Lambang Uskup


Lambang seorang uskup agung
(www.rivisondoliantiqua.it)
Kita pernah melihat lambang uskup-uskup kita, dan juga lambang para kardinal dan Paus, yang masing-masing berbeda satu dengan yang lain. Bagaimana sejarah dan latar belakang penggunaan lambang ini, dan bagaimana Gereja Katolik mengadopsi dan melestarikan tradisi penggunaan lambang ini selama beratus-ratus tahun? Saya akan coba jelaskan secara garis besar di bawah ini.

Penggunaan lambang diawali oleh para ksatria di abad pertengahan sebagai sarana identifikasi diri pribadi mereka, dan di kemudian hari identifikasi keluarga mereka. Dari awal abad ke-12, para ksatria telah menggunakan lambang pribadi pada baju zirah dan peralatan perang mereka, utamanya di helm dan perisai. Dengan mengenakan baju zirah dan helm dari metal yang menutup seluruh tubuh dan wajah, tidak ada lagi ciri pribadi yang terlihat dari mereka, sehingga orang hanya dapat dikenali dari lambang yang dikenakan. Kebutuhan untuk dapat dikenali ini lalu ditambah dengan dorongan untuk memperindah peralatan perang dengan warna-warna yang cerah, yang terlihat dari jarak jauh. Kesemuanya ini lalu tidak hanya digunakan dalam pertempuran yang sesungguhnya, namun juga dalam berbagai turnamen atau pertandingan adu ketangkasan menggunakan senjata. Kebiasaan menandai peralatan perang dengan lambang ini kemudian meluas aplikasinya ke stempel pribadi atau keluarga, penempatan lambang di eksterior kastil dan berbagai tanah, bangunan, dan harta milik mereka, di berbagai peralatan rumah tangga, di pelana dan perhiasan yang dikenakan pada kuda-kuda mereka, dan akhirnya juga pada batu nisan dan monumen yang dibangun di atas makam mereka.

(www2.thesetonfamily.com)
Dengan ditemukannya bahan peledak dan digunakannya secara luas dalam peperangan di abad ke-14, penggunaan baju zirah dan perisai menjadi tidak penting lagi dan bahkan dapat menghambat mobilitas para ksatria dan prajurit. Kebutuhan memasang lambang di baju zirah dan perisai hanya tinggal untuk kepentingan turnamen atau pertandingan saja, yang masih tetap ada. Ini berlangsung sampai akhir abad ke-15.

(www.electrummagazine.com)
Sejak abad ke-12, para wanita bangsawan, dan mulai abad ke-13, klerus dan juga anggota masyarakat yang tidak pernah ikut berperang pun mengikuti kebiasaan para ksatria untuk menggunakan lambang. Demikian juga dengan lembaga-lembaga publik, korporasi, dan juga institusi-institusi Gerejawi (keuskupan, biara/pertapaan, dan kapitel-kapitel, sebagai contohnya) pun mengadopsi penggunaan lambang pada stempel dan segel mereka. Penggunaan lambang lalu tidak hanya terbatas pada perang dan turnamen, tetapi berkembang menjadi sebuah bentuk identifikasi pribadi, yang manakala ditempatkan pada benda-benda menunjukkan kepemilikan atasnya. Penggunaan lambang lalu menjadi simbol kedaulatan, yurisdiksi, perlindungan, klaim atas teritorial/wilayah, dan secara universal diterima sebagai suatu tanda penghargaan.

Michel Pastoureau dalam bukunya Heraldry: Its Origins and Meaning (1997) meringkasnya dengan amat baik, "Heraldry atau seni perlambangan adalah peninggalan yang hidup dari dunia abad pertengahan para ksatria Eropa yang agung. Awalnya diperkenalkan sebagai alat identifikasi dalam pertempuran dan dalam turnamen, secara bertahap ia menyebar ke masyarakat luas. Hari ini para ksatria berbaju zirah dan banyak keluarga yang menggunakan lambang ini sudah tidak ada lagi, namun tradisi perlambangan ini tetap hidup dalam berbagai lambang kerajaan dan negara, bendera, emblem, rambu-rambu di jalan, lencana olah raga, dan logo perusahaan dari dunia modern."

Di awal abad ke-20, seni menggunakan lambang ini tumbuh pesat dan diikuti dengan selera yang baik pula. Trend ini dipromosikan di banyak negara oleh perkumpulan-perkumpulan spesialis, yang mendorong simplifikasi lambang, yang tidak hanya lebih dekat dengan semangat dan etos awal penggunaan lambang ini, namun juga sesuai dengan selera pada jamannya. Hukum yang paling utama dari desain sebuah lambang yang baik adalah visibilitas atau keterlihatannya dari jarak yang jauh. Disadarkan akan hal ini, orang lalu kembali pada penggunaan warna-warna yang kontras dan simbol-simbol yang sederhana dan mudah dikenali dari jarak jauh.

Lambang seorang uskup
(www.marcofoppoli.com)
Dari penjelasan tentang asal muasal penggunaan lambang di atas, dapat dimengerti bahwa bagian paling utama dari sebuah lambang uskup adalah perisainya. Bentuk perisai ini bisa bermacam-macam, dan dipengaruhi juga oleh tradisi masing-masing daerah atau negara, seperti terlihat pada gambar di bawah ini. Untuk menghindari kesan maskulin, para wanita--termasuk abdis atau pemimpin biara khusus wanita--bisa juga menggunakan bentuk oval atau belah ketupat untuk menggantikan perisai. Ada pula yang ingin menghindari kesan militer dan mengganti perisai dengan perkamen atau lembaran kertas model kuno, meski yang ini relatif jarang. Perisai yang digunakan lalu dapat dibagi-bagi menjadi beberapa bagian, dengan teknik membagi yang beragam pula, sesuai gambar di bawah ini.

