Hari Raya St. Petrus & St. Paulus: Misa Agung Nuncio di Katedral Jakarta


Mosaik St. Petrus & St. Paulus. (Foto: Corbis)
Jumat, 29 Juni 2012 kita memperingati Hari Raya St. Petrus dan St. Paulus. Nuntius Apostolik, Yang Mulia Uskup Agung Antonio Guido Filipazzi, merayakan Misa Agung di Katedral Jakarta. Mendampingi beliau sebagai konselebran adalah: Uskup Agung Medan YM Anicetus Bongsu Antonius Sinaga OFMCap, Uskup Bogor YM Michael Cosmas Angkur OFM, Vikjen KAJ Mons. Dr. Yohanes Subagyo dan Rektor Seminari Tinggi Yohanes Paulus II KAJ Romo Dr. Simon Petrus Lili Tjahjadi.

Duta Besar Chile beserta istri dan juga Duta Besar Peru terlihat mengikuti Misa ini dengan khusyuk. Sejumlah imam dan frater dari Seminari Tinggi Yohanes Paulus II KAJ mengisi bangku-bangku terdepan. Di belakangnya, sekitar 400-an umat memenuhi bangku-bangku gereja. Misa dimeriahkan oleh paduan suara gabungan di bawah pimpinan Levi Prakasa Setiadi. Mereka menyanyikan lagu-lagu dalam bahasa Indonesia, Inggris dan Latin. Kepala Paroki Katedral, Romo ST Bratakartana, SJ, yang sejak sejam sebelumnya sudah memeriksa kesiapan gereja dan para petugas, juga berpartisipasi dalam Misa ini bersama seorang imam senior lainnya.

Misa dirayakan dalam bahasa Indonesia, dengan bacaan pertama, kedua dan doa umat dalam bahasa Inggris. Doa Syukur Agung dipanjatkan dalam bahasa Latin dan Indonesia oleh Nuntius dan para konselebran. Buklet Misa dalam tiga bahasa disediakan agar umat dapat mengikuti dan berpartisipasi aktif dalam Misa. Berikut adalah Homili Nuntius, yang disampaikan beliau dalam bahasa Indonesia (Sumber: Kedutaan Besar Tahta Suci untuk Indonesia).

Homili Duta Besar Tahta Suci untuk Indonesia
Yang Mulia Uskup Agung Antonio Guido Filipazzi
Pada Hari Raya St. Petrus dan St. Paulus
29 Juni 2012

1. Kita baru mendengar dalam Injil kata-kata yang diucapkan Tuhan Yesus untuk mempercayakan tugas yang amat penting kepada Rasul Petrus: yakni menjadi batu karang yang kokoh sebagai dasar bangunan Gereja, agar Gereja mampu menjalankan pertempuran melawan alam maut. Oleh karena itu, tugas ini bukanlah tugas yang dipercayakan kepada pribadi Petrus saja, melainkan merupakan tugas yang mesti diteruskan dalam Gereja sampai akhir jaman. Tugas ini dipercayakan kepada semua penerus rasul Petrus dan sekarang dipercayakan kepada Bapa Suci Benediktus XVI. Dalam perayaan Ekaristi ini kita ingin mendoakan Sri Paus agar Tuhan memberkatinya dan tetap memeliharanya sebagai gembala umat Kristiani, dan juga sebagai sosok penting bagi seluruh umat manusia. Paus Benediktus XVI sendiri mengajak kita untuk melakukannya dengan mengatakan: “Saudara-saudari yang terkasih, Bapa Suci sangat terhibur mengetahui bahwa setiap kali dirayakan Ekaristi, seluruh umat mendoakan Sri Paus; saya juga terhibur mengetahui bahwa doa kita menyatu dengan doa Tuhan untuk Petrus. Hanya berkat doa Tuhan dan doa Gereja, Sri Paus dapat menjalankan tugasnya untuk memperkuat umat – untuk menggembalakan kawanan Yesus serta menjadi penjamin kesatuan, yang merupakan kesaksian tersendiri akan misi Yesus sebagai utusan Bapa” (Homili Misa Perjamuan Tuhan, 2011).

