Misa Imlek Yang (Lebih) Benar?


Barongsai di halaman gereja (Foto: Corbis)
Tahun Baru Imlek akan segera tiba; Jumat, 31 Januari 2014 jatuhnya untuk tahun ini. Seperti biasanya, di beberapa paroki dan juga di internet akan mengemuka berbagai diskusi, pro dan kontra, dari yang akademik dan konstruktif sampai ke yang asal ngotot dan destruktif. Dua tahun yang lalu saya pernah menulis "Misa Imlek: Untuk Apa? Untuk Siapa?". Mohon berkenan membaca tulisan itu dulu. Kalau setelah membaca dan merenungkannya, Anda masih merasa perlu membuat Misa Imlek, tulisan yang berikut ini mungkin berguna untuk masukan. Tidak ada Misa Imlek yang paling benar, kalau itu yang Anda tanyakan. Yang ada adalah Misa Imlek yang lebih benar dan lebih sesuai dengan norma-norma liturgi.

Tahun baru, baik itu Tahun Baru Masehi 1 Januari, Tahun Baru Jawa 1 Suro ataupun Tahun Baru Imlek, selalu membawa harapan baru. Umat manusia, tidak terkecuali umat Katolik, bersyukur untuk apa yang telah diperoleh di tahun sebelumnya dan mohon berkat bagi tahun yang baru. Umat Katolik keturunan Cina yang masih merayakan Imlek pun tentu ingin menyampaikan rasa syukurnya. Kalau dulu sebelum menjadi Katolik, mereka (atau nenek moyang mereka) menyampaikan syukurnya di klenteng atau tempat ibadat lain, sekarang mereka menyampaikan syukurnya di gereja, dengan kurban Misa. Jaman dahulu, umat Israel menyampaikan syukur dengan mempersembahkan kurban bakaran kepada Allah. Dalam perjalanannya, kita tahu bahwa Allah yang maha pengasih kemudian menyediakan pengganti untuk anak domba kurban; ialah Putra-Nya sendiri, Yesus Kristus, Anak Domba Allah, yang dipersembahkan bagi-Nya sebagai kurban dalam setiap Misa Kudus.

Pertanyaan berikutnya, apakah ungkapan syukur atas Tahun Baru Imlek hanya bisa dilakukan dalam Misa Imlek? Tidak. Misa harian biasa pun bisa. Tapi, bolehkah membuat Misa (syukur atas) Imlek? Boleh saja. Kenapa tidak? Wajar kok membuat Misa khusus sebagai ungkapan syukur? Sekolah-sekolah Katolik juga biasa membuat Misa (syukur di awal) Tahun Ajaran Baru. Misa ya. Perayaan Ekaristi. Yang sesuai dengan norma-norma liturgi.

Selanjutnya, apakah paroki-paroki perlu membuat Misa Imlek? Saya akan balik tanya, "Yang perlu bersyukur berapa orang?" Kalau ada cukup banyak umat paroki yang keturunan Cina, dan (masih) merayakan Imlek, dan perlu menyampaikan syukur mereka, bisa saja dibuat Misa Imlek khusus. Ini seperti Misa kelompok kategorial. Kalau memang butuh, ya minta aja kepada Pastor Paroki.

Satu catatan, jangan mengganti Misa Hari Minggu atau Misa Hari Biasa (bagi seluruh umat) dengan Misa Imlek (bagi suatu kelompok kategorial). Tahun lalu, Imlek jatuh pada hari Minggu, 10 Februari 2013. Menurut kalender liturgi, hari itu adalah Hari Minggu Biasa Kelima, yang harus dirayakan oleh umat Katolik di seluruh dunia. Jangan lalu Misa Hari Minggu Biasa itu diganti dengan Misa (syukur atas) Imlek yang hanya dirayakan oleh sebagian umat, sekalipun dari segi jumlah mungkin cukup besar dan bahkan mungkin mayoritas di suatu paroki atau stasi tertentu. Hak umat minoritas untuk merayakan Hari Minggu Biasa Kelima pun tetap harus kita hormati.