Bentuk perisai dan negara asal tradisi
(upload.wikimedia.org)
Membagi
perisai

Langkah berikutnya adalah memasukkan simbol-simbol yang dikehendaki ke dalam bagian-bagian perisai di atas itu. Simbol yang dipakai dapat berupa figur manusia, bagian tubuh manusia, binatang, bagian tubuh binatang, monster, tumbuhan, daun, bunga, buah, bintang, simbol-simbol religius, perkakas, simbol profesi atau perdagangan, dan lain sebagainya. Apapun yang dimasukkan, selalu digambar dengan sederhana dan seringkali dengan penekanan secara berlebihan, lebih ke arah karikatur daripada realisme. Binatang buas atau monster selalu ditampilkan dengan pose paling ganas dan agresif. Count de Saint-Saud dalam Armorial des Prélats français (1908) mengingatkan agar kita tidak menggunakan wajah Sang Penebus, Perawan Suci atau Para Kudus untuk mengisi perisai. Perlu diingat bahwa seturut tradisi Gereja universal, lambang uskup bisa dan biasa diaplikasikan di mana-mana, termasuk di lantai marmer/granit atau karpet di dalam gereja dan bangunan-bangunan lainnya milik keuskupan, yang akan dilewati dan diinjak-injak orang; atau juga dibordir di bantal yang akan diduduki orang (bdk. p. 10) Sebagai gantinya, kita bisa menggunakan simbol-simbol yang biasa dikaitkan dengan orang kudus tertentu, misalnya: kunci surga untuk St. Petrus, pedang untuk St. Paulus dan juga para martir, pisau untuk St. Bartolomeus, kerang untuk St. Yakobus, anjing untuk St. Dominikus, burung gagak untuk St. Benediktus (bdk. Heim, Heraldry in the Catholic Church: Its Origin, Customs and Laws, 1978, p. 148).

Ikhwal desain dan penggunaan lambang ini telah berkembang menjadi suatu bidang ilmu dan seni serta keahlian tersendiri yang sungguh rumit: heraldry. Di dalamnya, pun ada cabang khusus untuk lambang-lambang Gerejawi, yang dikenal dengan nama ecclesiatical heraldry. Para pakarnya, di antaranya, adalah Cardinal Cordero Lanza di Montezemolo dan Uskup Agung Bruno Bernard Heim, yang pernah menerbitkan buku tentangnya (foto kiri dan bawah). Di banyak negara, ada lembaga-lembaga yang mengatur tentang desain dan penggunaan lambang. Selain aturan-aturan yang tertulis ada pula banyak norma dan tradisi yang tidak tertulis yang perlu ditaati dan diikuti oleh para desainer lambang yang baik. Kegagalan mengikuti norma dan tradisi ini membuat desain lambang menjadi tidak lazim dan aneh, dan dalam beberapa kasus melanggar aturan yang ditetapkan oleh institusi yang berhak mengaturnya. Sebagai bagian dari Gereja Katolik universal, Gereja partikular yang dipimpin uskup pun wajib taat pada norma-norma dan tradisi Gereja berkaitan dengan desain dan penggunaan lambang uskup.

Dalam Gereja Katolik universal yang dipimpin Paus, penggunaan lambang uskup merupakan lingkup pekerjaan Kongregasi Ibadat Ilahi dan Disiplin Sakramen, yang tugas utamanya mengatur hal ikhwal liturgi Gereja. Berbagai aturan pernah dikeluarkan oleh Vatikan, mulai dari Konstitusi Apostolik Militantis Ecclesiae regimini (Innocentius X, 1644) sampai ke Motu Proprio Inter multiplices curas (Pius X, 1905) dan Instruksi Ut sive sollicite (Paulus VI, 1969). Sebenarnya, Gereja hanya mengurusi tradisi dan hirarki dan tidak membahas hal lambang keluarga yang masih digunakan beberapa klerus yang memiliki/mewarisinya--biasanya para klerus dari keturunan bangsawan. Di Inggris, adopsi lambang diatur oleh Kolegium Lambang dan mereka yang mendaftarkan lambangnya harus membayar retribusi. Di Austria dan beberapa negara lain pun ada aturan serupa.

Karena ketidaktahuan, desain lambang uskup Gereja Katolik Romawi banyak kali menyimpang dari norma dan kebiasaan desain lambang secara umum ataupun sekedar pilihan yang kurang baik atau tidak indah. Untuk mengatasi hal ini, dalam masa pontifikasi Paus Pius X, uskup-uskup baru di Italia diminta untuk mencari advis dari Collegio Araldico, yang telah didirikan tahun 1853 dalam masa pontifikasi Paus Pius IX dan sampai sekarang masih ada sebagai suatu akademi privat. Hal mendesain lambang memang tidak semudah mendesain logo perusahaan di jaman modern. Aturan tertulis dan tidak tertulis serta tradisinya sangat banyak dan orang yang mengerti tentangnya sangat sedikit. Satu contoh, hal pewarnaan lambang, sejatinya hanya digunakan beberapa warna ini: warna metal: emas/kuning dan perak/putih; warna lain: merah, biru, hijau, ungu (jarang), dan hitam. Aturan dasarnya, metal tidak pernah diletakkan di atas metal dan warna tidak pernah diletakkan di atas warna. Alasannya sederhana sekali, supaya kontras dan dapat terlihat dari jarak jauh.

Lambang Kard. Darmojuwono 1
(www.araldicavaticana.com)
Lambang Kard. Darmojuwono 2
(www.araldicavaticana.com)



YU Justinus Kard. Darmojuwono
(1914-1994)
Lambang uskup, sama juga dengan logo perusahaan, sebenarnya bukanlah suatu yang tidak bisa berubah. Uskup biasanya mulai menggunakan lambang sejak penunjukannya oleh Paus. Kebanyakan uskup mengganti lambang mereka saat dipindahkan dari satu keuskupan ke keuskupan yang lain. Beberapa uskup mengganti lambang dalam rangka menyesuaikan dengan aturan dan tradisi Gereja Katolik. Karena lambang uskup adalah suatu karya seni yang bisa dan boleh saja digambar oleh pelukis-pelukis yang berbeda, bisa terjadi ada beberapa versi lambang seorang uskup yang sama, seperti dua contoh di atas, lambang almarhum Yang Utama Justinus Kardinal Darmojuwono (Uskup Agung Semarang 1963-1981), dan lebih banyak lagi di link ini.


