Te Deum: Tradisi Akhir Tahun


Foto: Santa Clara University Archives

Gereja Katolik punya tradisi indah khusus buat akhir tahun, tepatnya di malam tahun baru: menyanyikan hymne atau madah syukur Te Deum. Lagu Gregorian ini ada di Puji Syukur 669 dan juga di Madah Bakti 491. Syairnya sangat indah dan melodinya sungguh syahdu dan menyayat hati. Saya pribadi sering menyanyikannya sendirian, sebagai ungkapan syukur; banyak kali sambil meneteskan air mata. Yang sudah biasa menyanyikan Ordinarium Te Deum (PS 345/MB 180) rasanya tidak akan menemui kesulitan yang berarti untuk menyanyikan madah syukur ini. Mereka yang menyanyikan madah ini secara publik di malam tahun baru akan mendapatkan indulgensi penuh. Mau coba nyanyikan di malam tahun baru kali ini?

Tak kenal maka tak sayang. Silakan dengarkan dulu lagunya. Klik di sini untuk mendengarkan versi simplex alias sederhananya, yang melodinya sedikit berbeda dari versi Romawi yang ada di Puji Syukur. Sambil mendengarkan, baca dan hayatilah syairnya di bawah ini (dari PS 669). Versi Latin aslinya ada di bawah.

Allah Tuhan Kami

Allah Tuhan kami,
Engkau kami muliakan.
Dikau Bapa yang kekal,
seluruh bumi sujud pada-Mu.
Para malaikat
serta segala isi surga bermadah,
kerubim dan seraphim
tak kunjung putus memuji Dikau.
Kudus, kudus,
kuduslah Tuhan, Allah segala kuasa.
Surga dan bumi
penuh kemuliaan-Mu.
Kau dimuliakan
kalangan para rasul,
Kau diluhurkan
rombongan para nabi,
Engkau dipuji
barisan para martir.
Engkau dipuji Gereja kudus
di seluruh dunia.
Bapa sungguh mahakuasa,
Putra Bapa yang tunggal
yang patut disembah.
Roh Kudus pula,
penghibur umat Allah.
Kristus raja nan jaya.
Engkaulah Putra Bapa yang kekal.
Untuk menebus kami,
Kau jadi manusia,
sudi dikandung Santa Perawan.
Kuasa maut Kau kalahkan,
Kau buka pintu surga
bagi umat beriman.
Kau bertakhta dengan mulia di sisi kanan Bapa,
Dikaulah Hakim yang akan datang.
Maka kami mohon,
tolonglah hamba-Mu, yang
Kautebus dengan darah-Mu sendiri.
Satukanlah kami dengan orang kudus
dalam kemuliaan-Mu.
Selamatkanlah kami, ya Tuhan,
berkatilah umat pilihan-Mu.
Rajailah kami, dan angkatlah kami
untuk selamanya.
Setiap hari kami memuji Dikau,
kami memegahkan nama-Mu
untuk sepanjang masa.
Ya Tuhan, sudilah menjaga kami,
agar hari ini luput dari dosa.
Kasihanilah kami, ya Tuhan,
Kasihanilah kami.
Limpahkanlah kasih setia-Mu kepada kami,
sebab kami berharap pada-Mu.
Kepada Tuhan kami percaya,
kami tak kecewa selamanya.

Yang berikut ini adalah versi Latin aslinya:

Te Deum

Te Deum laudámus,
te Dóminum confitémur.
Te ætérnum Patrem,
omnis terra venerátur.
Tibi omnes ángeli,
tibi cæli et univérsæ potestátes,
tibi chérubim et séraphim
incessábili voce proclámant.
Sanctus, Sanctus,
Sanctus Dóminus Deus Sábaoth.
Pleni sunt cæli et terra
maiestátis glóriæ tuæ.
Te gloriósus
apostolòrum chorus,
te prophetárum
laudábilis númerus,
te mártyrum candidátus
laudat exércitus.
Te per orbem terrárum
sancta confitétur Ecclésia,
Patrem imménsæ maiestátis,
venerándum tuum verum
et únicum Fílium.
Sanctum quoque
Paráclitum Spíritum.
Tu rex glóriæ, Christe.
Tu Patris sempitérnus es Filius.
Tu, ad liberándum susceptúrus hóminem,
non horrúisti Virginis úterum.
Tu, devícto mortis acúleo,
aperuísti credéntibus
regna cælórum.
Tu ad déxteram Dei sedes,
in glória Patris.
Iudex créderis esse ventúrus.
Te ergo quǽsumus,
tuis fámulis súbveni,
quos pretióso sánguine redemísti.
Ætérna fac cum sanctis tuis
in glória numerári.
Salvum fac pópulum tuum, Dómine,
et bénedic hereditáti tuæ.
Et rege eos, et extólle illos
usque in ætérnum.
Per síngulos dies benedícimus te,
et laudámus nomen tuum
in sǽculum, et in sǽculum sǽculi.
Dignáre, Dómine, die isto
sine peccáto nos custodíre.
Miserére nostri, Dómine,
miserére nostri.
Fiat misericórdia tua,
Dómine, super nos,
quemádmodum sperávimus in te.
In te, Dómine, sperávi,
non confúndar in ætérnum.

