Lambang Uskup


Lambang seorang uskup agung
(www.rivisondoliantiqua.it)
Kita pernah melihat lambang uskup-uskup kita, dan juga lambang para kardinal dan Paus, yang masing-masing berbeda satu dengan yang lain. Bagaimana sejarah dan latar belakang penggunaan lambang ini, dan bagaimana Gereja Katolik mengadopsi dan melestarikan tradisi penggunaan lambang ini selama beratus-ratus tahun? Saya akan coba jelaskan secara garis besar di bawah ini.

Penggunaan lambang diawali oleh para ksatria di abad pertengahan sebagai sarana identifikasi diri pribadi mereka, dan di kemudian hari identifikasi keluarga mereka. Dari awal abad ke-12, para ksatria telah menggunakan lambang pribadi pada baju zirah dan peralatan perang mereka, utamanya di helm dan perisai. Dengan mengenakan baju zirah dan helm dari metal yang menutup seluruh tubuh dan wajah, tidak ada lagi ciri pribadi yang terlihat dari mereka, sehingga orang hanya dapat dikenali dari lambang yang dikenakan. Kebutuhan untuk dapat dikenali ini lalu ditambah dengan dorongan untuk memperindah peralatan perang dengan warna-warna yang cerah, yang terlihat dari jarak jauh. Kesemuanya ini lalu tidak hanya digunakan dalam pertempuran yang sesungguhnya, namun juga dalam berbagai turnamen atau pertandingan adu ketangkasan menggunakan senjata. Kebiasaan menandai peralatan perang dengan lambang ini kemudian meluas aplikasinya ke stempel pribadi atau keluarga, penempatan lambang di eksterior kastil dan berbagai tanah, bangunan, dan harta milik mereka, di berbagai peralatan rumah tangga, di pelana dan perhiasan yang dikenakan pada kuda-kuda mereka, dan akhirnya juga pada batu nisan dan monumen yang dibangun di atas makam mereka.

(www2.thesetonfamily.com)
Dengan ditemukannya bahan peledak dan digunakannya secara luas dalam peperangan di abad ke-14, penggunaan baju zirah dan perisai menjadi tidak penting lagi dan bahkan dapat menghambat mobilitas para ksatria dan prajurit. Kebutuhan memasang lambang di baju zirah dan perisai hanya tinggal untuk kepentingan turnamen atau pertandingan saja, yang masih tetap ada. Ini berlangsung sampai akhir abad ke-15.

(www.electrummagazine.com)
Sejak abad ke-12, para wanita bangsawan, dan mulai abad ke-13, klerus dan juga anggota masyarakat yang tidak pernah ikut berperang pun mengikuti kebiasaan para ksatria untuk menggunakan lambang. Demikian juga dengan lembaga-lembaga publik, korporasi, dan juga institusi-institusi Gerejawi (keuskupan, biara/pertapaan, dan kapitel-kapitel, sebagai contohnya) pun mengadopsi penggunaan lambang pada stempel dan segel mereka. Penggunaan lambang lalu tidak hanya terbatas pada perang dan turnamen, tetapi berkembang menjadi sebuah bentuk identifikasi pribadi, yang manakala ditempatkan pada benda-benda menunjukkan kepemilikan atasnya. Penggunaan lambang lalu menjadi simbol kedaulatan, yurisdiksi, perlindungan, klaim atas teritorial/wilayah, dan secara universal diterima sebagai suatu tanda penghargaan.

Michel Pastoureau dalam bukunya Heraldry: Its Origins and Meaning (1997) meringkasnya dengan amat baik, "Heraldry atau seni perlambangan adalah peninggalan yang hidup dari dunia abad pertengahan para ksatria Eropa yang agung. Awalnya diperkenalkan sebagai alat identifikasi dalam pertempuran dan dalam turnamen, secara bertahap ia menyebar ke masyarakat luas. Hari ini para ksatria berbaju zirah dan banyak keluarga yang menggunakan lambang ini sudah tidak ada lagi, namun tradisi perlambangan ini tetap hidup dalam berbagai lambang kerajaan dan negara, bendera, emblem, rambu-rambu di jalan, lencana olah raga, dan logo perusahaan dari dunia modern."

