<?xml version='1.0' encoding='UTF-8'?><?xml-stylesheet href="http://www.blogger.com/styles/atom.css" type="text/css"?><feed xmlns='http://www.w3.org/2005/Atom' xmlns:openSearch='http://a9.com/-/spec/opensearchrss/1.0/' xmlns:georss='http://www.georss.org/georss' xmlns:gd='http://schemas.google.com/g/2005' xmlns:thr='http://purl.org/syndication/thread/1.0'><id>tag:blogger.com,1999:blog-2222578442435492672</id><updated>2012-02-09T18:59:53.732+07:00</updated><category term='Ibadat Harian'/><category term='Misa'/><category term='Misdinar'/><category term='Asisten Imam'/><category term='Piranti Liturgi'/><category term='Paus'/><category term='Kardinal'/><category term='Lektor'/><category term='Busana'/><category term='Imam'/><category term='Basilika'/><category term='Diakon'/><category term='Uskup'/><category term='Schola Cantorum Surabaiensis'/><category term='Katedral'/><category term='Magister Caeremoniarum (MC)'/><category term='Koor'/><category term='Gregorian'/><title type='text'>Tradisi Katolik</title><subtitle type='html'>Liturgi dan lain-lain yang berkaitan dengan tradisi Gereja Katolik</subtitle><link rel='http://schemas.google.com/g/2005#feed' type='application/atom+xml' href='http://tradisikatolik.blogspot.com/feeds/posts/default'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/2222578442435492672/posts/default?max-results=100'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://tradisikatolik.blogspot.com/'/><link rel='hub' href='http://pubsubhubbub.appspot.com/'/><author><name>Albert Wibisono</name><uri>http://www.blogger.com/profile/06599163203686361131</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='16' height='16' src='http://img2.blogblog.com/img/b16-rounded.gif'/></author><generator version='7.00' uri='http://www.blogger.com'>Blogger</generator><openSearch:totalResults>32</openSearch:totalResults><openSearch:startIndex>1</openSearch:startIndex><openSearch:itemsPerPage>100</openSearch:itemsPerPage><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-2222578442435492672.post-843965118351111604</id><published>2012-02-07T23:21:00.000+07:00</published><updated>2012-02-07T23:23:36.214+07:00</updated><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='Katedral'/><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='Uskup'/><title type='text'>Nuncio Berkati Katedral Tanjung Selor</title><content type='html'>&lt;br /&gt;&lt;div class="separator" style="clear: both; text-align: center;"&gt;&lt;a href="http://4.bp.blogspot.com/-UG13OcS-fGE/TzFN6JgB8QI/AAAAAAAAAZE/PZgSXQMVlx8/s1600/Katedral+TS.jpg" imageanchor="1" style="clear: left; float: left; margin-bottom: 1em; margin-right: 1em;"&gt;&lt;img border="0" height="320" src="http://4.bp.blogspot.com/-UG13OcS-fGE/TzFN6JgB8QI/AAAAAAAAAZE/PZgSXQMVlx8/s320/Katedral+TS.jpg" width="239" /&gt;&lt;/a&gt;&lt;/div&gt;Minggu, 5 Februari 2012 yang lalu saya pergi ke Tanjung Selor. Bagi yang belum tahu, kota ini 1,5 jam perjalanan dengan speed-boat jauhnya dari Tarakan di bagian utara Kaltim. &lt;a href="http://www.catholic-hierarchy.org/diocese/dtase.html"&gt;Keuskupan Tanjung Selor&lt;/a&gt; yang dipimpin Yang Mulia &lt;a href="http://www.catholic-hierarchy.org/bishop/bharj.html"&gt;Yustinus Harjosusanto&lt;/a&gt; punya hajat besar. Duta Besar Tahta Suci Yang Mulia &lt;a href="http://www.catholic-hierarchy.org/bishop/bfilipaz.html"&gt;Antonio Guido Filipazzi&lt;/a&gt; memimpin Upacara Dedikasi Gereja Katedral mereka yang baru. Upacara agung ini dihadiri oleh 15 uskup plus beberapa puluh imam dan klerus dan sekitar dua ribuan umat. Berikut ini oleh-oleh saya yang pertama, Homili Nuncio. Semoga di kesempatan berikutnya saya bisa menulis tentang Tata Perayaan Dedikasi (=Pemberkatan) Gereja dan Altar, suatu ritus yang sungguh indah dan sarat makna. Untuk sekarang, silakan menikmati yang ini dulu.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Homili Duta Besar Tahta Suci untuk Indonesia&lt;br /&gt;Yang Mulia Uskup Agung&amp;nbsp;Antonio Guido Filipazzi&lt;br /&gt;Pada Upacara Dedikasi Gereja Katedral Tanjung Selor&lt;br /&gt;5 Februari 2012&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;1.&amp;nbsp;Liturgi pemberkatan gereja katedral yang sedang kita lakukan, tidak hanya berkait dengan rumah ibadat ini yang didirikan berkat kasih dan upaya dari bapa uskup, para imam dan umat sekalian, yang pantas dikagumi. Liturgi ini merujuk pada dua bait Allah yang lain. Tuhan diam dan berkarya baik dalam gereja-Nya maupun dalam hati setiap orang Kristiani. Oleh karena itu pemberkatan gereja katedral ini bukan semata-mata peresmian belaka, ataupun sebuah acara yang indah yang menuntaskan pekerjaan dan upaya yang besar. Melalui pemberkatan gereja katedral yang baru ini, kita menjadi sadar kembali akan maksud gereja yang sebenarnya dan juga akan arti jiwa kita dalam relasi dengan Allah. Oleh karena itu saya ingin mengajak saudara sekalian untuk merenungkan kembali tentang bait Allah yang bersisi tiga, sebagaimana dilukiskan oleh liturgi.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;2.&amp;nbsp;Allah dapat ditemukan di setiap tempat, namun sepanjang jaman manusia mencari-Nya di tempat-tempat khusus. Demikian juga umat Israel memiliki Bait Allah di Yerusalem sebagai pusat kehidupannya. Umat Israel yang baru, yakni Gereja, berkumpul di gedung-gedung yang kita bangun dan kita khususkan untuk perjumpaan dengan Allah sendiri. Di setiap gereja, besar atau kecil, kuno atau baru seperti gereja katedral ini, kita menerima kebenaran dan kasih karunia Allah, karena di tempat seperti inilah Dia mengumpulkan kita, berbicara dengan kita, mengampuni dosa kita, memberikan kehidupan-Nya kepada kita dan tetap menyertai kita, khususnya dalam Sakramen Ekaristi.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Oleh karena itu setiap gereja merupakan tempat yang khusus. Kita mesti memasuki gereja dengan penuh iman dan hormat karena gereja merupakan tempat di mana Allah berada dan berkarya. Gereja bukanlah tempat untuk melaksanakan kegiatan duniawi, melainkan merupakan rumah untuk beribadat, baik sebagai pribadi maupun sebagai komunitas, dan khususnya untuk doa resmi Gereja, yakni liturgi suci.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Semuanya ini berlaku secara khusus untuk gereja katedral sebagai gereja induk dari semua gereja di keuskupan: gereja katedral menjadi contoh yang bercahaya sebagai tempat untuk ibadat dan upacara suci. Di sinilah liturgi, khususnya jika dipimpin oleh seorang uskup, mesti menjadi liturgi agung, disiapkan dengan baik dan juga dilaksanakan sesuai dengan petunjuk-petunjuk Gereja.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Liturgi merupakan doa yang didoakan sepanjang sejarah gereja, maka liturgi tidak dapat diubah-ubah sesuka hati. Selain itu, liturgi merupakan doa seluruh Gereja yang tersebar di segala penjuru dunia: setiap orang Kristiani, terlepas dari tempat tinggalnya, setiap kali memasuki sebuah gereja untuk merayakan liturgi seharusnya merasa berada di rumah sendiri. Kita mesti merayakan liturgi yang tidak boleh kita ubah sesuai dengan selera kita, melainkan sebagai sebuah realitas yang lebih besar dari diri kita, sebagaimana sering dikatakan oleh Bapa Suci Benediktus XVI.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Maka saya ingin mengingatkan kembali bahwa perlu kesetiaan terhadap petunjuk-petunjuk liturgi yang diberikan oleh Gereja. Secara khusus, para uskup dan imam, yakni para pelayan liturgi suci, bukan pemilik liturgi, maka mereka tidak boleh mengubahnya sesuka hati. Setiap orang beriman yang menghadiri liturgi di setiap gereja Katolik, mesti merasa bahwa dia sedang merayakan liturgi dalam kesatuan dengan seluruh Gereja, yakni Gereja masa lampau dan masa kini, serta seluruh Gereja yang tersebar di seluruh dunia, Gereja yang bersatu dengan penerus Petrus dan dipimpin oleh para uskup.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Mari kita minta kepada Tuhan agar di gereja katedral ini doa resmi Gereja selalu dilaksanakan sesuai dengan kriteria-kriteria ini, dan dengan demikian menjadi model bagi gereja-gereja yang lain di keuskupan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;3.&amp;nbsp;Bait Allah yang dibangun oleh manusia menyerupai sebuah Bait Allah yang lain: yakni Gereja Kristus, yang merupakan Tubuh-Nya. Allah telah memilih untuk diam di tengah-tengah manusia untuk menyelamatkannya dalam diri Putranya yang tunggal Yesus Kristus; Dia menjadi manusia seperti kita dan untuk kita. Putranya yang menjadi manusia tetap hadir dalam Tubuh Kristus yakni Gereja. Kita pergi ke gereja untuk merayakan sakramen-sakramen, khususnya Ekaristi. Kita pergi ke gereja untuk semakin menjadi Gereja, agar kita menjadi bait Allah yang hidup yang melaluinya seluruh umat manusia dapat mendengarkan kebenaran dan menerima kasih karunia-Nya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Pemberkatan gereja katedral ini mengajak kita untuk merenungkan misteri Gereja. Misteri ini senantiasa terancam untuk direduksi hingga dilihat dari sudut pandang duniawi belaka. Betapa banyak orang, termasuk juga umat Kristiani, memandang Gereja sebagai sebuah lembaga yang hanya diciptakan manusia, seperti banyak lembaga lain! Betapa banyak orang, termasuk umat Kristiani, yang berpikir bahwa misi Gereja hanya terbatas pada tujuan duniawi seperti kesehatan, kesejahteraan, pendidikan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Kita perlu menyalakan kembali kesadaran akan tugas Gereja yang sebenarnya, sesuai dengan kehendak Pendiri Ilahinya. Kita perlu menggarisbawahi relasi mutlak antara Kristus dan Gereja, karena tanpa Kristus Gereja tidak ada, dan demikian juga tanpa Gereja kita semakin sulit bertemu dengan Kristus. Kebenaran ini menjadi tolok ukur untuk menilai mutu hidup menggereja kita. Setiap kata dan tindakan kita seharusnya membantu orang lain untuk bertemu dengan Kristus, dan seharusnya mampu menghadirkan Allah di tengah-tengah umat manusia untuk keselamatan mereka.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Kita telah membangun gereja katedral yang indah ini, demikian juga kita senantiasa harus membangun Gereja Tubuh Kristus, sebagai penerus-Nya; Gereja adalah juga pengantin perempuan-Nya, karena mencintai Kristus dan lebih dahulu dicintai oleh-Nya; Gereja, yang menjadi Bait Allah di mana Allah hadir untuk meneruskan karya keselamatan-Nya untuk seluruh umat manusia. Kita mesti membangun Gereja di atas dasar para rasul dan penerus-penerus mereka, sambil membangun atas akar, terang, kekuatan dan hidup yang berasal dari Tuhan Yesus. Tidak ada gunanya jika kita membangun gedung-gedung suci yang besar dan indah, sedangkan komunitas orang yang beriman tidak menjadi teladan dan sarana untuk bersatu dengan Allah!&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;4.&amp;nbsp;Kita adalah bait Allah bukan hanya sebagai anggota Gereja. Liturgi pemberkatan gereja mengingatkan kita bahwa kita masing-masing adalah bait yang hidup, kediaman Tritunggal Mahakudus, berkat Permandian kita.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Kehadiran Allah ini merupakan anugerah yang tak ternilai yang dipercayakan kepada kebebasan kita: kita dapat menghormatinya, memeliharanya dan mengembangkannya, namun sebaliknya kita bisa juga menyangkal atau melupakan kehadiran Allah di dalam diri kita akibat dosa-dosa kita. Setiap kali seorang yang sudah dipermandikan melakukan dosa, dia kehilangan kehadiran Allah di dalam jiwanya dan oleh sebab itu dia kehilangan kehidupan yang berasal dari kehadiran ilahi itu (inilah alasannya mengapa “dosa berat” disebut juga “dosa yang mematikan”).&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sering diperdebatkan bagaimana caranya agar umat Kristiani dapat menjadi lebih aktif dalam hidup menggereja. Diskusi-diskusi seperti itu biasanya menyoroti kegiatan-kegiatan yang seorang Kristiani mesti lakukan di dalam Gereja dan masyarakat. Namun jika kita adalah bait Allah yang hidup, maka kita mesti mengingat bahwa seorang Kristiani sebelum menjadi aktif, mesti hidup sesungguhnya lebih dahulu, agar kegiatan-kegiatannya menjadi juga bermakna. Oleh sebab itu keprihatian utama seorang Kristiani dan Gereja ialah agar setiap anak Allah menetap atau mencapai kembali kasih karunia, persahabatan dan kehidupan Allah sendiri. Sayangnya ada orang Kristiani yang datang ke gereja, menyambut Ekaristi dan menjalankan tugas gerejani, namun mereka bukan lagi bait Allah yang hidup, karena hati dan kehidupan mereka sudah jauh dan bahkan bertentangan dengan Allah. Kontradiksi ini sangat besar!&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Di gereja katedral ini diletakkan reliqui Santo Pius dari Pietralcina, yakni seorang imam yang mempersembahkan seluruh hidupnya agar orang banyak dapat menjadi kembali bait Allah yang hidup melalui sakramen Pengakuan Dosa. Dalam hidup rohani dan pastoral gereja, kita harus menyadari pentingnya setiap orang Kristiani hidup dalam kasih karunia Allah dan dapat menemukannya kembali melalui sakramen Pengakuan Dosa, sebagaimana dikatakan dalam katekismus.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Saya menganjurkan kepada para imam untuk meneladani Padre Pio, untuk mementingkan kembali sakramen Pengakuan Dosa dalam pelayanan mereka. Saya juga minta kepada kita semua untuk memeriksa batin di hadapan Allah dan saya menganjurkan juga untuk sering menerima sakramen pengampunan. Tanpa sakramen itu kita melakukan banyak kegiatan dan menjadi capek, lelah, dan mungkin juga kita merasa sudah melaksanakan kewajiban kita, namun dengan demikian kita tidak akan membangun bait Allah yang sesungguhnya!&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;5.&amp;nbsp;Santa Perawan Maria telah menjadi bait Allah yang unik dan luar biasa, karena berkat imannya Sang Sabda Allah telah menjelma menjadi manusia dalam rahimnya. Maka seluruh Gereja dan setiap jiwa meneladani Dia dalam upaya untuk menjadi bait Allah, yaitu untuk mengetahui siapa diri kita dan apa misi kita. Bunda Maria bukan saja bunda Putra Allah yang menjadi manusia, melainkan dia juga bunda seluruh Gereja dan setiap pengikut Tuhan. Mari kita mempercayakan diri kepada-Nya, agar upacara pemberkatan gereja katedral ini membantu umat dari Keuskupan Tanjung Selor untuk semakin bertumbuh sebagai sebagian yang hidup dari seluruh Gereja serta membantu setiap orang Kristiani untuk menjadi bait Allah yang hidup.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Semoga Santa Perawan Maria menuntun kita dalam merayakan Misa Suci ini. Gereja katedral ini, seperti setiap gereja lain, adalah tempat yang dipakai terutama sekali untuk Perayaan Ekaristi. Sakramen Tubuh dan Darah Kristus mempersatukan kita dengan Dia dan membuat kita menjadi Tubuh-Nya, yakni Gereja, dan membuat kita menjadi bait-bait Allah yang hidup. Mari kita merayakan liturgi suci ini dengan penuh iman untuk tumbuh bersama, membentuk bait Allah yang akan menjadi Yerusalem surgawi ketika Kristus akan menjadi “semua di dalam semuanya”.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Teks: Kedutaan Besar Tahta Suci di Jakarta&lt;br /&gt;Foto: Frater Johanes Wegig Hari Nugroho&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/2222578442435492672-843965118351111604?l=tradisikatolik.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://tradisikatolik.blogspot.com/feeds/843965118351111604/comments/default' title='Post Comments'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://tradisikatolik.blogspot.com/2012/02/nuncio-berkati-katedral-tanjung-selor.html#comment-form' title='0 Comments'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/2222578442435492672/posts/default/843965118351111604'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/2222578442435492672/posts/default/843965118351111604'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://tradisikatolik.blogspot.com/2012/02/nuncio-berkati-katedral-tanjung-selor.html' title='Nuncio Berkati Katedral Tanjung Selor'/><author><name>Albert Wibisono</name><uri>http://www.blogger.com/profile/06599163203686361131</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='16' height='16' src='http://img2.blogblog.com/img/b16-rounded.gif'/></author><media:thumbnail xmlns:media='http://search.yahoo.com/mrss/' url='http://4.bp.blogspot.com/-UG13OcS-fGE/TzFN6JgB8QI/AAAAAAAAAZE/PZgSXQMVlx8/s72-c/Katedral+TS.jpg' height='72' width='72'/><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-2222578442435492672.post-3094630392058419641</id><published>2012-01-21T18:25:00.000+07:00</published><updated>2012-02-07T23:22:35.184+07:00</updated><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='Misa'/><title type='text'>Misa Imlek: Untuk Apa? Untuk Siapa?</title><content type='html'>&lt;br /&gt;&lt;div class="separator" style="clear: both; text-align: center;"&gt;&lt;a href="http://3.bp.blogspot.com/-vJ3_kEZ3BgA/TxqfVDiCMbI/AAAAAAAAAYw/29yO-zU-7Bk/s1600/Corbis-42-25276610.jpg" imageanchor="1" style="clear: left; float: left; margin-bottom: 1em; margin-right: 1em;"&gt;&lt;img border="0" height="320" src="http://3.bp.blogspot.com/-vJ3_kEZ3BgA/TxqfVDiCMbI/AAAAAAAAAYw/29yO-zU-7Bk/s320/Corbis-42-25276610.jpg" width="213" /&gt;&lt;/a&gt;&lt;/div&gt;Misa Imlek memang topik lama yang selalu mengemuka saat Imlek. Sudah banyak yang menulis tentang ini, ahli liturgi maupun umat awam. Saya cuma ingin berbagi pandangan. Sama sekali tidak bermaksud menyinggung atau menyalahkan pihak lain.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Pertama-tama, di Indonesia tidak semua orang keturunan Cina atau Tionghoa merayakan Tahun Baru Imlek. Banyak di antara mereka yang tidak pernah atau tidak lagi merayakannya. Belum ada statistik atau studi tentang hal ini memang. Hanya pengamatan saya yang terbatas saja. Bisa jadi saya salah, tapi di beberapa tempat yang saya amati, mungkin malahan lebih banyak yang tidak merayakannya. Jadi, untuk apa (dan untuk siapakah) paroki-paroki merencanakan Misa Imlek dengan sangat meriah? Perayaan Ekaristi kan bukan pertunjukan atau tontonan? Ini tentu ada kecualinya ya. Di daerah-daerah yang budaya Cina atau Tionghoanya masih sangat kental, seperti di Singkawang misalnya, tentu baik kalau diadakan dalam rangka inkulturasi. Di daerah yang lain, yang mungkin lebih banyak umatnya yang tidak mengerti, malah salah kaprah nanti. Seksi Liturgi di paroki saya sebagai contohnya, lebih dari 50% anggotanya adalah keturunan Cina atau Tionghoa, tapi tidak satupun yang benar-benar mengerti makna Imlek berikut ritualnya. Romo-romonya juga nggak ngerti. Saya nggak tahu kondisi paroki-paroki yang lain ya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Berikutnya, hal pelarangan Misa Imlek di Keuskupan Surabaya. Banyak yang salah mengerti. Yang dilarang Uskup Surabaya bukan sembarang Misa Imlek, tapi yang kebablasan. Mungkin Anda tidak tahu di Surabaya dulu pernah ada barongsai masuk gereja saat Misa. Padahal &lt;a href="http://en.wikipedia.org/wiki/Barongsai"&gt;barongsai&lt;/a&gt; ini menurut Wikipedia dipakai untuk ritual pengusiran roh-roh jahat. Nggak selaras dengan ajaran Gereja kan?&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Susah juga sebenarnya soal barongsai ini. Kalau mau jujur, dalam rangka inkulturasi (yang benar), sebenarnya bukan tidak mungkin barongsai itu dikaji mendalam dan dimodifikasi serta disesuaikan dengan ajaran Gereja, lalu bisa digunakan dalam liturgi Gereja. Sekali lagi, bila perlu ya. Tapi pertanyaannya, benarkah perlu? Tentu ini butuh pengkajian yang mendalam dan bukan sekedar asal comot. Yang terpenting, maksudnya tentu bukan sekedar menyajikan tarian dalam upacara liturgi. Mengutip Perfek (Emeritus, saat ini) Kongregasi Tata Ibadat dan Dispilin Sakramen, Yang Utama Francis Cardinal Arinze, &lt;a href="http://www.youtube.com/watch?v=9rJFdmmqj_s"&gt;"... if you want to admire a dance, you know where to go, but not Mass."&lt;/a&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Nah, umat yang mau mengucap syukur atas Tahun Baru Imlek bisa kok ikut Misa biasa di hari Senin pagi lusa (23 Jan 2012). Misa harian biasa sudah cukup kok. Tidak perlu spesial dibuatkan Misa Imlek. Sekali lagi, kecuali memang sebagian besar umat gereja itu merayakan Tahun Baru Imlek ya. Untuk paroki lainnya, rasanya nggak perlu latah ikut menyulap gereja jadi seperti klenteng atau mendandani imam ala Judge Bao.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Lalu, soal inkulturasi. Misa Imlek yang dibikin kebanyakan orang itu janganlah buru-buru disebut inkulturasi. Mungkin ada baiknya membaca dokumen-dokumen Gereja dulu. &lt;a href="http://www.adoremus.org/doc_inculturation.html"&gt;Varietates Legitimae&lt;/a&gt; di antaranya. Ini agar kita mengerti benar apa yang dimaksud inkulturasi oleh Magisterium Gereja Katolik. Janganlah kita berkreasi membuat Misa yang "berbeda", lalu menyebutnya "Misa Inkulturasi". Oh ya, dengan logika yang sama, semua ini berlaku juga untuk Misa 1 Suro (Tahun Baru Jawa) dan lain-lain ya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sebagai penutup, Gereja Katolik bukanlah lembaga pelestari budaya lokal. Mungkin tidak perlu terlalu bersemangat untuk ikut serta melestarikan budaya-budaya lokal. Mari kita melestarikan tradisi Gereja Katolik sendiri saja. Berkreasi dalam liturgi tidak dilarang, tapi harus hati2. Pahami benar aturan dan maknanya sebelum berkreasi. Yang terpenting, sejujurnya, apa sih motivasinya untuk berkreasi? Ada baiknya kita renungkan kata-kata YU Cardinal Arinze, &lt;a href="http://www.youtube.com/watch?v=9rJFdmmqj_s"&gt;"... we do not come to Mass to enjoy, we don't come to Mass to admire people ..."&lt;/a&gt;.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Akhir kata, Selamat Tahun Baru Imlek bagi yang merayakan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Artikel bagus yang relevan (tulisan Pastor Agustinus Lie CDD, pakar liturgi dan dosen STFT di Malang):&lt;br /&gt;&lt;a href="http://www.indocell.net/yesaya/pustaka2/id559.htm"&gt;Menuju Inkulturasi Misa Imlek&lt;/a&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Foto: Corbis&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/2222578442435492672-3094630392058419641?l=tradisikatolik.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://tradisikatolik.blogspot.com/feeds/3094630392058419641/comments/default' title='Post Comments'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://tradisikatolik.blogspot.com/2012/01/misa-imlek-untuk-apa-untuk-siapa.html#comment-form' title='5 Comments'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/2222578442435492672/posts/default/3094630392058419641'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/2222578442435492672/posts/default/3094630392058419641'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://tradisikatolik.blogspot.com/2012/01/misa-imlek-untuk-apa-untuk-siapa.html' title='Misa Imlek: Untuk Apa? Untuk Siapa?'/><author><name>Albert Wibisono</name><uri>http://www.blogger.com/profile/06599163203686361131</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='16' height='16' src='http://img2.blogblog.com/img/b16-rounded.gif'/></author><media:thumbnail xmlns:media='http://search.yahoo.com/mrss/' url='http://3.bp.blogspot.com/-vJ3_kEZ3BgA/TxqfVDiCMbI/AAAAAAAAAYw/29yO-zU-7Bk/s72-c/Corbis-42-25276610.jpg' height='72' width='72'/><thr:total>5</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-2222578442435492672.post-7418855287886591973</id><published>2012-01-11T13:06:00.000+07:00</published><updated>2012-01-11T13:06:01.429+07:00</updated><title type='text'>Paroki "Modern" vs "Tradisional"?</title><content type='html'>&lt;br /&gt;&lt;a href="http://www.flickr.com/photos/glennfrancosimmons/5254344889/" title="Mission San Jose by Glenn Thomas Franco Simmons, on Flickr"&gt;&lt;img alt="Mission San Jose" height="213" src="http://farm6.staticflickr.com/5245/5254344889_ab04c0d28d_z.jpg" width="320" /&gt;&lt;/a&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Akhir 2011 yang lalu saya pergi nengok anak yang kuliah di dekat San Francisco, California, Amerika Serikat. Bersama keluarga, saya tinggal di rumah kakak ipar di kota Fremont, 45 menit ke arah tenggara San Francisco. Mungkin sama dengan Jakarta-Bogor lah, kalau tanpa macet. Dalam kunjungan kali ini, tiga minggu saya berkesempatan melihat dua paroki yang sungguh berbeda. Itulah yang akan saya bagi kali ini.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Rumah kakak ipar saya hanya dua ratus meter jaraknya dari sebuah kompleks gereja tua, &lt;a href="http://www.missionsanjose.org/"&gt;Mission San Jose&lt;/a&gt; Church atau Gereja &lt;a href="http://www.missionsanjose.org/"&gt;Misi Santo Yosep&lt;/a&gt; (foto atas) di Fremont. Gereja ini didirikan tahun 1797 oleh imam-imam Fransiskan dari Spanyol, yang datang ke California bersama para serdadu Spanyol. Memang begitulah, serdadunya dikirim Raja Spanyol untuk menemukan dunia baru, klerusnya pun menyertai untuk membawa kabar gembira bagi warga dunia baru. Keseluruhannya ada 22 Gereja &lt;a href="http://en.wikipedia.org/wiki/California_missions"&gt;Misi di California&lt;/a&gt; yang didirikan para imam Fransiskan. California adalah negara bagian Amerika Serikat yang memiliki sejarah sangat dekat dengan misi Gereja Katolik. Mungkin kita tidak sadar, beberapa nama kota di sana sungguh amat Katolik. &amp;nbsp;Ada &lt;a href="http://en.wikipedia.org/wiki/San_Francisco,_California"&gt;San Francisco&lt;/a&gt; (Santo Fransiskus-dari Asisi), &lt;a href="http://en.wikipedia.org/wiki/Los_Angeles"&gt;Los Angeles&lt;/a&gt; (Kota Para Malaikat), &lt;a href="http://en.wikipedia.org/wiki/San_Diego"&gt;San Diego&lt;/a&gt; (Santo Didacus-dari Alcala), &lt;a href="http://en.wikipedia.org/wiki/San_Jose,_CA"&gt;San Jose&lt;/a&gt; (Santo Yosep) dan puluhan lagi lainnya. Dalam Bahasa Spanyol memang, kan mereka yang mendirikan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Bangunan gereja &lt;a href="http://www.missionsanjose.org/"&gt;Mission San Jose&lt;/a&gt; yang ada di foto di atas (klik di &lt;a href="http://www.flickr.com/photos/glennfrancosimmons/sets/72157625583415008/"&gt;sini&lt;/a&gt; untuk foto-foto lainnya, karya Glenn Simmons) adalah hasil restorasi dari bangunan aslinya yang hancur karena gempa bumi dan kebakaran. Bangunan gereja kuno itu saat ini masih dipakai, tapi hanya untuk Misa harian, agar tidak cepat rusak. Di sebelah bangunan gereja kuno itu sudah didirikan bangunan gereja baru yang lebih besar, yang saat ini dipakai untuk kegiatan umat paroki setempat. Bangunan gereja barunya, seperti layaknya bangunan gereja baru ukuran sedang di Amerika, berarsitektur modern minimalis dan terang benderang. Mirip aula besar, minus kesan agung dan sakral yang ada di bangunan gereja kunonya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Paroki &lt;a href="http://www.missionsanjose.org/index.html"&gt;Mission San Jose&lt;/a&gt; ini saya kategorikan saja sebagai paroki yang "modern", meski saya sendiri kurang sreg dengan label ini. Misa harian pukul 8:00 di gereja kunonya dihadiri 30-an orang. Beberapa kali saya ikutan. Hangat dan akrab suasananya. Di dalam gereja kuno yang indah, temaram dan sakral itu, umat dengan santai mengobrol&amp;nbsp;sebelum dan sesudah Misa. Imamnya pun ikutan. Saya sebenarnya merasa kurang sreg, tapi toh saya masih berusaha mencari pembenarannya. Mungkin karena di luar gereja hawanya dingin. Sekitar 5-10 derajat Celcius di musim dingin. Liturgi di Misa harian gereja ini agak tidak lazim. Ada beberapa penyimpangan serius dari aturan. Satu contoh yang menonjol, dari awal Misa sampai akhir Liturgi Sabda, imamnya duduk di bangku umat paling depan. Baru saat Liturgi Ekaristi beliau naik ke panti imam. Selesai bagi komuni dan beres-beres, beliau duduk kembali di bangku umat. Nggak pas, nggak sesuai dengan fungsinya sebagai pemimpin ibadat. Misa hari Minggunya, yang diadakan di bangunan gereja yang baru, pun bersuasana meriah dan hangat. Untuk yang ini imamnya duduk di kursi presiden, seperti yang seharusnya. Kesan singkat saya, paroki ini hidup. Umatnya akrab satu sama lain dan tampak menikmati interaksi antar mereka, termasuk ngobrol dan tertawa-tawa di dalam bangunan gereja setelah Misa.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;a href="http://www.flickr.com/photos/qu2rk/2530701030/" style="clear: left; float: left; margin-bottom: 1em; margin-right: 1em;" title="Our Lady of Peace Church by abaranda, on Flickr"&gt;&lt;img alt="Our Lady of Peace Church" height="133" src="http://farm3.staticflickr.com/2357/2530701030_765fd17e08_z.jpg" width="200" /&gt;&lt;/a&gt;Ada sebuah paroki lain yang beberapa kali saya datangi juga, kira-kira 15 menit bermobil dari rumah kakak ipar saya. Tepatnya di kota Santa Clara, di bagian selatan Lembah Silikon, pusat teknologi informasi Amerika. Paroki &lt;a href="http://www.olop-shrine.org/"&gt;Our Lady of Peace&lt;/a&gt; atau &lt;a href="http://www.olop-shrine.org/"&gt;Ratu Damai&lt;/a&gt; namanya. Lokasinya tidak jauh dari Kantor &lt;a href="http://www.yahoo.com/"&gt;Yahoo!&lt;/a&gt;, perusahaan teknologi kondang yang kita kenal. Bangunan gereja mereka termasuk baru (foto samping). Dari luar sepintas mirip dengan bangunan baru Gereja &lt;a href="http://www.missionsanjose.org/"&gt;Mission San Jose&lt;/a&gt; di atas. Bagian dalamnya aja yang beda. Tidak terlalu nampak modern minimalis. Tidak terang benderang, malahan cenderung gelap dan temaram. Suasana di dalam gereja ini sungguh sakral. Tidak ada yang tampak mengobrol. Semuanya dalam suasana doa atau setidaknya diam khidmat. Agak kontras dengan paroki tetangga di atas. Di dalam gereja ini ada adorasi abadi yang sudah berlangsung lebih dari 30 tahun. &lt;a href="http://en.wikipedia.org/wiki/Monstrance"&gt;Monstrans&lt;/a&gt;-nya (Tempat Mentakhtakan Sakramen Mahakudus) diletakkan di atas Tabernakel yang ada di poros tengah panti imam. Ada tirai kecil untuk menutup &lt;a href="http://en.wikipedia.org/wiki/Monstrance"&gt;monstrans&lt;/a&gt; ini saat Misa berlangsung.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Suasana Misa di Gereja &lt;a href="http://www.olop-shrine.org/"&gt;Our Lady of Peace&lt;/a&gt; ini pun kontras dengan Gereja &lt;a href="http://www.missionsanjose.org/"&gt;Mission San Jose&lt;/a&gt;. Kedua gereja ini memang sama-sama menggunakan &lt;a href="http://en.wikipedia.org/wiki/Pipe_organ"&gt;organ pipa&lt;/a&gt; elektrik (bukan &lt;a href="http://en.wikipedia.org/wiki/Pipe_organ"&gt;organ pipa&lt;/a&gt; asli). Tapi, yang satu banyak dimainkan mengiringi lagu-lagu bernuansa gembira, sedang yang lain mengiringi lagu-lagu yang syahdu dan khidmat. Gereja yang satu menggunakan misdinar perempuan, yang lain hanya laki-laki saja, dengan busana sesuai tradisi pula, jubah hitam atau merah dengan superpli putih.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Gereja&amp;nbsp;&lt;a href="http://www.missionsanjose.org/"&gt;Mission San Jose&lt;/a&gt;&amp;nbsp;menggunakan Pelayan Komuni Tak Lazim Wanita,&amp;nbsp;Gereja&amp;nbsp;&lt;a href="http://www.olop-shrine.org/"&gt;Our Lady of Peace&lt;/a&gt;&amp;nbsp;mendayagunakan imam-imam yang tidak sedang mempersembahkan Misa. Gereja &lt;a href="http://www.olop-shrine.org/"&gt;Our Lady of Peace&lt;/a&gt;&amp;nbsp;hanya punya tiga imam saja. Kalau yang seorang mempersembahkan Misa, dua yang lain akan muncul membantu kala tiba saatnya membagi komuni. Keduanya memakai jubah imam warna hitam, superpli putih dan stola. Memang, masih ada suster-suster mereka yang juga membantu membagi komuni, tapi saya tidak melihat ada umat awam jadi Asisten Imam atau Pro-Diakon.&amp;nbsp;Oh ya, saat tidak membagi komuni, kedua imam yang tidak mempersembahkan Misa ini berada di kamar pengakuan, menerima umat yang antri mengaku dosa, bahkan selama Misa berlangsung.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Penerimaan komuni di Gereja &lt;a href="http://www.olop-shrine.org/"&gt;Our Lady of Peace&lt;/a&gt; hanya dilakukan dengan berlutut. Disediakan dua tempat berlutut panjang di depan altar, sekaligus menjadi pemisah panti imam dan bangku umat. Semua umat diharuskan berlutut di tempat itu, kecuali yang punya masalah kesehatan. Sebagian besar umat menerima komuni di lidah. Sisanya menerima di tangan seperti kebanyakan umat Indonesia, tetap sambil berlutut. Bagi saya, berlutut saat menerima komuni ini sungguh logis. Saat konsekrasi kita melihat Tubuh Kristus dari kejauhan sambil berlutut menghormati. Saat berada begitu dekat dengan Kristus, kenapa kita malah berdiri?&amp;nbsp;Kalau Kristus benar-benar ada di depan Anda, tidakkah Anda tersungkur dan menyembah-Nya?&amp;nbsp;Masihkah kita yakin bahwa itu roti itu benar-benar adalah Kristus? Bukan sekedar roti yang melambangkan Tubuh Kristus, tapi benar-benar adalah Tubuh Kristus?&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Banyakkah umat yang datang ke&amp;nbsp;Gereja &lt;a href="http://www.olop-shrine.org/"&gt;Our Lady of Peace&lt;/a&gt; yang saya sebut "tradisional" ini? Luar biasa. Misa hariannya ada 3 kali. Di hari Rabu malah 4 kali, juga di hari Jumat pertama. Misa hari Minggu plus Sabtu malam jumlahnya 9 kali. Gerejanya hampir selalu penuh. Dari info yang saya dapat, lebih banyak di antara mereka yang berasal dari paroki lain. Apa karena imam-imam di situ pandai berhomili? Tidak juga. Pastor Kepala Parokinya yang bukan orang kulit putih berbicara Bahasa Inggris dengan aksen asing. Homilinya agak klise dan kurang terstruktur. Pastor pembantu yang muda juga biasa-biasa saja. Pastor pembantu yang lebih tua bisa dibilang paling bagus, tapi homilinya lama dan diulang-ulang. Satu saja yang sama dari mereka semuanya. Berani galak dan disiplin. Saat ada bunyi HP, mereka berhenti bicara dan menegur. Hampir satu gereja menoleh ke umat yang HP-nya bunyi. Oh ya, mereka menjelaskan bacaan-bacaan dengan gaya yang kalem tapi mantap. Nggak ada yang pakai gaya jurkam partai yang dialogis dan minta jawaban aklamatif dari umat, atau gaya pelawak yang mengundang tepuk tangan umat.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Hampir bisa dipastikan,&amp;nbsp;Gereja&amp;nbsp;&lt;a href="http://www.olop-shrine.org/"&gt;Our Lady of Peace&lt;/a&gt;&amp;nbsp;ini penuh bukan karena homili imamnya.&amp;nbsp;Bisa jadi sebenarnya ada lebih banyak umat yang tidak sreg dengan "liturgi" partisipatif yang sentimental ala Gereja &lt;a href="http://en.wikipedia.org/wiki/Evangelical_church"&gt;Evangelical&lt;/a&gt; dan &lt;a href="http://en.wikipedia.org/wiki/Pentecostal_church"&gt;Pentecostal&lt;/a&gt; yang belakangan dibawa segelintir orang masuk ke Gereja Katolik. Bisa jadi, ada lebih banyak umat yang merasa lebih bisa menemukan Tuhan dalam keheningan daripada dalam suasana hingar bingar. Mungkin ada lebih banyak umat yang ingin imamnya patuh pada aturan. Mungkin ada lebih banyak umat yang memilih kembali kepada tradisi luhur Gereja Katolik. Mungkin saya salah. Tapi kalau benar yang saya pikirkan, para imam di Indonesia tidak perlu kawatir kehilangan umat karena menolak kreativitas sekelompok orang yang merasa bosan dengan liturgi Gereja Katolik. Tetaplah setia kepada aturan liturgi dan tradisi Gereja kita sendiri. Seperti arahan &lt;a href="http://www.catholic-hierarchy.org/bishop/bratz.html"&gt;Paus Benedictus XVI&lt;/a&gt; berkaitan dengan hal ini, "... I would say that a participative liturgy is important, but one that's not sentimental. Worship must not be simply an expression of sentiments, but raise up the presence and the mystery of God into which we enter and by which we allow ourselves to be formed." Paus sendiri tidak kawatir kehilangan umat, dan mengatakan, "We know that some return to the Catholic Church, or they move from one of these communities to the other. Thus, we don't need to imitate these communities ..." (&lt;a href="http://www.catholic-hierarchy.org/bishop/bratz.html"&gt;Paus Benedictus XVI&lt;/a&gt;, &lt;a href="http://www.zenit.org/article-33851?l=english"&gt;Press Conference 18 Nov 2011&lt;/a&gt;)&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Tuhan telah membuka mata saya. Saya pun telah membagi apa yang saya lihat di sini, plus menyertakan analisis singkat sebisa saya. Semoga tulisan ini dapat menjadi bahan renungan bersama.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Foto:&amp;nbsp;Glenn Simmons dan Marc Huelar&lt;br /&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/2222578442435492672-7418855287886591973?l=tradisikatolik.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://tradisikatolik.blogspot.com/feeds/7418855287886591973/comments/default' title='Post Comments'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://tradisikatolik.blogspot.com/2012/01/paroki-modern-vs-tradisional.html#comment-form' title='1 Comments'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/2222578442435492672/posts/default/7418855287886591973'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/2222578442435492672/posts/default/7418855287886591973'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://tradisikatolik.blogspot.com/2012/01/paroki-modern-vs-tradisional.html' title='Paroki &quot;Modern&quot; vs &quot;Tradisional&quot;?'/><author><name>Albert Wibisono</name><uri>http://www.blogger.com/profile/06599163203686361131</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='16' height='16' src='http://img2.blogblog.com/img/b16-rounded.gif'/></author><thr:total>1</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-2222578442435492672.post-9043783001010958659</id><published>2011-12-14T09:03:00.000+07:00</published><updated>2011-12-21T14:08:06.980+07:00</updated><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='Uskup'/><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='Koor'/><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='Gregorian'/><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='Schola Cantorum Surabaiensis'/><title type='text'>Surabaya Punya Koor Gregorian Anak-Anak</title><content type='html'>&lt;a href="http://2.bp.blogspot.com/-Xb3NLnN0d1I/TueKn-xwr6I/AAAAAAAAAX8/UCQIf2eVd-s/s1600/DSC_1524.jpeg" imageanchor="1" style="clear: left; display: inline !important; float: left; margin-bottom: 1em; margin-right: 1em;"&gt;&lt;/a&gt;&lt;div class="separator" style="clear: both; text-align: center;"&gt;&lt;a href="http://2.bp.blogspot.com/-Xb3NLnN0d1I/TueKn-xwr6I/AAAAAAAAAX8/UCQIf2eVd-s/s1600/DSC_1524.jpeg" imageanchor="1" style="clear: left; display: inline !important; float: left; margin-bottom: 1em; margin-right: 1em;"&gt;&lt;img border="0" height="213" src="http://2.bp.blogspot.com/-Xb3NLnN0d1I/TueKn-xwr6I/AAAAAAAAAX8/UCQIf2eVd-s/s400/DSC_1524.jpeg" width="320" /&gt;&lt;/a&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="separator" style="clear: both; text-align: left;"&gt;Selasa, 1 November 2011 yang lalu, Keuskupan Surabaya kedatangan tamu agung. &amp;nbsp;Nuntius Apostolik atau Duta Besar Takhta Suci untuk Indonesia, Yang Mulia Uskup Agung Antonio Guido Filipazzi datang ke Surabaya untuk memberkati Seminari Tinggi Providentia Dei. Sebelum memberkati bangunan baru seminari, Nuntius menyempatkan mampir ke Katedral untuk acara yang mungkin luput dari perhatian umat. Acara itu adalah Pemberkatan Para Penyanyi Anak-Anak Laki-Laki atau Pueri Cantores dari Paduan Suara Gregorian Schola Cantorum Surabaiensis (SCS).&lt;/div&gt;&lt;br /&gt;SCS yang tadinya hanya beranggotakan para penyanyi dewasa, sekarang punya tambahan anggota baru 33 anak laki-laki dari SDK Katarina dan SDK St. Maria. Ini semua berkat dukungan Kepala SDK Katarina, Sr. Rosalia Mengko JMJ, dan Kepala SDK St. Maria, Sr. Lidvina OSU, yang mengirimkan anak-anak SD Kelas 4-6, yang ingin belajar menyanyi Gregorian.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;a href="http://3.bp.blogspot.com/-XsjUH6EQ2S4/Tuf_JdMrcyI/AAAAAAAAAYE/ds7qUrmKDf4/s1600/DSC_1460.jpeg" imageanchor="1" style="clear: left; float: left; margin-bottom: 1em; margin-right: 1em;"&gt;&lt;img border="0" height="200" src="http://3.bp.blogspot.com/-XsjUH6EQ2S4/Tuf_JdMrcyI/AAAAAAAAAYE/ds7qUrmKDf4/s200/DSC_1460.jpeg" width="133" /&gt;&lt;/a&gt;Pemberkatan Pueri Cantores SCS ini berlangsung dalam upacara singkat nan khidmat. &amp;nbsp;Nuntius didampingi oleh Uskup Surabaya YM Vincentius Sutikno Wisaksono dan juga Uskup Sanggau YM Giulio Mencuccini CP. Romo Eko Budi Susilo, Kepala Paroki Katedral, bersama Romo Haryo, Romo Ikwan dan juga Romo Eko Wiyono menyambut Nuntius di pintu utama Katedral dan menyertai beliau dalam upacara ini.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;a href="http://1.bp.blogspot.com/-viNc1kVHlXw/Tuf_6noyfcI/AAAAAAAAAYM/h0rGG29OEUc/s1600/DSC_1489.jpeg" imageanchor="1" style="clear: right; float: right; margin-bottom: 1em; margin-left: 1em;"&gt;&lt;img border="0" height="200" src="http://1.bp.blogspot.com/-viNc1kVHlXw/Tuf_6noyfcI/AAAAAAAAAYM/h0rGG29OEUc/s200/DSC_1489.jpeg" width="133" /&gt;&lt;/a&gt;Lagu Gregorian Veni Creator Spiritus (Datanglah Ya Roh Pencipta - PS 565/566) yang dinyanyikan anggota dewasa SCS mengiringi prosesi masuk Nuntius, para uskup, imam dan misdinar. Setelah salam pembuka dan juga pengantar singkat dari YM Uskup Sutikno, Nuntius memanjatkan doa pemberkatan dan memerciki anak-anak dengan air suci, sambil mereka menyanyikan lagu Ubi Caritas (Jika Ada Cinta Kasih - PS 498/499). Upacara ditutup dengan berkat, foto bersama dan baciamano (tradisi mencium cincin uskup, sebagai ungkapan hormat) oleh para anggota SCS, dewasa dan anak-anak.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;a href="http://1.bp.blogspot.com/-iyYrHvwqz0U/TugAZSeY9wI/AAAAAAAAAYU/85UrgJDHhEM/s1600/DSC_1542.jpeg" imageanchor="1" style="clear: left; float: left; margin-bottom: 1em; margin-right: 1em;"&gt;&lt;img border="0" height="200" src="http://1.bp.blogspot.com/-iyYrHvwqz0U/TugAZSeY9wI/AAAAAAAAAYU/85UrgJDHhEM/s200/DSC_1542.jpeg" width="133" /&gt;&lt;/a&gt;Pemrakarsa SCS dan Pueri Cantores - SCS, Albert Wibisono, menjelaskan, “Anak-anak ini berlatih seminggu sekali, tiap hari Senin, pukul 14:00-16:00, di Katedral.” Ia juga menambahkan, bahwa SCS masih terus menerima anggota baru, dewasa maupun anak-anak, dengan atau tanpa pengetahuan tentang lagu Gregorian. Untuk keterangan lebih lanjut tentang SCS, umat dapat menghubungi Bapak Stefanus Tri Budi di 0811-307-303. &amp;nbsp;Para orang tua yang berminat mengikutsertakan anak laki-lakinya di Pueri Cantores - SCS dapat menghubungi Bapak Heribertus Windarto di 0821-4373-1799.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Catatan: Artikel ini dimuat di Tabloid Rohani Jubileum yang diterbitkan oleh Keuskupan Surabaya, Edisi 141 - Tahun XII - Desember 2011.&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/2222578442435492672-9043783001010958659?l=tradisikatolik.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://tradisikatolik.blogspot.com/feeds/9043783001010958659/comments/default' title='Post Comments'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://tradisikatolik.blogspot.com/2011/12/surabaya-punya-koor-gregorian-anak-anak.html#comment-form' title='8 Comments'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/2222578442435492672/posts/default/9043783001010958659'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/2222578442435492672/posts/default/9043783001010958659'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://tradisikatolik.blogspot.com/2011/12/surabaya-punya-koor-gregorian-anak-anak.html' title='Surabaya Punya Koor Gregorian Anak-Anak'/><author><name>Albert Wibisono</name><uri>http://www.blogger.com/profile/06599163203686361131</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='16' height='16' src='http://img2.blogblog.com/img/b16-rounded.gif'/></author><media:thumbnail xmlns:media='http://search.yahoo.com/mrss/' url='http://2.bp.blogspot.com/-Xb3NLnN0d1I/TueKn-xwr6I/AAAAAAAAAX8/UCQIf2eVd-s/s72-c/DSC_1524.jpeg' height='72' width='72'/><thr:total>8</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-2222578442435492672.post-965350571181098240</id><published>2011-07-10T23:35:00.000+07:00</published><updated>2011-07-10T23:35:32.898+07:00</updated><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='Piranti Liturgi'/><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='Paus'/><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='Busana'/><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='Kardinal'/><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='Uskup'/><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='Diakon'/><title type='text'>Busana Liturgi Uskup</title><content type='html'>&lt;div align="left"&gt;&lt;br /&gt;&lt;img alt="" border="0" id="BLOGGER_PHOTO_ID_5603781131330143602" src="http://2.bp.blogspot.com/-_9wbxRmdaTg/TcShP7P4RXI/AAAAAAAAAVI/qqP6EfjvxM4/s320/610x-3.jpg" style="height: 213px; margin-bottom: lem; margin-left: 0px; margin-right: lem; margin-top: 0px; width: 320px;" /&gt;&lt;br /&gt;&lt;div&gt;&lt;br /&gt;Saya pernah menulis mengenai Busana Uskup di majalah [Liturgi - Terbitan KWI] ini, tepatnya di Vol 20 No 1 - Jan-Feb 2009.  Tulisan yang kali ini akan lebih baik kalau dibaca setelah membaca kembali tulisan yang sebelumnya.  Kalau majalah Anda sudah tidak ada, Anda dapat menemukan tulisan tersebut di &lt;a href="http://tradisikatolik.blogspot.com/2008/09/busana-uskup.html"&gt;sini&lt;/a&gt;.&lt;/div&gt;&lt;div&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div&gt;Yang dimaksud busana liturgi uskup dalam hal ini adalah busana yang dikenakan uskup saat upacara-upacara liturgi, termasuk di antaranya Misa, Ibadat Harian dan berbagai kesempatan memberikan sakramen dan sakramental.&lt;/div&gt;&lt;div&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div&gt;Selain busana liturgi, uskup juga mempunyai busana resmi dan busana sehari-hari, yang dikenakan dalam acara-acara yang bukan upacara liturgi.  Contohnya, saat menerima tamu, menghadiri berbagai rapat dan undangan, dan termasuk juga menghadiri wisuda universitas Katolik.&lt;/div&gt;&lt;div&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;img alt="" border="0" id="BLOGGER_PHOTO_ID_5603619732498180370" src="http://4.bp.blogspot.com/-UmDEBh1gtyY/TcQOdRvsaRI/AAAAAAAAAVA/hZzI8w6lhAI/s320/Habitus%2BChoralis%2BS.jpg" style="cursor: hand; cursor: pointer; float: left; height: 320px; margin: 0 10px 10px 0; width: 213px;" /&gt;Pada prinsipnya busana liturgi uskup yang paling mendasar dan pertama adalah yang dalam Caeremoniale Episcoporum (CE-Tata Upacara Para Uskup) disebut sebagai &lt;a href="http://en.wikipedia.org/wiki/Choir_dress"&gt;Habitus Choralis&lt;/a&gt;, seperti yang dikenakan oleh Uskup &lt;a href="http://www.catholic-hierarchy.org/diocese/dsura.html"&gt;Surabaya&lt;/a&gt; &lt;a href="http://www.catholic-hierarchy.org/bishop/bwisak.html"&gt;YM Vincentius Sutikno Wisaksono&lt;/a&gt; pada gambar di samping, yaitu: &lt;a href="http://en.wikipedia.org/wiki/Cassock"&gt;jubah&lt;/a&gt; ungu setakat mata kaki (1) dan &lt;a href="http://en.wikipedia.org/wiki/Fascia_(vestment)"&gt;sabuk sutera&lt;/a&gt; ungu (2); &lt;a href="http://en.wikipedia.org/wiki/Rochet"&gt;rochet&lt;/a&gt; dari linen atau bahan sejenis (3); &lt;a href="http://en.wikipedia.org/wiki/Mozzetta"&gt;mozeta&lt;/a&gt; ungu (4); &lt;a href="http://en.wikipedia.org/wiki/Pectoral_cross"&gt;salib pektoral&lt;/a&gt;, dengan tali anyaman warna hijau-emas (5) (bukan dengan rantai); &lt;a href="http://en.wikipedia.org/wiki/Zucchetto"&gt;pileola&lt;/a&gt; ungu (6), yang mungkin lebih dikenal dengan nama &lt;a href="http://en.wikipedia.org/wiki/Zucchetto"&gt;solideo&lt;/a&gt; atau &lt;a href="http://en.wikipedia.org/wiki/Zucchetto"&gt;zucchetto&lt;/a&gt;; &lt;a href="http://en.wikipedia.org/wiki/Biretta"&gt;bireta&lt;/a&gt; ungu (7); cincin (8); dan stocking/kaos kaki ungu (tidak terlihat).&lt;br /&gt;&lt;div&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div&gt;&lt;a href="http://en.wikipedia.org/wiki/Cassock"&gt;Jubah&lt;/a&gt; ungu (1) adalah &lt;a href="http://en.wikipedia.org/wiki/Cassock"&gt;jubah&lt;/a&gt; liturgi uskup. Sama dengan &lt;a href="http://en.wikipedia.org/wiki/Cassock"&gt;jubah&lt;/a&gt; resminya yang berwarna hitam/putih, &lt;a href="http://en.wikipedia.org/wiki/Cassock"&gt;jubah&lt;/a&gt; ungu ini dilengkapi dengan aksen warna merah (bukan ungu) di bagian tepi, lubang kancing dan kancing.  