Wiruk atau Pedupaan: Crik Crik (Stop!)



Misdinar pasti tahu yang namanya wiruk atau pedupaan yang dipegang Paus di foto di atas. Nama wiruk itu dari bahasa Belanda wierooksvat. Dalam bahasa Latin namanya turibulum, di bahasa Inggris jadi thurible atau censer. Yang nggak pernah jadi misdinar mungkin nggak tahu peranti itu namanya wiruk, tapi saya yakin semua pernah melihat pedupaan itu dipakai dalam misa. Di tulisan ini saya akan bahas beberapa poin penting dan beberapa kesalahan yang seringkali terjadi berkaitan dengan penggunaan wiruk dalam misa.

Kenapa sih harus pakai wangi-wangian dalam liturgi? Jawabnya, untuk menciptakan suasana atau atmosfir liturgis. Berikut ini penjelasan yang bagus sekali, saya kutip dari buku Rupa dan Citra karangan pakar liturgi C.H. Suryanugraha, OSC, "Suasana atau atmosfir liturgis diciptakan sedemikian rupa agar perayaan liturgi sungguh mengantar jemaat kepada pertemuan yang Ilahi. Penggunaan unsur-unsur 'cahaya, warna, dan aroma' dalam Perayaan Ekaristi tentunya perlu diberi perhatian khusus pula. Unsur-unsur itu tidak layak diabaikan jika kita peduli akan perlunya lebih mengaktifkan indera (setidaknya indera penglihatan/mata, penciuman/hidung, dan pendengaran/telinga) kita untuk terlibat dan dapat menangkap sisi-sisi keindahan dan kesakralan dalam Perayaan Ekaristi." Aturan liturgi dari Vatikan menyebut, "Pendupaan merupakan ungkapan hormat dan doa sebagaimana dijelaskan dalam Alkitab (bdk. Mzm 141:2; Why 8:3)." (PUMR 276 dan Caeremoniale Episcoporum-Tata Upacara Para Uskup CE 84)

Lalu, kapan kita pakai wangi-wangian dupa ini? Apa hanya untuk misa agung di hari-hari raya? Jawabnya tidak. PUMR 276 mengatakan bahwa dupa boleh digunakan dalam setiap bentuk misa. Misa biasa di hari Minggu pun boleh pakai dupa, kalau mau. Dalam misa, dupa digunakan waktu perarakan masuk, di awal misa untuk menghormati salib altar dan altar, waktu perarakan injil (saat imam atau diakon membawa injil dari altar ke mimbar, untuk dibacakan) dan waktu pembacaan injil. Berikutnya, ada pendupaan roti dan anggur yang disiapkan di altar, lalu pendupaan imam selebran dan konselebran plus semua petugas liturgi di panti imam, dan terakhir umat. Juga, dupa digunakan waktu hosti dan piala diperlihatkan kepada umat. Itu ringkasnya.

Mari kita bahas satu persatu. Waktu perarakan masuk dalam misa, fungsi dupa adalah untuk membuka dan menyucikan jalur yang dilalui arak-arakan plus sekalian menyucikan peserta arak-arakan yang jalan di belakangnya. Itu sebabnya pembawa wiruk jalannya di paling depan, bukannya di belakang pembawa salib. Nah, saya pernah melihat pembawa wiruk jalan di paling depan, mendupai salib sambil berjalan mundur. Yang ini kurang pas. Sekali lagi, yang disucikan adalah jalan yang dilalui plus seluruh peserta arak-arakan, bukan cuma salibnya yang diapit dua lilin. Oh ya, wiruk tidak digunakan waktu perarakan keluar dalam misa. Saat ini, pembawa wiruk tentunya jalan di belakang pembawa salib, bersama misdinar lainnya. Aneh juga kalau ia jalan di depan pembawa salib tapi nggak bawa apa-apa.

Berikutnya, cara membawa wiruk yang saya lihat di banyak tempat di Indonesia juga kurang tepat. Dalam perarakan atau saat berjalan dari satu tempat ke tempat yang lain, pembawa wiruk memegang pangkal rantai dengan tangan kanan seperti foto di atas dan di sebelah kanan ini. Dalam perarakan, wiruk (yang sudah diisi dupa dan berasap tebal) diayunkan ke depan dan belakang, supaya asap dupa menyebar. Ayunan ini bisa sampai 30 derajat ke depan dan ke belakang. Di beberapa tempat di luar negeri saya bahkan melihat ayunan sampai 90 derajat seperti di foto sebelah kanan ini! Makanya, kalau jalan dalam prosesi jangan mepet-mepet dengan yang di depan. Selain kurang bagus, juga ada resiko kena ayunan wiruk. Pembawa wiruk yang menyucikan jalanan sebaiknya memang cuman satu aja, idealnya berjalan di tengah-tengah. Di Indonesia seringkali ia berpasangan dengan pembawa tempat dupa dan berjalan bersama-sama. Ini agak melemahkan fungsinya sebagai pembuka jalan. Kalau caranya membawa wiruk benar seperti foto di atas, ia tidak perlu didampingi pembawa tempat dupa. Ia bisa membawa tempat dupa sendiri dengan tangan kiri dan ditempelkan ke dada, sambil tangan kanan mengayunkan wiruknya.

