Kardinal: Pangeran Gereja Katolik


Para Kardinal di Konklaf 2005 (Foto: Corbis)

Siapa sebenarnya kardinal, yang sering disebut para pangeran Gereja Katolik? Apa peran mereka dan siapa saja yang dapat diangkat menjadi kardinal? Tulisan ini mencoba menyajikan secara ringkas beberapa hal tentang kardinal yang mungkin belum banyak diketahui umat Katolik. Tulisan ini untuk pertama kalinya saya buat di tahun 2009. Sehubungan dengan pengunduran diri Paus Benedictus XVI dan Konklaf 2013 untuk memilih Paus baru, tulisan ini saya perbarui lagi dengan informasi terkini. Semoga bermanfaat.

Kebanyakan orang tahu bahwa para kardinal adalah pembantu Paus. Mereka biasanya menjadi pusat perhatian publik saat Paus wafat atau terjadi kekosongan takhta, karena mereka lah yang kemudian berkumpul dalam sebuah konklaf untuk memilih Paus yang baru. Dalam kenyataannya, peran kardinal tidak hanya untuk memilih Paus. Mereka membantu Paus dalam mengurus Gereja Katolik. Para kardinal memberikan saran-saran tentang berbagai urusan Gereja saat Bapa Suci memanggil mereka dalam suatu rapat yang disebut konsistorium.

Para kardinal memberi hormat kepada Paus
Dari informasi tanggal 2 Maret 2013, ada 207 orang kardinal dari 66 negara yang menjadi anggota Kolegium Kardinal. Di antara mereka, 117 orang dari 50 negara adalah kardinal elektor, kardinal yang berhak memilih Paus. Sisanya adalah kardinal non-elektor, yang sudah berusia lebih dari 80 tahun dan tidak lagi berhak mengikuti konklaf. Informasi terkini dapat dilihat di Daftar Kardinal di Situs Catholic Hierarchy atau GCatholic.org. Jumlah kardinal bertambah saat Paus menunjuk kardinal-kardinal baru dalam suatu konsistorium. Dalam dua konsistorium terakhirnya, tanggal 18 Februari 2012 dan 24 November 2012, Paus Benediktus XVI menunjuk masing-masing 22 dan 6 orang kardinal baru. Jumlah kardinal biasanya berkurang karena beberapa di antara mereka meninggal. Paus Yohanes Paulus II dalam Konstitusi Apostolik Universi Dominici Gregis menentukan jumlah maksimum kardinal elektor sebanyak 120.

Karena jumlahnya yang terbatas dibandingkan dengan uskup yang jumlahnya ribuan, dan juga karena hak-haknya yang istimewa, jabatan kardinal sering dipandang sebagai suatu promosi untuk uskup. Seolah-olah ada urutan begini: imam, uskup, uskup agung, kardinal dan Paus. Kenyataannya, yang benar adalah: imam, uskup dan Paus. Itu saja. Kardinal bukan atasan uskup. Yang Utama Julius Kardinal Darmaatmadja, satu-satunya kardinal dari Indonesia, juga bukan perpanjangan tangan Paus untuk mengatur para uskup di Indonesia. Kolegium Kardinal dan Sinode Para Uskup memiliki peran sendiri-sendiri dalam Gereja Katolik dan tidak bisa dibilang bahwa yang satu lebih penting daripada yang lain. Meski begitu, secara ranking, kardinal memang lebih tinggi dari uskup dan biasanya diangkat dari kalangan uskup yang senior.

Card. Bertone (Corbis)
Meski kelihatannya sama semua, di kalangan kardinal sebenarnya ada tiga tingkatan. Yang paling utama adalah kardinal uskup, kemudian kardinal imam dan kardinal diakon. Memang agak membingungkan istilah-istilah ini. Begini ceritanya. Pada mulanya, kardinal adalah klerus yang ditugaskan untuk membantu Paus di Keuskupan Roma. Istilah kardinal bermula dari kata inkardinasi, yang artinya menempatkan seorang klerus di bawah yurisdiksi seorang ordinaris (uskup, abbas atau ordinaris lain). Uskup, imam dan diakon yang diminta membantu Paus di-inkardinasi ke Keuskupan Roma, di bawah Paus yang adalah Uskup Roma. Jadilah mereka kardinal uskup, kardinal imam atau kardinal diakon di Keuskupan Roma. (Catatan: Secara kaidah bahasa Indonesia, sebenarnya memang lebih tepat dibilang uskup kardinal, imam kardinal atau diakon kardinal.) Nah, itu dulu. Sekarang ini praktiknya memang sudah lain. Yang diangkat menjadi kardinal hampir semua berasal dari kalangan uskup, bukan lagi imam atau diakon. Meski begitu tiga tingkatan kardinal ini masih tetap dipertahankan. Tarcisio Cardinal Bertone di foto di atas ini adalah salah seorang kardinal uskup. Beliau adalah Sekretaris Negara Vatikan dan juga adalah Camerlengo Gereja Romawi Kudus, yang menjalankan roda pemerintahan di Vatikan saat terjadi sede vacante.