Yang beda, bagian lengan bawah &lt;a href="http://en.wikipedia.org/wiki/Cassock"&gt;jubah&lt;/a&gt; ungu ini, yang ditekuk ke atas sekitar 20-25 cm, dilapis dengan sutera warna merah.&lt;/div&gt;&lt;div&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div&gt;&lt;a href="http://en.wikipedia.org/wiki/Fascia_(vestment)"&gt;Sabuk sutera&lt;/a&gt; ungu (2) uskup untuk keperluan liturgi dan non liturgi sama saja barangnya.  &lt;a href="http://en.wikipedia.org/wiki/Fascia_(vestment)"&gt;Sabuk&lt;/a&gt; ini dikenakan di dada bagian bawah, bukan di pinggang.&lt;/div&gt;&lt;div&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div&gt;&lt;a href="http://en.wikipedia.org/wiki/Rochet"&gt;Rochet&lt;/a&gt; (3) adalah busana khusus uskup yang mirip dengan &lt;a href="http://en.wikipedia.org/wiki/Surplice"&gt;superpli&lt;/a&gt;. Bedanya, bagian lengan &lt;a href="http://en.wikipedia.org/wiki/Rochet"&gt;rochet&lt;/a&gt; sempit dan &lt;a href="http://en.wikipedia.org/wiki/Surplice"&gt;superpli&lt;/a&gt; (seharusnya) lebih lebar.  Biasanya, bagian bawah badan dan lengan &lt;a href="http://en.wikipedia.org/wiki/Rochet"&gt;rochet&lt;/a&gt; terbuat dari renda yang cukup lebar.&lt;/div&gt;&lt;div&gt;&lt;br /&gt;&lt;a href="http://3.bp.blogspot.com/-qS29TZYk7Ho/TcSqfNawgdI/AAAAAAAAAV4/9nk_37qCxfM/s1600/42-25552300-1.jpg" onblur="try {parent.deselectBloggerImageGracefully();} catch(e) {}"&gt;&lt;img alt="" border="0" id="BLOGGER_PHOTO_ID_5603791289510298066" src="http://3.bp.blogspot.com/-qS29TZYk7Ho/TcSqfNawgdI/AAAAAAAAAV4/9nk_37qCxfM/s200/42-25552300-1.jpg" style="cursor: hand; cursor: pointer; float: left; height: 133px; margin: 0 10px 10px 0; width: 200px;" /&gt;&lt;/a&gt;&lt;/div&gt;&lt;div&gt;&lt;a href="http://en.wikipedia.org/wiki/Mozzetta"&gt;Mozeta&lt;/a&gt; ungu (4) adalah mantol kecil yang hanya boleh dipakai oleh uskup. Sebelum reformasi aturan busana di tahun 1969, &lt;a href="http://en.wikipedia.org/wiki/Mozzetta"&gt;mozeta&lt;/a&gt; bahkan hanya boleh dipakai uskup kala ia berada di dalam wilayah keuskupannya.  Selain uskup, ada beberapa ordo dan kanon reguler, yang sejak ratusan tahun lalu oleh Paus diberikan hak mengenakan &lt;a href="http://en.wikipedia.org/wiki/Mozzetta"&gt;mozeta&lt;/a&gt; (dengan warna lain).  Termasuk dalam kelompok ini di antaranya adalah para Fransiskan, Karmelit, Dominikan dan Kanon Reguler Salib Suci.  &lt;a href="http://en.wikipedia.org/wiki/Mozzetta"&gt;Mozeta&lt;/a&gt; atau apapun namanya, yang bentuknya mirip dengannya, hendaknya tidak dikenakan oleh misdinar, seperti yang marak belakangan ini.&lt;/div&gt;&lt;div&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div&gt;&lt;a href="http://en.wikipedia.org/wiki/Pectoral_cross"&gt;Salib pektoral&lt;/a&gt; pasangan &lt;a href="http://en.wikipedia.org/wiki/Cassock"&gt;jubah&lt;/a&gt; ungu harus digantung dengan tali anyaman warna hijau-emas (5).  Untuk &lt;a href="http://en.wikipedia.org/wiki/Cassock"&gt;jubah&lt;/a&gt; resmi warna hitam/putih, &lt;a href="http://en.wikipedia.org/wiki/Pectoral_cross"&gt;salib pektoral&lt;/a&gt; digantung dengan rantai.  &lt;a href="http://en.wikipedia.org/wiki/Pectoral_cross"&gt;Salib pektoral&lt;/a&gt; dengan tali hijau-emas ini dikenakan di atas &lt;a href="http://en.wikipedia.org/wiki/Mozzetta"&gt;mozeta&lt;/a&gt;.  Dalam Misa, &lt;a href="http://en.wikipedia.org/wiki/Pectoral_cross"&gt;salib pektoral&lt;/a&gt; dengan tali hijau-emas ini dikenakan di atas &lt;a href="http://en.wikipedia.org/wiki/Alb"&gt;alba&lt;/a&gt; dan di bawah &lt;a href="http://en.wikipedia.org/wiki/Chasuble"&gt;kasula&lt;/a&gt; dan &lt;a href="http://en.wikipedia.org/wiki/Dalmatic"&gt;dalmatik pontifikal&lt;/a&gt; (bukan di atas &lt;a href="http://en.wikipedia.org/wiki/Chasuble"&gt;kasula&lt;/a&gt;). (Bdk. CE 61)&lt;/div&gt;&lt;div&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div&gt;&lt;a href="http://en.wikipedia.org/wiki/Zucchetto"&gt;Pileola&lt;/a&gt; atau &lt;a href="http://en.wikipedia.org/wiki/Zucchetto"&gt;solideo&lt;/a&gt; atau &lt;a href="http://en.wikipedia.org/wiki/Zucchetto"&gt;zucchetto&lt;/a&gt; ungu (6) adalah topi bundar dan kecil.  Sesuai tradisi, &lt;a href="http://en.wikipedia.org/wiki/Zucchetto"&gt;pileola&lt;/a&gt; sebenarnya dikenakan oleh semua klerus.  &lt;a href="http://en.wikipedia.org/wiki/Zucchetto"&gt;Pileola&lt;/a&gt; imam berwarna hitam, uskup ungu, kardinal merah dan Paus putih. (Catatan: Seturut tradisi, &lt;a href="http://en.wikipedia.org/wiki/Cassock"&gt;jubah&lt;/a&gt; imam berwarna hitam; meski begitu, putih selalu boleh digunakan imam, uskup dan kardinal di daerah tropis)  Awalnya, &lt;a href="http://en.wikipedia.org/wiki/Zucchetto"&gt;pileola&lt;/a&gt; adalah pelindung kepala dari hawa dingin, untuk dikenakan oleh semua klerus yang sudah di-tonsura (dicukur gundul, seperti sering kita lihat pada gambar/patung St. Fransiskus Asisi atau St. Antonius Padua).&lt;/div&gt;&lt;div&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div&gt;&lt;a href="http://en.wikipedia.org/wiki/Biretta"&gt;Bireta&lt;/a&gt; ungu (7) adalah topi segi empat yang dikenakan di atas &lt;a href="http://en.wikipedia.org/wiki/Zucchetto"&gt;pileola&lt;/a&gt;.  &lt;a href="http://en.wikipedia.org/wiki/Biretta"&gt;Bireta&lt;/a&gt; uskup berwarna ungu dan &lt;a href="http://en.wikipedia.org/wiki/Biretta"&gt;bireta&lt;/a&gt; imam berwarna hitam, keduanya dilengkapi dengan pom yang sewarna.  &lt;a href="http://en.wikipedia.org/wiki/Biretta"&gt;Bireta&lt;/a&gt; kardinal berwarna merah, terbuat dari sutera bermotif air, dan tidak dilengkapi dengan pom.&lt;/div&gt;&lt;div&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div&gt;Cincin (8) senantiasa dikenakan uskup, sebagai simbol kesetiaannya pada dan ikatan sucinya dengan Gereja, pengantinnya. (Bdk. CE 1199)&lt;/div&gt;&lt;div&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;img alt="" border="0" id="BLOGGER_PHOTO_ID_5603781794257412338" src="http://4.bp.blogspot.com/-3JZnu2ME3qM/TcSh2g2DoPI/AAAAAAAAAVQ/dZ1KP1p-qfU/s200/Cappa%2BMagna-1.jpg" style="cursor: hand; cursor: pointer; float: right; height: 200px; margin: 0 0 10px 10px; width: 200px;" /&gt;&lt;a href="http://en.wikipedia.org/wiki/Cappa_magna#Cappa_magna"&gt;Cappa Magna&lt;/a&gt; atau mantol kebesaran uskup warnanya ungu, seperti tampak pada gambar di&amp;nbsp;samping. &lt;a href="http://en.wikipedia.org/wiki/Cappa_magna#Cappa_magna"&gt;Cappa magna&lt;/a&gt; tradisional dalam foto di samping panjangnya 8 meter.  &lt;a href="http://en.wikipedia.org/wiki/Cappa_magna#Cappa_magna"&gt;Cappa magna&lt;/a&gt; modern panjangnya hanya 4.5 meter, baik untuk uskup maupun kardinal. &lt;a href="http://en.wikipedia.org/wiki/Cappa_magna#Cappa_magna"&gt;Cappa magna&lt;/a&gt; boleh dikenakan uskup hanya di dalam wilayah keuskupannya dan untuk perayaan-perayaan yang paling agung. (Bdk. CE 1200)&lt;br /&gt;&lt;div&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div&gt;Uskup mengenakan busana liturgi tersebut di atas saat ia bepergian secara resmi di depan publik ke atau dari gereja, saat ia hadir dalam suatu upacara liturgi tetapi tidak memimpinnya, dan dalam berbagai kesempatan lain yang dinyatakan dalam Caeremoniale Episcoporum. (Bdk. CE 1202) &lt;/div&gt;&lt;div&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div&gt;Secara khusus, uskup diminta mengenakan busana liturgi di atas saat kunjungan pastoral (Bdk. CE 1179).  Saat itu, uskup hendaknya disambut di pintu (gerbang) gereja oleh pastor paroki yang mengenakan &lt;a href="http://en.wikipedia.org/wiki/Cope"&gt;cappa/pluviale&lt;/a&gt; dan membawa salib untuk diciumnya.  Pastor paroki kemudian menyerahkan aspergil dan air suci, agar uskup dapat memberkati dirinya sendiri dan semua yang hadir menyambutnya. (Bdk. CE 1180)&lt;/div&gt;&lt;div&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div&gt;Uskup agung mengenakan &lt;a href="http://en.wikipedia.org/wiki/Cassock"&gt;jubah&lt;/a&gt; liturgi yang persis sama dengan uskup.  Kardinal pun juga, hanya saja warnanya merah dan khusus bahan suteranya menggunakan sutera bermotif air.  Bahan sutera bermotif air ini hanya boleh dikenakan oleh kardinal dan utusan khusus Paus (misalnya Nuntius atau Duta Besar Vatikan).  Sutera bermotif air untuk nuntius, yang adalah uskup agung, berwarna ungu.&lt;/div&gt;&lt;div&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div&gt;Selain &lt;a href="http://en.wikipedia.org/wiki/Cassock"&gt;jubah&lt;/a&gt; ungu lengkap dengan asesorisnya tersebut di atas, pada dasarnya hanya ada dua macam busana liturgi yang dikenakan uskup.  Keduanya sama juga dengan busana liturgi imam, yaitu &lt;a href="http://en.wikipedia.org/wiki/Cope"&gt;Cappa/Pluviale&lt;/a&gt; dan &lt;a href="http://en.wikipedia.org/wiki/Chasuble"&gt;Kasula/Planeta&lt;/a&gt;.  &lt;a href="http://en.wikipedia.org/wiki/Cope"&gt;Pluviale&lt;/a&gt; dikenakan saat prosesi, saat memberikan berbagai sakramen dan sakramentali, saat memimpin Ibadat Pagi (Laudes) dan Ibadat Sore (Vesper) dan saat Misa, bila ia tidak memimpinnya atau tidak berkonselebrasi. Untuk Ibadat Bacaan, Tengah Hari dan Penutup (Completorium), baik memimpin atau tidak, uskup dapat mengenakan &lt;a href="http://en.wikipedia.org/wiki/Choir_dress"&gt;habitus choralis&lt;/a&gt; &lt;a href="http://en.wikipedia.org/wiki/Cassock"&gt;jubah&lt;/a&gt; ungu di atas, lengkap dengan asesorisnya.  &lt;a href="http://en.wikipedia.org/wiki/Chasuble"&gt;Kasula&lt;/a&gt; dikenakan saat Misa.&lt;/div&gt;&lt;div&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div&gt;Singkatnya, busana liturgi mendasar untuk uskup adalah &lt;a href="http://en.wikipedia.org/wiki/Choir_dress"&gt;Habitus Choralis&lt;/a&gt; di atas, dan untuk upacara liturgi yang lebih meriah, dikenakan &lt;a href="http://en.wikipedia.org/wiki/Cope"&gt;Pluviale/Cappa&lt;/a&gt;, dan khusus untuk Misa, dikenakan &lt;a href="http://en.wikipedia.org/wiki/Chasuble"&gt;Kasula/Planeta&lt;/a&gt;.&lt;/div&gt;&lt;div&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div&gt;Para ahli busana Gereja mengatakan bahwa sebenarnya &lt;a href="http://en.wikipedia.org/wiki/Chasuble"&gt;kasula&lt;/a&gt; adalah &lt;a href="http://en.wikipedia.org/wiki/Cope"&gt;pluviale&lt;/a&gt; yang dijahit di bagian depannya.  Keduanya sama-sama berasal dari bahan kain setengah lingkaran.  &lt;a href="http://en.wikipedia.org/wiki/Cope"&gt;Pluviale&lt;/a&gt; juga adalah busana yang umum bagi para biarawan-biarawati dan anggota koor, untuk upacara liturgi yang meriah, sesuai tradisi.&lt;/div&gt;&lt;div&gt;&lt;br /&gt;&lt;a href="http://4.bp.blogspot.com/-SIxPO6SnXB0/TcSi8rxfPMI/AAAAAAAAAVY/10xvvf9mWrk/s1600/42-19793338-1.jpg" onblur="try {parent.deselectBloggerImageGracefully();} catch(e) {}"&gt;&lt;img alt="" border="0" id="BLOGGER_PHOTO_ID_5603782999781883074" src="http://4.bp.blogspot.com/-SIxPO6SnXB0/TcSi8rxfPMI/AAAAAAAAAVY/10xvvf9mWrk/s200/42-19793338-1.jpg" style="cursor: hand; cursor: pointer; float: left; height: 134px; margin: 0 10px 10px 0; width: 200px;" /&gt;&lt;/a&gt;&lt;/div&gt;&lt;div&gt;Foto samping: Saat Perarakan Minggu Palma, Paus mengenakan &lt;a href="http://en.wikipedia.org/wiki/Cope"&gt;pluviale&lt;/a&gt; dan didampingi dua kardinal diakon yang mengenakan &lt;a href="http://en.wikipedia.org/wiki/Dalmatic"&gt;dalmatik&lt;/a&gt;.  Perhatikan cara kardinal diakon memegang &lt;a href="http://en.wikipedia.org/wiki/Cope"&gt;pluviale&lt;/a&gt; Paus selama prosesi, sesuai tradisi.&lt;/div&gt;&lt;div&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div&gt;Berikut adalah tambahan asesoris khusus untuk uskup yang mengenakan &lt;a href="http://en.wikipedia.org/wiki/Chasuble"&gt;kasula&lt;/a&gt;, untuk dikenakan saat Misa Stasional di Katedral ataupun Misa Agung lainnya (Bdk. CE 56 &amp;amp; 62).&lt;/div&gt;&lt;div&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div&gt;&lt;a href="http://en.wikipedia.org/wiki/Dalmatic"&gt;Dalmatik Pontifikal&lt;/a&gt; sebenarnya sama dengan &lt;a href="http://en.wikipedia.org/wiki/Dalmatic"&gt;dalmatik&lt;/a&gt; diakon biasa, hanya yang ini bisa berwarna putih polos saja atau bisa ditambah dengan hiasan garis-garis sederhana.  Busana ini dipakai di bawah &lt;a href="http://en.wikipedia.org/wiki/Chasuble"&gt;kasula&lt;/a&gt;.&lt;/div&gt;&lt;div&gt;&lt;br /&gt;&lt;a href="http://1.bp.blogspot.com/-WVnNsuqZy9c/TcSnSmsE9qI/AAAAAAAAAVw/jVVVzFwHwRM/s1600/42-24831896.jpg" onblur="try {parent.deselectBloggerImageGracefully();} catch(e) {}"&gt;&lt;img alt="" border="0" id="BLOGGER_PHOTO_ID_5603787774420645538" src="http://1.bp.blogspot.com/-WVnNsuqZy9c/TcSnSmsE9qI/AAAAAAAAAVw/jVVVzFwHwRM/s200/42-24831896.jpg" style="cursor: hand; cursor: pointer; float: left; height: 133px; margin: 0 10px 10px 0; width: 200px;" /&gt;&lt;/a&gt;&lt;a href="http://3.bp.blogspot.com/-a5IeY4T3E34/TcSmMEPcDeI/AAAAAAAAAVo/QICmzl4Y-aw/s1600/42-19838284-1.jpg" onblur="try {parent.deselectBloggerImageGracefully();} catch(e) {}"&gt;&lt;img alt="" border="0" id="BLOGGER_PHOTO_ID_5603786562582875618" src="http://3.bp.blogspot.com/-a5IeY4T3E34/TcSmMEPcDeI/AAAAAAAAAVo/QICmzl4Y-aw/s200/42-19838284-1.jpg" style="cursor: hand; cursor: pointer; float: left; height: 134px; margin: 0 10px 10px 0; width: 200px;" /&gt;&lt;/a&gt;&lt;/div&gt;&lt;div&gt;Foto-foto di samping: Saat Pencucian Kaki pada Misa Kamis Putih, Paus melepas &lt;a href="http://en.wikipedia.org/wiki/Chasuble"&gt;kasula&lt;/a&gt;, maka nampaklah &lt;a href="http://en.wikipedia.org/wiki/Dalmatic"&gt;dalmatik pontifikal&lt;/a&gt; yang dikenakannya di bawah &lt;a href="http://en.wikipedia.org/wiki/Chasuble"&gt;kasula&lt;/a&gt;, plus juga apron putih yang diikatkan di pinggang, yang biasanya dikenakan saat uskup memberikan sakramen krisma.&lt;/div&gt;&lt;div&gt;&lt;br /&gt;&lt;a href="http://1.bp.blogspot.com/-HAvChOhxF7w/TcSqfURVVzI/AAAAAAAAAWA/-DHPKo0LmRs/s1600/Pope%2BPalium%2B1.jpg" onblur="try {parent.deselectBloggerImageGracefully();} catch(e) {}"&gt;&lt;img alt="" border="0" id="BLOGGER_PHOTO_ID_5603791291349817138" src="http://1.bp.blogspot.com/-HAvChOhxF7w/TcSqfURVVzI/AAAAAAAAAWA/-DHPKo0LmRs/s200/Pope%2BPalium%2B1.jpg" style="cursor: hand; cursor: pointer; float: left; height: 137px; margin: 0 10px 10px 0; width: 200px;" /&gt;&lt;/a&gt;&lt;/div&gt;&lt;div&gt;&lt;a href="http://en.wikipedia.org/wiki/Pallium"&gt;Pallium&lt;/a&gt; adalah kalung putih yang dikenakan di atas &lt;a href="http://en.wikipedia.org/wiki/Chasuble"&gt;kasula&lt;/a&gt;.  &lt;a href="http://en.wikipedia.org/wiki/Pallium"&gt;Pallium&lt;/a&gt; adalah asesoris khusus untuk uskup agung metropolitan, yaitu uskup agung yang memimpin suatu keuskupan agung. (Catatan: Ada uskup agung yang tidak memimpin keuskupan agung, misalnya Nuntius atau Duta Besar Vatikan dan pejabat-pejabat Kuria Romawi di Vatikan)  &lt;a href="http://en.wikipedia.org/wiki/Pallium"&gt;Pallium&lt;/a&gt; dianugerahkan langsung oleh Paus kepada semua metropolitan yang baru diangkat, sekali dalam setahun, pada Hari Raya Santo Petrus dan Paulus, (29 Jun) di Vatikan (lihat foto penganugerahan &lt;a href="http://en.wikipedia.org/wiki/Pallium"&gt;pallium&lt;/a&gt; di atas: Paus mengenakan &lt;a href="http://en.wikipedia.org/wiki/Pallium"&gt;pallium&lt;/a&gt; dan uskup agung metropolitan yang berlutut di depannya baru saja menerima &lt;a href="http://en.wikipedia.org/wiki/Pallium"&gt;pallium&lt;/a&gt; dari Paus. Seremoriarius di sebelah kiri, Mgr. Francesco Camaldo, sedang memegang &lt;a href="http://en.wikipedia.org/wiki/Pallium"&gt;pallium&lt;/a&gt; juga).  &lt;a href="http://en.wikipedia.org/wiki/Pallium"&gt;Pallium&lt;/a&gt; hanya dikenakan oleh seorang metropolitan saat ia memimpin Misa di dalam wilayah keuskupan agungnya (termasuk dalam wilayah keuskupan sufragannya).&lt;/div&gt;&lt;div&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div&gt;Saat tiba di gereja untuk upacara liturgi, uskup yang mengenakan busana liturgi &lt;a href="http://en.wikipedia.org/wiki/Cassock"&gt;jubah&lt;/a&gt; ungu di atas akan melepaskan &lt;a href="http://en.wikipedia.org/wiki/Cappa_magna#Cappa_magna"&gt;cappa magna&lt;/a&gt; (bila dikenakan), &lt;a href="http://en.wikipedia.org/wiki/Pectoral_cross"&gt;salib pektoral&lt;/a&gt;, &lt;a href="http://en.wikipedia.org/wiki/Mozzetta"&gt;mozeta&lt;/a&gt; dan &lt;a href="http://en.wikipedia.org/wiki/Rochet"&gt;rochet&lt;/a&gt;, dan kemudian mengenakan &lt;a href="http://en.wikipedia.org/wiki/Amice"&gt;amik&lt;/a&gt;, &lt;a href="http://en.wikipedia.org/wiki/Alb"&gt;alba&lt;/a&gt;, &lt;a href="http://en.wikipedia.org/wiki/Cincture"&gt;singel&lt;/a&gt;, &lt;a href="http://en.wikipedia.org/wiki/Pectoral_cross"&gt;salib pektoral&lt;/a&gt; dengan tali anyaman warna hijau-emas dan &lt;a href="http://en.wikipedia.org/wiki/Stole_(vestment)"&gt;stola&lt;/a&gt;.  Di atas itu semua, uskup mengenakan &lt;a href="http://en.wikipedia.org/wiki/Cope"&gt;pluviale&lt;/a&gt;, atau bila ia memimpin atau berkonselebrasi dalam Misa, uskup mengenakan &lt;a href="http://en.wikipedia.org/wiki/Dalmatic"&gt;dalmatik pontifikal&lt;/a&gt; (untuk Misa Agung) dan &lt;a href="http://en.wikipedia.org/wiki/Chasuble"&gt;kasula&lt;/a&gt; serta &lt;a href="http://en.wikipedia.org/wiki/Pallium"&gt;pallium&lt;/a&gt; (untuk Misa Agung, khusus metropolitan).&lt;/div&gt;&lt;div&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div&gt;Berikut adalah tambahan asesoris untuk uskup, saat mengenakan &lt;a href="http://en.wikipedia.org/wiki/Chasuble"&gt;kasula&lt;/a&gt; atau &lt;a href="http://en.wikipedia.org/wiki/Cope"&gt;pluviale&lt;/a&gt;, untuk upacara agung (Bdk. CE 56 &amp;amp; 62).&lt;/div&gt;&lt;div&gt;&lt;br /&gt;&lt;a href="http://3.bp.blogspot.com/-cIg0QL0LYWI/TcSlo9il3_I/AAAAAAAAAVg/KQKPZ1PEOjQ/s1600/42-25552353-1.jpg" onblur="try {parent.deselectBloggerImageGracefully();} catch(e) {}"&gt;&lt;img alt="" border="0" id="BLOGGER_PHOTO_ID_5603785959488741362" src="http://3.bp.blogspot.com/-cIg0QL0LYWI/TcSlo9il3_I/AAAAAAAAAVg/KQKPZ1PEOjQ/s200/42-25552353-1.jpg" style="cursor: hand; cursor: pointer; float: right; height: 200px; margin: 0 0 10px 10px; width: 134px;" /&gt;&lt;/a&gt;&lt;/div&gt;&lt;div&gt;&lt;a href="http://en.wikipedia.org/wiki/Mitre"&gt;Mitra&lt;/a&gt; bagi seorang uskup kurang lebih sama makna dan kegunaannya dengan mahkota bagi seorang raja.  Dalam tradisi Gereja Katolik, ada tiga macam mitra uskup, yaitu mitra preciosa, semi-preciosa dan mitra linen putih polos.  Mitra preciosa adalah mitra yang indah dan berharga, seringkali memakai benang emas atau perak dan dilengkapi juga dengan batu permata.  Mitra semi-preciosa adalah mitra yang selama ini kita lihat dipakai banyak uskup di Indonesia.  Mitra putih polos dari bahan kain linen (atau kain sutera damask untuk kardinal) adalah mitra yang dipakai saat uskup berkonselebrasi, ataupun saat Misa Arwah.  Satu catatan kecil, seturut tradisi, lambang uskup dapat digunakan dalam mitra, tetapi penempatannya biasanya di ujung bawah kedua pita besar di belakang dan bukan di bagian depan mitra (lihat foto di atas).  Catatan: Pita berujung hitam dan bersalib merah yang ada di tengah adalah &lt;a href="http://en.wikipedia.org/wiki/Pallium"&gt;pallium&lt;/a&gt;, dilihat dari belakang.&lt;/div&gt;&lt;div&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div&gt;&lt;a href="http://en.wikipedia.org/wiki/Pastoral_staff"&gt;Tongkat&lt;/a&gt; dipakai uskup hanya dalam wilayah keuskupannya.  Uskup tamu yang memimpin suatu upacara agung, atas perkenan uskup diosesan setempat, dapat juga memakai &lt;a href="http://en.wikipedia.org/wiki/Pastoral_staff"&gt;tongkat&lt;/a&gt;.  Saat beberapa uskup hadir dalam suatu upacara, hanya satu uskup pemimpin upacara yang memakai &lt;a href="http://en.wikipedia.org/wiki/Pastoral_staff"&gt;tongkat&lt;/a&gt;. (Bdk. CE 59)&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Catatan: Artikel ini dimuat dalam Majalah Liturgi yang diterbitkan oleh Komisi Liturgi KWI, Vol 22 No 3 - Mei-Jun 2011.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Foto-Foto: Corbis, Pribadi&lt;/div&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/2222578442435492672-965350571181098240?l=tradisikatolik.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://tradisikatolik.blogspot.com/feeds/965350571181098240/comments/default' title='Post Comments'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://tradisikatolik.blogspot.com/2011/07/busana-liturgi-uskup.html#comment-form' title='2 Comments'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/2222578442435492672/posts/default/965350571181098240'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/2222578442435492672/posts/default/965350571181098240'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://tradisikatolik.blogspot.com/2011/07/busana-liturgi-uskup.html' title='Busana Liturgi Uskup'/><author><name>Albert Wibisono</name><uri>http://www.blogger.com/profile/06599163203686361131</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='16' height='16' src='http://img2.blogblog.com/img/b16-rounded.gif'/></author><media:thumbnail xmlns:media='http://search.yahoo.com/mrss/' url='http://2.bp.blogspot.com/-_9wbxRmdaTg/TcShP7P4RXI/AAAAAAAAAVI/qqP6EfjvxM4/s72-c/610x-3.jpg' height='72' width='72'/><thr:total>2</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-2222578442435492672.post-3606507769871328236</id><published>2011-07-10T17:56:00.007+07:00</published><updated>2011-07-10T22:52:05.776+07:00</updated><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='Paus'/><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='Misa'/><title type='text'>Nonton Bareng Beatifikasi</title><content type='html'>&lt;div class="separator" style="clear: both; text-align: left;"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="separator" style="clear: both; text-align: left;"&gt;&lt;a href="http://4.bp.blogspot.com/-AdFYVL6P6QY/ThltK7SM3OI/AAAAAAAAAWQ/svRkluViQ0w/s1600/42-28289827.jpg" imageanchor="1"&gt;&lt;img border="0" height="213" src="http://4.bp.blogspot.com/-AdFYVL6P6QY/ThltK7SM3OI/AAAAAAAAAWQ/svRkluViQ0w/s320/42-28289827.jpg" width="320" /&gt;&lt;/a&gt;&lt;/div&gt;&lt;br /&gt;Banyak orang suka nonton bareng.  Umat Katolik pun tidak terkecuali.  Maka, atas prakarsa Ibu Kristianne Retno, pengasuh Majalah Nuntia Paroki Katedral Roh Kudus &lt;a href="http://www.catholic-hierarchy.org/diocese/ddenp.html"&gt;Keuskupan Denpasar&lt;/a&gt;, saya pun jadi komentator acara nonton bareng Misa Beatifikasi Paus Yohanes Paulus II di Paroki Katedral Roh Kudus.  Karena komentatornya peminat liturgi dan tradisi Katolik, bisa ditebak bahwa komentarnya pun sarat dengan katekese liturgi dan juga pengenalan banyak hal tentang tradisi suci nan indah Gereja Katolik.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Masih segar dalam ingatan kita, pada 1 Mei 2011 yang lalu, &lt;a href="http://www.catholic-hierarchy.org/bishop/bwojtyla.html"&gt;Paus Yohanes Paulus II&lt;/a&gt; dibeatifikasi dalam sebuah Misa yang dipimpin oleh &lt;a href="http://www.catholic-hierarchy.org/bishop/bratz.html"&gt;Paus Benedictus XVI&lt;/a&gt;.  Sayangnya, acara ini tidak dipancarluaskan oleh satu pun stasiun televisi Indonesia.  Indosiar, yang biasanya menayangkan Misa Paskah Paus dari Vatikan, juga tidak menayangkan Misa Beatifikasi ini.  Hanya mereka yang punya parabola atau TV kabel yang bisa nonton.  Sungguh sayang.  Karena itu, saya download rekamannya dari &lt;a href="http://benedictxvi.tv/"&gt;benedictxvi.tv&lt;/a&gt; dan memutarnya ulang untuk umat Paroki Katedral Roh Kudus, &lt;a href="http://www.catholic-hierarchy.org/diocese/ddenp.html"&gt;Keuskupan Denpasar&lt;/a&gt;.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Acara nonton bareng Senin, 20 Juni 2011 itu dibuka pukul 19:15 oleh Romo Guido Fahik, SVD, setelah Bapak J.B. Soetiksno dari Dewan Pastoral Paroki menyampaikan sambutan selamat datang.  Sebelumnya, sejak pukul 18:30, saya memutar film dokumenter &lt;a href="http://www.vaticanum.com/index.php?main_page=product_info&amp;amp;products_id=181&amp;amp;language=en"&gt;Tu Es Petrus&lt;/a&gt; bikinan &lt;a href="http://www.radiovaticana.org/en1/centro_tv.asp"&gt;Televisi Vatikan&lt;/a&gt; (&lt;a href="http://www.radiovaticana.org/en1/centro_tv.asp"&gt;CTV&lt;/a&gt;).  Isinya tentang hari-hari terakhir mendiang &lt;a href="http://www.catholic-hierarchy.org/bishop/bwojtyla.html"&gt;Paus Yohanes Paulus II&lt;/a&gt; sampai dengan Upacara Penobatan &lt;a href="http://www.catholic-hierarchy.org/bishop/bratz.html"&gt;Paus Benedictus XVI&lt;/a&gt;.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;div class="separator" style="clear: both; text-align: left;"&gt;&lt;a href="http://3.bp.blogspot.com/-YJJvygnZXR8/ThloySzZ-_I/AAAAAAAAAWI/JugVk0qIx_E/s1600/IMG_4116.jpg" imageanchor="1" style="margin-left: 0; margin-right: 1em;"&gt;&lt;img border="0" height="213" src="http://3.bp.blogspot.com/-YJJvygnZXR8/ThloySzZ-_I/AAAAAAAAAWI/JugVk0qIx_E/s320/IMG_4116.jpg" width="320" /&gt;&lt;/a&gt;&lt;/div&gt;&lt;br /&gt;Usai Romo Guido membuka acara, film langsung diputar.  Mulailah umat mengikuti Misa dalam Bahasa Latin ini.  Hampir 200-an umat yang mengikuti acara ini.  Sebagian besar dari Paroki Katedral.  Menurut penyelenggara, ada juga umat dari paroki-paroki lain.  Buku &lt;a href="http://www.scribd.com/doc/19131783/Tata-Perayaan-Ekaristi-Latin-Indonesia"&gt;Ordo Missae/Tata Perayaan Ekaristi&lt;/a&gt; dalam dua bahasa, Latin-Indonesia, yang disediakan sebanyak 120 buah, dengan cepat ludes dan banyak umat harus berbagi.  Buku ini menjadi panduan utama, agar umat bisa mengerti apa yang dikatakan dan yang sedang terjadi.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Film yang panjangnya 3 jam itu memang tidak semuanya dipertontonkan.  Banyak bagian Misa yang dilompati, misalnya saat homili.  Antusiasme umat sungguh menggembirakan.  Beberapa kali film dihentikan dan kami berdiskusi tentang beberapa hal, termasuk sikap yang benar saat Bacaan I, II dan Injil, dan juga saat Tubuh dan Darah Kristus ditunjukkan kepada umat.  Acara nonton bareng ini ditutup pukul 21:30 dengan doa.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sungguh umat kita haus katekese liturgi.  Banyak yang berharap liturgi kita bisa terus disempurnakan dan suatu saat nanti bisa seindah liturgi di Vatikan.  Dan ini bukannya tidak mungkin.  Semuanya tergantung kita.  Bandingkan rumitnya persiapan saat menyambut Presiden kita yang datang berkunjung.  Sudahkah kita melakukan hal yang sama (atau lebih baik?) saat Kristus, Tuhan kita, hadir dalam Misa?&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Catatan: Saya memandu acara yang sama untuk para misdinar di Paroki Katedral Hati Kudus Yesus &lt;a href="http://www.catholic-hierarchy.org/diocese/dsura.html"&gt;Keuskupan Surabaya&lt;/a&gt;, Jumat, 25 Jun 2011 malam.  Lagi-lagi, katekese liturgi dan tradisi, kali ini untuk para misdinar.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Foto-Foto: Corbis, Deddy Haryatmo&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/2222578442435492672-3606507769871328236?l=tradisikatolik.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://tradisikatolik.blogspot.com/feeds/3606507769871328236/comments/default' title='Post Comments'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://tradisikatolik.blogspot.com/2011/07/nonton-bareng-beatifikasi.html#comment-form' title='0 Comments'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/2222578442435492672/posts/default/3606507769871328236'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/2222578442435492672/posts/default/3606507769871328236'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://tradisikatolik.blogspot.com/2011/07/nonton-bareng-beatifikasi.html' title='Nonton Bareng Beatifikasi'/><author><name>Albert Wibisono</name><uri>http://www.blogger.com/profile/06599163203686361131</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='16' height='16' src='http://img2.blogblog.com/img/b16-rounded.gif'/></author><media:thumbnail xmlns:media='http://search.yahoo.com/mrss/' url='http://4.bp.blogspot.com/-AdFYVL6P6QY/ThltK7SM3OI/AAAAAAAAAWQ/svRkluViQ0w/s72-c/42-28289827.jpg' height='72' width='72'/><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-2222578442435492672.post-8522182001301547914</id><published>2011-05-04T12:21:00.018+07:00</published><updated>2011-05-06T21:51:12.587+07:00</updated><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='Busana'/><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='Imam'/><title type='text'>Kenapa Imam Perlu Pakai Collar?</title><content type='html'>&lt;p align="left"&gt;&lt;a href="http://2.bp.blogspot.com/-0YKIBg6jKkc/TcENo0nLBEI/AAAAAAAAATI/-73n21fG1C4/s1600/Priest%2B-%2BCollar%2B1.jpg"&gt;&lt;img id="BLOGGER_PHOTO_ID_5602774406394479682" style="MARGIN: 0px 10px 10px 0px; WIDTH: 320px; CURSOR: hand; HEIGHT: 213px" alt="" src="http://2.bp.blogspot.com/-0YKIBg6jKkc/TcENo0nLBEI/AAAAAAAAATI/-73n21fG1C4/s320/Priest%2B-%2BCollar%2B1.jpg" border="0" /&gt;&lt;/a&gt;&lt;/p&gt;Judul Asli: &lt;a href="http://www.ewtn.com/library/PRIESTS/RMCOLLAR.TXT"&gt;Why a Priest Should Wear His Roman Collar&lt;/a&gt;&lt;br /&gt;Oleh: Mgr. Charles M. Mangan dan Fr. Gerald E. Murray&lt;br /&gt;Diterjemahkan atas ijin pengarang, oleh: Winarti Handayani &amp;amp; Albert Wibisono (Penanggungjawab)&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Direktori Pelayanan dan Kehidupan Para Imam, yang disiapkan Kongregasi Para Klerus dan disetujui Paus Yohanes Paulus II pada tanggal 31 Januari 1994, menulis:&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Dalam masyarakat yang sekuler dan cenderung materialistis, di mana tanda-tanda eksternal dari realitas suci dan supernatural mulai hilang, amat terasa pentingnya bagi seorang imam--hamba Allah, pewarta misteri-Nya--untuk bisa dikenali dalam komunitas, juga melalui busana yang ia kenakan, sebagai suatu tanda yang jelas akan dedikasi dan identitasnya sebagai pelaksana pelayanan publik. Imam hendaknya dikenali terutama dari perilakunya, namun juga dari caranya berbusana, yang hendaknya langsung bisa dikenali oleh umat beriman, bahkan oleh siapa saja, hal identitasnya dan keterikatannya kepada Allah dan kepada Gereja.”&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;img id="BLOGGER_PHOTO_ID_5602777523336328242" style="FLOAT: right; MARGIN: 0px 0px 10px 10px; WIDTH: 214px; CURSOR: hand; HEIGHT: 320px" alt="" src="http://2.bp.blogspot.com/-Id-lbFUJEcM/TcEQeQIBNDI/AAAAAAAAATY/KohQvLqeMqE/s320/Priest%2B-%2BCollar%2B10.jpg" border="0" /&gt;Untuk alasan ini, klerus hendaknya mengenakan “busana klerus yang pantas, menurut norma-norma yang dikeluarkan oleh Konferensi Waligereja dan menurut tradisi setempat yang berlaku.” (Kanon 284) Ini artinya, busana tersebut, bila bukan jubah, haruslah benar-benar khusus dan berbeda dari busana awam, dan seturut martabat dan kesucian pelayanannya.&lt;br /&gt;Terlepas dari kondisi yang amat khusus, pemakaian busana awam oleh klerus bisa menunjukkan lemahnya identitas dirinya sebagai seorang pastor yang mendedikasikan diri sepenuhnya untuk melayani Gereja (Direktori 66)&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dengan adanya peringatan dari Takhta Suci tentang pentingnya busana klerus bagi imam, kami merasa akan bermanfaat untuk mempelajari beberapa alasan yang perlu digarisbawahi. Kami juga ingin mempelajari beberapa argumen yang umum digunakan untuk membenarkan tidak dikenakannya collar.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Kami menganggap bahwa menjamurnya praktik mengabaikan collar, yang harusnya diperhatikan para imam, merupakan tanda sekaligus penyebab kelesuan dalam Gereja. Keengganan untuk dikenali di muka umum sebagai seorang imam Gereja Katolik sebenarnya bisa jadi menunjukkan keinginan untuk menjauhkan diri dari panggilan imamatnya. Collar lalu menjadi ”pakaian kerja”, yang ditanggalkan begitu tidak ”sedang bertugas”. Gagasan fungsionalistis terhadap imamat yang ditunjukkan lewat sikap demikian bertentangan dengan konfigurasi ontologis kepada Kristus Sang Imam Agung yang dianugerahkan lewat tahbisan imamat.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;img id="BLOGGER_PHOTO_ID_5602780055409151378" style="FLOAT: left; MARGIN: 0px 10px 10px 0px; WIDTH: 200px; CURSOR: hand; HEIGHT: 133px" alt="" src="http://4.bp.blogspot.com/-QbOo8bM86Mc/TcESxo1OTZI/AAAAAAAAATw/7ZZTHjwxv8s/s200/Priest%2B-%2BCollar%2B4.jpg" border="0" /&gt; Awam mengandalkan para imam untuk dukungan dan kekuatan rohani. Mereka merasa ada yang tidak beres ketika imam mereka mencoba membaur di antara khalayak ramai dan “menghilang”.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Tujuan artikel ini adalah untuk mendorong para rekan imam untuk mengenakan collar (begitu pula, para biarawan-biarawati mengenakan jubah biara mereka). Tanpa perlu penjelasan lebih lanjut, memang ada pengecualian-pengecualian terhadap peraturan ini, sejauh itu masuk akal dan bisa dipertanggungjawabkan, misalkan pada acara olahraga dan rekreasi, ketika sedang berlibur (secara umum), ketika di rumah bersama sanak saudara atau ketika berada di kawasan privat dalam pastoran. Dan tentunya, kewajiban mengenakan busana klerus dengan sendirinya tidak berlaku di saat ada penganiayaan. Di waktu-waktu krisis yang demikian, panduan dari para uskup hendaknya diikuti.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Tidak tepat pula bila dikatakan bahwa imam yang menolak mengenakan collar adalah imam yang buruk. Kami khawatir beberapa saudara-saudara kita para imam telah masuk ke dalam kebiasaan yang buruk. Mungkin mereka telah meyakinkan diri mereka sendiri bahwa dengan menanggalkan busana klerus, mereka dapat melakukan lebih banyak kebaikan bagi Gereja. Kami berharap agar para imam yang beranggapan demikian memikirkan kembali keputusan mereka untuk berpakaian sebagai awam, dan untuk meneliti kembali alasan di balik keputusan tersebut.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;img id="BLOGGER_PHOTO_ID_5602777921124953154" style="MARGIN: 0px 10px 10px 0px; WIDTH: 320px; CURSOR: hand; HEIGHT: 214px" alt="" src="http://2.bp.blogspot.com/-jjtg3B8amas/TcEQ1aAN7EI/AAAAAAAAATg/fWS-uApD2ms/s320/Priest%2B-%2BCollar%2B2.jpg" border="0" /&gt;&lt;br /&gt;(Catatan penerjemah: Collar berwarna putih, baik yang digunakan bersama jubah maupun kemeja, merupakan tradisi gereja Katolik yang sudah berabad-abad umurnya. Sayang sekali, saat ini di Indonesia mungkin lebih banyak pendeta Protestan yang memakainya daripada imam Katolik.)&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Bagian 1: Alasan untuk mengenakan collar.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;1) Collar merupakan tanda konsekrasi imamat kepada Tuhan. Sebagaimana cincin kawin menunjukkan kekhasan suami isteri dan menandakan persatuan di antara mereka, maka collar menunjukkan jati diri para uskup dan imam (dan kadang para diakon serta seminaris) sekaligus menunjukkan kedekatan mereka dengan Allah melalui penyerahan diri sendiri kepada panggilan tahbisan yang telah (atau akan) mereka terima.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;2) Dengan mengenakan busana klerus dan dengan tidak memiliki pakaian berlebihan, imam menunjukkan ketaatan meneladani Yesus dalam kemiskinan material. Imam tidak memilih pakaiannya sendiri-- Gereja lah yang memilih baginya, berkat kebijaksanaan yang telah dikumpulkannya selama dua milenium. Bagi seorang imam, menerima dengan penuh kerendahan hati keinginan Gereja agar para imam mengenakan collar menggambarkan penyerahan diri secara sehat kepada otoritas dan keselarasan dengan kehendak Kristus yang dinyatakan lewat Gereja-Nya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;3) Hukum Gereja mewajibkan para klerus untuk mengenakan busana klerus. Kami telah mengutip di atas Direktori Bagi Para Imam Nomor 66, yang mengutip Kanon Nomor 284.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;4) Keinginan agar para imam mengenakan collar secara berulang kali disampaikan oleh Paus Yohanes Paulus II. Kehendak Bapa Suci dalam hal ini tidak dapat dengan begitu saja diabaikan; beliau berbicara dengan kharisma khusus. Beliau sering mengingatkan para imam nilai dan makna mengenakan collar.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;img id="BLOGGER_PHOTO_ID_5602780050641388418" style="FLOAT: left; MARGIN: 0px 10px 10px 0px; WIDTH: 138px; CURSOR: hand; HEIGHT: 200px" alt="" src="http://1.bp.blogspot.com/-9ioOngItRrE/TcESxXEgA4I/AAAAAAAAATo/M99DUouGCrY/s200/Priest%2B-%2BCollar%2B3.jpg" border="0" /&gt; Dalam suratnya kepada Ugo Kardinal Poletti, Vikarisnya untuk Keuskupan Roma, tanggal 8 September 1982, Bapa Suci memberi instruksi untuk menyebarluaskan norma-norma berkaitan dengan penggunaan collar dan jubah bagi kaum religius. Bapa Suci mengamati bahwa busana klerus berharga ”bukan hanya karena busana ini menambah kesopanan dalam bertingkah laku secara eksternal atau menambah kepatutan dalam melaksanakan pelayanannya, namun terlebih lagi karena busana ini memberikan bukti kepada komunitas gerejawi kesaksian seorang imam di hadapan publik akan jati dirinya dan bahwa ia secara istimewa menjadi milik Allah.”&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dalam sebuah homili tanggal 8 November 1982 kepada sekelompok diakon yang akan menerima darinya tahbisan imamat, Bapa Suci berkata bahwa jika mereka mencoba untuk menjadi seperti kebanyakan orang dalam ”gaya hidup” dan ”cara berpakaian,” maka misi mereka sebagai imam Yesus Kristus tidak akan terpenuhi seutuhnya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;5) Collar menghindarkan terjadinya ”kesalahpahaman”; orang lain akan bisa segera memahami intensi seorang imam ketika imam tersebut ditemukan dalam suasana atau situasi yang di luar kebiasaan. Misalkan, seorang imam perlu melakukan kunjungan pastoral ke daerah di mana banyak bandar narkoba atau pelacur beroperasi. Collar akan memberi pesan yang jelas pada semua orang, bahwa imam tersebut datang dalam nama Kristus untuk melayani orang sakit dan mereka yang membutuhkan. Praduga mungkin bisa muncul bila seorang imam yang dikenali oleh warga setempat berkunjung ke daerah serupa dengan berpakaian sebagai awam.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;6) Collar akan mengilhami orang untuk menghindari cara berpakaian, bertutur kata dan perbuatan yang tidak sopan, dan mengingatkan mereka akan perlunya kepantasan di muka umum. Seorang imam yang periang namun cerdas dan serius dapat mendorong orang untuk memeriksa tingkah lakunya sendiri. Collar menjadi tantangan yang diperlukan bagi jaman yang tenggelam dalam ketidakmurnian, ditunjukkan dengan cara berpakaian yang tidak sopan, kata-kata hujatan dan perbuatan penuh skandal.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;7) Collar adalah perlindungan bagi panggilan seseorang ketika berhadapan dengan wanita muda dan atraktif. Seorang imam yang bepergian tanpa busana klerus (dan tidak mengenakan cincin tanda adanya ikatan perkawinan) akan menjadi target yang menarik bagi wanita lajang yang mencari suami, atau bagi wanita sudah menikah yang tergiur untuk tidak setia.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;a href="http://1.bp.blogspot.com/-1uMbrIdRBT0/TcEZhwhq2SI/AAAAAAAAAUw/hq1fLAcV_U4/s1600/Priest%2B-%2BCollar%2B13.jpg"&gt;&lt;img id="BLOGGER_PHOTO_ID_5602787479178107170" style="FLOAT: left; MARGIN: 0px 10px 10px 0px; WIDTH: 132px; CURSOR: hand; HEIGHT: 200px" alt="" src="http://1.bp.blogspot.com/-1uMbrIdRBT0/TcEZhwhq2SI/AAAAAAAAAUw/hq1fLAcV_U4/s200/Priest%2B-%2BCollar%2B13.jpg" border="0" /&gt;&lt;/a&gt;8) Collar memberi semacam ”penjagaan” bagi imam. Collar mengingatkan imam akan misi dan jati dirinya: untuk bersaksi bagi Yesus Kristus, Sang Imam Agung, sebagai salah satu di antara para imam saudaranya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;9) Seorang imam yang mengenakan collar menjadi inspirasi bagi orang-orang yang berpikir: ”Inilah pengikut Yesus di zaman modern.” Collar berbicara tentang kemungkinan membuat komitmen yang tulus dan tak lekang dengan Allah. Umat beriman dari berbagai usia, kebangsaan, dan watak akan memperhatikan orang yang berbudi luhur, yang hidupnya diberikan untuk orang lain, yang dengan gembira dan bangga mengenakan busana imam Katolik, dan mungkin akan menyadari bahwa mereka juga bisa membaktikan diri mereka secara baru, atau untuk pertama kalinya, kepada Sang Gembala Yang Baik.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;10) Collar menjadi sumber yang membangkitkan minat bagi non-Katolik. Sebagian umat non-Katolik tidak pernah bersinggungan dengan pemimpin agama yang mengenakan busana klerus. Dengan demikian, imam Katolik melalui cara mereka berpakaian dapat membuat orang-orang ini merenungkan--bahkan bila hanya selintas lalu--tentang Gereja.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;11) Seorang imam yang berpakaian seturut yang diinginkan Gereja menjadi pengingat pada Allah dan pada hal-hal suci. Kekacau-balauan sekularisme yang bertahan sekarang ini tidak bersahabat dengan gambaran-gambaran tentang Allah, tentang Gereja dan sebagainya. Ketika seorang imam mengenakan collar, hati dan pikiran orang-orang yang melihatnya akan terarah pada ”Yang Ilahi” yang seringkali tersisih dalam agenda budaya kontemporer.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;12) Collar juga merupakan pengingat bagi imam bahwa ia ”tidak pernah tidak menjadi imam”. Dengan berbagai kebingungan yang merata terjadi di jaman ini, collar dapat membantu imam untuk menghindari keraguan jati diri. Memiliki dua cara berpakaian dapat dengan mudah menghantar seseorang--dan ini seringkali terjadi--kepada dua gaya hidup, atau bahkan dua kepribadian.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;13) Seorang imam yang mengenakan collar bagaikan pembawa pesan panggilan berjalan. Pemandangan seorang imam ceria dan bahagia, yang dengan penuh percaya diri berjalan di pinggir jalan dapat menjadi magnet yang menarik pemuda untuk mempertimbangkan kemungkinan Allah memanggil mereka menjadi imam. Allah yang memanggil; imam itu hanya sebuah tanda yang nampak, yang digunakan Allah untuk menarik orang kepada diri-Nya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;img id="BLOGGER_PHOTO_ID_5602783318668708018" style="FLOAT: right; MARGIN: 0px 0px 10px 10px; WIDTH: 134px; CURSOR: hand; HEIGHT: 200px" alt="" src="http://1.bp.blogspot.com/-0bpRXSAdBTI/TcEVvla7iLI/AAAAAAAAAT4/laS-wK0bYyA/s200/Priest%2B-%2BCollar%2B5.jpg" border="0" /&gt;14) Mengenakan collar membuat imam selalu tersedia untuk melayani Sakramen-Sakramen terutama Pengakuan Dosa dan Pengurapan Orang Sakit, dan untuk situasi-situasi genting. Pemakaian collar membuat imam yang bersangkutan mudah dikenali, ini membuat imam-imam yang mengenakannya lebih mungkin didekati, terutama dalam situasi di mana kehadiran imam amat diperlukan. Para penulis artikel ini dapat bersaksi bahwa kerap kali mereka diminta memberikan pelayanan Sakramen dan dimintai bantuan di bandara, di kota-kota padat dan di desa-desa terpencil, karena mereka dengan mudah dikenali sebagai imam Katolik.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;15) Collar merupakan tanda bahwa imam yang mengenakannya berjuang untuk menjadi kudus dengan cara senantiasa hidup dalam panggilannya. Untuk membuat diri setiap saat tersedia bagi jiwa-jiwa dengan selalu bisa dikenali sebagai seorang imam di muka umum sungguh merupakan sebuah pengorbanan, namun sebuah pengorbanan yang menyenangkan Tuhan Allah kita. Kita diingatkan bagaimana manusia selalu datang kepada-Nya dan tak satu pun Ia tolak. Begitu banyak orang yang akan mendapatkan manfaat dari pengorbanan kita untuk berjuang tanpa putus untuk menjadi imam-imam kudus.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;16) Collar menjadi pengingat bagi umat Katolik yang ”terasing” untuk tidak melupakan keadaan mereka yang tidak beres dan tanggung jawab mereka pada Tuhan. Imam adalah seorang saksi--demi kebaikan maupun keburukan--bagi Kristus dan Gereja Kudus-Nya. Ketika seorang yang telah terpisah dari Allah melihat seorang imam, dia terdorong untuk mengingat bahwa Gereja tetap ada. Seorang imam yang ceria dapat menjadi pengingat yang baik akan Gereja.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;17) Mengenakan busana klerus merupakan pengorbanan di saat-saat tertentu, terutama dalam cuaca yang panas. Mortifikasi terbaik bukanlah yang kita sendiri cari. Ketidaknyamanan akibat suhu yang panas dan lembab bisa kita persembahkan sebagai silih atas dosa-dosa kita dan juga sebagai cara untuk memohon rahmat bagi umat paroki kita.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;18) Collar menjadi ”tanda yang penuh kontradiksi” bagi dunia yang telah jatuh ke dalam dosa dan perlawanan terhadap Sang Pencipta. Collar memberi pernyataan tegas: imam sebagai “alter Christus” telah menerima mandat dari Sang Penebus untuk mewartakan Injil ke khalayak ramai, tanpa pikir panjang untuk pengorbanan pribadinya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;div&gt;19) Collar membantu para imam menghindarkan diri dari mentalitas sedang bertugas/tidak sedang bertugas. Angka 24 dan 7 haruslah menjadi angka istimewa untuk kita: kita adalah imam selama 24 jam sehari, 7 hari seminggu. Kita adalah imam, dan bukan individu dengan ”profesi imam.” Bertugas ataupun tidak bertugas, kita harus selalu menyediakan diri bagi siapa pun yang dikirim Allah kepada kita. ”Domba yang hilang” tidak pernah membuat perjanjian untuk bertemu lebih dahulu.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;img id="BLOGGER_PHOTO_ID_5602783318009371058" style="FLOAT: right; MARGIN: 0px 0px 10px 10px; WIDTH: 200px; CURSOR: hand; HEIGHT: 128px" alt="" src="http://4.bp.blogspot.com/-OqUBYK_BK3E/TcEVvi9u2bI/AAAAAAAAAUA/PGkgJLgq75k/s200/Priest%2B-%2BCollar%2B6.jpg" border="0" /&gt;20) Para ”perwira” dalam pasukan Kristus harus bisa dikenali. Dalam tradisi, kita mengenal bahwa mereka yang sudah menerima Sakramen Penguatan menjadi ”tentara” Kristus, menjadi orang Katolik dewasa yang siap dan bersedia untuk mempertahankan nama-Nya dan Gereja-Nya. Mereka yang telah ditahbiskan menjadi diakon, imam dan uskup harus juga siap--apa pun yang terjadi--untuk menggembalakan kawanan domba Tuhan. Maka, para imam yang mengenakan collar menunjukkan dengan jelas peran mereka sebagai pemimpin dalam Gereja.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;21) Para kudus tidak pernah menerima adanya kemunduran dalam cara imam berbusana. Contohnya, Santo Alfonsus Liguori (1696-1787), Pelindung para Teologian Moral dan Pengaku Iman, dalam tulisannya yang terkenal “Martabat dan Tugas-Tugas Para Imam”, mendorong para imam untuk mengenakan busana klerus yang pantas, menegaskan bahwa collar membantu imam sekaligus umat beriman untuk mengingat kembali keagungan, kekudusan imamat yang diinstitusikan oleh Allah-Manusia.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;22) Kebanyakan umat Katolik mengharapkan para imam berbusana yang sesuai dengan perannya sebagai imam. Sudah begitu lama, para imam memberikan rasa nyaman dan aman kepada umatnya. Ketika masih muda, seorang Katolik diajari bahwa imam adalah wakil Allah--seorang yang pantas untuk dipercayai. Dengan demikian, umat Allah ingin tahu siapakah para wakil Allah ini dan apa yang mereka bela/pertahankan. Kebiasaan imam mengenakan busana khusus yang ditetapkan Gereja sudah berabad-abad bisa diterima dengan baik; hal ini bukanlah ketentuan tanpa dasar. Umat Katolik berharap para imam berbusana sebagai imam dan berperilaku selaras dengan ajaran dan praktik Gereja. Sebagaimana kita amati terjadi beberapa tahun belakangan ini, umat beriman sangatlah terganggu dan merasa tersakiti apabila imam-imam secara sengaja menentang otoritas Gereja, mengajar dan berbuat sembarangan dan bahkan melakukan perbuatan dosa.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;23) Hidup Anda bukanlah milik Anda sendiri; Anda milik Allah secara istimewa, Anda diutus untuk melayani-Nya dengan hidup Anda. Ketika kita bangun tiap pagi, kita perlu mengarahkan pikiran kita kepada Allah kita yang penuh kasih, dan meminta rahmat untuk dapat melayani-Nya dengan baik hari itu. Kita mengingatkan diri kita akan status kita sebagai pelayan-Nya yang terpilih dengan cara mengenakan busana yang menunjukkan kepada semua orang bahwa Allah tetap masih bekerja di dunia ini lewat kita, orang-orang miskin dan pendosa ini.