Organ Pipa: Alat Musik Gereja Katolik


Organ Pipa (Foto: Corbis)
"Organ pipa hendaknya dijunjung tinggi sebagai alat musik tradisional Gereja Latin; suaranya mampu menyemarakkan upacara-upacara ibadat secara mengagumkan, dan dengan mantap mengangkat hati umat ke hadapan Allah dan ke alam surgawi. ..." (Musicam Sacram 62) Apa itu organ pipa dan apa bedanya dengan organ atau keyboard yang ada di banyak gereja di Indonesia? Saya akan coba paparkan secara singkat, dengan bahasa yang sederhana, agar dapat dimengerti umat awam.

Organ elektronik, electone, clavinova, keyboard atau alat musik lain yang biasa dipakai di gereja, yang bisa mengeluarkan "suara organ", umumnya menghasilkan "suara organ" itu dengan bantuan komponen elektronik yang merekam atau mereproduksi "suara organ" yang asli, yang dalam hal ini adalah organ pipa.

Organ pipa sendiri adalah alat musik tiup. Sama prinsip kerjanya dengan peluit yang dipakai pramuka (lihat foto close up pipa-pipa organ di samping). Suara organ pipa dihasilkan dengan meniupkan udara bertekanan ke pipa-pipa, yang jumlahnya bisa ratusan, ribuan dan bahkan puluhan ribu di organ pipa raksana. Lalu, bagaimana cara menghasilkan nada yang berbeda? Dengan pembedaan panjang dan diameter pipa. Untuk membuat organ pipa, kumpulan pipa-pipa yang berbeda panjang dan diameternya ditancapkan pada sebuah kotak berisi udara bertekanan. Masing-masing pipa memiliki katup yang dapat dikontrol dengan menekan tuts keyboard. Waktu sebuah tuts ditekan, suatu katup tertentu terbuka dan udara bertekanan yang ada di dalam kotak keluar melewati suatu pipa pertentu, terdengarlah bunyi nada tertentu yang dihasilkan oleh pipa itu.

Foto di sebelah kiri ini adalah pipa-pipa penghasil suara yang menancap pada kotak dengan udara bertekanan. Perhatikan panjang dan diameter pipanya yang berbeda-beda. Pipa-pipa ini terletak di bagian dalam organ dan tidak terlihat oleh umat. Biasanya memang hanya sebagian kecil saja pipa-pipa organ yang dapat dilihat umat seperti dalam foto pertama di atas. Sebagian besar lainnya tersembunyi di belakang pipa-pipa besar yang cantik itu. Pipa-pipa facade yang cantik di bagian depan organ itu biasanya didesain secara khusus, dipadukan dalam wadah kayu berukir yang indah, disesuaikan dengan arsitektur gereja, dan, pada akhirnya juga berfungsi memperindah gereja.

Pada umumnya keyboard suatu organ pipa terdiri dari lima oktaf, mulai dari do paling rendah (C) sampai ke do paling tinggi (c""). Jumlah seluruhnya ada 61 not. Keyboard yang dimainkan dengan tangan biasa disebut manual (dari bahasa Latin "manus" yang artinya tangan). Ada organ yang memiliki satu manual, ada yang dua, ada yang tiga, bahkan ada yang tujuh. Selain itu, ada pula keyboard yang dimainkan dengan kaki, yang disebut pedal (dari bahasa Latin "pes" yang artinya kaki). Umumnya organ memiliki satu pedal saja, total dua setengah oktaf, 30 atau 32 not.

Kalau jumlah notnya dari yang terendah sampai yang tertinggi hanya 61, lalu manual dan pedalnya paling banyak 8 di suatu organ raksana, kenapa pipanya bisa ribuan bahkan sampai puluhan ribu? Jawabnya adalah timbre atau warna suara. Bahasa awamnya begini, bunyi suling, bunyi terompet, bunyi trombon, dll. Masing-masing bunyi itu dihasilkan oleh satu set pipa yang disebut rank, total 61 not, atau 30/32 not kalau dimainkannya pakal pedal. Kalau kita lihat kembali foto pipa-pipa di atas, ada banyak model pipa kan? Ada yang biasa, ada yang kotak, dan ada juga yang terbuat dari kayu. Nah, pipa-pipa itu lah yang menghasilkan timbre yang berbeda.

Saya sudah menjelaskan dan menunjukkan beberapa foto. Kurang lengkap rasanya kalau belum mendengarkan sendiri suaranya atau menyaksikan videonya. Silakan coba beberapa contoh di bawah ini, atau cari sendiri di YouTube atau situs lainnya:

Theo Flury OSB: Improvization Regina Caeli
NN: Toccata and Fugue in D Minor
Julius Reubke: Sonata on the 94th Psalm (Fugue)

Jangan kecil hati setelah mendengarkan atau menonton itu semuanya. Tidak semua organ pipa sekelas yang dimainkan di situ. Coba lihat contoh organ pipa di foto di sebelah ini. Itu cocok untuk gereja yang agak kecil atau bahkan kapel. Juga, organis paroki pun tidak perlu punya kepandaian seperti para maestro dalam rekaman-rekaman itu.

Dengan tulisan ini saya berharap agar makin banyak orang mengenal organ pipa; dan makin banyak juga uskup di Indonesia yang mau mempertimbangkan pembelian organ pipa untuk katedral atau gereja besar dalam keuskupannya. Saya pernah mendengarkan organ pipa di Katedral Jakarta dan Bandung dimainkan. Sungguh agung!