Di tahun 2014 ini, Tahun Baru Imlek jatuh pada hari Jumat, 31 Januari 2014, yang menurut kalender liturgi adalah Peringatan Wajib Santo Yohanes Bosko. Misa (Harian) untuk Peringatan Wajib Santo Yohanes Bosko, dengan doa-doa presidensial dan bacaan-bacaannya sesuai kalender liturgi wajib diadakan (untuk seluruh umat Katolik). Warna liturginya putih. Yang ini wajib dan tidak bisa ditawar. Misa (syukur atas) Imlek bisa diselenggarakan di luar jadwal Misa harian, sebagai tambahan.

Berikutnya, untuk Misa Imlek dapat digunakan rumus "Misa untuk Tahun Baru" yang ada di bawah kelompok "Misa untuk Pelbagai Keperluan" dalam buku Missale Romanum. Di bagian akhir tulisan ini saya kutipkan terjemahannya dari KWI, yang dapat digunakan ad experimentum. Juga, saya sajikan pilihan bacaan-bacaannya, seturut Ordo Lectionum Missae keluaran Vatikan.

Yang berikut ini adalah "Bisa, Jangan, dan Pikirkan Lagi" untuk Misa Imlek:

Bisa (meski belum tentu sepenuhnya benar sesuai aturan liturgi):

- Bisa #1: Menggunakan warna liturgi merah. Memang benar, warna liturgi untuk hari raya dan pesta seturut tradisi Romawi adalah putih. Meski begitu, saya akan coba menggunakan tafsir yang agak "berani" untuk pasal ini, "... dalam Misa untuk pelbagai keperluan digunakan warna liturgi yang sesuai dengan hari atau masa liturgi yang bersangkutan ..." (PUMR 347). Misa Tahun Baru termasuk dalam golongan Misa untuk Pelbagai Keperluan (Bdk. MR pp. 1073-1124); dan warna yang sesuai untuk Tahun Baru Imlek adalah merah. Masuk kan? Kalaupun tafsir saya itu dianggap kurang tepat, berikut ini kutipan lain dari PUMR tentang penyesuaian warna liturgi, "... Konferensi Uskup dapat menentukan perubahan-perubahan yang lebih serasi dengan keperluan dan kekhasan bangsa setempat. Penyerasian-penyerasian itu hendaknya diberitahukan kepada Takhta Apostolik." (PUMR 346) Warna putih yang merupakan warna pesta dan kemeriahan dalam tradisi Romawi adalah warna berkabung dalam tradisi Cina. Sebaliknya, warna merah yang dalam tradisi Romawi identik dengan darah dan pengorbanan, adalah warna pesta dan kegembiraan dalam tradisi Cina. Memang, kalaupun kita mau menggunakan pasal 346 ini, secara de jure KWI belum pernah mengesahkan penggunaan warna merah untuk Tahun Baru Imlek, apalagi memberitahukannya ke Vatikan. Seandainya mau dibilang salah, semoga ini masih bisa dimaafkan. Akhirnya, semoga kita tidak hanya pandai menggunakan pasal-pasal tanpa memahami maksud yang tersirat di balik aturannya secara keseluruhan.

- Bisa #2: Menggunakan lagu-lagu dengan melodi khas Cina. Silakan, asal lagunya liturgis, dan bukan lagu-lagu profan atau lagu pop rohani, yang tidak dikarang/digubah untuk perayaan liturgi suci. Hindari juga penggunaan melodi lagu Cina profan (contohnya melodi lagu pop Cina) untuk menyanyikan teks-teks liturgis seperti Doa Bapa Kami, misalnya. Ini sungguh mengganggu. Masih ingat lagu Bapa Kami dengan melodi dari lagu "Bandung Selatan di Waktu Malam"?

- Bisa #3: Menggunakan alat musik Cina sebagai ganti organ. Bisa. Meski sebenarnya di atas kertas dibutuhkan pengesahan dari uskup setempat untuk penggunaannya. (Bdk. Musicam Sacram 62-63)

- Bisa #4: Meminta Lektor dan Pemazmur serta Tatib dan Kolektan mengenakan busana khas Cina. Bisa saja. Mereka-mereka yang tidak mengenakan busana liturgi khusus bisa diminta mengenakan busana khas Cina. Mohon dipertimbangkan tradisi Romawi, di mana pria selalu melepas topinya saat masuk ke gereja, tetapi wanita justru menutup kepalanya saat masuk ke gereja.