Setelah arak-arakan sampai di panti imam, dan para imam selebran dan diakon selesai menghormati altar dengan menciumnya, pembawa wiruk menghampiri selebran utama. Dupa ditambahkan lagi, lalu selebran utama mendupai salib altar dan altar. Nah, selama proses ini pembawa wiruk nggak perlu memegangi kasula selebran utama. Tradisinya bukan begitu. Seringkali ia malahan terlihat menarik-narik kasula dan mengganggu gerak selebran utama. Coba lihat foto Paus di sebelah ini, nggak ada yang memegangi kasulanya kan? Oh ya, satu kesalahan yang sering terjadi di awal misa ini, selebran tidak perlu didupai sehabis ia mendupai altar. Selebran hanya didupai waktu persembahan.

Tadi kita sudah betulkan cara memegang wiruk dalam prosesi. Sekarang kita betulkan cara mengayunkan wiruk. Yang benar bukan crik crik crik (tiga ayunan), tapi hanya crik crik (dua ayunan). Jangan keliru dengan banyaknya ya. Hal banyaknya memang bisa tiga kali atau dua kali. Tiga kali pendupaan masing-masing dua ayunan (tribus ductibus, three double-swings: crik crik, turunkan, crik crik, turunkan dan crik crik, turunkan) digunakan untuk: sakramen mahakudus, relikui salib suci dan patung Tuhan yang dipajang untuk dihormati secara publik; bahan persembahan; salib altar, Kitab Injil, lilin paskah, imam dan jemaat (PUMR 277) dan juga jenazah (CE 92). Dua kali pendupaan masing-masing dua ayunan (duobus ductibus, two double-swings, crik crik, turunkan, crik crik, turunkan) digunakan untuk relikui dan patung orang kudus yang dipajang untuk dihormati secara publik. Yang terakhir adalah serangkaian ayunan tunggal (singulis ictibus, series of single-swings) yang dipakai untuk mendupai altar.

Ikhwal pendupaan dan banyaknya ayunan ini diatur dalam PUMR 276-277 dan CE 84-98. Memang, dalam terjemahan bahasa Indonesia dan bahasa Inggrisnya, soal dua ayunan ini kurang disebut jelas. Hanya versi asli dalam bahasa Latin yang jelas menyebutkan bedanya tribus ductibus, duobus ductibus dan singulis ictibus. Pakar liturgi Uskup Peter Elliott menegaskan ini dalam bukunya Ceremonies of the Modern Roman Rite (Hal 78-81). Pakar rubrik yang lain J.B. O'Connell membahas hal ini juga dalam bukunya The Celebration of Mass (Hal 410-428). Kalau mau gampangnya, lihat aja siaran langsung misa paskah atau misa natal Paus dari Vatikan. Di situ nggak ada tiga ayunan, semuanya dua ayunan. Ada kawan saya imam yang becanda, nggak apa-apa lah tiga kali, supaya mantap. Saya nggak mau kalah, wah kalau gitu, sekalian aja imam kalau memberi berkat pakai tiga tanda salib seperti uskup. Supaya mantap, he3. Maaf, becanda. Liturgis memang susah diajak negosiasi.

Yang terakhir, di penghujung Misa Kamis Putih yang paling malam, selalu ada upacara pemindahan Sakramen Mahakudus. Saat prosesi pemindahan ini, (para) pembawa wiruk pun nggak perlu mendupai Sakramen Mahakudus dengan jalan mundur, nanti malahan jatuh atau nabrak. Di Vatikan nggak ada pendupaan dengan jalan mundur. Khusus untuk prosesi ini Missale Romanum memang menyebut bahwa pembawa wiruk jalannya di belakang pembawa salib dan lilin, persis di depan selebran yang membawa Sakramen Mahakudus dalam sibori (bukan monstrans) dengan mengenakan velum. Saya pikir ini agar asap dupa lebih dekat dan melingkupi sakramen mahakudus. Tetap bukan untuk mendupai Sakramen Mahakudus ya. Sesekali prosesi ini berhenti, nah saat itulah dilakukan pendupaan terhadap Sakramen Mahakudus, yang harus dilakukan sambil berlutut di hadapannya. Memang, Sakramen Mahakudus hanya didupai sambil berlutut (CE 94), oleh Paus sekalipun.

