Paus Pakai Topi Santa Claus?

Sudah lama saya pengin nulis tentang topi santa claus ini. Lumayan lah buat selingan, daripada serius terus, he3. Natal yang lalu akhirnya nggak sempat, baru sekarang ini kesampaian. Sudah basi memang, maaf, daripada nggak juga keturutan.

Foto di sebelah ini diambil Franco Origlia, 28 Desember 2005. Itu adalah hari Rabu, hari audiensi umum Paus. Masih kental suasana natal di Lapangan Santo Petrus Vatikan. Untuk pertama kalinya Paus Benediktus XVI pakai topi model itu di muka umum. Banyak yang mengira Paus mau becanda, pakai topi santa klaus pas natalan. Jawabnya enggak, he3. Bapa Suci memang lagi melestarikan tradisi. Topi itu namanya camauro dan memang khusus hanya untuk Paus. Sudah lama sekali publik enggak melihat topi itu dipakai. Paus yang terakhir memakainya adalah Yohanes XXIII. Paus Paulus VI dan Yohanes Paulus I dan II tidak pernah terlihat memakainya. Ada unsur selera sih.

Camauro biasanya terbuat dari beludru warna merah tua dengan pinggiran dari bulu ermine, sejenis berang-berang berwarna putih. Umumnya camauro dipakai bersamaan dengan mozetta (mantol kecil penutup pundak dan tubuh bagian atas) dari bahan dan warna yang sama plus pinggiran yang sama pula. Matching gitu lah. Coba lihat lukisan foto Paus Leo X (1513-1521) di samping kanan ini. Di sebelah kiri dan kanan adalah Kardinal Giulio de' Medici yang kemudian menjadi Paus Klemens VII (1523-1534) dan Kardinal Luigi de' Rossi.

Lihat juga lukisan foto Paus Yulius II (1503-1513) di sebelah kiri ini. Yulius II adalah Paus yang memulai perencanaan dan pembangunan Basilika Santo Petrus modern yang hari ini kita lihat. Di kedua lukisan foto karya pelukis besar Raphael ini, kedua Paus terlihat memakai camauro dan mozetta dari beludru merah dengan pinggiran dari bulu ermine warna putih. Nah, itu adalah norma yang biasa. Meski begitu, ada juga yang agak lain. Paus Benediktus XVI di foto atas pakai camauro-nya tanpa mozetta merah tua. Seperti terlihat, Paus pakai (dari dalam) simar atau jubahnya yang warna putih, greca atau jaket putih panjang double breasted (dengan kancing dobel) dan yang paling luar dengan warna merah menyala adalah mantol kebesarannya yang disebut tabaro. Paus Benediktus XVI bukan yang pertama pakai kombinasi ini. Sebelumnya Paus Yohanes XXIII juga sering terlihat pakai kombinasi camauro dan tabaro.

Kalau pengin lihat lebih banyak lagi foto camauro, silakan kunjungi situs web Dappled Photo yang punya Halaman Khusus tentang Camauro.

Nah, yang di bawah ini khusus buat yang kepingin lihat Paus becanda, pakai macam-macam topi, he3. Yang ini asli bukan tradisi katolik :)

2 comments:

diskusi said...

terima kasih ya atas blognya.sampai sekarang banyak umat yang sharing untuk mendapat banyak pengetahuan agama katolik bahkan ada yang berseloroh mungkinkah ada pengajian katolik? coba tanya umat katolik, mungkin lebih banyak tahu pengetahuan agama islamnya daripada agamanya sendiri. di rt, tv, kantor belum lagi dimasjid2 umat sering mendengar pengajian

Albert Wibisono said...

pak diskusi:

terima kasih sudah mampir dan berbagi pendapat. orang katolik memang biasanya agak susah diajak menyanyi dalam liturgi. padahal, harusnya misa yang paling akbar dipersembahkan dengan menyanyi, dari sejak tanda salib awal sampai pengutusan.

orang katolik pun mestinya punya shalat, ibadat harian. harusnya malahan 7 waktu, mulai dari laudes (ibadat pagi) sampai completorium (ibadat penutup). ibadat ini juga aslinya dinyanyikan, tidak jauh berbeda dengan shalat saudara-saudara kita kaum muslim.

salam,
albert