Lagu Gregorian? Kuno? Bukan Jamannya?

Sepuluh tahun yang lalu, mungkin saya akan setuju dengan pernyataan bahwa lagu dan musik Gregorian adalah bagian dari masa lalu dan kurang cocok untuk dipakai pada masa sekarang ini. Sepuluh tahun yang lalu, mungkin saya akan setuju bahwa lagu dan musik Gregorian, yang tidak saya mengerti artinya, bikin kita makin ngantuk di gereja.

Sepuluh tahun yang lalu, saya kembali ke Indonesia dari studi di Amerika Serikat. Di sana saya dan istri tinggal di sebuah kota kecil dekat San Francisco. Hampir tiap minggu kami ikut misa di suatu gereja kecil di dekat apartemen kami. Suasananya benar-benar menyenangkan. Misa hari Minggu malam selalu dilayani oleh koor orang-orang keturunan Filipina, dengan iringan piano yang dimainkan oleh seorang suster berkulit putih. Indah sekali lagu-lagu bahasa Inggris dan (sesekali) Tagalog yang mereka bawakan. Melodinya mudah diikuti, lagunya tenang dan menyentuh hati. Bukan sekali dua saya menangis dalam misa, khususnya pada saat komuni. Sampai saat itu, belum pernah dalam hidup ini saya mendengar piano digunakan mengiringi koor gereja. Di tangan piawai Suster Helen, musik dari grand piano di gereja kecil itu amat menyentuh hati saya dan istri. Sepulangnya dari Amerika, tentulah saya ingin hal yang indah itu ada di Surabaya. Saya memesan berbagai macam partitur lagu bahasa Inggris dari Oregon Catholic Press dan mulai memperkenalkannya kepada beberapa kelompok koor yang saya tahu. Lama kelamaan orang mulai terbiasa mendengar kelompok koor menyanyikan lagu bahasa Inggris dalam misa. Karena grand piano tidak ada di gereja manapun di Surabaya, sesekali saya menyewa Clavinova (piano elektrik) dari rumah musik yang ada. Efeknya tidak sehebat grand piano tentu, tapi lumayan untuk membawa perubahan suasana di dalam misa. Sesuatu yang baru waktu itu, untuk gereja yang biasanya hanya menggunakan organ elektrik (=keyboard!). Saya gembira sekali waktu akhirnya Romo Jelantik membeli Clavinova untuk Katedral Hati Kudus Yesus. Belakangan Gereja Santo Yakobus juga membeli Clavinova. Saya puas bisa ikut memperkenalkan sesuatu yang baru dan indah, agar perayaan ekaristi kita menjadi lebih khidmat. Itu sepuluh tahun yang lalu.

Empat tahun yang lalu, saya dan istri berkesempatan berjalan-jalan di beberapa negara di Eropa, termasuk Prancis dan Italia. Bukan kunjungan saya yang pertama ke Eropa memang, tapi baru saat itulah Tuhan menunjukkan kepada saya keindahan musik gereja katolik yang sebenarnya. Bersama istri, saya berkesempatan mengikuti misa hari Minggu di sebuah gereja besar nan agung, St. Eustache di Paris. Baru kali itu saya mendengar organ pipa raksasa dimainkan dalam suatu perayaan ekaristi. Tergerak luar biasa perasaan saya, benar-benar sulit untuk digambarkan dengan kata-kata. Lantai dan bangku-bangku gereja bergetar saat nada-nada rendah dimainkan bergantian dengan nada-nada tinggi. Saya merasa bagai di surga. Benar-benar indah dan menyentuh hati. Inilah musik gereja katolik yang dilupakan orang. Atau, lebih tepatnya, inilah musik gereja katolik yang tidak pernah diketahui oleh sebagian besar dari kita di Indonesia. Baru saat itu saya mengerti mengapa Vatikan meminta “ … organ pipa harus diberikan tempat yang terhormat dalam gereja Latin … ” (Musicam Sacram 62). Di Indonesia, belum pernah saya mendengarkan bunyi organ pipa asli yang sangat indah. Paling-paling hanya organ elektrik atau keyboard elektrik, dan itupun seringkali mengeluarkan bunyi lain, bukan bunyi organ pipa. Percayalah, lain sekali bunyi organ pipa asli dibandingkan dengan bunyi organ elektrik yang paling bagus sekalipun. Denting piano elektrik atau Clavinova mungkin bisa mendekati bunyi asli grand piano, tapi tidak demikian dengan organ pipa yang sama sekali tidak membutuhkan sound system tambahan.