Seorang uskup agung mengenakan galero hijau
dengan 10 jumbai hijau dalam 4 tingkatan
(www.wikipedia.org)
Mari kita kembali ke desain lambang uskup. Setelah membahas perisai dan isinya, berikut ini akan kita bahas hal-hal di luar perisai, mulai dari atas. Seperti juga kebiasaan di luar Gereja, ornamen di luar perisai bisa menunjukkan tingkatan atau ranking dan martabat. Dalam Gereja Katolik Ritus Latin, di atas perisai lambang uskup selalu ditempatkan sebuah topi yang khas, yang disebut galero. Galero adalah topi khas yang dikenakan oleh para klerus dan di bagian tepinya memang dilengkapi dengan jumbai-jumbai, seperti terlihat dalam foto di samping dan lebih banyak lagi di link ini. Banyak pihak yang mengira tali dan jumbai dalam lambang uskup yang sering mereka lihat itu adalah singel alias tali pengikat pinggang yang biasa dikenakan bersama busana liturgis alba. Bukan. Jumbai-jumbai itu memang adalah asesoris topi khas bernama galero itu. Warna topi dan jumbai serta banyaknya jumbai menunjukkan tingkatan klerus. Diakon mengenakan topi hitam tanpa jumbai; imam biasa topi hitam dengan 1 jumbai hitam (pada masing-masing sisi); uskup topi hijau dengan 6 jumbai hijau (disusun dalam tiga tingkatan, 1-2-3 jumbai); uskup agung topi hijau dengan 10 jumbai hijau (1-2-3-4); dan kardinal topi merah dengan 15 jumbai merah (1-2-3-4-5). Selain itu masih banyak lagi tingkatan-tingkatan martabat klerus, seperti protonotaris apostolik, prelatus honorarius, kapelan bapa suci, kanon dan lain sebagainya, yang masing-masing berbeda satu dengan yang lain warna galero dan jumbai serta banyak jumbainya. Sebagai contoh, galero ungu dengan 6 jumbai merah digunakan oleh protonotaris apostolik, dan galero ungu dengan 6 jumbai ungu digunakan oleh prelatus honorarius. Mereka-mereka ini adalah pejabat Gereja yang berhak disapa monsignor tetapi tidak mempunyai martabat uskup.

Di bawah topi klerus bernama galero dan di atas perisai biasa ditempatkan sebuah salib pancang, yang menandakan bahwa pemilik lambang memiliki martabat uskup. Seorang uskup biasa menggunakan salib pancang dengan satu palang mendatar dan seorang uskup agung dengan dua palang mendatar (lihat gambar-gambar lambang uskup agung dan uskup di atas). Salib pancang ini diletakkan di bagian tengah belakang perisai dan terlihat bagian atas serta ujung bawahnya saja. Ada beberapa kasus di mana seorang imam biasa yang sangat dihormati dan berjasa bagi Gereja diangkat menjadi kardinal oleh Paus, tanpa sebelumnya pernah menjadi uskup. Pada umumnya, imam-imam seperti ini menerima tahbisan uskup setelah ditunjuk Paus menjadi kardinal. Akan tetapi, karena satu dan lain hal, mereka bisa juga memohon kepada Paus untuk tidak menerima tahbisan uskup. Dalam kasus ini, mereka berhak menggunakan lambang kardinal, tetapi di dalam lambang mereka tidak ada salib pancang khas uskup. Di bawah ini ada dua contoh lambang kardinal non-uskup: Yang Utama Avery Robert Cardinal Dulles SJ (diangkat oleh Paus St. Yohanes Paulus II pada tahun 2001) dan Yang Utama Domenico Cardinal Bartolucci (diangkat oleh Paus Benediktus XVI pada tahun 2010).

Lambang Card. Dulles
(www.wikipedia.org)
Lambang Card. Bartolucci
(www.wikipedia.org)




Lambang seorang abbas
(www.marcofoppoli.com)
Selain salib pancang, asesoris lain yang kadang terlihat di bawah galero dan di atas perisai adalah mitra/topi dan tongkat gembala uskup. Penggunaan mitra dan tongkat gembala dalam lambang uskup sebenarnya sudah dihapuskan sejak tahun 1969 oleh Paus Paulus VI melalui Ut sive sollicite. Selain itu, ada pula tongkat yang mirip tongkat uskup tapi dilengkapi dengan kain di bagian atas untuk memegang tongkatnya, seperti terlihat di gambar di sebelah ini. Tongkat ini adalah tongkat pastoral lambang yurisdiksi seorang abbas atau kepala biara besar. Lambang seorang abbas biasa dilengkapi dengan tongkat ini. Abbas teritorial yang memiliki martabat uskup akan menggunakan galero hijau dan 6 jumbai hijau. Abbas lain yang tidak memiliki martabat uskup akan menggunakan galero hitam dan 6 jumbai hitam, seperti gambar di sebelah ini.

Akhirnya, di bagian bawah perisai biasanya para uskup menuliskan mottonya; umumnya dalam bahasa Latin, meski ada juga satu dua yang menggunakan bahasa lokal. Ada juga uskup agung metropolitan yang berhak mengenakan pallium dan karenanya memasukkan pallium dalam lambangnya, seperti yang terlihat di gambar paling atas. Pallium adalah asesoris semacam selempang atau kalung yang dikenakan di atas kasula saat uskup agung metropolitan mempersembahkan Misa di wilayah provinsi Gerejawinya. Dalam lambang uskup agung di atas, pallium diletakkan di paling bawah, dan mottonya malahan diletakkan di atas. Tidak lazim memang, tapi bisa juga. Dalam heraldry banyak kok yang tidak biasa namun masih dapat diterima.

Lambang Uskup Malang
YM H. Pidyarto Gunawan, O.Carm.
Tulisan ini mungkin tidak lengkap kalau saya tidak membahas kemungkinan memasukkan unsur-unsur lokal Indonesia ke dalam lambang uskup di Indonesia. Setelah membaca dan mengerti uraian di atas, mungkin Anda akan berpikir bahwa kita di Indonesia bisa saja menggunakan perisai khas Indonesia, perisai Dayak misalnya, untuk lambang uskup-uskup dari Kalimantan. Mari kita bahas. Pertama, karena bentuknya yang ramping memanjang, mungkin akan jadi sulit menyeimbangkannya dengan unsur-unsur lain seturut tradisi Gereja Latin--yang sebaiknya tidak dirubah, yaitu galero dan jumbainya, serta salib pancang dengan satu atau dua palang mendatar. Masalah terbesarnya, perisai Dayak selalu dihiasi dengan motif Dayak juga, dan tidak biasa dibagi-bagi menjadi beberapa bagian dan diisi gambar simbol-simbol seperti perisai-perisai Eropa kan? Kalau mau dipaksakan nanti malah aneh jadinya di mata orang Dayak. Pilihan lain adalah perisai bulat, yang rupanya banyak dipakai para prajurit dari jaman kerajaan-kerajaan Nusantara dulu. Tapi, perisai bulat ala kerajaan-kerajaan Nusantara pun tidak pernah dibagi-bagi menjadi beberapa bagian dan diisi gambar simbol-simbol kan? Kalau mau dipaksakan nanti malah jadinya aneh juga di mata orang lokal.