2. Sebagaimana diajarkan oleh Konsili Vatikan II, yang mengacu pada iman Gereja sepanjang sejarah, Sri Paus “menjadi azas dan dasar yang kekal dan kelihatan bagi kesatuan para uskup maupun segenap kaum beriman” (LG 23). Bersama Bapa Suci dan di bawah pimpinannya, kita semua, dari seluruh dunia, menjadi Gereja yang satu.

Oleh karena itu, amat pentinglah jika setiap umat serta setiap komunitas Kristiani menjaga persekutuan sepenuhnya dengan Paus. Namun, itu tidak berarti bahwa cukuplah bagi kita untuk menyayanginya, atau merasa tertarik secara intelektual akan perkataannya, ataupun mengungkapkan antusiasme superfisial saja. Kita mesti bersatu dengan Sri Paus melalui pertalian yang obyektif, yang kelihatan, yang konkrit, yakni ikatan-ikatan yang menyatukan kita semua dalam Gereja.

“Manakah ikatan-ikatan kesatuan?” ditanyakan oleh Katekismus Gereja Katolik. Katekismus sendiri menjawab: “Terutama cinta, yakni ‘ikatan kesempurnaan’” (Kol 3:14). Tetapi kesatuan Gereja peziarah juga diamankan oleh ikatan persekutuan yang tampak berikut ini: pengakuan iman yang satu dan sama, yang diwariskan oleh para Rasul; perayaan ibadat bersama, terutama Sakramen-Sakramen; suksesi apostolik, yang oleh Sakramen Tahbisan menegakkan kesepakatan sebagai saudara-saudari dalam keluarga Allah” (KGK 815).

Hari ini kita akan merenungkan secara singkat ketiga pertalian ini yang mengikat kita dengan Sri Paus, guna menjaga persekutuan dengan dia serta membangun persekutuan yang benar dalam Gereja sendiri.

3. a) Pertalian Iman. Di dalam Gereja, Petrus dan para penerusnya melanjutkan pewartaan: “Engkaulah Kristus, Putra Allah yang hidup,” yakni pernyataan yang merupakan pusat dari seluruh iman Kristiani. Pertalian pertama yang mesti kita jaga dengan Sri Paus adalah persekutuan dalam iman, dan itu terealisasikan melalui perhatian, pengetahuan dan penerimaan ajaran Gereja sendiri. Suara Sri Paus bukanlah salah satu pendapat di antara yang lain, tidak sejajar juga dengan pendapat para teolog, bahkan tidak sejajar juga dengan suara para uskup, melainkan merupakan kriteria untuk menilai ajaran-ajaran yang diajarkan dalam Gereja, serta pendapat dan teori yang disebarluaskan dalam masyarakat. Sebagaimana diajarkan oleh Katekismus Gereja Katolik, “tugas untuk menafsirkan Sabda Allah secara mengikat, hanya diserahkan kepada Magisterium Gereja, kepada Bapa Suci dan kepada para uskup yang bersatu dengannya dalam satu paguyuban” (KGK 100). Katekismus juga mengatakan bahwa: “Wewenang Mengajar biasa dan universal dari Paus dan dari para uskup, yang bersatu dengannya, mengajarkan kepada umat beriman kebenaran yang harus dipercaya, kasih yang harus dihidupi, dan kebahagiaan yang patut diharapkan.” (KGK 2034)

Paus Benediktus XVI, yang merupakan guru dalam hal iman, dan merupakan juga anugerah dari Allah kepada seluruh Gereja-Nya, telah mengajak kita untuk merayakan Tahun Iman, mulai bulan Oktober mendatang. Sri Paus mengajak kita terutama sekali untuk mengenal kembali isi dari iman Kristiani, melalui Katekismus Gereja. Harapan Sri Paus selama Tahun Iman ialah agar: “semakin diperdalam iman guna membantu semua umat Kristiani untuk lebih menyadari serta memperkuat penyerupaan mereka dengan Injil, pada jaman sekarang” (MP Porta Fidei 8).