Seperti kata peribahasa, tak kenal maka tak sayang. Organ pipa memang tidak murah, tapi juga tidak semahal yang dibayangkan orang. Saya berharap, suatu saat untuk Katedral Hati Kudus Yesus ada donatur yang mau menyumbang organ pipa, agar umat Keuskupan Surabaya dapat mengenal dan merasakan betapa agungnya musik tradisional gereja katolik kita. Tentunya, perlu juga didatangkan organis hebat dari luar negeri untuk mengajar para organis kita memainkan organ pipa dengan baik dan benar. Perlukah ini semua? Untuk Tuhan kita berikan yang terbaik bukan? Kenapa harus puas dengan yang biasa-biasa saja kalau bisa kita berikan yang terbaik? Mau gereja katolik makin berkembang? Berikan yang terbaik, seperti yang dilakukan gereja-gereja non katolik yang berkembang dengan pesatnya.

Bicara mengenai musik dan lagu Gregorian, sekali lagi, tak kenal maka tak sayang. Kalau yang selama ini kita kenal hanyalah organ elektrik, lalu kita berpendapat bahwa organ tidak lebih baik dari piano (seperti pendapat saya 10 tahun yang lalu), sungguh sayang bukan? Kalau kita tidak pernah mendengar lagu Gregorian yang dinyanyikan dengan benar, lalu kita berpendapat bahwa lagu Gregorian bikin ngantuk, sungguh sayang bukan? Sebelum saya mempelajari lebih dalam tentang musik dan lagu Gregorian, saya juga tidak mengerti benar mengapa gereja katolik mengagungkan lagu Gregorian, selain sekedar melestarikan tradisi. Paus Benediktus XVI berulang kali menyampaikan pentingnya melestarikan lagu Gregorian dalam berbagai kesempatan, termasuk dalam Anjuran Apostolik Pasca-Sinode Sacramentum Caritatis. Pada bagian akhir klausul tentang nyanyian liturgis, Paus meminta, “ ... Akhirnya, dengan tetap menghargai aneka gaya dan beragam tradisi yang sangat berharga, saya mendambakan, sesuai dengan permintaan yang diajukan oleh para Bapa Sinode, agar nyanyian Gregorian benar-benar dihargai dan digunakan sebagai nyanyian yang sesuai untuk liturgi Romawi.” (Sacramentum Caritatis 42)

Saya tak menganjurkan agar organ pipa dan musik serta lagu Gregorian dimainkan di semua gereja di Keuskupan Surabaya. Tentu tidak. Tetapi, mungkin sudah saatnya umat di kota besar seperti Surabaya diperkenalkan kepada tradisi agung ini. Banyak sudah umat yang pergi ke Vatikan dan lain-lain tempat suci di Eropa. Banyak di antara mereka yang pernah menikmati keindahan ini. Dengan makin mudah dan murahnya akses ke internet, makin banyak juga orang yang mengenal berbagai tradisi indah gereja katolik yang universal. Kenapa harus bingung dengan inkulturasi manakala kita tahu orang Indonesia (khususnya kaum muda di kota-kota besar) mengagungkan segala sesuatu yang berbau luar negeri?