33 comments:

T. Subaryani D.H. Soedirdjo said...

Dalam CE no 92 tertulis: the censer is swung back and forth three times. Kalau yang pernah saya diskusikan dgn Pst Harimanto,OSC, yang dimaksud adalah 3 kali 2 ayunan (2 ayunan= 1 kali kedepan + 1 kali ke belakang). Jadi harusnya crik, turunkan, crik, turunkan, crik turunkan.

Yob said...

Terima kasih penjelasannya pak Albert.
Sy jg kadang bingung katolik itukan aturan liturginya dari Vatikan kenapa sampai disini jadi beragam cara. Pasti romonya yg mengijinkan tentu dengan pertimbangannya sendiri. Nah kl udh dilakukan ternyata salah gimana ni apa misa itu diberkati TUHAN? Kl sekali salah ga apa2 tapi kl udah jadi rutinitas liturginya gimana? Yg sy tahu umat katolik itu paling loyal sama aturan liturgi dari sononya.Jadi mohonlah para pastor/romo se Indonesia menyatukan cara sesuai dgn aturannya.

Albert Wibisono said...

Memang detail kecil begini bisa kelewatan pak, manusiawi sekali. Saya pikir ini tidak mengurangi keabsahan Misa. Artikel ini baru saya kirimkan ke Majalah Liturgi. Memang hal ini pernah saya diskusikan dengan Pastor Bosco da Cunha Sekretaris Eksekutif Komisi Liturgi KWI. Artikel ini saya tulis juga untuk memenuhi janji saya kepada beliau.

Albert Wibisono said...

Benar Bu, dalam CE versi Bahasa Inggris itu yang tertulis. Karena frase "swung back and forth three times" itu bisa berpotensi multi tafsir, maka kita perlu kembali ke versi Bahasa Latin yang aslinya. Pengertian yang saya dapat dari versi Latinnya adalah sesuai yang sudah saya tuliskan di artikel. Bahasa Latinnya sungguh jelas dan tidak multi tafsir. Apa yang saya tulis adalah hasil pendalaman saya tentang materi ini, dari berbagai dokumen dan buku yang dapat dipertanggungjawabkan. Pastor Hari juga adalah guru saya, nanti saya diskusi dengan beliau. Terima kasih atas minat Ibu. Sungguh senang saya bisa bertemu Ibu yang juga memperhatikan detil ini. Kalau boleh saya berkenalan lebih lanjut? E-mail saya: albert.wibisono(at)gmail.com

Minggu Palma said...

Mmm dupane wangi

http://authspot.com/tales/lowly-donkey-and-the-king-of-peace/

Agung said...

salam kenal pak...
saya mau nanya...yang bpk jelaskan tersebut sudah mengacu pada TPE yang terbaru blm?lalu bagaimana caranya untuk memberkati imam dan umat?

terima kasih

Agung said...

salam kenal pak...

sy mau nnya...yang bpk jelaskan tersebut sudah mengacu pada TPE yang terbaru blm (TPE 2005 klo ga salah)?
lalu bagaimana tekniknya untuk memberkati imam dan umat?

terima kasih

Albert Wibisono said...

salam kenal pak agung:

semua yang saya tulis di artikel ini sudah sesuai dengan berbagai aturan liturgi yang berlaku saat ini. itu termasuk missale romanum 2002 (versi asli bahasa latin terbitan vatikan), yang sebagian isinya sudah diterjemahkan dan setempat kita kenal sebagai tata perayaan ekaristi (tpe) 2005 dan juga pedoman umum misale romawi (pumr).

mengenai pendupaan untuk imam dan umat, saya kutipkan lagi yang sudah saya tulis di atas:

Tiga kali pendupaan masing-masing dua ayunan (tribus ductibus, three double-swings: crik crik, turunkan, crik crik, turunkan dan crik crik, turunkan) digunakan untuk: sakramen mahakudus, relikui salib suci dan patung Tuhan yang dipajang untuk dihormati secara publik; bahan persembahan; salib altar, Kitab Injil, lilin paskah, imam dan jemaat (PUMR 277) dan juga jenazah (CE 92).

jadi untuk imam dan umat juga tiga kali dua ayunan (crik-crik, turunkan, crik-crik, turunkan, crik-crik, turunkan, selesai).

salam,
albert

Agung said...

salam kenal jg pak albert...maaf br balas...d gereja saya klo untuk umat cm 3 x 1 ayunan....apakah standar aturan wiruk ini digunakan oleh seluruh gereja Katholik apa tergantung dari kebijakan paroki setempat?

sebelumnya terima kasih sudah di balas...

