Busana Uskup


Pernahkah terlintas dalam pikiran Anda, siapa penjahit yang membuat jubah yang dipakai paus? Di Roma, di sebuah jalan kecil beberapa meter dari Gereja Santa Maria Sopra Minerva dekat Pantheon, ada sebuah toko kecil dengan papan nama bertuliskan Gammarelli, Sartoria Per Ecclesiastici. Sejak didirikan oleh Antonio Gammarelli pada tahun 1798, turun-temurun keluarga Gammarelli telah menjadi langganan para paus, dengan pengecualian Paus Pius XII (1939-1958) dan Paus Benediktus XVI. Paus Pius XII memilih menggunakan penjahit langganan keluarganya dan Paus Benediktus XVI tetap menggunakan penjahit yang sama yang telah melayaninya selama lebih dari 20 tahun.

Ada beberapa penjahit busana gereja di Roma, mulai dari EuroClero yang berlokasi di seberang Lapangan Santo Petrus, Barbiconi yang melayani order lewat internet, sampai ke Gammarelli yang terlihat sederhana namun bertabur bintang. Para penjahit ini bersuara satu saat bicara mengenai jubah klerus dan khususnya petinggi gereja. Semuanya taat pada aturan yang dikeluarkan Vatikan, termasuk Ut Sive Sollicite (Instruksi Sekretariat Negara Tentang Busana, Gelar dan Lambang Kardinal, Uskup serta Prelat Minor Lain) dan Caeremoniale Episcoporum (Ceremonial of Bishops atau Tata Upacara Para Uskup).

Gereja katolik memiliki tradisi busana yang indah dan sarat dengan makna simbolis. Sayangnya, tidak banyak orang yang tertarik mempelajari tradisi ini, yang sudah ratusan tahun umurnya. Artikel ini memang berjudul Busana Uskup, tapi apa yang akan saya sampaikan di sini dapat berguna bagi semua pihak, mulai dari uskup, imam, diakon sampai misdinar dan koster serta petugas liturgi lainnya.

Tradisi mengatur busana klerus dan petinggi gereja telah dimulai berabad-abad yang lalu. Aturan terakhir yang dikeluarkan pasca-Konsili Vatikan II menyederhanakan berbagai kemewahan yang dulunya ada. Sayangnya, dalam banyak kasus, penyederhanaan yang diamanatkan oleh para Bapa Konsili sering disalahtafsirkan. Keagungan dalam kesederhanaan (noble simplicity, nobili simplicitate) yang diamanatkan oleh Konstitusi Liturgi Sacrosanctum Concilium seringkali lalu menjadi kesederhanaan saja tanpa keagungan. Busana klerus pun menjadi sederhana dan tanpa keagungan yang harusnya nampak dari seorang pemimpin umat. Dari jubah lengkap dengan biretta menjadi hem batik dan bahkan kaos polo dengan topi baseball. Kita lupa, bahwa sungguhpun umat menghargai pemimpin yang bersahaja, umat juga rindu melihat pemimpinnya tampil sebagai pemimpin. Memang, negeri kita ini panas. Tapi jangan lupa, cuaca di kota Roma bisa jauh lebih panas dari Indonesia beberapa bulan dalam setahunnya, waktu musim panas. Kita toh tidak pernah melihat paus tampil tanpa jubah putihnya.

Mari kita masuk lebih dalam mengenai busana uskup. Aturan Vatikan yang berlaku sekarang pada dasarnya membagi membagi busana uskup menjadi 3 macam, busana liturgis, busana resmi dan busana sehari-hari.

Busana Liturgis (Choir Dress-Habitus Choralis)

Busana uskup untuk upacara liturgi gereja, di dalam dan di luar wilayah keuskupannya, adalah: jubah ungu setakat mata kaki; sabuk sutera ungu; rochet dari linen atau bahan sejenis (warna putih); mozeta (mantol kecil yang menutup pundak, dengan kancing di bagian depan) ungu; salib pektoral (salib dada) dengan tali anyaman warna hijau-emas (bukan dengan rantai); pileola (topi kecil yang juga dikenal dengan nama solideo) ungu; bireta (topi segi empat dengan pom) ungu; dan stocking/kaos kaki ungu. Foto di atas adalah Uskup Robert Vasa dari Baker, Oregon, USA, yang mengenakan busana liturgi lengkap. Yang tidak kelihatan hanya sabuk sutera dan kaos kaki ungu beliau.

Cappa magna (mantol kebesaran) ungu, tanpa bulu ermine, boleh dikenakan hanya di dalam wilayah keuskupan dan untuk perayaan-perayaan yang bersifat lebih agung. Uskup senantiasa mengenakan cincin, simbol kesetiaannya pada dan ikatan sucinya dengan Gereja, pengantinnya.

Gambar di sebelah kiri adalah detail dari jubah liturgis uskup warna ungu dengan mozeta dalam keadaan terpasang. Gambar di sebelah kanan adalah rochet, yang mirip dengan superpli namun berlengan sempit dan biasanya diberi pelapis sutera warna merah di bagian dalam lengan bawah. Rochet selalu dikenakan di atas jubah dan sabuk sutera ungu dan di bawah mozeta ungu, seperti tampak pada foto Uskup Robert Vasa di atas.