- Bisa #5: Menambahkan Pemberkatan Jeruk dalam Misa. Pemberkatan Jeruk adalah sakramentali dan bisa saja dimasukkan dalam Misa. (Bdk. Ibadat Berkat 28-30) Perlu diperhatikan jangan sampai ritusnya menjadi dominan dan menyaingi ritus-ritus penting dalam Misa. Kalau mau, ritus ini bisa ditempatkan setelah Doa Sesudah Komuni yang menjadi penutup Liturgi Ekaristi. Atau, kalau mau bisa juga dilakukan setelah Misa selesai.

Jangan:

- Jangan #1: Menghias gereja seperti klenteng. Gereja adalah gereja, rumah Tuhan, hendaknya dihias sebagaimana selayaknya sebuah gereja. Simbol-simbol non-Kristiani hendaknya tidak digunakan untuk menghias gereja.

- Jangan #2: Menghias gereja secara berlebihan. Misa Imlek, kalaupun nanti suatu saat dimasukkan ke dalam kalender liturgi Indonesia, mungkin akan masuk ke dalam golongan Peringatan Fakultatif. Itu artinya dalam ranking hari-hari liturgi ada di nomor 12. (Bdk. Norma-Norma Universal dari Tahun dan Kalender Liturgi 59) Sebagai gambaran, nomor 1 adalah Trihari Paskah dan nomor 2, di antaranya, adalah Natal, Penampakan Tuhan, Kenaikan Tuhan dan Pentakosta. Hendaknya kemeriahan hiasan gereja untuk hari liturgi dengan ranking nomor 12 tidak mendekati atau menyamai hari-hari liturgi terpenting seperti Paskah dan Natal, yang ada di urutan nomor 1 dan 2.

- Jangan #3: Meminta imam, diakon, misdinar dan prodiakon/asisten imam/pelayan komuni tak lazim untuk mengenakan busana liturgi yang tidak lazim, apalagi yang tidak sesuai aturan Gereja. Jangan meminta imam mengenakan busana ala Judge Bao atau Kaisar Cina. Jangan pula meminta mereka mengenakan topi atau asesoris tambahan yang tidak sesuai aturan liturgi. Mohon diperhatikan, bahwa "... Hiasan pada busana liturgis yang berupa gambar atau lambang, hendaknya sesuai dengan liturgi. Yang kurang sesuai hendaknya dihindarkan." (PUMR 344)

- Jangan #4: Membawa barongsai atau naga masuk ke dalam gereja. Misa bukanlah pertunjukan. Ingat, "... pusatnya (Misa) adalah Kristus ..." (Paus Franciscus, dalam berbagai kesempatan)

- Jangan #5: Menempatkan meja sembahyang dan persembahan-persembahan kepada arwah ala Cina dalam gereja. (Bdk. Redemptionis Sacramentum 79)

Pikirkan Lagi:

- Pikirkan lagi #1: Mengganti wiruk dengan hio. Wiruk digunakan untuk membakar dupa, agar menghasilkan asap yang wangi, banyak, dan menyelimuti yang didupai, atau membubung ke atas, kepada Allah. Menggantinya dengan hio mungkin akan membuat suasana Cina lebih terasa. Akan tetapi, perlu dipikirkan bahwa wangi dan banyaknya asap mungkin tidak akan sebanding. Perlu juga dikaji lebih mendalam, apa sebenarnya kegunaan hio? Samakah dengan kegunaan wiruk dan asap dupa wangi yang dihasilkannya?

