Misa Imlek Yang (Lebih) Benar?


Barongsai di halaman gereja (Foto: Corbis)
Tahun Baru Imlek akan segera tiba; Jumat, 31 Januari 2014 jatuhnya untuk tahun ini. Seperti biasanya, di beberapa paroki dan juga di internet akan mengemuka berbagai diskusi, pro dan kontra, dari yang akademik dan konstruktif sampai ke yang asal ngotot dan destruktif. Dua tahun yang lalu saya pernah menulis "Misa Imlek: Untuk Apa? Untuk Siapa?". Mohon berkenan membaca tulisan itu dulu. Kalau setelah membaca dan merenungkannya, Anda masih merasa perlu membuat Misa Imlek, tulisan yang berikut ini mungkin berguna untuk masukan. Tidak ada Misa Imlek yang paling benar, kalau itu yang Anda tanyakan. Yang ada adalah Misa Imlek yang lebih benar dan lebih sesuai dengan norma-norma liturgi.

Tahun baru, baik itu Tahun Baru Masehi 1 Januari, Tahun Baru Jawa 1 Suro ataupun Tahun Baru Imlek, selalu membawa harapan baru. Umat manusia, tidak terkecuali umat Katolik, bersyukur untuk apa yang telah diperoleh di tahun sebelumnya dan mohon berkat bagi tahun yang baru. Umat Katolik keturunan Cina yang masih merayakan Imlek pun tentu ingin menyampaikan rasa syukurnya. Kalau dulu sebelum menjadi Katolik, mereka (atau nenek moyang mereka) menyampaikan syukurnya di klenteng atau tempat ibadat lain, sekarang mereka menyampaikan syukurnya di gereja, dengan kurban Misa. Jaman dahulu, umat Israel menyampaikan syukur dengan mempersembahkan kurban bakaran kepada Allah. Dalam perjalanannya, kita tahu bahwa Allah yang maha pengasih kemudian menyediakan pengganti untuk anak domba kurban; ialah Putra-Nya sendiri, Yesus Kristus, Anak Domba Allah, yang dipersembahkan bagi-Nya sebagai kurban dalam setiap Misa Kudus.

Pertanyaan berikutnya, apakah ungkapan syukur atas Tahun Baru Imlek hanya bisa dilakukan dalam Misa Imlek? Tidak. Misa harian biasa pun bisa. Tapi, bolehkah membuat Misa (syukur atas) Imlek? Boleh saja. Kenapa tidak? Wajar kok membuat Misa khusus sebagai ungkapan syukur? Sekolah-sekolah Katolik juga biasa membuat Misa (syukur di awal) Tahun Ajaran Baru. Misa ya. Perayaan Ekaristi. Yang sesuai dengan norma-norma liturgi.

Selanjutnya, apakah paroki-paroki perlu membuat Misa Imlek? Saya akan balik tanya, "Yang perlu bersyukur berapa orang?" Kalau ada cukup banyak umat paroki yang keturunan Cina, dan (masih) merayakan Imlek, dan perlu menyampaikan syukur mereka, bisa saja dibuat Misa Imlek khusus. Ini seperti Misa kelompok kategorial. Kalau memang butuh, ya minta aja kepada Pastor Paroki.

Satu catatan, jangan mengganti Misa Hari Minggu atau Misa Hari Biasa (bagi seluruh umat) dengan Misa Imlek (bagi suatu kelompok kategorial). Tahun lalu, Imlek jatuh pada hari Minggu, 10 Februari 2013. Menurut kalender liturgi, hari itu adalah Hari Minggu Biasa Kelima, yang harus dirayakan oleh umat Katolik di seluruh dunia. Jangan lalu Misa Hari Minggu Biasa itu diganti dengan Misa (syukur atas) Imlek yang hanya dirayakan oleh sebagian umat, sekalipun dari segi jumlah mungkin cukup besar dan bahkan mungkin mayoritas di suatu paroki atau stasi tertentu. Hak umat minoritas untuk merayakan Hari Minggu Biasa Kelima pun tetap harus kita hormati.

Di tahun 2014 ini, Tahun Baru Imlek jatuh pada hari Jumat, 31 Januari 2014, yang menurut kalender liturgi adalah Peringatan Wajib Santo Yohanes Bosko. Misa (Harian) untuk Peringatan Wajib Santo Yohanes Bosko, dengan doa-doa presidensial dan bacaan-bacaannya sesuai kalender liturgi wajib diadakan (untuk seluruh umat Katolik). Warna liturginya putih. Yang ini wajib dan tidak bisa ditawar. Misa (syukur atas) Imlek bisa diselenggarakan di luar jadwal Misa harian, sebagai tambahan.