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Bagian 2: Argumen yang biasa dilontarkan untuk tidak memakai busana klerus&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Segudang alasan diajukan supaya para imam tidak perlu mengenakan collar. Beberapa pendapat di antaranya ada di bawah ini, berikut kami sertakan juga komentar kami.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;1) ”Saya butuh waktu bagi diri saya sendiri.” Para imam, jelas memerlukan waktu khusus untuk diri mereka sendiri, terutama waktu untuk berdoa. Bagaimana pun juga, seorang imam selalu dan selamanya adalah imam. Di luar waktu-waktu yang sudah kita bicarakan dalam pembukaan di atas (waktu rekreasi, liburan, dll.), tidak ada keperluan untuk berbusana sebagai awam. Imam harus melewati waktu-waktu pribadinya tetap sebagai imam dan bukan sebagai yang lain.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;img id="BLOGGER_PHOTO_ID_5602787477042985650" style="FLOAT: left; MARGIN: 0px 10px 10px 0px; WIDTH: 134px; CURSOR: hand; HEIGHT: 200px" alt="" src="http://1.bp.blogspot.com/-oKGWAfQY6aY/TcEZhoknerI/AAAAAAAAAUo/lqju1y14w2w/s200/Priest%2B-%2BCollar%2B11.jpg" border="0" /&gt; 2) ”Saya ingin santai.” Kita membuat kesalahan besar bila kita menyamakan mengenakan collar tersebut dengan tidak santai, dan santai berarti tanpa collar. Imam harus secara alami mengenakan collar tersebut tanpa perlu selalu menghindarinya. Kita harus melaksanakan kegiatan kita sehari-hari, termasuk juga bersantai, tanpa perlu merasa tidak nyaman dengan busana imam kita. Hal ini harus menjadi seperti kulit kedua bagi kita.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;3) ” Kehidupan pelayanan dan pribadiku terpisah.” Memiliki ”kepribadian yang terpisah” bukanlah hal yang sehat. Tidak ada imam yang bisa sementara menyimpan imamatnya di rak. Menyembunyikan keimamatan seseorang seringkali merupakan gejala adanya keinginan untuk melakukan perbuatan dosa, atau sedikitnya kurang baik.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;4) ”Saya perlu hiburan.” Kalau yang Anda maksud adalah hiburan yang membuat Anda merasa malu menikmatinya saat Anda mengenakan collar, maka lupakanlah hiburan tersebut, dan bukan collar-nya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;5) ”Mereka yang mengenakan collar adalah mereka yang merasa tidak aman dan mencari keamanan dengan berlindung di balik seragam mereka.” Collar bukanlah seragam yang bisa ditanggalkan di akhir hari. Namun lebih dari itu, kebijaksanaan Gereja yang benar dan teruji telah menentukan bahwa busana demikianlah yang bisa menggambarkan dengan baik siapakah seorang imam itu. Collar adalah bentuk kebiasaan yang sudah mapan, bagian di mana pelayan tertahbis menghidupi panggilan gerejawi mereka dalam ranah privat sekaligus publik. Benar juga bahwa ada orang-orang yang merasa diri mereka lebih baik karena apa yang mereka kenakan. Tapi collar dan jubah tidak semestinya dihapus berdasarkan hal tersebut. Para imam dan religius adalah orang-orang lemah dan mudah tergoda. Mengenakan pakaian yang semestinya dapat memperkuat mereka yang sedang berjalan menuju jurang dosa. Di sisi lain, mereka yang tak ingin tampil di muka umum sebagai diri mereka sendiri tampaknya memiliki rasa ketidakamanan dalam diri mereka.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;img id="BLOGGER_PHOTO_ID_5602783322368635474" style="FLOAT: right; MARGIN: 0px 0px 10px 10px; WIDTH: 133px; CURSOR: hand; HEIGHT: 200px" alt="" src="http://2.bp.blogspot.com/-g3-7WAWTu58/TcEVvzND8lI/AAAAAAAAAUQ/MNYr27SfzSE/s200/Priest%2B-%2BCollar%2B8.jpg" border="0" /&gt;6) ”Saya tidak ingin terlihat menonjol dalam kerumunan.” Hal ini adalah bagian dari kemuliaan namun juga kadang pengorbanan dari menjadi pelayan pilihan Allah: imam menonjol bukan karena pencapaian atau kebaikan mereka sendiri, namun karena mereka mewakili Yesus Kristus. Imam berbeda, tapi bukan berarti ia aneh.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;7) Collar menimbulkan penghalang antara saya dan umat saya.” Beberapa imam telah menyatakan demikian di muka umum. (Contohnya, seorang imam petinggi tribunal dan seorang imam lagi yang berkarya dalam lingkungan ekumene, keduanya menegaskan pentingnya mereka tidak mengenakan collar karena khawatir akan menimbulkan perasaan tidak nyaman bagi para non-Katolik dan mereka yang tidak simpatik dengan ajaran Gereja.) Mungkinkah itu berarti ada orang-orang yang berpikir apa yang direpresentasikan collar--Yesus Kristus, Gereja Katolik, imamat--adalah penghalang? Para imam harus berhubungan dengan orang sebagai imam, dan tidak pernah selain sebagai imam.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;8) ”Saya tidak bisa menjadi salah satu di antara orang-orang tersebut ketika saya ’berkostum’.” Kami menjawab, ”Bagus, karena imam tidak pernah menjadi cuma salah satu di antara orang-orang.” Lagipula, mengenakan collar bukanlah “berkostum”. Justru seorang imam yang mengenakan busana awam (di luar pengecualian-pengecualian yang sah) berkostum sebagai seseorang yang sebenarnya bukan dirinya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;9) ”Saya tidak ingin menimbulkan perasaan tidak nyaman untuk non-Katolik atau tampak terlalu provokatif dalam masyarakat yang pluralistik.” Beberapa orang menghina Yesus ketika Ia dulu berjalan di Palestina. Apakah kita mencoba untuk lebih ”ramah” dari-Nya? Atau mungkin kita takut menderita demi nama-Nya? (Catatan penerjemah: Biksu Budha di Indonesia senantiasa mengenakan busana mereka yang khas. Dengan busana itu mereka dikenali, dihormati dan disegani oleh berbagai kalangan, termasuk oleh kalangan non-Budha.)&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;10) ”Busana klerus untuk Gereja klerus--Saya percaya bahwa ada kesetaraan di antara seluruh umat beriman.” Tidak ada ide seperti Gereja klerus yang akan diakui. Hanya ada satu Gereja, dan imamat adalah bagian konstitutif dari Gereja yang tidak dapat dihapuskan. Kesetaraan seluruh umat beriman tidak membantah keberagaman panggilan dan pilihan cara hidup dalam Gereja. Bagi para imam, untuk membebaskan diri sendiri dari tugas-tugas kehidupan imamatnya, termasuk di antaranya pemakaian collar, adalah bentuk klerikalisasi yang memungkiri hak umat beriman untuk mengenal imam mereka sehingga mereka bisa mencari para imam untuk meminta pelayanan kapan pun diperlukan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;img id="BLOGGER_PHOTO_ID_5602787482608841458" style="FLOAT: left; MARGIN: 0px 10px 10px 0px; WIDTH: 200px; CURSOR: hand; HEIGHT: 133px" alt="" src="http://2.bp.blogspot.com/-xUomFDpL0fo/TcEZh9TnsvI/AAAAAAAAAU4/hyJNaWCnSso/s200/Priest%2B-%2BCollar%2B14.jpg" border="0" /&gt; 11) ”Karya saya di antara kaum muda terintangi dengan adanya collar.” Banyak imam yang mengaku bahwa pelayanan kepada kaum muda justru meningkat dan bukan terhalangi dengan mengenakan collar. Pemuda dan pemudi bisa melihat kecintaan dan pengabdian si imam kepada Tuhan dan Gereja. Dan karena tidak ada alasan bagi si imam untuk menunjukkan ”Saya pun seperti Anda” (karena bukan demikian adanya) imam tersebut bisa dengan gembira mengenakan collar-nya ketika berada di antara kaum muda, tahu bahwa tak ada yang perlu dia buktikan ataupun dia sembunyikan. Dia hanya perlu menunjukkan cinta dan kasih dari Sang Penyelamat.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;12) ”Pakaian tidak menjadikan orang--umat Allah dapat melihat imamat saya melalui cara hidup saya, dan bukan cara berpakaian saya.” Pernyataan ini ada benarnya. Namun cara berpakaian yang sah yang ditetapkan oleh Gereja tidaklah menyembunyikan siapa imam itu sebenarnya; sebaliknya, hal ini justru menyoroti bahwa benar ia seorang imam yang diwajibkan oleh Gereja untuk berpakaian sesuai ketentuan sebagaimana ia berusaha untuk meneladani Sang Imam Utama.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;13) ”Simbol-simbol eksternal bukanlah kesukaan saya--Saya adalah saya, saya tidak ingin menjadi orang seperti yang diinginkan orang lain.” Persis. Sebagai imam, kita harus menjadi imam dan dengan sukacita dan penuh kerendahan hati memberikan pesan yang jelas itu kepada orang lain. Ketika collar dengan cepat ditanggalkan beberapa dasawarsa yang lalu, alasan yang sering muncul adalah: ”Apa yang penting adalah yang ada di dalam hati saya … Saya tidak memerlukan cara berpakaian apa pun untuk menunjukkan imamat saya.” Hidup kita harus menunjukkan sifat-sifat ini tanpa perlu malu; kalau tidak, kita mungkin hanya mencari kesenangan kita sendiri dan bukan kehendak Kristus. Kita selalu menggunakan simbol-simbol, dan tidaklah perlu merasa malu akan hal itu. Mengenakan collar dengan penuh ketaatan dan kerendahan hati menunjukkan kepasrahan pada otoritas Allah dan Gereja Kudus-Nya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;img id="BLOGGER_PHOTO_ID_5602783322436755122" style="FLOAT: right; MARGIN: 0px 0px 10px 10px; WIDTH: 200px; CURSOR: hand; HEIGHT: 137px" alt="" src="http://2.bp.blogspot.com/-a4F3ey5AvzY/TcEVvzdTXrI/AAAAAAAAAUI/JF3Xzx9tj7s/s200/Priest%2B-%2BCollar%2B7.jpg" border="0" /&gt;14) “Imam-imam yang mengenakan collar selalu terkesan kaku, super konservatif, tidak fleksibel, kaum elit, sombong dan cari perhatian diri. Saya bukan seperti itu.” Pernyataan ini dibuat karena ada imam-imam yang berbusana imam memiliki hasrat yang tidak sehat untuk selalu merasa dibutuhkan dan dikenali; mereka hanya mengenakan kerah untuk mendapat pujian dan untuk ”menjadi tuan besar” atas umat awam; mereka mencari diskon khusus atau barang gratisan di toko-toko dan restoran. Namun ini juga merupakan penilaian yang kurang adil bagi mereka yang mencoba untuk hidup sebagaimana diminta oleh Gereja. Collar berarti kehidupan sederhana dan kerendahan hati di hadapan Allah. Bagi imam yang berkata, ”Saya tidak seperti imam-imam menyedihkan itu yang masih mengenakan atribut klerikalisme kuno masa Tridentinum,” hal ini mungkin dikatakan untuk mengurangi rasa bersalahnya untuk tidak melakukan apa yang diminta Gereja.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Buah Pikiran Akhir&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Tak bisa disangkal, sebagian besar masyarakat Barat menunjukkan dekadensi dengan melenyapkan segala tanda dari yang transenden.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Untuk menentang keadaan yang demikian, para imam, yang diteguhkan oleh Roh Kudus dengan iman yang kokoh dan semangat perutusan yang benar, harus berusaha untuk bekerjasama dengan Sang Pencipta unuk menghidupkan kembali dunia dengan perasaan hormat dan tanggung jawab pada Allah.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Collar, jauh dari sekedar pengingat akan perintah Gereja yang mewajibkan busana klerus bagi para imamnya, merupakan penanda yang amat diperlukan akan adanya Penolong yang memanggil setiap orang untuk mengenali kasih tanpa pamrih dan keagungan Tritunggal Maha Kudus.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;a href="http://3.bp.blogspot.com/-bReYJ1XF5zM/TcEZhoOlGqI/AAAAAAAAAUg/HD0jFIRlU6c/s1600/Priest%2B-%2BCollar%2B9.jpg"&gt;&lt;img id="BLOGGER_PHOTO_ID_5602787476950555298" style="FLOAT: left; MARGIN: 0px 10px 10px 0px; WIDTH: 133px; CURSOR: hand; HEIGHT: 200px" alt="" src="http://3.bp.blogspot.com/-bReYJ1XF5zM/TcEZhoOlGqI/AAAAAAAAAUg/HD0jFIRlU6c/s200/Priest%2B-%2BCollar%2B9.jpg" border="0" /&gt;&lt;/a&gt;Para imam yang mengenakan collar mungkin akan diserbu dengan banyak keberatan. ”Kita adalah Gereja … kita semua adalah imam … tidak ada tempat bagi perbedaan kelas dalam Gereja abad keduapuluhsatu…” Bahkan mungkin beberapa rekan imam akan menaruh curiga, yakin bahwa ia kurang hati-hati dalam bertindak. ”Mengenakan collar hanya akan membuat Anda menjadi target dan korban … Anda akan menyesal.”&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Namun para imam yang mengenakan collar, selain menaati hukum Gereja dan permintaan tulus Bapa Suci, juga menunjukkan kerinduannya untuk menghadirkan Sang Juru Selamat ke dalam dunia yang telah rusak. Betapapun banyaknya penganiayaan yang akan ditemui oleh imam yang mengenakan collar, ia tahu benar bahwa upahnya pun besar: yaitu dapat membawa orang lain kepada Kristus meskipun ia sendiri mempunyai banyak kelemahan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Bagi para imam yang selalu mengenakan collar kami ingin berkata: Teruslah melakukannya! Bagi mereka yang belum, kami mau berkata: tiliklah makna dari sesuatu yang mungkin terlihat begitu remeh dari sebuah pakaian. Perhatikan bahwa tugas-tugas imamat yang Anda lakukan sekarang tidak akan mendapat kendala melainkan akan meningkat saat Anda mengenakan busana yang sesuai dengan kebiasaan suci Gereja.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;----------------------------------&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Artikel ini muncul dalam ”The Homiletic &amp;amp; Pastoral Review” edisi bulan Juni 1995.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Saat tulisan ini dibuat:&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Pastor Charles M. Mangan adalah seorang pastor di dua paroki pedesaan dan Vice-Chancellor di Keuskupan Sioux Falls, Dakota Selatan. Ia lulus dari Seminari Santa Maria di Emmitsburg, Maryland dan ditahbiskan pada tahun 1989. Ia menerima JCL dari Universitas Gregoriana, Roma.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Pastor Gerald E. Murray adalah seorang imam di Keuskupan Agung New York. Ia lulus dari Dartmouth College dan ditahbiskan pada tahun 1984 setelah menyelesaikan studinya di Seminari Santo Yosef di Dunwoodie, negara bagian New York. Saat ini, ia sedang melanjutkan studi di bidang hukum gereja di Universitas Gregoriana, Roma.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Untuk bacaan lebih lanjut:&lt;br /&gt;&lt;a href="http://tradisikatolik.blogspot.com/2008/12/busana-imam.html"&gt;Busana Imam&lt;/a&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Foto-Foto: Corbis&lt;/div&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/2222578442435492672-8522182001301547914?l=tradisikatolik.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://tradisikatolik.blogspot.com/feeds/8522182001301547914/comments/default' title='Post Comments'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://tradisikatolik.blogspot.com/2011/05/kenapa-imam-perlu-pakai-collar.html#comment-form' title='4 Comments'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/2222578442435492672/posts/default/8522182001301547914'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/2222578442435492672/posts/default/8522182001301547914'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://tradisikatolik.blogspot.com/2011/05/kenapa-imam-perlu-pakai-collar.html' title='Kenapa Imam Perlu Pakai Collar?'/><author><name>Albert Wibisono</name><uri>http://www.blogger.com/profile/06599163203686361131</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='16' height='16' src='http://img2.blogblog.com/img/b16-rounded.gif'/></author><media:thumbnail xmlns:media='http://search.yahoo.com/mrss/' url='http://2.bp.blogspot.com/-0YKIBg6jKkc/TcENo0nLBEI/AAAAAAAAATI/-73n21fG1C4/s72-c/Priest%2B-%2BCollar%2B1.jpg' height='72' width='72'/><thr:total>4</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-2222578442435492672.post-8445859777709502577</id><published>2010-10-23T08:38:00.010+07:00</published><updated>2010-10-23T23:50:08.962+07:00</updated><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='Misa'/><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='Koor'/><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='Magister Caeremoniarum (MC)'/><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='Gregorian'/><title type='text'>Gregorian? Puji Syukur!</title><content type='html'>&lt;p align="left"&gt;&lt;a onblur="try {parent.deselectBloggerImageGracefully();} catch(e) {}" href="http://3.bp.blogspot.com/_6gXDFDHmxzU/TMMILcHAtvI/AAAAAAAAAS4/kO02VDKaNwg/s1600/Gregorian+Chant.jpg"&gt;&lt;img style="MARGIN: 0px 10px 10px 0px; ;cursor:pointer; cursor:hand;width: 320px; height: 230px;" src="http://3.bp.blogspot.com/_6gXDFDHmxzU/TMMILcHAtvI/AAAAAAAAAS4/kO02VDKaNwg/s320/Gregorian+Chant.jpg" border="0" alt="" id="BLOGGER_PHOTO_ID_5531273759958284018" /&gt;&lt;/a&gt;&lt;br /&gt;Lagu Gregorian memang sedang naik daun. Banyak yang minta saran ke saya, bagaimana cara memasyarakatkan (kembali) lagu Gregorian. Jawaban saya mungkin sama sekali tidak diduga oleh si penanya, "Sediakan Puji Syukur di bangku-bangku gereja."&lt;/p&gt;&lt;p align="left"&gt;Sebagian dari kita mungkin belum sadar bahwa di Puji Syukur (PS) ada cukup banyak lagu Gregorian. Kalau saya tidak salah, setidaknya ada 32 lagu Gregorian dalam Bahasa Latin. Nah, kalau PS disediakan di bangku-bangku gereja, umat dapat diajak menyanyi lagu Gregorian yang paling dasar yang ada di dalamnya.&lt;/p&gt;&lt;p align="left"&gt;Untuk permulaan, kita bisa mulai dari Ordinarium (Tuhan Kasihanilah, Kemuliaan, Kudus dan Anak Domba Allah). Dalam PS ada empat macam ordinarium Gregorian, berdasarkan masa penggunaannya. Ada yang khusus untuk Masa &lt;a href="http://antoinedanielmass.org/kyriale/XVII"&gt;Adven dan Prapaskah&lt;/a&gt; (339, dst.) dan &lt;a href="http://antoinedanielmass.org/kyriale/I"&gt;Paskah&lt;/a&gt; (340, dst.). Ada Ordinarium &lt;a href="http://antoinedanielmass.org/kyriale/VIII"&gt;De Angelis&lt;/a&gt; (342, dst.) yang dapat digunakan untuk masa selain Adven, Prapaskah dan Paskah. Yang terakhir, ada Ordinarium khusus untuk Misa Arwah (344, dst.). Mungkin kita sudah terbiasa menyanyikan &lt;a href="http://antoinedanielmass.org/kyriale/XVII"&gt;Ordinarium Adven dan Prapaskah&lt;/a&gt;, atau bahkan &lt;a href="http://antoinedanielmass.org/kyriale/VIII"&gt;De Angelis&lt;/a&gt;. Nah, kenapa tidak mencoba &lt;a href="http://antoinedanielmass.org/kyriale/I"&gt;Ordinarium Paskah&lt;/a&gt; misalnya? Ordinarium ini dipakai mulai Hari Raya Paskah sampai dengan Pentakosta.&lt;/p&gt;&lt;p align="left"&gt;Lagi, yang sangat mendasar tentunya adalah Doa Bapa Kami. Yang paling umum adalah Pater Noster dengan nomor 402, yang selalu dinyanyikan di Vatikan. Selain itu ada juga versi Pater Noster yang lain (403), yang mungkin tidak sepopuler yang pertama. Berikutnya adalah Aku Percaya. Ada &lt;a href="http://antoinedanielmass.org/kyriale/Credo/"&gt;Credo III&lt;/a&gt; (374) yang sudah cukup akrab di telinga sebagian umat. Nah, kalau umat sudah bisa menyanyikan semua Ordinarium, Pater Noster dan Credo, kita sudah membuat kemajuan yang bagus sekali. Saya yakin Paus akan senang sekali mendengar umat Katolik Indonesia bisa menyanyi lagu-lagu pokok ini.&lt;/p&gt;&lt;p align="left"&gt;Kita masih bicara lagu Gregorian untuk Misa. Pada hari-hari Minggu atau Hari Raya tertentu, Ritus Tobat yang biasa (Tuhan Kasihanilah Kami) dapat digantikan dengan Ritus Pemercikan Air Suci. Ada lagu yang khusus untuk ritus ini, &lt;a href="http://www.antoinedanielmass.org/Mp3/ASPERGES_ME.mp3"&gt;Asperges Me&lt;/a&gt; (233) untuk selain Masa Paskah, atau &lt;a href="http://antoinedanielmass.org/Mp3/vidi_aquam_NRM.mp3"&gt;Vidi Aquam&lt;/a&gt; (234) untuk Masa Paskah.&lt;/p&gt;&lt;p align="left"&gt;Masih dalam Misa, pada Hari Minggu Paskah, kita menyanyikan suatu madah yang disebut Sekuensia setelah Alleluia (bukan sebelumnya, bdk. PUMR 64). Judulnya adalah Victimae Paschali Laudes (518). Sekuensia ini wajib sifatnya. Ada lagi satu Sekuensia wajib yang harus dinyanyikan, pada Hari Raya Pentakosta. Judul aslinya Veni Sancte Spiritus. Sayangnya di PS hanya ada versi Bahasa Indonesianya, Ya Roh Kudus Datanglah (569). Versi Latin aslinya dapat ditemukan dengan mudah di internet. Google saja Veni Sancte Spiritus, lalu nyanyikan dengan not yang tersedia di PS 569.&lt;/p&gt;&lt;p align="left"&gt;Berikutnya, saya yakin banyak sekali umat yang bisa menyanyikan lagu Mari Kita Memadahkan (501). Ini adalah "lagu wajib" untuk perarakan Sakramen Mahakudus. Versi Latinnya adalah Pange Lingua (502). Dapatlah dicoba untuk lain kali menyanyikan versi Latin ini, dengan not yang sama dengan Mari Kita Memadahkan tadi. Sekedar catatan, Bait 5-6 baru dinyanyikan saat Sakramen Mahakudus sampai di tempat pentakhtaan. Selama masih dalam perjalanan, Bait 1-4 lah yang dinyanyikan, bilamana perlu diulang terus menerus.&lt;/p&gt;&lt;p align="left"&gt;Lagi, saya juga yakin cukup banyak umat yang bisa menyanyikan Jika Ada Cinta Kasih (498). Versi Latinnya adalah Ubi Caritas Est Vera (499). Juga, Datanglah Ya Roh Pencipta (565). Versi Latinnya adalah Veni Creator Spiritus (566). Sama persis notnya. Seharusnya tidak sulit jika sekali-sekali versi Latinnya yang dinyanyikan. Umat pasti bisa mengikutinya, tentunya bila disediakan PS di bangku-bangku gereja. Ubi Caritas dinyanyikan saat perarakan persembahan pada Hari Kamis Putih. Selain itu, lagu ini juga bisa dijadikan lagu Komuni, sepanjang tahun. Veni Creator bisa dinyanyikan hampir pada setiap kesempatan di mana kita mengharapkan kedatangan Roh Kudus.&lt;/p&gt;&lt;p align="left"&gt;Tidak lengkap rasanya bila kita belum membahas lagu untuk Maria. Di PS ada banyak lagu Gregorian untuk Maria, masing-masing ada masa pemakaiannya yang sesuai. Ada Alma Redemptoris Mater (627; Adven-Pesta Yesus Dipersembahkan di Kenisah, 2 Februari), Ave Regina Caelorum (626; Pasca Pesta Yesus Dipersembahkan di Kenisah-Pekan Suci), Regina Caeli (624; Paskah-HR Tritunggal Mahakudus) dan Salve Regina (623; Pasca HR Tritunggal Mahakudus-Sebelum Adven). Keempat Antifon Maria ini sungguh cocok dinyanyikan bersama saat Doa Rosario.&lt;/p&gt;&lt;p align="left"&gt;Masih ada lagi yang lain, termasuk Te Deum (669), madah syukur yang dapat dinyanyikan setelah komuni, tepatnya usai Doa Sesudah Komuni (umat duduk kembali). Madah ini wajib dinyanyikan saat tahbisan uskup, imam dan diakon. Satu yang mungkin agak kurang populer adalah Popule Meus (506). Yang ini untuk penghormatan salib pada hari Jumat Agung.&lt;/p&gt;&lt;p align="left"&gt;Akhirnya, ada Requiem (708) yang adalah Lagu Pembuka untuk Misa Arwah, dan juga In Paradisum (709), dengan teks yang sangat indah, yang cocok untuk bagian akhir Misa Arwah.&lt;/p&gt;&lt;p align="left"&gt;Semoga uraian di atas cukup untuk meyakinkan Anda untuk mengusahakan penyediaan Puji Syukur di bangku-bangku gereja. Sekali lagi, Puji Syukur, bukan Kitab Suci. Sejauh yang saya tahu, di Roma tidak ada Kitab Suci di bangku umat. Dalam gereja Katolik, maksud saya.&lt;/p&gt;&lt;p align="left"&gt;Sebagai penutup, baiklah kalau saya mengutip Paus Benediktus XVI, “Akhirnya, dengan tetap menghargai aneka gaya dan beragam tradisi yang sangat berharga, saya mendambakan, sesuai dengan permintaan yang diajukan oleh para Bapa Sinode, agar nyanyian Gregorian benar-benar dihargai dan digunakan sebagai nyanyian yang sesuai untuk liturgi Romawi.” (Sacramentum Caritatis 42)&lt;/p&gt;&lt;p align="left"&gt;Catatan: Artikel ini dimuat dalam Majalah Liturgi yang diterbitkan oleh Komisi Liturgi KWI, Vol 21 No 5 - Sep-Okt 2010.&lt;/p&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/2222578442435492672-8445859777709502577?l=tradisikatolik.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://tradisikatolik.blogspot.com/feeds/8445859777709502577/comments/default' title='Post Comments'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://tradisikatolik.blogspot.com/2010/10/gregorian-puji-syukur.html#comment-form' title='7 Comments'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/2222578442435492672/posts/default/8445859777709502577'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/2222578442435492672/posts/default/8445859777709502577'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://tradisikatolik.blogspot.com/2010/10/gregorian-puji-syukur.html' title='Gregorian? Puji Syukur!'/><author><name>Albert Wibisono</name><uri>http://www.blogger.com/profile/06599163203686361131</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='16' height='16' src='http://img2.blogblog.com/img/b16-rounded.gif'/></author><media:thumbnail xmlns:media='http://search.yahoo.com/mrss/' url='http://3.bp.blogspot.com/_6gXDFDHmxzU/TMMILcHAtvI/AAAAAAAAAS4/kO02VDKaNwg/s72-c/Gregorian+Chant.jpg' height='72' width='72'/><thr:total>7</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-2222578442435492672.post-1382620345570429448</id><published>2010-07-22T20:11:00.008+07:00</published><updated>2010-07-22T20:49:12.510+07:00</updated><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='Katedral'/><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='Misa'/><title type='text'>Misa Latin dan Partisipasi Aktif</title><content type='html'>&lt;p align="left"&gt;&lt;a onblur="try {parent.deselectBloggerImageGracefully();} catch(e) {}" href="http://2.bp.blogspot.com/_6gXDFDHmxzU/TEhJK8mQ_qI/AAAAAAAAASg/jG-61YqNFqk/s1600/roman_missal.jpg"&gt;&lt;img style="float:left; margin:0 10px 10px 0;cursor:pointer; cursor:hand;width: 182px; height: 200px;" src="http://2.bp.blogspot.com/_6gXDFDHmxzU/TEhJK8mQ_qI/AAAAAAAAASg/jG-61YqNFqk/s200/roman_missal.jpg" border="0" alt="" id="BLOGGER_PHOTO_ID_5496723797619834530" /&gt;&lt;/a&gt;&lt;span class="Apple-style-span"  style="font-family:'trebuchet ms';"&gt;&lt;span class="Apple-style-span"  style="font-size:small;"&gt;Ada beberapa pertanyaan sehubungan dengan Misa Latin di Katedral Hati Kudus Yesus Surabaya.&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;span class="Apple-style-span"  style="font-family:'trebuchet ms';"&gt;&lt;span class="Apple-style-span"  style="font-size:small;"&gt; &lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;span class="Apple-style-span"  style="font-family:'trebuchet ms';"&gt;&lt;span class="Apple-style-span"  style="font-size:small;"&gt;Di antaranya adalah partisipasi aktif umat yang berkurang dalam Misa Latin.&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;span class="Apple-style-span"  style="font-family:'trebuchet ms';"&gt;&lt;span class="Apple-style-span"  style="font-size:small;"&gt; &lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;span class="Apple-style-span"  style="font-family:'trebuchet ms';"&gt;&lt;span class="Apple-style-span"  style="font-size:small;"&gt;Memang benar, pada awalnya tentu begitu.&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;span class="Apple-style-span"  style="font-family:'trebuchet ms';"&gt;&lt;span class="Apple-style-span"  style="font-size:small;"&gt; &lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;span class="Apple-style-span"  style="font-family:'trebuchet ms';"&gt;&lt;span class="Apple-style-span"  style="font-size:small;"&gt;Saat kita semua masih baru sekali dua kali mengikutinya, tentu masih terasa asing.&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;span class="Apple-style-span"  style="font-family:'trebuchet ms';"&gt;&lt;span class="Apple-style-span"  style="font-size:small;"&gt; &lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;span class="Apple-style-span"  style="font-family:'trebuchet ms';"&gt;&lt;span class="Apple-style-span"  style="font-size:small;"&gt;Namanya juga masih belajar, lama-lama juga akan menjadi mahir dan bisa berpartisipasi lebih aktif lagi.&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;span class="Apple-style-span"  style="font-family:'trebuchet ms';"&gt;&lt;span class="Apple-style-span"  style="font-size:small;"&gt; &lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;span class="Apple-style-span"  style="font-family:'trebuchet ms';"&gt;&lt;span class="Apple-style-span"  style="font-size:small;"&gt;Mungkin kita masih ingat, beberapa tahun yang lalu Y.M. Uskup &lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;a href="http://www.catholic-hierarchy.org/bishop/bhadiw.html"&gt;&lt;span class="Apple-style-span"  style="font-family:'trebuchet ms';"&gt;&lt;span class="Apple-style-span"  style="font-size:small;"&gt;Hadiwikarta&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/a&gt;&lt;span class="Apple-style-span"  style="font-family:'trebuchet ms';"&gt;&lt;span class="Apple-style-span"  style="font-size:small;"&gt; almarhum pernah meminta kita semua menggunakan Ordinarium Gregorian untuk Masa Adven dan Prapaskah (PS 339, dst.).&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;span class="Apple-style-span"  style="font-family:'trebuchet ms';"&gt;&lt;span class="Apple-style-span"  style="font-size:small;"&gt; &lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;span class="Apple-style-span"  style="font-family:'trebuchet ms';"&gt;&lt;span class="Apple-style-span"  style="font-size:small;"&gt;Sulit pada awalnya, namun saat ini sudah banyak umat yang bisa menyanyikannya dengan baik.&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;&lt;p class="MsoNormal" style="margin-bottom:0cm;margin-bottom:.0001pt"&gt;&lt;span class="Apple-style-span"  style="font-family:'trebuchet ms';"&gt;&lt;span class="Apple-style-span"  style="font-size:small;"&gt;&lt;span lang="IN"&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;span class="Apple-style-span"  style="font-family:'trebuchet ms';"&gt;&lt;span class="Apple-style-span"  style="font-size:small;"&gt;Memang benar, Konsili Vatikan II mengamanatkan partisipasi aktif.&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;span class="Apple-style-span"  style="font-family:'trebuchet ms';"&gt;&lt;span class="Apple-style-span"  style="font-size:small;"&gt; &lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;span class="Apple-style-span"  style="font-family:'trebuchet ms';"&gt;&lt;span class="Apple-style-span"  style="font-size:small;"&gt;Dalam praktiknya, di tahun-tahun awal pasca konsili, banyak aplikasi partisipasi aktif yang berlebihan dan malahan perlu dikoreksi.&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;span class="Apple-style-span"  style="font-family:'trebuchet ms';"&gt;&lt;span class="Apple-style-span"  style="font-size:small;"&gt; &lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;span class="Apple-style-span"  style="font-family:'trebuchet ms';"&gt;&lt;span class="Apple-style-span"  style="font-size:small;"&gt;Mungkin kita masih ingat, sebelum tahun 2005, umat Katolik di Indonesia ikut mengucapkan bagian-bagian Doa Syukur Agung yang sebenarnya merupakan bagian imam.&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;span class="Apple-style-span"  style="font-family:'trebuchet ms';"&gt;&lt;span class="Apple-style-span"  style="font-size:small;"&gt; &lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;span class="Apple-style-span"  style="font-family:'trebuchet ms';"&gt;&lt;span class="Apple-style-span"  style="font-size:small;"&gt;Hal ini lalu diluruskan kembali saat penerbitan TPE 2005.&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;&lt;p class="MsoNormal" style="margin-bottom:0cm;margin-bottom:.0001pt"&gt;&lt;span class="Apple-style-span"  style="font-size:small;"&gt;&lt;span class="Apple-style-span"  style="font-family:'trebuchet ms';"&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;span class="Apple-style-span"  style="font-family:'trebuchet ms';"&gt;&lt;span class="Apple-style-span"  style="font-size:small;"&gt;Partisipasi aktif yang diamanatkan oleh Konsili Vatikan II tidaklah berarti bahwa umat harus ikut serta mengucapkan semua doa dalam misa dan/atau menyanyikan semua lagu dalam misa.&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;span class="Apple-style-span"  style="font-family:'trebuchet ms';"&gt;&lt;span class="Apple-style-span"  style="font-size:small;"&gt; &lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;span class="Apple-style-span"  style="font-family:'trebuchet ms';"&gt;&lt;span class="Apple-style-span"  style="font-size:small;"&gt;Ada doa-doa yang diucapkan hanya oleh imam dan ada aklamasi-aklamasi yang merupakan bagian umat (dan tidak perlu diucapkan oleh imam), termasuk aklamasi “Amin”.&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;span class="Apple-style-span"  style="font-family:'trebuchet ms';"&gt;&lt;span class="Apple-style-span"  style="font-size:small;"&gt; &lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;span class="Apple-style-span"  style="font-family:'trebuchet ms';"&gt;&lt;span class="Apple-style-span"  style="font-size:small;"&gt;Ada saatnya lektor membacakan kitab suci dan umat mendengarkan (bukannya membaca teks).&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;span class="Apple-style-span"  style="font-family:'trebuchet ms';"&gt;&lt;span class="Apple-style-span"  style="font-size:small;"&gt; &lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;span class="Apple-style-span"  style="font-family:'trebuchet ms';"&gt;&lt;span class="Apple-style-span"  style="font-size:small;"&gt;Hal nyanyian, ada bagian-bagian yang dinyanyikan oleh koor dan ada pula bagian yang dinyanyikan umat.&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;span class="Apple-style-span"  style="font-family:'trebuchet ms';"&gt;&lt;span class="Apple-style-span"  style="font-size:small;"&gt; &lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;span class="Apple-style-span"  style="font-family:'trebuchet ms';"&gt;&lt;span class="Apple-style-span"  style="font-size:small;"&gt;Akhirnya, diam dan khusyuk mendengarkan dan menghayati doa, bacaan kitab suci serta nyanyian yang dibawakan koor pun merupakan bentuk partisipasi aktif dalam misa.&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;&lt;p class="MsoNormal" style="margin-bottom:0cm;margin-bottom:.0001pt"&gt;&lt;span class="Apple-style-span"  style="font-size:small;"&gt;&lt;span class="Apple-style-span"  style="font-family:'trebuchet ms';"&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;span class="Apple-style-span"  style="font-family:'trebuchet ms';"&gt;&lt;span class="Apple-style-span"  style="font-size:small;"&gt;Uskup Surabaya Y.M. &lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;a href="http://www.catholic-hierarchy.org/bishop/bwisak.html"&gt;&lt;span class="Apple-style-span"  style="font-family:'trebuchet ms';"&gt;&lt;span class="Apple-style-span"  style="font-size:small;"&gt;Vincentius Sutikno Wisaksono&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/a&gt;&lt;span class="Apple-style-span"  style="font-family:'trebuchet ms';"&gt;&lt;span class="Apple-style-span"  style="font-size:small;"&gt; pernah mengutip Paus &lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;a href="http://www.catholic-hierarchy.org/bishop/bwojtyla.html"&gt;&lt;span class="Apple-style-span"  style="font-family:'trebuchet ms';"&gt;&lt;span class="Apple-style-span"  style="font-size:small;"&gt;Yohanes Paulus II&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/a&gt;&lt;span class="Apple-style-span"  style="font-family:'trebuchet ms';"&gt;&lt;span class="Apple-style-span"  style="font-size:small;"&gt;, yang menyatakan bahwa yang terpenting adalah partisipasi aktif batiniah dan bukan hanya lahiriah. Sesungguhnya, lebih penting bagi umat untuk mendengarkan doa-doa dan nyanyian secara khusyuk sambil meresapi maknanya, daripada ikut aktif mengucapkan atau menyanyikan tetapi hanya sekedar di mulut saja, tanpa sadar akan maknanya.&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;span class="Apple-style-span"  style="font-family:'trebuchet ms';"&gt;&lt;span class="Apple-style-span"  style="font-size:small;"&gt; &lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;span class="Apple-style-span"  style="font-family:'trebuchet ms';"&gt;&lt;span class="Apple-style-span"  style="font-size:small;"&gt;Sebagai contoh, banyak umat yang hafal isi Credo dalam Bahasa Indonesia, termasuk frase berikut ini “... Aku percaya akan gereja yang satu, kudus, katolik dan apostolik ...”&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;span class="Apple-style-span"  style="font-family:'trebuchet ms';"&gt;&lt;span class="Apple-style-span"  style="font-size:small;"&gt; &lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;span class="Apple-style-span"  style="font-family:'trebuchet ms';"&gt;&lt;span class="Apple-style-span"  style="font-size:small;"&gt;Berapa banyak yang mengerti artinya?&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;span class="Apple-style-span"  style="font-family:'trebuchet ms';"&gt;&lt;span class="Apple-style-span"  style="font-size:small;"&gt; &lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;span class="Apple-style-span"  style="font-family:'trebuchet ms';"&gt;&lt;span class="Apple-style-span"  style="font-size:small;"&gt;Berapa banyak yang mengerti apa yang dimaksud dengan gereja yang apostolik?&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;span class="Apple-style-span"  style="font-family:'trebuchet ms';"&gt;&lt;span class="Apple-style-span"  style="font-size:small;"&gt; &lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;span class="Apple-style-span"  style="font-family:'trebuchet ms';"&gt;&lt;span class="Apple-style-span"  style="font-size:small;"&gt;Penyelesaiannya, sama dengan Misa Latin, adalah katekese liturgi.&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;&lt;p class="MsoNormal" style="margin-bottom:0cm;margin-bottom:.0001pt"&gt;&lt;span class="Apple-style-span"  style="font-size:small;"&gt;&lt;span class="Apple-style-span"  style="font-family:'trebuchet ms';"&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;span class="Apple-style-span"  style="font-family:'trebuchet ms';"&gt;&lt;span class="Apple-style-span"  style="font-size:small;"&gt;Banyak produk Konsili Vatikan II seperti partisipasi aktif dan inkulturasi yang sungguh bermanfaat bagi gereja di tanah misi seperti Keuskupan Surabaya.&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;span class="Apple-style-span"  style="font-family:'trebuchet ms';"&gt;&lt;span class="Apple-style-span"  style="font-size:small;"&gt; &lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;span class="Apple-style-span"  style="font-family:'trebuchet ms';"&gt;&lt;span class="Apple-style-span"  style="font-size:small;"&gt;Sungguh baik kalau kita mau mempelajari dan memahami dokumen-dokumen seperti Sacrosanctum Concilium (Konstitusi Suci Liturgi) dan berbagai Instruksi Pelaksananya, di antaranya Varietates Legitimae, yang banyak membahas inkulturasi.&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;span class="Apple-style-span"  style="font-family:'trebuchet ms';"&gt;&lt;span class="Apple-style-span"  style="font-size:small;"&gt; &lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;span class="Apple-style-span"  style="font-family:'trebuchet ms';"&gt;&lt;span class="Apple-style-span"  style="font-size:small;"&gt;Kurang pas rasanya bicara tentang partisipasi aktif atau inkulturasi tanpa memahami dokumen-dokumen tersebut dan konteksnya dalam sejarah gereja.&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;span class="Apple-style-span"  style="font-family:'trebuchet ms';"&gt;&lt;span class="Apple-style-span"  style="font-size:small;"&gt; &lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;span class="Apple-style-span"  style="font-family:'trebuchet ms';"&gt;&lt;span class="Apple-style-span"  style="font-size:small;"&gt;Yang terjadi mungkin malah tidak sesuai dengan maksud sebenarnya dari Para Bapa Konsili Vatikan II.&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;&lt;p class="MsoNormal" style="margin-bottom:0cm;margin-bottom:.0001pt"&gt;&lt;span class="Apple-style-span"  style="font-family:'trebuchet ms';"&gt;&lt;span class="Apple-style-span"  style="font-size:small;"&gt;Catatan: Artikel ini dimuat di Tabloid Rohani Jubileum yang diterbitkan oleh Keuskupan Surabaya, Edisi 124 - Tahun XI - Juli 2010.&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;&lt;p&gt;&lt;/p&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/2222578442435492672-1382620345570429448?l=tradisikatolik.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://tradisikatolik.blogspot.com/feeds/1382620345570429448/comments/default' title='Post Comments'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://tradisikatolik.blogspot.com/2010/07/misa-latin-dan-partisipasi-aktif.html#comment-form' title='0 Comments'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/2222578442435492672/posts/default/1382620345570429448'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/2222578442435492672/posts/default/1382620345570429448'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://tradisikatolik.blogspot.com/2010/07/misa-latin-dan-partisipasi-aktif.html' title='Misa Latin dan Partisipasi Aktif'/><author><name>Albert Wibisono</name><uri>http://www.blogger.com/profile/06599163203686361131</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='16' height='16' src='http://img2.blogblog.com/img/b16-rounded.gif'/></author><media:thumbnail xmlns:media='http://search.yahoo.com/mrss/' url='http://2.bp.blogspot.com/_6gXDFDHmxzU/TEhJK8mQ_qI/AAAAAAAAASg/jG-61YqNFqk/s72-c/roman_missal.jpg' height='72' width='72'/><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-2222578442435492672.post-7800898816094965612</id><published>2010-07-22T19:24:00.014+07:00</published><updated>2010-07-22T20:47:33.014+07:00</updated><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='Katedral'/><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='Misa'/><title type='text'>Misa Latin di Katedral Surabaya</title><content type='html'>&lt;p align="left"&gt;&lt;a onblur="try {parent.deselectBloggerImageGracefully();} catch(e) {}" href="http://3.bp.blogspot.com/_6gXDFDHmxzU/TEhKi5ZhSRI/AAAAAAAAASo/zIg2Z0BiZoU/s1600/IMG_2864.jpg"&gt;&lt;img style="MARGIN: 0px 10px 10px 0px; WIDTH: 320px; CURSOR: hand; HEIGHT: 214px" src="http://3.bp.blogspot.com/_6gXDFDHmxzU/TEhKi5ZhSRI/AAAAAAAAASo/zIg2Z0BiZoU/s320/IMG_2864.jpg" border="0" alt="" id="BLOGGER_PHOTO_ID_5496725308589558034" /&gt;&lt;/a&gt;&lt;br /&gt;&lt;span class="Apple-style-span"  style="font-family:'trebuchet ms';"&gt;&lt;span class="Apple-style-span"  style="font-size:small;"&gt;Dalam kurun waktu dua setengah tahun terakhir ini, di Katedral Hati Kudus Yesus Surabaya beberapa kali diselenggarakan Misa Latin.&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;span class="Apple-style-span"  style="font-family:'trebuchet ms';"&gt;&lt;span class="Apple-style-span"  style="font-size:small;"&gt; &lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;span class="Apple-style-span"  style="font-family:'trebuchet ms';"&gt;&lt;span class="Apple-style-span"  style="font-size:small;"&gt;Apa sebenarnya Misa Latin ini dan untuk apa diadakan?&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;&lt;p align="left"&gt;&lt;span class="Apple-style-span"  style="font-family:'trebuchet ms';"&gt;&lt;span class="Apple-style-span"  style="font-size:small;"&gt;Kalau Misa Inggris, Misa Jawa atau Misa Mandarin seluruhnya diselenggarakan dalam Bahasa Inggris, Jawa atau Mandarin, Misa Latin yang dibikin di Katedral Surabaya ini tidak seluruhnya menggunakan Bahasa Latin.&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;span class="Apple-style-span"  style="font-family:'trebuchet ms';"&gt;&lt;span class="Apple-style-span"  style="font-size:small;"&gt; &lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;span class="Apple-style-span"  style="font-family:'trebuchet ms';"&gt;&lt;span class="Apple-style-span"  style="font-size:small;"&gt;Pengantar Imam di awal Misa, Bacaan Pertama, Kedua dan Injil menggunakan Bahasa Indonesia.&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;span class="Apple-style-span"  style="font-family:'trebuchet ms';"&gt;&lt;span class="Apple-style-span"  style="font-size:small;"&gt; &lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;span class="Apple-style-span"  style="font-family:'trebuchet ms';"&gt;&lt;span class="Apple-style-span"  style="font-size:small;"&gt;Demikian juga Homili, Doa Umat dan Pengumuman, bila ada.&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;span class="Apple-style-span"  style="font-family:'trebuchet ms';"&gt;&lt;span class="Apple-style-span"  style="font-size:small;"&gt; &lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;span class="Apple-style-span"  style="font-family:'trebuchet ms';"&gt;&lt;span class="Apple-style-span"  style="font-size:small;"&gt;Agar umat dapat mengerti dan mengikuti Misa Latin ini dengan baik, disediakan buklet &lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;a href="http://www.scribd.com/doc/19131783/Tata-Perayaan-Ekaristi-Latin-Indonesia"&gt;&lt;span class="Apple-style-span"  style="font-family:'trebuchet ms';"&gt;&lt;span class="Apple-style-span"  style="font-size:small;"&gt;Tata Perayaan Ekaristi dalam dua Bahasa, Latin dan Indonesia&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/a&gt;&lt;span class="Apple-style-span"  style="font-family:'trebuchet ms';"&gt;&lt;span class="Apple-style-span"  style="font-size:small;"&gt;, sebelah-menyebelah.&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;span class="Apple-style-span"  style="font-family:'trebuchet ms';"&gt;&lt;span class="Apple-style-span"  style="font-size:small;"&gt; &lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;span class="Apple-style-span"  style="font-family:'trebuchet ms';"&gt;&lt;span class="Apple-style-span"  style="font-size:small;"&gt;Juga disediakan Teks Misa yang berisi Doa dan Lagu yang dipakai dalam Misa, dalam dua Bahasa, Latin dan Indonesia, sebelah-menyebelah.&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;span class="Apple-style-span"  style="font-family:'trebuchet ms';"&gt;&lt;span class="Apple-style-span"  style="font-size:small;"&gt; &lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;span class="Apple-style-span"  style="font-family:'trebuchet ms';"&gt;&lt;span class="Apple-style-span"  style="font-size:small;"&gt;Dengan demikian umat tidak hanya bisa menjawab aklamasi-aklamasinya, tapi juga mengerti apa artinya.&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;span class="Apple-style-span"  style="font-family:'trebuchet ms';"&gt;&lt;span class="Apple-style-span"  style="font-size:small;"&gt; &lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;span class="Apple-style-span"  style="font-family:'trebuchet ms';"&gt;&lt;span class="Apple-style-span"  style="font-size:small;"&gt;Penyediaan terjemahan seperti ini juga adalah amanat Konsili Vatikan II (bdk. Inter Oecumenici 57c).&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;&lt;p align="left"&gt;&lt;span class="Apple-style-span"  style="font-size:small;"&gt;&lt;span class="Apple-style-span"  style="font-family:'trebuchet ms';"&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;span class="Apple-style-span"  style="font-family:'trebuchet ms';"&gt;&lt;span class="Apple-style-span"  style="font-size:small;"&gt;Kita mengerti perlunya Misa Bahasa Inggris, Jawa atau Mandarin, untuk umat di Keuskupan Surabaya yang tidak mengerti Bahasa Indonesia.&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;span class="Apple-style-span"  style="font-family:'trebuchet ms';"&gt;&lt;span class="Apple-style-span"  style="font-size:small;"&gt; &lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;span class="Apple-style-span"  style="font-family:'trebuchet ms';"&gt;&lt;span class="Apple-style-span"  style="font-size:small;"&gt;Lalu, untuk apa Misa Bahasa Latin, yang tidak dimengerti umat?&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;span class="Apple-style-span"  style="font-family:'trebuchet ms';"&gt;&lt;span class="Apple-style-span"  style="font-size:small;"&gt; &lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;span class="Apple-style-span"  style="font-family:'trebuchet ms';"&gt;&lt;span class="Apple-style-span"  style="font-size:small;"&gt;Kita hidup pada jaman global.&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;span class="Apple-style-span"  style="font-family:'trebuchet ms';"&gt;&lt;span class="Apple-style-span"  style="font-size:small;"&gt; &lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;span class="Apple-style-span"  style="font-family:'trebuchet ms';"&gt;&lt;span class="Apple-style-span"  style="font-size:small;"&gt;Makin banyak orang mempelajari bahasa-bahasa yang mempersatukan berbagai bangsa dan budaya di dunia, seperti Bahasa Inggris dan Mandarin, misalnya.