Busana Liturgi Uskup




Saya pernah menulis mengenai Busana Uskup di majalah [Liturgi - Terbitan KWI] ini, tepatnya di Vol 20 No 1 - Jan-Feb 2009. Tulisan yang kali ini akan lebih baik kalau dibaca setelah membaca kembali tulisan yang sebelumnya. Kalau majalah Anda sudah tidak ada, Anda dapat menemukan tulisan tersebut di sini.

Yang dimaksud busana liturgi uskup dalam hal ini adalah busana yang dikenakan uskup saat upacara-upacara liturgi, termasuk di antaranya Misa, Ibadat Harian dan berbagai kesempatan memberikan sakramen dan sakramental.

Selain busana liturgi, uskup juga mempunyai busana resmi dan busana sehari-hari, yang dikenakan dalam acara-acara yang bukan upacara liturgi. Contohnya, saat menerima tamu, menghadiri berbagai rapat dan undangan, dan termasuk juga menghadiri wisuda universitas Katolik.

Pada prinsipnya busana liturgi uskup yang paling mendasar dan pertama adalah yang dalam Caeremoniale Episcoporum (CE-Tata Upacara Para Uskup) disebut sebagai Habitus Choralis, seperti yang dikenakan oleh Uskup Surabaya YM Vincentius Sutikno Wisaksono pada gambar di samping, yaitu: jubah ungu setakat mata kaki (1) dan sabuk sutera ungu (2); rochet dari linen atau bahan sejenis (3); mozeta ungu (4); salib pektoral, dengan tali anyaman warna hijau-emas (5) (bukan dengan rantai); pileola ungu (6), yang mungkin lebih dikenal dengan nama solideo atau zucchetto; bireta ungu (7); cincin (8); dan stocking/kaos kaki ungu (tidak terlihat).

Jubah ungu (1) adalah jubah liturgi uskup. Sama dengan jubah resminya yang berwarna hitam/putih, jubah ungu ini dilengkapi dengan aksen warna merah (bukan ungu) di bagian tepi, lubang kancing dan kancing. Yang beda, bagian lengan bawah jubah ungu ini, yang ditekuk ke atas sekitar 20-25 cm, dilapis dengan sutera warna merah.

Sabuk sutera ungu (2) uskup untuk keperluan liturgi dan non liturgi sama saja barangnya. Sabuk ini dikenakan di dada bagian bawah, bukan di pinggang.

Rochet (3) adalah busana khusus uskup yang mirip dengan superpli. Bedanya, bagian lengan rochet sempit dan superpli (seharusnya) lebih lebar. Biasanya, bagian bawah badan dan lengan rochet terbuat dari renda yang cukup lebar.

Mozeta ungu (4) adalah mantol kecil yang hanya boleh dipakai oleh uskup. Sebelum reformasi aturan busana di tahun 1969, mozeta bahkan hanya boleh dipakai uskup kala ia berada di dalam wilayah keuskupannya. Selain uskup, ada beberapa ordo dan kanon reguler, yang sejak ratusan tahun lalu oleh Paus diberikan hak mengenakan mozeta (dengan warna lain). Termasuk dalam kelompok ini di antaranya adalah para Fransiskan, Karmelit, Dominikan dan Kanon Reguler Salib Suci. Mozeta atau apapun namanya, yang bentuknya mirip dengannya, hendaknya tidak dikenakan oleh misdinar, seperti yang marak belakangan ini.

Salib pektoral pasangan jubah ungu harus digantung dengan tali anyaman warna hijau-emas (5). Untuk jubah resmi warna hitam/putih, salib pektoral digantung dengan rantai. Salib pektoral dengan tali hijau-emas ini dikenakan di atas mozeta. Dalam Misa, salib pektoral dengan tali hijau-emas ini dikenakan di atas alba dan di bawah kasula dan dalmatik pontifikal (bukan di atas kasula). (Bdk. CE 61)

Pileola atau solideo atau zucchetto ungu (6) adalah topi bundar dan kecil. Sesuai tradisi, pileola sebenarnya dikenakan oleh semua klerus. Pileola imam berwarna hitam, uskup ungu, kardinal merah dan Paus putih. (Catatan: Seturut tradisi, jubah imam berwarna hitam; meski begitu, putih selalu boleh digunakan imam, uskup dan kardinal di daerah tropis) Awalnya, pileola adalah pelindung kepala dari hawa dingin, untuk dikenakan oleh semua klerus yang sudah di-tonsura (dicukur gundul, seperti sering kita lihat pada gambar/patung St. Fransiskus Asisi atau St. Antonius Padua).