Organ pipa bukanlah instrumen dari abad pertengahan yang sudah ketinggalan jaman. Sampai hari ini pembuat organ pipa masih aktif menerima pesanan dari gereja-gereja dan concert hall baru. Banyak gereja baru membangun organ pipa dengan desain modern dan futuristik. Foto di sebelah ini adalah organ pipa di St. Mary Cathedral di Tokyo yang dibikin tahun 2004. Untuk info selengkapnya silakan klik di sini. Organ pipa adalah yang terhebat dari segala macam alat musik. Ia masih akan terus menjadi yang terhebat. Sungguh terpuji kalau untuk Tuhan kita berikan yang terhebat!

Saat ini di Indonesia hanya ada dua orang yang bisa membangun dan memelihara organ pipa. Yang pertama adalah Pak Benedictus Martino Hidajat, umat Katolik dari Semarang yang pernah beberapa tahun bekerja di pembuat organ ternama di Jerman dan Selandia Baru. Yang kedua adalah Pak Suwandi, seorang muslim yang pernah dikirim ke Belanda untuk belajar membuat dan memperbaiki organ oleh Pendeta Harry van Dop (HA Pandopo) dari Yamuger. Pendeta Harry van Dop dan Romo Antonius Soetanta SJ adalah pakar-pakar organ pipa dan musik Gereja. Beliau berdua sering bekerja sama dan namanya banyak kita temukan dalam buku nyanyian Puji Syukur.

Alternatif lain dari membangun sebuah organ pipa baru adalah membeli yang bekas dari gereja-gereja di luar negeri yang sudah tidak dipakai lagi atau yang mau mengganti organ pipanya dengan yang baru. Alternatif lainnya lagi adalah membeli organ pipa elektronik yang bagus, misalnya bikinan Rodgers Instrument (foto samping). Di Katedral Jakarta dan Bandung, selain organ pipa asli, ada juga organ Rodgers. Bunyinya bagus sekali. Orang awam mungkin tidak bisa membedakan antara bunyi organ pipa asli dengan bunyi organ Rodgers. Coba dengarkan bunyi produk terbaru Rodgers ini:

Rodgers Infinity 243

Saya akan berhenti sampai di sini saja. Buat yang tertarik untuk mempelajari lebih jauh, Anda bisa baca artikel Wikipedia tentang Pipe Organ dan/atau kontak saya untuk berdiskusi lebih mendalam. Oh ya, saya bukan pakar organ pipa. Saya bahkan tidak bisa bermain musik. Saya hanya mendalami ini karena ingin ikut melestarikan tradisi Gereja Katolik kita yang agung. Mengulangi kutipan dari Musicam Sacram yang diundangkan Paus Paulus VI pada tahun 1967 di atas, "Organ pipa hendaknya dijunjung tinggi sebagai alat musik tradisional Gereja Latin; suaranya mampu menyemarakkan upacara-upacara ibadat secara mengagumkan, dan dengan mantap mengangkat hati umat ke hadapan Allah dan ke alam surgawi. ..." (Musicam Sacram 62)

Foto-foto: Corbis, Rodgers & St. Mary Cathedral, Tokyo

9 comments:

Dzikri Febrian Taufiqi said...

Saya suka suaranya, bagus banget....
Tapi harga versi elektroniknya juga masih gila-gilaan.

Anonymous said...

Indah dan bagus banget. TOP! organ pipa yang megah dan merdu....

yeri kusumah said...

mantap, organ ini ada di gereja ku juga.. blog yang bermanfaat

Albert Wibisono said...

Terima kasih Pak.

Daniel Kurniawan said...

wah, di paroki saya di bagian balkon ada orgen pipa, pengin mainin cuma gak tau cara njalaninnya, karena dah kebiasaan memakai electone. Kalau bisa, jelaskan dong cara mengoperasikannya. trims

Albert Wibisono said...

Saya perlu tahu dulu organnya seperti apa Pak. Apakah organ pipa elektronik atau akustik? Modelnya seperti apa? Berapa manual, berapa register, dll. Sulit sekali menjelaskan tanpa saya tahu organnya. Di paroki dan kota mana Pak?

Salam,
albert

Agnes Thian said...

hai Kak Albert, saya Agnes. saya juga suka sekali dengan musik klasik dan organ pipa. sekarang ini,saya juga sedang mendalami organ dengan belajar memainkannya juga :D

saya mau minta tolong utk info tambahan dan ilmu lebih lanjut dari kakak tentang organ pipa.saya bisa kontak kakak kemana ya yg aktif nya tiap hari?
terimakasih banyak kak,Gbu ^ ^

Albert Wibisono said...

Hai Agnes, saya kontak kamu lah. Di Facebook ada sebuah group yang namanya Choir and Organist Sharing. Kamu bisa bergabung di situ untuk dapat banyak teman dan pengetahuan. Ini link-nya:

https://www.facebook.com/groups/CHoirAOS

Danny HomePager said...

Dari Paroki St. Yusup Gedangan, Semarang. Gereja sudah berumur 2 abad lebih. Ada Balkon dengan orgel pipa yang sudah tua namun bisa digunakan.

-Daniel Kurniawan, Organist Gedangan-