Mari kita bertanya kepada diri kita apakah ajaran resmi Gereja dan gembala-gembalanya, dan khususnya ajaran dari Paus sendiri serta Katekismus Gereja Katolik sungguh kita ketahui dan menjadi kriteria untuk menilai pendapat-pendapat yang beredar di dalam dan di luar Gereja. Tidak perlu menanggapi pembicaraan Bapa Suci dengan bertepuktangan, melainkan dia harapkan agar ajarannyalah menjadi patokan untuk pemikiran dan perbuatan kita!

b) Ikatan Liturgi. Liturgi, yang puncaknya adalah perayaan sakramen, terutama sekali Perayaan Ekaristi, merupakan doa seluruh Gereja, doa Gereja yang satu yang terdiri dari orang kudus, orang yang sudah meninggal dan kita semua. Liturgi ialah doa dari Gereja yang tersebar di seluruh dunia dan dipimpin oleh Paus dan para uskup. Oleh karena itu, setiap kali Misa, dalam Doa Syukur Agung, kita memperingati Bunda Maria, para kudus, Bapa Suci dan para uskup, dan juga seluruh Gereja yang tersebar di seluruh penjuru dunia. Katekismus Gereja Katolik mengatakan: “Karena kepada Paus diserahkan pelayanan Petrus di dalam Gereja, maka ia diikutsertakan dalam setiap perayaan Ekaristi, di mana ia disebut sebagai tanda dan pelayan kesatuan seluruh Gereja” (KGK 1369).

Sering kita diingatkan oleh Bapa Suci Benediktus XVI bahwa kita seharusnya merayakan liturgi bukan sebagai sebuah acara yang bisa kita rombak sesuka hati, mengikuti mode atau teori yang sedang beredar, melainkan kita seharusnya merayakannya sebagai sebuah realitas yang lebih besar dari diri kita, sebuah realitas yang melampaui diri kita dan membentuk doa kita. Bapa Suci mengajarkan kita bagaimana merayakan liturgi melalui ajarannya sendiri, tetapi juga melalui kepribadiannya dalam memimpin liturgi, di mana terpancar suasana sakral, indahnya selebrasi dan eloknya tradisi Gereja.

Amat pentinglah menekankan kembali kesetiaan kita pada norma-norma mengenai liturgi Gereja: para uskup dan para imam, yakni para pelayan liturgi suci, bukanlah penguasa liturgi, seakan-akan dapat mengubahnya sesuka hati, dan demikian juga umat tidak boleh berpikir bahwa acara-acara liturgis mesti sesuai dengan keinginan mereka. Liturgi bukanlah milik manusia dan tidak boleh dimanipulasi sesuka hati oleh siapapun!

Sekali lagi, mengenai liturgi juga, kita mesti bertanya kepada diri kita apakah kita sudah selaras dengan ajaran dan contoh pribadi Bapa Suci.