- Pikirkan Lagi #2: Menampilkan penari-penari untuk perarakan persembahan. Sekali lagi, Misa bukanlah pertunjukan. Ada baiknya kita renungkan kata-kata YU Cardinal Arinze, Prefek Emeritus Kongregasi Ibadat Ilahi dan Disiplin Sakramen, "... we do not come to Mass to enjoy, we don't come to Mass to admire people ...". Meski begitu, Cardinal Arinze menambahkan, bahwa tarian dalam liturgi bukan sama sekali ditabukan. Dalam tradisi Romawi atau budaya Barat memang tarian liturgi tidak ada dan tidak perlu. Tapi dalam beberapa budaya Timur dan di beberapa tempat di Afrika, memang ada tradisi di masyarakat di mana persembahan (kepada Yang Mahatinggi atau kepada penguasa) diantar dengan suatu gerakan-gerakan indah nan gemulai. Nah, pertanyaannya, apakah dalam tradisi masyarakat Cina persembahan biasa diantar dengan cara demikian? Atau hanya dibawa dengan berjalan maju secara biasa saja, seperti yang kita lihat di film-film silat? Kalau memang yang terakhir ini adalah tradisi yang umum berlaku di sana, lalu kenapa di gereja harus dilakukan dengan menari? Kajian mendalam seperti inilah yang perlu dilakukan dalam rangka inkulturasi liturgi yang baik.

Merancang sebuah Misa Imlek yang baik tidaklah mudah. Perlu pengetahuan yang mendalam dan kearifan untuk merencanakan inkulturasi ritual Imlek yang baik dan membawa hasil. Untuk bacaan lebih lanjut, saya akan sarankan Varietates Legitimae: Liturgi Romawi dan Inkulturasi. Artikel yang berikut ini dari Romo Dr. Boli Ujan SVD tentang Penyesuaian dan Inkulturasi Liturgi sungguh sangat bagus dan komprehensif. Artikel yang berikut ini, Menuju Inkulturasi Misa Imlek, dari Romo Agustinus Lie CDD, juga sangat bagus dan layak dibaca.

Sebagai penutup, berikut ini saya kutipkan dari Redemptionis Sacramentum: Instruksi VI tentang sejumlah hal yang perlu dilaksanakan ataupun dihindari berkaitan dengan Ekaristi Mahakudus. Ini adalah Instruksi Pelaksana VI Sacrosanctum Concilium atau Konstitusi Liturgi Suci yang merupakan produk Konsili Vatikan II. Kedua kutipan ini baik untuk kita renungkan. Bukan semata kata-katanya, tapi maksud yang tersirat di balik kata-kata itu.

"Tidak diizinkan mengaitkan perayaan Misa dengan peristiwa-peristiwa profan atau duniawi atau mengaitkannya dengan situasi-situasi yang tidak dengan sepenuhnya sesuai dengan ajaran Gereja Katolik. Juga perlu dihindarkan suatu Perayaan Ekaristi yang hanya dilangsungkan sebagai pertunjukan atau menurut gaya upacara-upacara lain, termasuk upacara-upacara profan: agar Ekaristi tidak akan kehilangan artinya yang otentik." (RS 78)

"Akhirnya, termasuk juga suatu penyelewengan jika ke dalam acara Misa Kudus dimasukkan unsur-unsur yang berlawanan dengan peraturan yang termuat dalam buku-buku liturgi dan diambil dari tata cara agama-agama lain." (RS 79)

--------------------------------------------------------------

RUMUS MISA UNTUK TAHUN BARU:
(Sumber: Missale Romanum, Vatikan; Terjemahan oleh KWI, boleh dipakai ad experimentum)

Rumus Misa ini tidak boleh dipakai pada Hari Raya Santa Maria, Bunda Allah, 1 Januari.

Antifon Pembuka (Bdk. Mzm. 65:12)

Engkau memahkotai tahun dengan kebaikan-Mu,
dan tanah-tanah padang-Mu
akan kembali penuh kelimpahan.

Atau: (Bdk. Mat. 28:20)

Tuhan bersabda:
Lihat, Aku akan senantiasa menyertai kamu,
sampai akhir zaman, Alleluya.