Pengangkatan kardinal merupakan hak prerogatif Paus. Secara garis besarnya, saat ini ada tiga jalur pengangkatan kardinal. Yang pertama adalah jalur uskup diosesan, seperti Yang Utama Julius Kardinal Darmaatmadja. Kardinal dari jalur ini biasanya diangkat menjadi kardinal imam. Yang kedua adalah jalur Kuria Romawi, jalur untuk pejabat-pejabat Gereja yang membantu Paus di Vatikan. Contohnya adalah Sua Eminenza Angelo Cardinal Comastri, Imam Agung Basilika Santo Petrus. Kardinal dari jalur ini biasanya diangkat menjadi kardinal diakon. Yang ketiga adalah jalur lain-lain. Kardinal dari jalur ini biasanya diangkat menjadi kardinal diakon juga. Bapa Suci bisa mengangkat siapa saja yang dianggap pantas menerima martabat kardinal. Contoh yang paling bagus mungkin adalah His Eminence Avery Cardinal Dulles. Almarhum Cardinal Dulles adalah seorang imam Jesuit dari Amerika Serikat, guru besar teologi yang sangat dihormati baik oleh Paus Yohanes Paulus II yang mengangkatnya, maupun oleh Paus Benedictus XVI yang mengunjunginya beberapa bulan sebelum wafatnya. Sampai meninggalnya, Cardinal Dulles tidak pernah menerima tahbisan uskup.

"Habemus Papam" Paus Benedictus XVI (Corbis)
Di antara ketiga kategori kardinal di atas, dapat dibayangkan bahwa kardinal imam berjumlah paling banyak (153 dari 207 orang kardinal saat ini). Mereka adalah uskup atau uskup agung senior dari berbagai negara. Seorang yang paling senior di antara kardinal imam ditunjuk menjadi Protopresbyter, semacam pemimpin untuk berbagai kepentingan seremonial. Di antara kardinal diakon (yang saat ini berjumlah 44) juga ada seorang yang paling senior yang ditunjuk sebagai Protodiakon. Protodiakon inilah yang bertugas mengumumkan nama Paus yang baru terpilih dalam konklaf, dengan menggunakan frase yang amat terkenal, "Habemus Papam ..." Pada tanggal 19 April 2005, adalah Jorge Arturo Cardinal Medina Estévez (foto atas, di sebelah kanan Paus, berjubah merah), Protodiakon pada saat itu, yang membacakan, "Annuntio vobis gaudium magnum; habemus Papam: Eminentissimum ac Reverendissimum Dominum, Dominum Josephum Sanctae Romanae Ecclesiae Cardinalem Ratzinger qui sibi nomen imposuit Benedictum XVI." Pada saat ini Protodiakon Kolegium Kardinal adalah Jean-Louis Cardinal Tauran, Presiden Dewan Kepausan untuk Dialog Antar Umat Beragama, yang pernah berkunjung ke Indonesia.

Card. Sodano (Corbis)
Untuk mengisi posisi kardinal uskup yang hanya sedikit, Paus memilih dari antara kardinal imam. Di samping itu, Patriark Ritus Timur yang diangkat menjadi kardinal langsung masuk kategori kardinal uskup. Mudah mengenali mereka dalam upacara liturgi, dari busananya yang berbeda dari para kardinal lainnya. Para kardinal uskup memilih pemimpin dan wakilnya dari antara mereka dan diajukan ke Paus untuk mendapatkan persetujuan. Para pemimpin kardinal uskup lalu menjadi Dekan dan Wakil Dekan Kolegium Kardinal. Dekan Kolegium Kardinal saat ini adalah Angelo Cardinal Sodano dari Italia (foto atas), yang pernah menjadi Sekretaris Negara Vatikan selama tahun 1991-2006. Sebagai wakilnya adalah Roger Cardinal Etchegaray dari Prancis (foto bawah). Saat terpilih sebagai Paus, Joseph Cardinal Ratzinger adalah Dekan Kolegium Kardinal.

