Collar Putih = Imam?


Banyak pertanyaan timbul ketika umat melihat para anggota Schola Cantorum Surabaiensis (foto atas) tampil dengan seragam kebesarannya, jubah hitam dengan collar putih dan superpli. Kebanyakan bertanya, ”Apa mereka semua imam?” Jawabnya adalah, ”Bukan, tidak seorangpun dari mereka adalah imam.” Lalu, ”Kenapa mereka semua memakai collar putih?” Memang, di Indonesia ada anggapan bahwa collar putih merupakan identitas imam, sehingga hanya imam yang memakainya. Ini merupakan anggapan yang kurang benar. Dalam berbagai upacara liturgi—termasuk perayaan ekaristi—di Vatikan dan negara barat lainnya, collar putih itu selalu dikenakan bersama jubah oleh para pelayan, termasuk di antaranya misdinar dan anggota koor. Untuk lebih jelasnya, perhatikan beberapa foto berikut ini.


Seorang misdinar memegang Buku Misa Romawi di hadapan Paus. Perhatikan collar putih yang ia kenakan bersama dengan jubah hitam dan superpli. Ia mengenakan roman collar dari plastik yang melingkari seluruh lehernya, bukan hanya slip collar warna putih kecil yang dimasukkan ke bagian depan kerah jubah.


Perhatikan misdinar yang berprosesi bersama Bernard Kardinal Law, semuanya mengenakan jubah hitam dengan roman collar dan superpli.


Perhatikan misdinar pembawa tongkat gembala Paus yang berupa salib (paling kanan) dan seorang lagi pembawa buku Misale Romawi (nomor dua dari kanan); mereka mengenakan jubah hitam dengan roman collar dan superpli. Pembawa salib Paus juga mengenakan velum untuk memegang salib, yang secara tidak langsung berfungsi untuk menyatakan bahwa ia adalah pelayan, bukan pemilik salib itu. Dua pelayan lain dengan jubah ungu dengan roman collar dan superpli adalah para seremoniarius. Uskup Agung Piero Marini (dengan rambut putih) di foto ini adalah MC Kepausan saat foto ini diambil.


Perhatikan Uskup Agung Piero Marini dan seorang misdinar pembawa tongkat gembala Paus (tampak sebagian saja, ia mengenakan velum) dan seorang lagi misdinar pembawa buku Misale Romawi. Mereka semua mengenakan roman collar.


Perhatikan seremoniarius Mgr. Giulio Vivani dengan jubah ungu dan seorang misdinar pembawa mitra Paus (ia mengenakan velum), keduanya mengenakan roman collar. (Catatan: Monsignor adalah sebutan kehormatan pejabat gereja dengan level tertentu, bukan melulu untuk uskup.)


Perhatikan Uskup Agung Piero Marini (kanan), MC Kepausan saat itu dan Mgr. Francesco Camaldo, Dekan Korps Seremoniarius Paus, yang mengenakan jubah ungu. Mgr. Marini mengenakan salib pektoral (salib dada), tanda bahwa ia seorang uskup. Mgr. Camaldo, bukan uskup, tidak mengenakan salib pektoral. Di belakang Mgr. Marini adalah misdinar pembawa tongkat dan di belakang Mgr. Camaldo adalah misdinar pembawa mitra, keduanya mengenakan velum. Misdinar yang berjalan di paling belakang bertugas membawa buku Misale Romawi. Mereka semuanya mengenakan roman collar.


Perhatikan para misdinar ini, mereka mengenakan jubah dengan slip collar dari plastik (bukan roman collar) yang diselipkan di kerah jubah mereka.

Kedua foto berikut ini diambil di Bukit Zaitun, Israel. Mereka adalah anggota koor yang berprosesi pada hari Minggu Palma.



Lalu, bagaimana membedakan pemakai collar putih yang kardinal, uskup, imam, diakon atau pelayan biasa? Yang jelas, pelayan tak tertahbis (akolit, misdinar atau anggota koor) hanya memakai jubah dengan collar putih pada saat upacara liturgi. Mereka tidak memakai jubah dan collar putih di luar upacara liturgi atau bahkan untuk sehari-hari. Dalam upacara liturgi, antara pelayan tertahbis dan tidak biasanya dapat dibedakan dari asesoris lain yang dipakai, misalnya stola, salib pektoral, mitra dan lain sebagainya. Untuk lebih jelasnya, silakan baca tulisan-tulisan saya yang lain tentang busana liturgi.