Uskup mengenakan busana di atas saat ia bepergian secara resmi ke atau dari suatu gereja, saat ia hadir pada suatu upacara liturgi (termasuk misa kudus dan berbagai pemberkatan) tapi tidak memimpinnya, dan pada saat lain yang ditentukan dalam Caeremoniale Episcoporum. Saat akan memimpin misa, Uskup yang tiba di gereja dengan busana liturgis di atas akan melepaskan cappa magna (bila dikenakan), salib pektoral, mozeta dan rochet, dan kemudian mengenakan amik, alba, singel, salib pektoral dengan tali anyaman warna hijau-emas, stola, dalmatik pontifikal (untuk misa agung) dan kasula serta pallium (khusus untuk metropolitan/uskup agung).

Busana Resmi (Untuk Acara Resmi Non-Liturgis)

Busana uskup untuk acara resmi non-liturgis adalah: jubah hitam setakat mata kaki dengan berbagai aksen merah (bukan ungu) di bagian tepi kain dan lubang kancing; paliola (mantol kecil yang menutup pundak, terbuka dan tanpa kancing di bagian depan) hitam dengan aksen merah (mantol ini opsional, boleh dikenakan boleh tidak); sabuk sutera ungu; salib pektoral dengan rantai; pileola ungu; collare ungu; stocking/kaos kaki ungu (kaos kaki ungu ini juga opsional). (lihat gambar)

Di daerah tropis, jubah dan paliola warna hitam dengan aksen merah ini sering diganti dengan putih atau krem muda dengan aksen merah. Ini praktik yang kita temui di Indonesia, di antaranya. Yang jelas, uskup dari negara tropis yang berkunjung ke Roma sebaiknya tidak mengenakan jubah warna putih, yang secara tradisi merupakan privilese paus. Catatan: menurut tradisi gereja katolik jubah warna hitam polos adalah untuk imam, ungu untuk uskup, merah untuk kardinal dan putih untuk paus.

Petasus (topi bertepi lebar) hitam, bila perlu, dapat ditambah dengan tali hijau. Ferraiolo (mantol panjang) dari sutera ungu hanya digunakan untuk acara-acara yang lebih resmi, misalnya wisuda di universitas katolik yang biasanya juga dihadiri uskup, berbagai acara kenegaraan dan lain-lain acara resmi non-liturgis. Jas/jaket panjang hitam biasa, yang dilengkapi penutup kepala sekalipun, boleh digunakan di atas busana resmi ini bila cuaca dingin mengharuskan.

Busana Sehari-hari

Busana uskup untuk keperluan sehari-hari adalah: jubah hitam polos setakat mata kaki (tanpa aksen merah); sabuk sutera ungu; salib pektoral dengan rantai; pileola ungu (opsional); collare ungu (opsional); stocking/kaos kaki hitam. Uskup yang berasal dari tarekat religius dapat mengenakan jubah institusinya. Cincin selalu dikenakan.

Mitra dan Tongkat Gembala

Mitra dan tongkat dapat dikenakan uskup pada berbagai upacara liturgi yang penting.

Pada prinsipnya mitra dikenakan uskup: saat duduk; saat menyampaikan homili; saat menyambut atau menyapa umat; saat berbicara kepada umat; saat menyampaikan ajakan untuk berdoa, kecuali bila sesaat sesudahnya ia harus melepasnya (untuk doa-doa tertentu); saat memberikan berkat meriah kepada umat; saat menerimakan sakramen; dan saat berjalan dalam prosesi.

Uskup tidak mengenakan mitra: selama ritus pembuka, doa pembuka, doa persembahan, dan doa sesudah komuni; selama doa umat, doa syukur agung, pembacaan injil, nyanyian yang dilagukan sambil berdiri, prosesi sakramen mahakudus; juga saat sakramen mahakudus ditakhtakan. Uskup tidak perlu menggunakan mitra dan tongkat saat ia berjalan dari satu tempat ke tempat lain yang dekat. Untuk mudahnya, mitra bisa dianalogikan dengan mahkota seorang raja. Raja akan mengenakan mahkotanya saat berhadapan dengan rakyat, tapi tidak saat berhadapan dengan Tuhan (saat berdoa, memimpin doa atau saat Tuhan hadir dalam rupa sakramen mahakudus).

Uskup selalu memegang tongkat dengan tangan kiri (dengan bagian yang melengkung menghadap ke umat) dan memberkati dengan tangan kanan.

Pileola, Mitra dan Tongkat dalam Perayaan Ekaristi

Pileola (topi kecil atau solideo) ungu senantiasa dikenakan uskup dalam berbagai acara liturgis, termasuk misa. Dalam misa, pileola hanya dilepas sesaat sebelum prefasi dimulai dan dikenakan kembali saat uskup duduk setelah komuni selesai.

Dalam misa, mitra dan tongkat mulai dikenakan di sakristi, setelah selesai mengenakan kasula dan pileola. Pada akhir prosesi masuk gereja, sesampainya di panti imam, tongkat diserahkan dan mitra dilepas, kemudian uskup memberikan penghormatan kepada sakramen mahakudus (bila ada, dengan berkutut) dan/atau altar (dengan membungkuk dalam), serta mencium altar bersama-sama dengan diakon (atau imam) yang mendampinginya.