Di awal abad ke-20, seni menggunakan lambang ini tumbuh pesat dan diikuti dengan selera yang baik pula. Trend ini dipromosikan di banyak negara oleh perkumpulan-perkumpulan spesialis, yang mendorong simplifikasi lambang, yang tidak hanya lebih dekat dengan semangat dan etos awal penggunaan lambang ini, namun juga sesuai dengan selera pada jamannya. Hukum yang paling utama dari desain sebuah lambang yang baik adalah visibilitas atau keterlihatannya dari jarak yang jauh. Disadarkan akan hal ini, orang lalu kembali pada penggunaan warna-warna yang kontras dan simbol-simbol yang sederhana dan mudah dikenali dari jarak jauh.

Lambang seorang uskup
(www.marcofoppoli.com)
Dari penjelasan tentang asal muasal penggunaan lambang di atas, dapat dimengerti bahwa bagian paling utama dari sebuah lambang uskup adalah perisainya. Bentuk perisai ini bisa bermacam-macam, dan dipengaruhi juga oleh tradisi masing-masing daerah atau negara, seperti terlihat pada gambar di bawah ini. Untuk menghindari kesan maskulin, para wanita--termasuk abdis atau pemimpin biara khusus wanita--bisa juga menggunakan bentuk oval atau belah ketupat untuk menggantikan perisai. Ada pula yang ingin menghindari kesan militer dan mengganti perisai dengan perkamen atau lembaran kertas model kuno, meski yang ini relatif jarang. Perisai yang digunakan lalu dapat dibagi-bagi menjadi beberapa bagian, dengan teknik membagi yang beragam pula, sesuai gambar di bawah ini.

Bentuk perisai dan negara asal tradisi
(upload.wikimedia.org)
Membagi
perisai

Langkah berikutnya adalah memasukkan simbol-simbol yang dikehendaki ke dalam bagian-bagian perisai di atas itu. Simbol yang dipakai dapat berupa figur manusia, bagian tubuh manusia, binatang, bagian tubuh binatang, monster, tumbuhan, daun, bunga, buah, bintang, simbol-simbol religius, perkakas, simbol profesi atau perdagangan, dan lain sebagainya. Apapun yang dimasukkan, selalu digambar dengan sederhana dan seringkali dengan penekanan secara berlebihan, lebih ke arah karikatur daripada realisme. Binatang buas atau monster selalu ditampilkan dengan pose paling ganas dan agresif. Count de Saint-Saud dalam Armorial des Prélats français (1908) mengingatkan agar kita tidak menggunakan wajah Sang Penebus, Perawan Suci atau Para Kudus untuk mengisi perisai. Perlu diingat bahwa seturut tradisi Gereja universal, lambang uskup bisa dan biasa diaplikasikan di mana-mana, termasuk di lantai marmer/granit atau karpet di dalam gereja dan bangunan-bangunan lainnya milik keuskupan, yang akan dilewati dan diinjak-injak orang; atau juga dibordir di bantal yang akan diduduki orang (bdk. p. 10) Sebagai gantinya, kita bisa menggunakan simbol-simbol yang biasa dikaitkan dengan orang kudus tertentu, misalnya: kunci surga untuk St. Petrus, pedang untuk St. Paulus dan juga para martir, pisau untuk St. Bartolomeus, kerang untuk St. Yakobus, anjing untuk St. Dominikus, burung gagak untuk St. Benediktus (bdk. Heim, Heraldry in the Catholic Church: Its Origin, Customs and Laws, 1978, p. 148).