c) Ikatan Disiplin. “Yesus mempercayakan kepada Petrus … ‘kuasa kunci-kunci’ yang berarti wewenang untuk memimpin rumah Allah, ialah Gereja” (KGK 553). Kepada Petrus dan para penerusnya, serta kepada para uskup yang bersatu dengan Paus, dipercayakan tugas bukan saja untuk mengajar dan menguduskan, melainkan juga diberi tugas untuk menggembalakan umat Allah. Oleh karena itu, mereka menentukan perintah dan norma yang mesti kita terima dengan hormat dan sikap taat, karena “Hukum Allah yang dipercayakan kepada Gereja, diajarkan kepada umat beriman sebagai jalan kehidupan dan kebenaran” (KGK 2037). Tentu norma dan peraturan ini bukanlah keputusan yang diambil sewenang-wenang oleh orang yang berkuasa, melainkan melaluinya kita dapat mengetahui kehendak Allah. Hal ini dikatakan oleh Paus Benediktus XVI pada awal mandatnya sebagai Paus: “Program kepemimpinan saya yang sebenarnya bukanlah melakukan kehendak saya, bukanlah juga mengikuti pendapat saya, melainkan, bersama seluruh Gereja, mendengarkan Sabda dan kehendak Tuhan guna membiarkan diri dibimbing-Nya, agar Dialah sendiri menjadi pemimpin Gereja pada jaman sekarang” (Homili 24 April 2005).

Di masa sekarang sering orang berpikir bahwa hukum dan wewenang membatasi dan menghalangi kebebasan manusia, padahal hukum seharusnya membantu kita untuk menghayati kebebasan menurut kebenaran demi kebaikan setiap umat manusia. Dalam komunitas Kristiani pun, masih ada persepsi keliru seperti ini, yakni bahwa hukum bertentangan dengan sikap pastoral, sedangkan sebenarnya tujuan dari hukum adalah kebaikan umat sendiri. Demikian juga, sering terjadi bahwa, dengan alasan pastoral, kita melakukan ketidakadilan dan penyelewengan. Beatus Yohannes Paulus II pernah mengatakan bahwa Gereja membutuhkan norma-norma “karena hubungan timbal balik di antara para orang beriman mesti diatur secara adil, berdasarkan kasih, dengan juga menjamin dan memastikan hak setiap pribadi” (Konstitusi Apostolik Sacrae Disciplinae Leges).

Persekutuan dengan Bapa Suci yang benar harus melalui ketaatan pada norma dan peraturan dari Tahta Suci. Kita tidak bisa menyebut diri bersatu dengan Sang Penerus Petrus jika kita melupakan, menolak, atau mengabaikan norma dan peraturan ini, dengan alasan bahwa kita mesti menyesuaikan diri dengan situasi lokal atau dengan kebudayaan setempat. Perlu ditegaskan kembali kepada semua imam dan umat, bahwa kita harus taat pada Gereja dan gembalanya!

4. Hari ini kita merayakan Hari Raya “Santo Petrus dan Paulus yang darinya Gereja menerima dasar-dasar iman” (Doa Pembuka). Pewartaan ini menyatakan bahwa Yesus adalah Kristus, Putra Allah, sebagaimana dinyatakan oleh Petrus sendiri. Di dalam dan dari Gerejalah, yang telah didirikan atas batu karang Petrus, kita menerima, mengembangkan dan memberi kesaksian akan iman kita.

Marilah kita mempercayakan Bapa Suci Benediktus XVI serta pelayanannya kepada perantaraan para Rasul suci dan memohon bagi kita dan seluruh gereja agar kita dapat semakin memperkuat ikatan iman, doa dan ketaatan dengan sang Penerus Petrus, agar Gereja di Indonesia dan di seluruh dunia dapat menunaikan misi yang dipercayakan Tuhan kepadanya, dengan semangat baru.

21 comments:

Albert Wibisono said...

Homily of the Ambassador of the Holy See to Indonesia
His Excellency Archbishop Antonio Guido Filipazzi
On the Solemnity of Saints Peter and Paul
29 June 2012

1. We just heard in the Gospel the words that the Lord Jesus addressed to the Apostle Peter, entrusting him with a fundamental task: to be the rock on which the Church is firmly built, so that she can face the attacks of the underworld. Therefore the task entrusted to Peter is not only his own personal task, but one that must continue and remain present and active in the Church until the end of time. This is the task entrusted to the successors of the Apostle Peter and now entrusted to the Holy Father Benedict XVI, for whom we especially pray during this Mass, so that the Lord may sustain him and keep him at the helm of the Christian people and even as a point of reference for all mankind. Pope Benedict XVI himself invites us to pray for him: “Dear friends, it is a great consolation for the Pope to know that at each Eucharistic celebration everyone prays for him, and that our prayer is joined with the Lord’s Prayer for Peter. Only by the prayer of the Lord and of the Church can the Pope fulfill his task of strengthening his brethren – of feeding the flock of Christ and of becoming the guarantor of that unity which becomes a visible witness to the mission which Jesus received from the Father” (Homily Mass in Coena Domini, 2011).