Pada prinsipnya, mitra dipasang dan dilepas oleh diakon (atau imam) yang berada di sebelah kanan uskup, sementara tongkat diserahkan dan diambil oleh diakon (atau imam) yang berada di sebelah kiri uskup. Pada umumnya pileola dipasang dan dilepas oleh diakon (atau imam atau sekretaris pribadi uskup) yang berada di sebelah kiri belakangnya. Magister caeremoniarum dapat melaksanakan semua ini, bila dikehendaki. Diakon, imam, atau magister caeremoniarum, menerima/menyerahkan pileola, mitra dan tongkat dari/kepada misdinar yang mengenakan vimpa.

Mayoritas imam atau diakon biasanya segan memasang dan melepas mitra dan pileola ini, karena menyangkut kepala uskup. Uskup pun mungkin merasa bisa melakukannya sendiri. Akan tetapi, ya beginilah seharusnya seorang pemimpin, dilayani oleh para pembantunya, setidaknya, saat upacara liturgi atau acara resmi lain di depan umum. Ini masalah kebiasaan saja sebenarnya, bukan soal tidak ingin dilayani. Uskup atau imam yang cuci tangan sebelum konsekrasi juga dilayani oleh misdinar, meski sebenarnya mereka bisa saja datang ke meja samping dan cuci tangan sendiri.

Setelah membaca ini semua, apa yang dapat dipetik oleh pembaca yang bukan uskup atau pembantu uskup? Ini sekedar contoh saja. Makin banyak pelayan komuni tak lazim yang mengenakan alba dan singel, kemudian juga mengenakan salib dada. Nah, salib dada ini menurut tradisi gereja katolik hanya dikenakan oleh uskup. Lagi, di banyak gereja kita melihat misdinar mengenakan jubah, superpli dan mantol kecil penutup pundak yang mirip paliola atau mozeta. Nah, itu juga asesori yang hanya dipakai oleh uskup. Monsignor (pejabat tinggi gereja) yang bukan uskup pun tidak mengenakan salib dada dan paliola atau mozeta. Ini semua ada di aturan detil yang dikeluarkan Vatikan. Semoga dengan membaca artikel ini, banyak pengetahuan baru yang didapat dan bisa dipakai untuk membetulkan praktik-praktik yang kurang pas selama ini.

Catatan: Artikel ini dimuat dalam Majalah Liturgi yang diterbitkan oleh Komisi Liturgi KWI, Vol 20 No 1 - Jan-Feb 2009.

Catatan: Saya punya versi lain dari tulisan ini, berjudul Panduan Praktis Busana Uskup, lengkap dengan foto tentunya. Juga, saya pernah buat Panduan Praktis Pemakaian Mitra dan Tongkat dalam Misa Kudus. Kedua panduan ini saya bikin untuk Uskup Surabaya Vincentius Sutikno Wisaksono, gembala saya. Dengan senang hati akan saya kirimkan kepada uskup lain atau siapapun yang berminat. Silakan kontak saya di tradisi.katolik[at]gmail.com.

Ziarah Uskup Surabaya di Roma


Sejak tanggal 26 Agustus 2008 yang lalu, Uskup Surabaya Msgr. Vincentius Sutikno Wisaksono berziarah ke beberapa tempat di Eropa Barat, termasuk Lourdes, Asisi dan Roma. Berikut ini adalah penggalan cerita perjalanannya, khusus mengenai ziarah di Roma.

Setahun telah lewat sejak Msgr. Vincentius Sutikno Wisaksono ditahbiskan menjadi gembala Keuskupan Surabaya. Sebagai uskup baru, Msgr. Sutikno diundang untuk mengikuti “Kursus Uskup” yang dihelat oleh Kongregasi Penyebaran Iman, atau yang lebih dikenal dengan nama lamanya, Kongregasi Propaganda Fide. Kursus ini berlangsung di Collegio San Paolo di Roma, pada tanggal 7-20 September 2008. Kesempatan berkunjung ke Roma ini sekaligus dimanfaatkan oleh Msgr. Sutikno untuk berziarah ke beberapa Basilika Kepausan dan makam para rasul yang ada di kota Roma.

Uskup Sutikno bersama Pastor YPH Jelantik dan rombongan peziarah dari Yayasan Unika Widya Mandala tiba di Roma dari Asisi pada hari Selasa malam 2 September 2008. Sengaja perjalanan ziarah ke Lourdes, Asisi dan Roma ini diakhiri di kota Roma beberapa hari sebelum kursus uskup dimulai, sehingga uskup mempunyai waktu beberapa hari untuk berziarah di Roma secara pribadi.

Tiba dengan bus dari Asisi, rombongan uskup dan peziarah dari Surabaya menginap di bagian selatan kota Roma, sekitar 30 km dari Vatikan. Esok paginya, Rabu 3 September 2008, rombongan naik bus menuju Vatikan untuk audiensi umum dengan Paus Benediktus XVI. Hari Rabu memang adalah hari yang dijadwalkan untuk audiensi umum dengan paus. Manakala tidak sedang bepergian, paus akan menemui para peziarah di Vatikan setiap hari Rabu, pukul 10:30-12:00. Tempatnya bisa di Lapangan Santo Petrus atau di dalam Aula Paulus VI di dekatnya, bila cuaca tidak memungkinkan.