Kita kadang bingung memikirkan bagaimana melokalkan budaya yang dianggap asing. Di sisi lain, umat seringkali lebih tertarik pada budaya asing, yang dalam banyak kasus dianggap lebih superior? Oh ya, lambang negara kita, Garuda Pancasila berikut perisainya, itu didesain dengan sangat baik dan memenuhi kaidah-kaidah heraldry. Terlihat asing kah? Tidak juga kan? Karena sudah biasa mungkin? Susah-susah memasukkan "rasa Indonesia" di perisai, mungkin salah satu alternatifnya adalah di isi perisainya. Kita mungkin akan sedikit lebih leluasa untuk memasukkan hal-hal yang cukup khas Indonesia, seperti padi dan kapas yang dipakai di lambang negara kita. Atau bisa juga berbagai simbol yang khas Indonesia, ikan sura dan buaya untuk kota Surabaya, misalnya. Bisa jadi yang paling gampang lalu memasukkan landmark kota, seperti Tugu Monas di Jakarta, Tugu Pahlawan di Surabaya, dan tugu-tugu yang lain yang khas masing-masing kota. Hal memilih isi perisai ini kita perlu ekstra hati-hati, jangan sampai memasukkan simbol-simbol yang tidak lazim dalam ilmu heraldry dan akhirnya membuat orang mengerutkan alisnya. Pembahasan soal ini akan jadi panjang sekali dan sama sekali bukan maksud saya untuk menuliskannya di sini. Yang saya sampaikan di atas itu sekedar contoh saja, bahwa urusan memasukkan selera lokal ini sungguh bukan hal yang sederhana. Kalau ada yang perlu berdiskusi, dengan gembira saya akan sediakan waktu dan bagikan apa yang saya tahu. Mari, silakan.

Mereka itu Diakon, Bukan Imam




Beberapa bulan menjelang musim tahbisan imam, yang biasanya diadakan di bulan-bulan Agustus atau September atau bahkan Oktober, beberapa paroki yang beruntung akan ketamuan frater-frater diakon. Mereka ini adalah calon-calon imam yang menjalani masa persiapan terakhir sebelum menerima tahbisan imamat. Frater-frater ini telah menerima tahbisan diakon. Apa itu diakon? Apa bedanya dengan imam? Apa pula bedanya dengan pro-diakon alias asisten imam alias pelayan komuni tak lazim? Silakan simak yang berikut ini.

Umat Katolik mengenal uskup dan imam. Setidaknya imam atau romo di paroki mereka sendiri, yang setiap minggu atau setiap hari mempersembahkan Misa bagi mereka. Konstitusi Dogmatik Lumen Gentium menyebut bahwa, "Pada tingkat hirarki yang lebih rendah terdapat para diakon, yang ditumpangi tangan 'bukan untuk imamat, melainkan untuk pelayanan'. Sebab dengan diteguhkan rahmat sakramental mereka mengabdikan diri kepada umat Allah dalam perayaan liturgi, sabda dan amal kasih, dalam persekutuan dengan uskup dan para imamnya." Lebih lanjut dijabarkan, "Adapun tugas diakon, sejauh dipercayakan kepadanya oleh otoritas yang berwenang, adalah: menerimakan baptis secara meriah, menyimpan dan membagikan Ekaristi, atas nama Gereja menjadi saksi perkawinan dan memberkatinya, mengantarkan Komuni Bekal Suci kepada orang yang mendekati ajalnya, membacakan Kitab Suci kepada kaum beriman, mengajar dan menasihati umat, memimpin ibadat dan doa kaum beriman, menerimakan sakramentali, memimpin upacara-upacara kematian dan pemakaman." (LG 29)

Selama ratusan tahun sebelum Konsili Vatikan II, tahbisan diakon hanya diterimakan kepada mereka-mereka yang menjalani persiapan terakhir untuk tahbisan imamat. Sungguhpun begitu, keberadaan diakon sebagai suatu jabatan tersendiri yang berbeda dengan imam--dan bukan semata sebagai jabatan transisi bagi para frater sebelum mereka menerima tahbisan imamat--telah dimulai sejak jaman para rasul. Kutipan dari Kisah Para Rasul ini menjelaskannya, "Pada masa itu, ketika jumlah murid makin bertambah, timbullah sungut-sungut di antara orang-orang Yahudi yang berbahasa Yunani terhadap orang-orang Ibrani, karena pembagian kepada janda-janda mereka diabaikan dalam pelayanan sehari-hari. Berhubung dengan itu kedua belas rasul itu memanggil semua murid berkumpul dan berkata: 'Kami tidak merasa puas, karena kami melalaikan Firman Allah untuk melayani meja. Karena itu, Saudara-Saudara, pilihlah tujuh orang dari antaramu, yang terkenal baik, dan yang penuh Roh dan hikmat, supaya kami mengangkat mereka untuk tugas itu, dan supaya kami sendiri dapat memusatkan pikiran dalam doa dan pelayanan Firman.' Usul itu diterima baik oleh seluruh jemaat, lalu mereka memilih Stefanus, seorang yang penuh iman dan Roh Kudus, dan Filipus, Prokhorus, Nikanor, Timon, Parmenas dan Nikolaus, seorang penganut agama Yahudi dari Antiokhia. Mereka itu dihadapkan kepada rasul-rasul, lalu rasul-rasul itupun berdoa dan meletakkan tangan di atas mereka." (Kis 6:1-6) Santo Stefanus, salah satu dari ketujuh diakon pertama itu--yang kemudian wafat sebagai martir yang pertama--bukanlah seorang imam. Ia adalah seorang diakon permanen. Beberapa nama diakon permanen lain yang terkenal adalah Santo Laurensius dan Santo Fransiskus dari Asisi. Kedua orang kudus ini pun adalah diakon permanen dan tidak pernah menerima tahbisan imamat sampai akhir hidup mereka.