Doa Pembuka

Ya Allah, pangkal seluruh ciptaan,
dari kekal sampai kekal Engkau ada.
Kepada-Mu kami persembahkan awal tahun baru ini.
Bantulah agar sepanjang tahun ini
kami mendapatkan rejeki secukupnya
dan memancarkan kekudusan dalam karya-karya kami.
Dengan pengantaraan Yesus Kristus, Putra-Mu, Tuhan kami,
yang bersama dengan Dikau dalam persatuan Roh Kudus
hidup dan berkuasa, Allah, sepanjang segala masa.

Doa Persiapan Persembahan

Ya Tuhan,
sudilah menerima persembahan
yang kami unjukkan kepada-Mu.
Semoga kami semua yang dengan gembira
merayakan awal tahun baru ini,
menjalani seluruh tahun dalam kasih -Mu.
Dengan pengantaraan Kristus, Tuhan kami.

Antifon Komuni (Ibr. 13:8)

Yesus Kristus tetap sama,
baik kemarin maupun hari ini
dan sampai selama-lamanya.

Doa sesudah Komuni

Ya Tuhan,
dampingilah selalu kami, umat-Mu,
yang telah menyambut sakramen suci ini.
Semoga sepanjang tahun ini
kami yang senantiasa mengharapkan perlindungan-Mu
terhindar dari segala marabahaya.
Dengan pengantaraan Kristus, Tuhan kami,
yang hidup dan berkuasa sepanjang segala masa.

BACAAN-BACAAN MISA UNTUK TAHUN BARU:
(Sumber: Ordo Lectionum Missae, Vatikan)

Bacaan dari Perjanjian Lama: Kej 1:14-18 atau Bil 6:22-27
Bacaan dari Perjanjian Baru: 1Kor 7:29-31 atau Yak 4:13-15
Mazmur Tanggapan: Mzm 8:4-5.6-7a.7b-9 (Refrain: Mzm 8:2), di antaranya
Alleluia: 1Taw 29:10b.11b atau Setiap hari kami memuji Dikau. Kami memegahkan nama-Mu untuk sepanjang masa.
Bacaan Injil: Mat 6:31-34 atau Luk 12:35-40

19 comments:

Ernest Lesmana said...

Satu catatan, jangan mengganti Misa Hari Minggu atau Misa Hari Biasa (bagi seluruh umat) dengan Misa Imlek (bagi suatu kelompok kategorial). Tahun lalu, Imlek jatuh pada hari Minggu, 10 Februari 2013. Menurut kalender liturgi, hari itu adalah Hari Minggu Biasa Kelima, yang harus dirayakan oleh umat Katolik di seluruh dunia. Jangan lalu Misa Hari Minggu Biasa itu diganti dengan Misa (syukur atas) Imlek yang hanya dirayakan oleh sebagian umat, sekalipun dari segi jumlah mungkin cukup besar dan bahkan mungkin mayoritas di suatu paroki atau stasi tertentu. Hak umat minoritas untuk merayakan Hari Minggu Biasa Kelima pun tetap harus kita hormati.

Pada kenyataannya yg menghadiri misa Imlek itu bukan thok umat Katolik yg keturunan Cina. Malah banyak umat non-keturunan Cina yg menghadiri misa Imlek tsb.

Albert Wibisono said...

Apa karena Misanya mengambil jadwal Misa reguler Pak?

Sebenarnya bisa saja umat yang bukan keturunan Cina ikut Misa Imlek. Memang lalu agak kabur makna syukur atas Imleknya. Semoga ikutnya bukan karena "kepingin tahu dan kepingin nonton Misa Imlek". Nah ini yang lalu kurang pas.

Salam,
albert

Anonymous said...

Salam,

saya cuman mau menggemukakan pendapat pribadi bahwa misa imlek merupakan perpaduan antara Katholik dan tradisi China. Dimana tradisi di dalam masyarakat China yang sangat banyak. Tetapi yang terpenting bukan banyak nya tradisi suatu suku melainkan tradisi adalah identitas suatu suku yang tidak perlu di hilangkan hanya kita memeluk agama tertentu secara khusus yang kita bahas di sini adalah agama Katholik. Seperti yang di katakan Yesus dia tidak mengilangkan taurat tapi untuk melengkapi nya dan kata taurat di sini bisa di artikan sebagai tradisi yaitu tradisi orang Yahudi. dan perbedaan manusia dan binatang juga terletak pada akal budi, adat istiadat dan tata krama. Dalam setiap tradisi suatu suku pasti tertuang semua itu dan memang tidak semua tradisi dapat di laksaakan dan ada yang perlu di ubah.
dan dalam imlek merupakan ungkapan syukur masyarakat dahulu saat perubahan musim dingin ke musim semi yang artinya mulai bisa becocok tanam lagi.
jadi kalo misa imlek bisa dimaknai dengan misa ucapan syukur kepada Tuhan.
kira2 seperti ini menurut pendapat saya. maaf apabila ada salah kata2.