Hari Rabu itu, sejak pukul 8:30 pagi ribuan peziarah sudah berkumpul di samping Lapangan Santo Petrus. Mereka mengantri untuk masuk ke dalam Aula Paulus VI tempat audiensi umum kali ini. Tiket masuk untuk audiensi ini dapat diambil sehari sebelumnya di Perfektur Rumah Tangga Kepausan di Vatikan. Tiket ini gratis dan siapapun boleh memintanya. Rombongan tour biasanya memesan tiket beberapa minggu di depan, tetapi pengambilan tetap harus dilakukan pada sore hari sebelumnya. Rombongan dari Surabaya ini cukup beruntung mendapatkan tiket “Reparto Speciale”. Dengan tiket khusus ini rombongan mendapat tempat di bagian depan, sehingga dapat melihat paus dengan lebih jelas dibandingkan bila duduk di bagian belakang. Uskup sendiri memilih untuk duduk bersama rombongan dan tidak berada di panggung, di dekat paus, bersama para uskup lainnya yang hadir dalam acara ini. Memang, Msgr. Sutikno akan bertemu paus juga nantinya, pada akhir kursus uskup yang diikutinya.


Tepat pukul 10:30 paus masuk ke dalam aula dengan disambut tepuk tangan meriah dari semua yang hadir. Bapa Suci kemudian duduk di kursinya dan memulai audiensi ini dengan mengajak semua yang hadir membuat tanda salib. Mendampingi paus di sebelah kiri dan kanannya adalah Uskup Agung James Michael Harvey, Kepala Rumah Tangga Kepausan, dan Monsignor Georg Gaenswein, Sekretaris Pribadinya. Seperti biasanya, audiensi diawali dengan bacaan kitab suci dan kemudian dilanjutkan dengan perkenalan dengan rombongan peziarah yang sudah mendaftarkan diri sebelumnya. Biasanya rombongan diperkenalkan satu persatu, sesuai bahasa ibunya, dengan dibatasi enam bahasa: Prancis, Inggris, Spanyol, Jerman, Polandia dan Italia. Pada saat diperkenalkan, biasanya anggota rombongan berdiri dari tempat duduknya. Ada yang bertepuk tangan, meneriakkan yel-yel, menyanyi dan ada juga yang bermain musik. Pada bagian ini suasananya gembira dan meriah. Mendekati pukul 12:00, audiensi diakhiri dengan doa Bapa Kami dalam bahasa Latin (Pater Noster). Paus kemudian memberkati semua yang hadir, juga dalam bahasa Latin.

Usai audiensi, rombongan dari Surabaya kemudian pergi makan siang di restoran Italia di dekat Vatikan. Bergabung juga dalam audiensi dan makan siang ini dua orang imam Keuskupan Surabaya yang sedang studi di Roma, Pastor Widya dan Pastor Pratisto. Setelah makan siang, masih bersama rombongan, uskup kemudian memasuki Basilika Santo Petrus. Tujuan pertama adalah makam para paus di grotto di bagian bawah basilika. Di sana uskup berdoa di makam beberapa paus, termasuk Paus Yohanes Paulus II. Bagian terakhir yang dikunjungi adalah makam Santo Petrus. Di sini uskup berdoa cukup lama, sebelum akhirnya bersama rombongan naik ke dalam basilika dan menikmati keindahannya. Di dalam basilika, uskup masih juga menyempatkan berdoa di beberapa tempat, termasuk di tiga altar khusus, di mana tubuh yang masih utuh dari paus-paus Beato Innocentius XI, Santo Pius X dan Beato Yohanes XXIII diperlihatkan dalam peti kaca. Selesai menikmati keindahan dan berdoa di dalam basilika, uskup kemudian memisahkan diri dari rombongan dan mulai tinggal di dekat Vatikan, di suatu tempat bekas biara bernama Residenza Madri Pie. Penginapan yang dikelola para suster ini sangat dekat dengan Lapangan Santo Petrus, hanya 5 menit berjalan kaki.

Sore harinya, uskup diantar mengunjungi Gammarelli, penjahit jubah langganan para paus dan pejabat gereja katolik lainnya. Di sana beliau diambil ukurannya untuk pembuatan jubah warna ungu untuk upacara liturgi dan jubah warna hitam untuk acara resmi non-liturgis. Juga, uskup membawa pulang beberapa asesoris untuk busana uskup sesuai dengan aturan tata busana uskup yang dikeluarkan oleh Vatikan. Maximilliano Gammarelli yang melayani Uskup Sutikno menjanjikan jubah-jubah untuknya akan selesai dalam waktu sekitar 9 bulan. Gammarelli turun-temurun memang adalah keluarga penjahit yang sudah melayani beberapa paus dan tentunya ratusan kardinal serta ribuan uskup, monsignor dan juga imam biasa. Aturan Vatikan untuk tata busana uskup yang rinci dan rumit semuanya dipatuhi oleh Gammarelli, demi melestarikan tradisi indah gereja katolik. Memang, sejak Konsili Vatikan II sudah banyak penyederhanaan untuk tata busana uskup gereja katolik ritus Latin, namun penyederhanaan ini tidak mengurangi keagungan yang tetap diamanatkan oleh konsili ini. Jubah dan asesoris yang dipesan beberapa orang umat untuk Uskup Sutikno ini nantinya diharapkan dapat menjadi contoh untuk penjahit di Indonesia, agar bikinan Indonesia pun dapat memenuhi aturan resmi Vatikan yang bersifat universal.