Baiklah, tapi tetap lagu Gregorian tidak cocok di sini, karena umat tidak mengerti bahasa Latin? Begitukah? Pernahkah Anda berpikir, berapa banyak pemakai t-shirt bertuliskan kata-kata bahasa Inggris yang tidak mengerti benar apa arti kalimat di t-shirt-nya? Sungguhpun begitu, tahukah Anda bahwa di kota-kota besar seperti Surabaya t-shirt berbahasa Inggris lebih laku dijual daripada t-shirt berbahasa Indonesia? Tentu, alangkah baiknya bila semua doa dan lagu di gereja katolik dibuat dalam bahasa Indonesia dan dimengerti oleh umat. Saya setuju. Saya hanya ingin memberikan sebuah sentilan kecil. Kalimat berikut ini saya ambil dari Credo dalam bahasa Latin aslinya, ”Et unam sanctam, catholicam et apostolicam Ecclesiam”. Anda tidak mengerti? Tidak jadi masalah. Anda tentu ingat kalimat yang berikut ini, ”Aku percaya akan Gereja yang satu, kudus, katolik dan apostolik.” Ini dalam bahasa Indonesia, terjemahan dari kalimat bahasa Latin sebelumnya. Mengertikah Anda apa artinya ”gereja yang satu” dalam kalimat ini? Hmmm? Bagimana dengan ”gereja yang kudus?” Ya, kita tahu apa itu kudus. Berikutnya, ”gereja yang katolik?” Lalu, ”gereja yang apostolik?” Sudah berapa kalikah kita melafalkan Credo ini dalam bahasa Indonesia? Tanpa kita sadari, kebanyakan dari kita hanya menghafal kalimat tanpa mengerti apa artinya.

Sebagai penutup, hari gini, semua orang mempelajari bahasa universal yang mempersatukan berbagai bangsa dan budaya; bahasa Inggris dan Mandarin di antaranya. Kenapa tidak belajar bahasa Latin, yang mempersatukan umat katolik sedunia? Di Amerika Serikat, bahasa Latin sudah (kembali) diajarkan kepada anak-anak sejak SMP. Dan ini bukan (hanya) di sekolah katolik. Bukan apa-apa, bahasa Latin adalah akar dari berbagai bahasa terpenting di dunia, seperti Inggris, Prancis, Spanyol dan masih banyak lagi. Jadi? Tidak ada salahnya kita membuka diri, mempelajari sesuatu yang belum kita ketahui, dan membiarkan Tuhan menyentuh hati kita. Tidak ada kata terlambat untuk belajar. Veni vidi vici. Yang ini tahu artinya kan?

Catatan: Artikel ini dimuat di Tabloid Rohani Jubileum yang diterbitkan oleh Keuskupan Surabaya, Edisi 100 - Tahun IX - Juli 2008.

23 comments:

  1. Mengapa tidak mempelajari bahasa arab,maka dapat kita memperbandingkan dgn alquraan dalam mencari kebenaranya,.

    Tidak salah untuk mengatahuinya,tidak ada paksaan,sekadar menambah ilmu pengatahuan,anugarah Tuhan.

    Maaf itu pendapat saya cuma.

    ReplyDelete
  2. Tak kenal maka tak cinta,gitu kata pujangga lama,.

    Mari kita perbandingkan dengan al-quraan(Kitab suci).

    Kita nilai ayat dan pejelesan nya.

    Kita lihat dimana perbedaan yang nyata.

    Tak salah sekadar untuk mengatahui nya.

    ReplyDelete
  3. makasih buat ip-ruhihayat dan rajazainudin. kaget juga ada kawan muslim yang mampir ke blog katolik ini dan tinggalin komentar.

    benar kata anda berdua, tidak ada salahnya saling mempelajari antar sesama ahlul kitab. saya sendiri sedang otodidak belajar bahasa latin, biar lambat asal selamat. semoga suatu kali bisa belajar bahasa arab juga, insya allah.

    tentang al-quran, saya pernah melihat2 yang versi bahasa indonesia, sekarang sudah lupa sih. mempelajari kitab suci sendiri aja belum, he3. oh, kitab suci katolik yang bahasa arab ada juga loh, dan membukanya dari belakang juga, saya pernah lihat.

    salam (ini bahasa arab juga kan),
    albert

    ReplyDelete
  4. Surprise and revolusioner..!!,hari gini msh ada org sharing ttg liturgi yang benar,saya setuju sekali bilamana tradisi kuno itu harus bangkit lagi.Bravo,mas Albert saya dukung anda,Duniaku adlh Parokiku..!

