Nuncio Berkati Katedral Tanjung Selor


Minggu, 5 Februari 2012 yang lalu saya pergi ke Tanjung Selor. Bagi yang belum tahu, kota ini 1,5 jam perjalanan dengan speed-boat jauhnya dari Tarakan di bagian utara Kaltim. Keuskupan Tanjung Selor yang dipimpin Yang Mulia Yustinus Harjosusanto punya hajat besar. Duta Besar Tahta Suci Yang Mulia Antonio Guido Filipazzi memimpin Upacara Dedikasi Gereja Katedral mereka yang baru. Upacara agung ini dihadiri oleh 15 uskup plus beberapa puluh imam dan klerus dan sekitar dua ribuan umat. Berikut ini oleh-oleh saya yang pertama, Homili Nuncio. Semoga di kesempatan berikutnya saya bisa menulis tentang Tata Perayaan Dedikasi (=Pemberkatan) Gereja dan Altar, suatu ritus yang sungguh indah dan sarat makna. Untuk sekarang, silakan menikmati yang ini dulu.

Homili Duta Besar Tahta Suci untuk Indonesia
Yang Mulia Uskup Agung Antonio Guido Filipazzi
Pada Upacara Dedikasi Gereja Katedral Tanjung Selor
5 Februari 2012

1. Liturgi pemberkatan gereja katedral yang sedang kita lakukan, tidak hanya berkait dengan rumah ibadat ini yang didirikan berkat kasih dan upaya dari bapa uskup, para imam dan umat sekalian, yang pantas dikagumi. Liturgi ini merujuk pada dua bait Allah yang lain. Tuhan diam dan berkarya baik dalam gereja-Nya maupun dalam hati setiap orang Kristiani. Oleh karena itu pemberkatan gereja katedral ini bukan semata-mata peresmian belaka, ataupun sebuah acara yang indah yang menuntaskan pekerjaan dan upaya yang besar. Melalui pemberkatan gereja katedral yang baru ini, kita menjadi sadar kembali akan maksud gereja yang sebenarnya dan juga akan arti jiwa kita dalam relasi dengan Allah. Oleh karena itu saya ingin mengajak saudara sekalian untuk merenungkan kembali tentang bait Allah yang bersisi tiga, sebagaimana dilukiskan oleh liturgi.

2. Allah dapat ditemukan di setiap tempat, namun sepanjang jaman manusia mencari-Nya di tempat-tempat khusus. Demikian juga umat Israel memiliki Bait Allah di Yerusalem sebagai pusat kehidupannya. Umat Israel yang baru, yakni Gereja, berkumpul di gedung-gedung yang kita bangun dan kita khususkan untuk perjumpaan dengan Allah sendiri. Di setiap gereja, besar atau kecil, kuno atau baru seperti gereja katedral ini, kita menerima kebenaran dan kasih karunia Allah, karena di tempat seperti inilah Dia mengumpulkan kita, berbicara dengan kita, mengampuni dosa kita, memberikan kehidupan-Nya kepada kita dan tetap menyertai kita, khususnya dalam Sakramen Ekaristi.

Oleh karena itu setiap gereja merupakan tempat yang khusus. Kita mesti memasuki gereja dengan penuh iman dan hormat karena gereja merupakan tempat di mana Allah berada dan berkarya. Gereja bukanlah tempat untuk melaksanakan kegiatan duniawi, melainkan merupakan rumah untuk beribadat, baik sebagai pribadi maupun sebagai komunitas, dan khususnya untuk doa resmi Gereja, yakni liturgi suci.

Semuanya ini berlaku secara khusus untuk gereja katedral sebagai gereja induk dari semua gereja di keuskupan: gereja katedral menjadi contoh yang bercahaya sebagai tempat untuk ibadat dan upacara suci. Di sinilah liturgi, khususnya jika dipimpin oleh seorang uskup, mesti menjadi liturgi agung, disiapkan dengan baik dan juga dilaksanakan sesuai dengan petunjuk-petunjuk Gereja.

Liturgi merupakan doa yang didoakan sepanjang sejarah gereja, maka liturgi tidak dapat diubah-ubah sesuka hati. Selain itu, liturgi merupakan doa seluruh Gereja yang tersebar di segala penjuru dunia: setiap orang Kristiani, terlepas dari tempat tinggalnya, setiap kali memasuki sebuah gereja untuk merayakan liturgi seharusnya merasa berada di rumah sendiri. Kita mesti merayakan liturgi yang tidak boleh kita ubah sesuai dengan selera kita, melainkan sebagai sebuah realitas yang lebih besar dari diri kita, sebagaimana sering dikatakan oleh Bapa Suci Benediktus XVI.