Ikhwal desain dan penggunaan lambang ini telah berkembang menjadi suatu bidang ilmu dan seni serta keahlian tersendiri yang sungguh rumit: heraldry. Di dalamnya, pun ada cabang khusus untuk lambang-lambang Gerejawi, yang dikenal dengan nama ecclesiatical heraldry. Para pakarnya, di antaranya, adalah Cardinal Cordero Lanza di Montezemolo dan Uskup Agung Bruno Bernard Heim, yang pernah menerbitkan buku tentangnya (foto kiri dan bawah). Di banyak negara, ada lembaga-lembaga yang mengatur tentang desain dan penggunaan lambang. Selain aturan-aturan yang tertulis ada pula banyak norma dan tradisi yang tidak tertulis yang perlu ditaati dan diikuti oleh para desainer lambang yang baik. Kegagalan mengikuti norma dan tradisi ini membuat desain lambang menjadi tidak lazim dan aneh, dan dalam beberapa kasus melanggar aturan yang ditetapkan oleh institusi yang berhak mengaturnya. Sebagai bagian dari Gereja Katolik universal, Gereja partikular yang dipimpin uskup pun wajib taat pada norma-norma dan tradisi Gereja berkaitan dengan desain dan penggunaan lambang uskup.

Dalam Gereja Katolik universal yang dipimpin Paus, penggunaan lambang uskup merupakan lingkup pekerjaan Kongregasi Ibadat Ilahi dan Disiplin Sakramen, yang tugas utamanya mengatur hal ikhwal liturgi Gereja. Berbagai aturan pernah dikeluarkan oleh Vatikan, mulai dari Konstitusi Apostolik Militantis Ecclesiae regimini (Innocentius X, 1644) sampai ke Motu Proprio Inter multiplices curas (Pius X, 1905) dan Instruksi Ut sive sollicite (Paulus VI, 1969). Sebenarnya, Gereja hanya mengurusi tradisi dan hirarki dan tidak membahas hal lambang keluarga yang masih digunakan beberapa klerus yang memiliki/mewarisinya--biasanya para klerus dari keturunan bangsawan. Di Inggris, adopsi lambang diatur oleh Kolegium Lambang dan mereka yang mendaftarkan lambangnya harus membayar retribusi. Di Austria dan beberapa negara lain pun ada aturan serupa.

Karena ketidaktahuan, desain lambang uskup Gereja Katolik Romawi banyak kali menyimpang dari norma dan kebiasaan desain lambang secara umum ataupun sekedar pilihan yang kurang baik atau tidak indah. Untuk mengatasi hal ini, dalam masa pontifikasi Paus Pius X, uskup-uskup baru di Italia diminta untuk mencari advis dari Collegio Araldico, yang telah didirikan tahun 1853 dalam masa pontifikasi Paus Pius IX dan sampai sekarang masih ada sebagai suatu akademi privat. Hal mendesain lambang memang tidak semudah mendesain logo perusahaan di jaman modern. Aturan tertulis dan tidak tertulis serta tradisinya sangat banyak dan orang yang mengerti tentangnya sangat sedikit. Satu contoh, hal pewarnaan lambang, sejatinya hanya digunakan beberapa warna ini: warna metal: emas/kuning dan perak/putih; warna lain: merah, biru, hijau, ungu (jarang), dan hitam. Aturan dasarnya, metal tidak pernah diletakkan di atas metal dan warna tidak pernah diletakkan di atas warna. Alasannya sederhana sekali, supaya kontras dan dapat terlihat dari jarak jauh.

Lambang Kard. Darmojuwono 1
(www.araldicavaticana.com)
Lambang Kard. Darmojuwono 2
(www.araldicavaticana.com)



YU Justinus Kard. Darmojuwono
(1914-1994)
Lambang uskup, sama juga dengan logo perusahaan, sebenarnya bukanlah suatu yang tidak bisa berubah. Uskup biasanya mulai menggunakan lambang sejak penunjukannya oleh Paus. Kebanyakan uskup mengganti lambang mereka saat dipindahkan dari satu keuskupan ke keuskupan yang lain. Beberapa uskup mengganti lambang dalam rangka menyesuaikan dengan aturan dan tradisi Gereja Katolik. Karena lambang uskup adalah suatu karya seni yang bisa dan boleh saja digambar oleh pelukis-pelukis yang berbeda, bisa terjadi ada beberapa versi lambang seorang uskup yang sama, seperti dua contoh di atas, lambang almarhum Yang Utama Justinus Kardinal Darmojuwono (Uskup Agung Semarang 1963-1981), dan lebih banyak lagi di link ini.


