Tuguran: Ada Tata Caranya?

Umat Katolik yang datang ke misa Kamis Putih yang paling malam hampir pasti mendapati bahwa ritus penutup dengan berkat dalam misa itu ditiadakan. Sebagai gantinya ada ritus pemindahan Sakramen Mahakudus, dari altar utama ke altar (atau tabernakel) lain. Di altar (atau tabernakel) lain itulah kemudian dilakukan penyimpanan Sakramen Mahakudus (dalam sibori, bukan monstrans). Nah, biasanya lalu Sakramen Mahakudus itu dijaga oleh umat dalam suatu ritus yang disebut tuguran. Pertanyaan berikutnya, apa yang dilakukan selama tuguran itu? Jawabnya sederhana sekali, diam dan hanya diam.

Beberapa tahun terakhir ini saya mengamati adanya trend untuk mengisi kegiatan tuguran dengan berbagai doa-doa bersama, bahkan sahut menyahut. Saya kurang jelas siapa yang memulai eksperimen ini. Saya pribadi lebih menyarankan agar umat mengikuti dan melestarikan tradisi katolik universal yang dipraktikkan di seluruh dunia dan sudah berlangsung berabad-abad lamanya. Sekali lagi, diam dan hanya diam. Nah, tentu belum afdol kalau saya tidak berbagi aturannya. Berikut ini saya kutipkan dari Caeremoniale Episcoporum (Ceremonial of Bishops atau Tata Upacara Para Uskup) keluaran Vatikan, pasal 308-311. "Saat dinyanyikan Tantum ergo (PS 502 ayat 5-6, atau bahasa Indonesianya di PS 501 ayat 5-6 Sakramen yang sungguh agung) ..., uskup (atau imam selebran), berlutut, mendupai Sakramen Mahakudus. ... Setelah adorasi dalam keheningan selama beberapa saat, semuanya berdiri, berlutut dengan satu kaki kanan ditekuk, dan kembali ke sakristi. ... Umat beriman hendaknya didorong untuk melanjutkan adorasi (dalam keheningan) di depan Sakramen Mahakudus selama beberapa waktu di malam hari itu, sesuai kondisi setempat, namun jangan ada lagi adorasi agung setelah tengah malam."

Uskup Peter Elliott, pakar liturgi yang lama berdinas di Vatikan, dalam bukunya Ceremonies of the Modern Roman Rite membahas lebih jauh tentang berbagai kegiatan adorasi Sakramen Mahakudus. Yang Mulia menulis, "Silence is maintained always. (Keheningan dijaga, selalu.)" (Hal. 251) Hal menghentikan adorasi saat tengah malam, Yang Mulia menjelaskan dalam bukunya yang lain Ceremonies of the Liturgical Year, bahwa, "Pada tengah malam lilin-lilin dan lampu-lampu dipadamkan dan bunga-bunga disingkirkan, tetapi satu lampu (lampu Allah, penanda adanya Sakramen Mahakudus) harus tetap bernyala. Adorasi yang lebih sederhana boleh, dan seyogyanya, dilanjutkan sampai pagi, bahkan bila perlu sampai sebelum upacara-upacara Jumat Suci, bila hal ini memungkinkan." (Hal. 108-109)

Ada satu aturan lagi dari Vatikan, Sirkuler Kongregasi Ibadat Ilahi tentang Persiapan dan Perayaan Pesta Paskah (Feb 1988), yang menyebut bahwa, " ... bila diinginkan dapat dibacakan bagian-bagian Injil Yohanes 13-17." (SPPP 56) Kata kuncinya adalah "bila diinginkan", jadi bukan keharusan. Lalu, kalaupun diinginkan, bentuknya adalah komunikasi searah, Injil dibacakan (dengan khidmat) dan umat mendengarkan. Intinya adalah bahwa umat tetap meneruskan adorasi dalam keheningan. Doa-doa bersama, apalagi sahut menyahut, dapat memindahkan perhatian umat dari Sakramen Mahakudus dan melemahkan makna adorasi. Ingat, adorasi artinya mengagumi, memuja, menyembah.

12 comments:

Kartika said...

Gara2 bicarakan tuguran, jadi pengen sharing nih maaf kalo oot (out of topic)
Pada waktu di Jakarta di salah satu paroki, pas saat konsekrasi saya kaget mendengar alunan musik mengalun, semacam musik2 taize gitu..
Saya jadi ingin tanya sebetulnya seperti itu apa diperbolehkan. Karena jujur saya koq malah jadi tidak nyaman yah, lebih sakral dalam keheningan hehe
Lalu ada lagi:
Pentahtaan sakramen mahakudus itu ditengah2 misa, bukan di akhir, apakah bisa juga seperti itu?