&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;span class="Apple-style-span"  style="font-family:'trebuchet ms';"&gt;&lt;span class="Apple-style-span"  style="font-size:small;"&gt; &lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;span class="Apple-style-span"  style="font-family:'trebuchet ms';"&gt;&lt;span class="Apple-style-span"  style="font-size:small;"&gt;Alangkah baiknya kalau kita pun mau mempelajari Bahasa Latin, yang adalah bahasa resmi gereja Katolik universal, yang mempersatukan lebih dari satu milyar umat Katolik sedunia.&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;span class="Apple-style-span"  style="font-family:'trebuchet ms';"&gt;&lt;span class="Apple-style-span"  style="font-size:small;"&gt; &lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;span class="Apple-style-span"  style="font-family:'trebuchet ms';"&gt;&lt;span class="Apple-style-span"  style="font-size:small;"&gt;Bahasa Latin adalah akar dari berbagai bahasa penting di dunia, termasuk Inggris, Prancis, Jerman, Spanyol dan Italia.&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;span class="Apple-style-span"  style="font-family:'trebuchet ms';"&gt;&lt;span class="Apple-style-span"  style="font-size:small;"&gt; &lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;span class="Apple-style-span"  style="font-family:'trebuchet ms';"&gt;&lt;span class="Apple-style-span"  style="font-size:small;"&gt;Banyak kata-kata dalam bahasa-bahasa itu berasal dari Bahasa Latin.&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;span class="Apple-style-span"  style="font-family:'trebuchet ms';"&gt;&lt;span class="Apple-style-span"  style="font-size:small;"&gt; &lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;span class="Apple-style-span"  style="font-family:'trebuchet ms';"&gt;&lt;span class="Apple-style-span"  style="font-size:small;"&gt;Berikutnya, Bahasa Latin adalah bahasa ilmu pengetahuan. Mungkin sebagian dari kita masih ingat berbagai nama Latin untuk makhluk hidup, yang harus kita hafalkan di pelajaran Biologi?&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;span class="Apple-style-span"  style="font-family:'trebuchet ms';"&gt;&lt;span class="Apple-style-span"  style="font-size:small;"&gt; &lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;span class="Apple-style-span"  style="font-family:'trebuchet ms';"&gt;&lt;span class="Apple-style-span"  style="font-size:small;"&gt;Saat ini, bahasa dan sastra Latin diajarkan kepada siswa sekolah menengah di Amerika Serikat, dan ini bukan hanya di sekolah Katolik.&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;span class="Apple-style-span"  style="font-family:'trebuchet ms';"&gt;&lt;span class="Apple-style-span"  style="font-size:small;"&gt; &lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;span class="Apple-style-span"  style="font-family:'trebuchet ms';"&gt;&lt;span class="Apple-style-span"  style="font-size:small;"&gt;Bagi kita umat Katolik, dengan sedikit saja mempelajari Bahasa Latin, kita akan dapat mengikuti Misa Paskah dan Natal Paus, yang selalu disiarkan oleh Indosiar.&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;&lt;p align="left"&gt;&lt;span class="Apple-style-span"  style="font-size:small;"&gt;&lt;span class="Apple-style-span"  style="font-family:'trebuchet ms';"&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;span class="Apple-style-span"  style="font-family:'trebuchet ms';"&gt;&lt;span class="Apple-style-span"  style="font-size:small;"&gt;Misa Latin atau Misa Indonesia dengan Lagu-Lagu Gregorian diselenggarakan di Katedral setiap minggu keempat dalam bulan, pada hari Minggu, pukul 18:30.&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;&lt;p align="left"&gt;&lt;span class="Apple-style-span"  style="font-size:small;"&gt;&lt;span class="Apple-style-span"  style="font-family:'trebuchet ms';"&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;span class="Apple-style-span"  style="font-family:'trebuchet ms';"&gt;&lt;span class="Apple-style-span"  style="font-size:small;"&gt;Catatan: Artikel ini dimuat di Tabloid Rohani Jubileum yang diterbitkan oleh Keuskupan Surabaya, Edisi 124 - Tahun XI - Juli 2010.&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/2222578442435492672-7800898816094965612?l=tradisikatolik.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://tradisikatolik.blogspot.com/feeds/7800898816094965612/comments/default' title='Post Comments'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://tradisikatolik.blogspot.com/2010/07/misa-latin-di-katedral-surabaya.html#comment-form' title='2 Comments'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/2222578442435492672/posts/default/7800898816094965612'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/2222578442435492672/posts/default/7800898816094965612'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://tradisikatolik.blogspot.com/2010/07/misa-latin-di-katedral-surabaya.html' title='Misa Latin di Katedral Surabaya'/><author><name>Albert Wibisono</name><uri>http://www.blogger.com/profile/06599163203686361131</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='16' height='16' src='http://img2.blogblog.com/img/b16-rounded.gif'/></author><media:thumbnail xmlns:media='http://search.yahoo.com/mrss/' url='http://3.bp.blogspot.com/_6gXDFDHmxzU/TEhKi5ZhSRI/AAAAAAAAASo/zIg2Z0BiZoU/s72-c/IMG_2864.jpg' height='72' width='72'/><thr:total>2</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-2222578442435492672.post-6150264299361787504</id><published>2009-08-17T15:48:00.004+07:00</published><updated>2009-11-07T20:20:49.890+07:00</updated><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='Paus'/><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='Imam'/><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='Kardinal'/><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='Uskup'/><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='Diakon'/><title type='text'>Kardinal: Pangeran Gereja Katolik</title><content type='html'>&lt;p align="left"&gt;&lt;a onblur="try {parent.deselectBloggerImageGracefully();} catch(e) {}" href="http://1.bp.blogspot.com/_6gXDFDHmxzU/SokD3OAR7JI/AAAAAAAAAQ0/X52kLL1oGWE/s1600-h/Cardinal+10+Conclave.jpg"&gt;&lt;img id="BLOGGER_PHOTO_ID_5370828277802986642" style="MARGIN: 0px 10px 10px 0px; WIDTH: 320px; CURSOR: hand; HEIGHT: 210px" alt="" src="http://1.bp.blogspot.com/_6gXDFDHmxzU/SokD3OAR7JI/AAAAAAAAAQ0/X52kLL1oGWE/s320/Cardinal+10+Conclave.jpg" border="0" /&gt;&lt;/a&gt;&lt;br /&gt;Penunjukan Uskup Agung &lt;a href="http://www.gcatholic.com/dioceses/diocese/sema0.htm"&gt;Semarang&lt;/a&gt; &lt;a href="http://www.catholic-hierarchy.org/bishop/bsuharyo.html"&gt;Ignatius Suharyo Hardjoatmodjo&lt;/a&gt; sebagai &lt;a href="http://en.wikipedia.org/wiki/Coadjutor_bishop"&gt;Koajutor&lt;/a&gt; Keuskupan Agung &lt;a href="http://www.gcatholic.com/dioceses/diocese/jaka0.htm"&gt;Jakarta&lt;/a&gt; baru-baru ini memunculkan juga diskusi tentang potensi beliau untuk suatu hari nanti diangkat sebagai kardinal. Siapa sebenarnya kardinal, yang sering disebut para pangeran gereja Katolik? Apa peran mereka dan siapa saja yang dapat diangkat menjadi kardinal? Tulisan ini mencoba menyajikan secara ringkas beberapa hal tentang kardinal yang mungkin belum banyak diketahui umat Katolik.&lt;/p&gt;&lt;p align="left"&gt;Kebanyakan orang tahu bahwa para kardinal adalah pembantu Paus. Mereka biasanya menjadi pusat perhatian publik saat Paus wafat, karena mereka lah yang kemudian berkumpul dalam sebuah &lt;a href="http://en.wikipedia.org/wiki/Papal_conclave"&gt;konklaf&lt;/a&gt; untuk memilih Paus yang baru. Dalam kenyataannya, peran kardinal tidak hanya untuk memilih Paus. Mereka membantu Paus dalam mengurus gereja Katolik. Para kardinal memberikan saran-saran tentang berbagai urusan gereja saat Bapa Suci memanggil mereka dalam suatu rapat yang disebut &lt;a href="http://en.wikipedia.org/wiki/Consistory"&gt;konsistori&lt;/a&gt;.&lt;/p&gt;&lt;img id="BLOGGER_PHOTO_ID_5370851138481786754" style="FLOAT: right; MARGIN: 0px 0px 10px 10px; WIDTH: 200px; CURSOR: hand; HEIGHT: 134px" alt="" src="http://4.bp.blogspot.com/_6gXDFDHmxzU/SokYp4q1j4I/AAAAAAAAARs/KWErGEkp2_c/s200/Cardinal+12+Conclave.jpg" border="0" /&gt; &lt;p align="left"&gt;Saat tulisan ini dibuat, dari informasi tanggal 14 Agustus 2009, ada 185 orang kardinal dari 64 negara yang menjadi anggota &lt;a href="http://en.wikipedia.org/wiki/College_of_cardinals"&gt;Kolese Kardinal&lt;/a&gt;. Di antara mereka, 113 orang (dari 51 negara) adalah kardinal elektor, kardinal yang berhak memilih Paus. Sisanya adalah kardinal non-elektor, yang sudah berusia lebih dari 80 tahun dan tidak lagi berhak mengikuti &lt;a href="http://en.wikipedia.org/wiki/Conclave"&gt;konklaf&lt;/a&gt;. Informasi terkini dapat dilihat di &lt;a href="http://www.gcatholic.com/hierarchy/cardinals-alive-precedence.htm"&gt;Daftar Kardinal&lt;/a&gt; di Situs Giga Catholic. Jumlah kardinal bertambah saat paus menunjuk kardinal-kardinal baru dalam suatu &lt;a href="http://en.wikipedia.org/wiki/Consistory"&gt;konsistori&lt;/a&gt;. Dalam &lt;a href="http://www.gcatholic.com/hierarchy/data/cardB16-2.htm"&gt;Konsistori 24 November 2007&lt;/a&gt;, Paus Benediktus XVI menunjuk 23 orang kardinal baru. Jumlah kardinal berkurang karena beberapa di antara mereka meninggal. Paus Yohanes Paulus II dalam Konstitusi Apostolik &lt;a href="http://www.ewtn.com/holysee/Interregnum/universi.asp#2-I"&gt;Universi Dominici Gregis&lt;/a&gt; menentukan jumlah maksimum kardinal elektor sebanyak 120.&lt;/p&gt;&lt;img id="BLOGGER_PHOTO_ID_5370850425344065970" style="FLOAT: left; MARGIN: 0px 10px 10px 0px; WIDTH: 269px; CURSOR: hand; HEIGHT: 320px" alt="" src="http://4.bp.blogspot.com/_6gXDFDHmxzU/SokYAYBjgbI/AAAAAAAAARk/ipj7v0E4ASA/s320/Cardinal+07+with+Pope.jpg" border="0" /&gt; &lt;p align="left"&gt;Karena jumlahnya yang terbatas dibandingkan dengan uskup yang jumlahnya ribuan, dan juga karena hak-haknya yang istimewa, jabatan kardinal sering dipandang sebagai suatu promosi untuk uskup. Seolah-olah ada urutan begini: imam, uskup, uskup agung, kardinal dan Paus. Kenyataannya, yang benar adalah: imam, uskup dan Paus. Itu saja. Kardinal bukan atasan uskup. Yang Utama &lt;a href="http://www.catholic-hierarchy.org/bishop/bdarm.html"&gt;Julius Kardinal Darmaatmadja&lt;/a&gt;, satu-satunya kardinal dari Indonesia, juga bukan perpanjangan tangan Paus untuk mengatur para uskup di Indonesia. &lt;a href="http://en.wikipedia.org/wiki/College_of_cardinals"&gt;Kolese Kardinal&lt;/a&gt; dan Sinode Para Uskup memiliki peran sendiri-sendiri dalam gereja Katolik dan tidak bisa dibilang bahwa yang satu lebih penting daripada yang lain. Meski begitu, secara ranking, kardinal memang lebih tinggi dari uskup dan biasanya diangkat dari kalangan uskup yang senior.&lt;/p&gt;&lt;p align="left"&gt;Meski kelihatannya sama semua, di kalangan kardinal sebenarnya ada tiga tingkatan. Yang paling utama adalah kardinal uskup, kemudian kardinal imam dan kardinal diakon. Memang agak membingungkan istilah-istilah ini. Begini ceritanya. Pada mulanya, kardinal adalah klerus yang ditugaskan untuk membantu Paus di Keuskupan &lt;a href="http://www.gcatholic.com/dioceses/diocese/rome0.htm"&gt;Roma&lt;/a&gt;. Istilah kardinal bermula dari kata &lt;a href="http://en.wikipedia.org/wiki/Incardination_and_excardination"&gt;inkardinasi&lt;/a&gt;, yang artinya menempatkan seorang klerus di bawah yurisdiksi seorang ordinaris (uskup, abbas atau ordinaris lain). Uskup, imam dan diakon yang diminta membantu Paus di-inkardinasi ke Keuskupan &lt;a href="http://www.gcatholic.com/dioceses/diocese/rome0.htm"&gt;Roma&lt;/a&gt;, di bawah Paus yang adalah Uskup &lt;a href="http://www.gcatholic.com/dioceses/diocese/rome0.htm"&gt;Roma&lt;/a&gt;. Jadilah mereka kardinal uskup, kardinal imam atau kardinal diakon di Keuskupan &lt;a href="http://www.gcatholic.com/dioceses/diocese/rome0.htm"&gt;Roma&lt;/a&gt;. (Catatan: Secara kaidah bahasa Indonesia, sebenarnya memang lebih tepat dibilang uskup kardinal, imam kardinal atau diakon kardinal.) Nah, itu dulu. Sekarang ini praktiknya memang sudah lain. Yang diangkat menjadi kardinal hampir semua berasal dari kalangan uskup, bukan lagi imam atau diakon. Meski begitu tiga tingkatan kardinal ini masih tetap dipertahankan.&lt;/p&gt;&lt;img id="BLOGGER_PHOTO_ID_5370830296161479250" style="FLOAT: left; MARGIN: 0px 10px 10px 0px; WIDTH: 200px; CURSOR: hand; HEIGHT: 161px" alt="" src="http://2.bp.blogspot.com/_6gXDFDHmxzU/SokFss-calI/AAAAAAAAAQ8/64QGMMz42_U/s200/Cardinal+01+Levada.jpg" border="0" /&gt; &lt;p align="left"&gt;Pengangkatan kardinal merupakan hak prerogatif Paus. Secara garis besarnya, saat ini ada tiga jalur pengangkatan kardinal. Yang pertama adalah jalur uskup diosesan, seperti Yang Utama &lt;a href="http://www.catholic-hierarchy.org/bishop/bdarm.html"&gt;Julius Kardinal Darmaatmadja&lt;/a&gt;. Kardinal dari jalur ini biasanya diangkat menjadi kardinal imam. Yang kedua adalah jalur &lt;a href="http://en.wikipedia.org/wiki/Roman_Curia"&gt;Kuria Romawi&lt;/a&gt;, jalur untuk pejabat-pejabat gereja yang membantu Paus di Vatikan. Contohnya adalah Sua Eminenza &lt;a href="http://www.catholic-hierarchy.org/bishop/bcomastri.html"&gt;Angelo Cardinal Comastri&lt;/a&gt;, Imam Agung Basilika Santo Petrus. Kardinal dari jalur ini biasanya diangkat menjadi kardinal diakon. Yang ketiga adalah jalur lain-lain. Kardinal dari jalur ini biasanya diangkat menjadi kardinal diakon juga. Bapa Suci bisa mengangkat siapa saja yang dianggap pantas menerima kehormatan kardinal. Contoh yang paling bagus mungkin adalah His Eminence &lt;a href="http://www.catholic-hierarchy.org/bishop/bdulles.html"&gt;Avery Cardinal Dulles&lt;/a&gt;. Cardinal Dulles adalah seorang imam Jesuit dari Amerika Serikat, guru besar teologi yang sangat dihormati baik oleh &lt;a href="http://www.catholic-hierarchy.org/bishop/bwojtyla.html"&gt;Paus Yohanes Paulus II&lt;/a&gt; yang mengangkatnya, maupun oleh &lt;a href="http://www.catholic-hierarchy.org/bishop/bratz.html"&gt;Paus Benediktus XVI&lt;/a&gt; yang mengunjunginya beberapa bulan sebelum wafatnya. Sampai meninggalnya, Cardinal Dulles tidak pernah menerima tahbisan uskup.&lt;/p&gt;&lt;img id="BLOGGER_PHOTO_ID_5370838493283769298" style="FLOAT: right; MARGIN: 0px 0px 10px 10px; WIDTH: 200px; CURSOR: hand; HEIGHT: 134px" alt="" src="http://3.bp.blogspot.com/_6gXDFDHmxzU/SokNJ1osW9I/AAAAAAAAARU/sRIVZBRxfR4/s200/Cardinal+22+Elected+Pope.jpg" border="0" /&gt; &lt;p align="left"&gt;Di antara ketiga kategori kardinal di atas, dapat dibayangkan bahwa kardinal imam berjumlah paling banyak (147 dari 185 orang kardinal saat ini). Mereka adalah uskup atau uskup agung senior dari berbagai negara. Seorang yang paling senior di antara kardinal imam ditunjuk menjadi Protopresbyter, semacam pemimpin untuk berbagai kepentingan seremonial. Di antara kardinal diakon (yang saat ini berjumlah 29) juga ada seorang yang paling senior yang ditunjuk sebagai Protodiakon. Protodiakon inilah yang bertugas mengumumkan nama Paus yang baru terpilih dalam konklaf, dengan menggunakan frase yang amat terkenal, "&lt;a href="http://www.vatican.va/holy_father/benedict_xvi/elezione/index_en.htm"&gt;Habemus Papam ...&lt;/a&gt;" Pada tanggal 19 April 2005, adalah &lt;a href="http://www.catholic-hierarchy.org/bishop/bmedest.html"&gt;Jorge Arturo Cardinal Medina Estévez&lt;/a&gt; (foto atas, di sebelah kanan Paus, berjubah merah), Protodiakon pada saat itu, yang membacakan, "Annuntio vobis gaudium magnum; habemus Papam: Eminentissimum ac Reverendissimum Dominum, Dominum Josephum Sanctae Romanae Ecclesiae Cardinalem Ratzinger qui sibi nomen imposuit Benedictum XVI."&lt;/p&gt;&lt;img id="BLOGGER_PHOTO_ID_5370830304206517074" style="FLOAT: left; MARGIN: 0px 10px 10px 0px; WIDTH: 134px; CURSOR: hand; HEIGHT: 200px" alt="" src="http://1.bp.blogspot.com/_6gXDFDHmxzU/SokFtK8h81I/AAAAAAAAARE/hhNM3IcIZvI/s200/Cardinal+02+Sodano.jpg" border="0" /&gt; &lt;p align="left"&gt;Untuk mengisi posisi kardinal uskup yang hanya sedikit, Paus memilih dari antara kardinal imam. Di samping itu, &lt;a href="http://en.wikipedia.org/wiki/Patriarchs_of_the_East"&gt;Patriark Ritus Timur&lt;/a&gt; yang diangkat menjadi kardinal langsung masuk kategori kardinal uskup. Mudah mengenali mereka dalam upacara liturgi, dari busananya yang berbeda dari para kardinal lainnya. Para kardinal uskup memilih pemimpin dan wakilnya dari antara mereka dan diajukan ke Paus untuk mendapatkan persetujuan. Para pemimpin kardinal uskup lalu menjadi Dekan dan Wakil Dekan &lt;a href="http://en.wikipedia.org/wiki/College_of_cardinals"&gt;Kolese Kardinal&lt;/a&gt;. Dekan &lt;a href="http://en.wikipedia.org/wiki/College_of_cardinals"&gt;Kolese Kardinal&lt;/a&gt; saat ini adalah &lt;a href="http://www.catholic-hierarchy.org/bishop/bsodano.html"&gt;Angelo Cardinal Sodano&lt;/a&gt; dari Italia (foto atas), yang pernah menjadi Sekretaris Negara Vatikan selama tahun 1991-2006. Sebagai wakilnya adalah &lt;a href="http://www.catholic-hierarchy.org/bishop/betch.html"&gt;Roger Cardinal Etchegaray&lt;/a&gt; dari Prancis (foto bawah). Saat terpilih sebagai Paus, &lt;a href="http://www.catholic-hierarchy.org/bishop/bratz.html"&gt;Joseph Cardinal Ratzinger&lt;/a&gt; adalah Dekan &lt;a href="http://en.wikipedia.org/wiki/College_of_cardinals"&gt;Kolese Kardinal&lt;/a&gt;.&lt;/p&gt;&lt;img id="BLOGGER_PHOTO_ID_5370830309808195026" style="FLOAT: right; MARGIN: 0px 0px 10px 10px; WIDTH: 200px; CURSOR: hand; HEIGHT: 134px" alt="" src="http://1.bp.blogspot.com/_6gXDFDHmxzU/SokFtf0ExdI/AAAAAAAAARM/9xZ_v389qY4/s200/Cardinal+03+Etchegaray.jpg" border="0" /&gt; &lt;p align="left"&gt;Untuk meneruskan tradisi, kepada setiap kardinal imam dan kardinal diakon diberikan sebuah gereja (paroki) dalam Keuskupan &lt;a href="http://www.gcatholic.com/dioceses/diocese/rome0.htm"&gt;Roma&lt;/a&gt;, di mana mereka menjadi pastor (paroki) kehormatan. Lambang mereka dipasang di luar gereja tituler ini dan mereka pun wajib berkunjung dan mempersembahkan misa di gereja tituler ini saat berkunjung ke &lt;a href="http://www.gcatholic.com/dioceses/diocese/rome0.htm"&gt;Roma&lt;/a&gt;. Kepada para kardinal uskup yang berasal dari ritus Latin dianugerahkan keuskupan kuno kehormatan di sekitar kota &lt;a href="http://www.gcatholic.com/dioceses/diocese/rome0.htm"&gt;Roma&lt;/a&gt;, yang sudah tidak ada lagi di jaman modern ini.&lt;/p&gt;&lt;p align="left"&gt;Sesuai tradisi, penulisan penulisan nama kardinal memang sedikit berbeda dari kebiasaan umum. Kata "Kardinal" diselipkan di antara nama lengkap, persis di depan nama keluarga. Jadi, yang lebih pas adalah Julius Kardinal Darmaatmadja, meski tidak salah juga kalau kita menulis Kardinal Julius Darmaatmadja. Para kardinal disapa dengan "Yang Utama", "His Eminence", atau "Sua Eminenza" dalam bahasa Italia. Di Vatikan, sehari-harinya mereka disapa "Eminenza" saja. Sapaan yang dikhususkan bagi mereka memang beda dengan uskup dan uskup agung, yang harusnya disapa dengan "Yang Mulia", "His Excellency", "Sua Eccellenza", atau "Excellency" atau "Eccellenza" saja. Di Vatikan dan pada umumnya dalam gereja Katolik, Monsignor adalah sapaan untuk pejabat tinggi gereja yang tingkatannya di bawah uskup.&lt;/p&gt;&lt;img id="BLOGGER_PHOTO_ID_5370838503674577826" style="FLOAT: left; MARGIN: 0px 10px 10px 0px; WIDTH: 200px; CURSOR: hand; HEIGHT: 155px" alt="" src="http://4.bp.blogspot.com/_6gXDFDHmxzU/SokNKcWDg6I/AAAAAAAAARc/UwO5lfo2h2E/s200/Cardinal+23+Elected+Pope.jpg" border="0" /&gt; &lt;p align="left"&gt;Kardinal dapat dikenali dari busana liturginya yang berwarna merah. Bandingkan dengan busana uskup yang warnanya ungu. &lt;a href="http://dappledphotos.blogspot.com/2005/01/biretta-sightings.html"&gt;Biretta&lt;/a&gt;, topi segi empat kardinal, juga berwarna merah. &lt;a href="http://dappledphotos.blogspot.com/2005/01/biretta-sightings.html"&gt;Biretta&lt;/a&gt; kardinal tidak menggunakan pom seperti &lt;a href="http://dappledphotos.blogspot.com/2005/01/biretta-sightings.html"&gt;biretta&lt;/a&gt; uskup. Saat kardinal mengenakan busana resmi jubah warna hitam yang sama dengan uskup atau pejabat gereja lain, mereka masih dapat dikenali dari sabuk sutera dan topi kecilnya yang berwarna merah. Selain itu, &lt;a href="http://dappledphotos.blogspot.com/2006/02/ferraiuolo.html"&gt;ferraiola&lt;/a&gt; dan &lt;a href="http://dappledphotos.blogspot.com/2005/09/cappa-magna.html"&gt;cappa magna&lt;/a&gt; kardinal pun berwarna merah.&lt;/p&gt;&lt;p align="left"&gt;Sebagai penutup, film fiksi &lt;a href="http://en.wikipedia.org/wiki/Angels_&amp;amp;_Demons_(film)"&gt;Angels and Demons&lt;/a&gt; yang kontroversial dan kurang disukai oleh kalangan Katolik menampilkan banyak sekali kardinal. Meski banyak hal yang sensasional dan kurang pas dalam film itu, saya harus mengakui bahwa sang sutradara berhasil menunjukkan sebagian kebesaran agama Katolik kepada semua orang yang menontonnya, Katolik dan non-Katolik. Saya sendiri mendapatkan beberapa pertanyaan tentang film ini dari kawan-kawan saya yang bukan Katolik. Satu hal yang menurut saya paling mengganggu. Dalam sejarah gereja Katolik, &lt;a href="http://en.wikipedia.org/wiki/Camerlengo_of_the_Holy_Roman_Church"&gt;Camerlengo&lt;/a&gt; atau &lt;a href="http://en.wikipedia.org/wiki/Camerlengo_of_the_Holy_Roman_Church"&gt;Chamberlain&lt;/a&gt; belum pernah dijabat oleh imam muda seperti di film itu. Selama ratusan tahun posisi ini hampir selalu dijabat oleh seorang kardinal senior, dengan hanya beberapa pengecualian. Itu pun setidaknya oleh uskup senior yang kemudian diangkat menjadi kardinal.&lt;/p&gt;&lt;p align="left"&gt;Link: &lt;a href="http://en.wikipedia.org/wiki/College_of_cardinals"&gt;Cardinal (Wikipedia)&lt;/a&gt;&lt;br /&gt;Link: &lt;a href="http://www.fiu.edu/~mirandas/cardinals.htm"&gt;The Cardinals of the Holy Roman Church (Salvador Miranda)&lt;/a&gt;&lt;/p&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/2222578442435492672-6150264299361787504?l=tradisikatolik.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://tradisikatolik.blogspot.com/feeds/6150264299361787504/comments/default' title='Post Comments'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://tradisikatolik.blogspot.com/2009/08/kardinal-pangeran-gereja-katolik.html#comment-form' title='4 Comments'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/2222578442435492672/posts/default/6150264299361787504'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/2222578442435492672/posts/default/6150264299361787504'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://tradisikatolik.blogspot.com/2009/08/kardinal-pangeran-gereja-katolik.html' title='Kardinal: Pangeran Gereja Katolik'/><author><name>Albert Wibisono</name><uri>http://www.blogger.com/profile/06599163203686361131</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='16' height='16' src='http://img2.blogblog.com/img/b16-rounded.gif'/></author><media:thumbnail xmlns:media='http://search.yahoo.com/mrss/' url='http://1.bp.blogspot.com/_6gXDFDHmxzU/SokD3OAR7JI/AAAAAAAAAQ0/X52kLL1oGWE/s72-c/Cardinal+10+Conclave.jpg' height='72' width='72'/><thr:total>4</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-2222578442435492672.post-8518344330546846702</id><published>2009-07-02T23:35:00.022+07:00</published><updated>2009-07-03T02:51:11.016+07:00</updated><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='Piranti Liturgi'/><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='Paus'/><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='Busana'/><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='Imam'/><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='Misa'/><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='Uskup'/><title type='text'>Hari Raya Santo Petrus dan Paulus</title><content type='html'>&lt;p align="left"&gt;&lt;a onblur="try {parent.deselectBloggerImageGracefully();} catch(e) {}" href="http://2.bp.blogspot.com/_6gXDFDHmxzU/Sk0HAFFaiuI/AAAAAAAAAQs/dcIsoHTOEa0/s1600-h/Pope+Palium+1.jpg"&gt;&lt;img style="margin:left; margin:0 10px 10px 0;cursor:pointer; cursor:hand;width: 320px; height: 219px;" src="http://2.bp.blogspot.com/_6gXDFDHmxzU/Sk0HAFFaiuI/AAAAAAAAAQs/dcIsoHTOEa0/s320/Pope+Palium+1.jpg" border="0" alt="" id="BLOGGER_PHOTO_ID_5353943229959670498" /&gt;&lt;/a&gt;&lt;br /&gt;Setiap tahun pada tanggal 29 Juni, gereja Katolik sedunia punya gawe penting, Hari Raya Santo Petrus dan Paulus. Di tahun 2009, hari raya ini jatuh pada hari Senin. Mungkin umat tidak banyak yang perhatian dengan hari raya ini. Tidak seperti Hari Raya Tritunggal Mahakudus atau Hari Raya Tubuh dan Darah Kristus yang selalu jatuh pada hari Minggu. Saya akan menulis sedikit tentang tradisi Katolik di Hari Raya Santo Petrus dan Paulus ini.&lt;/p&gt;&lt;p align="left"&gt;Dari namanya saja, orang mungkin bisa membayangkan bahwa hari raya ini penting bagi paus dan para uskup, penerus &lt;a href="http://www.newadvent.org/cathen/11744a.htm#V"&gt;Santo Petrus&lt;/a&gt;. Memang, banyak uskup yang ditahbiskan pada Hari Raya Santo Petrus dan Paulus, termasuk Uskup Agung Emeritus &lt;a href="http://www.gcatholic.com/dioceses/diocese/meda0.htm"&gt;Medan&lt;/a&gt; &lt;a href="http://www.catholic-hierarchy.org/bishop/bdatubara.html"&gt;AGP Datubara&lt;/a&gt; (1975), Uskup Agung &lt;a href="http://www.gcatholic.com/dioceses/diocese/jaka0.htm"&gt;Jakarta&lt;/a&gt; &lt;a href="http://www.catholic-hierarchy.org/bishop/bdarm.html"&gt;Julius Kardinal Darmaatmadja&lt;/a&gt; (1983) dan Uskup &lt;a href="http://www.gcatholic.com/dioceses/diocese/sura0.htm"&gt;Surabaya&lt;/a&gt; &lt;a href="http://www.catholic-hierarchy.org/bishop/bwisak.html"&gt;Vincentius Sutikno Wisaksono&lt;/a&gt; (2007). Dengan demikian, bersamaan dengan hari raya ini di beberapa keuskupan dirayakanlah peringatan ulang tahun tahbisan uskup, sesuai yang diamanatkan oleh &lt;a href="http://www.paxbook.com/algorithmiS/servusPrimus?iussum=monstraScriptumEditum&amp;amp;numerus=31754"&gt;Caeremoniale Episcoporum&lt;/a&gt; (Tata Upacara Para Uskup). Sebagai tambahan, Paus &lt;a href="http://www.catholic-hierarchy.org/bishop/bratz.html"&gt;Benediktus XVI&lt;/a&gt; juga ditahbiskan menjadi imam di hari raya ini (1951).&lt;/p&gt;&lt;img style="float:left; margin:0 10px 10px 0;cursor:pointer; cursor:hand;width: 169px; height: 200px;" src="http://2.bp.blogspot.com/_6gXDFDHmxzU/Sk0A9IMqteI/AAAAAAAAAQU/BSJcJzcwXCY/s200/Palium+1.jpg" border="0" alt="" id="BLOGGER_PHOTO_ID_5353936582186022370" /&gt;&lt;p align="left"&gt;Di Vatikan, hari raya ini selalu dirayakan dengan meriah, dengan tradisi penganugerahan palium kepada uskup agung yang baru ditunjuk memimpin suatu metropolitan (keuskupan agung di kota besar penting bagi gereja Katolik, yang membawahkan keuskupan sufragan lainnya). Apa itu palium? Coba lihat foto Uskup Agung &lt;a href="http://www.catholic-hierarchy.org/bishop/bdolan.html"&gt;Timothy Dolan&lt;/a&gt; di sebelah ini. Palium adalah semacam kalung atau selempang yang dipakai di luar kasula (busana terluar imam untuk perayaan ekaristi). Di bagian bawah juga ada dua foto paus dengan palium model lama yang lebih besar dan panjang. Seorang uskup agung boleh saja menerima tahbisan uskup dari uskup lainnya, tapi beliau hanya akan menerima palium dari paus.&lt;/p&gt;&lt;img style="float:right; margin:0 0 10px 10px;cursor:pointer; cursor:hand;width: 134px; height: 200px;" src="http://3.bp.blogspot.com/_6gXDFDHmxzU/Sk0E1lz5rzI/AAAAAAAAAQc/wzIcHF9qNcA/s200/Pope+Palium+3.jpg" border="0" alt="" id="BLOGGER_PHOTO_ID_5353940850742767410" /&gt;&lt;p align="left"&gt;Dalam kurun waktu 30 Juni 2008 sampai dengan 28 Juni 2009, ada &lt;a href="http://www.zenit.org/article-26285?l=english"&gt;34 orang uskup agung yang baru ditunjuk memimpin metropolitan&lt;/a&gt;. Beliau-beliau inilah yang pada Hari Raya Santo Petrus dan Paulus yang lalu menerima palium dari Paus &lt;a href="http://www.catholic-hierarchy.org/bishop/bratz.html"&gt;Benediktus XVI&lt;/a&gt;. Dua di antara mereka kita mungkin kenal, Uskup Agung &lt;a href="http://www.gcatholic.com/dioceses/diocese/meda0.htm"&gt;Medan&lt;/a&gt; &lt;a href="http://www.catholic-hierarchy.org/bishop/bsinaga.html"&gt;Anicetus Bongsu Antonius Sinaga&lt;/a&gt; dan Uskup Agung &lt;a href="http://www.gcatholic.com/dioceses/diocese/colo0.htm"&gt;Colombo&lt;/a&gt; &lt;a href="http://www.catholic-hierarchy.org/bishop/branjith.html"&gt;Albert Malcolm Ranjith Patabendige Don&lt;/a&gt;, yang pernah menjadi Duta Besar Vatikan di Indonesia.&lt;/p&gt;&lt;img style="float:left; margin:0 10px 10px 0;cursor:pointer; cursor:hand;width: 134px; height: 200px;" src="http://4.bp.blogspot.com/_6gXDFDHmxzU/Sk0FrVXnxsI/AAAAAAAAAQk/R8JpOfqxY0o/s200/Pope+Palium+2.jpg" border="0" alt="" id="BLOGGER_PHOTO_ID_5353941774042121922" /&gt;&lt;p align="left"&gt;Palium adalah asesoris khas yang hanya diberikan kepada uskup agung metropolitan. Palium tidak diberikan kepada uskup agung yang tidak memimpin metropolitan (misalnya para duta besar Vatikan di berbagai negara) atau uskup biasa. Asesoris ini dibuat dari bulu domba, yang sesuai tradisi Katolik diberkati oleh paus pada Peringatan &lt;a href="http://en.wikipedia.org/wiki/Saint_Agnes"&gt;Santa Agnes&lt;/a&gt; (21 Januari). Domba yang diberkati paus ini kemudian dicukur pada hari Kamis Putih, dan bulunya ditenun menjadi palium yang kemudian dianugerahkan kepada para metropolitan. Palium melambangkan anak domba, yang oleh Kristus diserahkan kepada Petrus untuk digembalakan (Yoh 21, 15-17). Palium juga melambangkan Kristus sendiri, gembala yang baik, yang memanggul domba yang hilang di pundaknya dan membawanya pulang. Asesoris dari bulu domba ini memang dikenakan dengan dikalungkan di pundak. Kelihatan sederhana, tapi sungguh sarat makna, seperti juga busana gereja yang lainnya.&lt;/p&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/2222578442435492672-8518344330546846702?l=tradisikatolik.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://tradisikatolik.blogspot.com/feeds/8518344330546846702/comments/default' title='Post Comments'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://tradisikatolik.blogspot.com/2009/07/hari-raya-santo-petrus-dan-paulus.html#comment-form' title='2 Comments'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/2222578442435492672/posts/default/8518344330546846702'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/2222578442435492672/posts/default/8518344330546846702'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://tradisikatolik.blogspot.com/2009/07/hari-raya-santo-petrus-dan-paulus.html' title='Hari Raya Santo Petrus dan Paulus'/><author><name>Albert Wibisono</name><uri>http://www.blogger.com/profile/06599163203686361131</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='16' height='16' src='http://img2.blogblog.com/img/b16-rounded.gif'/></author><media:thumbnail xmlns:media='http://search.yahoo.com/mrss/' url='http://2.bp.blogspot.com/_6gXDFDHmxzU/Sk0HAFFaiuI/AAAAAAAAAQs/dcIsoHTOEa0/s72-c/Pope+Palium+1.jpg' height='72' width='72'/><thr:total>2</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-2222578442435492672.post-3281279124119500374</id><published>2009-04-10T12:38:00.007+07:00</published><updated>2009-04-11T12:08:11.364+07:00</updated><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='Piranti Liturgi'/><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='Imam'/><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='Misa'/><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='Uskup'/><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='Diakon'/><title type='text'>Tuguran: Ada Tata Caranya?</title><content type='html'>&lt;p align="left"&gt;&lt;a onblur="try {parent.deselectBloggerImageGracefully();} catch(e) {}" href="http://1.bp.blogspot.com/_6gXDFDHmxzU/Sd70oIRQiNI/AAAAAAAAAP0/ymztfISP_tw/s1600-h/Pope+SS+Procession+2.jpg"&gt;&lt;img style="float:left; margin:0 10px 10px 0;cursor:pointer; cursor:hand;width: 279px; height: 320px;" src="http://1.bp.blogspot.com/_6gXDFDHmxzU/Sd70oIRQiNI/AAAAAAAAAP0/ymztfISP_tw/s320/Pope+SS+Procession+2.jpg" border="0" alt="" id="BLOGGER_PHOTO_ID_5322960779850320082" /&gt;&lt;/a&gt;Umat Katolik yang datang ke misa Kamis Putih yang paling malam hampir pasti mendapati bahwa ritus penutup dengan berkat dalam misa itu ditiadakan. Sebagai gantinya ada ritus pemindahan Sakramen Mahakudus, dari altar utama ke altar (atau tabernakel) lain. Di altar (atau tabernakel) lain itulah kemudian dilakukan pentakhtaan Sakramen Mahakudus (dalam sibori, bukan monstrans). Nah, biasanya lalu Sakramen Mahakudus itu dijaga oleh umat dalam suatu ritus yang disebut tuguran. Pertanyaan berikutnya, apa yang dilakukan selama tuguran itu? Jawabnya sederhana sekali, diam dan hanya diam.&lt;/p&gt;&lt;div&gt;Beberapa tahun terakhir ini saya mengamati adanya trend untuk mengisi kegiatan tuguran dengan berbagai doa-doa bersama, bahkan sahut menyahut. Saya kurang jelas siapa yang memulai eksperimen ini. Saya pribadi lebih menyarankan agar umat mengikuti dan melestarikan tradisi katolik universal yang dipraktikkan di seluruh dunia dan sudah berlangsung berabad-abad lamanya. Sekali lagi, diam dan hanya diam. Nah, tentu belum afdol kalau saya tidak berbagi aturannya. Berikut ini saya kutipkan dari &lt;a href="http://www.paxbook.com/algorithmiS/servusPrimus?iussum=monstraScriptumEditum&amp;amp;numerus=31754"&gt;Caeremoniale Episcoporum&lt;/a&gt; (&lt;a href="http://www.amazon.com/Ceremonial-Bishops-Liturgical-Press/dp/0814618189/ref=sr_1_1?ie=UTF8&amp;amp;s=books&amp;amp;qid=1239349829&amp;amp;sr=8-1"&gt;Ceremonial of Bishops&lt;/a&gt; atau Tata Upacara Para Uskup) keluaran Vatikan, pasal 308-311. "Saat dinyanyikan &lt;a href="http://www.christusrex.org/www2/cantgreg/cantus/tantum_ergo_1.mp3"&gt;Tantum ergo&lt;/a&gt; (PS 502 ayat 5-6, atau bahasa Indonesianya di PS 501 ayat 5-6 Sakramen yang sungguh agung) ..., uskup (atau imam selebran), berlutut, mendupai Sakramen Mahakudus. ... Setelah adorasi dalam keheningan selama beberapa saat, semuanya berdiri, berlutut dengan satu kaki kanan ditekuk, dan kembali ke sakristi. ... Umat beriman hendaknya didorong untuk melanjutkan adorasi (dalam keheningan) di depan Sakramen Mahakudus selama beberapa waktu di malam hari itu, sesuai kondisi setempat, namun jangan ada lagi adorasi agung setelah tengah malam."&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div&gt;&lt;a href="http://www.catholic-hierarchy.org/bishop/belliott.html"&gt;Uskup Peter Elliott&lt;/a&gt;, pakar liturgi yang lama berdinas di Vatikan, dalam bukunya &lt;a href="http://www.amazon.com/Ceremonies-Modern-Roman-Rite-Liturgical/dp/0898708303/ref=sr_1_9?ie=UTF8&amp;amp;s=books&amp;amp;qid=1239349617&amp;amp;sr=8-9"&gt;Ceremonies of the Modern Roman Rite&lt;/a&gt; membahas lebih jauh tentang berbagai kegiatan adorasi Sakramen Mahakudus. Yang Mulia menulis, "Silence is maintained always. (Keheningan dijaga, selalu.)" (Hal. 251) Hal menghentikan adorasi saat tengah malam, Yang Mulia menjelaskan dalam bukunya yang lain &lt;a href="http://www.amazon.com/Ceremonies-Liturgical-Year-Involved-Ministries/dp/089870829X/ref=sr_1_1?ie=UTF8&amp;amp;s=books&amp;amp;qid=1239349617&amp;amp;sr=8-1"&gt;Ceremonies of the Liturgical Year&lt;/a&gt;, bahwa, "Pada tengah malam lilin-lilin dan lampu-lampu dipadamkan dan bunga-bunga disingkirkan, tetapi satu lampu (lampu Allah, penanda adanya Sakramen Mahakudus) harus tetap bernyala. Adorasi yang lebih sederhana boleh, dan seyogyanya, dilanjutkan sampai pagi, bahkan bila perlu sampai sebelum upacara-upacara Jumat Suci, bila hal ini memungkinkan." (Hal. 108-109)&lt;/div&gt;&lt;div&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div&gt;Ada satu aturan lagi dari Vatikan, &lt;a href="http://www.ewtn.com/library/CURIA/CDWEASTF.HTM"&gt;Sirkuler Kongregasi Ibadat Ilahi tentang Persiapan dan Perayaan Pesta Paskah (Feb 1988)&lt;/a&gt;, yang menyebut bahwa, " ... bila diinginkan dapat dibacakan bagian-bagian Injil Yohanes 13-17." (SPPP 56) Kata kuncinya adalah "bila diinginkan", jadi bukan keharusan. Lalu, kalaupun diinginkan, bentuknya adalah komunikasi searah, Injil dibacakan (dengan khidmat) dan umat mendengarkan. Intinya adalah bahwa umat tetap meneruskan adorasi dalam keheningan. Doa-doa bersama, apalagi sahut menyahut, dapat memindahkan perhatian umat dari Sakramen Mahakudus dan melemahkan makna adorasi. Ingat, adorasi artinya mengagumi, memuja, menyembah.&lt;/div&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/2222578442435492672-3281279124119500374?l=tradisikatolik.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://tradisikatolik.blogspot.com/feeds/3281279124119500374/comments/default' title='Post Comments'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://tradisikatolik.blogspot.com/2009/04/tuguran-ada-tata-caranya.html#comment-form' title='10 Comments'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/2222578442435492672/posts/default/3281279124119500374'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/2222578442435492672/posts/default/3281279124119500374'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://tradisikatolik.blogspot.com/2009/04/tuguran-ada-tata-caranya.html' title='Tuguran: Ada Tata Caranya?'/><author><name>Albert Wibisono</name><uri>http://www.blogger.com/profile/06599163203686361131</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='16' height='16' src='http://img2.blogblog.com/img/b16-rounded.gif'/></author><media:thumbnail xmlns:media='http://search.yahoo.com/mrss/' url='http://1.bp.blogspot.com/_6gXDFDHmxzU/Sd70oIRQiNI/AAAAAAAAAP0/ymztfISP_tw/s72-c/Pope+SS+Procession+2.jpg' height='72' width='72'/><thr:total>10</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-2222578442435492672.post-3089853970660470212</id><published>2009-04-05T09:41:00.053+07:00</published><updated>2011-07-27T09:41:32.892+07:00</updated><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='Piranti Liturgi'/><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='Paus'/><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='Imam'/><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='Misa'/><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='Misdinar'/><title type='text'>Wiruk atau Pedupaan: Crik Crik (Stop!)</title><content type='html'>&lt;div align="left"&gt;&lt;br /&gt;&lt;a href="http://1.bp.blogspot.com/_6gXDFDHmxzU/SduFYadu-DI/AAAAAAAAAPc/3BG6LDKeNC4/s1600-h/Pope+Incense+11.jpg" onblur="try {parent.deselectBloggerImageGracefully();} catch(e) {}"&gt;&lt;img alt="" border="0" id="BLOGGER_PHOTO_ID_5321994039135762482" src="http://1.bp.blogspot.com/_6gXDFDHmxzU/SduFYadu-DI/AAAAAAAAAPc/3BG6LDKeNC4/s320/Pope+Incense+11.jpg" style="height: 214px; margin-bottom: 10px; margin-left: 0px; margin-right: 10px; margin-top: 0px; width: 320px;" /&gt;&lt;/a&gt;&lt;br /&gt;Misdinar pasti tahu yang namanya wiruk atau pedupaan yang dipegang Paus di foto di atas. Nama wiruk itu dari bahasa Belanda wierooksvat. Dalam bahasa Latin namanya turibulum, di bahasa Inggris jadi thurible atau censer. Yang nggak pernah jadi misdinar mungkin nggak tahu peranti itu namanya wiruk, tapi saya yakin semua pernah melihat pedupaan itu dipakai dalam misa. Di tulisan ini saya akan bahas beberapa poin penting dan beberapa kesalahan yang seringkali terjadi berkaitan dengan penggunaan wiruk dalam misa.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div align="left"&gt;Kenapa sih harus pakai wangi-wangian dalam liturgi? Jawabnya, untuk menciptakan suasana atau atmosfir liturgis. Berikut ini penjelasan yang bagus sekali, saya kutip dari buku Rupa dan Citra karangan pakar liturgi C.H. Suryanugraha, OSC, "Suasana atau atmosfir liturgis diciptakan sedemikian rupa agar perayaan liturgi sungguh mengantar jemaat kepada pertemuan yang Ilahi. Penggunaan unsur-unsur 'cahaya, warna, dan aroma' dalam Perayaan Ekaristi tentunya perlu diberi perhatian khusus pula. Unsur-unsur itu tidak layak diabaikan jika kita peduli akan perlunya lebih mengaktifkan indera (setidaknya indera penglihatan/mata, penciuman/hidung, dan pendengaran/telinga) kita untuk terlibat dan dapat menangkap sisi-sisi keindahan dan kesakralan dalam Perayaan Ekaristi." Aturan liturgi dari Vatikan menyebut, "Pendupaan merupakan ungkapan hormat dan doa sebagaimana dijelaskan dalam Alkitab (bdk. Mzm 141:2; Why 8:3)." (PUMR 276 dan Caeremoniale Episcoporum-Tata Upacara Para Uskup CE 84)&lt;/div&gt;&lt;div&gt;&lt;div align="left"&gt;&lt;br /&gt;Lalu, kapan kita pakai wangi-wangian dupa ini? Apa hanya untuk misa agung di hari-hari raya? Jawabnya tidak. PUMR 276 mengatakan bahwa dupa boleh digunakan dalam setiap bentuk misa. Misa biasa di hari Minggu pun boleh pakai dupa, kalau mau. Dalam misa, dupa digunakan waktu perarakan masuk, di awal misa untuk menghormati salib altar dan altar, waktu perarakan injil (saat imam atau diakon membawa injil dari altar ke mimbar, untuk dibacakan) dan waktu pembacaan injil. Berikutnya, ada pendupaan roti dan anggur yang disiapkan di altar, lalu pendupaan imam selebran dan konselebran plus semua petugas liturgi di panti imam, dan terakhir umat. Juga, dupa digunakan waktu hosti dan piala diperlihatkan kepada umat. Itu ringkasnya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;a href="http://4.bp.blogspot.com/_6gXDFDHmxzU/SeAvpKgB4_I/AAAAAAAAAP8/FDOwmLiwWMY/s1600/Procession+Incense+1.jpg" imageanchor="1" style="clear: left; float: left; margin-bottom: 1em; margin-right: 1em;"&gt;&lt;img alt="" border="0" id="BLOGGER_PHOTO_ID_5323307143791764466" src="http://4.bp.blogspot.com/_6gXDFDHmxzU/SeAvpKgB4_I/AAAAAAAAAP8/FDOwmLiwWMY/s200/Procession+Incense+1.jpg" style="height: 131px; margin-top: 0px; width: 200px;" /&gt;&lt;/a&gt;Mari kita bahas satu persatu. Waktu perarakan masuk dalam misa, fungsi dupa adalah untuk membuka dan menyucikan jalur yang dilalui arak-arakan plus sekalian menyucikan peserta arak-arakan yang jalan di belakangnya. Itu sebabnya pembawa wiruk jalannya di paling depan, bukannya di belakang pembawa salib. Nah, saya pernah melihat pembawa wiruk jalan di paling depan, mendupai salib sambil berjalan mundur. Yang ini kurang pas. Sekali lagi, yang disucikan adalah jalan yang dilalui plus seluruh peserta arak-arakan, bukan cuma salibnya yang diapit dua lilin. Oh ya, wiruk tidak digunakan waktu perarakan keluar dalam misa. Saat ini, pembawa wiruk tentunya jalan di belakang pembawa salib, bersama misdinar lainnya. Aneh juga kalau ia jalan di depan pembawa salib tapi nggak bawa apa-apa.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;a href="http://4.bp.blogspot.com/_6gXDFDHmxzU/SduEBtFwqbI/AAAAAAAAAPU/bUVjV0S1i80/s1600/Procession+Incense+2.jpg" imageanchor="1" style="clear: left; float: left; margin-bottom: 1em; margin-right: 1em;"&gt;&lt;img alt="" border="0" id="BLOGGER_PHOTO_ID_5321992549486864818" src="http://4.bp.blogspot.com/_6gXDFDHmxzU/SduEBtFwqbI/AAAAAAAAAPU/bUVjV0S1i80/s200/Procession+Incense+2.jpg" style="height: 134px; margin-top: 0px; width: 200px;" /&gt;&lt;/a&gt;Berikutnya, cara membawa wiruk yang saya lihat di banyak tempat di Indonesia juga kurang tepat. Dalam perarakan atau saat berjalan dari satu tempat ke tempat yang lain, pembawa wiruk memegang pangkal rantai dengan tangan kanan seperti foto di atas dan di sebelah kanan ini. Dalam perarakan, wiruk (yang sudah diisi dupa dan berasap tebal) diayunkan ke depan dan belakang, supaya asap dupa menyebar. Ayunan ini bisa sampai 30 derajat ke depan dan ke belakang. Di beberapa tempat di luar negeri saya bahkan melihat ayunan sampai 90 derajat seperti di foto sebelah kanan ini! Makanya, kalau jalan dalam prosesi jangan mepet-mepet dengan yang di depan. Selain kurang bagus, juga ada resiko kena ayunan wiruk. Pembawa wiruk yang menyucikan jalanan sebaiknya memang cuman satu aja, idealnya berjalan di tengah-tengah. Di Indonesia seringkali ia berpasangan dengan pembawa tempat dupa dan berjalan bersama-sama. Ini agak melemahkan fungsinya sebagai pembuka jalan. Kalau caranya membawa wiruk benar seperti foto di atas, ia tidak perlu didampingi pembawa tempat dupa. Ia bisa membawa tempat dupa sendiri dengan tangan kiri dan ditempelkan ke dada, sambil tangan kanan mengayunkan wiruknya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;a href="http://4.bp.blogspot.com/_6gXDFDHmxzU/SduClok0REI/AAAAAAAAAPE/JC-vP4DCnDs/s1600/Pope+Incense+13.jpg" imageanchor="1" style="clear: left; float: left; margin-bottom: 1em; margin-right: 1em;"&gt;&lt;img alt="" border="0" id="BLOGGER_PHOTO_ID_5321990967726982210" src="http://4.bp.blogspot.com/_6gXDFDHmxzU/SduClok0REI/AAAAAAAAAPE/JC-vP4DCnDs/s200/Pope+Incense+13.jpg" style="cursor: move; height: 200px; margin-top: 0px; width: 134px;" /&gt;&lt;/a&gt;Setelah arak-arakan sampai di panti imam, pembawa wiruk menghampiri selebran utama. Dupa ditambahkan lagi, lalu selebran utama mendupai salib altar dan altar. Nah, selama proses ini pembawa wiruk nggak perlu memegangi kasula selebran utama. Tradisinya bukan begitu. Seringkali ia malahan terlihat menarik-narik kasula dan mengganggu gerak selebran utama. Coba lihat foto Paus di sebelah ini, nggak ada yang memegangi kasulanya kan? Oh ya, satu kesalahan yang sering terjadi di awal misa ini, selebran tidak perlu didupai sehabis ia mendupai altar. Selebran hanya didupai waktu persembahan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;a href="http://2.bp.blogspot.com/_6gXDFDHmxzU/SduGGUsropI/AAAAAAAAAPk/0FKDavyZjbk/s1600/Cardinal+Incense+1.jpg" imageanchor="1" style="clear: right; float: right; margin-bottom: 1em; margin-left: 1em;"&gt;&lt;img alt="" border="0" id="BLOGGER_PHOTO_ID_5321994827861828242" src="http://2.bp.blogspot.com/_6gXDFDHmxzU/SduGGUsropI/AAAAAAAAAPk/0FKDavyZjbk/s200/Cardinal+Incense+1.jpg" style="height: 200px; margin-top: 0px; width: 134px;" /&gt;&lt;/a&gt;Tadi kita sudah betulkan cara memegang wiruk dalam prosesi. Sekarang kita betulkan cara mengayunkan wiruk. Yang benar bukan crik crik crik (tiga ayunan), tapi hanya crik crik (dua ayunan). Jangan keliru dengan banyaknya ya. Hal banyaknya memang bisa tiga kali atau dua kali. Tiga kali pendupaan masing-masing dua ayunan (tribus ductibus, three double-swings: crik crik, turunkan, crik crik, turunkan dan crik crik, turunkan) digunakan untuk: sakramen mahakudus, relikui salib suci dan patung Tuhan yang dipajang untuk dihormati secara publik; bahan persembahan; salib altar, Kitab Injil, lilin paskah, imam dan jemaat (PUMR 277) dan juga jenazah (CE 92). Dua kali pendupaan masing-masing dua ayunan (duobus ductibus, two double-swings, crik crik, turunkan, crik crik, turunkan) digunakan untuk relikui dan patung orang kudus yang dipajang untuk dihormati secara publik. Yang terakhir adalah serangkaian ayunan tunggal (singulis ictibus, series of single-swings) yang dipakai untuk mendupai altar.&lt;/div&gt;&lt;div align="left"&gt;&lt;br /&gt;Ikhwal pendupaan dan banyaknya ayunan ini diatur dalam PUMR 276-277 dan CE 84-98. Memang, dalam terjemahan bahasa Indonesia dan bahasa Inggrisnya, soal dua ayunan ini kurang disebut jelas. Hanya versi asli dalam bahasa Latin yang jelas menyebutkan bedanya tribus ductibus, duobus ductibus dan singulis ictibus. Pakar liturgi Uskup Peter Elliott menegaskan ini dalam bukunya Ceremonies of the Modern Roman Rite (Hal 78-81). Pakar rubrik yang lain J.B. O'Connell membahas hal ini juga dalam bukunya The Celebration of Mass (Hal 410-428). Kalau mau gampangnya, lihat aja siaran langsung misa paskah atau misa natal Paus dari Vatikan. Di situ nggak ada tiga ayunan, semuanya dua ayunan. Ada kawan saya imam yang becanda, nggak apa-apa lah tiga kali, supaya mantap. Saya nggak mau kalah, wah kalau gitu, sekalian aja imam kalau memberi berkat pakai tiga tanda salib seperti uskup. Supaya mantap, he3. Maaf, becanda. Liturgis memang susah diajak negosiasi.