Seorang uskup agung mengenakan galero hijau
dengan 10 jumbai hijau dalam 4 tingkatan
(www.wikipedia.org)
Mari kita kembali ke desain lambang uskup. Setelah membahas perisai dan isinya, berikut ini akan kita bahas hal-hal di luar perisai, mulai dari atas. Seperti juga kebiasaan di luar Gereja, ornamen di luar perisai bisa menunjukkan tingkatan atau ranking dan martabat. Dalam Gereja Katolik Ritus Latin, di atas perisai lambang uskup selalu ditempatkan sebuah topi yang khas, yang disebut galero. Galero adalah topi khas yang dikenakan oleh para klerus dan di bagian tepinya memang dilengkapi dengan jumbai-jumbai, seperti terlihat dalam foto di samping dan lebih banyak lagi di link ini. Banyak pihak yang mengira tali dan jumbai dalam lambang uskup yang sering mereka lihat itu adalah singel alias tali pengikat pinggang yang biasa dikenakan bersama busana liturgis alba. Bukan. Jumbai-jumbai itu memang adalah asesoris topi khas bernama galero itu. Warna topi dan jumbai serta banyaknya jumbai menunjukkan tingkatan klerus. Diakon mengenakan topi hitam tanpa jumbai; imam biasa topi hitam dengan 1 jumbai hitam (pada masing-masing sisi); uskup topi hijau dengan 6 jumbai hijau (disusun dalam tiga tingkatan, 1-2-3 jumbai); uskup agung topi hijau dengan 10 jumbai hijau (1-2-3-4); dan kardinal topi merah dengan 15 jumbai merah (1-2-3-4-5). Selain itu masih banyak lagi tingkatan-tingkatan martabat klerus, seperti protonotaris apostolik, prelatus honorarius, kapelan bapa suci, kanon dan lain sebagainya, yang masing-masing berbeda satu dengan yang lain warna galero dan jumbai serta banyak jumbainya. Sebagai contoh, galero ungu dengan 6 jumbai merah digunakan oleh protonotaris apostolik, dan galero ungu dengan 6 jumbai ungu digunakan oleh prelatus honorarius. Mereka-mereka ini adalah pejabat Gereja yang berhak disapa monsignor tetapi tidak mempunyai martabat uskup.

Di bawah topi klerus bernama galero dan di atas perisai biasa ditempatkan sebuah salib pancang, yang menandakan bahwa pemilik lambang memiliki martabat uskup. Seorang uskup biasa menggunakan salib pancang dengan satu palang mendatar dan seorang uskup agung dengan dua palang mendatar (lihat gambar-gambar lambang uskup agung dan uskup di atas). Salib pancang ini diletakkan di bagian tengah belakang perisai dan terlihat bagian atas serta ujung bawahnya saja. Ada beberapa kasus di mana seorang imam biasa yang sangat dihormati dan berjasa bagi Gereja diangkat menjadi kardinal oleh Paus, tanpa sebelumnya pernah menjadi uskup. Pada umumnya, imam-imam seperti ini menerima tahbisan uskup setelah ditunjuk Paus menjadi kardinal. Akan tetapi, karena satu dan lain hal, mereka bisa juga memohon kepada Paus untuk tidak menerima tahbisan uskup. Dalam kasus ini, mereka berhak menggunakan lambang kardinal, tetapi di dalam lambang mereka tidak ada salib pancang khas uskup. Di bawah ini ada dua contoh lambang kardinal non-uskup: Yang Utama Avery Robert Cardinal Dulles SJ (diangkat oleh Paus St. Yohanes Paulus II pada tahun 2001) dan Yang Utama Domenico Cardinal Bartolucci (diangkat oleh Paus Benediktus XVI pada tahun 2010).