Salam sejahtera bagi kia semua,
Tuhan memberkati
indra

Anonymous said...

Redemptoris Sacramentum / Sakramen Penebusan no. 78 Tidak diizinkan mengkaitkan perayaan Misa dengan peristiwa - peristiwa politik atau sekular atau situasi-situasi yang tidak sepenuhnya sesuai dengan ajaran Magisterium Gereja Katolik. Juga perlu dihindarkan suatu Perayaan Ekaristi yang hanya dilangsungkan sebagai pertunjukan atau menurut upacara-upacara lain, termasuk yang bersifat profan, jika tidak, maka Ekaristi menjadi dikosongkan dari makna aslinya.
Istilah “Misa Imlek” yang sering kita dengar pada saat merayakan Misa yang bertepatan dengan hari raya Imlek adalah istilah yang kurang tepat. Tidak ada istilah Misa Imlek, Misa tahun baru, dsb. Misa yang ada hanya satu, yaitu MISA KUDUS. 1 Januari adalah Hari Raya ST. Maria Bunda Allah. Gema untuk mengikuti Hari Raya yang diwajibkan Gereja pada perintah ke 2, dalam 5 perintah Gereja kurang begitu “digemakan”.
Tidak ada istilah Misa Imlek, Misa 1 Suro, Misa tahun baru Saka, Misa tahun baru 1 Januari, dsb. Yang ada hanya 1, yaitu Misa Kudus.
Bagaimana sebaiknya Gereja Katolik dalam menyikapi perayakan Imlek.
Pertama-tama, Perayaan Imlek TIDAK termasuk di dalam penanggalan liturgi Gereja Katolik. Maka jika sampai diadakan perayaan Ekaristi pada hari tahun baru Imlek, hanya Misa syukur biasa, dengan bacaan liturgis warna liturgis, menurut penanggalan liturgis pada hari itu. Demikian halnya dengan Misa Syukur Perkawinan, dsb.
Hari raya imlek identik dengan warna Merah, apakah Gereja Katolik boleh mempergunakan warna merah? Untuk warna liturgis (warna jubah imam dan perlengkapan di altar) adalah mengikuti penanggalan pada saat itu. Umumnya dipergunakan warna hijau (jika jatuh pada masa biasa) atau putih (jika jatuh pada perayaan khusus/sebagai lambang perayaan syukur). Lalu bagaimana dengan Dekorasi? pernak- pernik Imlek yang sudah terlanjur melekat dengan perayaan Imlek yang”berbau” profan sebaiknya tidak diletakan didalam Gereja, karena berpotensi untuk mengalihkan perhatian umat dari makna Ekaristi yang sesungguhnya.
Hari Raya Imlek jatuh pada Hari Jumat, 31 Januari 2014, yang jatuh pada masa biasa pada minggu ke III penanggalan liturgi tahun A. Dalam Kalender Liturgi, Jumat 31 Januari 2014 adalah Peringatan Wajib St. Yohanes Bosko dan warna liturginya adalah Putih. Pada dasarnya umat yang hadir mengikuti Perayaan Ekaristi pada tanggal 31 Januari 2014 adalah dalam Peringatan wajib St. Yohanes Bosko. Apalagi sampai makna Peringatan Wajib kalah “gaung” nya oleh istilah Misa Imlek yang tidak dikenal dalam penanggalan Liturgi Gereja Katolik.