Berikutnya, untuk Misa Imlek dapat digunakan rumus "Misa untuk Tahun Baru" yang ada di bawah kelompok "Misa untuk Pelbagai Keperluan" dalam buku Missale Romanum. Di bagian akhir tulisan ini saya kutipkan terjemahannya dari KWI, yang dapat digunakan ad experimentum. Juga, saya sajikan pilihan bacaan-bacaannya, seturut Ordo Lectionum Missae keluaran Vatikan.

Yang berikut ini adalah "Bisa, Jangan, dan Pikirkan Lagi" untuk Misa Imlek:

Bisa (meski belum tentu sepenuhnya benar sesuai aturan liturgi):

- Bisa #1: Menggunakan warna liturgi merah. Memang benar, warna liturgi untuk hari raya dan pesta seturut tradisi Romawi adalah putih. Meski begitu, saya akan coba menggunakan tafsir yang agak "berani" untuk pasal ini, "... dalam Misa untuk pelbagai keperluan digunakan warna liturgi yang sesuai dengan hari atau masa liturgi yang bersangkutan ..." (PUMR 347). Misa Tahun Baru termasuk dalam golongan Misa untuk Pelbagai Keperluan (Bdk. MR pp. 1073-1124); dan warna yang sesuai untuk Tahun Baru Imlek adalah merah. Masuk kan? Kalaupun tafsir saya itu dianggap kurang tepat, berikut ini kutipan lain dari PUMR tentang penyesuaian warna liturgi, "... Konferensi Uskup dapat menentukan perubahan-perubahan yang lebih serasi dengan keperluan dan kekhasan bangsa setempat. Penyerasian-penyerasian itu hendaknya diberitahukan kepada Takhta Apostolik." (PUMR 346) Warna putih yang merupakan warna pesta dan kemeriahan dalam tradisi Romawi adalah warna berkabung dalam tradisi Cina. Sebaliknya, warna merah yang dalam tradisi Romawi identik dengan darah dan pengorbanan, adalah warna pesta dan kegembiraan dalam tradisi Cina. Memang, kalaupun kita mau menggunakan pasal 346 ini, secara de jure KWI belum pernah mengesahkan penggunaan warna merah untuk Tahun Baru Imlek, apalagi memberitahukannya ke Vatikan. Seandainya mau dibilang salah, semoga ini masih bisa dimaafkan. Akhirnya, semoga kita tidak hanya pandai menggunakan pasal-pasal tanpa memahami maksud yang tersirat di balik aturannya secara keseluruhan.

- Bisa #2: Menggunakan lagu-lagu dengan melodi khas Cina. Silakan, asal lagunya liturgis, dan bukan lagu-lagu profan atau lagu pop rohani, yang tidak dikarang/digubah untuk perayaan liturgi suci. Hindari juga penggunaan melodi lagu Cina profan (contohnya melodi lagu pop Cina) untuk menyanyikan teks-teks liturgis seperti Doa Bapa Kami, misalnya. Ini sungguh mengganggu. Masih ingat lagu Bapa Kami dengan melodi dari lagu "Bandung Selatan di Waktu Malam"?

- Bisa #3: Menggunakan alat musik Cina sebagai ganti organ. Bisa. Meski sebenarnya di atas kertas dibutuhkan pengesahan dari uskup setempat untuk penggunaannya. (Bdk. Musicam Sacram 62-63)

- Bisa #4: Meminta Lektor dan Pemazmur serta Tatib dan Kolektan mengenakan busana khas Cina. Bisa saja. Mereka-mereka yang tidak mengenakan busana liturgi khusus bisa diminta mengenakan busana khas Cina. Mohon dipertimbangkan tradisi Romawi, di mana pria selalu melepas topinya saat masuk ke gereja, tetapi wanita justru menutup kepalanya saat masuk ke gereja.

- Bisa #5: Menambahkan Pemberkatan Jeruk dalam Misa. Pemberkatan Jeruk adalah sakramentali dan bisa saja dimasukkan dalam Misa. (Bdk. Ibadat Berkat 28-30) Perlu diperhatikan jangan sampai ritusnya menjadi dominan dan menyaingi ritus-ritus penting dalam Misa. Kalau mau, ritus ini bisa ditempatkan setelah Doa Sesudah Komuni yang menjadi penutup Liturgi Ekaristi. Atau, kalau mau bisa juga dilakukan setelah Misa selesai.