Albert Wibisono said...

pak agung,

aturan ini berlaku untuk semua gereja katolik pak. imam tidak berhak membuat aturan sendiri2 untuk masing-masing parokinya.

salam,
albert

Agung said...

pak albert.....
berarti untuk pendupaan umat pendupaannya sama untuk pendupaan imam...3 x 2 ayunan....
kalau pada saat DSA bagaimana?apakah 3 x 3 ayunan?
soal'a wktu itu saya ikut lomba untuk anggota misdinar dan disana ada lomba wiruk...nah saya perhatikan masing2 peserta pendupaan'a beda2...contoh'a untuk imam..ada yg 3x3 ayunan, ada yg 3x2 ayunan...mk'a saya jd bingung..klo aturan pendupaan sudah ada tp kenapa msh ada yg berbeda...

Albert Wibisono said...

pak agung,

berikut saya kutipkan lagi yang sudah saya tulis di atas:

Tiga kali pendupaan masing-masing dua ayunan (tribus ductibus, three double-swings: crik crik, turunkan, crik crik, turunkan dan crik crik, turunkan) digunakan untuk: sakramen mahakudus, relikui salib suci dan patung Tuhan yang dipajang untuk dihormati secara publik; bahan persembahan; salib altar, Kitab Injil, lilin paskah, imam dan jemaat (PUMR 277) dan juga jenazah (CE 92). Dua kali pendupaan masing-masing dua ayunan (duobus ductibus, two double-swings, crik crik, turunkan, crik crik, turunkan) digunakan untuk relikui dan patung orang kudus yang dipajang untuk dihormati secara publik. Yang terakhir adalah serangkaian ayunan tunggal (singulis ictibus, series of single-swings) yang dipakai untuk mendupai altar.

jadi, untuk konsekrasi kita pakai tiga kali pendupaan masing-masing dua ayunan (crik2 turun crik2 turun crik2).

aturan memang ada, tapi harus diakui karena aturan yang baru, yang diketahui banyak orang, tidak terlalu detail mengungkapkannya, mungkin lalu jadi menimbulkan tafsir berbeda di satu tempat dengan tempat yang lain.

salam,
albert

Anonymous said...

Salam Pak Albert,
setelah sekian lama ga buka, saya mau menyegarkan ingatan liturgi saya dari blog ini dan mau nimbrung tulis skali2.
artikel ini menarik perhatian saya, karena langsung menyentuh kegiatan saya sebagai pelayan altar.
yang saya mau diskusikan bukan masalah jumlah"crik..crik" nya tapi urutan penggunaan crik2 jika digabung dengan bel/gong dlm konsekrasi. apakah crik crik kring/gong..crik crik kring/gong..crik crik kring/gong.. atau bagaimana?

ketika saya tulis ini mgkn Bpk lagi di JKT ya bertemu HG.

Salam,

Sahabat dari Kapel 12 Rasul

Albert Wibisono said...

Salam Pak,

Maaf saya baru menemukan kembali komentar Bapak yang belum saya balas. Sebenarnya, bahkan bunyi crik-crik itu tidak diharuskan. Dengan kata lain, yang penting adalah pendupaan dengan dua ayunan. Kalaupun tidak menghasilkan bunyi crik-crik tidak masalah juga. Yang ini adalah hal pendupaan sebagai penghormatan atas SMK.

Hal penggunaan gong ataupun bel, sebenarnya ini bermula dari jaman sebelum Vatikan II dulu. Kala itu, umat mungkin tidak tahu bahwa Misa sudah sampai pada bagian konsekrasi, karena mungkin ada yang tidak mengerti Bahasa Latin yang dipakai, dan juga karena banyak doa-doa yang diucapkan imam secara perlahan (secreta). Nah, untuk itulah lalu dibunyikan bel, supaya umat tahu bahwa sudah waktunya melihat Tuhan. Relevansinya sebenarnya agak berkurang saat ini, karena toh umat sudah tahu saatnya telah tiba untuk konsekrasi dan bisa melihat Tuhan, karena sekarang Doa Syukur Agung diucapkan dengan keras oleh imam. Dan juga, sekarang umat setiap saat bisa menyambut Tubuh Tuhan, jadi hal melihat Tubuh Tuhan seolah menjadi tidak terlalu penting lagi seperti jaman dahulu saat umat tidak bisa sering-sering menyambut Tubuh Tuhan. Meski begitu, bel tetap juga bisa digunakan, karena banyak umat yang suka sibuk sendiri di dalam gereja.