Alasan “tidak mengubah tata cara perayaan Ekaristi” rasanya terlalu dicari-cari (legalism??), karena dengan jelas dan terang benderang diumumkan di Gereja (yang melakukannya) bahwa tanggal tersebut adalah Misa IMLEK. Intensinya jelas Imlek, gong xi fa cai=rejeki berlimpah ruah (duniawi !). Homili romo pun jelas maknanya imlek, Tahun kelinci, umat diminta bersikap seperti kelinci. (Kelinci jadi patron, bukan para santa dan santo……….. masyaallah…)
Jadi jelas misa Imlek adalah misa inkulturasi walaupun tidak merubah tata cara perayaan tapi telah merubah makna dan intensi dari misa itu sendiri yang akan berujung pada sinkretisme.

Alex.

Albert Wibisono said...

Terima kasih sudah mampir dan meninggalkan komentar di sini Pak Indra. Saya sepenuhnya setuju.

Salam,
albert

Albert Wibisono said...

Terima kasih sudah mampir dan meninggalkan komentar di sini Pak Alex. Ijinkan saya memberi klarifikasi atas beberapa hal yang disampaikan. Maaf, saya akan menggunakan huruf kapital untuk memberikan penekanan, karena saya tidak bisa menggunakan garis bawah di sini.

Penggunaan istilah "Misa Imlek" atau beberapa kali saya menulis "Misa (syukur atas) Imlek", hanyalah SIMPLIFIKASI saja. Sama seperti saat kita menyebut Misa Paskah, Misa Natal, Misa Jumat Pertama, Misa Arwah, Misa Perkawinan, Misa Tahbisan, dll. Saya setuju dengan Bapak, bahwa semuanya adalah satu perayaan yang sama, yaitu MISA KUDUS.

Warna liturgi untuk Misa Imlek TIDAK HARUS MENGIKUTI warna liturgi yang berlaku pada HARI di mana diadakan Misa Imlek tersebut. Dengan dasar aturan dan logika yang sama, bila pada hari Peringatan Wajib St. Yohanes Bosko tersebut diadakan Misa Arwah di siang atau sore harinya (sebagai Misa tambahan dan bukan menggantikan Misa untuk Peringatan Wajib St. Yohanes Bosko), maka warna liturginya adalah ungu. Contoh yang lain lagi, bila pada Hari Raya Santo Petrus dan Paulus (warna liturginya merah) diadakan juga Misa Perkawinan (Misa tambahan), imam mengenakan kasula warna putih. Bila pada hari tersebut diadakan juga Misa Arwah (Misa tambahan), imam mengenakan kasula warna ungu. (Bdk. PUMR 347, TP Perkawinan 34, Upacara Pemakaman 38)

Bacaan-bacaan untuk Misa pun mengikuti JENIS MISA YANG DIRAYAKAN (Misa Peringatan Wajib St. Yohanes Bosko, atau Misa HR St. Petrus dan Paulus, atau Misa Perkawinan, atau Misa Arwah, atau juga Misa Imlek) dan BUKAN SEMATA MENGIKUTI BACAAN DI HARI DIMANA MISA ITU DIRAYAKAN. (Bdk. Ordo Lectionum Missae - Praenotanda).

Hal warna liturgi dan bacaan-bacaan ini tentunya dengan asumsi yang mendasar yang telah saya sampaikan di atas, bahwa Misa-Misa Ritual dan Misa untuk Pelbagai Kesempatan itu TIDAK MENGGANTIKAN Misa pada suatu hari tertentu yang harus dirayakan sesuai kalender liturgi.

Semoga tambahan informasi ini bermanfaat bagi seluruh pembaca lain juga.

Salam,
albert

Luki said...

Tulisan yang baik, gamblang, praktis dan agak "berani" Pak.. Hehehe..
Sungguh menggambarkan pemahaman liturgi dan inkulturasi yang dalam..
Kapan ke Jakarta? ..

Salam,
Luki
Jakarta

Albert Wibisono said...

Terima kasih Pak Luki. Sudah lebih pastoral ya Pak? Saya menunggu panggilan dari Jakarta saja Pak.