    ReplyDelete
  5. makasih mas anonim, he3, saya sih maunya banyak, sayang waktunya terbatas, sumber daya juga. satu2 lah, nanti saya nulis lagi kalau ada waktu.

    salam,
    albert

    ReplyDelete
  6. Dear Pak Albert, saya pernah mengikuti completorium dalam bahasa latin yang Anda pandu. Saya sangat appreciate, namun kembali ada yang mengganjal dibenak saya, karena sekarang pun masih terkadang melakukan (solo) kompletorium bahasa Indonesia dengan nada dari panduan (Rawaseneng??) yang biasa dulu kami lakukan di seminari tinggi. Pertaanyaannya :
    1. Tone / nada yang kami daraskan berbeda dengan yang Anda pandu. Apakah yang kami daraskan tersbut salah/tidak up to date? Apakah mungkin kompletorium yang rutin di katedral menggunakan nada yang menurut saya "sudah biasa" didaraskan di biara-biara tersebut? Maaf jika saya salah karena terus terang saya tidak banyak tahu tentang tone/nada gregorian.
    2. Memang indah lagu Gregorian, namun apakah kurang afdol atau bahkan keliru jika kita melakukannya (kompletorium) dalam bahasa indonesia?

    Ada beberapa hal lain masih tersimpan di benak saya mengenai kompletorium ini, namun sementara ini dulu. Maaf pertanyaan ini bukan test atau protes melainkan benar-benar saya ingin pencerahan karena saya hanya tahu sangat sedikit mengenai hal ini.

    ReplyDelete
  7. mas suci, makasih banyak komentarnya. saya coba jawab ya.

    1. setahu saya, banyak pihak2 di katolik berinovasi dalam liturgi, termasuk dalam hal tone untuk completorium. dan ini bukan hanya di indonesia aja kok. di eropa pun juga banyak. lain biara lain kebiasaannya. untuk completorium di katedral hky surabaya, saya menggunakan versi yang disiarkan radio vatikan sebagai acuan. silakan coba download file-nya dari sini:
    http://www.radiovaticana.org/en1/on_demand.asp?gr=ltg

    2. mengenai bahasa, sejak konsili vatikan ii nggak ada masalah dengan bahasa vernakular kok. jadi saya kira ya sama afdolnya bahasa latin atau indonesia. memang saya pribadi ingin ikut paus yang sedang getol memasyarakatkan bahasa latin dan lagu gregorian, he3. lihat aja website resmi vatican, sejak beberapa waktu yang lalu ada tambahan satu bahasa lagi di homepage-nya, bahasa latin. dulunya kan cuman 6 bahasa.

    saya juga senang ada teman ngobrol mas, kalau mau minta aja nomor hp saya sama mas anggoro atau yosua.

    albert

    ReplyDelete
  8. Dear Pak Albert,

    Terima kasih banyak atas jawabannya. Saya juga punya kerinduan untuk mentradisikan tradisi Katolik ini, setidaknya di Paroki tempat saya tinggal : Salib Suci Tropodo.
    Ide saya sbb :
    1. Kita lakukan dalam bahasa Indonesia versi tone Rawa Seneng dahulu.
    2. Seminggu sekali dengan hari yang berganti-ganti, misal : Minggu I hari Selasa, II hari Rabu, III hari Kamis, IV hari Jumat - sedangkan setiap hari Minggu berpuncak di Katedral.
    3. Waktu pk. 22.00 - dengan pertimbangan akan dihadiri oleh umat yang memang telah selesai beraktivitas dan benar-benar sebagai ibadat "pelengkap/penutup" hari.
    4. Pelaksana awal oleh Team, namun setelah umat terbiasa - maka akan dihandle oleh petugas dari wilayah secara bergiliran.
    5. Setelah "mentradisi" maka kita kenalkan versi bahasa latin dan pemakaian busana liturgi (jubah)kepada umat.

    Pak Albert, mohon diberikan tanggapan. terus terang ini masih sekedar wacana saya (umat biasa) yang belum saya komunikasi ke pastor paroki. Tujuan saya hanya agar umat Katolik bangga dan meneruskan / memeilihara kekayaan tradisi gerejanya - dan tidak perlu mencari-cari "kepuasan psikologis" dalam ibadat gereja lain. Thks Pak. Saya akan meminta nomor Anda ke Beliau-beliau yang Anda sebut.

