Hari Raya Santo Petrus dan Paulus


Setiap tahun pada tanggal 29 Juni, gereja Katolik sedunia punya gawe penting, Hari Raya Santo Petrus dan Paulus. Di tahun 2009, hari raya ini jatuh pada hari Senin. Mungkin umat tidak banyak yang perhatian dengan hari raya ini. Tidak seperti Hari Raya Tritunggal Mahakudus atau Hari Raya Tubuh dan Darah Kristus yang selalu jatuh pada hari Minggu. Saya akan menulis sedikit tentang tradisi Katolik di Hari Raya Santo Petrus dan Paulus ini.

Dari namanya saja, orang mungkin bisa membayangkan bahwa hari raya ini penting bagi paus dan para uskup, penerus Santo Petrus. Memang, banyak uskup yang ditahbiskan pada Hari Raya Santo Petrus dan Paulus, termasuk Uskup Agung Emeritus Medan AGP Datubara (1975), Uskup Agung Jakarta Julius Kardinal Darmaatmadja (1983) dan Uskup Surabaya Vincentius Sutikno Wisaksono (2007). Dengan demikian, bersamaan dengan hari raya ini di beberapa keuskupan dirayakanlah peringatan ulang tahun tahbisan uskup, sesuai yang diamanatkan oleh Caeremoniale Episcoporum (Tata Upacara Para Uskup). Sebagai tambahan, Paus Benediktus XVI juga ditahbiskan menjadi imam di hari raya ini (1951).

Di Vatikan, hari raya ini selalu dirayakan dengan meriah, dengan tradisi penganugerahan palium kepada uskup agung yang baru ditunjuk memimpin suatu metropolitan (keuskupan agung di kota besar penting bagi gereja Katolik, yang membawahkan keuskupan sufragan lainnya). Apa itu palium? Coba lihat foto Uskup Agung Timothy Dolan di sebelah ini. Palium adalah semacam kalung atau selempang yang dipakai di luar kasula (busana terluar imam untuk perayaan ekaristi). Di bagian bawah juga ada dua foto paus dengan palium model lama yang lebih besar dan panjang. Seorang uskup agung boleh saja menerima tahbisan uskup dari uskup lainnya, tapi beliau hanya akan menerima palium dari paus.

Dalam kurun waktu 30 Juni 2008 sampai dengan 28 Juni 2009, ada 34 orang uskup agung yang baru ditunjuk memimpin metropolitan. Beliau-beliau inilah yang pada Hari Raya Santo Petrus dan Paulus yang lalu menerima palium dari Paus Benediktus XVI. Dua di antara mereka kita mungkin kenal, Uskup Agung Medan Anicetus Bongsu Antonius Sinaga dan Uskup Agung Colombo Albert Malcolm Ranjith Patabendige Don, yang pernah menjadi Duta Besar Vatikan di Indonesia.

Palium adalah asesoris khas yang hanya diberikan kepada uskup agung metropolitan. Palium tidak diberikan kepada uskup agung yang tidak memimpin metropolitan (misalnya para duta besar Vatikan di berbagai negara) atau uskup biasa. Asesoris ini dibuat dari bulu domba, yang sesuai tradisi Katolik diberkati oleh paus pada Peringatan Santa Agnes (21 Januari). Domba yang diberkati paus ini kemudian dicukur pada hari Kamis Putih, dan bulunya ditenun menjadi palium yang kemudian dianugerahkan kepada para metropolitan. Palium melambangkan anak domba, yang oleh Kristus diserahkan kepada Petrus untuk digembalakan (Yoh 21, 15-17). Palium juga melambangkan Kristus sendiri, gembala yang baik, yang memanggul domba yang hilang di pundaknya dan membawanya pulang. Asesoris dari bulu domba ini memang dikenakan dengan dikalungkan di pundak. Kelihatan sederhana, tapi sungguh sarat makna, seperti juga busana gereja yang lainnya.

2 comments:

sirpetermarx.blogspot.com said...

Sungguh inspiratif, saya tahu blog ini dari boskonian, semoga tradisi tak terlupakan dan dapat dilestarikan. Salam kenal.
-Maxi-

Albert Wibisono said...

banyak terima kasih pak maxi. salam kenal juga.

salam,
albert