Hal crik-crik-kring/gong atau kring/gong-crik-crik, nggak ada pakemnya Pak. Bisa diatur sendiri, yang penting jangan malah jadi berisik dan mengganggu umat yang mau berkonsentrasi memandang Tubuh Tuhan.

Salam,
albert

AgrinWick said...

mmm,masalah wiruk yang dipegang 1 orang itu dengan 1 tangan itu sudah wajar di gereja barat,karena biasanya gereja di sana luas,dan yang dipakai itu sepertinya bukan arang, sehingga bisa nyala lama. sedikit berbeda dengan di Indonesia,yang menjadi pembawa wiruk dan navikula ada 2,karena kebanyakan masih menggunakan arang. dan ada yang berpendapat wiruk disana ringan kok,jadi mudah untuk diayunkan. dan saya sudah pernah mencoba untuk menggunakan turibulum di gereja saya dengan 1 tangan,dan itu sangat berat apalagi kalau sudah diisi dengan arang.

Albertus Aditya said...

Selamat malam, Pak Albert. Saya mohon tanya, dalam pendupaan pada awal sebelum Tanda Salib, cara mendupai altar oleh selebran apakah mengelilingi seluruh altar atau hanya bagian yang dekat dengan yang diciumnya? Demikian pula untuk setelah penghunjukan persembahan. Karena pada misa Epifani yang saya lihat, ada sedikit perubahan yang dilakukan oleh Paus, apa liturginya yang memang berubah atau mengingat kondisi kesehatan Paus. Terima kasih

Albert Wibisono said...

Selamat malam Albert. Terima kasih sudah menunjukkan kepada saya sesuatu yang mungkin baru. Saya sendiri tidak mengikuti Misa Epifani yang baru lalu. Saya sedang men-download-nya dari internet. Coba saya cermati nanti setelah selesai download.

Pada prinsipnya, altar yang dapat dikelilingi didupai dengan mengelilinginya; dan altar yang menempel di tembok didupai dari sisi yang bisa dilewati oleh sang selebran.

Detailnya dapat Albert temukan di Missale Romanum 1962 ini, di halaman 38, 37, 36, 35:

http://www.scribd.com/doc/6148670/Missale-Romanum-1962

Saya akan memberikan komentar lagi setelah melihat rekaman video yang Albert maksud.

Salam,
albert

Albert Wibisono said...

Mbak Yani, saya baru saja menemukan penjelasan yang menarik dari Fr. McNamara, Professor of Liturgy di Regina Apostolorum University di Roma:

http://www.ewtn.com/library/liturgy/zlitur132.htm

Ini bagian yang saya maksudkan:

Follow-up: Incensing the Host, Altars, Etc. [6-20-2006]

After our exposition regarding the use of incense (June 6) a priest reader asked for a clarification regarding the use of the expression "double swing."

He writes: "You quoted Monsignor's instruction to use a double swing, etc. ... As I understand it, the Church documents call for swings, not double swings, or triple swings, or loops, etc. Yet one might think you were suggesting a liturgical practice that is not presented to us in the Church's documents. Thus the confusion. You are not suggesting we add or change something in the liturgy, are you? I realize this is not a big matter, but I am surprised that you would suggest we do something other than what the Church has given us as part of the liturgy. Now if there is some commentary that explains why, in the Latin, we can understand the swings ('ductus') to give latitude to one or two swings, great, I'd love to hear that. But it does not seem, from what you quoted from the documents or from Monsignor's work that this is an explanation, and therefore why it is OK to do it. If you are able to clarify, I would be grateful."

With the expression "double swing," Monsignor Peter Elliott describes the mode of incensing which is practically universal custom, in which each "ductus" consists of two "ictus," or swings. Hence the thurible is raised, swung twice toward the object or person incensed, and then lowered.

If we may use the somewhat less technical expression of another correspondent, the thurible is "clicked" twice during each "ductus."

The difficulty arises because the present liturgical books do not distinguish between the simple swing and double swing (or "double click") during the "ductus," but only the number of "ductus" in each circumstance or how many times the thurible is raised and lowered for swinging.

Previous legislation, however, did make this distinction, and prescribed the double swing for practically the same persons and objects as the present legislation. There is no reason to suppose that the practice has been abrogated.