Salam,
albert

tince aza said...

saya tidak se7 kalau misa 2 dalam katolik di tambahkan dgn misa imlek, krn yg namanya imlek , nuansanya sudah ke cina2an . sedangkan umat katolik kan bukan org cina saja khan?? ada orang cina yang muslim, knp mereka tidak membuat pengajian/sholat bernuansa cina/imlek di masdjid??? seharusnya suatu agama mempunyai suatu ciri khas yang bisa dikenali oleh umat agama yl. kalau gereja khatolik merayakan misa imlek, artiknya gereja katolik indonesia bi/dilisme. (gereja katolik n klenteng/vihara)

Luki said...

hehehe.. sudah lebih pastoral tapi untungnya masi tetap "ratzinger".. Gereja Indonesia beruntung punya Maestro Liturgi seperti pak Albert.. Semoga hirarki juga mendukung usaha bapak.. Amiiin..

Albert Wibisono said...

Terima kasih Pak. Amin.

Salam,
albert

Agustinus Lee said...

Kemungkinan menggantikan bacaan yang ada bisa dilihat di PUMR 376: "Misa untuk pelbagai keperluan dan Misa Votif dengan sendirinya dilarang pada hari-hari peringatan wajib, pada hari biasa dalam Masa Adven sebelum 17 Desember, pada Masa Natal mulai 2 Januari, pada Masa Paskah sesudah oktaf Paskah. Akan tetapi, kalau ada suatu keperluan khusus atau demi manfaat pastoral, dalam Misa umat dapat digunakan rumus Misa yang sesuai dengan keperluan atau manfaat tersebut. Hal ini hendaknya diputuskan oleh pastor paroki atau oleh imam yang memimpin Misa".
Demikian juga dengan warna pakaian Misa. Saya setuju dengan Saudara Albert tentang "penafsiran yang agak berani" tersebut. Yang harus kita ingat adalah liturgi menggunakan simbol-simbol dunia/manusia untuk mengungkapkan iman umat dan rahmat Allah. Untuk itu Gereja menyusun suatu aturan yang berlaku umum. Tetapi untuk beberapa kesempatan dan untuk budaya tertentu, Gereja masih memberi kemungkinan disesuaikan dengan simbol-simbol budaya lain. Karena itu konferensi uskup bisa menetapkannya, dengan memintakan persetujuan Tahta Suci (misalnya jubah putih - yang seharusnya hitam - untuk imam di Indonesia). Untuk busana Misa pada perayaan tahun baru imlek, di negaranya sana (Taiwan, RRC, Vietnam, dll.) konferensi uskup di sana sudah mendapat ijin mengenakan busana merah. Apakah KWI perlu juga ikut menetapkannya? Ataukah kita cukup mengikuti ketetapan dari sana saja?

Albert Wibisono said...

Romo Agus ytk:

Banyak terima kasih sudah mampir ke sini dan berbagi tambahan info yang bermanfaat.

Saya sungguh menikmati diskusi lewat telepon dengan Romo beberapa hari yang lalu. Bersama Romo, saya berharap KWI mau menggunakan wewenangnya dan dengan murah hati mau memasukkan perayaan ini ke dalam golongan Peringatan Fakultatif, dan juga mengijinkan penggunaan warna liturgi merah, serta memberitahukannya ke Vatikan. Dengan demikian, segala silang pendapat hal legitimasi yang sebenarnya tidak perlu dan tidak produktif dapat kita hindarkan.

Salam,
albert

Anonymous said...

setuju banget ...siip, mari tegakkan tradisi Katolik yang benar, tanpa inkulturasi tidak ada masalah, dengan inkulturasi tambah kacau. Gereja mau dirubah jadi klenteng sam po kong...adalagi Gereja dirubah jadi candi hindu...kacau kacau.....belum lagi kekacauan oleh karismatik..... hancur lebur....
betul sekali nampaknya harus belajar dari islam...kasihan sekali.

Anonymous said...
This comment has been removed by a blog administrator.
Anonymous said...
This comment has been removed by a blog administrator.
Albert Wibisono said...
This comment has been removed by the author.
Albert Wibisono said...
This comment has been removed by the author.
Anonymous said...
This comment has been removed by a blog administrator.