Maka saya ingin mengingatkan kembali bahwa perlu kesetiaan terhadap petunjuk-petunjuk liturgi yang diberikan oleh Gereja. Secara khusus, para uskup dan imam, yakni para pelayan liturgi suci, bukan pemilik liturgi, maka mereka tidak boleh mengubahnya sesuka hati. Setiap orang beriman yang menghadiri liturgi di setiap gereja Katolik, mesti merasa bahwa dia sedang merayakan liturgi dalam kesatuan dengan seluruh Gereja, yakni Gereja masa lampau dan masa kini, serta seluruh Gereja yang tersebar di seluruh dunia, Gereja yang bersatu dengan penerus Petrus dan dipimpin oleh para uskup.

Mari kita minta kepada Tuhan agar di gereja katedral ini doa resmi Gereja selalu dilaksanakan sesuai dengan kriteria-kriteria ini, dan dengan demikian menjadi model bagi gereja-gereja yang lain di keuskupan.

3. Bait Allah yang dibangun oleh manusia menyerupai sebuah Bait Allah yang lain: yakni Gereja Kristus, yang merupakan Tubuh-Nya. Allah telah memilih untuk diam di tengah-tengah manusia untuk menyelamatkannya dalam diri Putranya yang tunggal Yesus Kristus; Dia menjadi manusia seperti kita dan untuk kita. Putranya yang menjadi manusia tetap hadir dalam Tubuh Kristus yakni Gereja. Kita pergi ke gereja untuk merayakan sakramen-sakramen, khususnya Ekaristi. Kita pergi ke gereja untuk semakin menjadi Gereja, agar kita menjadi bait Allah yang hidup yang melaluinya seluruh umat manusia dapat mendengarkan kebenaran dan menerima kasih karunia-Nya.

Pemberkatan gereja katedral ini mengajak kita untuk merenungkan misteri Gereja. Misteri ini senantiasa terancam untuk direduksi hingga dilihat dari sudut pandang duniawi belaka. Betapa banyak orang, termasuk juga umat Kristiani, memandang Gereja sebagai sebuah lembaga yang hanya diciptakan manusia, seperti banyak lembaga lain! Betapa banyak orang, termasuk umat Kristiani, yang berpikir bahwa misi Gereja hanya terbatas pada tujuan duniawi seperti kesehatan, kesejahteraan, pendidikan.

Kita perlu menyalakan kembali kesadaran akan tugas Gereja yang sebenarnya, sesuai dengan kehendak Pendiri Ilahinya. Kita perlu menggarisbawahi relasi mutlak antara Kristus dan Gereja, karena tanpa Kristus Gereja tidak ada, dan demikian juga tanpa Gereja kita semakin sulit bertemu dengan Kristus. Kebenaran ini menjadi tolok ukur untuk menilai mutu hidup menggereja kita. Setiap kata dan tindakan kita seharusnya membantu orang lain untuk bertemu dengan Kristus, dan seharusnya mampu menghadirkan Allah di tengah-tengah umat manusia untuk keselamatan mereka.

Kita telah membangun gereja katedral yang indah ini, demikian juga kita senantiasa harus membangun Gereja Tubuh Kristus, sebagai penerus-Nya; Gereja adalah juga pengantin perempuan-Nya, karena mencintai Kristus dan lebih dahulu dicintai oleh-Nya; Gereja, yang menjadi Bait Allah di mana Allah hadir untuk meneruskan karya keselamatan-Nya untuk seluruh umat manusia. Kita mesti membangun Gereja di atas dasar para rasul dan penerus-penerus mereka, sambil membangun atas akar, terang, kekuatan dan hidup yang berasal dari Tuhan Yesus. Tidak ada gunanya jika kita membangun gedung-gedung suci yang besar dan indah, sedangkan komunitas orang yang beriman tidak menjadi teladan dan sarana untuk bersatu dengan Allah!

4. Kita adalah bait Allah bukan hanya sebagai anggota Gereja. Liturgi pemberkatan gereja mengingatkan kita bahwa kita masing-masing adalah bait yang hidup, kediaman Tritunggal Mahakudus, berkat Permandian kita.