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;a href="http://3.bp.blogspot.com/_6gXDFDHmxzU/Sdt6Hwyi3AI/AAAAAAAAAOs/O3_1y81dPoQ/s1600/Pope+SS+Procession+1.jpg" imageanchor="1" style="clear: right; float: right; margin-bottom: 1em; margin-left: 1em;"&gt;&lt;img alt="" border="0" id="BLOGGER_PHOTO_ID_5321981658442947586" src="http://3.bp.blogspot.com/_6gXDFDHmxzU/Sdt6Hwyi3AI/AAAAAAAAAOs/O3_1y81dPoQ/s200/Pope+SS+Procession+1.jpg" style="height: 134px; margin-top: 0px; width: 200px;" /&gt;&lt;/a&gt;Yang terakhir, di penghujung Misa Kamis Putih yang paling malam, selalu ada upacara pemindahan Sakramen Mahakudus. Saat prosesi pemindahan ini, (para) pembawa wiruk pun nggak perlu mendupai Sakramen Mahakudus dengan jalan mundur, nanti malahan jatuh atau nabrak. Di Vatikan nggak ada pendupaan dengan jalan mundur. Khusus untuk prosesi ini Missale Romanum memang menyebut bahwa pembawa wiruk jalannya di belakang pembawa salib dan lilin, persis di depan selebran yang membawa Sakramen Mahakudus dalam sibori (bukan monstrans) dengan mengenakan velum. Saya pikir ini agar asap dupa lebih dekat dan melingkupi sakramen mahakudus. Tetap bukan untuk mendupai Sakramen Mahakudus ya. Sesekali prosesi ini berhenti, nah saat itulah dilakukan pendupaan terhadap Sakramen Mahakudus, yang harus dilakukan sambil berlutut di hadapannya. Memang, Sakramen Mahakudus hanya didupai sambil berlutut (CE 94), oleh Paus sekalipun.&lt;/div&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/2222578442435492672-3089853970660470212?l=tradisikatolik.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://tradisikatolik.blogspot.com/feeds/3089853970660470212/comments/default' title='Post Comments'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://tradisikatolik.blogspot.com/2009/04/wiruk-atau-pedupaan-crik-crik-crik.html#comment-form' title='13 Comments'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/2222578442435492672/posts/default/3089853970660470212'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/2222578442435492672/posts/default/3089853970660470212'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://tradisikatolik.blogspot.com/2009/04/wiruk-atau-pedupaan-crik-crik-crik.html' title='Wiruk atau Pedupaan: Crik Crik (Stop!)'/><author><name>Albert Wibisono</name><uri>http://www.blogger.com/profile/06599163203686361131</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='16' height='16' src='http://img2.blogblog.com/img/b16-rounded.gif'/></author><media:thumbnail xmlns:media='http://search.yahoo.com/mrss/' url='http://1.bp.blogspot.com/_6gXDFDHmxzU/SduFYadu-DI/AAAAAAAAAPc/3BG6LDKeNC4/s72-c/Pope+Incense+11.jpg' height='72' width='72'/><thr:total>13</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-2222578442435492672.post-393849503214795534</id><published>2009-03-07T16:01:00.010+07:00</published><updated>2009-03-08T00:05:05.753+07:00</updated><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='Lektor'/><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='Busana'/><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='Asisten Imam'/><title type='text'>Busana Asisten Imam</title><content type='html'>&lt;p align="left"&gt;&lt;a href="http://3.bp.blogspot.com/_6gXDFDHmxzU/SXwrVEYI0bI/AAAAAAAAAM8/93DI-vziQJE/s1600-h/Picture+044s.jpg"&gt;&lt;img id="BLOGGER_PHOTO_ID_5295154902833090994" style="MARGIN: 0px 10px 10px 0px" alt="" src="http://3.bp.blogspot.com/_6gXDFDHmxzU/SXwrVEYI0bI/AAAAAAAAAM8/93DI-vziQJE/s320/Picture+044s.jpg" border="0" /&gt;&lt;/a&gt;&lt;br /&gt;Bagaimana model jubah Asisten Imam yang benar? Atau tepatnya, seperti apa busana yang harusnya dikenakan Asisten Imam atau Pro Diakon yang nama resminya adalah Pelayan Komuni Tak Lazim? Bagaimana aturan gereja Katolik mengenai hal ini? Di beberapa gereja yang sempat saya kunjungi ada praktik-praktik yang sudah baik dan benar, tapi ada pula yang menyalahi aturan liturgi atau menyimpang dari tradisi gereja Katolik. &lt;/p&gt;&lt;p align="left"&gt;Pedoman Umum Misale Romawi menyebut bahwa "Busana liturgis yang lazim digunakan oleh semua pelayan liturgi, tertahbis maupun tidak tertahbis, ialah alba, yang dikencangi dengan singel, kecuali kalau bentuk alba itu memang tidak menuntut singel. Kalau alba tidak menutup sama sekali kerah pakaian sehari-hari, maka dikenakan amik sebelum alba. ..." (PUMR 336) Lebih lanjut ditulis "Akolit, lektor dan pelayan awam lain boleh mengenakan alba atau busana lain yang disahkan oleh Konferensi Uskup untuk wilayah gereja yang bersangkutan." (PUMR 339)&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;img style="float:right; margin:0 0 10px 10px;cursor:pointer; cursor:hand;width: 214px; height: 320px;" src="http://1.bp.blogspot.com/_6gXDFDHmxzU/SbKV__t9QtI/AAAAAAAAANk/8gI7SAz-WUU/s320/Picture+021s.jpg" border="0" alt="" id="BLOGGER_PHOTO_ID_5310471837291725522" /&gt;Di atas adalah pasal-pasal yang membolehkan Pelayan Komuni Tak Lazim pakai alba. Saya perlu garis bawahi di sini, membolehkan, bukan mengharuskan. Lho, jadi Asisten Imam tidak harus pakai alba? Jawabnya tidak, bahkan tidak harus pakai busana liturgis apapun. Busana awam sehari-hari pun juga boleh. Memang, di Vatikan nggak ada Pelayan Komuni Tak Lazim (karena jumlah imam yang bisa bantu bagi komuni sudah lebih dari cukup); dalam kasus ini Vatikan nggak bisa kita jadikan acuan. Yang jelas, di Vatikan Lektor nggak pakai busana liturgis apapun. Lektor yang adalah awam, ya berbusana awam, sopan dan rapi. Di Amerika Serikat, Pelayan Komuni Tak Lazim dan Lektor pun berbusana awam biasa. Kesimpulannya, sekali lagi tidak harus pakai busana liturgis apapun, tapi seandainya toh mau pakai, bisa pakai alba.&lt;/p&gt;&lt;p align="left"&gt;Di foto paling atas, para pelayan komuni tak lazim di Katedral Hati Kudus Yesus Surabaya memakai alba model Roma, dengan ploi/lipit (lipatan), dan dikencangkan dengan singel. Mungkin lebih jelas lagi di foto yang hanya seorang AI ini. Longgar sekali memang alba ini, di bagian bawah kelilingnya 3 meter. Itu yang bikin indah. Oh ya, alba ini nggak semahal yang dibayangkan orang. Berikut singelnya harganya nggak lebih dari Rp 180.000. Silakan klik di foto untuk memperbesar.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Masih ada lagi yang bisa disimpulkan dari aturan di atas. Yang pertama, amik, alba dan singel bukanlah monopoli imam. Amik, alba dan singel adalah busana semua pelayan liturgi, tertahbis (uskup, imam dan diakon) maupun tidak (awam). Yang kedua, sekiranya dipandang perlu untuk menggunakan busana lain (selain alba), adalah konferensi uskup yang berhak memutuskannya (bukan seorang uskup, sekalipun untuk wilayahnya sendiri). Yang ketiga, yang benar adalah alba, bukan jubah.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Apa sebenarnya beda alba dengan jubah? Kita semua pernah melihat imam atau uskup pakai jubah. Biasanya jubah dibuat dari bahan yang relatif lebih tebal jika dibandingkan dengan alba. Harusnya jubah klerus dibuat dari wol atau bahan yang setara mutunya (Ut Sive Sollicite 1969). Pada bagian badan atas sampai dengan pinggang, jubah tidak longgar, pas di badan. Alba biasanya dibuat dari bahan yang relatif lebih tipis dari jubah dan berukuran besar (longgar) dari atas sampai ke bawah, makanya perlu diikat dengan singel. Alba selalu berwarna putih, jubah tidak. Bahkan, menurut tradisi katolik jubah warna putih sebenarnya merupakan privilese paus. Kalau mau tahu lebih detil boleh baca artikel saya tentang &lt;a href="http://tradisikatolik.blogspot.com/2008/12/busana-imam.html"&gt;Busana Imam&lt;/a&gt; ini.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;/p&gt;&lt;img style="float:left; margin:0 10px 10px 0;cursor:pointer; cursor:hand;width: 200px; height: 134px;" src="http://4.bp.blogspot.com/_6gXDFDHmxzU/SbKXX5fYV8I/AAAAAAAAANs/utmMQtC5SJg/s200/Picture+002s.jpg" border="0" alt="" id="BLOGGER_PHOTO_ID_5310473347448461250" /&gt;&lt;p align="left"&gt;Yang terakhir yang mau saya sampaikan, kalau mau pakai busana liturgis ya pakailah alba dan singel (plus amik, kalau perlu). Itu aja. Jangan ditambah apa-apa lagi, kawatirnya malah jadi salah. Coba lihat Busana AI di foto sebelah ini. Yang pertama, ini adalah jubah, bukan alba, jadi kurang tepat. Lalu, ada tambahan asesoris salib dada. Ini juga kurang tepat dan bahkan menyalahi aturan busana gereja Katolik, karena salib dada (cruce pectoralis), model apapun, merupakan privilese uskup. Kalau mau tahu lebih detil juga, boleh baca artikel saya yang lain tentang &lt;a href="http://tradisikatolik.blogspot.com/2008/09/busana-uskup.html"&gt;Busana Uskup&lt;/a&gt;.&lt;/p&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/2222578442435492672-393849503214795534?l=tradisikatolik.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://tradisikatolik.blogspot.com/feeds/393849503214795534/comments/default' title='Post Comments'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://tradisikatolik.blogspot.com/2009/01/busana-asisten-imam.html#comment-form' title='0 Comments'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/2222578442435492672/posts/default/393849503214795534'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/2222578442435492672/posts/default/393849503214795534'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://tradisikatolik.blogspot.com/2009/01/busana-asisten-imam.html' title='Busana Asisten Imam'/><author><name>Albert Wibisono</name><uri>http://www.blogger.com/profile/06599163203686361131</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='16' height='16' src='http://img2.blogblog.com/img/b16-rounded.gif'/></author><media:thumbnail xmlns:media='http://search.yahoo.com/mrss/' url='http://3.bp.blogspot.com/_6gXDFDHmxzU/SXwrVEYI0bI/AAAAAAAAAM8/93DI-vziQJE/s72-c/Picture+044s.jpg' height='72' width='72'/><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-2222578442435492672.post-6187065666911875341</id><published>2009-02-01T16:40:00.019+07:00</published><updated>2009-03-07T23:36:18.830+07:00</updated><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='Ibadat Harian'/><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='Piranti Liturgi'/><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='Busana'/><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='Imam'/><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='Uskup'/><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='Magister Caeremoniarum (MC)'/><title type='text'>Apa Itu Tenebrae?</title><content type='html'>&lt;p align="left"&gt;&lt;a href="http://3.bp.blogspot.com/_6gXDFDHmxzU/SYcWY-N2QaI/AAAAAAAAANM/h0fq6iY3tBc/s1600-h/Tenebrae.jpg"&gt;&lt;img id="BLOGGER_PHOTO_ID_5298228104898429346" style="MARGIN: 0px 10px 10px 0px" alt="" src="http://3.bp.blogspot.com/_6gXDFDHmxzU/SYcWY-N2QaI/AAAAAAAAANM/h0fq6iY3tBc/s320/Tenebrae.jpg" border="0" /&gt;&lt;/a&gt;&lt;br /&gt;Adakah di antara Anda yang pernah mendengar kata Tenebrae? Di sebuah gereja di Surabaya, menurut sumber saya, sudah tiga tahun ibadat ini diadakan, dari 2005-2008. Dari internet, saya juga temukan &lt;a href="http://groups.yahoo.com/group/rohani/message/404"&gt;Teks Tenebrae di Seminari Santo Paulus&lt;/a&gt;, yang diadakan pada hari Jumat Suci 2003. Apa sebenarnya Tenebrae ini? Siapa yang perlu melaksanakan ibadat ini dan bagaimana bentuknya yang benar? Tulisan ini saya sajikan untuk memberi gambaran awal tentang ibadat kuno yang cukup populer ini.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Tenebrae adalah kata dalam bahasa Latin yang artinya kegelapan. Dalam tradisi Katolik, Tenebrae adalah nama yang diberikan untuk gabungan dari Ibadat Bacaan (Officium Lectionis) dan Ibadat Pagi (Laudes) yang dilaksanakan pada Trihari Suci Paskah. Disebut gabungan, karena memang penyelenggaraan kedua ibadat ini digabungkan; Ibadat Pagi dilaksanakan segera setelah Ibadat Bacaan selesai.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Buat yang belum pernah dengar tentang Ibadat Bacaan dan Ibadat Pagi, keduanya adalah bagian dari Ibadat Harian, atau gampangnya sholatnya orang Katolik. Memang, orang Katolik pun harusnya sembahyang beberapa kali sehari; bukan cuman 5 waktu tapi malahan 7 waktu. Apa saja ketujuh waktu itu? Ada Ibadat Pagi (Laudes) yang dilaksanakan saat matahari terbit dan Ibadat Sore (Vesper) yang dilaksanakan saat matahari terbenam. Di antara keduanya, ada Tertia, Sexta dan Nona, yang sesuai namanya diselenggarakan pada jam ketiga, keenam dan kesembilan, dihitung dari sejak matahari terbit. Untuk mudahnya, kalau kita anggap matahari terbit pukul 6:00 pagi, maka Tertia diadakan pada pukul 9:00, Sexta 12:00 dan Nona 15:00. Nah, sampai di sini sudah ada lima ibadat. Berikut, ada yang namanya Ibadat Bacaan, yang sekarang bisa dilakukan kapan saja, meski dulunya ibadat ini dilakukan di tengah malam. Yang terakhir adalah Ibadat Penutup (Completorium) yang dilakukan sebelum tidur, pukul berapapun tidurnya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Mari kita kembali ke Tenebrae. Dari penjelasan di atas, kita tahu bahwa Tenebrae adalah bagian dari Ibadat Harian. Dengan begitu, Tenebrae adalah liturgi, bukan devosi. Sebagai bagian dari Ibadat Harian dalam Trihari Suci Paskah, Tenebrae tentu tidak boleh menggantikan perayaan liturgi yang biasa kita hadiri pada Trihari Suci Paskah: Kamis Putih, Jumat Agung dan Sabtu Suci. Tata perayaan liturgi Trihari Suci Paskah itu sendiri, yang berawal dari tradisi kuno gereja, harus dilaksanakan dengan taat dan religius dan tidak boleh diubah oleh siapapun atas insiatif sendiri, demikian yang tertulis di &lt;a href="http://www.ewtn.com/library/CURIA/CDWEASTF.HTM"&gt;Sirkuler Kongregasi Ibadat Ilahi tentang Persiapan dan Perayaan Pesta Paskah (Feb 1988)&lt;/a&gt;. Sirkuler ini juga yang meminta agar Ibadat Bacaan dan Ibadat Pagi pada hari Jumat Agung dan Sabtu Suci (=Tenebrae) dilaksanakan dengan kehadiran umat, bukan cuma oleh para klerus. Untuk kepentingan itu, maka waktunya pun perlu disesuaikan. Tentu susah mengharapkan kehadiran umat manakala Tenebrae ini dimulai pada pukul 3:00 pagi seperti pada jaman dahulu kala di biara-biara. Lalu, kapan waktu yang tepat? Boleh saja dibikin di pagi hari Jumat Agung dan Sabtu Suci. Bagaimana kalau ada devosi jalan salib di pagi hari Jumat Agung? Pakar liturgi C.H. Suryanugraha OSC mengatakan bahwa kebiasaan jalan salib di pagi hari ini sebenarnya kurang tepat. Ia mengingatkan bahwa Paus sendiri melaksanakan jalan salib di malam hari Jumat Agung. Pakar liturgi yang lain, P. Boli Ujan SVD meyakinkan bahwa sesuai Pedoman Ibadat Harian (PIH), Ibadat Bacaan dapat didaraskan pada setiap waktu sepanjang hari (PIH 59). Lebih lanjut mengenai Ibadat Harian dalam Trihari Suci Paskah dapat dibaca di PIH 208-213.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;a href="http://2.bp.blogspot.com/_6gXDFDHmxzU/SYcWtwT1DnI/AAAAAAAAANU/jmZOsSaFTJI/s1600-h/Tenebrae+Hearse.jpg"&gt;&lt;img id="BLOGGER_PHOTO_ID_5298228461942673010" style="FLOAT: right; MARGIN: 0px 0px 10px 10px; WIDTH: 128px; CURSOR: hand; HEIGHT: 200px" alt="" src="http://2.bp.blogspot.com/_6gXDFDHmxzU/SYcWtwT1DnI/AAAAAAAAANU/jmZOsSaFTJI/s200/Tenebrae+Hearse.jpg" border="0" /&gt;&lt;/a&gt;Berikutnya, mari kita bahas tata upacara Tenebrae. Ibadat ini, seperti juga Ibadat Harian lainnya, aslinya adalah nyanyian Gregorian, dalam bahasa Latin. Lagunya sangat indah dan suasananya ibadatnya sangat dramatis, dengan nuansa berkabung dan kesedihan yang mendalam. Ibadat ini dulunya dilaksanakan di biara-biara mulai pukul 3:00 pagi, diterangi cahaya 15 lilin di kandelar khusus seperti yang terlihat di foto sebelah, plus 6 lilin di altar. Lilin-lilin ini nantinya satu persatu dipadamkan hingga tercapai kegelapan yang sempurna. Itu sebabnya ibadat ini dinamakan Tenebrae, yang artinya kegelapan. Sekarang ini, Tenebrae memang tidak lagi dimulai pukul 3:00 pagi, namun 15 lilin (atau kadang dimodifikasi menjadi hanya 7 lilin) dengan kandelar khusus itu toh tetap digunakan. Dalam praktiknya, bahkan ada pemikiran bahwa upacara yang dibikin dengan lilin-lilin yang dipadamkan satu persatu lalu boleh disebut Tenebrae. Sebaiknya kita berhati-hati dengan Tenebrae yang digagas saudara-saudara kita Kristen non-Katolik. Umat Katolik sebaiknya berhati-hati menggunakan tata upacara atau partitur Tenebrae yang ada di internet atau yang dibeli dari luar negeri. Kurang pas rasanya kalau kita menggunakan liturgi Protestan di dalam gereja Katolik. Dalam tradisi Katolik, Tenebrae dilaksanakan dalam suasana berkabung yang amat mendalam. Organ tidak pernah dipakai dalam Tenebrae, juga tidak dimainkan sebelum dan sesudah ibadat ini (&lt;a href="http://www.amazon.com/Ceremonies-Liturgical-Year-Involved-Ministries/dp/089870829X"&gt;Ceremonies of the Liturgical Year 409, Elliott, 2002&lt;/a&gt;).&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Tenebrae menurut tradisi Katolik sebelum Konsili Vatikan II memiliki unsur-unsur berikut. Yang pertama adalah Ibadat Bacaan. Ibadat Bacaannya terdiri dari 3 Nocturna, yang masing-masing terdiri dari 3 Mazmur dan 3 Bacaan plus Tanggapannya. Kalau ditotal, semuanya ada 9 Mazmur. Nah, berikutnya adalah Ibadat Pagi. Ibadat Paginya terdiri dari 5 Mazmur dan Kidung plus satu lagi Kidung Zakaria (Benedictus) sebagai puncaknya. Nah, lilin yang 15 buah tadi nantinya dimatikan satu persatu setiap kali selesai mendaraskan mazmur atau kidung yang jumlahnya 14 (tidak termasuk Kidung Zakaria). Berikutnya, satu persatu lilin di altar yang jumlahnya 6 buah juga dimatikan setiap kali selesai mendaraskan 6 ayat-ayat terakhir Kidung Zakaria. Sampai di sini tinggallah satu lilin di puncak kandelar khusus yang berisi 15 lilin tersebut. Satu lilin itu pun lalu diambil dan disembunyikan di bawah altar sehingga terjadi kegelapan yang sempurna. Pada saat yang sama, semua yang hadir menimbulkan kegaduhan, biasanya dengan memukul-mukulkan Buku Ibadat Harian (Brevir) ke bangku. Ini untuk mensimulasikan gempa yang terjadi saat Yesus wafat. Setelah itu, lilin yang disembunyikan di bawah altar dikeluarkan lagi dan ibadat berakhir dengan khidmat.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Supaya lebih jelas, berikut saya berikan contoh rumusan Tenebrae untuk Jumat Agung. Ini saya ambil dari &lt;a href="http://www.baroniuspress.com/book.php?wid=56&amp;amp;bid=4"&gt;Missale Romanum 1962 terbitan Baronius&lt;/a&gt;. Rumusan ini ada juga di &lt;a href="http://en.wikipedia.org/wiki/Liber_usualis"&gt;Liber Usualis&lt;/a&gt;. Pertama, kita mulai dengan Ibadat Bacaan. Nocturna Pertama: Mazmur 2, 21 dan 26 plus 3 bacaan yang diambil dari Kitab Ratapan (Nabi Yeremia) 2. Nocturna Kedua: Mazmur 37, 39 dan 53 plus 3 bacaan yang diambil dari tulisan Santo Agustinus. Nocturna Ketiga: Mazmur 58, 87 dan 93 plus 3 bacaan yang diambil dari Surat Rasul Paulus kepada Orang Ibrani 4. Setelah selesai Ibadat Bacaan dengan tiga nocturna itu, kemudian dilanjutkan dengan Ibadat Pagi. Mazmur 50, 142, 84, Kidung Habakuk III, Mazmur 147 dan akhirnya Kidung Zakaria. Itu semua kalau didaraskan akan makan waktu setidaknya 2.5 jam.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Nah, di atas adalah format Tenebrae hasil reformasi terakhir sebelum Konsili Vatikan II. Setelah Konsili Vatikan II, formatnya jauh lebih sederhana, tapi tentu tetap adalah format Ibadat Bacaan dan Ibadat Pagi yang digabungkan. Kalau mau detailnya, untuk yang Jumat Agung bisa dibaca sendiri di Buku Ibadat Harian (Brevir), mulai halaman 168. Kalau juga pengin tahu aslinya dalam bahasa Latin, boleh coba klik di link &lt;a href="http://www.almudi.org/Portals/0/docs/Breviario/fuentes/quadpasch/breviarionlineff.asp?formato=2&amp;amp;archivo=zcuaresma-pascua2-c-v-6.htm#_hlk90036664"&gt;Liturgia Horarum Online&lt;/a&gt; ini.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Rumit dan panjang yah? Memang, itu sebabnya ibadat ini biasanya dipandu oleh seorang &lt;a href="http://tradisikatolik.blogspot.com/2008/03/magister-caeremoniarum.html"&gt;Magister Caeremoniarum&lt;/a&gt;. Oh ya, uskup atau imam yang hadir dalam ibadat ini tidak memakai kasula atau pluviale. Mereka hanya memakai habitus choralis atau gampangnya busana panti imam. Untuk uskup, ini berarti jubah dan selendang sutera ungu dengan rochet putih dan mozetta ungu serta salib pektoral yang digantung dengan tali anyaman hijau emas, plus pileola (solideo) dan biretta ungu. Untuk imam, ini berarti jubah mereka (yang menurut tradisi Katolik berwarna hitam) plus superpli putih. Kalau jubah imam berwarna putih dan tidak terlihat indah dikombinasikan dengan superpli yang juga berwarna putih, boleh saja imam memakai alba putih dan singel. Stola tidak dikenakan baik oleh uskup maupun imam.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Rasanya saya harus berhenti sebelum tulisan ini jadi terlalu panjang. Akhirnya, kalau ada yang tertarik untuk bikin atau mempelajari ibadat Tenebrae ini, boleh saja hubungi saya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Artikel lain yang relevan:&lt;br /&gt;- &lt;a href="http://tradisikatolik.blogspot.com/2008/03/magister-caeremoniarum.html"&gt;Magister Caeremoniarum&lt;/a&gt;&lt;br /&gt;- &lt;a href="http://tradisikatolik.blogspot.com/2008/09/busana-uskup.html"&gt;Busana Uskup&lt;/a&gt;&lt;br /&gt;- &lt;a href="http://tradisikatolik.blogspot.com/2008/12/busana-imam.html"&gt;Busana Imam&lt;/a&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Link: &lt;a href="http://www.newadvent.org/cathen/14506a.htm"&gt;Tenebrae (New Advent Catholic Encyclopedia)&lt;/a&gt;&lt;br /&gt;Link: &lt;a href="http://en.wikipedia.org/wiki/Tenebrae"&gt;Tenebrae (Wikipedia)&lt;/a&gt;&lt;br /&gt;Link: &lt;a href="http://www.sistersofcarmel.com/tenebrae.php"&gt;Tenebrae (Sisters of Carmel)&lt;/a&gt;&lt;br /&gt;Link: &lt;a href="http://www.wdtprs.com/images/06_04_14_Friday_ten_1st_lam.mp3"&gt;Tenebrae Contoh Gregorian - Kitab Ratapan Nabi Yeremia (MP3 - 7.7MB - WDTPRS)&lt;/a&gt;&lt;/p&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/2222578442435492672-6187065666911875341?l=tradisikatolik.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://tradisikatolik.blogspot.com/feeds/6187065666911875341/comments/default' title='Post Comments'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://tradisikatolik.blogspot.com/2009/02/apa-itu-tenebrae.html#comment-form' title='3 Comments'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/2222578442435492672/posts/default/6187065666911875341'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/2222578442435492672/posts/default/6187065666911875341'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://tradisikatolik.blogspot.com/2009/02/apa-itu-tenebrae.html' title='Apa Itu Tenebrae?'/><author><name>Albert Wibisono</name><uri>http://www.blogger.com/profile/06599163203686361131</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='16' height='16' src='http://img2.blogblog.com/img/b16-rounded.gif'/></author><media:thumbnail xmlns:media='http://search.yahoo.com/mrss/' url='http://3.bp.blogspot.com/_6gXDFDHmxzU/SYcWY-N2QaI/AAAAAAAAANM/h0fq6iY3tBc/s72-c/Tenebrae.jpg' height='72' width='72'/><thr:total>3</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-2222578442435492672.post-3844172566803105493</id><published>2009-01-24T15:34:00.017+07:00</published><updated>2009-03-07T23:27:32.611+07:00</updated><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='Paus'/><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='Busana'/><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='Kardinal'/><title type='text'>Paus Pakai Topi Santa Claus?</title><content type='html'>&lt;p align="left"&gt;&lt;a href="http://4.bp.blogspot.com/_6gXDFDHmxzU/SXrbVjn5d_I/AAAAAAAAAMM/9niXrlUeqbw/s1600-h/Camauro+Benedict+XVI+Getty+4.jpg"&gt;&lt;img id="BLOGGER_PHOTO_ID_5294785475313760242" style="FLOAT: left; MARGIN: 0px 10px 10px 0px; WIDTH: 212px; CURSOR: hand; HEIGHT: 320px" alt="" src="http://4.bp.blogspot.com/_6gXDFDHmxzU/SXrbVjn5d_I/AAAAAAAAAMM/9niXrlUeqbw/s320/Camauro+Benedict+XVI+Getty+4.jpg" border="0" /&gt;&lt;/a&gt;Sudah lama saya pengin nulis tentang topi santa claus ini. Lumayan lah buat selingan, daripada serius terus, he3. Natal yang lalu akhirnya nggak sempat, baru sekarang ini kesampaian. Sudah basi memang, maaf, daripada nggak juga keturutan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Foto di sebelah ini diambil Franco Origlia, 28 Desember 2005. Itu adalah hari Rabu, hari audiensi umum Paus. Masih kental suasana natal di Lapangan Santo Petrus Vatikan. Untuk pertama kalinya Paus Benediktus XVI pakai topi model itu di muka umum. Banyak yang mengira Paus mau becanda, pakai topi santa klaus pas natalan. Jawabnya enggak, he3. Bapa Suci memang lagi melestarikan tradisi. Topi itu namanya camauro dan memang khusus hanya untuk Paus. Sudah lama sekali publik enggak melihat topi itu dipakai. Paus yang terakhir memakainya adalah Yohanes XXIII. Paus Paulus VI dan Yohanes Paulus I dan II tidak pernah terlihat memakainya. Ada unsur selera sih.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;a href="http://4.bp.blogspot.com/_6gXDFDHmxzU/SXrefQXWqII/AAAAAAAAAMU/CH9eKlHdldo/s1600-h/Camauro+Leo+X+WGA.jpg"&gt;&lt;img id="BLOGGER_PHOTO_ID_5294788940477671554" style="FLOAT: right; MARGIN: 0px 0px 10px 10px; WIDTH: 156px; CURSOR: hand; HEIGHT: 200px" alt="" src="http://4.bp.blogspot.com/_6gXDFDHmxzU/SXrefQXWqII/AAAAAAAAAMU/CH9eKlHdldo/s200/Camauro+Leo+X+WGA.jpg" border="0" /&gt;&lt;/a&gt;Camauro biasanya terbuat dari beludru warna merah tua dengan pinggiran dari bulu ermine, sejenis berang-berang berwarna putih. Umumnya camauro dipakai bersamaan dengan mozetta (mantol kecil penutup pundak dan tubuh bagian atas) dari bahan dan warna yang sama plus pinggiran yang sama pula. Matching gitu lah. Coba lihat lukisan foto Paus Leo X (1513-1521) di samping kanan ini. Di sebelah kiri dan kanan adalah Kardinal Giulio de' Medici yang kemudian menjadi Paus Klemens VII (1523-1534) dan Kardinal Luigi de' Rossi.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;a href="http://3.bp.blogspot.com/_6gXDFDHmxzU/SXrk2oio02I/AAAAAAAAAMc/iYSjoZPmIAc/s1600-h/Camauro+Julius+II+WGA.jpg"&gt;&lt;img id="BLOGGER_PHOTO_ID_5294795939174208354" style="FLOAT: left; MARGIN: 0px 10px 10px 0px; WIDTH: 148px; CURSOR: hand; HEIGHT: 200px" alt="" src="http://3.bp.blogspot.com/_6gXDFDHmxzU/SXrk2oio02I/AAAAAAAAAMc/iYSjoZPmIAc/s200/Camauro+Julius+II+WGA.jpg" border="0" /&gt;&lt;/a&gt;Lihat juga lukisan foto Paus Yulius II (1503-1513) di sebelah kiri ini. Yulius II adalah Paus yang memulai perencanaan dan pembangunan Basilika Santo Petrus modern yang hari ini kita lihat. Di kedua lukisan foto karya pelukis besar Raphael ini, kedua Paus terlihat memakai camauro dan mozetta dari beludru merah dengan pinggiran dari bulu ermine warna putih. Nah, itu adalah norma yang biasa. Meski begitu, ada juga yang agak lain. Paus Benediktus XVI di foto atas pakai camauro-nya tanpa mozetta merah tua. Seperti terlihat, Paus pakai (dari dalam) simar atau jubahnya yang warna putih, greca atau jaket putih panjang double breasted (dengan kancing dobel) dan yang paling luar dengan warna merah menyala adalah mantol kebesarannya yang disebut tabaro. Paus Benediktus XVI bukan yang pertama pakai kombinasi ini. Sebelumnya Paus Yohanes XXIII juga sering terlihat pakai kombinasi camauro dan tabaro.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Kalau pengin lihat lebih banyak lagi foto camauro, silakan kunjungi situs web Dappled Photo yang punya &lt;a href="http://dappledphotos.blogspot.com/2005/12/camauro.html"&gt;Halaman Khusus tentang Camauro&lt;/a&gt;.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Nah, yang di bawah ini khusus buat yang kepingin lihat Paus becanda, pakai macam-macam topi, he3. Yang ini asli bukan tradisi katolik :)&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;a href="http://3.bp.blogspot.com/_6gXDFDHmxzU/SXrrlAB6JfI/AAAAAAAAAMk/y2fNELdeAWM/s1600-h/Camauro+Benedict+XVI+Fun+3.bmp"&gt;&lt;img id="BLOGGER_PHOTO_ID_5294803332823131634" style="FLOAT: left; MARGIN: 0px 10px 10px 0px; WIDTH: 142px; CURSOR: hand; HEIGHT: 200px" alt="" src="http://3.bp.blogspot.com/_6gXDFDHmxzU/SXrrlAB6JfI/AAAAAAAAAMk/y2fNELdeAWM/s200/Camauro+Benedict+XVI+Fun+3.bmp" border="0" /&gt;&lt;/a&gt;&lt;a href="http://2.bp.blogspot.com/_6gXDFDHmxzU/SXrr2yAquuI/AAAAAAAAAM0/WhaERd3_t9Q/s1600-h/Camauro+Benedict+XVI+Fun+1.bmp"&gt;&lt;img id="BLOGGER_PHOTO_ID_5294803638297475810" style="FLOAT: left; MARGIN: 0px 10px 10px 0px; WIDTH: 158px; CURSOR: hand; HEIGHT: 200px" alt="" src="http://2.bp.blogspot.com/_6gXDFDHmxzU/SXrr2yAquuI/AAAAAAAAAM0/WhaERd3_t9Q/s200/Camauro+Benedict+XVI+Fun+1.bmp" border="0" /&gt;&lt;/a&gt;&lt;a href="http://1.bp.blogspot.com/_6gXDFDHmxzU/SXrrtt0OF0I/AAAAAAAAAMs/40V1qDDjZBA/s1600-h/Camauro+Benedict+XVI+Fun+2.bmp"&gt;&lt;img id="BLOGGER_PHOTO_ID_5294803482552702786" style="FLOAT: left; MARGIN: 0px 10px 10px 0px; WIDTH: 138px; CURSOR: hand; HEIGHT: 200px" alt="" src="http://1.bp.blogspot.com/_6gXDFDHmxzU/SXrrtt0OF0I/AAAAAAAAAMs/40V1qDDjZBA/s200/Camauro+Benedict+XVI+Fun+2.bmp" border="0" /&gt;&lt;/a&gt;&lt;/p&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/2222578442435492672-3844172566803105493?l=tradisikatolik.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://tradisikatolik.blogspot.com/feeds/3844172566803105493/comments/default' title='Post Comments'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://tradisikatolik.blogspot.com/2009/01/paus-pakai-topi-santa-claus.html#comment-form' title='2 Comments'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/2222578442435492672/posts/default/3844172566803105493'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/2222578442435492672/posts/default/3844172566803105493'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://tradisikatolik.blogspot.com/2009/01/paus-pakai-topi-santa-claus.html' title='Paus Pakai Topi Santa Claus?'/><author><name>Albert Wibisono</name><uri>http://www.blogger.com/profile/06599163203686361131</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='16' height='16' src='http://img2.blogblog.com/img/b16-rounded.gif'/></author><media:thumbnail xmlns:media='http://search.yahoo.com/mrss/' url='http://4.bp.blogspot.com/_6gXDFDHmxzU/SXrbVjn5d_I/AAAAAAAAAMM/9niXrlUeqbw/s72-c/Camauro+Benedict+XVI+Getty+4.jpg' height='72' width='72'/><thr:total>2</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-2222578442435492672.post-9135230408614540601</id><published>2008-12-29T14:15:00.018+07:00</published><updated>2009-03-08T00:10:14.052+07:00</updated><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='Piranti Liturgi'/><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='Misa'/><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='Koor'/><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='Magister Caeremoniarum (MC)'/><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='Gregorian'/><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='Schola Cantorum Surabaiensis'/><title type='text'>Gregorian di Yakobus dan Sakramen Mahakudus</title><content type='html'>&lt;p align="left"&gt;&lt;a href="http://1.bp.blogspot.com/_6gXDFDHmxzU/SV8C7W0OTMI/AAAAAAAAAL0/Nuh5_UQG6mI/s1600-h/Misa+SMK+2.JPG"&gt;&lt;img id="BLOGGER_PHOTO_ID_5286947706316410050" style="MARGIN: 0px 10px 10px 0px" alt="" src="http://1.bp.blogspot.com/_6gXDFDHmxzU/SV8C7W0OTMI/AAAAAAAAAL0/Nuh5_UQG6mI/s320/Misa+SMK+2.JPG" border="0" /&gt;&lt;/a&gt;&lt;br /&gt;Musik Gregorian yang khidmat bergema di gereja-gereja Santo Yakobus di CitraRaya dan Sakramen Mahakudus (SMK) di Pagesangan, Surabaya. Ini adalah kali pertama kelompok studi dan paduan suara &lt;a href="http://tradisikatolik.blogspot.com/2008/06/schola-cantorum-surabaiensis.html"&gt;Schola Cantorum Surabaiensis (SCS)&lt;/a&gt; di bawah pimpinan Anton Tjahjoanggoro (foto atas) ini melayani misa agung di kedua gereja itu. Santo Yakobus mengundang SCS pada Hari Raya Tuhan Kita Yesus Kristus Raja Semesta Alam 23 Nov 2008 dan Sakramen Mahakudus pada Hari Minggu Adven IV 21 Des 2008.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Lagu-lagu untuk kedua misa ini diambil dari Graduale Romanum dan Graduale Simplex. Keduanya merupakan buku lagu Gregorian resmi yang digunakan Vatikan. Beberapa lagu yang umum, yaitu ordinarium termasuk Credo, PaterNoster/Bapa Kami dan aklamasi Sanctus serta lagu komuni Ubi Caritas sudah ada dalam Puji Syukur. Dalam teks misa untuk umat, lagu-lagu yang tidak ada dalam Puji Syukur disajikan dengan terjemahan Bahasa Indonesia di sampingnya, sehingga umat memahami artinya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Seperti dituliskan dalam teks misa, partisipasi aktif yang diamanatkan oleh Konsili Vatikan II tidaklah berarti bah­wa umat harus ikut serta mengucapkan semua doa dalam misa ini dan/atau menyanyikan semua lagu dalam misa ini. Ada doa-doa yang diucapkan hanya oleh imam dan ada aklamasi-ak­lamasi yang merupakan bagian umat, termasuk aklamasi “Amin”. Ada saatnya lektor membacakan kitab suci dan umat mende­ngarkan (bukannya ikut membaca teks). Hal nyanyian, ada bagian-bagian yang dinyanyikan oleh koor dan ada pula bagian yang dinyanyikan umat. Konstitusi Liturgi Sacrosanctum Concilium mengharapkan umat bisa ikut menyanyikan ordinarium termasuk Credo, Pater Noster dan semua aklamasi, termasuk Sanctus. Di luar itu, lagu pembuka, persembahan dan komuni bisa dinyanyikan oleh koor saja. Akhirnya, diam dan khusyuk mendengarkan dan meng­hayati doa, bacaan kitab suci serta nyanyian yang dibawakan koor pun merupakan bentuk partisipasi aktif dalam misa.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Kekhidmatan misa agung ini bertambah dengan berbagai pengaturan dan penyempurnaan liturgi di bawah panduan &lt;a href="http://tradisikatolik.blogspot.com/2008/03/magister-caeremoniarum.html"&gt;Magister Caeremoniarum&lt;/a&gt; (MC) Albert Wibisono. MC dalam gereja Katolik memang menjalankan fungsi yang mirip dengan Event Organizer (EO) atau protokol dalam kehidupan sehari-hari. MC dalam gereja Katolik dituntut menguasai berbagai aturan liturgi yang rumit dan sekaligus memiliki pemahaman pastoral yang cukup. Dalam kedua misa ini, cukup banyak perubahan yang diusulkan MC dan dilaksanakan atas persetujuan pastor paroki. Mulai dari penggunaan busana misdinar, lektor dan pelayan komuni tak lazim, sampai ke peletakan kursi presiden yang lebih yang lebih sesuai dengan aturan liturgi. Bahkan cara membawa dan menggunakan wiruk serta cara berjalan dalam prosesi pun dilatih dengan seksama oleh MC. Ini semua demi tercapainya suatu upacara liturgi yang benar, indah dan bermakna.&lt;br /&gt;&lt;/p&gt;&lt;p&gt;&lt;a href="http://1.bp.blogspot.com/_6gXDFDHmxzU/SV8C7vBxVOI/AAAAAAAAAL8/VW_FXuXVYxM/s1600-h/Misa+SMK+1.JPG"&gt;&lt;img id="BLOGGER_PHOTO_ID_5286947712815682786" style="FLOAT: left; MARGIN: 0px 10px 10px 0px; WIDTH: 240px; CURSOR: hand; HEIGHT: 320px" alt="" src="http://1.bp.blogspot.com/_6gXDFDHmxzU/SV8C7vBxVOI/AAAAAAAAAL8/VW_FXuXVYxM/s320/Misa+SMK+1.JPG" border="0" /&gt;&lt;/a&gt;Di Gereja Santo Yakobus, Pastor Kepala Paroki A.P Dwi Joko yang memimpin misa bersama konselebran Romo Eka Winarno menjelaskan bahwa misa agung ini diselenggarakan untuk memperkenalkan kepada umat kekayaan tradisi gereja Katolik. Di Gereja SMK, misa dipimpin oleh Romo A. Aratia Wardhana (Romo Ari-foto kiri). Pastor Kepala Paroki J.A. Sri Nugroho (Romo Nano) sendiri saat itu harus menjalankan tugas sebagai Vikep Surabaya Barat, melantik pengurus DPP Santa Maria Gresik. Meski begitu, Romo Nano sendiri lah yang memimpin rapat persiapan misa di SMK yang dihadiri oleh Romo Ari, MC Albert Wibisono dan seluruh perangkat seksi liturginya. Peran seksi liturgi paroki memang sangat vital. Di bawah pimpinan Pracoyo Sakti (Yoyok) di Yakobus dan Marbun Banjarnahor di SMK, seksi liturgi paroki sangat antusias mendukung terlaksananya misa agung ini dengan baik.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Bagaimana komentar umat? Beberapa umat Santo Yakobus menyatakan bahwa suasananya serasa di Roma, sangat khidmat, menyentuh hati dan ada pula yang berharap misa semacam diadakan secara rutin. Di Gereja SMK, F.A. Handoko Sasmito yang duduk di bangku nomor tiga dari depan terlihat sangat menghayati keikutsertaannya dalam perayaan ekaristi agung ini. Bersama putrinya, ia menyempatkan mampir ke sakristi usai misa dan menyampaikan penghargaannya kepada Romo Ari dan para pelayan misa, termasuk anggota koor.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Artikel lain yang relevan:&lt;br /&gt;- &lt;a href="http://tradisikatolik.blogspot.com/2008/06/lagu-gregorian-kuno-bukan-jamannya.html"&gt;Lagu Gregorian? Kuno? Bukan Jamannya?&lt;/a&gt;&lt;br /&gt;- &lt;a href="http://tradisikatolik.blogspot.com/2008/10/download-lagu-gregorian.html"&gt;Download Lagu Gregorian&lt;/a&gt;&lt;br /&gt;- &lt;a href="http://tradisikatolik.blogspot.com/2008/03/magister-caeremoniarum.html"&gt;Magister Caeremoniarum&lt;/a&gt;&lt;br /&gt;- &lt;a href="http://tradisikatolik.blogspot.com/2008/06/collar-putih-imam.html"&gt;Collar Putih = Imam?&lt;/a&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;PS: Kedua foto di atas diambil oleh Samuel Pantoro; makasih ya Pak :)&lt;/p&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/2222578442435492672-9135230408614540601?l=tradisikatolik.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://tradisikatolik.blogspot.com/feeds/9135230408614540601/comments/default' title='Post Comments'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://tradisikatolik.blogspot.com/2008/12/gregorian-di-yakobus-dan-sakramen.html#comment-form' title='2 Comments'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/2222578442435492672/posts/default/9135230408614540601'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/2222578442435492672/posts/default/9135230408614540601'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://tradisikatolik.blogspot.com/2008/12/gregorian-di-yakobus-dan-sakramen.html' title='Gregorian di Yakobus dan Sakramen Mahakudus'/><author><name>Albert Wibisono</name><uri>http://www.blogger.com/profile/06599163203686361131</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='16' height='16' src='http://img2.blogblog.com/img/b16-rounded.gif'/></author><media:thumbnail xmlns:media='http://search.yahoo.com/mrss/' url='http://1.bp.blogspot.com/_6gXDFDHmxzU/SV8C7W0OTMI/AAAAAAAAAL0/Nuh5_UQG6mI/s72-c/Misa+SMK+2.JPG' height='72' width='72'/><thr:total>2</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-2222578442435492672.post-6996738651244256329</id><published>2008-12-26T12:19:00.049+07:00</published><updated>2011-09-11T23:55:49.366+07:00</updated><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='Paus'/><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='Busana'/><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='Imam'/><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='Kardinal'/><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='Uskup'/><title type='text'>Busana Imam</title><content type='html'>&lt;div align="left"&gt;&lt;span class="Apple-style-span"&gt;&lt;a href="http://1.bp.blogspot.com/_6gXDFDHmxzU/SVUSTWW844I/AAAAAAAAALs/MWZM4kNSEtg/s1600-h/Seminarists+in+Black+Cassock.jpg"&gt;&lt;img alt="" border="0" id="BLOGGER_PHOTO_ID_5284149861417804674" src="http://1.bp.blogspot.com/_6gXDFDHmxzU/SVUSTWW844I/AAAAAAAAALs/MWZM4kNSEtg/s320/Seminarists+in+Black+Cassock.jpg" style="margin: 0px 10px 10px 0px;" /&gt;&lt;/a&gt;&lt;br /&gt;Anda pernah lihat busana imam di film-film barat? Jubah hitam atau kemeja hitam dengan collar warna putih? Bagus ya? Coba lihat foto para calon imam dengan paus dan &lt;a href="http://www.catholic-hierarchy.org/bishop/bruini.html"&gt;Cardinal Ruini&lt;/a&gt; (waktu itu Vikjen &lt;a href="http://www.catholic-hierarchy.org/diocese/droma.html"&gt;Keuskupan Roma&lt;/a&gt;) di atas. Dulu saya sempat penasaran, kepingin tahu kenapa collar-nya bisa begitu bagus dan rapi. Belakangan saya tahu bahwa itu adalah kerah palsu yang terbuat dari plastik. Nah :)&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Setelah membahas &lt;a href="http://tradisikatolik.blogspot.com/2008/09/busana-uskup.html"&gt;Busana Uskup&lt;/a&gt; di artikel yang lalu, sekarang saya ingin membahas busana sehari-hari (yang seharusnya dikenakan oleh) imam. Memang, hari gini mungkin tidak banyak lagi imam yang mau memakai jubah, kecuali imam biarawan dan beberapa yang lain. Sungguh sayang. Banyak imam bahkan tampil dengan kaos oblong saja. Nyaman memang. Mungkin umat tak tega memberitahu bahwa mereka ingin pemimpinnya tampil berwibawa, tampil sebagaimana layaknya seorang pemimpin. Saya salut benar kepada Uskup Surabaya &lt;a href="http://www.catholic-hierarchy.org/bishop/bwisak.html"&gt;Vincentius Sutikno Wisaksono&lt;/a&gt; yang menghimbau para imamnya untuk tampil dengan kemeja ber-collar putih. Setidaknya dengan demikian umat yang bertemu sang imam di jalan akan tahu beliau seorang imam, pemimpin dan junjungannya. Semoga artikel ini bisa mendorong pembaca untuk makin mengenal dan mencintai busana imam. Oh ya, kalau ada umat yang perlu menyatakan terima kasih kepada imamnya, tidak ada salahnya memberi busana imam kan? Daripada mengajak makan terus? He3 :)&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Pada dasarnya, busana sehari-hari imam ya adalah jubah setakat mata kaki. Sama seperti paus, kardinal dan uskup, imam juga harusnya sehari-hari tampil berjubah. Nah, sekarang kita bicara soal warna. Putih dipakai paus, merah kardinal, ungu uskup dan imam mestinya pakai warna hitam. Ini warna jubah resmi untuk keperluan liturgi ya. Kalau untuk sehari-hari, kardinal dan uskup boleh memakai warna hitam dengan aksen merah atau bahkan hitam polos. Lengkapnya silakan baca di artikel saya &lt;a href="http://tradisikatolik.blogspot.com/2008/09/busana-uskup.html"&gt;Busana Uskup&lt;/a&gt;. Kalau di Indonesia kita melihat jubah uskup atau imam berwarna putih, itu lebih karena pertimbangan iklim. Warna hitam di iklim tropis ini mungkin dianggap terlalu panas. Maka, putih juga tidak apa-apa. Nuncio (Duta Besar Vatikan) untuk Indonesia, saat ini &lt;a href="http://www.catholic-hierarchy.org/bishop/bgire.html"&gt;Uskup Agung Leopoldo Girelli&lt;/a&gt;, juga pakai jubah warna putih dengan aksen merah. Oh ya, saya belum pernah lihat foto Nuncio tampil tanpa jubahnya, meski saya yakin beliau juga kepanasan di sini, he3, peace :)&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;a href="http://1.bp.blogspot.com/_6gXDFDHmxzU/SVStgbuprtI/AAAAAAAAAJk/NvGuxH1M4u4/s1600-h/SX+Roman+Collar+1+Front.JPG"&gt;&lt;img alt="" border="0" id="BLOGGER_PHOTO_ID_5284039035523280594" src="http://1.bp.blogspot.com/_6gXDFDHmxzU/SVStgbuprtI/AAAAAAAAAJk/NvGuxH1M4u4/s200/SX+Roman+Collar+1+Front.JPG" style="margin: 0px 10px 10px 0px;" /&gt;&lt;/a&gt;&lt;a href="http://1.bp.blogspot.com/_6gXDFDHmxzU/SVStk-FLk5I/AAAAAAAAAJs/KpcOX7lmYv4/s1600-h/SX+Roman+Collar+2+Back.JPG"&gt;&lt;img alt="" border="0" id="BLOGGER_PHOTO_ID_5284039113464058770" src="http://1.bp.blogspot.com/_6gXDFDHmxzU/SVStk-FLk5I/AAAAAAAAAJs/KpcOX7lmYv4/s200/SX+Roman+Collar+2+Back.JPG" style="margin: 0px 10px 10px 0px;" /&gt;&lt;/a&gt;&lt;br /&gt;Nah, mari kita mulai dengan collar yang dipakai para seminaris di foto di atas tadi. Seperti yang sudah saya bilang, collar ini terbuat dari plastik. Detailnya ada di dua foto di atas. Foto pertama adalah collar dalam keadaan terkancing, dengan sisi depan (sisi yang terlihat dari depan saat dipakai) ada di bawah. Di foto kedua, sisi belakang yang ada di bawah. Silakan klik di masing-masing foto untuk memperbesar.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;img alt="" border="0" id="BLOGGER_PHOTO_ID_5284039523495061714" src="http://2.bp.blogspot.com/_6gXDFDHmxzU/SVSt81kMKNI/AAAAAAAAAJ0/4htOoWLbxV0/s200/SX+Roman+Collar+3+Open+Inside.JPG" style="margin: 0px 10px 10px 0px;" /&gt;&lt;a href="http://4.bp.blogspot.com/_6gXDFDHmxzU/SVSuDjQvuZI/AAAAAAAAAJ8/_4oYG94UN50/s1600-h/SX+Roman+Collar+4+Open+Outside.JPG"&gt;&lt;img alt="" border="0" id="BLOGGER_PHOTO_ID_5284039638840752530" src="http://4.bp.blogspot.com/_6gXDFDHmxzU/SVSuDjQvuZI/AAAAAAAAAJ8/_4oYG94UN50/s200/SX+Roman+Collar+4+Open+Outside.JPG" style="margin: 0px 10px 10px 0px;" /&gt;&lt;/a&gt;&lt;br /&gt;Dua foto di atas ini menunjukkan collar dalam keadaan terbuka (tidak terkancing). Di foto pertama, sisi dalam (sisi yang bersentuhan dengan leher pemakai, berlubang-lubang untuk ventilasi) terlihat di bagian bawah. Di foto kedua, sisi luar yang ada di bagian bawah. Perhatikan dua lubang kecil di bagian ujungnya. Itu untuk menyatukan kedua ujung collar dengan kancing.&lt;br /&gt;&lt;a href="http://2.bp.blogspot.com/_6gXDFDHmxzU/SVSuL1QsSdI/AAAAAAAAAKE/gHjMIceiK8c/s1600-h/SX+Buttons+1.JPG"&gt;&lt;br /&gt;&lt;img alt="" border="0" id="BLOGGER_PHOTO_ID_5284039781111318994" src="http://2.bp.blogspot.com/_6gXDFDHmxzU/SVSuL1QsSdI/AAAAAAAAAKE/gHjMIceiK8c/s200/SX+Buttons+1.JPG" style="margin: 0px 10px 10px 0px;" /&gt;&lt;/a&gt;&lt;br /&gt;Nah, foto di atas ini adalah kancing yang digunakan untuk menyatukan kedua ujung collar tadi, setelah dilingkarkan di leher pemakai tentunya. Kelima kancing di sebelah kiri itu sama semua modelnya. Sengaja saya foto dengan berbagai macam posisi, supaya Anda bisa bayangkan gimana cara memakainya. Dua kancing di sebelah kanan adalah model lain, yang menurut saya pribadi lebih susah memakainya. Nah, sekarang jadi tahu rahasia collar putih ya? Oh ya, collar macam di atas ini disebut Roman collar, karena asal-muasalnya dari Roma.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Collar putih ini memang terbuat dari plastik, dengan begitu mudah dibersihkan dari keringat dan kotoran. Ia juga berfungsi melindungi kerah jubah/kemeja dari kontak langsung dengan leher pemakai, supaya kerah jubah/kemeja tidak cepat kotor dan jubah/kemeja bisa dipakai beberapa kali. Pemakaian collar putih bukan monopoli imam. Sama halnya dengan pemakaian jubah yang juga bukan monopoli imam (misdinar pakai jubah juga kan?). Collar putih hanyalah pelengkap jubah. Collar putih tidak memiliki makna simbolis apapun, beda dengan stola yang menjadi identitas pelayan tertahbis (imam atau diakon) atau salib pektoral yang menjadi identitas uskup. Satu hal, misdinar, anggota koor dan pelayan lain tidak pakai jubah dan collar putih di luar kegiatan liturgi. Kalau mau, silakan baca artikel saya &lt;a href="http://tradisikatolik.blogspot.com/2008/06/collar-putih-imam.html"&gt;Collar Putih = Imam?&lt;/a&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Berikutnya kita bahas jubahnya. Kita mulai dengan apa yang tidak terlihat. Sebelum memakai jubah, biasanya imam mengenakan kemeja putih lengan panjang dengan kerah Cina, seperti terlihat di bawah ini.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;a href="http://4.bp.blogspot.com/_6gXDFDHmxzU/SVT9UtKfjlI/AAAAAAAAAKM/ASe929e9z40/s1600-h/SX+Priest+Shirt+07+White.JPG"&gt;&lt;img alt="" border="0" id="BLOGGER_PHOTO_ID_5284126794975252050" src="http://4.bp.blogspot.com/_6gXDFDHmxzU/SVT9UtKfjlI/AAAAAAAAAKM/ASe929e9z40/s200/SX+Priest+Shirt+07+White.JPG" style="margin: 0px 10px 10px 0px;" /&gt;&lt;/a&gt;&lt;br /&gt;Kerahnya memang lebih pendek dari kerah Cina pada umumnya, lebarnya hanya 2.5 cm. Kemeja lengan panjang ini biasanya pakai &lt;a href="http://en.wikipedia.org/wiki/French_cuff"&gt;French cuff&lt;/a&gt; di ujung lengannya, disatukan dengan manset dan tampak indah waktu menyembul dari bagian lengan jubah. Jadinya nanti sama seperti ujung lengan kemeja panjang biasa, yang menyembul dari jas yang dipakai seorang awam.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Nah, kemeja putih ini bisa langsung dipasangin Roman collar seperti tampak di bawah,&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;a href="http://1.bp.blogspot.com/_6gXDFDHmxzU/SVT-O1cDTUI/AAAAAAAAAKU/c9glLBKUuMw/s1600-h/SX+Priest+Shirt+08+White+Plus+Roman+Collar.JPG"&gt;&lt;img alt="" border="0" id="BLOGGER_PHOTO_ID_5284127793628794178" src="http://1.bp.blogspot.com/_6gXDFDHmxzU/SVT-O1cDTUI/AAAAAAAAAKU/c9glLBKUuMw/s200/SX+Priest+Shirt+08+White+Plus+Roman+Collar.JPG" style="margin: 0px 10px 10px 0px;" /&gt;&lt;/a&gt;&lt;br /&gt;atau ditambah sepotong kain hitam seperti di bawah ini.