Card. Etchegaray (Corbis)
Untuk meneruskan tradisi, kepada setiap kardinal imam dan kardinal diakon diberikan sebuah Gereja (Paroki) dalam Keuskupan Roma, di mana mereka menjadi Pastor (Paroki) Kehormatan. Lambang mereka dipasang di luar Gereja tituler ini dan mereka pun wajib berkunjung dan mempersembahkan misa di Gereja tituler ini saat berkunjung ke Roma. Kepada para kardinal uskup yang berasal dari ritus Latin dianugerahkan keuskupan kuno kehormatan di sekitar kota Roma, yang sudah tidak ada lagi di jaman modern ini.

Sesuai tradisi, penulisan penulisan nama kardinal memang sedikit berbeda dari kebiasaan umum. Kata "Kardinal" diselipkan di antara nama lengkap, persis di depan nama keluarga. Jadi, yang lebih pas adalah Julius Kardinal Darmaatmadja, meski tidak salah juga kalau kita menulis Kardinal Julius Darmaatmadja. Para kardinal disapa dengan "Yang Utama", "His Eminence", atau "Sua Eminenza" dalam bahasa Italia. Di Vatikan, sehari-harinya mereka disapa "Eminenza" saja. Sapaan yang dikhususkan bagi mereka memang beda dengan uskup dan uskup agung, yang harusnya disapa dengan "Yang Mulia", "His Excellency", "Sua Eccellenza", atau "Excellency" atau "Eccellenza" saja. Di Vatikan dan pada umumnya dalam Gereja Katolik, Monsignor adalah sapaan untuk pejabat tinggi Gereja yang tingkatannya di bawah uskup.

Kardinal berbusana liturgi merah (Corbis)
Kardinal dapat dikenali dari busana liturginya yang berwarna merah. Bandingkan dengan busana uskup yang warnanya ungu. Biretta, topi segi empat kardinal, juga berwarna merah. Biretta kardinal tidak menggunakan pom seperti biretta uskup. Saat kardinal mengenakan busana resmi jubah warna hitam yang sama dengan uskup atau pejabat Gereja lain, mereka masih dapat dikenali dari sabuk sutera dan topi kecilnya yang berwarna merah. Selain itu, ferraiolo dan cappa magna kardinal pun berwarna merah.

Sebagai penutup, film fiksi Angels and Demons yang kontroversial dan kurang disukai oleh kalangan Katolik menampilkan banyak sekali kardinal. Meski banyak hal yang sensasional dan kurang pas dalam film itu, saya harus mengakui bahwa sang sutradara berhasil menunjukkan sebagian kebesaran agama Katolik kepada semua orang yang menontonnya, Katolik dan non-Katolik. Saya sendiri mendapatkan beberapa pertanyaan tentang film ini dari kawan-kawan saya yang bukan Katolik. Satu hal yang menurut saya agak mengganggu. Dalam tradisi Gereja Katolik, Camerlengo atau Chamberlain tidak dijabat oleh imam muda seperti di film itu. Selama ratusan tahun posisi ini hampir selalu dijabat oleh seorang kardinal senior, dengan hanya beberapa pengecualian. Itu pun setidaknya oleh uskup senior yang kemudian diangkat menjadi kardinal.

Link: Cardinal (Wikipedia)
Link: The Cardinals of the Holy Roman Church (Salvador Miranda)
Link: College of Cardinal (GCatholic.org)
Link: Sede Vacante (GCatholic.org)
Link: Conclave 2013 Overview (Catholic Hierarchy)

Rumus Misa untuk Pemilihan Paus


Bendera Takhta Suci Saat Kekosongan Takhta
Mulai 28 Februari 2013 pukul 20:00 waktu Vatikan (1 Maret 2013, 02:00 wib.) sampai dengan terpilihnya Paus baru, Gereja Katolik berada dalam masa sede vacante atau kekosongan takhta. Selama masa ini, jika dikehendaki, para uskup dan imam dapat mempersembahkan Misa dengan rumus khusus: Misa untuk Pemilihan Paus atau Uskup. Rumus Misa ini terdapat dalam Missale Romanum editio typica tertia 2002 terbitan Vatikan. Meskipun Misale Romawi Bahasa Indonesia belum terbit, pihak Komisi Liturgi KWI telah berbaik hati menyediakan terjemahan khusus Misa untuk Pemilihan Paus atau Uskup di bawah ini. Terjemahan ini dikutip dari Misale Romawi Bahasa Indonesia, yang sudah mendapat aprobasi dari para uskup se-Indonesia, dan saat ini sedang dalam proses untuk memperoleh rekonyisi dari Vatikan. Untuk sementara, terjemahan ini dapat dipakai ad experimentum.