Paus Paulus VI, berdasarkan amanat para Bapa Konsili Vatikan II, kemudian merestorasi fungsi dan jabatan diakon (permanen) ini dalam Gereja Katolik Ritus Latin. Seperti dinyatakannya dalam Lumen Gentium, "Namun karena tugas-tugas yang bagi kehidupan Gereja sangat penting itu menurut tata-tertib yang sekarang berlaku di Gereja Latin di pelbagai daerah sulit dapat dijalankan, maka dimasa mendatang diakonat dapat diadakan lagi sebagai tingkat hirarki tersendiri dan tetap. Adalah tugas berbagai macam konferensi uskup setempat yang berwenang, untuk menetapkan dengan persetujuan Bapa Suci sendiri, apakah dan di manakah sebaiknya diangkat diakon-diakon seperti itu demi pemeliharaan jiwa-jiwa. Dengan ijin Paus di Roma tahbisan diakonat itu dapat diterimakan kepada pria yang sudah lebih masak usianya, juga yang berkeluarga; pun juga kepada pemuda yang cakap, tetapi bagi mereka ini hukum selibat harus dipertahankan." (LG 29) Pasca promulgasi Lumen Gentium, pada tanggal 18 Juni 1967, Paus Paulus VI mengeluarkan Motu Proprio Sacrum Diaconatus Ordinem, yang berisi Norma-Norma Umum untuk Restorasi Diakonat Permanen di Gereja Latin. Sejak itu, mulailah kembali ditahbiskan diakon-diakon permanen, dan utamanya dari kalangan mereka-mereka yang sudah lebih masak usianya dan/atau sudah berkeluarga.



Di Keuskupan Roma, saat tulisan ini dibuat, ada 122 orang diakon permanen (Annuario Pontificio 2015). Dalam foto di atas terlihat salah seorang diakon permanen Keuskupan Roma sedang mendupai relikui Paus St. Yohanes XXIII dan Paus St. Yohanes Paulus II, dalam Misa Kanonisasi mereka. Di Indonesia, di Keuskupan Surabaya misalnya, Y.M. Uskup Johanes Antonius Klooster, C.M. (1953-1982) pernah menahbiskan beberapa orang diakon permanen, termasuk Diakon J. Wardijo, Diakon A.M. Supomo Hardjoleksono, Diakon Y.G. Sutarno, dan Diakon Y.D. Edhy Sugiharto, yang kesemuanya sudah meninggal saat ini. Keempat diakon permanen itu adalah pria-pria berkeluarga, yang sungguh berdedikasi dalam melaksanakan tugas diakonat mereka di stasi-stasi terpencil di Ngawi dan Madiun, yang pada masa itu belum terlayani oleh imam yang jumlahnya masih belum memadai. Mereka ini menerima tahbisan diakon setelah melalui proses pendidikan dan persiapan selama 4 tahun dan atas persetujuan istri mereka masing-masing. Buah-buah panggilan pun dihasilkan dari keluarga para diakon permanen ini. Romo Prima Novianto Saputro dari Keuskupan Surabaya, adalah putra almarhum Diakon Edhy; Romo Luluk Purwanto dari Keuskupan Surabaya, adalah putra almarhum Diakon Supomo.

Diakon Sutarno (kiri) dan Diakon Edhy (kanan), didampingi istri-istri mereka,
menerima tahbisan diakonat dari Uskup Surabaya Y.M. Johanes Klooster, C.M.
(Foto: Dokumentasi Keluarga)

Kita kembali ke para frater calon imam yang menjalani masa persiapan terakhir sebelum menerima tahbisan imamat. Mereka ini pun ditahbiskan sebagai diakon. Kalau empat diakon dalam paragraf di atas disebut diakon permanen atau diakon tetap, para frater diakon ini adalah diakon transisional. Permanen karena para bapak-bapak itu selamanya menjadi diakon; transisional karena para frater ini hanya akan mengemban jabatan diakon selama masa transisi, sebelum mereka ditahbiskan menjadi imam. Baik diakon permanen maupun diakon transisional menerima tahbisannya dari uskup dan memperoleh kuasa tahbisan yang sama.

Diakon (Permanen) Sutarno
dengan kuasa tahbisan diakonatnya
memberkati sebuah perkawinan Katolik.
(Foto: Dokumentasi Keluarga) 
Para diakon, baik permanen maupun transisional, adalah pelayan komuni yang lazim. Mereka ini termasuk golongan klerus dan berbeda dengan awam yang ditunjuk sebagai asisten imam atau pelayan komuni tak lazim, yang di beberapa keuskupan disebut pro-diakon. Pro-diakon biasanya ditunjuk untuk melayani penerimaan komuni di suatu paroki tertentu dan untuk masa bakti tertentu pula. Di beberapa keuskupan, pro-diakon juga diberi tugas tambahan untuk memimpin upacara seputar kematian. Meski begitu, pro-diakon tetaplah awam dan tidak memiliki kuasa-kuasa tahbisan seperti yang dimiliki oleh diakon yang menerima penumpangan tangan dari uskup.

Diakon memiliki busana khusus yang khas, yang disebut dalmatik, yang dikenakan untuk perayaan-perayaan liturgi yang bersifat meriah. Dalmatik diakon sekilas mirip dengan kasula, busana yang dikenakan imam dalam Misa. Bedanya, dalmatik diakon biasanya berlengan dan bagian bawahnya berbentuk persegi dan tidak membulat. Juga, dalmatik diakon biasanya memiliki dua garis vertikal di sisi kiri dan kanan, dari pundak sampai ke bawah, plus satu atau dua garis horisontal, seperti terlihat dalam gambar di samping ini. Dalmatik diakon tidak wajib dikenakan untuk perayaan-perayaan yang tidak bersifat meriah, Misa harian contohnya. Dalam Misa harian, imam tetap wajib mengenakan kasula, tetapi diakon boleh hanya mengenakan alba dan stola diakon, yang dikenakan miring dari pundak kiri ke pinggang kanan.