Lagu Gregorian? Kuno? Bukan Jamannya?

Sepuluh tahun yang lalu, mungkin saya akan setuju dengan pernyataan bahwa lagu dan musik Gregorian adalah bagian dari masa lalu dan kurang cocok untuk dipakai pada masa sekarang ini. Sepuluh tahun yang lalu, mungkin saya akan setuju bahwa lagu dan musik Gregorian, yang tidak saya mengerti artinya, bikin kita makin ngantuk di gereja.

Sepuluh tahun yang lalu, saya kembali ke Indonesia dari studi di Amerika Serikat. Di sana saya dan istri tinggal di sebuah kota kecil dekat San Francisco. Hampir tiap minggu kami ikut misa di suatu gereja kecil di dekat apartemen kami. Suasananya benar-benar menyenangkan. Misa hari Minggu malam selalu dilayani oleh koor orang-orang keturunan Filipina, dengan iringan piano yang dimainkan oleh seorang suster berkulit putih. Indah sekali lagu-lagu bahasa Inggris dan (sesekali) Tagalog yang mereka bawakan. Melodinya mudah diikuti, lagunya tenang dan menyentuh hati. Bukan sekali dua saya menangis dalam misa, khususnya pada saat komuni. Sampai saat itu, belum pernah dalam hidup ini saya mendengar piano digunakan mengiringi koor gereja. Di tangan piawai Suster Helen, musik dari grand piano di gereja kecil itu amat menyentuh hati saya dan istri. Sepulangnya dari Amerika, tentulah saya ingin hal yang indah itu ada di Surabaya. Saya memesan berbagai macam partitur lagu bahasa Inggris dari Oregon Catholic Press dan mulai memperkenalkannya kepada beberapa kelompok koor yang saya tahu. Lama kelamaan orang mulai terbiasa mendengar kelompok koor menyanyikan lagu bahasa Inggris dalam misa. Karena grand piano tidak ada di gereja manapun di Surabaya, sesekali saya menyewa Clavinova (piano elektrik) dari rumah musik yang ada. Efeknya tidak sehebat grand piano tentu, tapi lumayan untuk membawa perubahan suasana di dalam misa. Sesuatu yang baru waktu itu, untuk gereja yang biasanya hanya menggunakan organ elektrik (=keyboard!). Saya gembira sekali waktu akhirnya Romo Jelantik membeli Clavinova untuk Katedral Hati Kudus Yesus. Belakangan Gereja Santo Yakobus juga membeli Clavinova. Saya puas bisa ikut memperkenalkan sesuatu yang baru dan indah, agar perayaan ekaristi kita menjadi lebih khidmat. Itu sepuluh tahun yang lalu.

Empat tahun yang lalu, saya dan istri berkesempatan berjalan-jalan di beberapa negara di Eropa, termasuk Prancis dan Italia. Bukan kunjungan saya yang pertama ke Eropa memang, tapi baru saat itulah Tuhan menunjukkan kepada saya keindahan musik gereja katolik yang sebenarnya. Bersama istri, saya berkesempatan mengikuti misa hari Minggu di sebuah gereja besar nan agung, St. Eustache di Paris. Baru kali itu saya mendengar organ pipa raksasa dimainkan dalam suatu perayaan ekaristi. Tergerak luar biasa perasaan saya, benar-benar sulit untuk digambarkan dengan kata-kata. Lantai dan bangku-bangku gereja bergetar saat nada-nada rendah dimainkan bergantian dengan nada-nada tinggi. Saya merasa bagai di surga. Benar-benar indah dan menyentuh hati. Inilah musik gereja katolik yang dilupakan orang. Atau, lebih tepatnya, inilah musik gereja katolik yang tidak pernah diketahui oleh sebagian besar dari kita di Indonesia. Baru saat itu saya mengerti mengapa Vatikan meminta “ … organ pipa harus diberikan tempat yang terhormat dalam gereja Latin … ” (Musicam Sacram 62). Di Indonesia, belum pernah saya mendengarkan bunyi organ pipa asli yang sangat indah. Paling-paling hanya organ elektrik atau keyboard elektrik, dan itupun seringkali mengeluarkan bunyi lain, bukan bunyi organ pipa. Percayalah, lain sekali bunyi organ pipa asli dibandingkan dengan bunyi organ elektrik yang paling bagus sekalipun. Denting piano elektrik atau Clavinova mungkin bisa mendekati bunyi asli grand piano, tapi tidak demikian dengan organ pipa yang sama sekali tidak membutuhkan sound system tambahan.