Lambang Card. Dulles
(www.wikipedia.org)
Lambang Card. Bartolucci
(www.wikipedia.org)




Lambang seorang abbas
(www.marcofoppoli.com)
Selain salib pancang, asesoris lain yang kadang terlihat di bawah galero dan di atas perisai adalah mitra/topi dan tongkat gembala uskup. Penggunaan mitra dan tongkat gembala dalam lambang uskup sebenarnya sudah dihapuskan sejak tahun 1969 oleh Paus Paulus VI melalui Ut sive sollicite. Selain itu, ada pula tongkat yang mirip tongkat uskup tapi dilengkapi dengan kain di bagian atas untuk memegang tongkatnya, seperti terlihat di gambar di sebelah ini. Tongkat ini adalah tongkat pastoral lambang yurisdiksi seorang abbas atau kepala biara besar. Lambang seorang abbas biasa dilengkapi dengan tongkat ini. Abbas teritorial yang memiliki martabat uskup akan menggunakan galero hijau dan 6 jumbai hijau. Abbas lain yang tidak memiliki martabat uskup akan menggunakan galero hitam dan 6 jumbai hitam, seperti gambar di sebelah ini.

Akhirnya, di bagian bawah perisai biasanya para uskup menuliskan mottonya; umumnya dalam bahasa Latin, meski ada juga satu dua yang menggunakan bahasa lokal. Ada juga uskup agung metropolitan yang berhak mengenakan pallium dan karenanya memasukkan pallium dalam lambangnya, seperti yang terlihat di gambar paling atas. Pallium adalah asesoris semacam selempang atau kalung yang dikenakan di atas kasula saat uskup agung metropolitan mempersembahkan Misa di wilayah provinsi Gerejawinya. Dalam lambang uskup agung di atas, pallium diletakkan di paling bawah, dan mottonya malahan diletakkan di atas. Tidak lazim memang, tapi bisa juga. Dalam heraldry banyak kok yang tidak biasa namun masih dapat diterima.

Lambang Uskup Malang
YM H. Pidyarto Gunawan, O.Carm.
Tulisan ini mungkin tidak lengkap kalau saya tidak membahas kemungkinan memasukkan unsur-unsur lokal Indonesia ke dalam lambang uskup di Indonesia. Setelah membaca dan mengerti uraian di atas, mungkin Anda akan berpikir bahwa kita di Indonesia bisa saja menggunakan perisai khas Indonesia, perisai Dayak misalnya, untuk lambang uskup-uskup dari Kalimantan. Mari kita bahas. Pertama, karena bentuknya yang ramping memanjang, mungkin akan jadi sulit menyeimbangkannya dengan unsur-unsur lain seturut tradisi Gereja Latin--yang sebaiknya tidak dirubah, yaitu galero dan jumbainya, serta salib pancang dengan satu atau dua palang mendatar. Masalah terbesarnya, perisai Dayak selalu dihiasi dengan motif Dayak juga, dan tidak biasa dibagi-bagi menjadi beberapa bagian dan diisi gambar simbol-simbol seperti perisai-perisai Eropa kan? Kalau mau dipaksakan nanti malah aneh jadinya di mata orang Dayak. Pilihan lain adalah perisai bulat, yang rupanya banyak dipakai para prajurit dari jaman kerajaan-kerajaan Nusantara dulu. Tapi, perisai bulat ala kerajaan-kerajaan Nusantara pun tidak pernah dibagi-bagi menjadi beberapa bagian dan diisi gambar simbol-simbol kan? Kalau mau dipaksakan nanti malah jadinya aneh juga di mata orang lokal.

Kita kadang bingung memikirkan bagaimana melokalkan budaya yang dianggap asing. Di sisi lain, umat seringkali lebih tertarik pada budaya asing, yang dalam banyak kasus dianggap lebih superior? Oh ya, lambang negara kita, Garuda Pancasila berikut perisainya, itu didesain dengan sangat baik dan memenuhi kaidah-kaidah heraldry. Terlihat asing kah? Tidak juga kan? Karena sudah biasa mungkin? Susah-susah memasukkan "rasa Indonesia" di perisai, mungkin salah satu alternatifnya adalah di isi perisainya. Kita mungkin akan sedikit lebih leluasa untuk memasukkan hal-hal yang cukup khas Indonesia, seperti padi dan kapas yang dipakai di lambang negara kita. Atau bisa juga berbagai simbol yang khas Indonesia, ikan sura dan buaya untuk kota Surabaya, misalnya. Bisa jadi yang paling gampang lalu memasukkan landmark kota, seperti Tugu Monas di Jakarta, Tugu Pahlawan di Surabaya, dan tugu-tugu yang lain yang khas masing-masing kota. Hal memilih isi perisai ini kita perlu ekstra hati-hati, jangan sampai memasukkan simbol-simbol yang tidak lazim dalam ilmu heraldry dan akhirnya membuat orang mengerutkan alisnya. Pembahasan soal ini akan jadi panjang sekali dan sama sekali bukan maksud saya untuk menuliskannya di sini. Yang saya sampaikan di atas itu sekedar contoh saja, bahwa urusan memasukkan selera lokal ini sungguh bukan hal yang sederhana. Kalau ada yang perlu berdiskusi, dengan gembira saya akan sediakan waktu dan bagikan apa yang saya tahu. Mari, silakan.