Dari Gammarelli, uskup mampir ke Gereja Santa Maria ad Martyres yang lebih dikenal dengan nama Pantheon. Awalnya, Pantheon ini adalah kuil yang dibangun oleh Marcus Agrippa, menantu Kaisar Romawi Augustus, pada tahun 27-25 SM. Pada tahun 609 Paus Bonifasius IV mengkonsekrasikan Pantheon sebagai gereja. Dalam gereja ini terdapat beberapa makam penting, di antaranya makam pelukis besar Raphael yang karyanya menghiasi banyak basilika di Italia dan juga makam Raja Italia Vittorio Emanuele II. Dari Pantheon uskup berjalan kaki ke Piazza Navona, sebuah lapangan dengan obelisk, air mancur dan patung-patung indah yang dikelilingi berbagai bangunan indah pula, yang mulai dibangun pada masa Paus Innocentius X (1644-1655). Paus Innocentius X adalah penyuka artis pematung Bernini, yang memperindah Lapangan Santo Petrus dengan collonade dan patung-patung orang kudus di atasnya. Malam ini diakhiri dengan makan malam di rumah makan kecil di dekat penginapan. Itulah cerita hari pertama uskup di Roma. Cukup melelahkan karena harus berjalan kaki beberapa kilometer jauhnya bila ditotal, apalagi dengan cuaca kota Roma yang sangat panas, di kisaran 30 derajat Celcius.

Hari Kamis, 4 September 2008, hari kedua uskup di Roma. Hari ini dimulai dengan misa pribadi di Basilika Santa Maria Maggiore, salah satu dari empat basilika kepausan utama. Sebagai gembala dan pemimpin, uskup tentu tidak menyiapkan sendiri berbagai liturgi yang dirayakannya. Dalam tradisi gereja katolik, seorang uskup memiliki pembantu yang disebut Magister Caeremoniarum atau MC. Buku Caeremoniale Episcoporum atau Tata Upacara Para Uskup menyebutkan bahwa MC bertugas menyiapkan dan mengatur segala sesuatunya agar upacara liturgi yang dipimpin dan/atau dihadiri oleh uskup dapat berjalan dengan benar sesuai aturan-aturan liturgi, khidmat dan agung serta indah. Fungsi MC di dalam gereja katolik lebih mirip dengan petugas protokol dan bukan seperti MC yang sering kita lihat memandu acara di televisi. MC dalam tradisi gereja katolik bahkan tidak pernah berbicara kepada umat selama upacara liturgi berlangsung. MC dapat berasal dari kalangan berjubah ataupun awam yang memiliki pengetahuan mendalam tentang liturgi, khususnya liturgi bagi seorang uskup. Dalam kunjungannya di Roma kali ini uskup didampingi oleh MC Albert Wibisono, yang mengatur segala sesuatunya untuk ziarah pribadi ini.

Adalah Imam Agung Basilika Santa Maria Maggiore, Bernard Kardinal Law, yang memberi kesempatan kepada Uskup Sutikno untuk merayakan ekaristi pribadinya hari Kamis itu di Altar Madonna Salus Populi Romani di Kapel Pauline. Kapel yang juga dikenal dengan nama Kapel Borghese ini dibangun oleh Paus Paulus V dari keluarga Borghese (1605-1621). Dikerjakan oleh tim di bawah pimpinan Flaminio Ponzio, kapel ini sungguh indah. Lukisan berharga Madonna Salus Populi Romani (Perawan yang menyelamatkan rakyat Roma) dipasang di atas altarnya. Di kiri dan kanannya terdapat monumen peringatan untuk Paus Clement VIII dan Paus Paulus V. Misa di kapel ini tadinya direncanakan sebagai misa pribadi, namun karena ada 30-an umat yang hadir dalam kapel, maka misa ini akhirnya dirayakan bersama mereka. Pastor Widya turut berkonselebrasi di misa dalam bahasa Latin ini.

Usai misa di kapel bersejarah ini, uskup kemudian berkeliling basilika sambil menikmati keindahannya. Museum di bawah basilika ini juga dikunjungi uskup. Dalam museum ini tersimpan berbagai peralatan misa dari abad pertengahan. Indah sekali busana-busana liturgi jaman dahulu yang dihiasi dengan ornamen dari benang emas dan juga batu-batu berharga. Pada akhir kunjungan di museum ini, uskup menerima kenang-kenangan sebuah buku yang berisi penjelasan tentang koleksi museum.