Seperti kata peribahasa, tak kenal maka tak sayang. Organ pipa memang tidak murah, tapi juga tidak semahal yang dibayangkan orang. Saya berharap, suatu saat untuk Katedral Hati Kudus Yesus ada donatur yang mau menyumbang organ pipa, agar umat Keuskupan Surabaya dapat mengenal dan merasakan betapa agungnya musik tradisional gereja katolik kita. Tentunya, perlu juga didatangkan organis hebat dari luar negeri untuk mengajar para organis kita memainkan organ pipa dengan baik dan benar. Perlukah ini semua? Untuk Tuhan kita berikan yang terbaik bukan? Kenapa harus puas dengan yang biasa-biasa saja kalau bisa kita berikan yang terbaik? Mau gereja katolik makin berkembang? Berikan yang terbaik, seperti yang dilakukan gereja-gereja non katolik yang berkembang dengan pesatnya.

Bicara mengenai musik dan lagu Gregorian, sekali lagi, tak kenal maka tak sayang. Kalau yang selama ini kita kenal hanyalah organ elektrik, lalu kita berpendapat bahwa organ tidak lebih baik dari piano (seperti pendapat saya 10 tahun yang lalu), sungguh sayang bukan? Kalau kita tidak pernah mendengar lagu Gregorian yang dinyanyikan dengan benar, lalu kita berpendapat bahwa lagu Gregorian bikin ngantuk, sungguh sayang bukan? Sebelum saya mempelajari lebih dalam tentang musik dan lagu Gregorian, saya juga tidak mengerti benar mengapa gereja katolik mengagungkan lagu Gregorian, selain sekedar melestarikan tradisi. Paus Benediktus XVI berulang kali menyampaikan pentingnya melestarikan lagu Gregorian dalam berbagai kesempatan, termasuk dalam Anjuran Apostolik Pasca-Sinode Sacramentum Caritatis. Pada bagian akhir klausul tentang nyanyian liturgis, Paus meminta, “ ... Akhirnya, dengan tetap menghargai aneka gaya dan beragam tradisi yang sangat berharga, saya mendambakan, sesuai dengan permintaan yang diajukan oleh para Bapa Sinode, agar nyanyian Gregorian benar-benar dihargai dan digunakan sebagai nyanyian yang sesuai untuk liturgi Romawi.” (Sacramentum Caritatis 42)

Saya tak menganjurkan agar organ pipa dan musik serta lagu Gregorian dimainkan di semua gereja di Keuskupan Surabaya. Tentu tidak. Tetapi, mungkin sudah saatnya umat di kota besar seperti Surabaya diperkenalkan kepada tradisi agung ini. Banyak sudah umat yang pergi ke Vatikan dan lain-lain tempat suci di Eropa. Banyak di antara mereka yang pernah menikmati keindahan ini. Dengan makin mudah dan murahnya akses ke internet, makin banyak juga orang yang mengenal berbagai tradisi indah gereja katolik yang universal. Kenapa harus bingung dengan inkulturasi manakala kita tahu orang Indonesia (khususnya kaum muda di kota-kota besar) mengagungkan segala sesuatu yang berbau luar negeri?

Baiklah, tapi tetap lagu Gregorian tidak cocok di sini, karena umat tidak mengerti bahasa Latin? Begitukah? Pernahkah Anda berpikir, berapa banyak pemakai t-shirt bertuliskan kata-kata bahasa Inggris yang tidak mengerti benar apa arti kalimat di t-shirt-nya? Sungguhpun begitu, tahukah Anda bahwa di kota-kota besar seperti Surabaya t-shirt berbahasa Inggris lebih laku dijual daripada t-shirt berbahasa Indonesia? Tentu, alangkah baiknya bila semua doa dan lagu di gereja katolik dibuat dalam bahasa Indonesia dan dimengerti oleh umat. Saya setuju. Saya hanya ingin memberikan sebuah sentilan kecil. Kalimat berikut ini saya ambil dari Credo dalam bahasa Latin aslinya, ”Et unam sanctam, catholicam et apostolicam Ecclesiam”. Anda tidak mengerti? Tidak jadi masalah. Anda tentu ingat kalimat yang berikut ini, ”Aku percaya akan Gereja yang satu, kudus, katolik dan apostolik.” Ini dalam bahasa Indonesia, terjemahan dari kalimat bahasa Latin sebelumnya. Mengertikah Anda apa artinya ”gereja yang satu” dalam kalimat ini? Hmmm? Bagimana dengan ”gereja yang kudus?” Ya, kita tahu apa itu kudus. Berikutnya, ”gereja yang katolik?” Lalu, ”gereja yang apostolik?” Sudah berapa kalikah kita melafalkan Credo ini dalam bahasa Indonesia? Tanpa kita sadari, kebanyakan dari kita hanya menghafal kalimat tanpa mengerti apa artinya.