Diakon (Transisional) Donna Lozarend
menyampaikan homili dari mimbar
Diakon dapat memimpin sebuah Ibadat Sabda, tetapi ia tidak dapat memimpin Misa. Dalam Misa, diakon bertugas membacakan Injil dan dapat pula ditugaskan oleh imam yang memimpin Misa untuk memberikan homili. Membaca Injil dan memberikan homili dalam Misa memang hanya dapat dilakukan oleh klerus atau kaum tertahbis, termasuk diakon. Apabila ada diakon dalam Misa, hendaknya pembacaan Injil dilakukan olehnya, dan bukan oleh imam, baik selebran utama maupun konselebran, bila ada. Dalam Liturgi Ekaristi, diakon bertugas menyiapkan bahan-bahan persembahan di altar, mulai dari menempatkan korporal, meletakkan patena berisi roti di atasnya dan juga mengisi piala dengan anggur dan air. Selama konsekrasi, diakon berlutut di samping belakang imam, tepatnya mulai dari saat imam memberkati roti dan anggur, sampai setelah elevasi piala. Sesudah konsekrasi, diakon kembali berdiri di samping belakang imam. Saat doksologi agung, "Dengan pengantaraan Kristus, bersama Dia dan dalam Dia ...", imam selebran utama mengangkat patena berisi Tubuh Kristus dan diakon membuka palla dan mengangkat piala berisi Darah Kristus. Ini adalah tugas diakon, dan hendaknya tidak diambil alih oleh konselebran. Saat Paus berkonselebrasi dengan para kardinal pun, piala diangkat oleh diakon dan bukan oleh kardinal yang berada di sebelah kanan Paus. Sesudah komuni, imam dapat dilayani misdinar untuk membilas ujung jari agar tidak ada sisa-sisa Tubuh Kristus yang tertinggal. Imam kemudian kembali ke tempat duduk sementara diakon membersihkan bejana-bejana dan membereskannya. Selain itu semua, diakon juga bertugas menyampaikan ajakan salam damai, ajakan untuk menundukkan kepala menerima berkat penutup dari imam, dan, di akhir Misa mengutus umat dengan kata-kata, "Perayaan Ekaristi sudah selesai" dan "Marilah pergi! Kita diutus."



PS: Berikut ini beberapa catatan yang lebih teknis, yang mungkin terlalu detil bagi pembaca awam. Saat Misa bersama uskup, diakon yang membaca Injil boleh tidak mencium sendiri Injilnya (tradisinya dengan mengangkat sedikit Evangeliarium alias Kitab Injil dalam keadaan terbuka, dan mencium bagian awal perikop yang dibaca), tetapi membawanya ke uskup (dalam keadaaan tertutup) dan menyodorkannya kepada beliau untuk dicium di sampulnya (tidak perlu dibuka; lihat foto di atas). Evangeliarium dihormati dan dicium karena--sama seperti altar--ia adalah lambang Kristus. Kalau diakon membaca Injil dari teks Misa, rasanya tidak perlu lah teks itu dicium pada akhir pembacaan. Oh ya, saat mengucapkan, "Demikianlah Injil Tuhan", tidak seperti kebiasaan selama ini di beberapa tempat, Kitab Injil tidak perlu diangkat (Bdk. Eva A.1.d. hal. xiv). Ada beberapa hal lain yang penting sehubungan dengan penggunaan Evangeliarium. Akan bermanfaat bila rubrik-rubrik untuk penggunaannya yang ada di halaman xiii-xviii dibaca, baik oleh imam maupun diakon yang bertugas. Yang terakhir, diakon dapat membacakan ujud-ujud doa umat, tetapi tidak memimpinnya. Memimpin doa umat adalah tugas imam presiden alias selebran utama, yang bahkan tidak untuk didelegasikan kepada salah seorang imam konselebran.

Silakan klik di link berikut untuk beberapa ketentuan dalam Kitab Hukum Kanonik tentang diakon.

Busana Para Vikaris


Beberapa artikel tentang busana Gereja sudah pernah saya tulis. Beberapa di antaranya atas permintaan Komisi Liturgi KWI, untuk dimuat di Majalah Liturgi. Tulisan ini akan melengkapi artikel tentang Busana Uskup, Busana Liturgi Uskup, Busana Imam, Busana Asisten Imam alias Pelayan Komuni Tak Lazim, Busana Misdinar, dan Busana Pelayan PSHMR yang pernah saya tulis. Semoga tulisan yang ini pun dapat menambah pengetahuan tentang kekayaan tradisi Gereja Katolik kita.

Vikaris adalah sebuah kata dalam Bahasa Indonesia yang diserap dari Bahasa Latin "Vicarius". Kamus Besar Bahasa Indonesia menulis bahwa artinya adalah "pembantu (pengganti) dalam jabatan pimpinan gereja". Dalam artikel ini, saya membatasi pembahasan khusus untuk para Vikjen (Vikaris Jenderal), Vikep (Vikaris Episkopal), Dekan/Deken (Vikaris Foraneus), dan Vikjud (Vikaris Yudisial). Keempat jabatan ini ada di berbagai keuskupan di Indonesia. Selain itu, sebenarnya masih ada juga vikaris-vikaris yang lain. Vikaris Kristus, misalnya, adalah Paus. Vikaris Apostolik, contoh yang lain, adalah jabatan yang dalam banyak kasus diemban oleh klerus dengan martabat uskup. Kedua vikaris yang terakhir ini bukan termasuk yang dibahas di sini.