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;a href="http://3.bp.blogspot.com/_6gXDFDHmxzU/SVT-bXNLTZI/AAAAAAAAAKk/X6q1YZUyJGQ/s1600-h/SX+Priest+Shirt+10+Small+Insert+Worn.JPG"&gt;&lt;img alt="" border="0" id="BLOGGER_PHOTO_ID_5284128008851639698" src="http://3.bp.blogspot.com/_6gXDFDHmxzU/SVT-bXNLTZI/AAAAAAAAAKk/X6q1YZUyJGQ/s200/SX+Priest+Shirt+10+Small+Insert+Worn.JPG" style="margin: 0px 10px 10px 0px;" /&gt;&lt;/a&gt;&lt;br /&gt;Ini model kain hitamnya, ada bagian yang bisa dijepitkan di collar.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;a href="http://1.bp.blogspot.com/_6gXDFDHmxzU/SVT-VuhY4AI/AAAAAAAAAKc/ipvrcUpQl2E/s1600-h/SX+Priest+Shirt+09+Small+Insert.JPG"&gt;&lt;img alt="" border="0" id="BLOGGER_PHOTO_ID_5284127912031215618" src="http://1.bp.blogspot.com/_6gXDFDHmxzU/SVT-VuhY4AI/AAAAAAAAAKc/ipvrcUpQl2E/s200/SX+Priest+Shirt+09+Small+Insert.JPG" style="margin: 0px 10px 10px 0px;" /&gt;&lt;/a&gt;&lt;br /&gt;Nah, sesudah itu semua baru jubahnya dipakai di atas hem ber-collar tadi. Bagus ya jadinya?&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;a href="http://1.bp.blogspot.com/_6gXDFDHmxzU/SVT-ldM9hsI/AAAAAAAAAKs/AEKp9dsN8Qk/s1600-h/SX+Priest+11+Cassock+Roman+Collar.JPG"&gt;&lt;img alt="" border="0" id="BLOGGER_PHOTO_ID_5284128182260041410" src="http://1.bp.blogspot.com/_6gXDFDHmxzU/SVT-ldM9hsI/AAAAAAAAAKs/AEKp9dsN8Qk/s200/SX+Priest+11+Cassock+Roman+Collar.JPG" style="margin: 0px 10px 10px 0px;" /&gt;&lt;/a&gt;&lt;br /&gt;Sepotong kain hitam tadi bertugas menutup celah yang mungkin timbul di antara bagian bawah collar putih dan bagian kerung leher jubah hitam, supaya kemeja putihnya tidak terlihat dari luar. Agak susah membayangkannya ya? Nggak kelihatan sih di foto. Banyak lagi detil yang lain tentang jubahnya, yang nggak akan saya jelaskan di sini. Kalau pengin tahu juga silakan kontak saya langsung lah.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Mari kita agak realistis sekarang. Seandainya toh imam belum mau pakai jubah (lagi) setiap hari, setidaknya mungkin imam mau pakai kemeja dengan collar seperti di bawah ini. Yang berikut ini contoh round collar, yang mungkin belum ada di Indonesia. Hampir mirip dengan Roman collar, tapi yang ini cuman selapis plastiknya, bukan dua seperti Roman collar.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;a href="http://3.bp.blogspot.com/_6gXDFDHmxzU/SVUIo2iYFVI/AAAAAAAAALE/Ejxasf3V3ds/s1600-h/SX+Priest+Shirt+03+Round+On.JPG"&gt;&lt;img alt="" border="0" id="BLOGGER_PHOTO_ID_5284139235716633938" src="http://3.bp.blogspot.com/_6gXDFDHmxzU/SVUIo2iYFVI/AAAAAAAAALE/Ejxasf3V3ds/s200/SX+Priest+Shirt+03+Round+On.JPG" style="margin: 0px 10px 10px 0px;" /&gt;&lt;/a&gt;&lt;br /&gt;&lt;a href="http://3.bp.blogspot.com/_6gXDFDHmxzU/SVUIuM6HNgI/AAAAAAAAALM/59i5JhudfxI/s1600-h/SX+Priest+Shirt+04+Round+Off.JPG"&gt;&lt;img alt="" border="0" id="BLOGGER_PHOTO_ID_5284139327621117442" src="http://3.bp.blogspot.com/_6gXDFDHmxzU/SVUIuM6HNgI/AAAAAAAAALM/59i5JhudfxI/s200/SX+Priest+Shirt+04+Round+Off.JPG" style="margin: 0px 10px 10px 0px;" /&gt;&lt;/a&gt;&lt;br /&gt;&lt;a href="http://3.bp.blogspot.com/_6gXDFDHmxzU/SVUH__DwFUI/AAAAAAAAAK8/k8bkRADNTlE/s1600-h/SX+Priest+Shirt+06+Round+Worn.JPG"&gt;&lt;img alt="" border="0" id="BLOGGER_PHOTO_ID_5284138533629465922" src="http://3.bp.blogspot.com/_6gXDFDHmxzU/SVUH__DwFUI/AAAAAAAAAK8/k8bkRADNTlE/s200/SX+Priest+Shirt+06+Round+Worn.JPG" style="margin: 0px 10px 10px 0px;" /&gt;&lt;/a&gt;&lt;br /&gt;Collar yang berikut ini paling sederhana dan paling gampang dibikin. Sudah banyak imam yang pakai ini di Indonesia. Yang ini namanya slip collar. Collar plastiknya yang berukuran lebar 3 cm tinggal diselipkan di kerah aja. Memang nggak seindah yang Roman collar atau round collar, tapi lumayan lah. Ini sangat praktis dan mudah dipakai.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;a href="http://4.bp.blogspot.com/_6gXDFDHmxzU/SVUI8cNDFEI/AAAAAAAAALc/RgqQ1VeRsQw/s1600-h/SX+Priest+Shirt+01+Slip+On.JPG"&gt;&lt;img alt="" border="0" id="BLOGGER_PHOTO_ID_5284139572245238850" src="http://4.bp.blogspot.com/_6gXDFDHmxzU/SVUI8cNDFEI/AAAAAAAAALc/RgqQ1VeRsQw/s200/SX+Priest+Shirt+01+Slip+On.JPG" style="margin: 0px 10px 10px 0px;" /&gt;&lt;/a&gt;&lt;br /&gt;&lt;a href="http://1.bp.blogspot.com/_6gXDFDHmxzU/SVUJIJolxhI/AAAAAAAAALk/4yPvRgFB9OY/s1600-h/SX+Priest+Shirt+02+Slip+Off.JPG"&gt;&lt;img alt="" border="0" id="BLOGGER_PHOTO_ID_5284139773418915346" src="http://1.bp.blogspot.com/_6gXDFDHmxzU/SVUJIJolxhI/AAAAAAAAALk/4yPvRgFB9OY/s200/SX+Priest+Shirt+02+Slip+Off.JPG" style="margin: 0px 10px 10px 0px;" /&gt;&lt;/a&gt;&lt;br /&gt;&lt;a href="http://1.bp.blogspot.com/_6gXDFDHmxzU/SVUI2US4NhI/AAAAAAAAALU/eO_CoIYImzs/s1600-h/SX+Priest+Shirt+05+Slip+Worn.JPG"&gt;&lt;img alt="" border="0" id="BLOGGER_PHOTO_ID_5284139467042993682" src="http://1.bp.blogspot.com/_6gXDFDHmxzU/SVUI2US4NhI/AAAAAAAAALU/eO_CoIYImzs/s200/SX+Priest+Shirt+05+Slip+Worn.JPG" style="margin: 0px 10px 10px 0px;" /&gt;&lt;/a&gt;&lt;br /&gt;Semua collar ini adalah bagian dari tradisi gereja Katolik yang sudah berabad-abad umurnya. Sayang sekali, saat ini mungkin lebih banyak pendeta Protestan yang memakainya daripada imam Katolik. Sampai-sampai ada seorang pendeta&amp;nbsp;&lt;/span&gt;Protestan&lt;span class="Apple-style-span"&gt;&amp;nbsp;yang begitu gemas dan mengingatkan koleganya agar tidak memakai simbol-simbol Roma yang harusnya mereka jauhi. Kalau ada waktu, bolehlah baca artikel &lt;a href="http://jesus-messiah.com/html/catholic-collar.html"&gt;The Roman Catholic Priest Collar and the Uniform of Rome's Sons&lt;/a&gt; ini. Ada lagi artikel yang bagus sekali dari dua orang imam Katolik dari Amerika, &lt;a href="http://www.ewtn.com/library/PRIESTS/RMCOLLAR.TXT"&gt;Why a Priest Should Wear His Roman Collar&lt;/a&gt;. Yang terakhir ini sangat layak untuk dibaca. Jangan dilewatkan. Mari kita lestarikan tradisi ini dengan benar, sebelum dilestarikan dan diklaim oleh pihak lain. Saya agak kawatir, suatu saat nanti mungkin lagu Gregorian akan lebih banyak dinyanyikan di gereja-gereja&amp;nbsp;&lt;/span&gt;Protestan&lt;span class="Apple-style-span"&gt;. Saya pernah lihat poster konser Gregorian oleh Paduan Suara&amp;nbsp;&lt;/span&gt;Protestan&lt;span class="Apple-style-span"&gt;. Nah lu :)&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Saya mempelajari ini semua dengan maksud ingin berbagi di Indonesia. Saya akan senang sekali kalau ada yang mau belajar. Di Surabaya ada dua penjahit busana gereja yang mau belajar cara membuat jubah dan lain-lain busana gereja dengan benar dan indah. Ada Bu Yulia dari Lebak Arum yang sudah melayani puluhan uskup plus ratusan imam dari seluruh penjuru Indonesia. Ada juga Bu Patricia dari CitraRaya yang sudah bisa membikin alba model Roma yang indah plus singel-nya, dengan biaya nggak lebih dari Rp 180.000. Siapa bilang benar dan indah harus mahal?&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/2222578442435492672-6996738651244256329?l=tradisikatolik.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://tradisikatolik.blogspot.com/feeds/6996738651244256329/comments/default' title='Post Comments'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://tradisikatolik.blogspot.com/2008/12/busana-imam.html#comment-form' title='19 Comments'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/2222578442435492672/posts/default/6996738651244256329'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/2222578442435492672/posts/default/6996738651244256329'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://tradisikatolik.blogspot.com/2008/12/busana-imam.html' title='Busana Imam'/><author><name>Albert Wibisono</name><uri>http://www.blogger.com/profile/06599163203686361131</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='16' height='16' src='http://img2.blogblog.com/img/b16-rounded.gif'/></author><media:thumbnail xmlns:media='http://search.yahoo.com/mrss/' url='http://1.bp.blogspot.com/_6gXDFDHmxzU/SVUSTWW844I/AAAAAAAAALs/MWZM4kNSEtg/s72-c/Seminarists+in+Black+Cassock.jpg' height='72' width='72'/><thr:total>19</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-2222578442435492672.post-7864784174296457534</id><published>2008-10-03T23:17:00.020+07:00</published><updated>2009-03-07T23:48:46.592+07:00</updated><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='Misa'/><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='Koor'/><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='Gregorian'/><title type='text'>Download Lagu Gregorian</title><content type='html'>&lt;p align="left"&gt;&lt;a href="http://4.bp.blogspot.com/_6gXDFDHmxzU/ST_ZdyXjpZI/AAAAAAAAAI0/7ABRHdW8i_Q/s1600-h/Gregorian+Manuscript+4.jpg"&gt;&lt;img id="BLOGGER_PHOTO_ID_5278176394061522322" style="FLOAT: left; MARGIN: 0px 10px 10px 0px; WIDTH: 222px; CURSOR: hand; HEIGHT: 320px" alt="" src="http://4.bp.blogspot.com/_6gXDFDHmxzU/ST_ZdyXjpZI/AAAAAAAAAI0/7ABRHdW8i_Q/s320/Gregorian+Manuscript+4.jpg" border="0" /&gt;&lt;/a&gt;Banyak pengunjung blog ini yang diarahkan Google waktu nyari "download lagu Gregorian" atau "download partitur lagu Gregorian". Saya akan tunjukkan tempatnya di akhir artikel. Di situ, selain ada partitur dalam format jpeg, juga ada mp3-nya. Lengkap sudah, nggak usah nyari ke mana-mana lagi. Tapi, sebelum kita ke sana, rasanya lebih baik menyamakan persepsi dulu tentang apa yang dicari, supaya nggak kecewa. Buat yang sudah 100% yakin dan malas baca tulisan saya yang panjang lebar ini, he3, boleh aja langsung ke bagian bawah artikel ini.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Terus terang, saya nggak menduga bahwa ternyata banyak yang nyari lagu Gregorian. Yang ke blog ini aja sudah hampir lengkap dari seluruh Indonesia. Ini yang saya dapat dari hasil pantauan pengunjung blog lewat &lt;a href="http://www.sitemeter.com/"&gt;Sitemeter&lt;/a&gt;. Ada dari Medan sampai Papua (saya lupa kotanya). Terus, ada dari Pontianak, Balikpapan dan Samarinda, plus Manado dan Makassar. Memang, kebanyakan masih dari kota-kota besar di pulau Jawa, Jakarta, Surabaya dan Semarang. Semuanya pada nyari lagu Gregorian. Saya agak kawatir bahwa sebenarnya yang dicari adalah lagu dalam bahasa Latin, bukan betul-betul lagu Gregorian. Nah, buat yang belum mantap, mungkin ada baiknya Anda baca artikel saya &lt;a href="http://tradisikatolik.blogspot.com/2008/07/lagu-latin-lagu-gregorian.html"&gt;Lagu Latin = Lagu Gregorian?&lt;/a&gt; Kalau Anda pimpinan paduan suara yang nyari lagu komuni empat suara dalam bahasa Latin, maaf, bukan itu yang nanti akan saya tunjukkan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Kalau memang sudah mantap lagu Gregorian yang dicari dan bukan sekedar lagu dalam bahasa Latin, yuk kita lanjutkan. Pertanyaan berikutnya, untuk keperluan apa? Misa kudus? Sip, kalau itu yang dicari, jawabnya gampang. Ada bukunya, namanya &lt;a href="http://www.canticanova.com/catalog/products/g_graduale_r.htm"&gt;Graduale Romanum&lt;/a&gt; (klik di link ini kalau mau tahu detail isinya). Ini adalah Puji Syukurnya lagu Gregorian. Ini buku pegangan anggota koor Gregorian. Kalau Puji Syukur ada edisi yang untuk koor, dengan 3 atau 4 suara, Graduale Romanum enggak ada yang begitu, karena memang lagunya monofoni alias cuman satu suara. Buat koor Gregorian yang serius dan sudah canggih, ada yang namanya Graduale Triplex. Buku ini sama persis dengan Graduale Romanum, cuman bedanya yang ini ada interpretasinya, detail cara menyanyikan lagunya. Melengkapi Graduale Romanum ini adalah buku iringan, untuk pemain organ. Kalau Graduale Romanum dan Graduale Triplex ukurannya kira-kira setengah kertas A4 dan tebalnya 3.5 cm (hard cover), buku iringannya kira-kira sebesar A4. Total ada tiga buku iringan, masing-masing 1.5 cm tebalnya. Buku iringan ini, seperti yang diharapkan, pakai not balok biasa. Para pemain organ akan bisa menggunakannya dengan tanpa kesulitan. Nah, Graduale Romanum dan Graduale Triplex, seperti sudah diduga, pakai not balok kotak-kotak dengan empat garis (bukan lima garis seperti not balok modern). Jangan patah semangat dulu. Saya nggak bisa baca not balok biasa, tapi saya bisa baca not balok Gregorian. Gampang kok belajarnya. Kalau mau, boleh baca artikel saya &lt;a href="http://tradisikatolik.blogspot.com/2008/08/belajar-baca-notasi-gregorian.html"&gt;Belajar Baca Notasi Gregorian&lt;/a&gt;. Sebulan dua bulan membiasakan baca not Gregorian, saya jamin Anda akan mengerti kelebihannya daripada not angka yang biasa kita pakai. Sangat mungkin Anda nggak mau lagi baca partitur lagu Gregorian dengan not angka. Oh ya, masih ada satu buku lagi, namanya &lt;a href="http://www.canticanova.com/catalog/products/g_graduale_s.htm"&gt;Graduale Simplex&lt;/a&gt; (klik di link ini kalau mau tahu detail isinya). Sesuai namanya, yang ini lagu-lagunya lebih simple, lebih mudah dipelajari dan lebih cocok untuk dinyanyikan bersama umat. Di sampulnya ditulis "in usum minorum ecclesiarum", buat dipakai di gereja-gereja yang kecil. Asumsinya, di gereja-gereja yang kecil koornya belum terlalu canggih.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Semua buku yang saya sebut di atas bisa dibeli lewat internet. Bisa dari situs &lt;a href="http://www.canticanova.com/catalog/indices/i_latin.htm"&gt;CanticaNova&lt;/a&gt; atau &lt;a href="http://www.giamusic.com/products/P-chantbooks.cfm"&gt;GIA Music&lt;/a&gt; (coba klik di link yang terakhir ini, hampir semua buku standar Gregorian ada di sini lengkap dengan fotonya). Oh, mungkin ada yang pernah dengar buku lain yang namanya &lt;a href="http://en.wikipedia.org/wiki/Liber_usualis"&gt;Liber Usualis&lt;/a&gt;. Itu buku yang dipakai sebelum Konsili Vatikan II. Sekarang yang dipakai ya Graduale Romanum itu.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sekarang kita kembali ke Graduale Romanum. Dengan buku ini, kita hampir nggak perlu bingung milih lagu, karena semuanya sudah ditentukan. Mulai dari lagu pembukaan untuk Adven Minggu Pertama sampai lagu komuni untuk hari Minggu terakhir dalam tahun liturgi, yaitu Hari Raya Tuhan Kita Yesus Kristus Raja Semesta Alam, semuanya sudah ditentukan lagunya. Untuk tiap-tiap misanya, akan bisa Anda temukan lagu pembuka (introitum), mazmur tanggapan (gradualia), alleluia, lagu persembahan (offertorium) dan lagu komuni (communionem). Sebagai contohnya, untuk Hari Raya Tuhan Kita Yesus Kristus Raja Semesta Alam, lagu pembukaannya adalah Dignus et Agnus, mazmurnya Dominabitur, alleluianya Potestas eius, lagu persembahannya Postula a me dan lagu komuninya Sedebit Dominus Rex atau Amen dico vobis (khusus untuk Tahun A). Nah, gampang bukan? Nggak usah milih-milih lagu. Sudah dipilihkan dan teksnya dijamin cocok dengan bacaan-bacaan pada hari itu. Coba klik di link berikut ke situs &lt;a href="http://www.musicasacra.com/pdf/propers1974.pdf"&gt;MusicaSacra&lt;/a&gt; ini untuk daftar lengkapnya. Kalau Anda perhatikan teks misa mingguan yang biasa kita temukan di gereja, pasti ada antifon pembuka, persembahan dan komuni. Biasanya itu adalah terjemahan bahasa Indonesia dari teks lagu Gregorian yang dipakai hari itu. Oh ya, di Graduale Romanum, Triplex maupun Simplex Anda nggak akan menemukan lagu penutup. Dalam ritus Romawi memang tidak dikenal adanya lagu penutup. Biasanya organ pipa dimainkan saat imam dan pelayan-pelayan meninggalkan panti imam kembali ke sakristi.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sekarang saatnya saya tunjukkan di mana bisa download gratis partitur lagu Gregorian dan mp3-nya. Dengan begini nggak harus beli buku Graduale Romanum dulu supaya bisa nyanyi lagu Gregorian. Coba mampir ke halaman &lt;a href="http://www.christusrex.org/www2/cantgreg/all_masses.html"&gt;Gregoriant Chant - All Masses of the Liturgical Year&lt;/a&gt; di website bikinan Luis Henrique Camargo Quiroz ini. Semua lagu Gregorian yang Anda butuhkan untuk misa kudus selama satu tahun liturgi ada di sana. Lihat-lihatlah situs itu, Anda bisa temukan juga macam-macam lagu Gregorian untuk keperluan di luar misa kudus. Klik di link berikut untuk segala macam &lt;a href="http://www.christusrex.org/www2/cantgreg/kyriale_eng.html"&gt;Ordinarium&lt;/a&gt;. Anda bisa temukan Missa I - Lux et origo (Masa Paskah, Puji Syukur 340 dst.), Missa XVII (Masa Adven dan Prapaska, Puji Syukur 339 dst.), Missa VIII - De Angelis (Hari Raya, Puji Syukur 342 dst.). Klik di link berikut untuk &lt;a href="http://www.christusrex.org/www2/cantgreg/cantos_selec_eng.html"&gt;Lagu-Lagu Lain&lt;/a&gt;, yang mungkin sudah lebih akrab di telinga banyak orang, mulai dari Ave Maria (PS 625) sampai Tantum Ergo (PS 558) dan Te Deum (PS 669). Nah, baru kerasa bahwa di Puji Syukur pun ada banyak sekali lagu Gregorian, he3.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sudah ah, saya berhenti dulu, selamat bereksplorasi. Kalau ada yang perlu ditanyakan, silakan tinggalkan komentar lewat link di bawah. Saya akan jawab secepat dan sebisa saya. &lt;/p&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/2222578442435492672-7864784174296457534?l=tradisikatolik.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://tradisikatolik.blogspot.com/feeds/7864784174296457534/comments/default' title='Post Comments'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://tradisikatolik.blogspot.com/2008/10/download-lagu-gregorian.html#comment-form' title='20 Comments'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/2222578442435492672/posts/default/7864784174296457534'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/2222578442435492672/posts/default/7864784174296457534'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://tradisikatolik.blogspot.com/2008/10/download-lagu-gregorian.html' title='Download Lagu Gregorian'/><author><name>Albert Wibisono</name><uri>http://www.blogger.com/profile/06599163203686361131</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='16' height='16' src='http://img2.blogblog.com/img/b16-rounded.gif'/></author><media:thumbnail xmlns:media='http://search.yahoo.com/mrss/' url='http://4.bp.blogspot.com/_6gXDFDHmxzU/ST_ZdyXjpZI/AAAAAAAAAI0/7ABRHdW8i_Q/s72-c/Gregorian+Manuscript+4.jpg' height='72' width='72'/><thr:total>20</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-2222578442435492672.post-6682957984837494106</id><published>2008-09-27T16:57:00.038+07:00</published><updated>2009-04-11T12:00:17.801+07:00</updated><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='Paus'/><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='Busana'/><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='Imam'/><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='Misdinar'/><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='Uskup'/><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='Magister Caeremoniarum (MC)'/><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='Diakon'/><title type='text'>Busana Uskup</title><content type='html'>&lt;p align="left"&gt;&lt;a href="http://1.bp.blogspot.com/_6gXDFDHmxzU/SN4GJrcCyWI/AAAAAAAAAHQ/xKJ9XKWLWa8/s1600-h/Gammarelli+2.jpg"&gt;&lt;img id="BLOGGER_PHOTO_ID_5250640978909514082" style="margin: 0px 10px 10px 0px;" alt="" src="http://1.bp.blogspot.com/_6gXDFDHmxzU/SN4GJrcCyWI/AAAAAAAAAHQ/xKJ9XKWLWa8/s320/Gammarelli+2.jpg" border="0" /&gt;&lt;/a&gt;&lt;br /&gt;Pernahkah terlintas dalam pikiran Anda, siapa penjahit yang membuat jubah yang dipakai paus? Di Roma, di sebuah jalan kecil beberapa meter dari Gereja Santa Maria Sopra Minerva dekat Pantheon, ada sebuah toko kecil dengan papan nama bertuliskan Gammarelli, Sartoria Per Ecclesiastici. Sejak didirikan oleh Antonio Gammarelli pada tahun 1798, turun-temurun keluarga Gammarelli telah menjadi langganan para paus, dengan pengecualian Paus Pius XII (1939-1958) dan Paus Benediktus XVI. Paus Pius XII memilih menggunakan penjahit langganan keluarganya dan Paus Benediktus XVI tetap menggunakan penjahit yang sama yang telah melayaninya selama lebih dari 20 tahun.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Ada beberapa penjahit busana gereja di Roma, mulai dari &lt;a href="http://www.euroclero.it/"&gt;EuroClero&lt;/a&gt; yang berlokasi di seberang Lapangan Santo Petrus, &lt;a href="http://www.barbiconi.it/"&gt;Barbiconi&lt;/a&gt; yang melayani order lewat internet, sampai ke &lt;a href="http://www.dieter-philippi.de/1647_Gammarelli_Annibale_Roma.pdf"&gt;Gammarelli&lt;/a&gt; yang terlihat sederhana namun bertabur bintang. Para penjahit ini bersuara satu saat bicara mengenai jubah klerus dan khususnya petinggi gereja. Semuanya taat pada aturan yang dikeluarkan Vatikan, termasuk &lt;a href="http://www.catholicsites.org/clericaldress/utsivesollicite.html"&gt;Ut Sive Sollicite&lt;/a&gt; (Instruksi Sekretariat Negara Tentang Busana, Gelar dan Lambang Kardinal, Uskup serta Prelat Minor Lain) dan &lt;a href="http://www.paxbook.com/algorithmiS/servusPrimus?iussum=monstraScriptumEditum&amp;amp;numerus=1267"&gt;Caeremoniale Episcoporum&lt;/a&gt; (&lt;a href="http://www.amazon.com/Ceremonial-Bishops-Liturgical-Press/dp/0814618189"&gt;Ceremonial of Bishops&lt;/a&gt; atau Tata Upacara Para Uskup).&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Gereja katolik memiliki tradisi busana yang indah dan sarat dengan makna simbolis. Sayangnya, tidak banyak orang yang tertarik mempelajari tradisi ini, yang sudah ratusan tahun umurnya. Artikel ini memang berjudul Busana Uskup, tapi apa yang akan saya sampaikan di sini dapat berguna bagi semua pihak, mulai dari uskup, imam, diakon sampai misdinar dan koster serta petugas liturgi lainnya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Tradisi mengatur busana klerus dan petinggi gereja telah dimulai berabad-abad yang lalu. Aturan terakhir yang dikeluarkan pasca-Konsili Vatikan II menyederhanakan berbagai kemewahan yang dulunya ada. Sayangnya, dalam banyak kasus, penyederhanaan yang diamanatkan oleh para Bapa Konsili sering disalahtafsirkan. Keagungan dalam kesederhanaan (noble simplicity, nobili simplicitate) yang diamanatkan oleh Konstitusi Liturgi Sacrosanctum Concilium seringkali lalu menjadi kesederhanaan saja tanpa keagungan. Busana klerus pun menjadi sederhana dan tanpa keagungan yang harusnya nampak dari seorang pemimpin umat. Dari jubah lengkap dengan biretta menjadi hem batik dan bahkan kaos polo dengan topi baseball. Kita lupa, bahwa sungguhpun umat menghargai pemimpin yang bersahaja, umat juga rindu melihat pemimpinnya tampil sebagai pemimpin. Memang, negeri kita ini panas. Tapi jangan lupa, cuaca di kota Roma bisa jauh lebih panas dari Indonesia beberapa bulan dalam setahunnya, waktu musim panas. Kita toh tidak pernah melihat paus tampil tanpa jubah putihnya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Mari kita masuk lebih dalam mengenai busana uskup. Aturan Vatikan yang berlaku sekarang pada dasarnya membagi membagi busana uskup menjadi 3 macam, busana liturgis, busana resmi dan busana sehari-hari.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;strong&gt;Busana Liturgis (Choir Dress-Habitus Choralis)&lt;/strong&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;a href="http://2.bp.blogspot.com/_6gXDFDHmxzU/SOBhpVRq7xI/AAAAAAAAAHo/5O_7ZPrf7_M/s1600-h/Bishop+Vasa.jpg"&gt;&lt;img id="BLOGGER_PHOTO_ID_5251304528227790610" style="margin: 0px 10px 10px 0px; float: left;" alt="" src="http://2.bp.blogspot.com/_6gXDFDHmxzU/SOBhpVRq7xI/AAAAAAAAAHo/5O_7ZPrf7_M/s320/Bishop+Vasa.jpg" border="0" /&gt;&lt;/a&gt;Busana uskup untuk upacara liturgi gereja, di dalam dan di luar wilayah keuskupannya, adalah: jubah ungu setakat mata kaki; sabuk sutera ungu; rochet dari linen atau bahan sejenis (warna putih); mozeta (mantol kecil yang menutup pundak, dengan kancing di bagian depan) ungu; salib pektoral (salib dada) dengan tali anyaman warna hijau-emas (bukan dengan rantai); pileola (topi kecil yang juga dikenal dengan nama solideo) ungu; bireta (topi segi empat dengan pom) ungu; dan stocking/kaos kaki ungu. Foto di atas adalah Uskup Robert Vasa dari Baker, Oregon, USA, yang mengenakan busana liturgi lengkap. Yang tidak kelihatan hanya sabuk sutera dan kaos kaki ungu beliau.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Cappa magna (mantol kebesaran) ungu, tanpa bulu ermine, boleh dikenakan hanya di dalam wilayah keuskupan dan untuk perayaan-perayaan yang bersifat lebih agung. Uskup senantiasa mengenakan cincin, simbol kesetiaannya pada dan ikatan sucinya dengan Gereja, pengantinnya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;a href="http://1.bp.blogspot.com/_6gXDFDHmxzU/SOBrJf-5orI/AAAAAAAAAII/_jR6FQLwKUk/s1600-h/Cassock+Bishop+Purple.jpg"&gt;&lt;img id="BLOGGER_PHOTO_ID_5251314976462316210" style="margin: 0px 10px 10px 0px; float: left;" alt="" src="http://1.bp.blogspot.com/_6gXDFDHmxzU/SOBrJf-5orI/AAAAAAAAAII/_jR6FQLwKUk/s320/Cassock+Bishop+Purple.jpg" border="0" /&gt;&lt;/a&gt;&lt;a href="http://2.bp.blogspot.com/_6gXDFDHmxzU/SOBsIQMSOeI/AAAAAAAAAIY/uaUyY6jILCI/s1600-h/Cassock+Bishop+Purple+Rochet.jpg"&gt;&lt;img id="BLOGGER_PHOTO_ID_5251316054555245026" style="margin: 0px 0px 10px 10px; float: right;" alt="" src="http://2.bp.blogspot.com/_6gXDFDHmxzU/SOBsIQMSOeI/AAAAAAAAAIY/uaUyY6jILCI/s200/Cassock+Bishop+Purple+Rochet.jpg" border="0" /&gt;&lt;/a&gt;Gambar di sebelah kiri adalah detail dari jubah liturgis uskup warna ungu dengan mozeta dalam keadaan terpasang. Gambar di sebelah kanan adalah rochet, yang mirip dengan superpli namun berlengan sempit dan biasanya diberi pelapis sutera warna merah di bagian dalam lengan bawah. Rochet selalu dikenakan di atas jubah dan sabuk sutera ungu dan di bawah mozeta ungu, seperti tampak pada foto Uskup Robert Vasa di atas.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Uskup mengenakan busana di atas saat ia bepergian secara resmi ke atau dari suatu gereja, saat ia hadir pada suatu upacara liturgi (termasuk misa kudus dan berbagai pemberkatan) tapi tidak memimpinnya, dan pada saat lain yang ditentukan dalam Caeremoniale Episcoporum. Saat akan memimpin misa, Uskup yang tiba di gereja dengan busana liturgis di atas akan melepaskan cappa magna (bila dikenakan), salib pektoral, mozeta dan rochet, dan kemudian mengenakan amik, alba, singel, salib pektoral dengan tali anyaman warna hijau-emas, stola, dalmatik pontifikal (untuk misa agung) dan kasula serta pallium (khusus untuk metropolitan/uskup agung).&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;strong&gt;Busana Resmi (Untuk Acara Resmi Non-Liturgis)&lt;/strong&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;a href="http://1.bp.blogspot.com/_6gXDFDHmxzU/SOBpZ51bMkI/AAAAAAAAAHw/GouxYwgi6uM/s1600-h/Cassock+Bishop+Black.jpg"&gt;&lt;img id="BLOGGER_PHOTO_ID_5251313059256545858" style="margin: 0px 0px 10px 10px; float: right;" alt="" src="http://1.bp.blogspot.com/_6gXDFDHmxzU/SOBpZ51bMkI/AAAAAAAAAHw/GouxYwgi6uM/s320/Cassock+Bishop+Black.jpg" border="0" /&gt;&lt;/a&gt;Busana uskup untuk acara resmi non-liturgis adalah: jubah hitam setakat mata kaki dengan berbagai aksen merah (bukan ungu) di bagian tepi kain dan lubang kancing; paliola (mantol kecil yang menutup pundak, terbuka dan tanpa kancing di bagian depan) hitam dengan aksen merah (mantol ini opsional, boleh dikenakan boleh tidak); sabuk sutera ungu; salib pektoral dengan rantai; pileola ungu; collare ungu; stocking/kaos kaki ungu (kaos kaki ungu ini juga opsional). (lihat gambar)&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;a href="http://1.bp.blogspot.com/_6gXDFDHmxzU/SOBpqMwOE3I/AAAAAAAAAH4/gNcxo2kMPEE/s1600-h/Cassock+Bishop+White.jpg"&gt;&lt;img id="BLOGGER_PHOTO_ID_5251313339212895090" style="margin: 0px 10px 10px 0px; float: left;" alt="" src="http://1.bp.blogspot.com/_6gXDFDHmxzU/SOBpqMwOE3I/AAAAAAAAAH4/gNcxo2kMPEE/s320/Cassock+Bishop+White.jpg" border="0" /&gt;&lt;/a&gt;Di daerah tropis, jubah dan paliola warna hitam dengan aksen merah ini sering diganti dengan putih atau krem muda dengan aksen merah. Ini praktik yang kita temui di Indonesia, di antaranya. Yang jelas, uskup dari negara tropis yang berkunjung ke Roma sebaiknya tidak mengenakan jubah warna putih, yang secara tradisi merupakan privilese paus. Catatan: menurut tradisi gereja katolik jubah warna hitam polos adalah untuk imam, ungu untuk uskup, merah untuk kardinal dan putih untuk paus.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Petasus (topi bertepi lebar) hitam, bila perlu, dapat ditambah dengan tali hijau. Ferraiolo (mantol panjang) dari sutera ungu hanya digunakan untuk acara-acara yang lebih resmi, misalnya wisuda di universitas katolik yang biasanya juga dihadiri uskup, berbagai acara kenegaraan dan lain-lain acara resmi non-liturgis. Jas/jaket panjang hitam biasa, yang dilengkapi penutup kepala sekalipun, boleh digunakan di atas busana resmi ini bila cuaca dingin mengharuskan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;strong&gt;Busana Sehari-hari&lt;/strong&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Busana uskup untuk keperluan sehari-hari adalah: jubah hitam polos setakat mata kaki (tanpa aksen merah); sabuk sutera ungu; salib pektoral dengan rantai; pileola ungu (opsional); collare ungu (opsional); stocking/kaos kaki hitam. Uskup yang berasal dari tarekat religius dapat mengenakan jubah institusinya. Cincin selalu dikenakan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;strong&gt;Mitra dan Tongkat Gembala&lt;/strong&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Mitra dan tongkat dapat dikenakan uskup pada berbagai upacara liturgi yang penting.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Pada prinsipnya mitra dikenakan uskup: saat duduk; saat menyampaikan homili; saat menyambut atau menyapa umat; saat berbicara kepada umat; saat menyampaikan ajakan untuk berdoa, kecuali bila sesaat sesudahnya ia harus melepasnya (untuk doa-doa tertentu); saat memberikan berkat meriah kepada umat; saat menerimakan sakramen; dan saat berjalan dalam prosesi.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Uskup tidak mengenakan mitra: selama ritus pembuka, doa pembuka, doa persembahan, dan doa sesudah komuni; selama doa umat, doa syukur agung, pembacaan injil, nyanyian yang dilagukan sambil berdiri, prosesi sakramen mahakudus; juga saat sakramen mahakudus ditakhtakan. Uskup tidak perlu menggunakan mitra dan tongkat saat ia berjalan dari satu tempat ke tempat lain yang dekat. Untuk mudahnya, mitra bisa dianalogikan dengan mahkota seorang raja. Raja akan mengenakan mahkotanya saat berhadapan dengan rakyat, tapi tidak saat berhadapan dengan Tuhan (saat berdoa, memimpin doa atau saat Tuhan hadir dalam rupa sakramen mahakudus).&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Uskup selalu memegang tongkat dengan tangan kiri (dengan bagian yang melengkung menghadap ke umat) dan memberkati dengan tangan kanan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;strong&gt;Pileola, Mitra dan Tongkat dalam Perayaan Ekaristi&lt;/strong&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Pileola (topi kecil atau solideo) ungu senantiasa dikenakan uskup dalam berbagai acara liturgis, termasuk misa. Dalam misa, pileola hanya dilepas sesaat sebelum prefasi dimulai dan dikenakan kembali saat uskup duduk setelah komuni selesai.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dalam misa, mitra dan tongkat mulai dikenakan di sakristi, setelah selesai mengenakan kasula dan pileola. Pada akhir prosesi masuk gereja, sesampainya di panti imam, tongkat diserahkan dan mitra dilepas, kemudian uskup memberikan penghormatan kepada sakramen mahakudus (bila ada, dengan berkutut) dan/atau altar (dengan membungkuk dalam), serta mencium altar bersama-sama dengan diakon (atau imam) yang mendampinginya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Pada prinsipnya, mitra dipasang dan dilepas oleh diakon (atau imam) yang berada di sebelah kanan uskup, sementara tongkat diserahkan dan diambil oleh diakon (atau imam) yang berada di sebelah kiri uskup. Pada umumnya pileola dipasang dan dilepas oleh diakon (atau imam atau sekretaris pribadi uskup) yang berada di sebelah kiri belakangnya. Magister caeremoniarum dapat melaksanakan semua ini, bila dikehendaki. Diakon, imam, atau magister caeremoniarum, menerima/menyerahkan pileola, mitra dan tongkat dari/kepada misdinar yang mengenakan velum.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;a href="http://2.bp.blogspot.com/_6gXDFDHmxzU/SOBUTWuOW2I/AAAAAAAAAHg/YuofxIIMFYU/s1600-h/Mgr+Piero+Marini+1.jpg"&gt;&lt;img id="BLOGGER_PHOTO_ID_5251289857007704930" style="margin: 0px 10px 10px 0px; float: left;" alt="" src="http://2.bp.blogspot.com/_6gXDFDHmxzU/SOBUTWuOW2I/AAAAAAAAAHg/YuofxIIMFYU/s320/Mgr+Piero+Marini+1.jpg" border="0" /&gt;&lt;/a&gt;Mayoritas imam atau diakon biasanya segan memasang dan melepas mitra dan pileola ini, karena menyangkut kepala uskup. Uskup pun mungkin merasa bisa melakukannya sendiri. Akan tetapi, ya beginilah seharusnya seorang pemimpin, dilayani oleh para pembantunya, setidaknya, saat upacara liturgi atau acara resmi lain di depan umum. Ini masalah kebiasaan saja sebenarnya, bukan soal tidak ingin dilayani. Uskup atau imam yang cuci tangan sebelum konsekrasi juga dilayani oleh misdinar, meski sebenarnya mereka bisa saja datang ke meja samping dan cuci tangan sendiri.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Setelah membaca ini semua, apa yang dapat dipetik oleh pembaca yang bukan uskup atau pembantu uskup? Ini sekedar contoh saja. Makin banyak pelayan komuni tak lazim yang mengenakan alba dan singel, kemudian juga mengenakan salib dada. Nah, salib dada ini menurut tradisi gereja katolik hanya dikenakan oleh uskup. Lagi, di banyak gereja kita melihat misdinar mengenakan jubah, superpli dan mantol kecil penutup pundak yang mirip paliola atau mozeta. Nah, itu juga asesori yang hanya dipakai oleh uskup. Monsignor (pejabat tinggi gereja) yang bukan uskup pun tidak mengenakan salib dada dan paliola atau mozeta. Ini semua ada di aturan detil yang dikeluarkan Vatikan. Semoga dengan membaca artikel ini, banyak pengetahuan baru yang didapat dan bisa dipakai untuk membetulkan praktik-praktik yang kurang pas selama ini.&lt;/p&gt;&lt;p align="left"&gt;Catatan: Artikel ini dimuat dalam Majalah Liturgi yang diterbitkan oleh Komisi Liturgi KWI, Vol 20 No 1 - Jan-Feb 2009.&lt;/p&gt;&lt;p align="left"&gt;Catatan: Saya punya versi lain dari tulisan ini, berjudul Panduan Praktis Busana Uskup, lengkap dengan foto tentunya. Juga, saya pernah buat Panduan Praktis Pemakaian Mitra dan Tongkat dalam Misa Kudus. Kedua panduan ini saya bikin untuk Uskup Surabaya Vincentius Sutikno Wisaksono, gembala saya. Dengan senang hati akan saya kirimkan kepada uskup lain atau siapapun yang berminat. Silakan kontak saya di &lt;a href="mailto:awibisono@hotmail.com"&gt;awibisono@hotmail.com&lt;/a&gt;.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Buat yang ingin belajar lebih lanjut atau sekedar cuci mata, Blog &lt;a href="http://dappledphotos.blogspot.com/"&gt;Dappled Photos&lt;/a&gt; milik Fr. Jim Tucker ini punya koleksi gambar busana dan asesoris uskup yang luar biasa lengkap, mungkin yang terlengkap di internet saat ini. Lebih dari itu, Anda bisa baca macam-macam entry Wikipedia tentang &lt;a href="http://en.wikipedia.org/wiki/Category:Roman_Catholic_vestments"&gt;Roman Catholic Vestments&lt;/a&gt;. Kalau mau yang mendalam, boleh coba baca &lt;a href="http://www.catholicsites.org/clericaldress/"&gt;Dress of Roman Catholic Clergy&lt;/a&gt; bikinan Fr. Joseph L. Shetler. Bagus sekali dan ekstensif. Nah, terakhir, kalau malas baca tapi pengin lihat ratusan foto, coba mampir ke website &lt;a href="http://www.dieter-philippi.de/mydante_1621.html"&gt;Dieter Philippi&lt;/a&gt; ini. Bahasa Jerman memang, tapi cobalah klik di sana-sini. Luar biasa peneliti yang satu ini, benar-benar serius mempelajari tutup kepala dan lain-lain asesoris busana. Kalau belum yakin dan bingung mau mulai dari mana, coba lihat &lt;a href="http://www.dieter-philippi.de/mydante_2602.html"&gt;koleksi foto sepatu paus&lt;/a&gt; miliknya ini.&lt;/p&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/2222578442435492672-6682957984837494106?l=tradisikatolik.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://tradisikatolik.blogspot.com/feeds/6682957984837494106/comments/default' title='Post Comments'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://tradisikatolik.blogspot.com/2008/09/busana-uskup.html#comment-form' title='0 Comments'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/2222578442435492672/posts/default/6682957984837494106'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/2222578442435492672/posts/default/6682957984837494106'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://tradisikatolik.blogspot.com/2008/09/busana-uskup.html' title='Busana Uskup'/><author><name>Albert Wibisono</name><uri>http://www.blogger.com/profile/06599163203686361131</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='16' height='16' src='http://img2.blogblog.com/img/b16-rounded.gif'/></author><media:thumbnail xmlns:media='http://search.yahoo.com/mrss/' url='http://1.bp.blogspot.com/_6gXDFDHmxzU/SN4GJrcCyWI/AAAAAAAAAHQ/xKJ9XKWLWa8/s72-c/Gammarelli+2.jpg' height='72' width='72'/><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-2222578442435492672.post-8942539513092349696</id><published>2008-09-14T14:03:00.022+07:00</published><updated>2009-04-11T12:20:48.331+07:00</updated><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='Basilika'/><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='Paus'/><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='Katedral'/><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='Misa'/><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='Kardinal'/><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='Uskup'/><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='Magister Caeremoniarum (MC)'/><title type='text'>Ziarah Uskup Surabaya di Roma</title><content type='html'>&lt;p align="left"&gt;&lt;a href="http://4.bp.blogspot.com/_6gXDFDHmxzU/SMy5qyZalRI/AAAAAAAAAF4/akcscyoIpcg/s1600-h/Picture+fr+Mgr+025s.jpg"&gt;&lt;img id="BLOGGER_PHOTO_ID_5245771810713802002" style="MARGIN: 0px 10px 10px 0px; CURSOR: hand; BLOCK: left" alt="" src="http://4.bp.blogspot.com/_6gXDFDHmxzU/SMy5qyZalRI/AAAAAAAAAF4/akcscyoIpcg/s320/Picture+fr+Mgr+025s.jpg" border="0" /&gt;&lt;/a&gt;&lt;br /&gt;Sejak tanggal 26 Agustus 2008 yang lalu, Uskup Surabaya Msgr. Vincentius Sutikno Wisaksono berziarah ke beberapa tempat di Eropa Barat, termasuk Lourdes, Asisi dan Roma. Berikut ini adalah penggalan cerita perjalanannya, khusus mengenai ziarah di &lt;a href="http://orbiscatholicus.blogspot.com/"&gt;Roma&lt;/a&gt;.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Setahun telah lewat sejak Msgr. Vincentius Sutikno Wisaksono ditahbiskan menjadi gembala Keuskupan Surabaya. Sebagai uskup baru, Msgr. Sutikno diundang untuk mengikuti “Kursus Uskup” yang dihelat oleh &lt;a href="http://www.vatican.va/roman_curia/congregations/cevang/index.htm"&gt;Kongregasi Penyebaran Iman&lt;/a&gt;, atau yang lebih dikenal dengan nama lamanya, &lt;a href="http://www.vatican.va/roman_curia/congregations/cevang/index.htm"&gt;Kongregasi Propaganda Fide&lt;/a&gt;. Kursus ini berlangsung di Collegio San Paolo di Roma, pada tanggal 7-20 September 2008. Kesempatan berkunjung ke Roma ini sekaligus dimanfaatkan oleh Msgr. Sutikno untuk berziarah ke beberapa &lt;a href="http://www.vatican.va/various/basiliche/index_en.html"&gt;Basilika Kepausan&lt;/a&gt; dan makam para rasul yang ada di kota Roma.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Uskup Sutikno bersama Pastor YPH Jelantik dan rombongan peziarah dari Yayasan &lt;a href="http://www.wima.ac.id/"&gt;Unika Widya Mandala&lt;/a&gt; tiba di Roma dari Asisi pada hari Selasa malam 2 September 2008. Sengaja perjalanan ziarah ke Lourdes, Asisi dan Roma ini diakhiri di kota Roma beberapa hari sebelum kursus uskup dimulai, sehingga uskup mempunyai waktu beberapa hari untuk berziarah di Roma secara pribadi.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Tiba dengan bus dari Asisi, rombongan uskup dan peziarah dari Surabaya menginap di bagian selatan kota Roma, sekitar 30 km dari &lt;a href="http://www.stpetersbasilica.org/"&gt;Vatikan&lt;/a&gt;. Esok paginya, Rabu 3 September 2008, rombongan naik bus menuju Vatikan untuk audiensi umum dengan Paus Benediktus XVI. Hari Rabu memang adalah hari yang dijadwalkan untuk audiensi umum dengan paus. Manakala tidak sedang bepergian, paus akan menemui para peziarah di Vatikan setiap hari Rabu, pukul 10:30-12:00. Tempatnya bisa di Lapangan Santo Petrus atau di dalam Aula Paulus VI di dekatnya, bila cuaca tidak memungkinkan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Hari Rabu itu, sejak pukul 8:30 pagi ribuan peziarah sudah berkumpul di samping Lapangan Santo Petrus. Mereka mengantri untuk masuk ke dalam Aula Paulus VI tempat audiensi umum kali ini. Tiket masuk untuk audiensi ini dapat diambil sehari sebelumnya di &lt;a href="http://www.vatican.va/various/prefettura/index_en.html"&gt;Perfektur Rumah Tangga Kepausan&lt;/a&gt; di Vatikan. Tiket ini gratis dan siapapun boleh memintanya. Rombongan tour biasanya memesan tiket beberapa minggu di depan, tetapi pengambilan tetap harus dilakukan pada sore hari sebelumnya. Rombongan dari Surabaya ini cukup beruntung mendapatkan tiket “Reparto Speciale”. Dengan tiket khusus ini rombongan mendapat tempat di bagian depan, sehingga dapat melihat paus dengan lebih jelas dibandingkan bila duduk di bagian belakang. Uskup sendiri memilih untuk duduk bersama rombongan dan tidak berada di panggung, di dekat paus, bersama para uskup lainnya yang hadir dalam acara ini. Memang, Msgr. Sutikno akan bertemu paus juga nantinya, pada akhir kursus uskup yang diikutinya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;a href="http://3.bp.blogspot.com/_6gXDFDHmxzU/SMzikpNmMkI/AAAAAAAAAHA/B9hNMKUCOTM/s1600-h/Pope+w+JMH+GG.jpg"&gt;&lt;img id="BLOGGER_PHOTO_ID_5245816785145836098" style="MARGIN: 0px 10px 10px 0px; CURSOR: hand; BLOCK: left" alt="" src="http://3.bp.blogspot.com/_6gXDFDHmxzU/SMzikpNmMkI/AAAAAAAAAHA/B9hNMKUCOTM/s320/Pope+w+JMH+GG.jpg" border="0" /&gt;&lt;/a&gt;&lt;br /&gt;Tepat pukul 10:30 paus masuk ke dalam aula dengan disambut tepuk tangan meriah dari semua yang hadir. Bapa Suci kemudian duduk di kursinya dan memulai audiensi ini dengan mengajak semua yang hadir membuat tanda salib. Mendampingi paus di sebelah kiri dan kanannya adalah &lt;a href="http://www.catholic-hierarchy.org/bishop/bharveyjm.html"&gt;Uskup Agung James Michael Harvey&lt;/a&gt;, Kepala Rumah Tangga Kepausan, dan Monsignor Georg Gaenswein, Sekretaris Pribadinya. Seperti biasanya, audiensi diawali dengan bacaan kitab suci dan kemudian dilanjutkan dengan perkenalan dengan rombongan peziarah yang sudah mendaftarkan diri sebelumnya. Biasanya rombongan diperkenalkan satu persatu, sesuai bahasa ibunya, dengan dibatasi enam bahasa: Prancis, Inggris, Spanyol, Jerman, Polandia dan Italia. Pada saat diperkenalkan, biasanya anggota rombongan berdiri dari tempat duduknya. Ada yang bertepuk tangan, meneriakkan yel-yel, menyanyi dan ada juga yang bermain musik. Pada bagian ini suasananya gembira dan meriah. Mendekati pukul 12:00, audiensi diakhiri dengan doa Bapa Kami dalam bahasa Latin (Pater Noster). Paus kemudian memberkati semua yang hadir, juga dalam bahasa Latin.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Usai audiensi, rombongan dari Surabaya kemudian pergi makan siang di restoran Italia di dekat Vatikan. Bergabung juga dalam audiensi dan makan siang ini dua orang imam Keuskupan Surabaya yang sedang studi di Roma, Pastor Widya dan Pastor Pratisto. Setelah makan siang, masih bersama rombongan, uskup kemudian memasuki &lt;a href="http://www.stpetersbasilica.org/"&gt;Basilika Santo Petrus&lt;/a&gt;. Tujuan pertama adalah makam para paus di grotto di bagian bawah basilika. Di sana uskup berdoa di makam beberapa paus, termasuk Paus Yohanes Paulus II. Bagian terakhir yang dikunjungi adalah makam Santo Petrus. Di sini uskup berdoa cukup lama, sebelum akhirnya bersama rombongan naik ke dalam basilika dan menikmati keindahannya. Di dalam basilika, uskup masih juga menyempatkan berdoa di beberapa tempat, termasuk di tiga altar khusus, di mana tubuh yang masih utuh dari paus-paus Beato Innocentius XI, Santo Pius X dan Beato Yohanes XXIII diperlihatkan dalam peti kaca. Selesai menikmati keindahan dan berdoa di dalam basilika, uskup kemudian memisahkan diri dari rombongan dan mulai tinggal di dekat Vatikan, di suatu tempat bekas biara bernama &lt;a href="http://www.residenzamadripie.it/MadriPieRoma/English/Default.htm"&gt;Residenza Madri Pie&lt;/a&gt;. Penginapan yang dikelola para suster ini sangat dekat dengan Lapangan Santo Petrus, hanya 5 menit berjalan kaki.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sore harinya, uskup diantar mengunjungi &lt;a href="http://secretlifeofshoes.blogspot.com/2005/04/gammarelli-popes-taylor.html"&gt;Gammarelli&lt;/a&gt;, penjahit jubah langganan para paus dan pejabat gereja katolik lainnya. Di sana beliau diambil ukurannya untuk pembuatan jubah warna ungu untuk upacara liturgi dan jubah warna hitam untuk acara resmi non-liturgis. Juga, uskup membawa pulang beberapa asesoris untuk busana uskup sesuai dengan aturan tata busana uskup yang dikeluarkan oleh Vatikan. Maximilliano Gammarelli yang melayani Uskup Sutikno menjanjikan jubah-jubah untuknya akan selesai dalam waktu sekitar 9 bulan. &lt;a href="http://www.nytimes.com/2005/04/14/fashion/thursdaystyles/14tailor.html?_r=2&amp;amp;adxnnl=1&amp;amp;oref=slogin&amp;amp;adxnnlx=1209802087-Lkad4Xik6j1uiJ+IppQK1A&amp;amp;oref=slogin"&gt;Gammarelli&lt;/a&gt; turun-temurun memang adalah keluarga penjahit yang sudah melayani beberapa paus dan tentunya ratusan kardinal serta ribuan uskup, monsignor dan juga imam biasa. Aturan Vatikan untuk tata busana uskup yang rinci dan rumit semuanya dipatuhi oleh Gammarelli, demi melestarikan tradisi indah gereja katolik. Memang, sejak Konsili Vatikan II sudah banyak penyederhanaan untuk tata busana uskup gereja katolik ritus Latin, namun penyederhanaan ini tidak mengurangi keagungan yang tetap diamanatkan oleh konsili ini. Jubah dan asesoris yang dipesan beberapa orang umat untuk Uskup Sutikno ini nantinya diharapkan dapat menjadi contoh untuk penjahit di Indonesia, agar bikinan Indonesia pun dapat memenuhi aturan resmi Vatikan yang bersifat universal.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dari Gammarelli, uskup mampir ke Gereja Santa Maria ad Martyres yang lebih dikenal dengan nama &lt;a href="http://en.wikipedia.org/wiki/Pantheon,_Rome"&gt;Pantheon&lt;/a&gt;. Awalnya, Pantheon ini adalah kuil yang dibangun oleh Marcus Agrippa, menantu Kaisar Romawi Augustus, pada tahun 27-25 SM. Pada tahun 609 Paus Bonifasius IV mengkonsekrasikan Pantheon sebagai gereja. Dalam gereja ini terdapat beberapa makam penting, di antaranya makam pelukis besar Raphael yang karyanya menghiasi banyak basilika di Italia dan juga makam Raja Italia Vittorio Emanuele II. Dari Pantheon uskup berjalan kaki ke &lt;a href="http://en.wikipedia.org/wiki/Piazza_navona"&gt;Piazza Navona&lt;/a&gt;, sebuah lapangan dengan obelisk, air mancur dan patung-patung indah yang dikelilingi berbagai bangunan indah pula, yang mulai dibangun pada masa Paus Innocentius X (1644-1655). Paus Innocentius X adalah penyuka artis pematung Bernini, yang memperindah Lapangan Santo Petrus dengan collonade dan patung-patung orang kudus di atasnya. Malam ini diakhiri dengan makan malam di rumah makan kecil di dekat penginapan. Itulah cerita hari pertama uskup di Roma. Cukup melelahkan karena harus berjalan kaki beberapa kilometer jauhnya bila ditotal, apalagi dengan cuaca kota Roma yang sangat panas, di kisaran 30 derajat Celcius.