    ReplyDelete
  9. mas suci,

    senang sekali ada yang pengin melaksanakan tradisi kompletorium di paroki lain. saya dengar di santo yakobus surabaya juga ada, sebulan sekali, khusus untuk para pelayan komuni tak lazim, sebagai permulaan. semoga sukses ya!

    berikut komentar saya:

    1. saya kira sama baiknya bahasa latin atau bahasa indonesia dan tone rawaseneng atau tone vatikan. saya pribadi memang ingin memasyarakatkan tradisi yang dilaksanakan di vatikan, yang saya persepsikan sebagai "lebih asli" dan tidak banyak tersentuh oleh kreativitas lokal.

    2. untuk katedral, kami memutuskan untuk melaksanakan kompletorium di hari minggu dengan harapan lebih banyak orang yg bisa ikut, karena hari minggu adalah hari tuhan dan cukup banyak orang yang memberikan waktu untuk tuhan di hari minggu. dengan dibuat tiap minggu, pada hari minggu, pada jam yang sama, akan memudahkan umat untuk mengingat, sehingga mudah bagi mereka kalau ingin hadir. kalau jadwalnya tidak tetap kawatirnya lebih susah diingat. saya yakin mas suci tentu punya pertimbangan sendiri dalam menentukan jadwal di salib suci.

    3. untuk gereja yang dekat dengan tempat tinggal umat seperti salib suci, saya pikir pukul 22:00 adalah waktu yang tepat. semoga umat belum pada tidur, he3.

    4. tentu lah begitu. di katedral memang idealnya dipimpin oleh uskup atau rektor katedral dan dimotori oleh para imam dan kanon katedral. karena itu semua tidak selalu ada di katedral hky, setidaknya schola cantorum surabaiensis yang selalu ada dan semoga bisa membuatnya indah dengan nyanyian gregorian yang indah.

    5. kalau perlu menggunakan bahasa latin nantinya, saya ada bukunya yang sudah dibuat khusus, boleh dimanfaatkan. bahkan sebetulnya buku itu bisa dipakai untuk kompletorium bahasa indonesia dan sekaligus untuk mengenalkan bahasa latinnya. di buku itu ada bahasa latin-indonesia sebelah-menyebelah, jadi bagus untuk belajar. seperti teks yang kami gunakan di seminari garum waktu itu, tapi di buku ini lengkap untuk seminggu, bukan cuma hanya untuk sehari. soal penggunaan jubah, itu adalah seragam schola cantorum surabaiensis, jadi bukan karena untuk kompletorium diperlukan jubah bagi pelaksananya. sebetulnya saya ingin menulis mengenai busana klerus untuk kompletorium, tapi masih belum sempat, he3.

    ini dulu ya mas, semoga sukses.

    salam,
    albert

    ReplyDelete
  10. Pak Albert, salut untuk bapak yang mengingatkan kita untuk mengenali lagu-lagu Gregorian. Paroki saya tengah mencoba untuk memperkenalkannya kepada umat, namun ada kesulitan untuk menemukan teks lagu Gregorian lengkap dengan notasi angka (berhubung tidak banyak yang mengerti notasi Gregorian). Apakah bapak bisa membantu kami ? Berkah Dalem. Ignaz

    ReplyDelete
  11. pak ignaz, memang saya juga enggak menemukan lagu gregorian dengan notasi angka, jadi saya pasrah saja dan coba belajar baca notasi gregorian. ternyata sama sekali enggak susah. juga, ternyata jauh lebih mudah menyanyi dengan notasi gregorian, kita jadi tahu kapan harus naik dan kapan harus turun, mengikuti naik turunnya kotak2 itu. oh, sebagai info, saya juga nggak bisa baca not balok loh dan saya enggak bisa main alat musik.

    kalau bapak mau, saya ada artikel dalam bahasa inggris yang saya temukan di internet, petunjuk praktis baca not gregorian. coba akan saya post aja di artikel berikutnya. bisa jadi bahan untuk mengajar anggota koor lainnya.

    kalau masih ada lagi yang bisa saya bantu jangan segan pak.