Meninggalkan kompleks Basilika Santa Maria Maggiore, uskup kemudian menghabiskan harinya dengan berbelanja buku-buku rohani di berbagai toko buku di dekat Vatikan. Sungguh menyenangkan berbelanja buku rohani di Roma, banyak buku yang tidak dapat ditemukan di Indonesia ada di sini. Yang bingung adalah bagaimana membawa semuanya pulang ke Indonesia tanpa harus kelebihan bagasi.

Sore harinya, setelah sejenak beristirahat di penginapan, uskup berkunjung ke beberapa toko busana dan perlengkapan gereja, melihat-lihat dan membeli beberapa barang yang tidak tersedia di Indonesia. Sejam berkeliling ke toko-toko ini, uskup kemudian berkunjung ke Gereja Santa Maria sopra Minerva. Di bawah altar utama gereja ini diistirahatkan tubuh utuh Santa Katharina dari Siena. Selain itu, di dalam gereja ini juga terdapat makam paus-paus dari keluarga Medici, Leo X dan kemenakannya Clement V. Dari gereja ini, uskup kemudian mampir ke Fontana di Trevi, air mancur dengan desain baroque yang terkenal keindahannya. Air mancur tujuan turis ini mulanya dibangun oleh Paus Nicholas V pada tahun 1453. Paus Urbanus VIII pernah merencanakan renovasinya di tahun 1629, tapi adalah Paus Clement XII yang membuatnya menjadi seperti sekarang ini dengan bantuan artis Nicola Salvi. Air mancur ini dibangun dalam waktu 30 tahun, antara 1732-1762. Sang artis sendiri bahkan wafat sebelum karyanya selesai dikerjakan. Murid-muridnya lah yang akhirnya menyelesaikan proyek air mancur ini.

Hari Jumat, 5 September 2008, hari ketiga uskup di Roma. Hari ini uskup berkunjung ke Museum Vatikan serta Kapel Sistina yang tersohor. Museum Vatikan sebenarnya adalah gabungan beberapa museum yang menyimpan koleksi-koleksi berharga milik gereja yang dikumpulkan oleh para paus, berawal dari koleksi patung milik Paus Yulius II (1503-1513). Museum Vatikan yang kita lihat sekarang ini adalah sebuah kompleks besar museum dan galeri kepausan yang diawali oleh Paus Clement XIV (1769-1774) dan Pius VI (1775-1799). Untuk menghormati mereka, salah satu museum di dalamnya diberi nama Museum Pio-Clementine.

Bagian pertama yang dikunjungi uskup adalah galeri lukisan yang disebut Pinacoteca. Di dalamnya tersimpan 460 lukisan, mulai dari karya abad ke-12 sampai abad ke-19. Hampir semua pelukis terbesar dalam sejarah gereja katolik terwakili di sini. Tersebutlah nama-nama pelukis besar Italia mulai dari Giotto sampai Beato Angelico, dari Perugino sampai Raphael, juga nama yang kita kenal seperti Leonardo da Vinci dan Titian, sampai ke Paolo Veronese, Caravaggio dan Crespi yang mungkin agak asing bagi telinga orang Indonesia. Sekedar ilustrasi, sebuah lukisan asli Leonardo da Vinci di sana dapat berharga lebih dari biaya untuk membangun 10 gereja katedral di Indonesia.

Berikutnya, satu persatu dari seluruh museum dan galeri di sana didatangi uskup meski hanya sebentar. Mulai dari Museum Kendaraan Paus yang berisi kereta berlapis emas yang ditarik enam ekor kuda sampai ke mobil kepausan yang anti peluru, sampai ke Galeri Peta yang dibuat pada masa Paus Gregorius XIII (1572-1585). Berikutnya adalah bagian-bagian istana kepausan, mulai dari Ruang-Ruang Raphael yang dibuat atas perintah Paus Yulius II dan Leo X (1513-1521) sampai ke Apartemen Borgia di mana Paus Alexander VI tinggal sampai wafatnya (1492-1503). Akhir dan puncak dari tur museum ini adalah Kapel Sistina, yang mengambil nama pendirinya, Paus Sixtus IV (1471-1484). Di kapel inilah para kardinal berkumpul saat konklaf untuk memilih paus baru. Sebagaimana sudah sering diceritakan, kapel ini terkenal karena lukisan Michelangelo di langit-langit dan dinding kapel.

Seluruh bagian Museum Vatikan di atas diselesaikan uskup dalam setengah hari, sebagian dengan setengah berlari dan berhenti sekali-sekali untuk menikmati beberapa koleksi utama. Maklum, semuanya ada 54 ruangan, padahal waktu Uskup Sutikno untuk menikmatinya tidaklah banyak.