Likewise, as authentic custom is also a source of law, the use of the double swing as described by Monsignor Elliott is used practically everywhere — including at the Masses of the Supreme Pontiff.

For the sake of completeness I will offer the description of the double swing found in the Fortescue-O'Connell pre-Vatican II ceremonies book: "The double swing ('ductus duplex') is made by raising the thurible to the level of the face, then swinging it out towards the object or person to be incensed, repeating this outward swing, and then lowering the thurible."

Albert Wibisono said...

Saya baru mencermati rekaman videonya. Memang altar utama Basilika St. Petrus termasuk yang "freestanding" dan bisa didupai keliling. Meski begitu, terlihat bahwa jalan di sampingnya cukup sempit. Rasanya di altar ini pendupaan memang tidak dilakukan berkeliling, tapi menggunakan model lama untuk altar yang tidak "freestanding", seperti di link yang saya berikan di komentar sebelumnya. Coba kalau ada waktu Albert download satu atau dua rekaman Misa Paus yang lain di dalam basilika ini. Bisa jadi dari dulu memang hanya dari sisi belakang altar saja pendupaannya. Kalau Misa di Lapangan St. Petrus biasanya memang dikelilingi. Untuk Misa di dalam Basilika Lateran (Misa Perjamuan Tuhan, Kamis Putih) pendupaannya juga tidak dilakukan berkeliling. Sekali lagi karena memang sempit jalannya.

Berbagai macam rekaman video kegiatan Paus ada di sini:
http://benedictxvi.tv

Salam,
albert

Anonymous said...

Selamat pagi pak...
Saya oliver, saya seorang putra altar...
Saya sangat tertarik akan artikel ini..
Saya ingin bertanya jika seorang pembawa wiruk juga membawa dupa, bagaimana dia dapat membuka wiruk tersebut kemudian memberikannya kepada imam?
Lalu apa boleh jika dupa tetap dibawa oleh seorang patar lain, dimana pada saat perarakan masuk dia berdiri paling belakang (sendiri)?
Terimakasih pak, Tuhan memberkati!

Albert Wibisono said...

Selamat malam Oliver,

Bila seorang putera altar membawa wiruk dengan tangan kirinya dan tempat dupa dengan tangan kanannya, ia menyerahkan tempat dupa kepada imam (atau diakon atau siapapun yang membantu di samping imam, bila ada), baru setelah itu ia membuka wiruk. Imam mengisikan dupa dan memberkatinya. Setelah itu putera altar menutup wiruk dan kemudian menerima tempat dupa kembali dari imam dan pada saat yang sama atau sesaat sesudahnya ia menyerahkan wiruk kepada imam. Hal ini biasa dilakukan di luar negeri bila tidak terdapat banyak putera altar. Di Indonesia, di mana menyerahkan atau menerima sesuatu dengan tangan kiri dianggap kurang sopan, mungkin perlu sedikit penyesuaian untuk melakukan hal ini.

Tidak masalah jika tempat dupa dibawa oleh seorang putera altar yang lain di belakang, asalkan ia bisa maju ke depan untuk mengunjukkan tempat dupa saatnya diperlukan oleh imam. Kalau putera altar pembawa tempat dupa ini tidak ada kepentingan lain untuk berada di barisan paling belakang, sebaiknya ia berjalan persis di belakang pembawa wiruk.

Salam,
albert

Avent Saur said...

Terima kasih yang Pak Albvvert Wibisono atas coretan-coretannya yang mencerahkan. Jadinya, saya dapat sumber untuk menulis paper tentang liturgi, soal pendupaan. Salam.

Albert Wibisono said...

Kembali Pak.

Salam,
albert

Anonymous said...

Malam pak albert, saya salah satu misdinar dari bogor, saya ingin bertanya tentang penggunaan wiruk di misa konselebran. Pada bagian persembahan pertama seharusnya yang mendupai imam selebran (romo) apakah salah seorang imam dari konselebran atau putra altar? Lalu apabila imam selebrannya adalah bapa uskup, apakah putra altar boleh mendupai bapa uskup? Terima kasih sebelumnya.

Albert Wibisono said...

Pagi Dik, dalam kasus seperti itu tidak ada aturan khusus siapa yang harusnya mendupai Selebran Utama, baik beliau seorang imam atau uskup. Saya akan menyarankan Diakon (kalau ada) atau tetap misdinar pembawa wiruk. Diakon dan misdinar adalah pelayan dari (para) imam selebran. Imam konselebran, sesuai namanya, sebenarnya adalah selebran atau peraya juga dan tidak perlu menjadi pelayan. Meski begitu, kalau imam konselebran merasa perlu mendupai Selebran Utama yang biasanya lebih senior, biarlah beliau yang melakukannya.