Bireta ungu (7) adalah topi segi empat yang dikenakan di atas pileola. Bireta uskup berwarna ungu dan bireta imam berwarna hitam, keduanya dilengkapi dengan pom yang sewarna. Bireta kardinal berwarna merah, terbuat dari sutera bermotif air, dan tidak dilengkapi dengan pom.

Cincin (8) senantiasa dikenakan uskup, sebagai simbol kesetiaannya pada dan ikatan sucinya dengan Gereja, pengantinnya. (Bdk. CE 1199)

Cappa Magna atau mantol kebesaran uskup warnanya ungu, seperti tampak pada gambar di samping. Cappa magna tradisional dalam foto di samping panjangnya 8 meter. Cappa magna modern panjangnya hanya 4.5 meter, baik untuk uskup maupun kardinal. Cappa magna boleh dikenakan uskup hanya di dalam wilayah keuskupannya dan untuk perayaan-perayaan yang paling agung. (Bdk. CE 1200)

Uskup mengenakan busana liturgi tersebut di atas saat ia bepergian secara resmi di depan publik ke atau dari gereja, saat ia hadir dalam suatu upacara liturgi tetapi tidak memimpinnya, dan dalam berbagai kesempatan lain yang dinyatakan dalam Caeremoniale Episcoporum. (Bdk. CE 1202)

Secara khusus, uskup diminta mengenakan busana liturgi di atas saat kunjungan pastoral (Bdk. CE 1179). Saat itu, uskup hendaknya disambut di pintu (gerbang) gereja oleh pastor paroki yang mengenakan cappa/pluviale dan membawa salib untuk diciumnya. Pastor paroki kemudian menyerahkan aspergil dan air suci, agar uskup dapat memberkati dirinya sendiri dan semua yang hadir menyambutnya. (Bdk. CE 1180)

Uskup agung mengenakan jubah liturgi yang persis sama dengan uskup. Kardinal pun juga, hanya saja warnanya merah dan khusus bahan suteranya menggunakan sutera bermotif air. Bahan sutera bermotif air ini hanya boleh dikenakan oleh kardinal dan utusan khusus Paus (misalnya Nuntius atau Duta Besar Vatikan). Sutera bermotif air untuk nuntius, yang adalah uskup agung, berwarna ungu.

Selain jubah ungu lengkap dengan asesorisnya tersebut di atas, pada dasarnya hanya ada dua macam busana liturgi yang dikenakan uskup. Keduanya sama juga dengan busana liturgi imam, yaitu Cappa/Pluviale dan Kasula/Planeta. Pluviale dikenakan saat prosesi, saat memberikan berbagai sakramen dan sakramentali, saat memimpin Ibadat Pagi (Laudes) dan Ibadat Sore (Vesper) dan saat Misa, bila ia tidak memimpinnya atau tidak berkonselebrasi. Untuk Ibadat Bacaan, Tengah Hari dan Penutup (Completorium), baik memimpin atau tidak, uskup dapat mengenakan habitus choralis jubah ungu di atas, lengkap dengan asesorisnya. Kasula dikenakan saat Misa.

Singkatnya, busana liturgi mendasar untuk uskup adalah Habitus Choralis di atas, dan untuk upacara liturgi yang lebih meriah, dikenakan Pluviale/Cappa, dan khusus untuk Misa, dikenakan Kasula/Planeta.

Para ahli busana Gereja mengatakan bahwa sebenarnya kasula adalah pluviale yang dijahit di bagian depannya. Keduanya sama-sama berasal dari bahan kain setengah lingkaran. Pluviale juga adalah busana yang umum bagi para biarawan-biarawati dan anggota koor, untuk upacara liturgi yang meriah, sesuai tradisi.