Malam harinya, uskup bertemu dan makan malam dengan beberapa imam yang pernah menjadi murid beliau di Seminari Tinggi Giovanni di Malang. Pastor Francisco dan Louis dari Timor Leste, Pastor Riyadi dari Sanggau dan Pastor Pratisto dari Surabaya. Keempat imam ini baru saja tiba bulan Juni-Juli yang lalu untuk studi di Universitas Kepausan Urbaniana di Roma. Pertemuan ini penuh suasana nostalgia dan canda ria. Selesai makan malam Uskup Sutikno berkunjung ke kampus dan tempat tinggal para imam ini di Collegio Urbano yang terletak di atas bukit dekat Vatikan. Sungguh indah pemandangan Lapangan dan Basilika Santo Petrus dilihat dari atas bukit ini. Uskup juga berkesempatan bertemu empat mata dengan Rektor Universitas Urbaniana, membicarakan kemungkinan memperoleh tambahan beasiswa bagi imam-imam dari Keuskupan Surabaya. Waktu sudah menunjukkan pukul 10:00 malam lebih saat Msgr. Sutikno meninggalkan gerbang Collegio Urbano untuk kembali ke penginapannya.


Hari Sabtu, 6 September 2008, hari keempat uskup di Roma. Hari ini diawali dengan kunjungan ke situs suci, galian arkeologi di bawah Basilika Santo Petrus. Pukul 9:20 pagi Msgr. Sutikno bersama Albert Wibisono sudah berada samping basilika. Dari situ tur akan dimulai. Dipandu oleh seorang anak muda Amerika dalam bahasa Inggris, tur ini dimulai dengan penjelasan mengenai Sirkus Nero. Yang disebut sirkus di sini sebenarnya lebih mirip tempat pacuan kuda, seperti yang terlihat dalam film Ben Hur. Sirkus Nero adalah tempat penyiksaan orang-orang Kristen dan juga tempat penyaliban Santo Petrus. Wafat disalib terbalik, Santo Petrus kemudian dimakamkan di sebelah utara sirkus, di suatu makam yang sederhana. Di atas makam inilah nantinya Kaisar Romawi Konstantinus membangun suatu basilika. Adalah Konstantinus yang memperoleh visi sebuah salib besar dengan tulisan “Dengan (salib) ini, taklukanlah” saat ia berperang melawan Maxentius. Konstantinus akhirnya menang dan ia kemudian bertobat dan memeluk agama Kristen dan menandatangani Edict of Milan yang memproklamasikan toleransi beragama pada tahun 313 M. Basilika Santo Petrus yang kita lihat sekarang ini dibangun pada tahun 1506-1626 tepat di atas basilika bikinan Konstantinus yang sudah tua dan perlu perbaikan. Altar utama basilika yang sekarang juga dibangun di atas altar utama basilika yang lama, dan keduanya pun tepat berada di atas makam Santo Petrus.

Tur ke lokasi galian selama 90 menit ini sungguh mengesankan. Meski dinyatakan terbuka untuk semua orang, pada kenyataannya tidaklah mudah untuk mendapatkan kesempatan mengikuti tur ini. Pendaftaran harus dilakukan beberapa bulan sebelumnya, karena peminat yang banyak dan kesempatan yang terbatas. Satu kelompok tur hanya berisi sepuluh orang dan pada saat yang sama di lokasi galian yang sempit ini tidak mungkin ada lebih dari tiga kelompok tur. Di bawah basilika, kita melihat dari jarak sangat dekat beberapa mausoleum atau makam-makam Romawi dari periode 2000 tahun yang lalu. Kita bahkan bisa masuk ke satu atau dua di antaranya. Tur ini diakhiri di lokasi makam Santo Petrus. Sungguh mengharukan bisa berada begitu dekat dengan murid Yesus yang terutama. Satu meter saja kita berada dari tanah tempat Santo Petrus dimakamkan. Di situ juga ada sebuah kotak kecil yang berisi sebagian tulang-belulang, yang dari hasil penelitian diyakini merupakan milik Santo Petrus. Di tempat ini peserta tur yang kebanyakan adalah peziarah dari Amerika lalu berdoa Bapa Kami dalam bahasa Inggris dan memperoleh berkat dari Uskup Sutikno.

Usai mengikuti tur ke situs galian suci, uskup kemudian mengunjungi museum di dekat sakristi Basilika Santo Petrus. Di situ dipamerkan berbagai peralatan liturgi dan busana paus yang bernilai tinggi, mulai dari tiara (mahkota yang dikenakan para paus pada jaman dahulu) dan mitra sampai ke sepatu yang berhiaskan intan dan permata. Juga ada penutup makam paus yang membangun Kapel Sistina, Sixtus IV (1471-1484) yang dipesan oleh keponakannya, Giuliano della Rovere, seorang kardinal yang di kemudian hari menjadi Paus Yulius II yang membangun Basilika Santo Petrus yang sekarang ini.

Jumat sore harinya, uskup berziarah ke Basilika Santo Paulus di luar tembok kota Roma, di mana terdapat makam Santo Paulus. Mengenakan busana resminya, jubah uskup berwarna hitam dengan segala kelengkapannya, Uskup Sutikno tiba di Basilika Santo Paulus sekitar pukul 15:15. Sekelompok peziarah dari Italia menyambutnya dengan mencium cincin di tangan kanan beliau dengan takzim. Ritus mencium cincin atau tangan kanan uskup, yang biasa disebut baciamano, memang merupakan tradisi katolik yang masih terus dipraktikkan di berbagai belahan dunia. Eccellenza (ekselenza), begitu orang-orang Italia menyapa Uskup Sutikno. Artinya adalah Excellency atau Yang Mulia. Hampir semua orang non-Indonesia yang ditemui Msgr. Sutikno di Roma menyapanya begitu. Jelas sekali bahwa mereka sangat menghormati seorang uskup. Kelompok peziarah ini meminta berkat dari uskup dan setelahnya berpamitan dengan sekali lagi mencium tangan beliau.