Nah, kalau sudah mulai tertarik, boleh lanjut dan baca yang berikut:

Te Deum adalah hymne atau madah syukur yang biasa dinyanyikan dalam Ibadat Bacaan, suatu bagian dari Ibadat Harian atau sholat 7 waktunya umat Katolik. Te Deum juga dinyanyikan sebagai ungkapan syukur kepada Allah atas berkat khusus atau karunia luar biasa yang kita peroleh, saat: terpilihnya paus baru, tahbisan uskup, kanonisasi santo-santa, profesi religius, penandatanganan perjanjian damai, penobatan raja (Katolik) yang baru, dan lain-lain. Te Deum bisa dinyanyikan pada akhir Misa atau Ibadat Harian, atau sebagai suatu ritual yang terpisah.

Teks madah ini mengikuti struktur Syahadat Para Rasul; gabungan dari visi puitis liturgi surgawi dan pernyataan iman. Dimulai dengan menyebut nama Allah, dan dilanjutkan dengan menyebut semua yang memuji dan memuliakan Allah, dari hirarki makhluk surgawi sampai umat beriman Kristiani yang sudah ada di surga dan Gereja yang masih mengembara di seluruh dunia. Madah ini kemudian kembali ke rumus pengakuan iman, menyebut Kristus dan mengingat kelahiran, penderitaan dan wafat-Nya, serta kebangkitan dan kemuliaan-Nya. Berikutnya disampaikan pula pujian, dari Gereja semesta dan dari sang penyanyi khususnya; permintaan belas kasihan atas dosa-dosa di masa yang lalu, mohon perlindungan dari dosa di masa depan, dan harapan untuk dapat bersatu dengan para kudus di surga.

Foto: Koor Kepausan Kapela Sistina
Akhirnya, kalau sudah yakin ingin menyanyikannya secara publik alias tidak sendirian, lalu gimana? Alternatifnya: bagi yang mendaraskan Brevir alias Ibadat Harian bersama komunitas, Madah Te Deum alias Allah Tuhan Kami ini dinyanyikan di bagian akhir Ibadat Bacaan (bdk. Ibadat Harian, hal 83/328-331), atau bisa juga, seperti praktik di Vatikan, dinyanyikan di bagian akhir Vesper I (untuk Hari Raya Santa Maria Bunda Allah). Silakan klik di link berikut untuk video (dari 31 Desember 2013: Te Deum-nya mulai di 1:03:15) dan untuk teksnya. Bagi Anda yang tidak mendoakan Ibadat Harian, bisa minta kepada Pastor Paroki agar paduan suara atau umat diijinkan menyanyikannya di Misa di malam tahun baru. Idealnya dinyanyikan sesudah saat hening pasca komuni, sebelum Doa Sesudah Komuni. Atau, kalau tidak nyaman membuat "perubahan" dalam Misa yang "biasa", nyanyikan saja 10 menit sebelum Misa. Alternatif terakhir ini rasanya tidak terlalu mengejutkan dan mungkin bisa "diterima" Pastor Paroki maupun umat yang hadir. Tinggal meminta koornya berlatih. Kalau itu pun dirasa berat, satu solis aja yang nyanyi dan diikuti (secara perlahan, sambil belajar?) oleh umat yang hadir. Untuk mendapat indulgensi penuh, rasanya ini bukan sesuatu yang teramat sulit dilakukan. Dan lagi, sungguh amat baiklah kalau kita mengucap syukur kepada Allah atas segala yang telah kita terima pada tahun yang akan berlalu. Bisa kan?

2 comments:

Angelica Marta said...

Tidak adakah ulasan tentang sholat 7 waktu? Saya tertarik dengan hal tersebut.

Albert Wibisono said...

Terima kasih Bu, saya tampung dulu usulannya ya.

Salam,
albert