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;a href="http://4.bp.blogspot.com/_6gXDFDHmxzU/SMzRn7U6lLI/AAAAAAAAAGI/KY03emX5Fyo/s1600-h/Picture+fr+Mgr+005s.jpg"&gt;&lt;img id="BLOGGER_PHOTO_ID_5245798149850305714" style="FLOAT: left; MARGIN: 0px 10px 10px 0px; CURSOR: hand" alt="" src="http://4.bp.blogspot.com/_6gXDFDHmxzU/SMzRn7U6lLI/AAAAAAAAAGI/KY03emX5Fyo/s200/Picture+fr+Mgr+005s.jpg" border="0" /&gt;&lt;/a&gt;Hari Kamis, 4 September 2008, hari kedua uskup di Roma. Hari ini dimulai dengan misa pribadi di &lt;a href="http://www.vatican.va/various/basiliche/sm_maggiore/index_en.html"&gt;Basilika Santa Maria Maggiore&lt;/a&gt;, salah satu dari empat basilika kepausan utama. Sebagai gembala dan pemimpin, uskup tentu tidak menyiapkan sendiri berbagai liturgi yang dirayakannya. Dalam tradisi gereja katolik, seorang uskup memiliki pembantu yang disebut Magister Caeremoniarum atau MC. Buku Caeremoniale Episcoporum atau Tata Upacara Para Uskup menyebutkan bahwa MC bertugas menyiapkan dan mengatur segala sesuatunya agar upacara liturgi yang dipimpin dan/atau dihadiri oleh uskup dapat berjalan dengan benar sesuai aturan-aturan liturgi, khidmat dan agung serta indah. Fungsi MC di dalam gereja katolik lebih mirip dengan petugas protokol dan bukan seperti MC yang sering kita lihat memandu acara di televisi. MC dalam tradisi gereja katolik bahkan tidak pernah berbicara kepada umat selama upacara liturgi berlangsung. MC dapat berasal dari kalangan berjubah ataupun awam yang memiliki pengetahuan mendalam tentang liturgi, khususnya liturgi bagi seorang uskup. Dalam kunjungannya di Roma kali ini uskup didampingi oleh MC Albert Wibisono, yang mengatur segala sesuatunya untuk ziarah pribadi ini.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Adalah Imam Agung Basilika Santa Maria Maggiore, &lt;a href="http://www.catholic-hierarchy.org/bishop/blaw.html"&gt;Bernard Kardinal Law&lt;/a&gt;, yang memberi kesempatan kepada Uskup Sutikno untuk merayakan ekaristi pribadinya hari Kamis itu di Altar Madonna Salus Populi Romani di &lt;a href="http://www.vatican.va/various/basiliche/sm_maggiore/en/storia/cappella_borghese.htm"&gt;Kapel Pauline&lt;/a&gt;. Kapel yang juga dikenal dengan nama &lt;a href="http://www.vatican.va/various/basiliche/sm_maggiore/en/storia/cappella_borghese.htm"&gt;Kapel Borghese&lt;/a&gt; ini dibangun oleh Paus Paulus V dari keluarga Borghese (1605-1621). Dikerjakan oleh tim di bawah pimpinan Flaminio Ponzio, kapel ini sungguh indah. Lukisan berharga Madonna Salus Populi Romani (Perawan yang menyelamatkan rakyat Roma) dipasang di atas altarnya. Di kiri dan kanannya terdapat monumen peringatan untuk Paus Clement VIII dan Paus Paulus V. Misa di kapel ini tadinya direncanakan sebagai misa pribadi, namun karena ada 30-an umat yang hadir dalam kapel, maka misa ini akhirnya dirayakan bersama mereka. Pastor Widya turut berkonselebrasi di misa dalam bahasa Latin ini.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Usai misa di kapel bersejarah ini, uskup kemudian berkeliling basilika sambil menikmati keindahannya. &lt;a href="http://www.vatican.va/various/basiliche/sm_maggiore/en/museo/museo.htm"&gt;Museum&lt;/a&gt; di bawah basilika ini juga dikunjungi uskup. Dalam museum ini tersimpan berbagai peralatan misa dari abad pertengahan. Indah sekali busana-busana liturgi jaman dahulu yang dihiasi dengan ornamen dari benang emas dan juga batu-batu berharga. Pada akhir kunjungan di museum ini, uskup menerima kenang-kenangan sebuah buku yang berisi penjelasan tentang koleksi museum.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Meninggalkan kompleks Basilika Santa Maria Maggiore, uskup kemudian menghabiskan harinya dengan berbelanja buku-buku rohani di berbagai toko buku di dekat Vatikan. Sungguh menyenangkan berbelanja buku rohani di Roma, banyak buku yang tidak dapat ditemukan di Indonesia ada di sini. Yang bingung adalah bagaimana membawa semuanya pulang ke Indonesia tanpa harus kelebihan bagasi.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sore harinya, setelah sejenak beristirahat di penginapan, uskup berkunjung ke beberapa toko busana dan perlengkapan gereja, melihat-lihat dan membeli beberapa barang yang tidak tersedia di Indonesia. Sejam berkeliling ke toko-toko ini, uskup kemudian berkunjung ke &lt;a href="http://en.wikipedia.org/wiki/Santa_maria_sopra_minerva"&gt;Gereja Santa Maria sopra Minerva&lt;/a&gt;. Di bawah altar utama gereja ini diistirahatkan tubuh utuh Santa Katharina dari Siena. Selain itu, di dalam gereja ini juga terdapat makam paus-paus dari keluarga Medici, Leo X dan kemenakannya Clement V. Dari gereja ini, uskup kemudian mampir ke &lt;a href="http://en.wikipedia.org/wiki/Fontana_di_trevi"&gt;Fontana di Trevi&lt;/a&gt;, air mancur dengan desain baroque yang terkenal keindahannya. Air mancur tujuan turis ini mulanya dibangun oleh Paus Nicholas V pada tahun 1453. Paus Urbanus VIII pernah merencanakan renovasinya di tahun 1629, tapi adalah Paus Clement XII yang membuatnya menjadi seperti sekarang ini dengan bantuan artis Nicola Salvi. Air mancur ini dibangun dalam waktu 30 tahun, antara 1732-1762. Sang artis sendiri bahkan wafat sebelum karyanya selesai dikerjakan. Murid-muridnya lah yang akhirnya menyelesaikan proyek air mancur ini.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;a href="http://1.bp.blogspot.com/_6gXDFDHmxzU/SMzfHZoZrsI/AAAAAAAAAGo/v43KJEVGQcs/s1600-h/Museum+Vatican+1.jpg"&gt;&lt;img id="BLOGGER_PHOTO_ID_5245812984212205250" style="FLOAT: left; MARGIN: 0px 10px 10px 0px; CURSOR: hand" alt="" src="http://1.bp.blogspot.com/_6gXDFDHmxzU/SMzfHZoZrsI/AAAAAAAAAGo/v43KJEVGQcs/s320/Museum+Vatican+1.jpg" border="0" /&gt;&lt;/a&gt;Hari Jumat, 5 September 2008, hari ketiga uskup di Roma. Hari ini uskup berkunjung ke &lt;a href="http://mv.vatican.va/3_EN/pages/MV_Home.html"&gt;Museum Vatikan&lt;/a&gt; serta &lt;a href="http://mv.vatican.va/3_EN/pages/CSN/CSN_Main.html"&gt;Kapel Sistina&lt;/a&gt; yang tersohor. &lt;a href="http://en.wikipedia.org/wiki/Vatican_Museums"&gt;Museum Vatikan&lt;/a&gt; sebenarnya adalah gabungan beberapa museum yang menyimpan koleksi-koleksi berharga milik gereja yang dikumpulkan oleh para paus, berawal dari koleksi patung milik Paus Yulius II (1503-1513). Museum Vatikan yang kita lihat sekarang ini adalah sebuah kompleks besar museum dan galeri kepausan yang diawali oleh Paus Clement XIV (1769-1774) dan Pius VI (1775-1799). Untuk menghormati mereka, salah satu museum di dalamnya diberi nama Museum Pio-Clementine.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Bagian pertama yang dikunjungi uskup adalah galeri lukisan yang disebut &lt;a href="http://mv.vatican.va/3_EN/pages/PIN/PIN_Main.html"&gt;Pinacoteca&lt;/a&gt;. Di dalamnya tersimpan 460 lukisan, mulai dari karya abad ke-12 sampai abad ke-19. Hampir semua pelukis terbesar dalam sejarah gereja katolik terwakili di sini. Tersebutlah nama-nama pelukis besar Italia mulai dari Giotto sampai Beato Angelico, dari Perugino sampai Raphael, juga nama yang kita kenal seperti Leonardo da Vinci dan Titian, sampai ke Paolo Veronese, Caravaggio dan Crespi yang mungkin agak asing bagi telinga orang Indonesia. Sekedar ilustrasi, sebuah lukisan asli Leonardo da Vinci di sana dapat berharga lebih dari biaya untuk membangun 10 gereja katedral di Indonesia.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;a href="http://3.bp.blogspot.com/_6gXDFDHmxzU/SMzfQ46JYDI/AAAAAAAAAGw/PID9k5I01N0/s1600-h/Museum+Vatican+2.jpg"&gt;&lt;/a&gt;&lt;a href="http://1.bp.blogspot.com/_6gXDFDHmxzU/SMzfd7Ev-yI/AAAAAAAAAG4/Umkae8NhiJE/s1600-h/Museum+Vatican+3.jpg"&gt;&lt;img id="BLOGGER_PHOTO_ID_5245813371146599202" style="FLOAT: right; MARGIN: 0px 10px 10px 0px; CURSOR: hand" alt="" src="http://1.bp.blogspot.com/_6gXDFDHmxzU/SMzfd7Ev-yI/AAAAAAAAAG4/Umkae8NhiJE/s320/Museum+Vatican+3.jpg" border="0" /&gt;&lt;/a&gt;Berikutnya, satu persatu dari seluruh museum dan galeri di sana didatangi uskup meski hanya sebentar. Mulai dari Museum Kendaraan Paus yang berisi kereta berlapis emas yang ditarik enam ekor kuda sampai ke mobil kepausan yang anti peluru, sampai ke Galeri Peta yang dibuat pada masa Paus Gregorius XIII (1572-1585). Berikutnya adalah bagian-bagian istana kepausan, mulai dari &lt;a href="http://mv.vatican.va/3_EN/pages/SDR/SDR_00_Main.html"&gt;Ruang-Ruang Raphael&lt;/a&gt; yang dibuat atas perintah Paus Yulius II dan Leo X (1513-1521) sampai ke Apartemen Borgia di mana Paus Alexander VI tinggal sampai wafatnya (1492-1503). Akhir dan puncak dari tur museum ini adalah &lt;a href="http://mv.vatican.va/3_EN/pages/CSN/CSN_Main.html"&gt;Kapel Sistina&lt;/a&gt;, yang mengambil nama pendirinya, Paus Sixtus IV (1471-1484). Di kapel inilah para kardinal berkumpul saat konklaf untuk memilih paus baru. Sebagaimana sudah sering diceritakan, kapel ini terkenal karena lukisan Michelangelo di langit-langit dan dinding kapel.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Seluruh bagian Museum Vatikan di atas diselesaikan uskup dalam setengah hari, sebagian dengan setengah berlari dan berhenti sekali-sekali untuk menikmati beberapa koleksi utama. Maklum, semuanya ada 54 ruangan, padahal waktu Uskup Sutikno untuk menikmatinya tidaklah banyak.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Malam harinya, uskup bertemu dan makan malam dengan beberapa imam yang pernah menjadi murid beliau di Seminari Tinggi Giovanni di Malang. Pastor Francisco dan Louis dari Timor Leste, Pastor Riyadi dari Sanggau dan Pastor Pratisto dari Surabaya. Keempat imam ini baru saja tiba bulan Juni-Juli yang lalu untuk studi di &lt;a href="http://www.urbaniana.edu/en/index.htm"&gt;Universitas Kepausan Urbaniana&lt;/a&gt; di Roma. Pertemuan ini penuh suasana nostalgia dan canda ria. Selesai makan malam Uskup Sutikno berkunjung ke kampus dan tempat tinggal para imam ini di Collegio Urbano yang terletak di atas bukit dekat Vatikan. Sungguh indah pemandangan Lapangan dan Basilika Santo Petrus dilihat dari atas bukit ini. Uskup juga berkesempatan bertemu empat mata dengan Rektor Universitas Urbaniana, membicarakan kemungkinan memperoleh tambahan beasiswa bagi imam-imam dari Keuskupan Surabaya. Waktu sudah menunjukkan pukul 10:00 malam lebih saat Msgr. Sutikno meninggalkan gerbang Collegio Urbano untuk kembali ke penginapannya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;img id="BLOGGER_PHOTO_ID_5245799976812367746" style="MARGIN: 0px 10px 10px 0px; CURSOR: hand; BLOCK: left" alt="" src="http://3.bp.blogspot.com/_6gXDFDHmxzU/SMzTSRSnT4I/AAAAAAAAAGQ/-zMk3Ax89Vc/s320/San+Pietro+1.jpg" border="0" /&gt;&lt;br /&gt;Hari Sabtu, 6 September 2008, hari keempat uskup di Roma. Hari ini diawali dengan kunjungan ke situs suci, galian arkeologi di bawah Basilika Santo Petrus. Pukul 9:20 pagi Msgr. Sutikno bersama Albert Wibisono sudah berada samping basilika. Dari situ tur akan dimulai. Dipandu oleh seorang anak muda Amerika dalam bahasa Inggris, tur ini dimulai dengan penjelasan mengenai &lt;a href="http://en.wikipedia.org/wiki/Circus_of_Nero"&gt;Sirkus Nero&lt;/a&gt;. Yang disebut sirkus di sini sebenarnya lebih mirip tempat pacuan kuda, seperti yang terlihat dalam film Ben Hur. Sirkus Nero adalah tempat penyiksaan orang-orang Kristen dan juga tempat penyaliban Santo Petrus. Wafat disalib terbalik, Santo Petrus kemudian dimakamkan di sebelah utara sirkus, di suatu makam yang sederhana. Di atas makam inilah nantinya Kaisar Romawi Konstantinus membangun suatu basilika. Adalah Konstantinus yang memperoleh visi sebuah salib besar dengan tulisan “Dengan (salib) ini, taklukanlah” saat ia berperang melawan Maxentius. Konstantinus akhirnya menang dan ia kemudian bertobat dan memeluk agama Kristen dan menandatangani Edict of Milan yang memproklamasikan toleransi beragama pada tahun 313 M. Basilika Santo Petrus yang kita lihat sekarang ini dibangun pada tahun 1506-1626 tepat di atas basilika bikinan Konstantinus yang sudah tua dan perlu perbaikan. Altar utama basilika yang sekarang juga dibangun di atas altar utama basilika yang lama, dan keduanya pun tepat berada di atas makam Santo Petrus.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Tur ke lokasi galian selama 90 menit ini sungguh mengesankan. Meski dinyatakan terbuka untuk semua orang, pada kenyataannya tidaklah mudah untuk mendapatkan kesempatan mengikuti tur ini. &lt;a href="http://www.vatican.va/roman_curia/institutions_connected/uffscavi/documents/rc_ic_uffscavi_doc_gen-information_20040112_en.html"&gt;Pendaftaran&lt;/a&gt; harus dilakukan beberapa bulan sebelumnya, karena peminat yang banyak dan kesempatan yang terbatas. Satu kelompok tur hanya berisi sepuluh orang dan pada saat yang sama di lokasi galian yang sempit ini tidak mungkin ada lebih dari tiga kelompok tur. Di bawah basilika, kita melihat dari jarak sangat dekat beberapa mausoleum atau makam-makam Romawi dari periode 2000 tahun yang lalu. Kita bahkan bisa masuk ke satu atau dua di antaranya. Tur ini diakhiri di lokasi makam Santo Petrus. Sungguh mengharukan bisa berada begitu dekat dengan murid Yesus yang terutama. Satu meter saja kita berada dari tanah tempat Santo Petrus dimakamkan. Di situ juga ada sebuah kotak kecil yang berisi sebagian tulang-belulang, yang dari hasil penelitian diyakini merupakan milik Santo Petrus. Di tempat ini peserta tur yang kebanyakan adalah peziarah dari Amerika lalu berdoa Bapa Kami dalam bahasa Inggris dan memperoleh berkat dari Uskup Sutikno.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Usai mengikuti tur ke situs galian suci, uskup kemudian mengunjungi museum di dekat sakristi Basilika Santo Petrus. Di situ dipamerkan berbagai peralatan liturgi dan busana paus yang bernilai tinggi, mulai dari tiara (mahkota yang dikenakan para paus pada jaman dahulu) dan mitra sampai ke sepatu yang berhiaskan intan dan permata. Juga ada penutup makam paus yang membangun &lt;a href="http://mv.vatican.va/3_EN/pages/CSN/CSN_Main.html"&gt;Kapel Sistina&lt;/a&gt;, Sixtus IV (1471-1484) yang dipesan oleh keponakannya, Giuliano della Rovere, seorang kardinal yang di kemudian hari menjadi Paus Yulius II yang membangun Basilika Santo Petrus yang sekarang ini.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Jumat sore harinya, uskup berziarah ke &lt;a href="http://www.vatican.va/various/basiliche/san_paolo/index_en.html"&gt;Basilika Santo Paulus di luar tembok kota Roma&lt;/a&gt;, di mana terdapat &lt;a href="http://www.vatican.va/various/basiliche/san_paolo/en/basilica/tomba.htm"&gt;makam Santo Paulus&lt;/a&gt;. Mengenakan busana resminya, jubah uskup berwarna hitam dengan segala kelengkapannya, Uskup Sutikno tiba di Basilika Santo Paulus sekitar pukul 15:15. Sekelompok peziarah dari Italia menyambutnya dengan mencium cincin di tangan kanan beliau dengan takzim. Ritus mencium cincin atau tangan kanan uskup, yang biasa disebut &lt;a href="http://dappledphotos.blogspot.com/2005/11/baciamano.html"&gt;baciamano&lt;/a&gt;, memang merupakan tradisi katolik yang masih terus dipraktikkan di berbagai belahan dunia. Eccellenza (ekselenza), begitu orang-orang Italia menyapa Uskup Sutikno. Artinya adalah Excellency atau Yang Mulia. Hampir semua orang non-Indonesia yang ditemui Msgr. Sutikno di Roma menyapanya begitu. Jelas sekali bahwa mereka sangat menghormati seorang uskup. Kelompok peziarah ini meminta berkat dari uskup dan setelahnya berpamitan dengan sekali lagi mencium tangan beliau.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Masuk ke dalam basilika, uskup berkunjung ke makam Santo Paulus. Beliau kemudian duduk diam di bangku umat yang menghadap ke altar utama, diam dan merenung, mungkin berdoa. Cukup lama beliau terdiam begitu, sebelum sakristi dibuka pada pukul 16:00 dan uskup dapat berganti busana untuk mulai misa pribadi. Misa kali ini dilaksanakan di Kapel San Lorenzo, sekitar 30 meter dari makam Santo Paulus. Entah mengapa, di depan kapel dipasang tali penghalang, sehingga tidak ada umat yang berani masuk. Jadi, tidak seperti misa di Basilika Santa Maria Maggiore, misa kali ini betul-betul adalah ekaristi pribadi beliau. Dengan menggunakan rumusan Misa Santo Paulus dalam bahasa Inggris, uskup mempersembahkan kurban ekaristi ini dengan dilayani MC-nya. Setelah menyampaikan terima kasih kepada imam yang mengurus sakristi, uskup kemudian berpamitan dan pulang kembali ke penginapan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Minggu, 7 September 2008 adalah hari terakhir ziarah pribadi Uskup Sutikno di Roma. Sore harinya beliau akan sudah harus masuk ke Collegio San Paolo untuk mengikuti berbagai acara kursus uskup. Hari Minggu ini merupakan kulminasi dari ziarah uskup di Roma, karena pada hari ini, di Basilika Santo Petrus di Vatikan, Msgr. Sutikno mendapat kesempatan untuk menjadi salah satu dari dua konselebran utama dalam Misa Agung dalam bahasa Latin, pukul 10:30.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Misa Agung ini dipimpin oleh Msgr. Dario Rezza, salah seorang Kanon Basilika Santo Petrus. Selain Uskup Sutikno, konselebran utama lainnya adalah juga seorang uskup. Kedua uskup ini duduk di samping kiri dan kanan Msgr. Rezza. Imam Agung Basilika Santo Petrus, &lt;a href="http://www.catholic-hierarchy.org/bishop/bcomastri.html"&gt;Angelo Kardinal Comastri&lt;/a&gt; juga hadir dalam misa agung ini namun tidak ikut berkonselebrasi. Mengenakan jubah merah, rochet, mozetta, salib pektoral dan biretta, beliau duduk di takhtanya didampingi dua uskup lainnya dengan busana yang sama berwarna ungu. Kardinal Comastri merupakan Imam Agung Basilika Santo Petrus yang ke-59 yang tercatat sejak tahun 1152. Beliau juga adalah Vikaris Jendral (Wakil) Bapa Suci untuk Kota Vatikan. Beliau lah yang memberikan ijin kepada Uskup Sutikno untuk menjadi konselebran dalam misa agung ini.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sungguh agung dan khidmat misa Latin dengan nyanyian Gregorian ini. Tidak kurang dari enam uskup, selusin monsignor Kanon Basilika Santo Petrus dan dua puluh imam berpartisipasi di dalamnya. Seorang Magister Caeremoniarum yang mengenakan jubah dan superpli mengatur seluruh bagian perayaan ekaristi ini, termasuk menunjukkan di mana Uskup Sutikno harus duduk serta memberi tanda saat beliau sebagai salah satu konselebran utama harus mengucapkan bagian Doa Syukur Agung dalam bahasa Latin. Umat dan peziarah memenuhi bangku-bangku yang disediakan dan banyak pula yang berdiri karena tak kebagian tempat duduk.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Buklet kecil dalam tiga bahasa yang disediakan cukup membantu umat dari berbagai bangsa untuk berpartisipasi aktif dalam misa Latin ini. Sebagian besar umat ikut menyanyikan ordinarium (Kyrie, Gloria, Credo dan Agnus Dei), aklamasi Sanctus, dan juga Pater Noster (Bapa Kami). Paus Benediktus XVI memang ingin memasyarakatkan kembali bahasa Latin. Saat ini, selain hari Minggu pagi pukul 10:30, setiap sore hari pukul 17:00 di Basilika Santo Petrus diadakan misa Latin dengan nyanyian Gregorian yang indah dan khidmat.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;a href="http://1.bp.blogspot.com/_6gXDFDHmxzU/SMzj6DHyiNI/AAAAAAAAAHI/GhoFLDiz964/s1600-h/Picture+fr+Mgr+081s.jpg"&gt;&lt;img id="BLOGGER_PHOTO_ID_5245818252389681362" style="FLOAT: right; MARGIN: 0px 10px 10px 0px; CURSOR: hand" alt="" src="http://1.bp.blogspot.com/_6gXDFDHmxzU/SMzj6DHyiNI/AAAAAAAAAHI/GhoFLDiz964/s320/Picture+fr+Mgr+081s.jpg" border="0" /&gt;&lt;/a&gt;Usai misa, masih mengenakan kasula, Msgr. Sutikno menyampaikan terima kasihnya kepada Kardinal Comastri atas kesempatan yang diberikan untuk berkonselebrasi di basilikanya. Kardinal menyambutnya dengan senyum ramah dan jabat tangan yang erat. Keduanya lalu ngobrol sejenak dan berfoto bersama untuk kenang-kenangan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Catatan: Artikel ini dimuat di Tabloid Rohani Jubileum yang diterbitkan oleh Keuskupan Surabaya, Edisi 103 &amp;amp; 104 - Tahun IX - Oktober &amp;amp; November 2008. Cuplikan dari artikel ini, dengan judul Uskup Surabaya Berkonselebrasi di Vatikan, dimuat dalam Majalah Liturgi yang diterbitkan oleh Komisi Liturgi KWI, Vol 19 No 6 - Nov-Des 2008.&lt;/p&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/2222578442435492672-8942539513092349696?l=tradisikatolik.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://tradisikatolik.blogspot.com/feeds/8942539513092349696/comments/default' title='Post Comments'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://tradisikatolik.blogspot.com/2008/09/ziarah-uskup-surabaya-di-roma.html#comment-form' title='2 Comments'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/2222578442435492672/posts/default/8942539513092349696'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/2222578442435492672/posts/default/8942539513092349696'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://tradisikatolik.blogspot.com/2008/09/ziarah-uskup-surabaya-di-roma.html' title='Ziarah Uskup Surabaya di Roma'/><author><name>Albert Wibisono</name><uri>http://www.blogger.com/profile/06599163203686361131</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='16' height='16' src='http://img2.blogblog.com/img/b16-rounded.gif'/></author><media:thumbnail xmlns:media='http://search.yahoo.com/mrss/' url='http://4.bp.blogspot.com/_6gXDFDHmxzU/SMy5qyZalRI/AAAAAAAAAF4/akcscyoIpcg/s72-c/Picture+fr+Mgr+025s.jpg' height='72' width='72'/><thr:total>2</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-2222578442435492672.post-8862869800841711140</id><published>2008-08-17T01:15:00.014+07:00</published><updated>2009-03-07T23:42:29.559+07:00</updated><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='Basilika'/><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='Misa'/><title type='text'>Pesta Salib Suci: Sebuah Tradisi Gereja Katolik</title><content type='html'>&lt;p align="left"&gt;&lt;a href="http://3.bp.blogspot.com/_6gXDFDHmxzU/SKcdGV6IPLI/AAAAAAAAAFo/ZXumz-p_6S8/s1600-h/St+Helena+in+Vatican.jpg"&gt;&lt;img id="BLOGGER_PHOTO_ID_5235185086638865586" style="FLOAT: left; MARGIN: 0px 10px 10px 0px; CURSOR: hand" alt="" src="http://3.bp.blogspot.com/_6gXDFDHmxzU/SKcdGV6IPLI/AAAAAAAAAFo/ZXumz-p_6S8/s200/St+Helena+in+Vatican.jpg" border="0" /&gt;&lt;/a&gt;Kalender liturgi gereja katolik mengenal beberapa tingkatan prioritas hari-hari liturgi. Yang terutama dari semuanya adalah Trihari Suci Paskah. Berikutnya menyusul Natal, Epifani (Penampakan Tuhan), Kenaikan dan Pentekosta. Urutan ini masih panjang. Penjelasan lebih lanjut dapat dibaca dalam Bina Liturgia 2: Pedoman Tahun Liturgi dan Penanggalan Liturgi, halaman 514-516. Di luar hari-hari yang secara khusus disebutkan, termasuk yang tersebut di atas, secara umum ada tiga kategori besar, berturut-turut mulai dari yang terutama, yaitu: Hari Raya (Solemnitas), Pesta (Festum) dan Peringatan (Memoriae). Pesta Salib Suci, sesuai namanya, termasuk kategori yang kedua, pesta atau festum, yang wajib dirayakan oleh semua gereja katolik.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Pesta Salib Suci yang dalam kalender liturgi gereja katolik disebut “In Exaltatione Sanctae Crucis” dirayakan tiap tahun pada tanggal 14 September. Pesta ini, seperti juga banyak perayaan liturgi yang lain, berawal dari Yerusalem. Ditemukannya salib asli Kristus oleh Santa Helena (foto atas), ibu Kaisar Romawi Konstantin, lah yang mengawali tradisi pesta ini. Sejarah mencatat bahwa setelah penemuan salib asli Kristus, sebuah basilika didirikan oleh Santa Helena di atas Makam Kudus Kristus. Basilika itu lalu diberkati dalam suatu perayaan yang sangat meriah dan khidmat selama dua hari berturut-turut, pada tanggal 13 dan 14 September tahun 335. Pemberkatan dirayakan oleh para uskup yang baru selesai mengikuti Konsili Tirus, ditambah dengan sejumlah besar uskup yang lain.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Tradisi berlanjut dan setiap tahun dirayakanlah Pesta Salib Suci di Yerusalem. Kekhidmatan perayaan ini menarik sejumlah besar biarawan dari Mesopotamia, Syria, Mesir dan dari provinsi-provinsi Romawi lainnya untuk datang ke Yerusalem. Setiap tahunnya, tidak kurang dari 40 uskup menempuh perjalanan jauh dari dioses mereka untuk menghadiri perayaan ini. Di Yerusalem pesta ini berlangsung selama 8 hari berturut-turut dan, pada masa itu, pesta ini menjadi suatu perayaan yang hampir sama pentingnya dengan Paskah dan Epifani. Pesta ini kemudian menyebar ke luar Yerusalem, mulai dari Konstantinopel (sekarang Istanbul) sampai ke Roma pada akhir abad ketujuh, dan akhirnya masuk ke dalam kalender liturgi gereja katolik sebagai suatu pesta wajib.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;a href="http://1.bp.blogspot.com/_6gXDFDHmxzU/SKhS3hicqaI/AAAAAAAAAFw/ut0eEMZjB5g/s1600-h/Holy+Sepulchre.jpg"&gt;&lt;img id="BLOGGER_PHOTO_ID_5235525680667339170" style="MARGIN: 0px 10px 10px 0px; CURSOR: hand; BLOCK: left" alt="" src="http://1.bp.blogspot.com/_6gXDFDHmxzU/SKhS3hicqaI/AAAAAAAAAFw/ut0eEMZjB5g/s320/Holy+Sepulchre.jpg" border="0" /&gt;&lt;/a&gt;&lt;br /&gt;Gambar di atas adalah pintu masuk ke Basilika Makam Kudus di Yerusalem. Area di dalam basilika ini dikapling-kapling dan digunakan oleh umat katolik bersama-sama dengan ortodoks Yunani, Armenia, Koptik dan Syria. Menarik sekali bahwa jalan masuk ke basilika ini sejak ratusan tahun yang lalu dipercayakan kepada dua keluarga muslim. Keluarga Joudeh memegang kuncinya dan keluarga Nusseibeh menjaga pintunya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Link: &lt;a href="http://saintpetersbasilica.org/Statues/StHelen/StHelen.htm"&gt;Patung Santa Helena di dalam Basilika Santo Petrus&lt;/a&gt;&lt;br /&gt;Link: &lt;a href="http://www.newadvent.org/cathen/04529a.htm"&gt;Salib Asli Kristus (New Advent Catholic Encylopedia)&lt;/a&gt;&lt;br /&gt;Link: &lt;a href="http://en.wikipedia.org/wiki/Church_of_the_Holy_Sepulchre"&gt;Basilika Makam Kudus (Wikipedia)&lt;/a&gt;&lt;br /&gt;Link: &lt;a href="http://www.christusrex.org/www1/jhs/TSspmenu.html"&gt;Basilika Makam Kudus (Fransiskan)&lt;/a&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Catatan: Artikel ini ditulis atas permintaan Paroki Salib Suci, Sidoarjo, untuk menyambut Pesta Salib Suci tanggal 14 September 2008.&lt;/p&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/2222578442435492672-8862869800841711140?l=tradisikatolik.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://tradisikatolik.blogspot.com/feeds/8862869800841711140/comments/default' title='Post Comments'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://tradisikatolik.blogspot.com/2008/08/pesta-salib-suci-sebuah-tradisi-kuno.html#comment-form' title='17 Comments'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/2222578442435492672/posts/default/8862869800841711140'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/2222578442435492672/posts/default/8862869800841711140'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://tradisikatolik.blogspot.com/2008/08/pesta-salib-suci-sebuah-tradisi-kuno.html' title='Pesta Salib Suci: Sebuah Tradisi Gereja Katolik'/><author><name>Albert Wibisono</name><uri>http://www.blogger.com/profile/06599163203686361131</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='16' height='16' src='http://img2.blogblog.com/img/b16-rounded.gif'/></author><media:thumbnail xmlns:media='http://search.yahoo.com/mrss/' url='http://3.bp.blogspot.com/_6gXDFDHmxzU/SKcdGV6IPLI/AAAAAAAAAFo/ZXumz-p_6S8/s72-c/St+Helena+in+Vatican.jpg' height='72' width='72'/><thr:total>17</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-2222578442435492672.post-5939295266347039550</id><published>2008-08-14T22:45:00.020+07:00</published><updated>2009-03-07T23:41:07.643+07:00</updated><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='Basilika'/><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='Paus'/><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='Busana'/><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='Katedral'/><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='Uskup'/><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='Magister Caeremoniarum (MC)'/><title type='text'>Katedral Paus Bukan Basilika Santo Petrus</title><content type='html'>&lt;p align="left"&gt;&lt;a href="http://4.bp.blogspot.com/_6gXDFDHmxzU/SKRd_CsF1lI/AAAAAAAAAFY/mHROwEtiZac/s1600-h/Cathedra+1.jpg"&gt;&lt;img id="BLOGGER_PHOTO_ID_5234412004546303570" style="FLOAT: right; MARGIN: 0px 0px 10px 10px; CURSOR: hand" alt="" src="http://4.bp.blogspot.com/_6gXDFDHmxzU/SKRd_CsF1lI/AAAAAAAAAFY/mHROwEtiZac/s200/Cathedra+1.jpg" border="0" /&gt;&lt;/a&gt; &lt;/p&gt;Mungkin enggak banyak yang tahu bahwa katedral paus bukan Basilika Santo Petrus di Vatikan. Memang bukan. Apa sih definisi gereja katedral? Bukan hanya sekedar gereja yang megah dan besar, katedral adalah gereja tempat kedudukan atau istana seorang uskup diosesan. Dinamakan gereja katedral karena di dalamnya pasti ada sebuah katedra (Latin: cathedra), yaitu takhta atau tempat duduk uskup. Takhta uskup ini letaknya di panti imam dan hanya dipakai oleh uskup setempat, atau uskup tamu yang diberi ijin untuk menggunakannya oleh sang uskup tuan rumah. Imam biasa tidak duduk di kursi ini. Bandingkan dengan takhta seorang raja yang ada di istananya. Hanya sang raja yang berhak menggunakannya. Begitulah kira-kira.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Nah, kembali ke katedral paus. Sebagai seorang uskup (Catatan: Paus adalah Uskup Roma), paus juga punya katedral dan di dalamnya tentu ada katedra atau takhtanya. Katedral paus sebagai Uskup Roma, tidak seperti dibayangkan banyak orang, adalah bukan Basilika Santo Petrus (dikenal juga dengan nama Basilika Vatikan). Katedral Uskup Roma adalah Basilika Santo Yohanes Lateran (dikenal juga dengan nama Basilika Lateran) yang ada di bagian lain kota Roma. Saat ini memang paus tidak lagi tinggal di Istana Lateran, tapi paus-paus terdahulu memang pernah tinggal di sana.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;p align="left"&gt;&lt;img id="BLOGGER_PHOTO_ID_5234411788252385570" style="MARGIN: 0px 10px 10px 0px; CURSOR: hand; BLOCK: left" alt="" src="http://2.bp.blogspot.com/_6gXDFDHmxzU/SKRdyc7mkSI/AAAAAAAAAFQ/akUZQAz6KX8/s320/Cathedra+3.jpg" border="0" /&gt;&lt;br /&gt;Foto hitam putih di ujung kanan atas adalah Paus Yohanes XXIII yang duduk di atas takhtanya di dalam Basilika Lateran. Foto berwarna di atas adalah Paus Paulus VI yang juga duduk di atas takhta, tapi bukan di dalam katedralnya. Foto ini diambil saat ia menutup Konsili Vatikan II di Basilika Santo Petrus. Di sebelah kiri (kelihatan sebagian) dan kanan paus adalah dua kardinal diakon yang mengenakan dalmatik (Catatan: Diakon mengenakan dalmatik, bukan kasula seperti imam. Bagian bawah dalmatik berbentuk persegi, tidak melengkung seperti kasula).&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;img id="BLOGGER_PHOTO_ID_5234418263061916530" style="MARGIN: 0px 10px 10px 0px; CURSOR: hand; BLOCK: left" alt="" src="http://3.bp.blogspot.com/_6gXDFDHmxzU/SKRjrVefa3I/AAAAAAAAAFg/k98gGRllmK0/s320/Lateran+Basilica.jpg" border="0" /&gt;&lt;br /&gt;Foto di atas adalah altar utama Basilika Lateran. Foto ini diambil pada hari Kamis Putih tahun 2007. Pada setiap hari Kamis Putih, paus selalu merayakan ekaristi di katedralnya, di Basilika Lateran. Di sana, setiap tahun, paus mencuci (dan mencium!) kaki 12 imam yang luar biasa beruntung!&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;img id="BLOGGER_PHOTO_ID_5234411504100353602" style="MARGIN: 0px 10px 10px 0px; CURSOR: hand; BLOCK: left" alt="" src="http://4.bp.blogspot.com/_6gXDFDHmxzU/SKRdh6YepkI/AAAAAAAAAFI/AV1OeqdToNQ/s320/Cathedra+2.jpg" border="0" /&gt;&lt;br /&gt;Kalau Anda kepingin tahu bagaimana model katedra atau takhta paus yang sekarang, perhatikan detail foto di atas atau klik di atas fotonya untuk memperbesar. Di foto ini Paus Benediktus XVI duduk di atas takhtanya di dalam Basilika Santo Yohanes Lateran. Duduk di sebelah kiri paus (dari arah pemirsa) adalah Monsignor William Millea, salah seorang seremoniarius paus. Hampir bisa dipastikan yang berada di sisi satunya adalah Magister Caeremoniarum-nya, Monsignor Guido Marini. Oh ya, kedua monsignor ini bukan uskup ya. Setidaknya, saat artikel ini ditulis mereka belum ditahbiskan sebagai uskup. Seperti pernah saya tulis di artikel yang lain, monsignor adalah sebutan kehormatan pejabat gereja dengan level tertentu, bukan melulu untuk uskup.&lt;/p&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/2222578442435492672-5939295266347039550?l=tradisikatolik.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://tradisikatolik.blogspot.com/feeds/5939295266347039550/comments/default' title='Post Comments'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://tradisikatolik.blogspot.com/2008/08/katedral-paus-bukan-basilika-santo.html#comment-form' title='0 Comments'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/2222578442435492672/posts/default/5939295266347039550'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/2222578442435492672/posts/default/5939295266347039550'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://tradisikatolik.blogspot.com/2008/08/katedral-paus-bukan-basilika-santo.html' title='Katedral Paus Bukan Basilika Santo Petrus'/><author><name>Albert Wibisono</name><uri>http://www.blogger.com/profile/06599163203686361131</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='16' height='16' src='http://img2.blogblog.com/img/b16-rounded.gif'/></author><media:thumbnail xmlns:media='http://search.yahoo.com/mrss/' url='http://4.bp.blogspot.com/_6gXDFDHmxzU/SKRd_CsF1lI/AAAAAAAAAFY/mHROwEtiZac/s72-c/Cathedra+1.jpg' height='72' width='72'/><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-2222578442435492672.post-113406166902096223</id><published>2008-08-14T20:48:00.012+07:00</published><updated>2009-03-07T23:49:04.766+07:00</updated><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='Koor'/><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='Gregorian'/><title type='text'>Belajar Baca Notasi Gregorian</title><content type='html'>&lt;p align="left"&gt;&lt;a href="http://2.bp.blogspot.com/_6gXDFDHmxzU/SKRJgGhXy4I/AAAAAAAAAEw/HycLyHZDKos/s1600-h/Gregorian+Manuscript+3.jpg"&gt;&lt;img id="BLOGGER_PHOTO_ID_5234389482766584706" style="FLOAT: left; MARGIN: 0px 10px 10px 0px; CURSOR: hand" alt="" src="http://2.bp.blogspot.com/_6gXDFDHmxzU/SKRJgGhXy4I/AAAAAAAAAEw/HycLyHZDKos/s200/Gregorian+Manuscript+3.jpg" border="0" /&gt;&lt;/a&gt;Pak Ignaz, seorang pembaca blog ini nanya kepada saya di mana bisa dapat lagu Gregorian dengan not angka. Wah, saya juga enggak tahu, sayang sekali. Memang, notasi lagu Gregorian bukan berupa angka seperti kebanyakan partitur lagu yang kita temui di Indonesia. Ini mungkin bisa jadi hambatan memasyarakatkan lagu Gregorian di Indonesia.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Saya sendiri akhirnya mengalah dan nggak berusaha mencari lagu Gregorian dengan not angka lagi. Saya lalu belajar membaca notasi Gregorian yang kotak-kotak itu. Eh, ternyata sama sekali tidak susah. Bahkan, setelah mengerti dan makin terbiasa, saya berpendapat bahwa not kotak-kotak itu jauh lebih memudahkan kita menyanyi lagu Gregorian. Kita jadi tahu kapan nyanyinya harus naik dan kapan harus turun. Sekedar info, saya nggak bisa membaca not balok. Saya juga nggak bisa bermain musik. Nah.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;a href="http://2.bp.blogspot.com/_6gXDFDHmxzU/SKQ_tKy7V3I/AAAAAAAAAEg/E2_Ylt26nyU/s1600-h/Gregorian+Clef.gif"&gt;&lt;img id="BLOGGER_PHOTO_ID_5234378712135980914" style="FLOAT: right; MARGIN: 0px 10px 10px 0px; CURSOR: hand" alt="" src="http://2.bp.blogspot.com/_6gXDFDHmxzU/SKQ_tKy7V3I/AAAAAAAAAEg/E2_Ylt26nyU/s320/Gregorian+Clef.gif" border="0" /&gt;&lt;/a&gt;Coba lihat gambar di sebelah ini. Gregorian itu cuman punya dua kunci, C dan F. Masing-masing kunci itu bisa berada di (mengapit) garis pertama, kedua, ketiga, atau keempat dari bawah. Apapun garis yang diapit oleh kunci C, not yang ada di garis itu bunyinya Do. Untuk yang kunci F ya tentunya Fa. Itu aja kok. Memang susah dijelaskan secara tertulis di sini, tapi saat tatap muka, saya cuman perlu waktu beberapa menit untuk menjelaskannya kepada anggota koor yang lain. Setelah sebulan membiasakan diri, mereka tidak pernah lagi minta partitur dengan not Gregorian diterjemahkan ke not angka. Memang, ini sekedar bisa baca yang gampang-gampang dulu. Kalau mau yang canggih mungkin perlu waktu lebih lama. Ada juga kok yang bertahun-tahun belajarnya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;a href="http://2.bp.blogspot.com/_6gXDFDHmxzU/SKRNgGmffWI/AAAAAAAAAE4/QbxIo30C0QM/s1600-h/Pater+Noster.gif"&gt;&lt;img id="BLOGGER_PHOTO_ID_5234393880834571618" style="FLOAT: left; MARGIN: 0px 10px 10px 0px; CURSOR: hand" alt="" src="http://2.bp.blogspot.com/_6gXDFDHmxzU/SKRNgGmffWI/AAAAAAAAAE4/QbxIo30C0QM/s320/Pater+Noster.gif" border="0" /&gt;&lt;/a&gt;Yuk kita pakai contoh yang sederhana. Di samping ini adalah lagu Pater Noster atau Bapa Kami (Puji Syukur 402). Lihat kuncinya, bandingkan dengan gambar di atas. Ini kunci C. Nah, kunci C di partitur ini mengapit garis ketiga dari bawah. Jadi, not yang ada di garis itu bunyinya Do, di atasnya Re, di bawahnya Si, dan seterusnya. Jadi, di partitur ini, not yang pertama bunyinya Sol, selanjutnya La, Si, Si .. La, Do, Si, La, Sol. Nggak susah kan menjelaskan ini kepada anggota koor?&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Saya punya artikel dari Crisis Magazine edisi May 2006, judulnya "An Idiot's Guide to Square Notes". Formatnya PDF, enam halaman A4, dalam bahasa Inggris. Nggak terlalu susah dimengerti kok. Kalau mau, saya bisa kirim artikel ini lewat e-mail. Tinggalin aja e-mail address Anda di bagian comment di bawah. Sorry, saya belum tahu gimana caranya attach file di sini, he3.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Juga, saya pernah belajar dari website &lt;a href="http://interletras.com/canticum/Eng/index1_Eng.html"&gt;Canticum Novum&lt;/a&gt; milik Schola Cantorum Bogotensis ini. Klik di &lt;a href="http://interletras.com/canticum/Eng/notation_ENG.htm"&gt;sini&lt;/a&gt; untuk langsung melihat halaman tentang notasi Gregorian. Selamat mencoba dan mengajarkan kepada anggota koor Anda. &lt;/p&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/2222578442435492672-113406166902096223?l=tradisikatolik.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://tradisikatolik.blogspot.com/feeds/113406166902096223/comments/default' title='Post Comments'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://tradisikatolik.blogspot.com/2008/08/belajar-baca-notasi-gregorian.html#comment-form' title='10 Comments'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/2222578442435492672/posts/default/113406166902096223'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/2222578442435492672/posts/default/113406166902096223'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://tradisikatolik.blogspot.com/2008/08/belajar-baca-notasi-gregorian.html' title='Belajar Baca Notasi Gregorian'/><author><name>Albert Wibisono</name><uri>http://www.blogger.com/profile/06599163203686361131</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='16' height='16' src='http://img2.blogblog.com/img/b16-rounded.gif'/></author><media:thumbnail xmlns:media='http://search.yahoo.com/mrss/' url='http://2.bp.blogspot.com/_6gXDFDHmxzU/SKRJgGhXy4I/AAAAAAAAAEw/HycLyHZDKos/s72-c/Gregorian+Manuscript+3.jpg' height='72' width='72'/><thr:total>10</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-2222578442435492672.post-8864954863495560013</id><published>2008-08-08T22:23:00.009+07:00</published><updated>2009-03-07T23:44:45.400+07:00</updated><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='Paus'/><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='Misa'/><title type='text'>Di Balik Dinding Tebal Vatikan</title><content type='html'>&lt;p align="left"&gt;&lt;a href="http://1.bp.blogspot.com/_6gXDFDHmxzU/SJxswXfV7aI/AAAAAAAAAEY/jEOZUJ6zPVQ/s1600-h/Inside+the+Vatican.jpg"&gt;&lt;img id="BLOGGER_PHOTO_ID_5232176445292670370" style="FLOAT: left; MARGIN: 0px 10px 10px 0px; CURSOR: hand" alt="" src="http://1.bp.blogspot.com/_6gXDFDHmxzU/SJxswXfV7aI/AAAAAAAAAEY/jEOZUJ6zPVQ/s200/Inside+the+Vatican.jpg" border="0" /&gt;&lt;/a&gt;Saya punya beberapa DVD dan CD Video yang bagus.  Beberapa saya beli di Roma, beberapa dari Indonesia (di toko buku dan juga lewat internet) dan ada juga yang dikasih teman-teman.  Yang dari Roma kebanyakan bikinan Vatican Television Center, stasiun televisi resmi Vatikan.  Habis nonton video-video ini mungkin lebih banyak lagi yang mengerti kenapa kita patut bangga menjadi orang katolik dan kenapa kita perlu melestarikan kekayaan tradisi gereja kita.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Memang, mengkopi video-video ini sama dengan membajak. Saya enggak sreg membajak barang bikinan gereja. Meski begitu, rasanya tidak terlalu salah kalau memutarnya dengan tidak memungut biaya untuk kalangan terbatas, misalnya untuk pertemuan kelompok di paroki dan lain sebagainya. Nah, kalau waktunya cocok dan lokasinya masih di sekitar Surabaya atau Jakarta, saya bersedia diundang untuk memutar video-video ini, sekaligus menjelaskan berbagai detail tradisi katolik yang ada di dalamnya. Hampir semua video-video ini berbahasa Inggris dan hanya beberapa yang ada teks bahasa Indonesianya. Pemirsa dengan bahasa Inggris pas-pasan pun akan tetap bisa menikmati dengan menyimak penjelasan saya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Berikut adalah tiga yang paling saya suka:&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;strong&gt;&lt;a href="http://www.hdhcommunications.com/index.php?main_page=product_info&amp;amp;cPath=2_3&amp;amp;products_id=19"&gt;Tu Es Petrus&lt;/a&gt;&lt;/strong&gt; (60 menit):&lt;br /&gt;Tu es Petrus, et super hanc petram aedificabo Ecclesiam meam (Engkau adalah Petrus dan di atas batu karang ini Aku akan mendirikan jemaat-Ku, Mat 16:18). Video ini menyajikan rekaman peristiwa-peristiwa dramatis di tahun 2005: memburuknya kesehatan Paus Yohanes Paulus II, hari-hari terakhirnya, wafat dan pemakamannya, persiapan konklaf, sampai dengan terpilihnya paus baru Benedictus XVI. Sangat menarik dan menyentuh.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;strong&gt;&lt;a href="http://www.hdhcommunications.com/index.php?main_page=product_info&amp;amp;cPath=2_3&amp;amp;products_id=41"&gt;Concilium Vaticanum II&lt;/a&gt;&lt;/strong&gt; (60 menit):&lt;br /&gt;Video ini menyajikan cuplikan peristiwa-peristiwa seputar persiapan dan pelaksanaan Konsili Vatikan II yang diprakarsai oleh Paus Yohanes XXIII. Di sini nampak sekali keagungan gereja katolik kita dengan berbagai tradisinya yang telah berabad-abad umurnya. Sangat menarik dan agung.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;strong&gt;&lt;a href="http://www.amazon.com/gp/product/B00005UF86/ref=s9subs_c3_img1-rfc_p?pf_rd_m=ATVPDKIKX0DER&amp;amp;pf_rd_s=center-2&amp;amp;pf_rd_r=1WWWSV9KJ4763R11ZFEZ&amp;amp;pf_rd_t=101&amp;amp;pf_rd_p=278240301&amp;amp;pf_rd_i=507846"&gt;Inside the Vatican&lt;/a&gt;&lt;/strong&gt; (50 menit):&lt;br /&gt;Video ini membuka mata kita tentang isi Vatikan yang tidak akan pernah dilihat oleh orang awam pada umumnya. Ada wawancara dan juga cerita tentang orang-orang yang bekerja di dalamnya, mulai dari Paus dan para Kardinal sampai ke pengawal dari Swiss, tukang foto dan tukang kebun paus, serta para ahli yang merawat berbagai koleksi Museum Vatikan yang tak ternilai harganya. Saya punya dua versi, bikinan National Geographic dan Discovery Channel; keduanya dilengkapi teks bahasa Indonesia. Sangat menarik dan cocok untuk semua orang dari semua golongan umur.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Selain itu, ada juga beberapa yang lain, seperti: Discovering the Vatican (4 DVD), &lt;a href="http://www.ewtnreligiouscatalogue.com/SOLEMN+FUNERAL+MASS+OF+POPE+JOHN+PAUL+II+DVD/keywords=funeral+mass/page_no=1/edp_no=6189/shop.axd/ProductDetails"&gt;Misa Pemakaman Paus Yohanes Paulus II&lt;/a&gt; dan &lt;a href="http://www.ewtnreligiouscatalogue.com/SOLEMN+INAUGURAL+MASS+OF+POPE+BENEDICT+XVI+DVD/keywords=solemn+mass/page_no=1/edp_no=6006/shop.axd/ProductDetails"&gt;Misa Penobatan Paus Benediktus XVI&lt;/a&gt;. Tiga judul DVD terakhir ini sangat detail, mungkin hanya cocok untuk penikmat seni atau pecinta liturgi dan tradisi gereja katolik.&lt;/p&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/2222578442435492672-8864954863495560013?l=tradisikatolik.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://tradisikatolik.blogspot.com/feeds/8864954863495560013/comments/default' title='Post Comments'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://tradisikatolik.blogspot.com/2008/08/di-balik-dinding-tebal-vatikan.html#comment-form' title='4 Comments'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/2222578442435492672/posts/default/8864954863495560013'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/2222578442435492672/posts/default/8864954863495560013'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://tradisikatolik.blogspot.com/2008/08/di-balik-dinding-tebal-vatikan.html' title='Di Balik Dinding Tebal Vatikan'/><author><name>Albert Wibisono</name><uri>http://www.blogger.com/profile/06599163203686361131</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='16' height='16' src='http://img2.blogblog.com/img/b16-rounded.gif'/></author><media:thumbnail xmlns:media='http://search.yahoo.com/mrss/' url='http://1.bp.blogspot.com/_6gXDFDHmxzU/SJxswXfV7aI/AAAAAAAAAEY/jEOZUJ6zPVQ/s72-c/Inside+the+Vatican.jpg' height='72' width='72'/><thr:total>4</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-2222578442435492672.post-7047140773861821122</id><published>2008-07-30T18:46:00.014+07:00</published><updated>2009-03-07T23:47:53.305+07:00</updated><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='Koor'/><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='Gregorian'/><title type='text'>Lagu Latin = Lagu Gregorian?</title><content type='html'>&lt;p align="left"&gt;&lt;a href="http://www.ibiblio.org/expo/vatican.exhibit/exhibit/e-music/images/music24.jpg"&gt;&lt;img style="FLOAT: left; MARGIN: 0px 10px 10px 0px; WIDTH: 200px; CURSOR: hand" alt="" src="http://www.ibiblio.org/expo/vatican.exhibit/exhibit/e-music/images/music24.jpg" border="0" /&gt;&lt;/a&gt;Saya gembira melihat perkembangan paduan suara di Surabaya. Belakangan ini saya banyak mendengar lagu-lagu bahasa Latin dinyanyikan dalam misa kudus. Masyarakat kota memang cepat menyerap budaya asing, khususnya bila dianggap baik, cocok, atau lebih superior dari budaya lokal.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Ada dua hal yang ingin saya bahas di sini. Yang pertama, perlu kita pahami bahwa tidak semua lagu dalam bahasa Latin bisa dibilang lagu Gregorian. Banyak yang tidak sadar akan hal ini dan mengatakan bahwa, “Koor saya sekarang menyanyi Gregorian loh.” Atau, “Kami ikut lomba paduan suara khusus lagu-lagu komuni Gregorian.” Sangat mungkin yang mereka maksud adalah lagu-lagu dalam bahasa Latin, yang belum tentu berirama Gregorian.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Nah, sebaliknya, tidak semua lagu Gregorian berbahasa Latin. Di Puji Syukur ada beberapa contoh lagu Gregorian yang sudah diterjemahkan ke dalam bahasa Indonesia, seperti: PS 501 Mari Kita Memadahkan (Pange Lingua), PS 565 Datanglah Ya Roh Pencipta (Veni Creator Spiritus). Tentu, ada juga lagu Gregorian dalam bahasa Inggris dan lain-lain.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Yang berikut ini saya kutip dari bagian Pengantar di CD “&lt;a href="http://geraldineandriani.wordpress.com/2007/09/20/schola-iacartensis-new-album-gregorian-chants/"&gt;In Nomine Patris: Cantus Gregorianus&lt;/a&gt;”, yang dibikin teman-teman dari Schola Iacartensis*:&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Ciri khas nyanyian Gregorian adalah bahwa nyanyiannya mengungkapkan isi kata (Latin), tanpa irama tetap (ketukan), tetapi dengan berpangkal pada aksen dan arti kata. Seperti layaknya lantunan sebuah syair, gerak naik turunnya melodi mengikuti gerak aksen dalam sebuah kata dan makna kata dalam keseluruhan frase. Maka dapat dikatakan bahwa nyanyian atau melodi Gregorian ini tumbuh dari kata-kata, yang umumnya diambil dari teks Kitab Suci.”&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Kalau ada waktu, nggak ada salahnya baca artikel Wikipedia ini mengenai &lt;a href="http://en.wikipedia.org/wiki/Gregorian_chant"&gt;Lagu Gregorian&lt;/a&gt;.