Busana Gereja: Sebuah Prolog



Busana Gereja Katolik Ritus Romawi pada awal mulanya adalah busana biasa yang umum dipakai oleh orang-orang Romawi pada masa itu. Cikal bakal alba, misalnya, adalah busana yang biasa dikenakan oleh para pria dari jaman Yunani klasik, kira-kira abad keenam sebelum Masehi. Klerus pada jaman dahulu tidak mengenakan busana yang benar-benar berbeda dari awam; mereka mengenakan busana biasa yang sama, yang juga dikenakan sehari-hari oleh masyarakat umum. Perbedaannya, kalaupun ada, hanyalah di beberapa detil tertentu. “Dapat dimengerti lalu, bahwa ada dorongan yang alamiah di antara para klerus untuk memastikan keunggulan, keindahan dan keagungan busana mereka; dengan demikian mereka akan mempersiapkan diri dengan busana terbaik yang mereka miliki saat beribadat kepada Allah. Para imam dan pelayan dari jaman primitif mengenakan busana terindah mereka, sebagai ungkapan penghormatan yang sungguh-sungguh kepada Allah, dan juga sebagai ekspresi suka cita.” (Norris, Church Vestments: Their Origin and Development, 1949) Lebih lanjut, “Dalam perkembangannya, busana yang harus dikenakan di altar lalu menjadi ‘busana suci’, vestes sacratae, seperti yang dikatakan oleh Paus Stefanus di pertengahan abad ketiga.” (Roulin, Vestment and Vesture: A Manual of Liturgical Art, 1950)

Paus Benedictus XVI (Foto: Corbis)
Ketika busana Romawi klasik mulai digantikan oleh busana dari kultur barbar (budaya lain di luar peradaban agung Yunani, Romawi dan Kristen), konservatisme agama tetap mempertahankan busana agung model lama untuk para pemimpin ibadat dan pelayan-pelayannya, bahkan setelah masyarakat umum lama meninggalkannya. Akibatnya, selebran dalam Ekaristi masih mengenakan busana yang tidak lagi dikenakan untuk kepentingan sekuler. “Para uskup dan imam tetap mengenakannya, karena busana ini sungguh agung dan indah, dan karenanya cocok untuk ibadat Kristiani.” (Roulin, 1950) Kalau Anda melihat foto di samping ini, mungkin Anda akan setuju, bahwa busana yang dikenakan oleh Paus Benedictus XVI di tahun 2007 itu lebih indah dan agung serta lebih cocok untuk dipakai selebran dalam ibadat ilahi, daripada jas atau kemeja batik dari bahan sutra sekalipun, yang hari ini dipakai oleh para pria yang akan pergi ke suatu resepsi penting.

Dari paparan para pakar busana Gereja di atas dan juga dari Pedoman Umum Misale Romawi (bdk. PUMR 344), saya akan mengambil beberapa kata kunci: keunggulan (mutu), keindahan, keagungan, penghormatan (kepada Allah), dan ekspresi suka cita (dari pemakai busana dan juga dari seluruh umat). Itulah yang mendasari penggunaan busana khusus yang indah dan agung, busana suci, oleh para klerus dan pelayan-pelayan awamnya dalam upacara-upacara liturgi. Pertanyaannya, masihkah pemikiran-pemikiran itu ada dalam benak para peraya liturgi hari ini?

Sebagai MC Liturgi, saat menyiapkan busana, saya harus memikirkan kata-kata kunci di atas itu semuanya. Namun, di lapangan kita tahu ada banyak kendala. “Panas,” adalah kata kunci argumentatif yang paling sering saya jumpai kala berbicara tentang busana liturgi suci yang indah dan agung, sesuai yang diamanatkan Gereja. Hal “panas” ini, YM Vincentius Sutikno Wisaksono, Uskup Surabaya, ordinaris saya, pernah menggumamkan suatu otokritik pada saya yang saat itu melayani beliau di Roma, di bulan Agustus, yang panasnya bahkan bisa mencapai 40 derajat Celcius, “Yesus mati di salib, kok saya mengeluh kepanasan.” Kata-kata beliau ini sungguh menancap di hati; saya ingat-ingat betul. Realitanya, hari ini, pemakai busana liturgi, klerus dan awam, masih banyak yang memilih tidak kepanasan daripada mengutamakan keindahan dan keagungan liturgi.