    salam,
    albert

    ReplyDelete
  12. saya lagi cari2 artikel mengenai lagu Gregorian ,saya tertarik dengan lagu Gregorian yang monophonic saya
    mau tanya apakah lagu ini dinyanyikan dengan satu suara?

    prasetyo

    ReplyDelete
  13. pak prasetyo,

    betul pak, monophonic maksudnya adalah satu suara. lawannya adalah polyphonic, banyak suara. lagu gregorian pada umumnya adalah monophonic atau satu suara.

    salam,
    albert

    ReplyDelete
  14. trima kasih pak albert, dimana saya bisa dapat lagu2 Gregorian untuk Misa ?

    salam
    pras

    ReplyDelete
  15. di bagian sebelah kanan ada daftar link "website bagus". di situ ada link "music: gregorian untuk misa". ada di situ semua pak untuk satu tahun liturgi. silakan lihat-lihat.

    salam,
    albert

    ReplyDelete
  16. trima kasih pak albert,

    saya sudah buka, tapi kok lagunya bahasa latin semua ya? terus notasinya kotak2 , saya ingin sekali bisa belajar notasi Gregorian, apa bapak punya artikel
    bagaimana membaca notasi Gregorian ? dan kalo ada contoh lagu Gregorian yang bahasa Inggris,kalo yang bahasa Indonesia nggak ada ya?

    salam, pras

    ReplyDelete
  17. ada pak, silakan baca artikel saya "belajar baca notasi gregorian", bisa ditemukan di arsip blog bulan agustus 2008. mungkin ada manfaatnya juga kalau bapak baca "lagu latin = lagu gregorian?" di arsip bulan juli 2008.

    maaf saya nggak punya lagu gregorian bahasa inggris. kalau yang bahasa indonesia ada beberapa di puji syukur.

    lagu gregorian untuk misa memang sudah ditentukan semua, seperti yang ada di website yang saya tunjukkan itu. mulai dari lagu pembukaan, persembahan sampai komuni, plus mazmur dan alleluia, teksnya sudah dipilih yang sesuai dengan bacaan-bacaan pada hari itu. kesannya memang tidak fleksibel, he3.

    oh ya, dalam tradisi katolik memang tidak dikenal lagu penutup ya pak. biasanya saat penutup hanya dimainkan organ (pipa) saja.

    kalau bapak masih ada pertanyaan lagi, boleh langsung dikirim ke awibisono@hotmail.com, dengan senang hati saya akan coba jawab.

    salam,
    albert

    ReplyDelete
  18. saya salut pada bapak dengan blog liturginya! sangat detail...
    boleh nggak pak saya copy dengan menampilkan identitas bapak pada warta paroki kami?
    salam damai
    prast - Manokwari
    papua barat

    ReplyDelete
  19. pak prast, silakan pak, semoga bisa berguna untuk umat di sana. saya akan balas e-mail bapak lewat hotmail aja ya.

    salam,
    albert

    ReplyDelete
  20. Pak Albert, Senag sekali saya menemukan blog ini. Saya sedang mencari lagu2 Gregorian , dimanakah di Jakarta bisa di beli??
    Selama ini saya download dari Youtube


    Terimakasih

    ReplyDelete
  21. terima kasih pak foxeverfox. schola iacartensis (paduan suara gregorian jakarta) sudah pernah mengeluarkan dua buah cd gregorian dan diterbitkan oleh kanisius. bapak bisa beli di toko buku kanisius. selain dari itu, saya belum tahu ada lagu-lagu gregorian yang dijual di indonesia. lagu-lagu gregorian untuk misa dapat bapak temukan di link berikut ini:
    http://www.christusrex.org/www2/cantgreg/all_masses.html

    ReplyDelete
  22. pa Albert, saya minta tips nya dong buat belajar bahasa Latin dengan cepat :)

    ReplyDelete
  23. pak yosef kevin:

    wah, maaf, saya sendiri juga belum bisa bahasa latin. saya belajar sendiri pelan2. mungkin bapak mau download tata perayaan ekaristi latin-indonesia yang saya buat ini saja, bisa jadi sarana belajar.

    http://www.scribd.com/doc/19131783/Tata-Perayaan-Ekaristi-Latin-Indonesia

    salam,
    albert

    ReplyDelete