Jangan:

- Jangan #1: Menghias gereja seperti klenteng. Gereja adalah gereja, rumah Tuhan, hendaknya dihias sebagaimana selayaknya sebuah gereja. Simbol-simbol non-Kristiani hendaknya tidak digunakan untuk menghias gereja.

- Jangan #2: Menghias gereja secara berlebihan. Misa Imlek, kalaupun nanti suatu saat dimasukkan ke dalam kalender liturgi Indonesia, mungkin akan masuk ke dalam golongan Peringatan Fakultatif. Itu artinya dalam ranking hari-hari liturgi ada di nomor 12. (Bdk. Norma-Norma Universal dari Tahun dan Kalender Liturgi 59) Sebagai gambaran, nomor 1 adalah Trihari Paskah dan nomor 2, di antaranya, adalah Natal, Penampakan Tuhan, Kenaikan Tuhan dan Pentakosta. Hendaknya kemeriahan hiasan gereja untuk hari liturgi dengan ranking nomor 12 tidak mendekati atau menyamai hari-hari liturgi terpenting seperti Paskah dan Natal, yang ada di urutan nomor 1 dan 2.

- Jangan #3: Meminta imam, diakon, misdinar dan prodiakon/asisten imam/pelayan komuni tak lazim untuk mengenakan busana liturgi yang tidak lazim, apalagi yang tidak sesuai aturan Gereja. Jangan meminta imam mengenakan busana ala Judge Bao atau Kaisar Cina. Jangan pula meminta mereka mengenakan topi atau asesoris tambahan yang tidak sesuai aturan liturgi. Mohon diperhatikan, bahwa "... Hiasan pada busana liturgis yang berupa gambar atau lambang, hendaknya sesuai dengan liturgi. Yang kurang sesuai hendaknya dihindarkan." (PUMR 344)

- Jangan #4: Membawa barongsai atau naga masuk ke dalam gereja. Misa bukanlah pertunjukan. Ingat, "... pusatnya (Misa) adalah Kristus ..." (Paus Franciscus, dalam berbagai kesempatan)

- Jangan #5: Menempatkan meja sembahyang dan persembahan-persembahan kepada arwah ala Cina dalam gereja. (Bdk. Redemptionis Sacramentum 79)

Pikirkan Lagi:

- Pikirkan lagi #1: Mengganti wiruk dengan hio. Wiruk digunakan untuk membakar dupa, agar menghasilkan asap yang wangi, banyak, dan menyelimuti yang didupai, atau membubung ke atas, kepada Allah. Menggantinya dengan hio mungkin akan membuat suasana Cina lebih terasa. Akan tetapi, perlu dipikirkan bahwa wangi dan banyaknya asap mungkin tidak akan sebanding. Perlu juga dikaji lebih mendalam, apa sebenarnya kegunaan hio? Samakah dengan kegunaan wiruk dan asap dupa wangi yang dihasilkannya?

- Pikirkan Lagi #2: Menampilkan penari-penari untuk perarakan persembahan. Sekali lagi, Misa bukanlah pertunjukan. Ada baiknya kita renungkan kata-kata YU Cardinal Arinze, Prefek Emeritus Kongregasi Ibadat Ilahi dan Disiplin Sakramen, "... we do not come to Mass to enjoy, we don't come to Mass to admire people ...". Meski begitu, Cardinal Arinze menambahkan, bahwa tarian dalam liturgi bukan sama sekali ditabukan. Dalam tradisi Romawi atau budaya Barat memang tarian liturgi tidak ada dan tidak perlu. Tapi dalam beberapa budaya Timur dan di beberapa tempat di Afrika, memang ada tradisi di masyarakat di mana persembahan (kepada Yang Mahatinggi atau kepada penguasa) diantar dengan suatu gerakan-gerakan indah nan gemulai. Nah, pertanyaannya, apakah dalam tradisi masyarakat Cina persembahan biasa diantar dengan cara demikian? Atau hanya dibawa dengan berjalan maju secara biasa saja, seperti yang kita lihat di film-film silat? Kalau memang yang terakhir ini adalah tradisi yang umum berlaku di sana, lalu kenapa di gereja harus dilakukan dengan menari? Kajian mendalam seperti inilah yang perlu dilakukan dalam rangka inkulturasi liturgi yang baik.

Merancang sebuah Misa Imlek yang baik tidaklah mudah. Perlu pengetahuan yang mendalam dan kearifan untuk merencanakan inkulturasi ritual Imlek yang baik dan membawa hasil. Untuk bacaan lebih lanjut, saya akan sarankan Varietates Legitimae: Liturgi Romawi dan Inkulturasi. Artikel yang berikut ini dari Romo Dr. Boli Ujan SVD tentang Penyesuaian dan Inkulturasi Liturgi sungguh sangat bagus dan komprehensif. Artikel yang berikut ini, Menuju Inkulturasi Misa Imlek, dari Romo Agustinus Lie CDD, juga sangat bagus dan layak dibaca.