Paus Franciscus (Foto: Corbis)
Kata kunci argumentatif yang kedua adalah, “kesederhanaan”, yang konon diamanatkan oleh Vatikan II. Banyak yang membaca hal kesederhanaan ini tanpa memahami konteksnya, tanpa mengerti situasi dan kondisi busana klerus dalam Gereja Katolik Ritus Romawi saat penyelenggaraan Konsili Vatikan II. Dokumen aslinya, baik Sacrosanctum Concilium dan berikutnya PUMR juga, menulis “nobili simplicitate”, yang diterjemahkan ke Bahasa Indonesia menjadi “kesederhanaan yang anggun”, yang sayangnya dibaca banyak pihak sebagai “kesederhanaan” saja. Dari bahasa Latin aslinya kita tahu bahwa yang ditekankan adalah hal nobili (noble, agung); karena itu ia didahulukan daripada simplicitate (simplicity, kesederhanaan). Singkat kata, keduanya hendaknya dipakai bersama, keagungan dalam kesederhanaan, seperti busana yang dikenakan oleh Paus Franciscus di sebelah ini, dan bukan hanya kesederhanaan saja.

Jauh sebelum Vatikan II, pakar busana Gereja Dom Eugène Augustin Roulin, OSB dari Biara Benediktin Ampleforth di Inggris sudah menyebut-nyebut "keagungan dalam kesederhanaan", nobili simplicitate atau noble simplicity, dalam bukunya Vestment and Vesture (Edisi Bahasa Prancis 1930, Terjemahan Bahasa Inggris 1950). Pandangan Roulin agar Gereja kembali pada penggunaan busana liturgi yang sederhana tetapi agung bisa jadi telah mengilhami dan diadopsi oleh para Bapa Konsili. Pemahaman terhadap konsep nobili simplicitate yang ditawarkan Roulin dalam bukunya membuat kita lebih bisa mengerti saat membaca PUMR 344 ini (kata-kata di dalam kurung adalah catatan saya): “Busana liturgis hendaknya tampak indah dan anggun bukan karena banyak dan mewahnya hiasan (a la Romawi abad ke-19 dan awal abad ke-20, yang penuh dengan ornamen seperti gambar di atas ini, dan bahkan bertaburkan batu-batu mulia dalam beberapa kasus), melainkan karena bahan (dari serat kain bermutu tinggi yang ditenun dari bahan-bahan alami, dan bukan dari bahan sintetis yang cenderung lebih murah) dan bentuk potongannya (yang lebar, indah dan agung, a la busana Yunani dan Romawi klasik, dan bukan minimalis seperti kasula Romawi di atas ini, apalagi kalau sekedar dimaksudkan untuk menghemat pemakaian kain seperti yang jamak kita temukan hari ini). ...”

Sebuah kasula yang indah dan bermutu dapat bertahan puluhan tahun. Di Katedral Surabaya hari ini masih dipakai beberapa kasula indah dari jaman tahun 1980an; itu lebih dari 30 tahun yang lalu. Uskup Surabaya hari ini masih memakai salib pektoral yang bisa jadi lebih tua dari umur beliau yang lahir di tahun 1953, lebih dari 60 tahun yang lalu; salib dada itu peninggalan almarhum YM Yohanes Klooster, CM, ordinaris Surabaya yang ketiga. Busana dan asesoris yang indah dan agung mungkin memang mahal ongkos pengadaannya, tapi biaya pemakaian per tahunnya bisa jadi jauh lebih murah daripada biaya pemakaian telepon genggam imam hari ini, yang paling sederhana sekalipun. Mari kita berhitung dan pikirkan kembali.

Sebagai penutup, saya akan kutipkan lagi yang berikut ini, kali ini dengan penekanan dari saya, untuk kita renungkan bersama, “Para imam dan pelayan dari jaman primitif mengenakan busana terindah mereka, sebagai ungkapan penghormatan yang sungguh-sungguh kepada Allah, dan juga sebagai ekspresi suka cita.” (Norris, 1949) Untuk hari ini, pertanyaannya adalah, masih perlu dan masih maukah kita memberikan yang terbaik bagi Allah?

Catatan: Artikel ini merupakan prolog dari sebuah presentasi tentang Busana Gereja, yang disampaikan pada Lokakarya Nasional Caeremoniarius yang diselenggarakan oleh Komisi Liturgi KWI, Jakarta, 2-4 Juli 2014.

2 comments:

Claudius Haryo said...

Semoga banyak yang makin memahami mengenai busana liturgi..

yustinus anta ramadhan said...

Busana liturgi mencerminkan siapa dan apa yang dirayakan, jika problem tentang kondisi geografis terus dijadikan alasan, bagaimana liturgi yang seharusnya agung dan khidmat dikorbankan begitu saja dengan alasan, panas dsb.
Dan yang sering saya lihat, di gereja saya sendiri, para imam ketika merayakan misa mengenakan vestimentum yang tidak sesuai peraturan, misalnya saja stola yang dipakai di atas kasula, yang jelas seharusnya dikenakan diatas alba sebelum kasula.
Terimakasih... GBU.