Sesuai rubrik khusus untuk "Misa untuk Pelbagai Keperluan dan Kesempatan", dan dengan asumsi Paus baru telah dapat terpilih sebelum Hari Minggu Palma, rumus Misa di bawah ini dapat digunakan pada hari-hari biasa mulai 1 Maret 2013 sampai dengan terpilihnya Paus baru. Rumus Misa ini tidak boleh digunakan pada hari-hari Minggu Prapaskah dan juga pada Hari Raya Santo Yusuf tanggal 19 Maret 2013. Rubrik selengkapnya adalah sebagai berikut:

"Apabila ada suatu keperluan yang sungguh penting, suatu Misa yang sesuai dengan keperluan tersebut dapat dirayakan atas perintah Ordinaris lokal atau dengan ijinnya, pada semua hari, kecuali pada Hari-Hari Raya, pada hari-hari Minggu Masa Adven, Masa Prapaskah dan Masa Paskah, pada hari-hari biasa dalam Oktaf Paskah, pada Peringatan Arwah Semua Orang Beriman, dan pada Hari Rabu Abu serta hari-hari dalam Pekan Suci. Akan tetapi, jika suatu keperluan yang sungguh-sungguh atau manfaat pastoral menuntutnya, sesuai penilaian rektor gereja atau imam selebran sendiri, dapat digunakan Misa atau Doa Pembuka yang sesuai dengan keperluan tersebut dalam perayaan bersama umat, juga kalau hari itu bertepatan dengan Peringatan Wajib atau hari-hari biasa dalam Masa Adven sampai dengan tanggal 16 Desember, hari biasa dalam Masa Natal mulai tanggal 2 Januari atau suatu hari biasa dalam Masa Paskah sesudah Oktaf Paskah." (Missale Romanum p. 1074)

Berikut ini adalah doa-doa presidensial dan antifon-antifon yang dapat digunakan.

Misa untuk Pemilihan Paus atau Uskup
(Sumber: Komisi Liturgi KWI)

Antifon Pembuka (1Sam 2:35)

Aku akan mengangkat bagi-Ku
seorang imam yang setia,
yang akan bertindak sesuai dengan keinginan-Ku;
dan Aku akan membangun baginya
suatu umat yang setia
dan ia akan hidup di hadirat-Ku senantiasa.

Doa Pembuka

Ya Allah,
Engkaulah gembala abadi
yang senantiasa memimpin kawanan-Mu
dan melindunginya dengan kasih setia.
Berikanlah kepada Gereja-Mu seorang gembala
yang penuh bakti kepada-Mu
dan mendapat perkenanan-Mu karena kekudusannya,
serta berguna bagi kami karena perhatiannya yang besar.
Dengan pengantaraan Yesus Kristus, Putra-Mu, Tuhan kami,
yang bersama dengan Dikau dalam persatuan Roh Kudus,
hidup dan berkuasa, Allah, sepanjang segala masa.

Doa Persiapan Persembahan

Ya Tuhan,
sudilah melimpahi kami dengan kasih sayang-Mu.
Semoga berkat kurban kudus
yang dengan hormat kami persembahkan kepada-Mu,
kami bersuka cita, atas gembala yang Engkau perkenankan
untuk memimpin Gereja yang kudus.
Dengan pengantaraan Kristus, Tuhan kami.

Antifon Komuni (Yoh 15:16)

Aku telah memilih kamu dan telah menetapkan kamu,
supaya kamu menghasilkan buah,
dan supaya buahmu itu tetap, sabda Tuhan.

Doa sesudah Komuni

Ya Tuhan,
kami telah disegarkan
dengan sakramen keselamatan
Tubuh dan Darah Putra Tunggal-Mu.
Semoga oleh kasih karunia-Mu yang mengagumkan,
kami bersuka cita
karena Engkau berkenan memberikan kepada kami
seorang gembala yang mengajar umat-Mu
dengan kebajikan-kebajikannya
dan meresapi hati umat beriman dengan kebenaran Injil.
Dengan pengantaraan Kristus, Tuhan kami,
yang hidup dan berkuasa sepanjang segala masa.

Doa Syukur Agung yang cocok digunakan adalah DSA VII (Untuk Berbagai Kepentingan), dengan Prefasi 1 (Gereja Melangkah Menuju Kesatuan). Tentunya dengan menghilangkan frase "bersama Paus kami ...", karena saat ini kita tidak mempunyai Paus.

Prosit. Semoga bermanfaat.