Foto samping: Saat Perarakan Minggu Palma, Paus mengenakan pluviale dan didampingi dua kardinal diakon yang mengenakan dalmatik. Perhatikan cara kardinal diakon memegang pluviale Paus selama prosesi, sesuai tradisi.

Berikut adalah tambahan asesoris khusus untuk uskup yang mengenakan kasula, untuk dikenakan saat Misa Stasional di Katedral ataupun Misa Agung lainnya (Bdk. CE 56 & 62).

Dalmatik Pontifikal sebenarnya sama dengan dalmatik diakon biasa, hanya yang ini bisa berwarna putih polos saja atau bisa ditambah dengan hiasan garis-garis sederhana. Busana ini dipakai di bawah kasula.

Foto-foto di samping: Saat Pencucian Kaki pada Misa Kamis Putih, Paus melepas kasula, maka nampaklah dalmatik pontifikal yang dikenakannya di bawah kasula, plus juga apron putih yang diikatkan di pinggang, yang biasanya dikenakan saat uskup memberikan sakramen krisma.

Pallium adalah kalung putih yang dikenakan di atas kasula. Pallium adalah asesoris khusus untuk uskup agung metropolitan, yaitu uskup agung yang memimpin suatu keuskupan agung. (Catatan: Ada uskup agung yang tidak memimpin keuskupan agung, misalnya Nuntius atau Duta Besar Vatikan dan pejabat-pejabat Kuria Romawi di Vatikan) Pallium dianugerahkan langsung oleh Paus kepada semua metropolitan yang baru diangkat, sekali dalam setahun, pada Hari Raya Santo Petrus dan Paulus, (29 Jun) di Vatikan (lihat foto penganugerahan pallium di atas: Paus mengenakan pallium dan uskup agung metropolitan yang berlutut di depannya baru saja menerima pallium dari Paus. Seremoriarius di sebelah kiri, Mgr. Francesco Camaldo, sedang memegang pallium juga). Pallium hanya dikenakan oleh seorang metropolitan saat ia memimpin Misa di dalam wilayah keuskupan agungnya (termasuk dalam wilayah keuskupan sufragannya).

Saat tiba di gereja untuk upacara liturgi, uskup yang mengenakan busana liturgi jubah ungu di atas akan melepaskan cappa magna (bila dikenakan), salib pektoral, mozeta dan rochet, dan kemudian mengenakan amik, alba, singel, salib pektoral dengan tali anyaman warna hijau-emas dan stola. Di atas itu semua, uskup mengenakan pluviale, atau bila ia memimpin atau berkonselebrasi dalam Misa, uskup mengenakan dalmatik pontifikal (untuk Misa Agung) dan kasula serta pallium (untuk Misa Agung, khusus metropolitan).

Berikut adalah tambahan asesoris untuk uskup, saat mengenakan kasula atau pluviale, untuk upacara agung (Bdk. CE 56 & 62).

Mitra bagi seorang uskup kurang lebih sama makna dan kegunaannya dengan mahkota bagi seorang raja. Dalam tradisi Gereja Katolik, ada tiga macam mitra uskup, yaitu mitra preciosa, semi-preciosa dan mitra linen putih polos. Mitra preciosa adalah mitra yang indah dan berharga, seringkali memakai benang emas atau perak dan dilengkapi juga dengan batu permata. Mitra semi-preciosa adalah mitra yang selama ini kita lihat dipakai banyak uskup di Indonesia. Mitra putih polos dari bahan kain linen (atau kain sutera damask untuk kardinal) adalah mitra yang dipakai saat uskup berkonselebrasi, ataupun saat Misa Arwah. Satu catatan kecil, seturut tradisi, lambang uskup dapat digunakan dalam mitra, tetapi penempatannya biasanya di ujung bawah kedua pita besar di belakang dan bukan di bagian depan mitra (lihat foto di atas). Catatan: Pita berujung hitam dan bersalib merah yang ada di tengah adalah pallium, dilihat dari belakang.

Tongkat dipakai uskup hanya dalam wilayah keuskupannya. Uskup tamu yang memimpin suatu upacara agung, atas perkenan uskup diosesan setempat, dapat juga memakai tongkat. Saat beberapa uskup hadir dalam suatu upacara, hanya satu uskup pemimpin upacara yang memakai tongkat. (Bdk. CE 59)

Catatan: Artikel ini dimuat dalam Majalah Liturgi yang diterbitkan oleh Komisi Liturgi KWI, Vol 22 No 3 - Mei-Jun 2011.