Misdinar atau putra altar boleh mendupai uskup, kardinal, atau Paus sekalipun. Sama kasusnya dengan membawa anggur dan air, serta membawa air untuk cuci tangan. Itu semua adalah tugas misdinar atau putra altar sebagai pelayan.

Salam,
albert

Anonymous said...

selamat malam om Albert.. menarik membaca artikel ini. sepertinya hal kecil ini mulai sedikit dilupakan bahkan cenderung diabaikan. artikel ini mencerahkan.

sedikit bertanya untuk lebih memperjelas.
1. "Setelah arak-arakan sampai di panti imam, pembawa wiruk menghampiri selebran utama. Dupa ditambahkan lagi, lalu selebran utama mendupai salib altar dan altar." dengan tulisan ini terkesan bahwa sesampai di panti imam, imam langsung mendupai altar. sepertinya TPE tidak seperti itu. sejauh saya tahu, pedupaan digunakan dalam perayaan meriah. nah, TPE menyebutkan: "imam menghampiri altar dan menyatakan hormat dengan menciumnya. dalam perayaan meriah, imam lalu mendupai salib dan altar.

dalam konteks ini, misdinar tidak perlu tergesa untuk mendekati selebran utama, karena setelah sampai di panti imam, imam mencium altar terlebih dahulu.

2. menjelaskan ayunan dengan crik crik justru membingungkan saya. dalam pengertian saya, crik menunjuk pada bunyi benturan wirug dengan rantainya. dengan demikian, istilah crik-crik stop menunjukkan terjadinya dua kali benturan wirug dengan rantainya. artinya ada dua ayunan.

mengapa saya bingung? jujur saya tidak mengerti bahasa latin. yang ada pada saya hanya PUMR bahasa indonesia. bagai saya terjemahan PUMR cukup jelas. "pendupaan dilaksanakan dengan mengayunkan pedupaan ke depan dan ke belakang." menurut saya, teks ini menunjuk pada satu ayunan. satu ayunan dihitung dengan gerakan ke depan dan ke belakang. jika asumsi saya benar, maka dalam satu ayunan terjadi satu kali crik.

"pendupaan diayunkan tiga kali untuk penghormatan: ..." mengacu pada pemahaman yang telah saya tuliskan tadi, kata diayunkan tiga kali berarti depan-belakang (crik), depan-belakang (crik), depan-belakang (crik). jika crik-crik stop, maka kalimatnya menjadi pendupaan diayunkan enam (6) kali.

atau bagaimana harus memahami PUMR art 277?

terima kasih.
tuhan memberkati

Albert Wibisono said...

Selamat sore anonymous:

1. Ya kamu benar. Nanti saya koreksi ya. Makasih inputnya.

2. Ikuti saja apa yang saya sampaikan, karena terjemahan PUMR kurang jelas. Kalau belum mengerti penjelasan saya di atas, coba baca ulang atau coba tanyakan ke orang lain. Dalam hal terjemahan PUMR kurang jelas, kita harus mencari kejelasan dari dokumen aslinya dalam Bahasa Latin, seperti yang sudah saya lakukan. Coba kamu cari di YouTube, video rekaman Misa dari Vatikan dan perhatikan serta bandingkan dengan apa yang saya sampaikan di atas.

Salam,
albert

Anonymous said...

terima kasih untuk penjelasannya..

sejauh saya ingat, romo Harimanto pun menyebut soal 3 ayunan, satu ayunan dua gerakan ke depan dan kebelakang (1 crik). komentar pertama dari tulisan ini pun menyatakan yang kurang lebih sama.

jika pengertian dari PUMR terjemahan dalam bahasa Indonesine tidak jelas, untuk tidak mengatakan keliru, lalu bagaimana dengan kredibilitas Komisi Liturgi KWI?

salam

Slamet Nugroho said...