2. According to the Second Vatican Council, which teaches the faith of the Church down the centuries, the Pope “is the perpetual and visible principle and foundation of unity of both the bishops and of the faithful” (LG 23). Around him and under his guidance all of us, spread throughout the world, make up one Church.

Therefore it is very important for every member of the faithful and every Christian community to be in full communion with the Pope. Let us be clear: this communion is not simply a feeling of sympathy for the Pope, nor is it an intellectual interest in what he says, nor is it reduced to some acts of outward enthusiasm towards him. We must be linked to the Pope by objective, visible, concrete bonds, the same bonds by which we are united in the Church.

“What are the bonds of unity?” asks the Catechism of the Catholic Church. And it answers: “Above all, charity ‘binds everything together in perfect harmony’. But the unity of the pilgrim Church is also assured by visible bonds of communion: profession of one faith received from the Apostles; common celebration of divine worship, especially of the Sacraments; apostolic succession through the sacrament of Holy Orders, maintaining the fraternal concord of God’s family” (CCC 815).

Today I invite you to reflect briefly on these three bonds, which must exist between us and the Pope in order to be in communion with him and to build a true communion within the Church.

3. a) The Bond of Faith. Peter and his successors in the Church continue to proclaim: “You are the Christ, the Son of the living God”, a claim which is at the very heart of our Christian faith. The first bond that we must have with the Pope is the profession of faith, through attention, knowledge and adherence to his teachings. The Pope’s voice is not just one more voice among others, like the opinions of theologians or even of individual bishops, but is decisive for evaluating the doctrines taught and preached in the Church and the opinions and theories current in society. As the Catechism of the Catholic Church teaches, “the task of interpreting the Word of God authentically has been entrusted solely to the Magisterium of the Church, that is, to the Pope and to the bishops in communion with him” (CCC 100). And again: “The ordinary and universal Magisterium of the Pope and the bishops in communion with him teach the faithful the truth to believe, the charity to practice, the beatitude to hope for” (CCC 2034). (continued below ...)

Albert Wibisono said...

Pope Benedict XVI, who is a great teacher of faith whom God has given to our Church, invites us to celebrate, beginning from next October, the Year of Faith, during which we have to rediscover especially the contents of the Catholic faith through the use of the Catechism of the Catholic Church. According to the wish of the Pope, during the Year of Faith, “reflection on the faith will have to be intensified, so as to help all believers in Christ to acquire a more conscious and vigorous adherence to the Gospel, especially at a time of profound change such as humanity is currently experiencing” (Motu Proprio Porta Fidei 8).

We should ask ourselves whether the official teachings of the Church and her pastors, especially of the Pope, and the Catechism of the Catholic Church are sufficiently well known and whether these provide the criteria we use for evaluating views that circulate both inside and outside the Church. The Pope does not need our applause when he speaks; rather, his teaching must become a constant point of reference for our thoughts and our actions!

b) The Bond of the Liturgy. The liturgy, which has its summit in the celebration of the Sacraments and especially of the Eucharist, is the prayer of the whole Church; the prayer of the one Church formed by the Saints, by the dead in Christ and by ourselves; the prayer of the one Church spread throughout the world and led by the Pope and the Bishops. Therefore, in the Eucharistic prayer of every Mass we commemorate the Virgin Mary and the Saints, the Pope and the bishops, as well as the whole Church spread throughout the world. The Catechism of the Catholic Church teaches: “Since he has the ministry of Peter in the Church, the Pope is associated with every celebration of the Eucharist, wherein he is named as the sign and servant of the unity of the universal Church” (CCC 1369).