Albert Wibisono said...

bu kartika:

benernya nggak oot kok, masih bicara soal cara menunjukkan penghormatan yang nggak sesuai aturan liturgi dan tradisi katolik.

untuk kedua pertanyaan anda, jawabnya adalah tidak boleh. kreasi-kreasi semacam itu sama sekali tidak diperbolehkan.

ini yang pernah saya sampaikan di blog yang mulia pujasumarta, uskup bandung, saat ada pembahasan mengenai lagu tambahan saat konsekrasi.

"maka dari itu tidak seorang lainnya pun, meskipun imam, boleh menambahkan, meniadakan atau mengubah sesuatu dalam liturgi atas prakarsa sendiri" (sacrosanctum concilium 22-3);

"sementara imam mengucapkan doa syukur agung, 'tidak boleh dibawakan doa lain atau nyanyian, ...'" (redemptionis sacramentum 55-pumr 32).

salam,
albert

Albert Wibisono said...

bu kartika:

ini artikel di blog yang mulia pujasumarta, yang saya maksud di atas:

http://pujasumarta.multiply.com/photos/album/54

selamat menikmati.

salam,
albert

Kartika said...

Pak Albert,

Thanks utk jawabannya yah.
Bagi saya, dalam hal liturgi surabaya jauh lebih baik loh daripada Jakarta. (hehe maaf bagi orang jakarta)

Contoh kecil saja dalam umat menjawab seruan imam, kalau di surabaya sudah ada pembaharuan (tempo lebih cepat) di Jakarta masih gaya lama sehingga memang terkesan loyo dan tidak semangat.

Contoh lain posisi umat bagi yang tidak ada tempat berlutut pada waktu konsekrasi (di Surabaya diharuskan berdiri sedangkan di Jakarta boleh duduk). Kesannya memang menjadi kurang menghormati,

Dan masih banyak contoh2 "gangguan" lainnya. Semoga kedepannya semakin banyak orang peduli dan

CakMoes said...

Mas Albert,
Setelah membaca tentang Tuguran, saya jadi semakin bingung, karena kalau di KAJ sudah disiapkan ibadat untuk tuguran. Namun demikian mungkin sebaiknya ada waktu-waktu dimana disediakanwaktu untuk berdiam, dan hening.
Bagaimana saran anda.....dan terima kasih atas infonya
Moes

CakMoes said...

Mas Albert, Setelah membaca tentang tuguran. sekarang (2010) ini di KAJ, sudah disiapkan lembar ibadat Tuguran, semakin menjadi bingung, dan semakin ketahuan kalau oon,

Albert Wibisono said...

pak moes:

saya pernah mendengar dari beberapa imam, alasannya seperti biasa adalah pastoral. agar umat tidak mengantuk, maka diadakan aktivitas. yang terjadi lalu adalah interaksi horisontal, antar pemimpin ibadat dan umat atau antar kelompok umat yang satu dengan yang lain, bukannya interaksi vertikal antara umat dengan yang harusnya dijaga dalam tuguran.

kita sering lupa bahwa diam dan khidmat adalah bentuk partisipasi aktif juga. partisipasi aktif dengan diam justru malah lebih susah daripada berpartisipasi aktif dengan bicara dan bergerak, yang kadang hanya lahiriah saja.

saya yakin bapak banyak mengalami tuguran dalam keheningan dan kekhusyukan di masa yang lalu dan bisa bercerita lebih banyak dari saya malahan.

salam,
albert

Kong Pencot said...

