di SC saya dapatkan beberapa hal yang relevan, termasuk ini:

36. Bahasa Liturgi

(1) Penggunaan bahasa latin hendaknya dipertahankan dalam ritus-ritus lain, meskipun ketentuan-ketentuan hukum khusus tetap berlaku.

(2) Akan tetapi dalam Misa, dalam pelayanan Sakramen-sakramen maupun bagian-bagian liturgi lainnya, tidak jarang penggunaan bahasa pribumi dapat sangat bermanfaat bagi Umat. Maka seyogyanyalah diberi kelonggaran yang lebih luas, terutama dalam bacaan-bacaan dan ajakan-ajakan, dan berbagai doa dan nyanyian, menurut kaidah-kaidah yang mengenai hal itu ditetapkan secara tersendiri dalam bab-bab berikut.

Di IO saya dapatkan yang berikut ini, di antaranya:

57. ... Misale (=TPE Umat) yang dipergunakan dalam liturgi, sungguhpun begitu, hendaknya berisi disamping bahasa vernakular, juga teks latinnya.

Para gembala hendaknya memastikan bahwa umat Kristiani, khususnya anggota tarekat religius awam, juga dapat mendaraskan atau menyanyikan dalam bahasa Latin, utamanya dengan melodi-melodi sederhana, bagian-bagian dari ordinarium Misa yang dikhususkan bagi mereka.

Bersambung ...

Albert Wibisono said...

Sambungan ...

Saya pribadi merasa tidak kompeten untuk bicara "semangat Konsili Vatikan II" yang sebenarnya. Saya memilih untuk taat pada gembala saya Uskup Surabaya, dan pada Paus Benedictus XVI, yang mengembalikan Misa Bahasa Latin ke Basilika St. Petrus dan di berbagai kesempatan Misa Kepausan di tempat lain. Bapa Suci adalah salah satu saksi mata Konsili Vatikan II dan soal "semangat Konsili Vatikan II", saya percaya pada apa yang beliau sampaikan, di antaranya yang terakhir ini, kepada para klerus di Keuskupan Roma yang memintanya berbicara tentang Konsili Vatikan II:

"... I would now like to add yet a third point: there was the Council of the Fathers – the real Council – but there was also the Council of the media. It was almost a Council apart, and the world perceived the Council through the latter, through the media. Thus, the Council that reached the people with immediate effect was that of the media, not that of the Fathers. And while the Council of the Fathers was conducted within the faith – it was a Council of faith seeking intellectus, seeking to understand itself and seeking to understand the signs of God at that time, seeking to respond to the challenge of God at that time and to find in the word of God a word for today and tomorrow – while all the Council, as I said, moved within the faith, as fides quaerens intellectum, the Council of the journalists, naturally, was not conducted within the faith, but within the categories of today's media, namely apart from faith, with a different hermeneutic. It was a political hermeneutic: for the media, the Council was a political struggle, a power struggle between different trends in the Church. It was obvious that the media would take the side of those who seemed to them more closely allied with their world. There were those who sought the decentralization of the Church, power for the bishops and then, through the expression "People of God", power for the people, the laity. There was this threefold question: the power of the Pope, which was then transferred to the power of the bishops and the power of all – popular sovereignty. Naturally, for them, this was the part to be approved, to be promulgated, to be favoured. So too with the liturgy: there was no interest in liturgy as an act of faith, but as something where comprehensible things are done, a matter of community activity, something profane. And we know that there was a tendency, not without a certain historical basis, to say: sacrality is a pagan thing, perhaps also a thing of the Old Testament. In the New Testament it matters only that Christ died outside: that is, outside the gates, in the profane world. Sacrality must therefore be abolished, and profanity now spreads to worship: worship is no longer worship, but a community act, with communal participation: participation understood as activity. These translations, trivializations of the idea of the Council, were virulent in the process of putting the liturgical reform into practice; they were born from a vision of the Council detached from its proper key, that of faith. And the same applies to the question of Scripture: Scripture is a book, it is historical, to be treated historically and only historically, and so on.

Bersambung ...

Albert Wibisono said...

Sambungan ...

We know that this Council of the media was accessible to everyone. Therefore, this was the dominant one, the more effective one, and it created so many disasters, so many problems, so much suffering: seminaries closed, convents closed, banal liturgy … and the real Council had difficulty establishing itself and taking shape; the virtual Council was stronger than the real Council. But the real force of the Council was present and, slowly but surely, established itself more and more and became the true force which is also the true reform, the true renewal of the Church. It seems to me that, 50 years after the Council, we see that this virtual Council is broken, is lost, and there now appears the true Council with all its spiritual force. And it is our task, especially in this Year of Faith, on the basis of this Year of Faith, to work so that the true Council, with its power of the Holy Spirit, be accomplished and the Church be truly renewed. Let us hope that that the Lord will assist us. I myself, secluded in prayer, will always be with you and together let us go forward with the Lord in the certainty that the Lord will conquer. Thank you!"

Teks selengkapnya dapat ditemukan di sini:
http://www.vatican.va/holy_father/benedict_xvi/speeches/2013/february/documents/hf_ben-xvi_spe_20130214_clero-roma_en.html

Akan halnya Dante, meski saya pun mengaguminya, saya tidak mengikutinya, karena ia bukan gembala saya.

Pada era global ini, banyak orang mempelajari bahasa asing, termasuk bahasa Inggris, yang dapat mempersatukan berbagai bangsa yang berbeda bahasa dan budaya aslinya. Alangkah indahnya bila kita pun mempelajari bahasa Latin, bahasa yang mempersatukan umat katolik sedunia.

Salam,
albert