Foto-Foto: Corbis, Pribadi

Nonton Bareng Beatifikasi



Banyak orang suka nonton bareng. Umat Katolik pun tidak terkecuali. Maka, atas prakarsa Ibu Kristianne Retno, pengasuh Majalah Nuntia Paroki Katedral Roh Kudus Keuskupan Denpasar, saya pun jadi komentator acara nonton bareng Misa Beatifikasi Paus Yohanes Paulus II di Paroki Katedral Roh Kudus. Karena komentatornya peminat liturgi dan tradisi Katolik, bisa ditebak bahwa komentarnya pun sarat dengan katekese liturgi dan juga pengenalan banyak hal tentang tradisi suci nan indah Gereja Katolik.

Masih segar dalam ingatan kita, pada 1 Mei 2011 yang lalu, Paus Yohanes Paulus II dibeatifikasi dalam sebuah Misa yang dipimpin oleh Paus Benedictus XVI. Sayangnya, acara ini tidak dipancarluaskan oleh satu pun stasiun televisi Indonesia. Indosiar, yang biasanya menayangkan Misa Paskah Paus dari Vatikan, juga tidak menayangkan Misa Beatifikasi ini. Hanya mereka yang punya parabola atau TV kabel yang bisa nonton. Sungguh sayang. Karena itu, saya download rekamannya dari benedictxvi.tv dan memutarnya ulang untuk umat Paroki Katedral Roh Kudus, Keuskupan Denpasar.

Acara nonton bareng Senin, 20 Juni 2011 itu dibuka pukul 19:15 oleh Romo Guido Fahik, SVD, setelah Bapak J.B. Soetiksno dari Dewan Pastoral Paroki menyampaikan sambutan selamat datang. Sebelumnya, sejak pukul 18:30, saya memutar film dokumenter Tu Es Petrus bikinan Televisi Vatikan (CTV). Isinya tentang hari-hari terakhir mendiang Paus Yohanes Paulus II sampai dengan Upacara Penobatan Paus Benedictus XVI.


Usai Romo Guido membuka acara, film langsung diputar. Mulailah umat mengikuti Misa dalam Bahasa Latin ini. Hampir 200-an umat yang mengikuti acara ini. Sebagian besar dari Paroki Katedral. Menurut penyelenggara, ada juga umat dari paroki-paroki lain. Buku Ordo Missae/Tata Perayaan Ekaristi dalam dua bahasa, Latin-Indonesia, yang disediakan sebanyak 120 buah, dengan cepat ludes dan banyak umat harus berbagi. Buku ini menjadi panduan utama, agar umat bisa mengerti apa yang dikatakan dan yang sedang terjadi.

Film yang panjangnya 3 jam itu memang tidak semuanya dipertontonkan. Banyak bagian Misa yang dilompati, misalnya saat homili. Antusiasme umat sungguh menggembirakan. Beberapa kali film dihentikan dan kami berdiskusi tentang beberapa hal, termasuk sikap yang benar saat Bacaan I, II dan Injil, dan juga saat Tubuh dan Darah Kristus ditunjukkan kepada umat. Acara nonton bareng ini ditutup pukul 21:30 dengan doa.

Sungguh umat kita haus katekese liturgi. Banyak yang berharap liturgi kita bisa terus disempurnakan dan suatu saat nanti bisa seindah liturgi di Vatikan. Dan ini bukannya tidak mungkin. Semuanya tergantung kita. Bandingkan rumitnya persiapan saat menyambut Presiden kita yang datang berkunjung. Sudahkah kita melakukan hal yang sama (atau lebih baik?) saat Kristus, Tuhan kita, hadir dalam Misa?

Catatan: Saya memandu acara yang sama untuk para misdinar di Paroki Katedral Hati Kudus Yesus Keuskupan Surabaya, Jumat, 25 Jun 2011 malam. Lagi-lagi, katekese liturgi dan tradisi, kali ini untuk para misdinar.

Foto-Foto: Corbis, Deddy Haryatmo