Sebagai penutup, hari gini, semua orang mempelajari bahasa universal yang mempersatukan berbagai bangsa dan budaya; bahasa Inggris dan Mandarin di antaranya. Kenapa tidak belajar bahasa Latin, yang mempersatukan umat katolik sedunia? Di Amerika Serikat, bahasa Latin sudah (kembali) diajarkan kepada anak-anak sejak SMP. Dan ini bukan (hanya) di sekolah katolik. Bukan apa-apa, bahasa Latin adalah akar dari berbagai bahasa terpenting di dunia, seperti Inggris, Prancis, Spanyol dan masih banyak lagi. Jadi? Tidak ada salahnya kita membuka diri, mempelajari sesuatu yang belum kita ketahui, dan membiarkan Tuhan menyentuh hati kita. Tidak ada kata terlambat untuk belajar. Veni vidi vici. Yang ini tahu artinya kan?

Catatan: Artikel ini dimuat di Tabloid Rohani Jubileum yang diterbitkan oleh Keuskupan Surabaya, Edisi 100 - Tahun IX - Juli 2008.

Schola Cantorum Surabaiensis


Ada yang istimewa di Hari Raya Hati Kudus Yesus, Jumat, 30 Mei 2008 yang lalu. Pada hari raya pelindung katedral Surabaya ini, Uskup Surabaya Mgr. Vincentius Sutikno Wisaksono meresmikan berdirinya Kelompok Studi dan Paduan Suara Gregorian Schola Cantorum Surabaiensis (SCS). Bapa Uskup yang didampingi Pastor Kepala Paroki Katedral Rm. Eko Budi Susilo menyambut baik kehadiran SCS ini. “Agar madah kami semakin pantas naik kepada keagungan-Mu, kami mengunjukkan paduan suara ini supaya dikuduskan bagi-Mu. Semoga dengan suara nyanyiannya kami melambungkan pujian dan doa dalam nada dan irama yang semakin indah,” demikian penggalan doa pemberkatan yang dipanjatkan Bapa Uskup. Ibadat berkat diakhiri dengan nyanyian madah syukur Te Deum oleh anggota SCS, yang diikuti oleh umat yang hadir.

Pendirian kelompok yang dibidani Albert Wibisono dan Anton Tjahjoanggoro ini merupakan jawaban atas harapan Paus Benediktus XVI yang telah berulang kali disampaikannya dalam berbagai kesempatan, termasuk dalam Anjuran Apostolik Pasca-Sinode Sacramentum Caritatis. Pada bagian akhir klausul tentang nyanyian liturgis, Paus meminta, “Akhirnya, dengan tetap menghargai aneka gaya dan beragam tradisi yang sangat berharga, saya mendambakan, sesuai dengan permintaan yang diajukan oleh para Bapa Sinode, agar nyanyian Gregorian benar-benar dihargai dan digunakan sebagai nyanyian yang sesuai untuk liturgi Romawi.” (Sacramentum Caritatis 42)


Anggota SCS berasal dari berbagai paroki di Surabaya, mulai dari Katedral sampai paroki Sakramen Mahakudus di Pagesangan. Umur anggota juga bervariasi dari 21 yang termuda sampai 57 yang tertua. Kelompok ini bertemu seminggu sekali untuk belajar dan menambah wawasan tentang tradisi musik Gregorian dan liturgi gereja. Disamping itu, atas prakarsa Rm. Eko Budi Susilo, SCS juga mendaraskan Completorium (Ibadat Penutup) di Katedral setiap hari Minggu malam pukul 21:00. Umat pun diajak untuk berpartisipasi dalam liturgi indah nan khidmat ini. Teks khusus Bahasa Latin/Indonesia yang ditampilkan sebelah-menyebelah pun disediakan agar umat dapat memahami dan belajar mengikuti beberapa bagian yang didaraskan dalam bahasa Latin.

Catatan: Artikel ini dimuat dalam Majalah Liturgi yang diterbitkan oleh Komisi Liturgi KWI, Vol 19 No 4 - Jul-Agt 2008.