How often the Holy Father Benedict XVI reminds us that we have to celebrate the liturgy not as something we invent as we please, according to our ideas, following the trends and theories of the moment, but as a celebration of something greater than us, which we must enter and by which our own prayer is shaped. The Holy Father provides this teaching about the correct way to celebrate the liturgy by the example of his own celebrations, in which a sense of adoration, beauty and the Church’s tradition shines forth.

I would like to stress once again the importance of faithful observation of the rules about the liturgy given by the Church: bishops and priests, ministers of the sacred liturgy, are not the masters of the liturgy, they cannot change it at will, and the faithful should not assume that liturgical celebrations are merely objects of taste and desire. The liturgy does not belong to anyone and cannot be manipulated by anyone at will!

Regarding the liturgy too, we must ask whether we are in tune with the teaching and the example of the Pope.

c) The Bond of Discipline. “Jesus entrusted to Peter... the ‘power of the keys’ (which) designates authority to govern the house of God, which is the Church” (CCC 553). Peter and his successors, as well as the bishops in communion with the Pope, have been entrusted with the task not only of teaching and sanctifying, but also of governing the people of God, giving guidelines and laws, which are to be received with respect and obedience, knowing that “the law of God entrusted to the Church is taught to the faithful as the way of life and truth” (CCC 2037). These rules are not arbitrary decisions of those who exercise power, but through them the divine will is manifested to us. Benedict XVI recalled this truth at the beginning of his pontificate: “My real programme of governance is not to do my own will, not to pursue my own ideas, but to listen, together with the whole Church, to the word and the will of the Lord, to be guided by Him, so that He himself will lead the Church at this hour of our history” (Homily of 24 April 2005). (continued below ...)

Albert Wibisono said...

The current mentality often sees in laws and authority a limit and an obstacle to freedom, rather than a help to live according to the truth and to act for the true good of all. Even in the Christian community there is a false belief that the law is an obstacle to pastoral work. But the laws of the Church are for the good of souls, and there is a risk that in the name of a supposed pastoral commitment injustices and abuses may be committed. Blessed Pope John Paul II reminded that the Church needs rules so “that the mutual relations of the faithful may be regulated according to justice based upon charity, with the rights of individuals guaranteed and well defined” (Apostolic Constitution Sacrae Disciplinae Leges).

True communion with the Pope also requires faithful obedience to the laws and guidelines of the Apostolic See. And we cannot be in union with the Successor of Peter when these are ignored, rejected or not pursued, possibly on the pretext of different local situations or particular cultures. We must reiterate clearly that all pastors and all the faithful are bound to obey the Church and her Supreme Pastor!

3. We celebrate in this Holy Eucharist “The Solemnity of the Apostles Peter and Paul, ... through whom the Church received the beginnings of right religion” (Collect), i.e. the truth that Jesus is the Christ, the Son of God, as Peter proclaimed. In the Church and through the Church, founded precisely on the rock, which is Peter, we continually receive, nurture and give witness to this faith.

Let us entrust the person and ministry of Pope Benedict XVI to the intercession of the Holy Apostles. For ourselves and for the whole Church, let us pray that the bonds of faith, prayer and obedience with the Successor of Peter may be further strengthened, so that the Church in Indonesia and around the world may fulfil with renewed vigour the mission entrusted to her by our Lord Jesus Christ.

(Source: The Embassy of the Holy See to Indonesia)

Albertus Aditya said...

Mohon bertanya, apakah buklet dalam tiga bahasa tersebut dapat dilihat secara online? Terima kasih.

Albert Wibisono said...