Bapak Albert Wibisono yang baik, terima kasih sudah menulis artikel ini. Tata gerak di dalam liturgi Katolik mewakili tata doa (iman), juga termasuk keindahan seni suci-nya. saya punya pertanyaan yang mungkin bagi Bapak adalah sederhana. Apakah jumlah ayunan wiruk setiap serinya dan jumlah seri ayunan itu tidak memiliki makna di dalam ritus baru? 2 ayunan per seri, dengan 3 seri atau 2 seri itu melambangkan apa ? di Institutio Generalis Missalis Romani art 277 tertulis "Tribus ductibus thuribuli incensantur", dimana frase "Tribus ductibus" adalah berarti "tiga ayunan". Apakah 3 ayunan ini dipersepsikan sebagai 3 seri ayunan (dimana tiap serinya terdapat 2 ayunan) ? Mengapa IGMR tidak menulis "ter duos ductibus thuribuli incensantur" = "dua ayunan turibulum dilakukan tiga kali" ? Saya mengajukan pertanyaan ini karena liturgi Katolik di masa silam begitu kaya, bahkan ayunan wiruk dilakukan dengan gerakan seni suci yang indah, setidaknya untuk saya. Wiruk diayunkan membentuk huruf NIKA (Pantokrator), diputar-putar kian kemari. Tradisi ini masih ada di dalam ritus Katolik Timur. PUMR sebagai terjemahan bahasa Indonesia dari IGMR, juga menuliskan "tiga ayunan" & "dua ayunan". Masalahnya memang baik di IGMR & PUMR tidak disebutkan berapa jumlah seri dari tiga atau dua ayunan. Apakah di dalam novus ordo memang tidak memiliki makna atau hanya sekedar jumlah belaka ? Tadinya saya berasumsi (karena tidak ada keterangan tertulis di PUMR maupun GIRM) bahwa tiga atau dua kali ayunan menunjukkan kelas pendupaan (hanya angka / jumlah belaka), dan 3 seri tiap ayunan adalah konsepsi memohon berkat dari Bapa, Putera & Roh Kudus. Wah ternyata saya salah selama ini. Maafkan jika saya membuang waktu Bapak untuk sekedar menjawab pertanyaan saya yang bodoh ini.

salam liturgi

fabianus eko said...

Saya mau bertanya apakah dalam adorasi sakramen maha kudus ada kewajiban menggunakan dupa?

Albert Wibisono said...

Bapak Slamet Nugroho ytk.:

Sejauh yang saya pelajari, banyaknya ayunan wiruk tidak bermakna apa-apa, selain makin banyak ayunan makin tinggi pula tingkat penghormatannya. Ini berlaku baik di ritus lama maupun baru. Dalam banyak kasus, baik di ritus lama maupun baru, pemaknaan simbolis terhadap ritual-ritual dan juga hal-hal yang praktis seringkali baru ditambahkan belakangan. Contoh yang paling jelas adalah Doa Memakai Busana Misa. Semua asesoris busana Misa yang dikenakan itu sejak awalnya masing-masing memiliki fungsi praktis. Baru belakangan saja fungsi simbolisnya lalu ditambahkan. Misalnya, amik itu fungsi praktis sejak awalnya semata menutup busana sehari-hari (yang kotor dan dianggap tidak suci) agar tidak terlihat, dan sekaligus melindungi busana Misa (yang indah, mahal dan suci) dari keringat pemakai. Baru belakangan saja dibuatkan doa, "Tuhan, kenakanlah pada kepalaku pelindung keselamatan, untuk menangkis serangan-serangan setan." Orang yang tidak mendalami sejarah busana liturgi lalu akan berpendapat bahwa fungsi amik adalah untuk menangkis serangan setan, dan lebih lanjut berpendapat kalau imam tidak mengenakan amik berarti tidak terlindung dari serangan setan. Ini naif sekali. Para rasul Kristus dahulu juga tidak mengenakan amik. Tidak pula mendupai dengan single atau double swings, ataupun dengan gerakan-gerakan berpola salib atau lingkaran.

Para ahli liturgi, termasuk O'Connell dan Elliott menerjemahkan tribus ductibus menjadi three double swings, dan singulis ictibus menjadi (series of) single swings. Fortescue, O'Connell dan Reid, pakar ritus lama, menyebut single swing (ductus simplex) dan double swings (ductus duplex). Untuk jelasnya, Bapak bisa lihat praktik pendupaan di Misa-Misa Paus di Vatikan. Banya tersedia di YouTube untuk dipelajari.

Salam,
albert

Albert Wibisono said...

Bapak Fabianus Eko ytk.:

Caeremoniale Episcoporum (Tata Upacara Para Uskup) menyebut bahwa dupa juga hendaknya digunakan sesuai amanat buku-buku liturgi, termasuk untuk eksposisi Sakramen Mahakudus dengan menggunakan monstrans. (Bdk. CE 87)

Salam,
albert

Albert Wibisono said...

Tidak jelas atau bahkan keliru dalam menerjemahkan suatu dokumen adalah suatu hal yang manusiawi sekali. Vatikan sendiri bahkan pernah keliru menulis rumusan Credo alias Aku Percaya dalam Buku Misale Romawi asli bahasa Latin. Adakah yang mau mempertanyakan kredibilitas Vatikan?