Banyak umat Katolik mengenal Romo/Pastor Vikjen. "Di setiap keuskupan haruslah diangkat oleh Uskup Diosesan seorang Vikaris Jenderal, yang diberi kuasa berdasar jabatan untuk membantu Uskup memimpin seluruh keuskupan, ..." (Kan 475 §1) Ada juga Vikaris Episkopal--di Keuskupan Surabaya, misalnya. "Setiap kali kepemimpinan yang benar atas keuskupan membutuhkannya, Uskup Diosesan dapat juga mengangkat seorang atau beberapa Vikaris Episkopal yang, di bagian tertentu keuskupan atau dalam bidang tertentu atau untuk kaum beriman ritus tertentu atau kelompok orang-orang tertentu, mempunyai kuasa berdasarkan jabatan, yang menurut hukum universal dimiliki Vikaris Jenderal, ..." (Kan 476) Ada juga Vikaris Foraneus, atau Dekan/Deken--di Keuskupan Agung Jakarta, misalnya. "Vikaris Foraneus, yang juga disebut Dekan/Deken (Decanus) atau Imam Agung (Archipresbyter) atau dengan nama lain, ialah imam yang mengetuai suatu Vikariat Foraneus atau Dekanat/Dekenat." (Kan 553 §1) Yang terakhir, ada juga Vikaris Yudisial atau Vikjud. "Uskup Diosesan manapun wajib mengangkat seorang Vikaris Yudisial atau Ofisial, yang bukan Vikaris Jenderal, dengan kuasa jabatan untuk mengadili, kecuali kecilnya keuskupan atau sedikitnya jumlah perkara menganjurkan lain." (Kan 1420 §1)

Nunsius Filipazzi bersama Romo Jozsef Forro
yang mengenakan sabuk hitam (Foto: Nunsiatura)
Sebelum bicara tentang busana para Vikaris, ada baiknya saya bahas secara singkat tentang Prelatus Minor. Apa itu Prelatus Minor? Banyak umat tahu di Gereja Katolik ada Diakon, Imam, Uskup, Kardinal, dan Paus. Itu hirarkinya secara sederhana. Sebenarnya masih banyak lagi yang terselip di antara mereka. Penyandang martabat Uskup atau yang lebih tinggi biasa disebut secara kolektif sebagai "Prelatus". Prelatus Minor adalah istilah yang dipakai untuk para penyandang martabat-martabat lain di bawah Uskup dan di atas Imam biasa. Termasuk dalam golongan Prelatus Minor ini, di antaranya, adalah Kapelan Bapa Suci (Capellanus Sanctitatis Suae/Chaplain of His Holiness), Prelatus Kehormatan Bapa Suci (Praelatus Honorarius Sanctitatis Suae/Honorary Prelate of His Holiness) dan Protonotaris Apostolik (Protonotarius Apostolicus/Apostolic Protonotary). Para Prelatus Minor berhak mengenakan titel Monsignor, tetapi mereka bukanlah uskup. Di Kedubes Vatikan di Jakarta, sampai awal tahun 2015 yang lalu masih ada Msgr. José Luis Díaz-Mariblanca Sánchez, orang kedua setelah Nunsius, yang adalah seorang Kapelan Bapa Suci. Beliau menggantikan Msgr. Jozsef Forro di foto dari tahun 2013 di atas, yang saat itu adalah seorang imam biasa, karenanya mengenakan sabuk warna hitam. Lalu ada juga Almarhum Msgr. Valentinus Winardi Kartosiswoyo, yang pernah menjadi Pro-Sekretaris KWI, yang menerima martabat Prelatus Kehormatan Bapa Suci pada tahun 1987. Di luar Indonesia banyak imam-imam diosesan yang atas prakarsa uskupnya memperoleh martabat Prelatus Minor ini dari Bapa Suci. Aturan busana untuk para Prelatus Minor cukup rumit dan spesifik. Ada detil-detil kecil yang membedakan antara satu dengan yang lainnya, dan antara mereka dengan Uskup. Singkatnya, dari busananya kita dapat mengetahui martabat seseorang secara tepat.

Nah, sekarang kita kembali ke pembahasan tentang para Vikaris dan busananya. Dalam Caeremoniale Episcoporum (Tata Upacara Para Uskup) terdapat aturan busana para Uskup, Kardinal, Prelatus lain dan Kanonik (bdk. CE 1199-1210). Dokumen asli yang dikutip adalah Ut sive sollicite dan Per instructionem. Akan tetapi, di dokumen-dokumen itu tidak ada aturan tentang busana untuk para Vikaris yang dibahas di sini.

Dalam Motu Proprio Inter Multiplices Curas yang dikeluarkan Paus Pius X pada tahun 1905, diatur bahwa kepada Vikaris Jenderal dan Administrator Diosesan (dahulu disebut Vikaris Kapitular) diberikan martabat Protonotaris Apostolik Tituler selama memangku jabatan tersebut (bdk. IMC 62). Protonotaris Apostolik, seperti yang saya sebut di atas, adalah salah satu Prelatus Minor yang berhak mengenakan gelar Monsignor. Itu sebabnya dalam Annuario Pontificio, direktori yang dikeluarkan Vatikan setiap tahunnya, nama-nama para Vikjen yang berasal dari kalangan imam sekuler (projo) ditulis dengan gelar Monsignor di depannya. (Catatan: Gelar Monsignor [non-uskup] tidak pernah diberikan kepada imam religius) Jabatan Protonotaris Apostolik Tituler ini akhirnya ditiadakan oleh Paus Paulus VI dengan Motu Proprio Pontificalis Domus pada tahun 1968. Meskipun begitu, penulisan nama Vikjen non-religius dengan gelar Monsignor dalam Annuario Pontificio masih tetap dipertahankan; entah mengapa. Mungkin sekedar untuk memudahkan? Karena di banyak keuskupan rupanya banyak Vikjen yang secara individual memiliki martabat Prelatus Minor juga?

Seorang Monsignor non-Uskup
Protonotaris Apostolik memang memiliki busana yang hampir mirip Uskup, lengkap dengan sabuk warna ungunya. Meski begitu, untuk Vikjen yang dahulu adalah Protonotaris Apostolik Kehormatan selama menjabat, busana yang diberikan Paus Pius X sejak awalnya adalah jubah plus sabuk hitam, yang juga dikenakan oleh para Imam biasa (bdk. IMC 67). Itu sebabnya para Protonotaris Tituler ini dikenal sebagai "Black Protonotaries" (bdk. Nainfa, Costume of the Prelates of the Catholic Church, pp. 26-27), karena beliau-beliau ini bermartabat Protonotaris namun mengenakan jubah dan sabuk hitam, bukan ungu. (Catatan: Di daerah tropis warna jubah hitam ini boleh diganti dengan putih)