Romo/Bapak Albertus Aditya,

Bukletnya baru saja saya upload ke Scribd. Silakan di-download dari link ini:

http://www.scribd.com/doc/98807039

Salam,
albert

Albertus Aditya said...

Terima kasih banyak, Pak Albert sudah mengunggah ke Scribd. Mohon tanya juga, yang mendampingi Pak Albert sebagai seremonarius pada misa ini apakah Sekretaris Kedutaan Fr. Jozsef? Dan mengapa beliau yang melakukan pendupaan terhadap Nuncio dan umat? Terima kasih..

Btw, saya bukan Imam dan juga masih sebagai pelajar sekolah. Salam.

Albert Wibisono said...

Hi, kamu biasa dipanggil siapa? Albert? Adit?

Seremoniarius satunya adalah Sekretaris Pertama Kedubes Vatikan, Monsignor Jose-Luis Mariblanca Sanchez. Beliau adalah pengganti Father Jozsef Forro.

Pendupaan selebran utama, kemudian konselebran dan para pelayan di altar, dan yang terakhir umat, bisa dilakukan oleh Diakon atau bahkan Imam. Sebenarnya misdinar pun boleh melakukannya. Tidak ada aturan detil mengenai hal ini. Monsignor Sanchez melakukannya sebagai bentuk penghormatan kepada selebran utama, konselebran dan umat.

Salam,
albert

Albertus Aditya said...

Kebetulan, saya juga dipanggil Albert. Tetapi, Adit pun tak apa.

Terima kasih, Pak Albert atas jawabannya.

Salam.

Sensei said...

Wah..., meriah sekali ya tampaknya, pak. apa ada videonya?

Albert Wibisono said...

Wah, sayangnya saya nggak punya.

Salam,
albert

Sensei said...

oh..., jujur aja, pak. belum pernah tahu Nunsius Vatikan yang baru. Jadi, penasaran mau lihat secara langsung via video.
Terima kasih pak.

Albert Wibisono said...

Oh, bisa lihat foto-fotonya di sini kalau mau:

https://www.facebook.com/AntonioGuidoFilipazzi.Arcivescovo

Salam,
albert

Sensei said...

Terima kasih sekali, pak.

ReMaO said...

saya mau tanya apakah nutius sudah diangkat menjadi kardinal?

Albert Wibisono said...

Nuntius Apostolik biasanya adalah seorang dengan martabat Uskup Agung Pak. Di antara Nuntius Apostolik yang pernah bertugas di Jakarta, ada seorang yang sudah diangkat menjadi kardinal:

YU Albert Malcolm Ranjith Cardinal Patabendige Don, yang saat ini menjabat sebagai Uskup Agung Kolombo di Srilanka. Beliau bertugas di Indonesia 2004-2005.
http://www.catholic-hierarchy.org/bishop/branjith.html

Salam,
albert

puteri heny said...

Like

Claudius Haryo said...

Pak Albert,
jika seorang Uskup memimpin perayaan Ekaristi, apakah selalu disebut Misa Pontifikal? atau bisa dibedakan dengan misa 'biasa'?

terima kasih

Albert Wibisono said...

Pak Haryo ytk.:

Tidak selalu Pak. Kalau beliau memimpin Misa harian dengan hanya dihadiri beberapa orang atau dengan berkonslebrasi dengan imam-imamnya, umumnya bukan Misa Pontifikal.

Salam,
albert

Claudius Haryo said...

Bagaimana untuk Misa Hari Minggu Pak?
Apakah ada hubungan dengan penggunaan Mitra atau Tongkat Uskup?

Albert Wibisono said...

Maaf Pak, pertanyaan Bapak keselip dan ketemu lagi. Kalau pada hari Minggu beliau Misa Pribadi ya tidak Misa Pontifikal Pak. Benar bahwa Misa Pontifikal disertai penggunaan pontifikalia, yang di antaranya adalah mitra dan tongkat.

Salam,
albert

Claudius Haryo said...

Terima kasih Pak Albert....