4 comments:

Serapion Wiratsaha said...

Lambang Uskup-uskup Indonesia pada umumnya mencantumkan ciri khas Keuskupan setempat.
Mungkin bisa diulas mendalam tentang makna-maknanya. Seperti pernah dimuat tentang lambang Uskup Surabaya, YM. Sutikno.
Lambang Uskup Malang juga menarik untuk diulas, mengingat mencantumkan bunga bakung (Lily) pada kuadran kanannya.
Terima kasih

Albert Wibisono said...

Seturut tradisi ilmu perlambangan, lambang uskup adalah properti pribadi uskup yang bersangkutan. Simbol-simbol yang ada seharusnya lebih ke pribadi uskup yang bersangkutan; lebih berbicara mengenai tempat kelahiran atau daerah asal uskup yang bersangkutan daripada wilayah kegembalaannya (bila berbeda). Meski begitu, ada tradisi bagi seorang uskup untuk memasukkan lambang keuskupannya (bila ada) ke dalam salah satu bidang di lambang sang uskup. Ini sifatnya opsional dan tidak selalu dilakukan.

Makna lambang YM Sutikno dan lain-lain uskup banyak ditemukan di internet. Untuk YM Pidyarto, di bawah ini adalah penjelasan resminya:

Lambang Uskup Henricus Pidyarto Gunawan adalah perisai yang terbagi menjadi tiga bagian, dengan pola pembagian yang digunakan dalam lambang Ordo Fratrum Beatae Virginis Mariae de Monte Carmelo atau Ordo Karmel, tarekat religius yang kepadanya beliau mengikrarkan kaul kekal pada tahun 1981. Di bagian kiri atas, dengan latar belakang merah, adalah Kitab Suci, bidang minat beliau. Mewartakan Sabda Allah merupakan prioritas beliau. Di bagian kanan atas, dengan latar belakang biru, adalah fleur-de-lis atau bunga lili atau bunga bakung berwarna kuning keemasan. Bunga bakung di sini melambangkan Santa Perawan Maria, Bunda Allah, yang sungguh beliau kasihi. Di bagian tengah bawah, dengan latar belakang putih, adalah Monumen Tugu di Kota Malang, tempat kelahiran beliau. Di atas perisai ditempatkan sebuah galero atau topi khas klerus berwarna hijau, dengan 6 jumbai pada masing-masing sisinya. Di bagian tengah belakang perisai adalah sebuah salib pancang berwarna kuning keemasan. Galero hijau dengan 6 jumbai berikut salib pancang ini merupakan penanda bahwa sang empunya lambang adalah seorang uskup. Akhirnya, di bagian bawah perisai terdapat pita berwarna kuning keemasan, bertuliskan motto penggembalaan Uskup Pidyarto dalam Bahasa Latin: Fideliter Praedicare Evangelium Christi, yang artinya Dengan Setia Mewartakan Injil Kristus.

Penjaga Pojok said...

terima kasih atas penjelasan yang diberikan. bahan ini membantu saya dalam memberikan pengayaan materi pembelajaran kepada para siswa seputar lambang hirarki terutama lambang uskup, kardinal, dan paus.

Albert Wibisono said...

Terima kasih kembali, Romo. Maaf, materi ini diajarkan di seminari kah?