Vikjen Keuskupan Surabaya
RD Agustinus Tri Budi Utomo
Hal Vikjen mengenakan jubah plus sabuk hitam seturut Inter Multiplices Curas ini sebenarnya tidak bisa dibilang istimewa, karena pada saat itu Imam biasa pun juga mengenakannya. Sejak 1624 Paus Urbanus VIII memang memandatkan pengenaan sabuk hitam ini untuk semua Imam, sebagai penanda hidup yang dibaktikan kepada Kristus. Sebuah sabuk, betapapun indahnya, sejatinya adalah simbol pengekangan diri. Motu Proprio dari Paus Urbanus VIII ini tidak pernah dibatalkan, oleh Pontificalis Domus ataupun aturan-aturan lain pasca Konsili Vatikan II sekalipun (bdk. Noonan, The Church Visible, p. 295). Meski begitu, dalam tiga ratus tahun perkembangannya sejak 1624, pengenaan sabuk hitam ini rupanya mengerucut hanya untuk para pejabat-pejabat tertentu, meski aturan tidak pernah membatasi demikian. Pakar busana Gereja Nainfa, dalam buku klasiknya Costume of the Prelates of the Catholic Church - According to Roman Ettiquette yang diterbitkan 1925, mengisyaratkan demikian. Menurut Nainfa, sabuk atau fascia ini adalah penanda yurisdiksi bagi klerus dan martabat bagi Prelatus (pp 57-58). Lebih jauh, secara spesifik Nainfa juga menyebut bahwa Rektor Seminari, sebagai penanda otoritasnya, pun memiliki privilese mengenakan sabuk hitam (bdk. pp. 58-59).

Vikjud Keuskupan Surabaya
RD AP Dwi Joko, bersama umat
Dari pembahasan di atas, dan dari fakta di lapangan bahwa dewasa ini sabuk hitam sudah tidak lagi dikenakan luas oleh para klerus, seturut aturan-aturan dan sejalan dengan kebiasaan-kebiasaan yang legitim yang berlaku dalam Gereja Katolik, sepakat dengan pakar busana Gereja Nainfa, saya menyarankan pengenaan sabuk hitam bagi para klerus yang mengemban jabatan gerejawi tertentu, termasuk Vikjen, Vikep, Dekan/Deken, Vikjud, dan juga Rektor Seminari. Selain penanda yurisdiksi, sekali lagi, sabuk ini merupakan simbol pengekangan diri dan penanda hidup yang dibaktikan kepada Allah. Uskup dapat menyampaikan hal ini saat menganugerahkannya kepada para Vikaris. Dari sudut pandang umat, suka atau tidak, percaya atau tidak, asesoris kecil ini sungguh dapat membantu mereka dalam menerima wakil-wakil Uskup yang hadir dan menjalankan tugas atas nama beliau.

Di beberapa keuskupan mungkin Vikjen atau Administrator Diosesan atau vikaris-vikaris yang lain ada yang mengenakan busana yang mirip dengan busana Uskup, dengan sabuk sutera ungunya. Jangan buru-buru ditiru. Bisa jadi secara individual beliau-beliau itu memang mempunyai martabat Prelatus Minor, dan karenanya berhak atas gelar Monsignor, dan juga berhak mengenakan busana sesuai martabatnya. Msgr. Karto, misalnya, pernah menjadi Vikjen Keuskupan Bogor dan juga Vikjud Keuskupan Agung Semarang. Beliau mengenakan busana yang menjadi haknya sebagai penyandang martabat Prelatus Kehormatan Bapa Suci, yaitu jubah hitam/putih dengan jahitan, plipit dan kancing warna merah crimson (bukan ungu) yang sama dengan jubah seorang Uskup, namun tanpa tambahan mantol kecil di pundak/dadanya dan juga tanpa salib dada serta tanpa solideo atau topi kecil ungu khas Uskup. Vikjen atau Vikjud yang lain yang tidak memiliki martabat Prelatus Minor hendaknya tidak dibuatkan busana seperti Msgr. Karto.

Oh ya, tadi saya menyebut warna jahitan, plipit dan kancing untuk jubah Uskup dan Prelatus Kehormatan Bapa Suci adalah merah crimson. Memang begitulah yang seharusnya. Di Indonesia kebanyakan penjahit jubah uskup mungkin tidak tahu detil ini dan mengunakan warna ungu. Jahitan, plipit dan kancing ungu sebenarnya adalah ciri khas jubah Kapelan Bapa Suci, yang secara martabat ada di bawah Uskup dan Prelatus Kehormatan Bapa Suci.

Solideo hitam untuk imam
Yang terakhir, hal topi kecil bundar, yang sering kita lihat dipakai Uskup, Kardinal dan Paus. Di Indonesia topi ini dikenal dengan nama solideo. Nama lainnya adalah pilleolus atau zucchetto atau calotte. Topi ini sebenarnya awalnya adalah penutup kepala untuk semua klerus yang sudah menerima tonsura atau penggundulan bagian atas kepala seperti yang sering kita lihat di patung-patung St. Fransiskus Asisi atau St. Antonius Padua dan lain-lain. Dengan ditinggalkannya tradisi penggundulan kepala ini, penggunaan solideo di kalangan klerus pun memudar. Tinggal Prelatus saja yang sekarang kita lihat masih menggunakan solideo. Padahal, solideo sebenarnya dapat dikenakan oleh semua tingkatan klerus (Noonan, p. 306). Warna solideo mengikuti juga warna jubah dan sabuk: putih untuk Paus, merah untuk Kardinal, ungu untuk Uskup, dan hitam untuk Imam. Bila dikehendaki, para Vikaris dapat menggunakan solideo warna hitam, melengkapi sabuk hitam mereka. Solideo hitam ini harus dilepas di sakristi sebelum mereka memimpin atau mengikuti upacara liturgi (Noonan, p. 307). Dalam hal ini aturannya memang sedikit beda dengan Uskup, yang boleh tetap mengenakannya, dan hanya melepasnya saat ada kehadiran nyata Kristus dalam rupa Sakramen Mahakudus. Semua solideo hendaknya dilepas (sejenak) saat kedatangan atau kehadiran Prelatus yang lebih tinggi, sebagai ungkapan rasa hormat. Dalam foto di bawah ini terlihat bahwa Paus Emeritus Benedictus XVI pun melepas solideonya, sebagai ungkapan penghormatan, saat beliau dihampiri oleh Paus Franciscus; dari sini kita belajar bersikap rendah hati dan menghormati seorang Ordinaris.

Paus Emeritus Benedictus XVI melepas solideonya (dipegang)
menghormati Paus Franciscus yang menghampiri beliau