Selamat malam pak.
Saya Wijaya Sutanto, domisili di Cikupa, Banten, dan sekarang kebetulan dipercaya untuk duduk menjabat sebagai ketua wilayah.
Di tengah umat kami sekarang ini sedang terjadi dilema, dimana berkembang opini yang mengatakan bahwa adorasi adalah salah satu upacara yang boleh di masuki atau di sisipi oleh tatacara kharismatik dengan lagu lagu dan iringan keyboard yang meriah. Saya telah mencoba untuk menanyakan hal tersebut kepada pastor paroki kami Menurut beliau, ada beberapa tatacara upacara adorasi yang telah disetujui oleh Vatikan, dan salah satunya adalah "adorasi meriah", dimana dalam tatacara tersebut, secara bebas, umat dapat berinteraksi dengan imam, mendapatkan berkat berupa penumpangan tangan, dan bernyanyi nyanyi dengan iringan keyboard.
Sejak masalah ini muncul, sudah banyak umat di wilayah saya yang mengalami "luka" iman dan akhirnya "membelot" ke paroki lain.
Jika mungkin, saya ingin mendapatkan literatur literatur yang dapat saya jadikan pegangan untuk menjelaskan dengan benar apa yang sebenarnya berlaku di dalam tatacara adorasi yang berlaku di dalam tatacara liturgi yang sah dan benar.
Maaf, jika saya jadi merepotkan bapak.
Untuk semua perhatian dan effort yang bapak telah berikan kepada kami selama ini, saya ingin mengucapkan banyak terima kasih.

God Bless You,

Paulus Wijaya Sutanto
St. Odilia - Citra Raya
Cikupa - Banten

Albert Wibisono said...

pak wijaya sutanto:

mohon maaf saya baru membalas komentar bapak, meski sudah lama membaca dan merenungkannya.

terus terang, saya memang kesulitan mencari dokumen pendukung yang lebih mantap dari apa yang sudah saya sampaikan di atas. saya sedang mencari tahu lebih dalam dari para guru saya, pakar liturgi. semoga beliau-beliau bisa memberikan pencerahan. kalau ada, nanti saya tambahkan di sini.

salam,
albert

Albert Wibisono said...

pak wijaya sutanto:

berikut adalah pencerahan yang diberikan oleh romo ch suryanugraha osc dari bandung, pakar liturgi lulusan institut liturgi kepausan san anselmo di roma.

semoga dapat menambah pengetahuan kita bersama.

salam,
albert

Adorasi SMK pada umumnya memang tidak harus dilakukan dengan diam atau dalam keheningan. Dalam Eucharisticum Mysterium 62 dinyatakan: “Supaya doa batin itu lebih hangat, boleh diadakan bacaan-bacaan dari Kitab Suci, dengan homili, atau diberi pengarahan singkat yg membawa umat kepada pemahaman lebih baik ttg misteri Ekaristi. Seyogyanya para beriman menanggapi juga Sabda Allah dengan bernyanyi. Baiklah pada saat-saat yg cocok diadakan waktu hening yang khidmat.” Jika dikaitkan dengan panakhtaan SMK (yang singkat atau panjang) ada tatacara pemberkatan dengan monstrans. Adorasi pada Kamis Putih malam perlu dibedakan, karena punya tatacara tersendiri yg tertulis pada rubrik Missale Romanum (dalam keheningan ketika imam telah memasukkan sibori dalam tabernakel; tanpa berkat dengan SMK; tanpa adorasi agung setelah tengah malam). Yang perlu ditekankan bukannya keheningan atau diamnya, tetapi cara beradorasi dengan khidmat dan pantas. Maka, pertimbangan untuk pemilihan lagu dan ritualnya diselaraskan dengan semangat itu.

marvel sihombing said...

bahas soal mengubah liturgi, saya mau tanya juga, mgkn ga ada hubungannya dengan tuguran, apakah imam diperbolehkan menambahkan nyanyian setelah Anak Domba Allah, nyanyian tersebut lirik nya hanya "Yesus" yang dinyanyikan dengan nada yang persis dengan O Rahmat Yang Mengagumkan (PS 600)

Albert Wibisono said...

saya kutipkan lagi jawaban saya di atas pak:

"Maka dari itu tidak seorang lainnya pun, meskipun imam, boleh menambahkan, meniadakan atau mengubah sesuatu dalam liturgi atas prakarsa sendiri" (Sacrosanctum Concilium 22-3);

lalu ada juga yang berikut ini:

"... Sementara imam memecah-mecah roti dan memasukkan sepotong kecil dari roti itu ke dalam piala berisi anggur, dilagukan Anakdomba Allah, seturut ketentuan, oleh paduan suara atau solis dengan jawaban oleh umat. Kalau tidak dilagukan, Anakdomba Allah didaras dengan suara lantang. Karena fungsinya mengiringi pemecahan roti, nyanyian ini boleh diulang-ulang seperlunya sampai pemecahan roti selesai. Pengulangan terakhir ditutup dengan seruan: berilah kami damai." (PUMR 83)

salam,
albert