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Hal kedua yang ingin saya bahas, soal pilihan teks lagu untuk misa. Banyak pemimpin paduan suara memilih lagu-lagu yang melodinya enak untuk dinyanyikan dan didengar. Kadang kita kurang memikirkan kecocokan teksnya. Apalagi kalau teksnya berbahasa Inggris, atau Latin, yang kurang dipahami. Saya berikan contoh yang gampang dimengerti. Minggu malam yang lalu saya ikut misa di suatu paroki. Koornya menyanyikan tiga buah lagu komuni, dua di antaranya dalam bahasa Latin. Teksnya lagu pertama begini bunyinya:&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;em&gt;Gloria, gloria, gloria, gloria.&lt;br /&gt;Gloria, gloria, glory Deo. …&lt;br /&gt;&lt;/em&gt;&lt;br /&gt;Lagu yang kedua begini bunyinya:&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;em&gt;Dona, dona nobis pacem.&lt;br /&gt;Dona nobis pacem, pacem. …&lt;br /&gt;&lt;/em&gt;&lt;br /&gt;Wah, ini pilihan teks yang kurang pas buat lagu komuni lah. Yang pertama kurang pas karena madah untuk memuliakan Tuhan sudah dinyanyikan di ritus pembuka. Memang di situ tempatnya, bukan saat komuni. Yang kedua sebetulnya nggak terlalu masalah, cuman memang itu bukan teks lagu yang paling cocok untuk mengiringi komuni. Jauh lebih cocok lagu berikut dalam bahasa Indonesia yang mereka juga nyanyikan:&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;em&gt;Aku rindu akan Tuhan, dalam sakramen terkudus.&lt;br /&gt;Aku rindu menerima, Yesus Allah manusia. ...&lt;br /&gt;&lt;/em&gt;&lt;br /&gt;Memang, mudah sekali kita salah di sini. Saya juga baru sadar benar akhir-akhir ini kok. Beberapa bulan yang lalu, paduan suara wilayah yang juga saya ikuti menyanyi sebuah lagu komuni dalam bahasa Inggris yang enak sekali didengar. Di bagian penutup ada tambahan yang bunyinya:&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;em&gt;Nearer my God to Thee, nearer to Thee.&lt;br /&gt;&lt;/em&gt;&lt;br /&gt;Lho, itu teks lagu yang cocok untuk upacara kematian**, he3 :)  [Catatan: Ada koreksi dari seorang pembaca blog ini, beliau benar dan saya salah, silakan baca di bagian komentar]&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-size:85%;"&gt;&lt;em&gt;* Tiap bulan teman-teman dari Schola Iacartensis menyanyi dalam misa Latin yang diselenggarakan secara rutin di Kapel Paroki St. Yosef Matraman, Jakarta. Klik di &lt;a href="http://misalatinjakarta.blogspot.com/"&gt;sini&lt;/a&gt; untuk melihat Blog mereka.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;/em&gt;&lt;/span&gt;&lt;span style="font-size:85%;"&gt;&lt;em&gt;** Ingat lagu yang dimainkan orkes kamar dalam film Titanic, persis sebelum kapalnya tenggelam? Lagu itu judulnya Nearer My God to Thee. Di Puji Syukur ada versi bahasa Indonesia dengan melodi yang sama dan dengan terjemahan bebas. Judulnya Tuhan Berikanlah (Istirahat). Memang, keduanya adalah lagu untuk upacara kematian.&lt;/em&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/2222578442435492672-7047140773861821122?l=tradisikatolik.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://tradisikatolik.blogspot.com/feeds/7047140773861821122/comments/default' title='Post Comments'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://tradisikatolik.blogspot.com/2008/07/lagu-latin-lagu-gregorian.html#comment-form' title='2 Comments'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/2222578442435492672/posts/default/7047140773861821122'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/2222578442435492672/posts/default/7047140773861821122'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://tradisikatolik.blogspot.com/2008/07/lagu-latin-lagu-gregorian.html' title='Lagu Latin = Lagu Gregorian?'/><author><name>Albert Wibisono</name><uri>http://www.blogger.com/profile/06599163203686361131</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='16' height='16' src='http://img2.blogblog.com/img/b16-rounded.gif'/></author><thr:total>2</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-2222578442435492672.post-4612578197665410174</id><published>2008-06-29T16:15:00.008+07:00</published><updated>2009-03-07T23:47:02.162+07:00</updated><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='Paus'/><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='Busana'/><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='Imam'/><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='Misa'/><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='Kardinal'/><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='Misdinar'/><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='Uskup'/><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='Koor'/><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='Magister Caeremoniarum (MC)'/><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='Schola Cantorum Surabaiensis'/><title type='text'>Collar Putih = Imam?</title><content type='html'>&lt;div&gt;&lt;div&gt;&lt;div&gt;&lt;div&gt;&lt;p align="left"&gt;&lt;a href="http://4.bp.blogspot.com/_6gXDFDHmxzU/SGdUwqYYZxI/AAAAAAAAADA/pQLEK1SVY9M/s1600-h/_RAD0146.JPG"&gt;&lt;img id="BLOGGER_PHOTO_ID_5217231888319014674" style="MARGIN: 0px 10px 10px 0px; CURSOR: hand; BLOCK: left" alt="" src="http://4.bp.blogspot.com/_6gXDFDHmxzU/SGdUwqYYZxI/AAAAAAAAADA/pQLEK1SVY9M/s320/_RAD0146.JPG" border="0" /&gt;&lt;/a&gt;&lt;br /&gt;Banyak pertanyaan timbul ketika umat melihat para anggota Schola Cantorum Surabaiensis (foto atas) tampil dengan seragam kebesarannya, jubah hitam dengan collar putih dan superpli. Kebanyakan bertanya, ”Apa mereka semua imam?” Jawabnya adalah, ”Bukan, tidak seorangpun dari mereka adalah imam.” Lalu, ”Kenapa mereka semua memakai collar putih?” Memang, di Indonesia ada anggapan bahwa collar putih merupakan identitas imam, sehingga hanya imam yang memakainya. Ini merupakan anggapan yang kurang benar. Dalam berbagai upacara liturgi—termasuk perayaan ekaristi—di Vatikan dan negara barat lainnya, collar putih itu selalu dikenakan bersama jubah oleh para pelayan, termasuk di antaranya misdinar dan anggota koor. Untuk lebih jelasnya, perhatikan beberapa foto berikut ini.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;img id="BLOGGER_PHOTO_ID_5217233079624818034" style="MARGIN: 0px 10px 10px 0px; CURSOR: hand; BLOCK: left" alt="" src="http://2.bp.blogspot.com/_6gXDFDHmxzU/SGdV2AV0XXI/AAAAAAAAADI/dYhcNriTbms/s320/Acolyte+1.jpg" border="0" /&gt;&lt;br /&gt;Seorang misdinar memegang Buku Misa Romawi di hadapan Paus. Perhatikan collar putih yang ia kenakan bersama dengan jubah hitam dan superpli. Ia mengenakan roman collar dari plastik yang melingkari seluruh lehernya, bukan hanya slip collar warna putih kecil yang dimasukkan ke bagian depan kerah jubah.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;a href="http://1.bp.blogspot.com/_6gXDFDHmxzU/SGdYCzzwGxI/AAAAAAAAADQ/cD4agOxt7S8/s1600-h/Acolyte+2.jpg"&gt;&lt;img id="BLOGGER_PHOTO_ID_5217235498622262034" style="MARGIN: 0px 10px 10px 0px; CURSOR: hand; BLOCK: left" alt="" src="http://1.bp.blogspot.com/_6gXDFDHmxzU/SGdYCzzwGxI/AAAAAAAAADQ/cD4agOxt7S8/s320/Acolyte+2.jpg" border="0" /&gt;&lt;/a&gt;&lt;br /&gt;Perhatikan misdinar yang berprosesi bersama Bernard Kardinal Law, semuanya mengenakan jubah hitam dengan roman collar dan superpli.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;a href="http://1.bp.blogspot.com/_6gXDFDHmxzU/SGdYkmBZG2I/AAAAAAAAADY/UrBg82PfOy0/s1600-h/Acolyte+3.jpg"&gt;&lt;img id="BLOGGER_PHOTO_ID_5217236079036930914" style="MARGIN: 0px 10px 10px 0px; CURSOR: hand; BLOCK: left" alt="" src="http://1.bp.blogspot.com/_6gXDFDHmxzU/SGdYkmBZG2I/AAAAAAAAADY/UrBg82PfOy0/s320/Acolyte+3.jpg" border="0" /&gt;&lt;/a&gt;&lt;br /&gt;Perhatikan misdinar pembawa tongkat gembala Paus yang berupa salib (paling kanan) dan seorang lagi pembawa buku Misale Romawi (nomor dua dari kanan); mereka mengenakan jubah hitam dengan roman collar dan superpli. Pembawa salib Paus juga mengenakan velum untuk memegang salib, yang secara tidak langsung berfungsi untuk menyatakan bahwa ia adalah pelayan, bukan pemilik salib itu. Dua pelayan lain dengan jubah ungu dengan roman collar dan superpli adalah para seremoniarius. Uskup Agung Piero Marini (dengan rambut putih) di foto ini adalah MC Kepausan saat foto ini diambil.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;a href="http://3.bp.blogspot.com/_6gXDFDHmxzU/SGdZMwtCEpI/AAAAAAAAADg/sxLDS5-Mx_I/s1600-h/Acolyte+4.jpg"&gt;&lt;img id="BLOGGER_PHOTO_ID_5217236769099092626" style="MARGIN: 0px 10px 10px 0px; CURSOR: hand; BLOCK: left" alt="" src="http://3.bp.blogspot.com/_6gXDFDHmxzU/SGdZMwtCEpI/AAAAAAAAADg/sxLDS5-Mx_I/s320/Acolyte+4.jpg" border="0" /&gt;&lt;/a&gt;&lt;br /&gt;Perhatikan Uskup Agung Piero Marini dan seorang misdinar pembawa tongkat gembala Paus (tampak sebagian saja, ia mengenakan velum) dan seorang lagi misdinar pembawa buku Misale Romawi. Mereka semua mengenakan roman collar.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;a href="http://2.bp.blogspot.com/_6gXDFDHmxzU/SGdZ4rziZOI/AAAAAAAAADo/SybU765yAH0/s1600-h/Acolyte+5.jpg"&gt;&lt;img id="BLOGGER_PHOTO_ID_5217237523698443490" style="MARGIN: 0px 10px 10px 0px; CURSOR: hand; BLOCK: left" alt="" src="http://2.bp.blogspot.com/_6gXDFDHmxzU/SGdZ4rziZOI/AAAAAAAAADo/SybU765yAH0/s320/Acolyte+5.jpg" border="0" /&gt;&lt;/a&gt;&lt;br /&gt;Perhatikan seremoniarius Mgr. Giulio Vivani dengan jubah ungu dan seorang misdinar pembawa mitra Paus (ia mengenakan velum), keduanya mengenakan roman collar. (Catatan: Monsignor adalah sebutan kehormatan pejabat gereja dengan level tertentu, bukan melulu untuk uskup.)&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;a href="http://3.bp.blogspot.com/_6gXDFDHmxzU/SGdaYPI1yhI/AAAAAAAAADw/sBuVWjZoiOI/s1600-h/Acolyte+6.jpg"&gt;&lt;img id="BLOGGER_PHOTO_ID_5217238065758980626" style="MARGIN: 0px 10px 10px 0px; CURSOR: hand; BLOCK: left" alt="" src="http://3.bp.blogspot.com/_6gXDFDHmxzU/SGdaYPI1yhI/AAAAAAAAADw/sBuVWjZoiOI/s320/Acolyte+6.jpg" border="0" /&gt;&lt;/a&gt;&lt;br /&gt;Perhatikan Uskup Agung Piero Marini (kanan), MC Kepausan saat itu dan Mgr. Francesco Camaldo, Dekan Korps Seremoniarius Paus, yang mengenakan jubah ungu. Mgr. Marini mengenakan salib pektoral (salib dada), tanda bahwa ia seorang uskup. Mgr. Camaldo, bukan uskup, tidak mengenakan salib pektoral. Di belakang Mgr. Marini adalah misdinar pembawa tongkat dan di belakang Mgr. Camaldo adalah misdinar pembawa mitra, keduanya mengenakan velum. Misdinar yang berjalan di paling belakang bertugas membawa buku Misale Romawi. Mereka semuanya mengenakan roman collar.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;a href="http://2.bp.blogspot.com/_6gXDFDHmxzU/SGdanyUt1BI/AAAAAAAAAD4/uuKPXyEDcSg/s1600-h/Acolyte+7.jpg"&gt;&lt;img id="BLOGGER_PHOTO_ID_5217238332902069266" style="MARGIN: 0px 10px 10px 0px; CURSOR: hand; BLOCK: left" alt="" src="http://2.bp.blogspot.com/_6gXDFDHmxzU/SGdanyUt1BI/AAAAAAAAAD4/uuKPXyEDcSg/s320/Acolyte+7.jpg" border="0" /&gt;&lt;/a&gt;&lt;br /&gt;Perhatikan para misdinar ini, mereka mengenakan jubah dengan slip collar dari plastik (bukan roman collar) yang diselipkan di kerah jubah mereka.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Kedua foto berikut ini diambil di Bukit Zaitun, Israel. Mereka adalah anggota koor yang berprosesi pada hari Minggu Palma.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;a href="http://3.bp.blogspot.com/_6gXDFDHmxzU/SGdbHDxdyCI/AAAAAAAAAEA/3m8RQJ13Lv4/s1600-h/Choir+1.jpg"&gt;&lt;img id="BLOGGER_PHOTO_ID_5217238870161999906" style="MARGIN: 0px 10px 10px 0px; CURSOR: hand; BLOCK: left" alt="" src="http://3.bp.blogspot.com/_6gXDFDHmxzU/SGdbHDxdyCI/AAAAAAAAAEA/3m8RQJ13Lv4/s320/Choir+1.jpg" border="0" /&gt;&lt;/a&gt;&lt;br /&gt;&lt;a href="http://3.bp.blogspot.com/_6gXDFDHmxzU/SGdbSuNbBJI/AAAAAAAAAEI/Y5j_H_ECzJs/s1600-h/Choir+3.jpg"&gt;&lt;img id="BLOGGER_PHOTO_ID_5217239070532109458" style="MARGIN: 0px 10px 10px 0px; CURSOR: hand; BLOCK: left" alt="" src="http://3.bp.blogspot.com/_6gXDFDHmxzU/SGdbSuNbBJI/AAAAAAAAAEI/Y5j_H_ECzJs/s320/Choir+3.jpg" border="0" /&gt;&lt;/a&gt;&lt;br /&gt;Lalu, bagaimana membedakan pemakai collar putih yang kardinal, uskup, imam, diakon atau pelayan biasa? Yang jelas, pelayan tak tertahbis (akolit, misdinar atau anggota koor) hanya memakai jubah dengan collar putih pada saat upacara liturgi. Mereka tidak memakai jubah dan collar putih di luar upacara liturgi atau bahkan untuk sehari-hari. Dalam upacara liturgi, antara pelayan tertahbis dan tidak biasanya dapat dibedakan dari asesoris lain yang dipakai, misalnya stola, salib pektoral, mitra dan lain sebagainya. Untuk lebih jelasnya, silakan baca tulisan-tulisan saya yang lain tentang busana liturgi.&lt;/p&gt;&lt;/div&gt;&lt;/div&gt;&lt;/div&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/2222578442435492672-4612578197665410174?l=tradisikatolik.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://tradisikatolik.blogspot.com/feeds/4612578197665410174/comments/default' title='Post Comments'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://tradisikatolik.blogspot.com/2008/06/collar-putih-imam.html#comment-form' title='23 Comments'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/2222578442435492672/posts/default/4612578197665410174'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/2222578442435492672/posts/default/4612578197665410174'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://tradisikatolik.blogspot.com/2008/06/collar-putih-imam.html' title='Collar Putih = Imam?'/><author><name>Albert Wibisono</name><uri>http://www.blogger.com/profile/06599163203686361131</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='16' height='16' src='http://img2.blogblog.com/img/b16-rounded.gif'/></author><media:thumbnail xmlns:media='http://search.yahoo.com/mrss/' url='http://4.bp.blogspot.com/_6gXDFDHmxzU/SGdUwqYYZxI/AAAAAAAAADA/pQLEK1SVY9M/s72-c/_RAD0146.JPG' height='72' width='72'/><thr:total>23</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-2222578442435492672.post-8296331384732917467</id><published>2008-06-28T13:42:00.018+07:00</published><updated>2009-03-07T23:50:07.868+07:00</updated><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='Koor'/><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='Gregorian'/><title type='text'>Lagu Gregorian? Kuno? Bukan Jamannya?</title><content type='html'>&lt;p align="left"&gt;&lt;a href="http://2.bp.blogspot.com/_6gXDFDHmxzU/SGX6l70bm1I/AAAAAAAAABY/HuROKsJ0ZKE/s1600-h/Gregorian+Manuscript.jpg"&gt;&lt;img id="BLOGGER_PHOTO_ID_5216851272998296402" style="FLOAT: left; MARGIN: 0px 10px 10px 0px; CURSOR: hand" alt="" src="http://2.bp.blogspot.com/_6gXDFDHmxzU/SGX6l70bm1I/AAAAAAAAABY/HuROKsJ0ZKE/s200/Gregorian+Manuscript.jpg" border="0" /&gt;&lt;/a&gt;Sepuluh tahun yang lalu, mungkin saya akan setuju dengan pernyataan bahwa lagu dan musik Gregorian adalah bagian dari masa lalu dan kurang cocok untuk dipakai pada masa sekarang ini. Sepuluh tahun yang lalu, mungkin saya akan setuju bahwa lagu dan musik Gregorian, yang tidak saya mengerti artinya, bikin kita makin ngantuk di gereja.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sepuluh tahun yang lalu, saya kembali ke Indonesia dari studi di Amerika Serikat. Di sana saya dan istri tinggal di sebuah kota kecil dekat San Francisco. Hampir tiap minggu kami ikut misa di suatu gereja kecil di dekat apartemen kami. Suasananya benar-benar menyenangkan. Misa hari Minggu malam selalu dilayani oleh koor orang-orang keturunan Filipina, dengan iringan piano yang dimainkan oleh seorang suster berkulit putih. Indah sekali lagu-lagu bahasa Inggris dan (sesekali) Tagalog yang mereka bawakan. Melodinya mudah diikuti, lagunya tenang dan menyentuh hati. Bukan sekali dua saya menangis dalam misa, khususnya pada saat komuni. Sampai saat itu, belum pernah dalam hidup ini saya mendengar piano digunakan mengiringi koor gereja. Di tangan piawai Suster Helen, musik dari grand piano di gereja kecil itu amat menyentuh hati saya dan istri. Sepulangnya dari Amerika, tentulah saya ingin hal yang indah itu ada di Surabaya. Saya memesan berbagai macam partitur lagu bahasa Inggris dari &lt;a href="http://www.ocp.org/"&gt;Oregon Catholic Press&lt;/a&gt; dan mulai memperkenalkannya kepada beberapa kelompok koor yang saya tahu. Lama kelamaan orang mulai terbiasa mendengar kelompok koor menyanyikan lagu bahasa Inggris dalam misa. Karena grand piano tidak ada di gereja manapun di Surabaya, sesekali saya menyewa Clavinova (piano elektrik) dari rumah musik yang ada. Efeknya tidak sehebat grand piano tentu, tapi lumayan untuk membawa perubahan suasana di dalam misa. Sesuatu yang baru waktu itu, untuk gereja yang biasanya hanya menggunakan organ elektrik (=keyboard!). Saya gembira sekali waktu akhirnya Romo Jelantik membeli Clavinova untuk Katedral Hati Kudus Yesus. Belakangan Gereja Santo Yakobus juga membeli Clavinova. Saya puas bisa ikut memperkenalkan sesuatu yang baru dan indah, agar perayaan ekaristi kita menjadi lebih khidmat. Itu sepuluh tahun yang lalu.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;a href="http://2.bp.blogspot.com/_6gXDFDHmxzU/SGXxX6lfDVI/AAAAAAAAABI/Uhvlf6HfuPo/s1600-h/Gregorian+Manuscript.jpg"&gt;&lt;/a&gt;&lt;a href="http://2.bp.blogspot.com/_6gXDFDHmxzU/SGYAfNjJEuI/AAAAAAAAABo/eNjYudaIDdo/s1600-h/Pipe+Organ.jpg"&gt;&lt;img id="BLOGGER_PHOTO_ID_5216857754568299234" style="FLOAT: right; MARGIN: 0px 10px 10px 0px; CURSOR: hand" alt="" src="http://2.bp.blogspot.com/_6gXDFDHmxzU/SGYAfNjJEuI/AAAAAAAAABo/eNjYudaIDdo/s320/Pipe+Organ.jpg" border="0" /&gt;&lt;/a&gt;Empat tahun yang lalu, saya dan istri berkesempatan berjalan-jalan di beberapa negara di Eropa, termasuk Prancis dan Italia. Bukan kunjungan saya yang pertama ke Eropa memang, tapi baru saat itulah Tuhan menunjukkan kepada saya keindahan musik gereja katolik yang sebenarnya. Bersama istri, saya berkesempatan mengikuti misa hari Minggu di sebuah &lt;a href="http://en.wikipedia.org/wiki/%C3%83%E2%80%B0glise_Saint-Eustache,_Paris"&gt;gereja besar nan agung, St. Eustache di Paris&lt;/a&gt;. Baru kali itu saya mendengar organ pipa raksasa dimainkan dalam suatu perayaan ekaristi. Tergerak luar biasa perasaan saya, benar-benar sulit untuk digambarkan dengan kata-kata. Lantai dan bangku-bangku gereja bergetar saat nada-nada rendah dimainkan bergantian dengan nada-nada tinggi. Saya merasa bagai di surga. Benar-benar indah dan menyentuh hati. Inilah musik gereja katolik yang dilupakan orang. Atau, lebih tepatnya, inilah musik gereja katolik yang tidak pernah diketahui oleh sebagian besar dari kita di Indonesia. Baru saat itu saya mengerti mengapa Vatikan meminta “ … organ pipa harus diberikan tempat yang terhormat dalam gereja Latin … ” (Musicam Sacram 62). Di Indonesia, belum pernah saya mendengarkan bunyi organ pipa asli yang sangat indah. Paling-paling hanya organ elektrik atau keyboard elektrik, dan itupun seringkali mengeluarkan bunyi lain, bukan bunyi organ pipa. Percayalah, lain sekali bunyi organ pipa asli dibandingkan dengan bunyi organ elektrik yang paling bagus sekalipun. Denting piano elektrik atau Clavinova mungkin bisa mendekati bunyi asli grand piano, tapi tidak demikian dengan organ pipa yang sama sekali tidak membutuhkan sound system tambahan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Seperti kata peribahasa, tak kenal maka tak sayang. Organ pipa memang tidak murah, tapi juga tidak semahal yang dibayangkan orang. Saya berharap, suatu saat untuk Katedral Hati Kudus Yesus ada donatur yang mau menyumbang organ pipa, agar umat Keuskupan Surabaya dapat mengenal dan merasakan betapa agungnya musik tradisional gereja katolik kita. Tentunya, perlu juga didatangkan organis hebat dari luar negeri untuk mengajar para organis kita memainkan organ pipa dengan baik dan benar. Perlukah ini semua? Untuk Tuhan kita berikan yang terbaik bukan? Kenapa harus puas dengan yang biasa-biasa saja kalau bisa kita berikan yang terbaik? Mau gereja katolik makin berkembang? Berikan yang terbaik, seperti yang dilakukan gereja-gereja non katolik yang berkembang dengan pesatnya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;a href="http://4.bp.blogspot.com/_6gXDFDHmxzU/SGYdWprJw8I/AAAAAAAAACQ/UWQ947GCA00/s1600-h/Gregorian+Manuscript+2.jpg"&gt;&lt;img id="BLOGGER_PHOTO_ID_5216889493336474562" style="FLOAT: left; MARGIN: 0px 10px 10px 0px; CURSOR: hand" alt="" src="http://4.bp.blogspot.com/_6gXDFDHmxzU/SGYdWprJw8I/AAAAAAAAACQ/UWQ947GCA00/s200/Gregorian+Manuscript+2.jpg" border="0" /&gt;&lt;/a&gt;Bicara mengenai musik dan lagu Gregorian, sekali lagi, tak kenal maka tak sayang. Kalau yang selama ini kita kenal hanyalah organ elektrik, lalu kita berpendapat bahwa organ tidak lebih baik dari piano (seperti pendapat saya 10 tahun yang lalu), sungguh sayang bukan? Kalau kita tidak pernah mendengar lagu Gregorian yang dinyanyikan dengan benar, lalu kita berpendapat bahwa lagu Gregorian bikin ngantuk, sungguh sayang bukan? Sebelum saya mempelajari lebih dalam tentang musik dan lagu Gregorian, saya juga tidak mengerti benar mengapa gereja katolik mengagungkan lagu Gregorian, selain sekedar melestarikan tradisi. Paus Benediktus XVI berulang kali menyampaikan pentingnya melestarikan lagu Gregorian dalam berbagai kesempatan, termasuk dalam Anjuran Apostolik Pasca-Sinode Sacramentum Caritatis. Pada bagian akhir klausul tentang nyanyian liturgis, Paus meminta, “ ... Akhirnya, dengan tetap menghargai aneka gaya dan beragam tradisi yang sangat berharga, saya mendambakan, sesuai dengan permintaan yang diajukan oleh para Bapa Sinode, agar nyanyian Gregorian benar-benar dihargai dan digunakan sebagai nyanyian yang sesuai untuk liturgi Romawi.” (Sacramentum Caritatis 42)&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Saya tak menganjurkan agar organ pipa dan musik serta lagu Gregorian dimainkan di semua gereja di Keuskupan Surabaya. Tentu tidak. Tetapi, mungkin sudah saatnya umat di kota besar seperti Surabaya diperkenalkan kepada tradisi agung ini. Banyak sudah umat yang pergi ke Vatikan dan lain-lain tempat suci di Eropa. Banyak di antara mereka yang pernah menikmati keindahan ini. Dengan makin mudah dan murahnya akses ke internet, makin banyak juga orang yang mengenal berbagai tradisi indah gereja katolik yang universal. Kenapa harus bingung dengan inkulturasi manakala kita tahu orang Indonesia (khususnya kaum muda di kota-kota besar) mengagungkan segala sesuatu yang berbau luar negeri?&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Baiklah, tapi tetap lagu Gregorian tidak cocok di sini, karena umat tidak mengerti bahasa Latin? Begitukah? Pernahkah Anda berpikir, berapa banyak pemakai t-shirt bertuliskan kata-kata bahasa Inggris yang tidak mengerti benar apa arti kalimat di t-shirt-nya? Sungguhpun begitu, tahukah Anda bahwa di kota-kota besar seperti Surabaya t-shirt berbahasa Inggris lebih laku dijual daripada t-shirt berbahasa Indonesia? Tentu, alangkah baiknya bila semua doa dan lagu di gereja katolik dibuat dalam bahasa Indonesia dan dimengerti oleh umat. Saya setuju. Saya hanya ingin memberikan sebuah sentilan kecil. Kalimat berikut ini saya ambil dari Credo dalam bahasa Latin aslinya, ”Et unam sanctam, catholicam et apostolicam Ecclesiam”. Anda tidak mengerti? Tidak jadi masalah. Anda tentu ingat kalimat yang berikut ini, ”Aku percaya akan Gereja yang satu, kudus, katolik dan apostolik.” Ini dalam bahasa Indonesia, terjemahan dari kalimat bahasa Latin sebelumnya. Mengertikah Anda apa artinya ”gereja yang satu” dalam kalimat ini? Hmmm? Bagimana dengan ”gereja yang kudus?” Ya, kita tahu apa itu kudus. Berikutnya, ”gereja yang katolik?” Lalu, ”gereja yang apostolik?” Sudah berapa kalikah kita melafalkan Credo ini dalam bahasa Indonesia? Tanpa kita sadari, kebanyakan dari kita hanya menghafal kalimat tanpa mengerti apa artinya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sebagai penutup, hari gini, semua orang mempelajari bahasa universal yang mempersatukan berbagai bangsa dan budaya; bahasa Inggris dan Mandarin di antaranya. Kenapa tidak belajar bahasa Latin, yang mempersatukan umat katolik sedunia? Di Amerika Serikat, bahasa Latin sudah (kembali) diajarkan kepada anak-anak sejak SMP. Dan ini bukan (hanya) di sekolah katolik. Bukan apa-apa, bahasa Latin adalah akar dari berbagai bahasa terpenting di dunia, seperti Inggris, Prancis, Spanyol dan masih banyak lagi. Jadi? Tidak ada salahnya kita membuka diri, mempelajari sesuatu yang belum kita ketahui, dan membiarkan Tuhan menyentuh hati kita. Tidak ada kata terlambat untuk belajar. Veni vidi vici. Yang ini tahu artinya kan?&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Catatan: Artikel ini dimuat di Tabloid Rohani Jubileum yang diterbitkan oleh Keuskupan Surabaya, Edisi 100 - Tahun IX - Juli 2008.&lt;/p&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/2222578442435492672-8296331384732917467?l=tradisikatolik.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://tradisikatolik.blogspot.com/feeds/8296331384732917467/comments/default' title='Post Comments'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://tradisikatolik.blogspot.com/2008/06/lagu-gregorian-kuno-bukan-jamannya.html#comment-form' title='23 Comments'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/2222578442435492672/posts/default/8296331384732917467'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/2222578442435492672/posts/default/8296331384732917467'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://tradisikatolik.blogspot.com/2008/06/lagu-gregorian-kuno-bukan-jamannya.html' title='Lagu Gregorian? Kuno? Bukan Jamannya?'/><author><name>Albert Wibisono</name><uri>http://www.blogger.com/profile/06599163203686361131</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='16' height='16' src='http://img2.blogblog.com/img/b16-rounded.gif'/></author><media:thumbnail xmlns:media='http://search.yahoo.com/mrss/' url='http://2.bp.blogspot.com/_6gXDFDHmxzU/SGX6l70bm1I/AAAAAAAAABY/HuROKsJ0ZKE/s72-c/Gregorian+Manuscript.jpg' height='72' width='72'/><thr:total>23</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-2222578442435492672.post-9174752782549812430</id><published>2008-06-28T13:11:00.025+07:00</published><updated>2009-03-07T23:50:57.784+07:00</updated><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='Ibadat Harian'/><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='Katedral'/><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='Uskup'/><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='Koor'/><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='Gregorian'/><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='Schola Cantorum Surabaiensis'/><title type='text'>Schola Cantorum Surabaiensis</title><content type='html'>&lt;p align="left"&gt;&lt;img id="BLOGGER_PHOTO_ID_5216843957586926146" style="MARGIN: 0px 10px 10px 0px; CURSOR: hand; BLOCK: left" alt="" src="http://4.bp.blogspot.com/_6gXDFDHmxzU/SGXz8HycmkI/AAAAAAAAABQ/_mDI-BqFvIs/s320/Pemberkatan+SCS.JPG" border="0" /&gt;&lt;br /&gt;Ada yang istimewa di Hari Raya Hati Kudus Yesus, Jumat, 30 Mei 2008 yang lalu. Pada hari raya pelindung katedral Surabaya ini, Uskup Surabaya Mgr. Vincentius Sutikno Wisaksono meresmikan berdirinya Kelompok Studi dan Paduan Suara Gregorian Schola Cantorum Surabaiensis (SCS). Bapa Uskup yang didampingi Pastor Kepala Paroki Katedral Rm. Eko Budi Susilo menyambut baik kehadiran SCS ini. “Agar madah kami semakin pantas naik kepada keagungan-Mu, kami mengunjukkan paduan suara ini supaya dikuduskan bagi-Mu. Semoga dengan suara nyanyiannya kami melambungkan pujian dan doa dalam nada dan irama yang semakin indah,” demikian penggalan doa pemberkatan yang dipanjatkan Bapa Uskup. Ibadat berkat diakhiri dengan nyanyian madah syukur Te Deum oleh anggota SCS, yang diikuti oleh umat yang hadir.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Pendirian kelompok yang dibidani Albert Wibisono dan Anton Tjahjoanggoro ini merupakan jawaban atas harapan Paus Benediktus XVI yang telah berulang kali disampaikannya dalam berbagai kesempatan, termasuk dalam Anjuran Apostolik Pasca-Sinode Sacramentum Caritatis. Pada bagian akhir klausul tentang nyanyian liturgis, Paus meminta, “Akhirnya, dengan tetap menghargai aneka gaya dan beragam tradisi yang sangat berharga, saya mendambakan, sesuai dengan permintaan yang diajukan oleh para Bapa Sinode, agar nyanyian Gregorian benar-benar dihargai dan digunakan sebagai nyanyian yang sesuai untuk liturgi Romawi.” (Sacramentum Caritatis 42)&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;a href="http://1.bp.blogspot.com/_6gXDFDHmxzU/SGX-5g6_Q3I/AAAAAAAAABg/c3gA7RwzoE0/s1600-h/_RAD0148.JPG"&gt;&lt;img id="BLOGGER_PHOTO_ID_5216856007421936498" style="MARGIN: 0px 10px 10px 0px; CURSOR: hand; BLOCK: left" alt="" src="http://1.bp.blogspot.com/_6gXDFDHmxzU/SGX-5g6_Q3I/AAAAAAAAABg/c3gA7RwzoE0/s320/_RAD0148.JPG" border="0" /&gt;&lt;/a&gt;&lt;br /&gt;Anggota SCS berasal dari berbagai paroki di Surabaya, mulai dari Katedral sampai paroki Sakramen Mahakudus di Pagesangan. Umur anggota juga bervariasi dari 21 yang termuda sampai 57 yang tertua. Kelompok ini bertemu seminggu sekali untuk belajar dan menambah wawasan tentang tradisi musik Gregorian dan liturgi gereja. Disamping itu, atas prakarsa Rm. Eko Budi Susilo, SCS juga mendaraskan Completorium (Ibadat Penutup) di Katedral setiap hari Minggu malam pukul 21:00. Umat pun diajak untuk berpartisipasi dalam liturgi indah nan khidmat ini. Teks khusus Bahasa Latin/Indonesia yang ditampilkan sebelah-menyebelah pun disediakan agar umat dapat memahami dan belajar mengikuti beberapa bagian yang didaraskan dalam bahasa Latin.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Catatan: Artikel ini dimuat dalam Majalah Liturgi yang diterbitkan oleh Komisi Liturgi KWI, Vol 19 No 4 - Jul-Agt 2008.&lt;/p&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/2222578442435492672-9174752782549812430?l=tradisikatolik.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://tradisikatolik.blogspot.com/feeds/9174752782549812430/comments/default' title='Post Comments'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://tradisikatolik.blogspot.com/2008/06/schola-cantorum-surabaiensis.html#comment-form' title='2 Comments'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/2222578442435492672/posts/default/9174752782549812430'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/2222578442435492672/posts/default/9174752782549812430'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://tradisikatolik.blogspot.com/2008/06/schola-cantorum-surabaiensis.html' title='Schola Cantorum Surabaiensis'/><author><name>Albert Wibisono</name><uri>http://www.blogger.com/profile/06599163203686361131</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='16' height='16' src='http://img2.blogblog.com/img/b16-rounded.gif'/></author><media:thumbnail xmlns:media='http://search.yahoo.com/mrss/' url='http://4.bp.blogspot.com/_6gXDFDHmxzU/SGXz8HycmkI/AAAAAAAAABQ/_mDI-BqFvIs/s72-c/Pemberkatan+SCS.JPG' height='72' width='72'/><thr:total>2</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-2222578442435492672.post-2519280214733987160</id><published>2008-03-02T21:35:00.010+07:00</published><updated>2009-03-07T23:56:32.284+07:00</updated><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='Katedral'/><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='Imam'/><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='Misa'/><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='Misdinar'/><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='Uskup'/><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='Koor'/><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='Magister Caeremoniarum (MC)'/><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='Gregorian'/><title type='text'>Misa Latin Uskup Surabaya</title><content type='html'>&lt;p align="left"&gt;Bahasa Latin dan musik gregorian kembali membangkitkan suasana sakral di Katedral Hati Kudus Yesus Surabaya. Pada Hari Raya Tuhan Kita Yesus Kristus Raja Semesta Alam, Minggu, 25 November 2007, Uskup Surabaya Mgr. Vincentius Sutikno Wisaksono memimpin misa stasional (dahulu disebut misa pontifikal) dalam bahasa Latin. Misa ini menggunakan ritus Paulus VI atau Novus Ordo. Inilah ritus yang digunakan di seluruh dunia sejak Konsili Vatikan II, menggantikan ritus Tridentine yang digunakan sejak Konsili Trente.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sekitar 1.500 umat memadati gedung dan bagian samping kiri dan kanan gereja. Suasana khidmat betul-betul terasa selama berlangsungnya misa. Paduan suara yang dipimpin Anton Tjahjoanggoro menambah agung suasana upacara liturgi ini. Mereka menyanyikan lagu-lagu gregorian dari Graduale Romanum. Dalam misa ini, Uskup didampingi oleh konselebran Pastor Edi Laksito (Vikjen Keuskupan Surabaya) dan Pastor Eko Budi Susilo (Kepala Paroki Katedral).&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;a href="http://4.bp.blogspot.com/_6gXDFDHmxzU/R8rAwT_qxhI/AAAAAAAAAAc/Ud8PqMzdNbs/s1600-h/Uskup+Surabaya+Mgr+Vicentius+Sutikno+Wisaksono.jpg"&gt;&lt;/a&gt;Persiapan untuk misa Latin ini sudah dimulai beberapa bulan sebelumnya di bawah koordinasi Magister Caeremoniarum Albert Wibisono. Salah satu yang terpenting adalah pembuatan Buku Tata Perayaan Ekaristi (TPE) untuk umat. Buku TPE umat dibuat dalam dua bahasa, Latin dan Indonesia, sebelah-menyebelah. TPE dwibahasa seperti ini sebenarnya merupakan amanat Konsili Vatikan II, yang disampaikan dalam Instruksi Pelaksana Inter Oecumenici. Di situ disebutkan, Buku TPE umat yang dibuat dalam bahasa lokal hendaknya disertai juga dengan bahasa Latin aslinya. Dengan demikian, umat yang mengikuti misa dalam bahasa lokal pasca Vatikan II pun masih dapat mengerti bahasa Latin. Saat TPE dwibahasa ini digunakan dalam misa bahasa Latin, umat yang telah terbiasa mengikuti misa dalam bahasa lokal pun akan lebih mudah untuk mempelajari dan berpartisipasi aktif dalam misa.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Semua pihak belajar dari penyelenggaraan misa ini. Tidak hanya bahasa Latin yang dipelajari (kembali), para petugas misa dan umat pun belajar menyelenggarakan dan mengikuti misa dengan benar, sesuai dengan kaidah-kaidah dalam Pedoman Umum Misale Romawi dan juga Tata Upacara Para Uskup (Caeremoniale Episcoporum). Katekese singkat mengenai beberapa kesalahan yang sering terjadi diberikan dalam teks misa yang dibagikan untuk umat dan juga dijelaskan sebelum misa mulai. Contohnya, umat yang malahan tunduk menyembah saat tubuh dan darah Kristus ditunjukkan pada waktu konsekrasi. Lima belas menit sebelum misa dimulai, umat juga dilatih menjawab/menyanyi berbagai aklamasi. Tidak terlalu sulit, karena cukup banyak yang mirip nadanya dengan bahasa Indonesia. Juga, tidak sulit bagi umat katedral untuk berpartisipasi aktif, karena mereka telah terbiasa menyanyikan ordinarium Missa VIII (De Angelis), Credo III dan Pater Noster dalam bahasa Latin.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Penyelenggaraan misa Latin kali pertama ini memang belum sempurna. Umat masih belum mantap menjawab aklamasi dan beberapa pelayan pun masih berbuat kesalahan. Akankah ada kesempatan yang berikut? Uskup yang diminta komentarnya menyatakan, ”Banyak orang belajar bahasa asing, termasuk bahasa Inggris, bahasa pemersatu bangsa-bangsa di dunia. Alangkah indahnya kalau kita juga mau belajar bahasa Latin, bahasa yang mempersatukan umat katolik sedunia.”&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Catatan: Artikel ini dimuat dalam Majalah Liturgi yang diterbitkan oleh Komisi Liturgi KWI, Vol 19 No 1 - Jan-Feb 2008.&lt;/p&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/2222578442435492672-2519280214733987160?l=tradisikatolik.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://tradisikatolik.blogspot.com/feeds/2519280214733987160/comments/default' title='Post Comments'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://tradisikatolik.blogspot.com/2008/03/misa-latin-uskup-surabaya.html#comment-form' title='6 Comments'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/2222578442435492672/posts/default/2519280214733987160'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/2222578442435492672/posts/default/2519280214733987160'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://tradisikatolik.blogspot.com/2008/03/misa-latin-uskup-surabaya.html' title='Misa Latin Uskup Surabaya'/><author><name>Albert Wibisono</name><uri>http://www.blogger.com/profile/06599163203686361131</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='16' height='16' src='http://img2.blogblog.com/img/b16-rounded.gif'/></author><thr:total>6</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-2222578442435492672.post-199541142243836834</id><published>2008-03-02T16:54:00.026+07:00</published><updated>2009-04-11T11:56:39.687+07:00</updated><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='Paus'/><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='Imam'/><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='Misa'/><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='Kardinal'/><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='Misdinar'/><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='Uskup'/><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='Koor'/><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='Magister Caeremoniarum (MC)'/><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='Diakon'/><title type='text'>Magister Caeremoniarum</title><content type='html'>&lt;p align="left"&gt;&lt;a href="http://2.bp.blogspot.com/_6gXDFDHmxzU/SGYNyAgJ5bI/AAAAAAAAABw/ualn5k27P38/s1600-h/Marini+Old+4.jpg"&gt;&lt;img id="BLOGGER_PHOTO_ID_5216872371134784946" style="FLOAT: left; MARGIN: 0px 10px 10px 0px; CURSOR: hand" alt="" src="http://2.bp.blogspot.com/_6gXDFDHmxzU/SGYNyAgJ5bI/AAAAAAAAABw/ualn5k27P38/s320/Marini+Old+4.jpg" border="0" /&gt;&lt;/a&gt;Ada seorang yang sama yang selalu berada di sebelah kiri belakang Paus pada setiap perayaan liturgi. Pernahkah Anda melihatnya di foto, siaran langsung atau rekaman misa kudus yang dipimpin Paus? Ia adalah “Maestro delle Celebrazioni Liturgiche Pontificie” atau Pemandu Perayaan Liturgi Kepausan (MC Kepausan). Anda mungkin lebih sering melihat &lt;a href="http://www.catholic-hierarchy.org/bishop/bmarini.html"&gt;Uskup Agung Piero Marini&lt;/a&gt; (tiga foto pertama), yang lebih dari 20 tahun melayani &lt;a href="http://www.catholic-hierarchy.org/bishop/bwojtyla.html"&gt;Paus Yohanes Paulus II&lt;/a&gt; dan &lt;a href="http://www.catholic-hierarchy.org/bishop/bratz.html"&gt;Paus Benediktus XVI&lt;/a&gt;. Mulai 1 Oktober 2007, &lt;a href="http://www.catholic-hierarchy.org/bishop/bmarini.html"&gt;Mgr. Piero Marini&lt;/a&gt; telah digantikan oleh Mgr. Guido Marini (tiga foto selanjutnya) yang kebetulan memiliki nama keluarga yang sama.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;a href="http://1.bp.blogspot.com/_6gXDFDHmxzU/R8p7jj_qxgI/AAAAAAAAAAM/Cyi6Khh_Sw0/s1600-h/B+XVI+&amp;amp;+Mgr+Piero+Marini+1.jpg"&gt;&lt;/a&gt;MC Kepausan tidak hanya mengatur seluruh perayaan liturgi yang dipimpin, dihadiri atau diselenggarakan atas nama Paus, ia juga harus menunjuk salah seorang pembantunya untuk mendampingi para kardinal dalam berbagai perayaan liturgi yang bersifat meriah.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;a href="http://1.bp.blogspot.com/_6gXDFDHmxzU/SGYOMOgIMtI/AAAAAAAAAB4/7PgI7QxYtHI/s1600-h/Marini+Old+3.jpg"&gt;&lt;/a&gt;&lt;a href="http://1.bp.blogspot.com/_6gXDFDHmxzU/SGYQBAssjsI/AAAAAAAAACI/mLfDiZPU0AQ/s1600-h/Marini+Old+3.jpg"&gt;&lt;/a&gt;&lt;a href="http://3.bp.blogspot.com/_6gXDFDHmxzU/SGYeOcyNl9I/AAAAAAAAACY/An-EZoQxd0U/s1600-h/Marini+Old+3.jpg"&gt;&lt;img id="BLOGGER_PHOTO_ID_5216890451949098962" style="FLOAT: right; MARGIN: 0px 0px 10px 10px; CURSOR: hand" alt="" src="http://3.bp.blogspot.com/_6gXDFDHmxzU/SGYeOcyNl9I/AAAAAAAAACY/An-EZoQxd0U/s200/Marini+Old+3.jpg" border="0" /&gt;&lt;/a&gt;Hanya Paus dan kardinal kah yang memerlukan layanan Magister Caeremoniarum atau Pemandu Perayaan Liturgi atau Pemandu Ibadat ini? Tidak. Tentang ini, PUMR 106 menyebutkan: “Terutama untuk gereja-gereja katedral atau gereja-gereja yang besar dianjurkan agar ditunjuk seorang pelayan yang mumpuni atau seorang caeremoniarius (pemandu ibadat) untuk mempersiapkan perayaan liturgi dengan baik, membagikan tugas kepada masing-masing pelayan, dan mengatur pelaksanaan perayaan, sehingga berlangsung dengan indah, rapi, dan khidmat.” Secara lebih khusus, &lt;a href="http://www.paxbook.com/algorithmiS/servusPrimus?iussum=monstraScriptumEditum&amp;amp;numerus=31754"&gt;Caeremoniale Episcoporum&lt;/a&gt; (&lt;a href="http://www.amazon.com/Ceremonial-Bishops-Liturgical-Press/dp/0814618189/ref=sr_1_1?ie=UTF8&amp;amp;s=books&amp;amp;qid=1239349829&amp;amp;sr=8-1"&gt;Ceremonial of Bishops&lt;/a&gt; atau Tata Upacara Para Uskup, belum ada terjemahannya dalam Bahasa Indonesia) yang dikeluarkan oleh Tahta Suci, menyebutkan pentingnya fungsi Magister Caeremoniarum sebagai salah satu pelayan utama uskup (CE 34-36).&lt;/p&gt;&lt;p align="left"&gt;&lt;a href="http://1.bp.blogspot.com/_6gXDFDHmxzU/SGYeiKRgcuI/AAAAAAAAACg/Aaase4U7vS0/s1600-h/Marini+Old+1.jpg"&gt;&lt;img id="BLOGGER_PHOTO_ID_5216890790577468130" style="FLOAT: left; MARGIN: 0px 10px 10px 0px; CURSOR: hand" alt="" src="http://1.bp.blogspot.com/_6gXDFDHmxzU/SGYeiKRgcuI/AAAAAAAAACg/Aaase4U7vS0/s200/Marini+Old+1.jpg" border="0" /&gt;&lt;/a&gt;&lt;a href="http://www.paxbook.com/algorithmiS/servusPrimus?iussum=monstraScriptumEditum&amp;amp;numerus=31754"&gt;Caeremoniale Episcoporum&lt;/a&gt; menyebutkan bahwa untuk suatu perayaan liturgi, khususnya yang dipimpin oleh uskup, agar nampak jelas keanggunan, kesederhanaan dan juga keteraturannya, diperlukan seorang MC untuk merencanakan dan mengaturnya. Untuk keperluan ini, MC bekerjasama secara erat dengan uskup dan pihak-pihak lain yang bertanggung jawab atas perencanaan bagian-bagian perayaan liturgi, termasuk dengan imam, diakon, akolit/putra altar, lektor, pemazmur, koor dan pemusik serta koster.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;a href="http://3.bp.blogspot.com/_6gXDFDHmxzU/SGYOuXlltMI/AAAAAAAAACA/R-K4UjJJXGQ/s1600-h/Marini+Old+1.jpg"&gt;&lt;/a&gt;Seorang MC perlu memiliki pengetahuan tentang sejarah dan karakter dari liturgi serta semua hukum dan peraturannya. Tidak kalah pentingnya, ia pun hendaknya memiliki pengetahuan pastoral yang memadai, agar dapat merencanakan perayaan liturgi dengan partisipasi umat yang membuahkan hasil, yang pada akhirnya akan menambah keindahan ritus itu. MC harus memastikan bahwa suatu perayaan liturgi diselenggarakan sesuai dengan aturan-aturan liturgi dan, lebih jauh lagi, dengan esensi dari aturan-aturan tersebut, dan juga dengan mengindahkan tradisi-tradisi gereja partikular yang memiliki nilai pastoral (CE 34).&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;a href="http://2.bp.blogspot.com/_6gXDFDHmxzU/SGYfgGV9EJI/AAAAAAAAACo/63dIoxPdvNM/s1600-h/Marini+3.jpg"&gt;&lt;img id="BLOGGER_PHOTO_ID_5216891854674268306" style="FLOAT: right; MARGIN: 0px 0px 10px 10px; CURSOR: hand" alt="" src="http://2.bp.blogspot.com/_6gXDFDHmxzU/SGYfgGV9EJI/AAAAAAAAACo/63dIoxPdvNM/s320/Marini+3.jpg" border="0" /&gt;&lt;/a&gt;Dalam suatu perayaan liturgi, MC mengatur kapan saatnya para pelayan dan para selebran melaksanakan suatu tindakan dan juga teks-teks apa yang digunakan. Sungguhpun begitu, ia hendaknya melaksanakan tugasnya dengan bijaksana dan tanpa menonjolkan diri. Ia mengatur, bergerak dan berbicara secukupnya dan sama sekali tidak boleh menggantikan fungsi diakon di sisi selebran. Ia harus menjalankan tugasnya dengan takzim, sabar, teliti dan perhatian (CE 35). Selama perayaan, selebran utama dan seluruh petugas liturgis (sekalipun seorang uskup) sudah selayaknya patuh mengikuti petunjuk-petunjuknya (Suryanugraha, 2004).&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Jelas di sini bahwa MC sebagai pemandu perayaan liturgi tidak sama dengan MC sebagai pemandu acara di dalam kehidupan sehari-hari kita, yang biasanya tampil dominan dan banyak bicara. Kalau kita perhatikan, MC Kepausan bahkan tidak sekalipun pernah berbicara kepada umat. Bilamana memang perlu menyampaikan sesuatu atau memberi petunjuk kepada umat, Komentator lah yang melakukan, bukan MC.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;a href="http://3.bp.blogspot.com/_6gXDFDHmxzU/SGYf6A3WlKI/AAAAAAAAACw/P6WKY8jNNWg/s1600-h/Marini+2.jpg"&gt;&lt;img id="BLOGGER_PHOTO_ID_5216892299880338594" style="FLOAT: left; MARGIN: 0px 10px 10px 0px; CURSOR: hand" alt="" src="http://3.bp.blogspot.com/_6gXDFDHmxzU/SGYf6A3WlKI/AAAAAAAAACw/P6WKY8jNNWg/s200/Marini+2.jpg" border="0" /&gt;&lt;/a&gt;Bagaimana posisi seorang MC dalam suatu Keuskupan? Bagaimana relasinya dengan Komisi Liturgi Keuskupan? Seorang MC Keuskupan menjalankan fungsi eksekutif dalam koridor norma-norma yang di antaranya ditetapkan oleh Komisi Liturgi Keuskupan, yang dalam hal ini menjalankan fungsi yudikatif terbatas, sesuai dengan hak-hak yang diperolehnya untuk mengatur beberapa hal mengenai liturgi gereja partikular. Ini adalah analogi yang kurang lebih sama dengan posisi MC Kepausan dalam relasinya dengan &lt;a href="http://www.catholic-hierarchy.org/diocese/dxdws.html"&gt;Kongregasi Ibadat Ilahi dan Tata Tertib Sakramen&lt;/a&gt;, yang memiliki kewenangan mengatur liturgi gereja universal. MC dapat dipilih dari kalangan imam, diakon atau awam yang dipercaya karena memiliki pengetahuan yang mendalam mengenai liturgi (&lt;a href="http://www.amazon.com/Ceremonies-Modern-Roman-Rite-Liturgical/dp/0898708303/ref=sr_1_9?ie=UTF8&amp;amp;s=books&amp;amp;qid=1239349617&amp;amp;sr=8-9"&gt;Elliott, 2004&lt;/a&gt;).&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;a href="http://4.bp.blogspot.com/_6gXDFDHmxzU/SGYgLjMdpoI/AAAAAAAAAC4/E9iMZ5POnBU/s1600-h/Marini+4.jpg"&gt;&lt;img id="BLOGGER_PHOTO_ID_5216892601153463938" style="FLOAT: right; MARGIN: 0px 0px 10px 10px; CURSOR: hand" alt="" src="http://4.bp.blogspot.com/_6gXDFDHmxzU/SGYgLjMdpoI/AAAAAAAAAC4/E9iMZ5POnBU/s200/Marini+4.jpg" border="0" /&gt;&lt;/a&gt;Paus Benediktus XVI sewaktu masih menjadi kardinal pernah menulis, ”How we attend to liturgy determines the fate of the faith and the church (&lt;a href="http://www.amazon.com/New-Song-Lord-Christ-Liturgy/dp/0824515366/ref=sr_1_1?ie=UTF8&amp;amp;s=books&amp;amp;qid=1239425106&amp;amp;sr=1-1"&gt;A New Song for the Lord, 1996&lt;/a&gt;).” Peran MC yang mumpuni sebagai pemandu perayaan liturgi, khususnya yang dipimpin oleh uskup, dapat membantu meningkatkan mutu perayaan liturgi, dan secara khusus ketaatan dengan aturan-aturan liturgi yang sangat detil dan penuh dengan simbol-simbol yang bermakna, serta kesesuaiannya dengan kepentingan pastoral. Di tingkat Keuskupan, dengan bantuan MC yang baik, perayaan liturgi uskup diharapkan akan benar-benar dapat menjadi model bagi seluruh keuskupan, seperti diamanatkan oleh CE 12 dan PUMR 22.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Catatan: Artikel ini dimuat dalam Majalah Liturgi yang diterbitkan oleh Komisi Liturgi KWI, Vol 19 No 2 - Mar-Apr 2008.&lt;/p&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/2222578442435492672-199541142243836834?l=tradisikatolik.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://tradisikatolik.blogspot.com/feeds/199541142243836834/comments/default' title='Post Comments'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://tradisikatolik.blogspot.com/2008/03/magister-caeremoniarum.html#comment-form' title='3 Comments'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/2222578442435492672/posts/default/199541142243836834'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/2222578442435492672/posts/default/199541142243836834'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://tradisikatolik.blogspot.com/2008/03/magister-caeremoniarum.html' title='Magister Caeremoniarum'/><author><name>Albert Wibisono</name><uri>http://www.blogger.com/profile/06599163203686361131</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='16' height='16' src='http://img2.blogblog.com/img/b16-rounded.gif'/></author><media:thumbnail xmlns:media='http://search.yahoo.com/mrss/' url='http://2.bp.blogspot.com/_6gXDFDHmxzU/SGYNyAgJ5bI/AAAAAAAAABw/ualn5k27P38/s72-c/Marini+Old+4.jpg' height='72' width='72'/><thr:total>3</thr:total></entry></feed>