Masuk ke dalam basilika, uskup berkunjung ke makam Santo Paulus. Beliau kemudian duduk diam di bangku umat yang menghadap ke altar utama, diam dan merenung, mungkin berdoa. Cukup lama beliau terdiam begitu, sebelum sakristi dibuka pada pukul 16:00 dan uskup dapat berganti busana untuk mulai misa pribadi. Misa kali ini dilaksanakan di Kapel San Lorenzo, sekitar 30 meter dari makam Santo Paulus. Entah mengapa, di depan kapel dipasang tali penghalang, sehingga tidak ada umat yang berani masuk. Jadi, tidak seperti misa di Basilika Santa Maria Maggiore, misa kali ini betul-betul adalah ekaristi pribadi beliau. Dengan menggunakan rumusan Misa Santo Paulus dalam bahasa Inggris, uskup mempersembahkan kurban ekaristi ini dengan dilayani MC-nya. Setelah menyampaikan terima kasih kepada imam yang mengurus sakristi, uskup kemudian berpamitan dan pulang kembali ke penginapan.

Minggu, 7 September 2008 adalah hari terakhir ziarah pribadi Uskup Sutikno di Roma. Sore harinya beliau akan sudah harus masuk ke Collegio San Paolo untuk mengikuti berbagai acara kursus uskup. Hari Minggu ini merupakan kulminasi dari ziarah uskup di Roma, karena pada hari ini, di Basilika Santo Petrus di Vatikan, Msgr. Sutikno mendapat kesempatan untuk menjadi salah satu dari dua konselebran utama dalam Misa Agung dalam bahasa Latin, pukul 10:30.

Misa Agung ini dipimpin oleh Msgr. Dario Rezza, salah seorang Kanon Basilika Santo Petrus. Selain Uskup Sutikno, konselebran utama lainnya adalah juga seorang uskup. Kedua uskup ini duduk di samping kiri dan kanan Msgr. Rezza. Imam Agung Basilika Santo Petrus, Angelo Kardinal Comastri juga hadir dalam misa agung ini namun tidak ikut berkonselebrasi. Mengenakan jubah merah, rochet, mozetta, salib pektoral dan biretta, beliau duduk di takhtanya didampingi dua uskup lainnya dengan busana yang sama berwarna ungu. Kardinal Comastri merupakan Imam Agung Basilika Santo Petrus yang ke-59 yang tercatat sejak tahun 1152. Beliau juga adalah Vikaris Jendral (Wakil) Bapa Suci untuk Kota Vatikan. Beliau lah yang memberikan ijin kepada Uskup Sutikno untuk menjadi konselebran dalam misa agung ini.

Sungguh agung dan khidmat misa Latin dengan nyanyian Gregorian ini. Tidak kurang dari enam uskup, selusin monsignor Kanon Basilika Santo Petrus dan dua puluh imam berpartisipasi di dalamnya. Seorang Magister Caeremoniarum yang mengenakan jubah dan superpli mengatur seluruh bagian perayaan ekaristi ini, termasuk menunjukkan di mana Uskup Sutikno harus duduk serta memberi tanda saat beliau sebagai salah satu konselebran utama harus mengucapkan bagian Doa Syukur Agung dalam bahasa Latin. Umat dan peziarah memenuhi bangku-bangku yang disediakan dan banyak pula yang berdiri karena tak kebagian tempat duduk.

Buklet kecil dalam tiga bahasa yang disediakan cukup membantu umat dari berbagai bangsa untuk berpartisipasi aktif dalam misa Latin ini. Sebagian besar umat ikut menyanyikan ordinarium (Kyrie, Gloria, Credo dan Agnus Dei), aklamasi Sanctus, dan juga Pater Noster (Bapa Kami). Paus Benediktus XVI memang ingin memasyarakatkan kembali bahasa Latin. Saat ini, selain hari Minggu pagi pukul 10:30, setiap sore hari pukul 17:00 di Basilika Santo Petrus diadakan misa Latin dengan nyanyian Gregorian yang indah dan khidmat.

Usai misa, masih mengenakan kasula, Msgr. Sutikno menyampaikan terima kasihnya kepada Kardinal Comastri atas kesempatan yang diberikan untuk berkonselebrasi di basilikanya. Kardinal menyambutnya dengan senyum ramah dan jabat tangan yang erat. Keduanya lalu ngobrol sejenak dan berfoto bersama untuk kenang-kenangan.

Catatan: Artikel ini dimuat di Tabloid Rohani Jubileum yang diterbitkan oleh Keuskupan Surabaya, Edisi 103 & 104 - Tahun IX - Oktober & November 2008. Cuplikan dari artikel ini, dengan judul Uskup Surabaya Berkonselebrasi di Vatikan, dimuat dalam Majalah Liturgi yang diterbitkan oleh Komisi Liturgi KWI, Vol 19 No 6 - Nov-Des 2008.