Sebagai penutup, berikut ini saya kutipkan dari Redemptionis Sacramentum: Instruksi VI tentang sejumlah hal yang perlu dilaksanakan ataupun dihindari berkaitan dengan Ekaristi Mahakudus. Ini adalah Instruksi Pelaksana VI Sacrosanctum Concilium atau Konstitusi Liturgi Suci yang merupakan produk Konsili Vatikan II. Kedua kutipan ini baik untuk kita renungkan. Bukan semata kata-katanya, tapi maksud yang tersirat di balik kata-kata itu.

"Tidak diizinkan mengaitkan perayaan Misa dengan peristiwa-peristiwa profan atau duniawi atau mengaitkannya dengan situasi-situasi yang tidak dengan sepenuhnya sesuai dengan ajaran Gereja Katolik. Juga perlu dihindarkan suatu Perayaan Ekaristi yang hanya dilangsungkan sebagai pertunjukan atau menurut gaya upacara-upacara lain, termasuk upacara-upacara profan: agar Ekaristi tidak akan kehilangan artinya yang otentik." (RS 78)

"Akhirnya, termasuk juga suatu penyelewengan jika ke dalam acara Misa Kudus dimasukkan unsur-unsur yang berlawanan dengan peraturan yang termuat dalam buku-buku liturgi dan diambil dari tata cara agama-agama lain." (RS 79)

--------------------------------------------------------------

RUMUS MISA UNTUK TAHUN BARU:
(Sumber: Missale Romanum, Vatikan; Terjemahan oleh KWI, boleh dipakai ad experimentum)

Rumus Misa ini tidak boleh dipakai pada Hari Raya Santa Maria, Bunda Allah, 1 Januari.

Antifon Pembuka (Bdk. Mzm. 65:12)

Engkau memahkotai tahun dengan kebaikan-Mu,
dan tanah-tanah padang-Mu
akan kembali penuh kelimpahan.

Atau: (Bdk. Mat. 28:20)

Tuhan bersabda:
Lihat, Aku akan senantiasa menyertai kamu,
sampai akhir zaman, Alleluya.

Doa Pembuka

Ya Allah, pangkal seluruh ciptaan,
dari kekal sampai kekal Engkau ada.
Kepada-Mu kami persembahkan awal tahun baru ini.
Bantulah agar sepanjang tahun ini
kami mendapatkan rejeki secukupnya
dan memancarkan kekudusan dalam karya-karya kami.
Dengan pengantaraan Yesus Kristus, Putra-Mu, Tuhan kami,
yang bersama dengan Dikau dalam persatuan Roh Kudus
hidup dan berkuasa, Allah, sepanjang segala masa.

Doa Persiapan Persembahan

Ya Tuhan,
sudilah menerima persembahan
yang kami unjukkan kepada-Mu.
Semoga kami semua yang dengan gembira
merayakan awal tahun baru ini,
menjalani seluruh tahun dalam kasih -Mu.
Dengan pengantaraan Kristus, Tuhan kami.

Antifon Komuni (Ibr. 13:8)

Yesus Kristus tetap sama,
baik kemarin maupun hari ini
dan sampai selama-lamanya.

Doa sesudah Komuni

Ya Tuhan,
dampingilah selalu kami, umat-Mu,
yang telah menyambut sakramen suci ini.
Semoga sepanjang tahun ini
kami yang senantiasa mengharapkan perlindungan-Mu
terhindar dari segala marabahaya.
Dengan pengantaraan Kristus, Tuhan kami,
yang hidup dan berkuasa sepanjang segala masa.

BACAAN-BACAAN MISA UNTUK TAHUN BARU:
(Sumber: Ordo Lectionum Missae, Vatikan)

Bacaan dari Perjanjian Lama: Kej 1:14-18 atau Bil 6:22-27
Bacaan dari Perjanjian Baru: 1Kor 7:29-31 atau Yak 4:13-15
Mazmur Tanggapan: Mzm 8:4-5.6-7a.7b-9 (Refrain: Mzm 8:2), di antaranya
Alleluia: 1Taw 29:10b.11b atau Setiap hari kami memuji Dikau. Kami memegahkan nama-Mu untuk sepanjang masa.
Bacaan Injil: Mat 6:31-34 atau Luk 12:35-40