Kehadiran Allah ini merupakan anugerah yang tak ternilai yang dipercayakan kepada kebebasan kita: kita dapat menghormatinya, memeliharanya dan mengembangkannya, namun sebaliknya kita bisa juga menyangkal atau melupakan kehadiran Allah di dalam diri kita akibat dosa-dosa kita. Setiap kali seorang yang sudah dipermandikan melakukan dosa, dia kehilangan kehadiran Allah di dalam jiwanya dan oleh sebab itu dia kehilangan kehidupan yang berasal dari kehadiran ilahi itu (inilah alasannya mengapa “dosa berat” disebut juga “dosa yang mematikan”).

Sering diperdebatkan bagaimana caranya agar umat Kristiani dapat menjadi lebih aktif dalam hidup menggereja. Diskusi-diskusi seperti itu biasanya menyoroti kegiatan-kegiatan yang seorang Kristiani mesti lakukan di dalam Gereja dan masyarakat. Namun jika kita adalah bait Allah yang hidup, maka kita mesti mengingat bahwa seorang Kristiani sebelum menjadi aktif, mesti hidup sesungguhnya lebih dahulu, agar kegiatan-kegiatannya menjadi juga bermakna. Oleh sebab itu keprihatian utama seorang Kristiani dan Gereja ialah agar setiap anak Allah menetap atau mencapai kembali kasih karunia, persahabatan dan kehidupan Allah sendiri. Sayangnya ada orang Kristiani yang datang ke gereja, menyambut Ekaristi dan menjalankan tugas gerejani, namun mereka bukan lagi bait Allah yang hidup, karena hati dan kehidupan mereka sudah jauh dan bahkan bertentangan dengan Allah. Kontradiksi ini sangat besar!

Di gereja katedral ini diletakkan reliqui Santo Pius dari Pietralcina, yakni seorang imam yang mempersembahkan seluruh hidupnya agar orang banyak dapat menjadi kembali bait Allah yang hidup melalui sakramen Pengakuan Dosa. Dalam hidup rohani dan pastoral gereja, kita harus menyadari pentingnya setiap orang Kristiani hidup dalam kasih karunia Allah dan dapat menemukannya kembali melalui sakramen Pengakuan Dosa, sebagaimana dikatakan dalam katekismus.

Saya menganjurkan kepada para imam untuk meneladani Padre Pio, untuk mementingkan kembali sakramen Pengakuan Dosa dalam pelayanan mereka. Saya juga minta kepada kita semua untuk memeriksa batin di hadapan Allah dan saya menganjurkan juga untuk sering menerima sakramen pengampunan. Tanpa sakramen itu kita melakukan banyak kegiatan dan menjadi capek, lelah, dan mungkin juga kita merasa sudah melaksanakan kewajiban kita, namun dengan demikian kita tidak akan membangun bait Allah yang sesungguhnya!

5. Santa Perawan Maria telah menjadi bait Allah yang unik dan luar biasa, karena berkat imannya Sang Sabda Allah telah menjelma menjadi manusia dalam rahimnya. Maka seluruh Gereja dan setiap jiwa meneladani Dia dalam upaya untuk menjadi bait Allah, yaitu untuk mengetahui siapa diri kita dan apa misi kita. Bunda Maria bukan saja bunda Putra Allah yang menjadi manusia, melainkan dia juga bunda seluruh Gereja dan setiap pengikut Tuhan. Mari kita mempercayakan diri kepada-Nya, agar upacara pemberkatan gereja katedral ini membantu umat dari Keuskupan Tanjung Selor untuk semakin bertumbuh sebagai sebagian yang hidup dari seluruh Gereja serta membantu setiap orang Kristiani untuk menjadi bait Allah yang hidup.

Semoga Santa Perawan Maria menuntun kita dalam merayakan Misa Suci ini. Gereja katedral ini, seperti setiap gereja lain, adalah tempat yang dipakai terutama sekali untuk Perayaan Ekaristi. Sakramen Tubuh dan Darah Kristus mempersatukan kita dengan Dia dan membuat kita menjadi Tubuh-Nya, yakni Gereja, dan membuat kita menjadi bait-bait Allah yang hidup. Mari kita merayakan liturgi suci ini dengan penuh iman untuk tumbuh bersama, membentuk bait Allah yang akan menjadi Yerusalem surgawi ketika Kristus akan menjadi “semua di dalam semuanya”.

Teks: Kedutaan Besar Tahta Suci di Jakarta
Foto: Frater Johanes Wegig Hari Nugroho

No comments: